Tag: banyuwangi

  • Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi

    Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi

    Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi
    Penulis: Andi Sep Kurniawan, Anita Setyawati, Mohamad Yasin

    Di tengah sejumlah apresiasi dan penghargaan di bidang lingkungan yang pernah diterima Banyuwangi, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana capaian tersebut sejalan dengan kapasitas pengelolaan timbulan sampah yang cenderung meningkat.

    Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika volume sampah di Banyuwangi diperkirakan telah mencapai 850 sampai dengan 1.200 ton per hari.

    Angka itu mungkin terdengar sebagai konsekuensi wajar dari pertumbuhan penduduk, berkembangnya aktivitas ekonomi, dan meningkatnya kunjungan wisatawan.

    Namun di balik pertumbuhan tersebut tersimpan persoalan yang sering luput dari perhatian. Semakin maju suatu daerah, semakin besar pula tekanan yang dihadapi lingkungannya.

    Fenomena ini tidak hanya terjadi di Banyuwangi. Secara nasional, kualitas lingkungan masih menunjukkan berbagai pekerjaan rumah.

    Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat Indeks Kualitas Air Indonesia tahun 2024 berada pada level 54,78, sedikit di bawah target nasional.

    Bahkan lebih dari dua pertiga titik pantau sungai pada Semester I 2025 masih berada dalam kondisi tercemar.

    Selama ini pencemaran air kerap diasosiasikan dengan limbah industri atau aktivitas pertambangan. Padahal, sumber persoalan tidak selalu berasal dari sektor-sektor besar.

    Dalam banyak kasus, pencemaran justru berawal dari aktivitas yang tampak biasa, yaitu sampah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik.

    Di sinilah persoalan sampah menjadi menarik. Dampaknya jarang terlihat secara langsung.

    Satu kantong sampah yang dibuang hari ini tidak serta-merta mengubah warna sungai menjadi hitam. Tumpukan sampah di lahan kosong tidak langsung mencemari sumur warga.

    Akan tetapi, kerusakan lingkungan bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tumbuh perlahan, terakumulasi, lalu muncul dalam bentuk biaya yang sering kali jauh lebih mahal dibandingkan upaya pencegahannya.

    Dalam ekonomi, kondisi semacam ini menggambarkan adanya biaya tersembunyi yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh pihak yang menghasilkan masalah.

    Ketika sampah dibuang sembarangan, konsekuensinya tidak berhenti pada pelaku.

    Biaya kesehatan meningkat, kualitas air menurun, risiko banjir bertambah, dan pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk pemulihan lingkungan.

    Dengan kata lain, persoalan sampah sesungguhnya adalah persoalan distribusi biaya sosial.

    Karena itu, pengelolaan sampah tidak lagi dapat dipandang semata sebagai urusan kebersihan kota. Ia telah menjadi bagian dari agenda pembangunan.

    Daerah yang gagal mengelola sampah bukan hanya menghadapi persoalan lingkungan, tetapi juga menghadapi penurunan kualitas hidup masyarakat, meningkatnya beban fiskal, hingga berkurangnya daya tarik investasi dan pariwisata.

    Bagi Banyuwangi, tantangan tersebut memiliki arti yang lebih besar. Selama ini keberhasilan daerah tidak hanya dibangun melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui reputasi sebagai kabupaten yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan.

    Reputasi itu merupakan aset yang nilainya tidak kecil. Namun seperti aset lainnya, ia memerlukan pemeliharaan yang berkelanjutan.

    Kesadaran atas tantangan tersebut tercermin dalam Program Banyuwangi Hijau yang menjadi salah satu instrumen penting pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

    Program ini tidak hanya berorientasi pada kebersihan kawasan perkotaan, tetapi juga berupaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.

    Fokusnya mencakup pengurangan sampah dari sumbernya, penguatan pemilahan sampah rumah tangga, pengembangan ekonomi sirkular, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.

    Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang dalam pengelolaan sampah.

    Persoalan sampah tidak lagi diposisikan sebagai urusan akhir berupa pengangkutan dan pembuangan, melainkan sebagai bagian dari proses pembangunan yang melibatkan rumah tangga, komunitas, pelaku usaha, dan pemerintah daerah secara bersama-sama.

    Keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil diangkut, tetapi juga dari kemampuan mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.

    Dalam praktiknya, Banyuwangi telah menerapkan berbagai model pengelolaan sampah. Di sejumlah wilayah, layanan dilakukan melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang menyediakan sarana pemilahan dan pengangkutan sampah secara rutin.

