Tag: bahasa jawa

  • Bahasa Krama Inggil Anggota Tubuh Lengkap

    Bahasa Krama Inggil Anggota Tubuh Lengkap

    Krama inggil adalah salah satu jenis bahasa Jawa yang digunakan dalam situasi formal atau penghormatan.

    Bahasa ini biasanya digunakan dalam acara resmi, upacara adat, atau komunikasi antara orang yang lebih tua dengan yang lebih muda atau antara orang yang lebih berkuasa dengan yang kurang berkuasa.

    Baca juga: Pengertian Tembung Tanduk, Jenis, dan Contohnya

    Krama inggil memiliki tata bahasa yang berbeda dengan bahasa Jawa sehari-hari dan menggunakan kosakata yang lebih kuno dan bersifat formal.

    Penggunaan krama inggil dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap lawan bicara.

    Baca juga: Sanepa: Pengertian, Sejarah, Karakteristik, dan Contohnya

    Berikut ini adalah bahasa krama inggil anggota tubuh lengkap.

    1. Tangan = asta

    2. sikil = ampeyan.

    3. mata = soca, paningal.

    4. idep = ibing.

    5. irung = grana.

    6. kuping = talingan.

    7. lambe = lathi.

    8. alis = imba.

    9. rambut = rikma.

    10. pipi = pangarasan.

    11. janggut = kethekan.

    12. endhas = mustaka.

    13. driji = racikan.

    14. gulu = jangga.

    15. dada = jaja.

    16. weteng = padharan.

    17. pupu = wentis.

    18. bokong = bocong.

    19. ilat = lidhah.

    20. untu = waja.

    21. bathuk = palarapan.

    22. geger = pengkeran.

    23. pundhak = pamidhangan.

    24. wudel = tuntunan.

    25. dlamakan = samparan.

    26. kempol = wengkelan.

    27. luh = waspa.

    28. Dhengkul = jengku.

    29. githok = julukan.

    30. brengos = gumbala, rawis.

  • Pengertian Rura Basa dan Contohnya

    Pengertian Rura Basa

    Rura basa adalah istilah dalam bahasa jawa yang artinya rusak atau salah karena tidak bernalar.

    Rura basa ini lazim digunakan sejak zaman dahulu karena sudah lumrah di masyarakat sehingga menjadi istilah yang terus digunakan hingga sekarang.

    Dalam bahasa Indonesia pun demikian, ada beberapa kata yang salah, namun tetap digunakan oleh masyakarat umum.

    Meski salah, rura basa tetap digunakan karena sudah menjadi kebiasaan dan digunakan dalam berbahasa sehari-hari.

    Rura basa tegese basa sing wis rusak utawa luput, nanging yen dibenerake dadi saya salah.

    Contoh Rura Basa

    Berikut ini adalah beberapa contoh rura basa dalam bahasa Jawa dan artinya.

    1. Adhang sego (memasan nasi)

    Sebetulnya kalimat memasak nasi adalah salah, karena harusnya adalah memasak beras menjadi nasi. Namun, karena sudah umum sejak dahulu, kalimat tersebut masih tetap digunakan sampai sekarang.

    2. Bakul jangan (dagang sayur)

    Kalimat yang tepat adalah dagang keperluan untuk membuat sayur. Sebab, kebanyakan peracangan/melijoan hanya menjual bahan-bahan membuat sayur saja.

    3. Mangan awan (makan siang)

    Contoh rura basa di atas harusnya mangan sega ing wayah awan (makan nasi di siang hari).

    4. Negor klopo (motong kelapa)

    Contoh rura basa di atas harusnya negor wit klopo (motong pohon kelapa).

    5. Nenun sarung (menenun sarung)

    Kalimat di atas adalah contoh dari rura basa yang artinya salah. Harusnya menenung benang menjadi sarung.

    6. Njahit klambi (menjahit baju)

    Contoh rura basa di atas seharusnya menjahit kain menjadi baju.

    7. Nguleg sambel (ngulek sambel)

    Contoh rura basa di atas tidak tepat, harusnya ngulek cabai dan bumbu sambel.

    8. Nunggu geni (nunggu api)

    Seharunys kalimat di atas berbunyi nunggu kayu supaya genine ora mati.

    9. Nyunduki sate (menusuk sate)

    Seharusnya kalimat di atas berbunyi nyunduki daging nganggo sodo (menusuk daging menggunakan lidi).

    10. Mikul dhawet (memikul dawet)

    Kalimat di atas adalah contoh rura basa yang artinya rusak karena dawet tidak bisa dipikul. Harusnya mikul angkring isi wadhah dhawet.

  • Pengertian Tembung Tanduk, Jenis, dan Contohnya

    Pengertian Tembung Tanduk, Jenis, dan Contohnya

    Pengertian Tembung Tanduk

    Tembung tanduk yaiku tembung kang oleh ater-ater hanuswara. 

    Artinya, tembung tanduk adalah jenis tembung yang mendapat awalan hanuswara, yaitu awalan yang menciptakan suara dengung seperti ng-, m-, ny-, dan n-.

