Tag: alquran

  • Juz 6 Surat Apa? Simak Jawaban dan Kandungan di Dalamnya

    Juz 6 Surat Apa? Simak Jawaban dan Kandungan di Dalamnya

    Alquran adalah kitab suci agama Islam yang, menurut kepercayaan umat Muslim, diturunkan oleh Allah kepada nabi terakhir Islam, Muhammad, melalui Malaikat Jibril.

    Membuka lembaran Juz 6 Al-Qur’an bagaikan memasuki sebuah taman penuh hikmah dan pelajaran berharga.

    Juz 6 bagaikan peta yang menuntun kita di jalan Islam. Dengan memahami dan mengamalkan ajarannya, kita dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat

    Dalam Alquran, Juz 6 memuat 2 surat, antara lain:

    1. Surat An-Nisa (Wanita)

    Juz 6 dimulai dengan ayat 148 dari surat An-Nisa dan berlanjut hingga akhir surat tersebut.

    An-Nisa adalah salah satu surat terpanjang dalam Al-Quran dengan jumlah 176 ayat dan membahas berbagai topik terkait wanita, pernikahan, keluarga, dan warisan.

    Surat ini bagaikan pedoman hidup bagi wanita muslim, mengulas hak dan kewajiban mereka, serta peran penting mereka dalam pernikahan, perceraian, warisan, dan kehidupan keluarga.

    Namun, An-Nisa bukan hanya tentang wanita. Surat ini juga membahas topik-topik penting lainnya seperti hubungan sosial dan keluarga, serta iman dan tauhid.

    Dengan demikian, An-Nisa menjadi panduan komprehensif bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang harmonis dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

    Sebagai salah satu surat terpanjang dalam Al-Qur’an, An-Nisa sarat dengan hikmah dan pelajaran berharga.

    Membacanya dan merenungkannya dapat membantu kita memahami peran penting wanita dalam Islam dan membangun keluarga yang kokoh dan penuh kasih sayang.

    2. Surat Al-Maidah (Hidangan)

    Juz 6 kemudian dilanjutkan dengan Surat Al-Maidah, dimulai dari ayat 1 dan berlanjut hingga ayat 81.

    Al-Maidah membahas tentang perjanjian yang dibuat antara Allah dan umat manusia, hukum-hukum makanan dan minuman, serta kisah Nabi Isa AS.

    Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur’an, bagaikan hidangan istimewa yang menyajikan berbagai petunjuk dan kisah inspiratif bagi umat Islam.

    Surat ini menyingkap berbagai tema penting, seperti perjanjian antara Allah dan umat manusia, hukum-hukum makanan dan minuman, perintah untuk berbuat baik kepada orang tua, kisah dan mukjizat para nabi, serta ciri-ciri orang yang beriman.

    Al-Maidah bagaikan panduan lengkap bagi umat Islam.

    Di dalamnya, kita diajarkan tentang pentingnya memenuhi janji kepada Allah, menjaga pola makan halal dan baik, menghormati orang tua, meneladani kisah para nabi, dan menumbuhkan sifat-sifat orang beriman.

    Dengan mempelajari Al-Maidah, kita dapat memperkuat iman dan meningkatkan kualitas hidup dalam naungan ridha Allah SWT.

  • Teks Ayat Kursi Lengkap: Arab, Latin, dan Terjemahan Indonesia

    Teks Ayat Kursi Lengkap: Arab, Latin, dan Terjemahan Indonesia

    Ayat Kursi merupakan salah satu ayat yang sangat penting dalam Al-Quran.

    Ayat Kursi terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 255 dan menjadi salah satu ayat yang paling sering dibaca oleh umat Muslim.

    Berikut ini adalah teks bacaan Ayat Kursi dan artinya:

     

    ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ  مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

    Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum. laa ta`khużuhu sinatuw wa laa na`um, lahu maa fis-samaawaati wa maa fil-ard, man zallazi yasyfa’u ‘indahuu illaa bi`iznih, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhiituna bisya`im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa`, wasi’a kursiyyuhus-samaawaati wal-ard, wa laa ya`uduhu hifzuhumaa, wa huwal-‘aliyyul-‘aziim.