    Di wilayah lainnya, masyarakat didorong untuk mengolah sampah organik menjadi kompos, sementara sampah anorganik dikumpulkan untuk didaur ulang atau diproses lebih lanjut.

    erbagai skema tersebut menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah sesungguhnya telah tersedia. Tantangan berikutnya adalah memastikan solusi tersebut menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat.

    Akan tetapi, pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa keberhasilan kebijakan lingkungan pada akhirnya tidak ditentukan oleh kualitas program semata.

    Persoalan mendasarnya terletak pada perilaku. Infrastruktur dapat dibangun. Teknologi dapat dihadirkan.

    Sistem dapat diperbaiki. Namun seluruh instrumen tersebut memiliki batas ketika berhadapan dengan kebiasaan masyarakat yang masih memandang sampah sebagai sesuatu yang selesai begitu keluar dari rumah.

    Cara pandang semacam itu menjadi akar dari paradoks pembangunan lingkungan. Di satu sisi, masyarakat menginginkan lingkungan yang bersih, sungai yang sehat, dan kawasan wisata yang terawat.

    Namun di sisi lain, masih terdapat kebiasaan membuang sampah sembarangan, enggan memilah sampah dari rumah, atau menganggap biaya pengelolaan sampah sebagai beban tambahan.

    Akibatnya, biaya lingkungan yang muncul pada akhirnya harus ditanggung bersama oleh seluruh masyarakat.

    Di titik inilah masa depan Banyuwangi akan diuji. Pertumbuhan ekonomi dan pariwisata yang menjadi sumber kebanggaan daerah pada saat yang sama juga menghasilkan tekanan lingkungan yang semakin besar.

    Tantangannya bukan memilih antara pembangunan atau lingkungan, melainkan memastikan keduanya berjalan beriringan.

    Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia tumbuh, tetapi juga oleh seberapa baik ia menjaga kualitas lingkungan yang menopang pertumbuhan tersebut.

    Banyuwangi telah menunjukkan komitmen untuk menjadi daerah hijau melalui berbagai inisiatif pengelolaan sampah dan pembangunan berkelanjutan.

    Pertanyaan berikutnya adalah apakah komitmen itu mampu bertahan ketika berhadapan dengan persoalan sampah yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

    Sebab masa depan Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh keputusan sehari-hari masyarakat dalam memperlakukan sampah yang mereka hasilkan.

    Penulis: Andi Sep Kurniawan, Anita Setyawati, Mohamad Yasin

  • Lentera Sastra Banyuwangi Berkolaborasi dengan BCM dan Rumah Kebangsaan Peringati Hari Puisi Nasional

    Lentera Sastra Banyuwangi Berkolaborasi dengan BCM dan Rumah Kebangsaan Peringati Hari Puisi Nasional

    BANYUWANGI – Peringatan Hari Puisi Nasional yang digelar di Taman Blambangan, Banyuwangi, Minggu (26/7/2026), berlangsung semarak dan penuh makna.

    Kegiatan ini merupakan kolaborasi Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Banyuwangi Creative Market (BCM), dan Rumah Kebangsaan Banyuwangi yang menghadirkan panggung baca puisi sekaligus berbagai aksi sosial dalam rangka satu tahun Banyuwangi Creative Market.

    Dalam kegiatan tersebut, panitia berhasil menghimpun dana sebesar Rp6.450.000 dari pembuka lapak yang kemudian diwujudkan dalam bentuk santunan uang saku dan paket sembako bagi anak yatim piatu.

    Selain pembacaan puisi, acara juga diisi dengan donor darah, santunan kepada anak yatim, serta berbagai kegiatan sosial lainnya sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat.

    Kolaborasi antara komunitas sastra, pelaku ekonomi kreatif, dan organisasi kemasyarakatan itu menghadirkan ruang publik yang memadukan seni, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan.

    Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, H. Syafaat, M.HI, mengatakan bahwa Hari Puisi Nasional merupakan momentum untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

    “Puisi adalah media yang mampu menyampaikan pesan kemanusiaan, membangun kepekaan sosial, serta mempererat persaudaraan. Karena itu, kami menggabungkan peringatan Hari Puisi Nasional dengan kegiatan sosial agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

    Panggung puisi diikuti oleh penyair, guru, pelajar, santri, serta pegiat literasi dari berbagai komunitas di Banyuwangi.