    Sehingga, ketika sebuah tembung mendapat awalan ng-, m-, ny-, dan n- , maka tembung tersebut akan menjadi ukara tanduk (kalimat aktif).

    Ukara tanduk (kalimat aktif) yaitu kalimat dimana wasesa-nya berbentuk tembung kriya tanduk (kata kerja aktif) (Sasangka, 2008:189).

    Ciri-ciri ukara tanduk yaitu wasesa-nya menggunakan imbuhan aterater anuswara (m-, n-, ng- dan ny-) dengan panambang –i atau –ake. Perhatikan contoh ukara tanduk sebagai berikut

    Tembung kriya tanduk (kata kerja aktif) yaitu tembung kriya yang jejer (subjek) menjadi pelaku (Sasangka, 2008:119).

    Tembung kriya tanduk diberi imbuhan ater-ater anuswara (N) yaitu m-, n-, ng- dan ny-. Tembung kriya tanduk dibagi menjadi dua yaitu kriya tanduk mawa lesan dan tanpa lesan.

    Sasangka (2008:120) mengatakan ciri-ciri tembung kriya tanduk mawa lesan yaitu tembung kriya yang menggunakakan ater-ater anuswara (m-, n-, ng-, dan ny-), ater-ater anuswara (m-, n-, ng-, dan ny-) dan panambang -i atau panambang – ake.

    Contoh kata kerja yang menggunakan ater-ater anuswara (m-, n-, ng-, dan ny-) yaitu mangan, nulis, ngarang, ngaji dan sebagainya.

    Contoh kata kerja yang menggunakan ater-ater anuswara (m-, n-, ng-, dan ny-) dan panambang -i atau panambang –ake yaitu mbalangi, nunggoni, ngajeni, nyurungi, dan sebagainya.

    Tembung kriya tanduk tanpa lesan (kata kerja intransitif) yaitu tembung kriya yang tidak membutuhkan kata lain dibelakang atau lesan (objek).

    Sasangka (2008:121) mengatakan ciri-ciri tembung kriya tanduk mawa lesan yaitu tembung kriya yang menggunakan ater-ater anuswara (m-, n-, ng-, dan ny- ), maN- dan mer-.

    Contoh kata kerja tersebut, yaitu mbledhos, nangis, ngetan, nyamar dan sebagainya.

    Jenis Tembung Tanduk dan Contohnya

    Tembung tanduk dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

    1. Tembung tanduk kriya wantah

    Yaiku tembung sing ora oleh panambang.

    Contoh: Maju, Ngadeg, Ngombe, Ndeleh, Ngadeg.

    2. Tembung tanduk i-kriya

    Yaiku tembung tanduk sing oleh panambang i.

    Contoh: Nulungi, Nyaponi, Nyangoni, Menthungi.

    3. Tembung tanduk ke-Kriya

    Yaiku tembung tanduk sing oleh panambang ke atau ake.

    Contoh: Ngalungake, Nyelehake, Mbalangake, Ngalungake.

  • Sanepa: Pengertian, Sejarah, Karakteristik, dan Contohnya

    Sanepa: Pengertian, Sejarah, Karakteristik, dan Contohnya

    Pengertian Sanepa

    Sanepa merupakan ungkapan atau peribahasa dalam bahasa Jawa yang digunakan untuk menyindir atau menghina seseorang secara halus dengan kalimat yang bertolak belakang maknanya.

    Sanepa juga sering diistilahkan sebagai kalimat yang dilebih-lebihkan atau majas sindiran sinisme karena menggunakan kalimat yang bertolak belakang dari makna sesungguhnya.

    Mudahnya, sanepa merupakan salah satu gaya bahasa dalam bahasa Jawa yang berfungsi sebagai penyindiran atau sindiran halus terhadap seseorang atau suatu keadaan.

    Biasanya Sanepa digunakan dengan menggunakan frasa-frasa yang memiliki konotasi negatif atau merendahkan.

    Baca juga: Kumpulan Parikan Jowo Lucu [Pantun Jawa Lucu]

    Sejarah Sanepa

    Sejarah sanepa sendiri masih sulit untuk dilacak secara pasti, namun penggunaannya telah dipraktikkan selama berabad-abad di masyarakat Jawa.

    Beberapa sumber menyebutkan bahwa penggunaan sanepa sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram Kuno, yakni pada abad ke-8 hingga abad ke-10 yang terkenal dengan kejayaannya di bidang seni dan budaya.

    Dalam babad-babad Jawa, seperti Babad Tanah Jawi dan Babad Mataram, terdapat beberapa contoh penggunaan sanepa dalam karya sastra tersebut.

    Selain itu, penggunaan sanepa juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat luas.

    Hal ini menunjukkan bahwa sanepa telah menjadi bagian dari kebudayaan Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi.

    Meskipun demikian, penggunaan sanepa juga dapat menimbulkan dampak negatif jika tidak digunakan dengan bijak.