    Artinya:

    “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

  • Surat Al Waqiah: Teks Arab, Latin, dan Terjemahan Bahasa Indonesia

    Surat Al Waqiah: Teks Arab, Latin, dan Terjemahan Bahasa Indonesia

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

    Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ

    iżā waqa’atil-wāqi’ah
    Apabila terjadi hari Kiamat,

    لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ ۘ

    laisa liwaq’atihā kāżibah
    terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal).

    خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ

    khāfiḍatur rāfi’ah
    (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).

    اِذَا رُجَّتِ الْاَرْضُ رَجًّاۙ

    iżā rujjatil-arḍu rajjā
    Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya,

    وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ

    wa bussatil-jibālu bassā
    dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya,

    فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ

    fa kānat habā`am mumbaṡṡā
    maka jadilah ia debu yang beterbangan,

    وَّكُنْتُمْ اَزْوَاجًا ثَلٰثَةً ۗ

    wa kuntum azwājan ṡalāṡah
    dan kamu menjadi tiga golongan,

    فَاَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ۗ

    fa aṣ-ḥābul-maimanati mā aṣ-ḥābul-maimanah
    yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu,

    وَاَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ۗ

    wa aṣ-ḥābul-masy`amati mā aṣ-ḥābul-masy`amah
    dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu,

    وَالسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَۙ

    was-sābiqụnas-sābiqụn
    dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga).

    اُولٰۤىِٕكَ الْمُقَرَّبُوْنَۚ

    ulā`ikal-muqarrabụn
    Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),

    فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

    fī jannātin-na’īm
    Berada dalam surga kenikmatan,

    ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ

    ṡullatum minal-awwalīn
    segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,

    وَقَلِيْلٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ

    wa qalīlum minal-ākhirīn
    dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.

    عَلٰى سُرُرٍ مَّوْضُوْنَةٍۙ

    ‘alā sururim mauḍụnah
    Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata,

    مُّتَّكِـِٕيْنَ عَلَيْهَا مُتَقٰبِلِيْنَ

    muttaki`īna ‘alaihā mutaqābilīn
    mereka bersandar di atasnya berhadap-hadapan.

    يَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُوْنَۙ

    yaṭụfu ‘alaihim wildānum mukhalladụn
    Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,

    بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَۙ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۙ

    bi`akwābiw wa abārīqa wa ka`sim mim ma’īn
    dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir,

    لَّا يُصَدَّعُوْنَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُوْنَۙ

    lā yuṣadda’ụna ‘an-hā wa lā yunzifụn
    mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,

    وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُوْنَۙ

    wa fākihatim mimmā yatakhayyarụn
    dan buah-buahan apa pun yang mereka pilih,

    وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَۗ

    wa laḥmi ṭairim mimmā yasytahụn
    dan daging burung apa pun yang mereka inginkan.

    وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ

    wa ḥụrun ‘īn
    Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah,

    كَاَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُوْنِۚ

    ka`amṡālil-lu`lu`il-maknụn
    laksana mutiara yang tersimpan baik.

    جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

    jazā`am bimā kānụ ya’malụn
    Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.

    لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا تَأْثِيْمًاۙ

    lā yasma’ụna fīhā lagwaw wa lā ta`ṡīmā
    Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun yang menimbulkan dosa,

    اِلَّا قِيْلًا سَلٰمًا سَلٰمًا

    illā qīlan salāman salāmā
    tetapi mereka mendengar ucapan salam.

    وَاَصْحٰبُ الْيَمِينِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْيَمِيْنِۗ

    wa aṣ-ḥābul-yamīni mā aṣ-ḥābul-yamīn
    Dan golongan kanan, siapakah golongan kanan itu.