    Dari lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi hadir Kepala MTsN 5 Banyuwangi Herny Nilawati, Kepala MTsN 2 Banyuwangi Uswatun Hasanah, Lulu Anwariyah dan Cicik Handayani dari MTsN 4 Banyuwangi, Nurul Ludfia Rochmah, M.Pd., Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi yang juga guru MAN 1 Banyuwangi bersama para siswanya, Nukhbah Fahiroh dari MTsN 1 Banyuwangi yang merupakan peraih Juara Liga Puisi Radar kategori guru sekaligus penerima penghargaan Sastra Tama, serta Nur Khofifah, guru MIN 1 Banyuwangi yang juga menerima penghargaan Sastra Tama.

    Peringatan Hari Puisi Nasional juga dimeriahkan penampilan Elok Faiqoh, Juara Liga Puisi Kategori SLTA Tahun 2025.

    Penampilannya yang penuh penghayatan mendapat apresiasi dari para hadirin.

    Warna tersendiri juga hadir melalui penampilan santriwati MI Darunnajah 2 Tukang Kayu, Azka Dzakiyatus Shaleha dan Zahiya Farha Sakinah, yang tampil didampingi Kepala Madrasah Majidatul Himmah, S.Ag.

    Keduanya membacakan puisi karya wali murid Ahmadi yang mengangkat isu penggusuran lapak UMKM Blambangan, dengan pesan agar masyarakat tetap bersabar dan meyakini bahwa rezeki berasal dari Yang Maha Kaya.

    Sementara itu, santri MI Syamsul Huda Bulusan Kalipuro, yakni Muhammad Bisma Arkananta Mahardika, Kiasatina Elisa Yulfani, dan Ananda Nur Millati Laili, tampil percaya diri didampingi guru pembina Wahyu Prahariningsih.

    Salah satu penampilan yang paling memukau hadir saat Purwowidodo, Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, membawakan puisi berjudul Bukan Warisan Malaikat.

    Dengan penghayatan yang kuat dan intonasi yang penuh penjiwaan, ia mengajak hadirin merenungkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan tanggung jawab moral.

    Penampilannya mendapat tepuk tangan meriah dan menjadi salah satu momen paling berkesan dalam peringatan Hari Puisi Nasional tahun ini.

    Ketua Banyuwangi Creative Market, Rahmad Hidayat, mengapresiasi sinergi berbagai komunitas yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

    Menurutnya, perpaduan seni, kreativitas, dan aksi sosial menjadi kekuatan untuk menghidupkan ruang publik sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Banyuwangi.

    Sementara itu, Ketua Rumah Kebangsaan, Hakim Said, SH, menegaskan bahwa sastra memiliki peran strategis dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan.

    Ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan sebagai media membangun karakter bangsa melalui kebudayaan.

    Kegiatan baca puisi juga dihadiri Pengawas Madrasah St. Muanifah, penyair Faiz Abadi bersama putrinya Tirta Baiti Jannah, serta sejumlah penyair dan pegiat literasi dari berbagai komunitas.

    Suasana berlangsung hangat, tertib, dan penuh apresiasi terhadap karya sastra, menunjukkan bahwa puisi tetap memiliki tempat di hati masyarakat Banyuwangi.

    Melalui kolaborasi Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Banyuwangi Creative Market, dan Rumah Kebangsaan, peringatan Hari Puisi Nasional diharapkan menjadi ruang bersama untuk mengembangkan budaya literasi, memperkuat kepedulian sosial, serta meneguhkan semangat persatuan melalui seni dan kebudayaan.

    Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa sastra tidak hanya hidup dalam untaian kata, tetapi juga hadir sebagai penggerak solidaritas, persaudaraan, dan peradaban.

    Acara ditutup dengan tumpengan dan doa yang dipimpin Syech H. Mohammad Ikrom sebagai ungkapan tasyakuran atas satu tahun perjuangan UMKM Banyuwangi Creative Market (BCM), sekaligus sebagai wujud tawakal, permohonan ampun, dan doa lahir batin demi kebahagiaan dunia dan akhirat. (Aguk Wahyu Nuryadi)

  • Staf Batalyon SMK Pelayaran Kalipuro Dilantik, Dorong Penguatan Tradisi dan Disiplin Taruna

    Staf Batalyon SMK Pelayaran Kalipuro Dilantik, Dorong Penguatan Tradisi dan Disiplin Taruna

    Staf Batalyon SMK Pelayaran Kalipuro resmi dilantik dalam upacara yang berlangsung di pelataran plaza sekolah, Selasa (11/8/2026).

    Pelantikan berlangsung khidmat dan menjadi bagian dari upaya sekolah dalam menjaga tradisi, kedisiplinan, serta pembinaan ketarunaan di lingkungan SMK Pelayaran Kalipuro.

    Dalam upacara tersebut, H.M. Shodiqin, S.Pd., MM., mewakili Kepala Sekolah Agung Rahmadi, S.Pd., M.Si., bertindak sebagai inspektur upacara.