    Oleh karena itu, perlu adanya penggunaan sanepa dengan etika dan kesadaran dalam mempertahankan dan memperkaya budaya Jawa yang indah dan beradab.

    Baca juga: 10 Contoh Ukara Andharan dan Artinya

    Karakteristik Sanepa

    Karakteristik dari sanepa adalah menggunakan kata-kata yang memiliki makna ambigu, sehingga bisa memiliki arti yang sama-sama merendahkan, namun terlihat sebagai pujian di permukaan.

    Sanepa juga sering menggunakan kosakata lokal atau istilah-istilah khas bahasa Jawa, sehingga memerlukan pemahaman yang mendalam tentang budaya dan bahasa Jawa untuk memahaminya dengan benar.

    Meskipun memiliki unsur sindiran, Sanepa juga dapat digunakan sebagai bentuk hiburan atau humor dalam komunikasi sehari-hari

    Meski terkadang disalahgunakan untuk menyakiti perasaan orang lain, sanepa juga bisa digunakan dengan bijak untuk menyampaikan pesan yang tajam namun halus.

    Contoh Sanepa Jawa

    Agar lebih jelas, simak beberapa contoh sanepa Jawa berikut ini.

    1. Ambune Arum Jamban (baunya aroma selokan)

    Kalimat di atas terdengar seperti sebuah pujian, tapi sebenarnya bermaksud untuk menyindir bahwa tempat tersebut memiliki aroma yang tak sedap.

    2. Banyune bening peceren (airnya jernih got)

    Kalimat tersebut seolah-olah memuji airnya jernih, padahal bermaksud menyindir bahwa airnya kotor seperti got.

    3. Kulite ireng mori (kulitnya putih sekali)

    Kalimat di atas terdengar seperti menghina seseorang berkulit hitam, tapi sebenarnya maksud dari tembung sanepa tersebut adalah kulitnya putih sekali.

    4. Awake Kuru Semangka (badannya kurus seperti semangka)

    Maksud tembung sanepa Jawa di atas adalah tubuhnya kurus atau hampir habis.

    5. Playune banther bekecot (larinya kencang bekecot)

    Sekencang-kencang larinya bekecot, tentu tetap lambat. Itulah maksud dari kalimat sanepa di atas.

    6. Eseme pait madu (senyumnya sepahit madu)

    Sepahit-pahitnya madu, tetap manis. Makna dari kalimat di atas adalah memuji seseorang jika senyumannya semanis madu.

    7. Kawruhe jeru tapak teri (pengetahuannya dalam seperti telapak teri)

    Maksud dari contoh tembung sanepa Jawa di atas adalah pengetahuannya sangat sedikit, meski tertera kata “dalam” yang maksudnya untuk menyindir.

    8. Pakulitane kuning silit kwali (kulitnya kuning seperti bokong kwali)

    Meskipun menyebut kata kuning, tapi maksud dari kalimat di atas adalah menyindir seseorang jika kulitnya hitam seperti bokong kwali.

    9. Pikirane Landhep Dhengkul (pikirannya tajam seperti dengkul)

    Contoh sanepa di atas maksudnya menghina seseorang yang berpikirnya dangkal.

    10. Suwe mijet wohing ranti (lama seperti memijit buah ranti)

    Maksud dari sanepa di atas adalah cepat sekali atau sangat sebentar.

  • 10 Contoh Ukara Andharan dan Artinya

    Ukara andharan (ukara citra) yaitu ukara kang ngandharake sawijining kedadeyan utawa prekara marang wong sing diajak guneman, bab sing digunem upamane: nyritakake bab-bab kang mentas, dirungu, diwaca, dideleng, rinasa, menehi wawasan, pitutur, nirokake gunem lan liya-liyane.

    Ukara andharan adalah kalimat bahasa Jawa yang isinya mengabarkan suatu hal atau mengabarkan suatu peristiwa.

    Singkatnya, ukara andharan adalah kalimat berita yang ditulis dalam bahasa Jawa.

    Berikut ini adalah beberapa contoh ukara andharan dan artinya.

    1. Rini dolanan boneka ing kamar. (Rini main boneka di kamar)

    2. Wahyu dolanan bal-balan ing lapangan. (Wahyu main bola di lapangan)

    3. Wingi ana kebakaran ing kantor camat. (Kemarin ada kebakaran di kantor camat)

    4. Wingi isuk sepedhahe Rika dicolong maling. (Kemarin pagi sepedanya Rika dicuri maling)

    5. Mambengi Rudi tibo ing jedhing. (Semalam Rudi jatuh di kamar mandi)

    6. Ono kebakaran hutan ing Sulawesi. (Ada kebakaran hutan di Sulawesi)

    7. Pak Dhe Dani tumbas kain telung meter. (Pak de Dani beli kain lima meter)

    8. Aku melu lomba melayu ing Bali. (Aku ikut lomba lari di Bali)

    9. Aku lagi ngumbahi klambine bapakku. (aku sedang mencuci baju ayahku)

    10. Bapak lagi ngombe teh anget. (Ayah sedang minum teh hangat)