    فِيْ سِدْرٍ مَّخْضُوْدٍۙ

    fī sidrim makhḍụd
    (Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri,

    وَّطَلْحٍ مَّنْضُوْدٍۙ

    wa ṭal-ḥim manḍụd
    dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),

    وَّظِلٍّ مَّمْدُوْدٍۙ

    wa ẓillim mamdụd
    dan naungan yang terbentang luas,

    وَّمَاۤءٍ مَّسْكُوْبٍۙ

    wa mā`im maskụb
    dan air yang mengalir terus-menerus,

    وَّفَاكِهَةٍ كَثِيْرَةٍۙ

    wa fākihating kaṡīrah
    dan buah-buahan yang banyak,

    لَّا مَقْطُوْعَةٍ وَّلَا مَمْنُوْعَةٍۙ

    lā maqṭụ’atiw wa lā mamnụ’ah
    yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya,

    وَّفُرُشٍ مَّرْفُوْعَةٍۗ

    wa furusyim marfụ’ah
    dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

    اِنَّآ اَنْشَأْنٰهُنَّ اِنْشَاۤءًۙ

    innā ansya`nāhunna insyā`ā
    Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung,

    فَجَعَلْنٰهُنَّ اَبْكَارًاۙ

    fa ja’alnāhunna abkārā
    lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan,

    عُرُبًا اَتْرَابًاۙ

    ‘uruban atrābā
    yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya,

    لِّاَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۗ

    li`aṣ-ḥābil-yamīn
    untuk golongan kanan,

    ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ

    ṡullatum minal-awwalīn
    segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,

    وَثُلَّةٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ

    wa ṡullatum minal-ākhirīn
    dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian.

    وَاَصْحٰبُ الشِّمَالِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الشِّمَالِۗ

    wa aṣ-ḥābusy-syimāli mā aṣ-ḥābusy-syimāl
    Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.

    فِيْ سَمُوْمٍ وَّحَمِيْمٍۙ

    fī samụmiw wa ḥamīm
    (Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih,

    وَّظِلٍّ مِّنْ يَّحْمُوْمٍۙ

    wa ẓillim miy yaḥmụm
    dan naungan asap yang hitam,

    لَّا بَارِدٍ وَّلَا كَرِيْمٍ

    lā bāridiw wa lā karīm
    tidak sejuk dan tidak menyenangkan.

    اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُتْرَفِيْنَۚ

    innahum kānụ qabla żālika mutrafīn
    Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewah,

    وَكَانُوْا يُصِرُّوْنَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيْمِۚ

    wa kānụ yuṣirrụna ‘alal-ḥinṡil-‘aẓīm
    dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar,

    وَكَانُوْا يَقُوْلُوْنَ ەۙ اَىِٕذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَۙ

    wa kānụ yaqụlụna a iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a innā lamab’ụṡụn
    dan mereka berkata, “Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?

    اَوَاٰبَاۤؤُنَا الْاَوَّلُوْنَ

    a wa ābā`unal-awwalụn
    Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?”

    قُلْ اِنَّ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْنَۙ

    qul innal-awwalīna wal-ākhirīn
    Katakanlah, “(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian,

    لَمَجْمُوْعُوْنَۙ اِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ

    lamajmụ’ụna ilā mīqāti yaumim ma’lụm
    pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi.

    ثُمَّ اِنَّكُمْ اَيُّهَا الضَّاۤ لُّوْنَ الْمُكَذِّبُوْنَۙ

    ṡumma innakum ayyuhaḍ-ḍāllụnal-mukażżibụn
    Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan!

    لَاٰكِلُوْنَ مِنْ شَجَرٍ مِّنْ زَقُّوْمٍۙ

    la`ākilụna min syajarim min zaqqụm
    pasti akan memakan pohon zaqqum,

    فَمَالِـُٔوْنَ مِنْهَا الْبُطُوْنَۚ

    fa māli`ụna min-hal-buṭụn
    maka akan penuh perutmu dengannya.

    فَشَارِبُوْنَ عَلَيْهِ مِنَ الْحَمِيْمِۚ

    fa syāribụna ‘alaihi minal-ḥamīm
    Setelah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.

    فَشَارِبُوْنَ شُرْبَ الْهِيْمِۗ

    fa syāribụna syurbal-hīm
    Maka kamu minum seperti unta (yang sangat haus) minum.

    هٰذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ الدِّيْنِۗ

    hāżā nuzuluhum yaumad-dīn
    Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.”

    نَحْنُ خَلَقْنٰكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُوْنَ

    naḥnu khalaqnākum falau lā tuṣaddiqụn
    Kami telah menciptakan kamu, mengapa kamu tidak membenarkan (hari berbangkit)?

    اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تُمْنُوْنَۗ

    a fa ra`aitum mā tumnụn
    Maka adakah kamu perhatikan, tentang (benih manusia) yang kamu pancarkan.

    ءَاَنْتُمْ تَخْلُقُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الْخَالِقُوْنَ

    a antum takhluqụnahū am naḥnul-khāliqụn
    Kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya?

    نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَۙ

    naḥnu qaddarnā bainakumul-mauta wa mā naḥnu bimasbụqīn
    Kami telah menentukan kematian masing-masing kamu dan Kami tidak lemah,

    عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ اَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِيْ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

    ‘alā an nubaddila amṡālakum wa nunsyi`akum fī mā lā ta’lamụn
    untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (di dunia) dan membangkitkan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.

    وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْاَةَ الْاُوْلٰى فَلَوْلَا تَذَكَّرُوْنَ

    wa laqad ‘alimtumun-nasy`atal-ụlā falau lā tażakkarụn
    Dan sungguh, kamu telah tahu penciptaan yang pertama, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

    اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَۗ

    a fa ra`aitum mā taḥruṡụn
    Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam?

    ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الزَّارِعُوْنَ

    a antum tazra’ụnahū am naḥnuz-zāri’ụn
    Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan?

    لَوْ نَشَاۤءُ لَجَعَلْنٰهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُوْنَۙ

    lau nasyā`u laja’alnāhu huṭāman fa ẓaltum tafakkahụn
    Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang,

    اِنَّا لَمُغْرَمُوْنَۙ

    innā lamugramụn
    (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian,

    بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ

    bal naḥnu mahrụmụn
    bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.”

    اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ

    a fa ra`aitumul-mā`allażī tasyrabụn
    Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?

    ءَاَنْتُمْ اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ

    a antum anzaltumụhu minal-muzni am naḥnul-munzilụn
    Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?

    لَوْ نَشَاۤءُ جَعَلْنٰهُ اُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ

    lau nasyā`u ja’alnāhu ujājan falau lā tasykurụn
    Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?

    اَفَرَءَيْتُمُ النَّارَ الَّتِيْ تُوْرُوْنَۗ

    a fa ra`aitumun-nārallatī tụrụn
    Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)?

    ءَاَنْتُمْ اَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَآ اَمْ نَحْنُ الْمُنْشِـُٔوْنَ

    a antum ansya`tum syajaratahā am naḥnul-munsyi`ụn
    Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan?

    نَحْنُ جَعَلْنٰهَا تَذْكِرَةً وَّمَتَاعًا لِّلْمُقْوِيْنَۚ

    naḥnu ja’alnāhā tażkirataw wa matā’al lil-muqwīn
    Kami menjadikannya (api itu) untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir.

    فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ

    fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm
    Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.

    فَلَآ اُقْسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوْمِ

    fa lā uqsimu bimawāqi’in-nujụm
    Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.

    وَاِنَّهٗ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُوْنَ عَظِيْمٌۙ

    wa innahụ laqasamul lau ta’lamụna ‘aẓīm
    Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui,

    اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ

    innahụ laqur`ānung karīm
    dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia,

    فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ

    fī kitābim maknụn
    dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh),

    لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۙ

    lā yamassuhū illal-muṭahharụn
    tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.

    تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ

    tanzīlum mir rabbil-‘ālamīn
    Diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

    اَفَبِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَنْتُمْ مُّدْهِنُوْنَ

    a fa bihāżal-ḥadīṡi antum mud-hinụn
    Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Qur’an),

    وَتَجْعَلُوْنَ رِزْقَكُمْ اَنَّكُمْ تُكَذِّبُوْنَ

    wa taj’alụna rizqakum annakum tukażżibụn
    dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya).

    فَلَوْلَآ اِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُوْمَۙ

    falau lā iżā balagatil-ḥulqụm
    Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan,

    وَاَنْتُمْ حِيْنَىِٕذٍ تَنْظُرُوْنَۙ

    wa antum ḥīna`iżin tanẓurụn
    dan kamu ketika itu melihat,

    وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلٰكِنْ لَّا تُبْصِرُوْنَ

    wa naḥnu aqrabu ilaihi mingkum wa lākil lā tubṣirụn
    dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat,

    فَلَوْلَآ اِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِيْنِيْنَۙ

    falau lā ing kuntum gaira madīnīn
    maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasai (oleh Allah),

    تَرْجِعُوْنَهَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

    tarji’ụnahā ing kuntum ṣādiqīn
    kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu) jika kamu orang yang benar?

    فَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ

    fa ammā ing kāna minal-muqarrabīn
    Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah),

    فَرَوْحٌ وَّرَيْحَانٌ ەۙ وَّجَنَّتُ نَعِيْمٍ

    fa rauḥuw wa raiḥānuw wa jannatu na’īm
    maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga (yang penuh) kenikmatan.

    وَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنْ اَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۙ

    wa ammā ing kāna min aṣ-ḥābil-yamīn
    Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,

    فَسَلٰمٌ لَّكَ مِنْ اَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۗ

    fa salāmul laka min aṣ-ḥābil-yamīn
    maka, “Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!” (sambut malaikat).

    وَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِيْنَ الضَّاۤلِّيْنَۙ

    wa ammā ing kāna minal-mukażżibīnaḍ-ḍāllīn
    Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan dan sesat,

    فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيْمٍۙ

    fa nuzulum min ḥamīm
    maka dia disambut siraman air yang mendidih,

    وَّتَصْلِيَةُ جَحِيْمٍ

    wa taṣliyatu jaḥīm
    dan dibakar di dalam neraka.

    اِنَّ هٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِيْنِۚ

    inna hāżā lahuwa ḥaqqul-yaqīn
    Sungguh, inilah keyakinan yang benar.

    فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ

    fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm
    Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.

  • Surat Al Fajr: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

    Surat Al Fajr: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    وَالْفَجْرِ – 89:1

    Wal fajr(i)
    “Demi fajar,”

    وَلَيَالٍ عَشْرٍ – 89:2

    Walayaalin ‘asyr(in)
    “dan malam yang sepuluh,”

    وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ – 89:3

    Wasy-syaf’i wal watr(i)
    “dan yang genap dan yang ganjil,”

    وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ – 89:4

    Wal laili idzaa yasr(i)
    “dan malam bila berlalu.”

    هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ – 89:5

    Hal fii dzaalika qasamun lidzii hijr(in)
    “Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.”

    أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ – 89:6

    Alam tara kaifa fa’ala rabbuka bi’aad(in)
    “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?”

    إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ – 89:7

    Irama dzaatil ‘imaad(i)
    “(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,”

    الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ – 89:8

    Allatii lam yukhlaq mitsluhaa fiil bilaad(i)
    “yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,”

    وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ – 89:9

    Wa tsamuudal-ladziina jaabuush-shakhra bil waad(i)
    “dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah,”

    وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ – 89:10

    Wafir’auna dziil autaad(i)
    “dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak),”

    الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ – 89:11

    Al-ladziina thaghau fiil bilaad(i)
    “yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,”

    فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ – 89:12

    Fa-aktsaruu fiihaal fasaad(a)
    “lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu,”

    فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ – 89:13

    Fashabba ‘alaihim rabbuka sautha ‘adzaab(in)
    “karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab,”

    إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ – 89:14

    Inna rabbaka labil mirshaad(i)
    “sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”

    فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ – 89:15

    Fa-ammaal insaanu idzaa maaabtalaahu rabbuhuu fa-akramahu wana’_’amahu fayaquulu rabbii akraman(i)
    “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.”

    وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ – 89:16

    Wa ammaa idzaa maaabtalaahu faqadara ‘alaihi rizqahuu fayaquulu rabbii ahaanan(i)
    Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

    كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ – 89:17

    Kallaa, bal laa tukrimuunal yatiim(a)
    “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim”

    وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ – 89:18

    Walaa tahaadh-dhuuna ‘alaa tha’aamil miskiin(i)
    “dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,”

    وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا – 89:19

    Wa ta’kuluunatturaatsa aklan lammaa(n)
    “dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),”

    وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا – 89:20

    Wa tuhibbuunal maala hubban jammaa(n)
    “dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”

    كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا – 89:21

    Kallaa, idzaa dukkatil ardhu dakkan dakkaa(n)
    “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut,”

    وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا – 89:22

    Wa jaa-a rabbuka wal malaku shaffan shaffaa(n)
    “dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.”

    وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ – 89:23

    Wa jii-a yauma-idzin bijahannama yauma-idzin yatadzakkarul insaanu wa-annaa lahudz-dzikr(a)
    “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.”

    يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي – 89:24

    Yaquulu yaa laitanii qaddamtu lihayaatii
    Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.”

    فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ – 89:25

    Fayauma-idzin laa yu’adz-dzibu ‘adzaabahuu ahadun
    “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya.”

    وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ – 89:26

    Walaa yuutsiqu watsaaqahuu ahad(un)
    “dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.”

    يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ – 89:27

    Yaa ayyatuhaannafsul muthma-innh(tu)
    “Hai jiwa yang tenang.”

    ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً – 89:28

    Irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatan mardhii-yatan
    “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”

    فَادْخُلِي فِي عِبَادِي – 89:29

    Faadkhulii fii ‘ibaadii
    “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,”

    وَادْخُلِي جَنَّتِي – 89:30

    Waadkhulii jannatii
    “masuklah ke dalam syurga-Ku.”

  • Surat Al Bayyinah dan Artinya (Bahasa Indonesia)

    Surat Al Bayyinah dan Artinya (Bahasa Indonesia)

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ – 98:1

    Lam yakunil-ladziina kafaruu min ahlil kitaabi wal musyrikiina munfakkiina hattaa ta`tiyahumul bayyinat(u)

    1. “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,

    رَسُولٌ مِّنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُّطَهَّرَةً – 98:2

    Rasuulun minallahi yatluu shuhufan muthahharah(tan)

    2. “(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran),”

    فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ – 98:3

    Fiihaa kutubun qayyimah(tun)

    3. “di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus.”

    وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ – 98:4

    Wamaa tafarraqal-ladziina uutuul kitaaba illaa min ba’di maa jaa-at-humul bayyinah(tu)

    4. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.”

    وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ – 98:5

    Wamaa umiruu illaa liya’buduullaha mukhlishiina lahuddiina hunafaa-a wayuqiimuush-shalaata wayu`tuuzzakaata wadzaalika diinul qayyimah(ti)

    5. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

    إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ – 98:6

    Innal-ladziina kafaruu min ahlil kitaabi wal musyrikiina fii naari jahannama khaalidiina fiihaa uulaa-ika hum syarrul baryyah(ti)

    6. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”

    إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ – 98:7

    innalladzii na amanu wa’amilushalihati ulaa ika hum khoirul bariyyah

    7. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”

    جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ – 98:8

    Jazaa uhum ‘inda rabbihim jannaatu ‘adnin tajrii min tahtihaal anhaaru khaalidiina fiihaa abadan, radhiyallahu ‘anhum waradhuu ‘anhu dzaalika liman khasyia rabbah(u)

    8. “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”

  • Surat Al Zalzalah: Bacaan Arab, Latin, dan Terjemahan Indonesia

    Surat Al Zalzalah: Bacaan Arab, Latin, dan Terjemahan Indonesia

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    Bismillahirrahmaanirrahiim(i)

    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا – 99:1

    Idzaa zulzilatil ardhu zilzaalahaa

    “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),”

    وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا – 99:2

    Wa akhrajatil ardhu atsqaalahaa

    “dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,”

    وَقَالَ الْإِنسَانُ مَا لَهَا – 99:3

    Wa qaalal insaanu maa lahaa

    dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”,

    يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا – 99:4

    Yaumaidzin tuhadditsu akhbaarahaa

    “pada hari itu bumi menceritakan beritanya,”

    بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا – 99:5

    Bi-anna rabbaka auhaa lahaa

    “karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.”

    يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ – 99:6

    Yaumaidzinn yashdurun naasu aystaatan liyurau a’maalahun

    “Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka,”

    فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ – 99:7

    Faman ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah(u)

    “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

    وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ – 99:8

    Wa man Ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarah(u)

    “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

  • Surat Al Adiyat: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

    Surat Al Adiyat: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا – 100:1

    Wal ‘aadiyaati dhabha(n)
    “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,”

    فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا – 100:2

    Fal muuriyaati qadha(n)
    “dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),”

    فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا – 100:3

    Fal mughiiraati shubha(n)
    “dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi,”

    فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا – 100:4

    Fa atsarna bihii naq’a(n)
    “maka ia menerbangkan debu,”

    فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا – 100:5

    Fa wasathna bihii jam’a(n)
    “dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,”

    إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ – 100:6

    Innal insaana lirabbihii lakanuud(un)
    “sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,”

    وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ – 100:7

    Wa innahuu ‘alaa dzaalika lasyahiid(un)
    “dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,”

    وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ – 100:8

    Wa innahuu lihubbil khairai lasyadiid(un)
    “dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta”

    أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ – 100:9

    Afalaa ya’lamu idzaa bu’tsira maa fiil qubuur(i)
    “Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,”

    وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ – 100:10

    Wa hush-shila maa fiish-shuduur(i)
    “dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,”

    إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ – 100:11

    Inna rabbahum bihim yauma-idzil lakhabiir(u)
    “sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.”

  • Surat At Takatsur: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

    Surat At Takatsur: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ – 102:1

    Al Haakumut takaatsur(u)
    “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,”

    حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ – 102:2

    Hattaa zurtumul maqaabir(a)
    “sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

    كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ – 102:3

    Kallaa saufa ta’lamuun(a)
    “Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),”

    ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ – 102:4

    Tsumma kallaa saufa ta’lamuun(a)
    “dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.”

    كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ – 102:5

    Kallaa lau ta’lamuuna ‘ilmal yaqiin(i)
    “Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,”

    لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ – 102:6

    Latarawunnal jahiima(a)
    “niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,”

    ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ – 102:7

    Tsumma latarawunnahaa ‘ainal yaqiin(i)
    “dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.”

    ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ – 102:8

    Tsumma latus-alunna yaumaidzin ‘anin na’iim(i)
    “kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”

  • Surat Al Ashr: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

    Surat Al Ashr: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    وَالْعَصْرِ – 103:1

    Wal ‘ashr(i)
    “Demi masa.”

    إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ – 103:2

    Innal insaana lafii khusr(in)
    “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,”

    إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ – 103:3

    Illal-ladziina aamanuu wa ‘amiluush-shalihaati wa tawaashau bilhaqqi wa tawaashaubish-shabr(i)
    “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

  • Surat Al Humazah: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

    Surat Al Humazah: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

    Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ – 104:1

    Wailul(n) likulli humazatil(n) lumazat(in)
    “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,”

    الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ – 104:2

    Al-ladzii jama’a maa law(n) wa’addadah(u)
    “yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,”

    يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ – 104:3

    Yahsabu anna maa lahuu akhladah(u)
    “dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,”

    كَلَّا ۖ لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ – 104:4

    Kallaa layunbadzanna fiil huthamat(i)
    “sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.”

    وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ – 104:5

    Wamaa adraaka maal huthamat(u)
    “Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?”

    نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ – 104:6

    Naarullahil muuqadat(u)
    “(yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,”

    الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ – 104:7

    Allatii tath-thali’u ‘alal af-idat(i)
    “yang (membakar) sampai ke hati.”

    إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ – 104:8

    Innahaa ‘alaihim mu`shadat(un)
    “Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,”
    Indeed, Hellfire will be closed down upon them

    فِي عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ – 104:9

    Fii ‘amadim(n) mumad-dadat(i)
    “(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.”