    Kegiatan turut dihadiri Waka Kesiswaan Aliefcaturwibowo, S.Kom., pelatih ketarunaan Serma Mers Purna Bambang Hermanto, serta dewan guru dan staf tata usaha.

    H.M. Shodiqin, S.Pd., MM

    Prosesi pelantikan ditandai dengan pengalungan tali kur kepada Komandan Batalyon Erling Aftrey Dermawan dan staf.

    Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya tugas dan tanggung jawab staf Batalyon dalam menjalankan peran mereka di lingkungan sekolah.

    Dalam sambutannya, H.M. Shodiqin menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan tersebut.

    Ia berpesan agar para taruna terus menjaga tradisi dan kedisiplinan yang menjadi bagian penting dalam pendidikan ketarunaan.

    Menurutnya, pembinaan ketarunaan juga harus berlangsung dengan mengedepankan sikap saling menghormati.

    Ia menegaskan, tidak boleh ada kekerasan antara senior dan yunior. Sebaliknya, senior dan yunior harus saling menghormati dan menyayangi.

    Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter taruna, sehingga tradisi dan kedisiplinan yang dibangun di sekolah tetap berjalan tanpa menghilangkan nilai saling menghargai di antara para taruna.

    Selain pelantikan staf Batalyon, perkembangan SMK Pelayaran Kalipuro juga tidak terlepas dari langkah sekolah dalam melakukan pembenahan dan meningkatkan kualitas pendidikan pelayaran.

    SMK Pelayaran Kalipuro terus berbenah diri setelah mendapatkan sertifikat Aproval nomor SM.401/1/5/DK/2026 dari Dirjen Perhubungan Laut, Direktur Perkapalan dan Kepelautan, pada 5 Februari 2026 di Jakarta.

    Dengan diperolehnya sertifikat tersebut, kini SMK Pelayaran Kalipuro bisa meluluskan Taruna dan Taruninya menjadi perwira pelaut dengan pangkat ANT IV.

    Hal tersebut menjadi bagian dari perkembangan SMK Pelayaran Kalipuro dalam mempersiapkan taruna untuk memasuki dunia kepelautan.

    Pelantikan Staf Batalyon SMK Pelayaran Kalipuro Banyuwangi

    SMK Pelayaran Kalipuro juga merupakan satu-satunya SMK pelayaran negeri di Jawa Timur, Bali, dan Nusra.

    Keberadaan sekolah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pendidikan pelayaran, khususnya bagi Banyuwangi dan wilayah sekitarnya.

    Keberadaan SMK Negeri Pelayaran Kalipuro juga mendapat dukungan dari lingkungan maritim Banyuwangi.

    Banyuwangi disebut harus bangga memiliki SMK Negeri Pelayaran Kalipuro, terlebih sekolah tersebut didukung Selat Bali.

    Salah satu fasilitas yang menjadi tempat prakerin adalah penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

    Selain itu, terdapat Pelabuhan Tanjungwangi dengan trayek Banyuwangi-Lombok yang turut menjadi bagian dari lingkungan pendukung pendidikan dan pengalaman praktik bagi taruna.

    Dukungan tersebut menjadi salah satu keunggulan yang dimiliki SMK Negeri Pelayaran Kalipuro dalam memberikan pengalaman kepada para tarunanya sebelum terjun ke dunia pelayaran.

    SMK Negeri Pelayaran Kalipuro juga telah dikenal di seluruh Indonesia. Hal itu terbukti dari asal para tarunanya yang tidak hanya berasal dari Banyuwangi maupun wilayah Jawa Timur.

    Taruna SMK Negeri Pelayaran Kalipuro berasal dari berbagai daerah, di antaranya Kalimantan, Sumatra, Bali, Madura, dan Jawa Barat.

    Sementara itu, para alumninya juga telah tersebar dan berlayar di level nasional maupun internasional.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan SMK Negeri Pelayaran Kalipuro tidak hanya menjadi bagian dari pendidikan di Banyuwangi, tetapi juga telah dikenal hingga berbagai daerah di Indonesia.

    Sekolah ini terus berbenah untuk menjaga tradisi ketarunaan, meningkatkan kedisiplinan, serta mempersiapkan taruna menjadi perwira pelaut.

  • Gandeng ITS, Banyuwangi Dorong Hilirisasi dan Inovasi Sektor Perikanan

    Gandeng ITS, Banyuwangi Dorong Hilirisasi dan Inovasi Sektor Perikanan

    Banyuwangi memperkuat upaya pengembangan sektor perikanan dan potensi maritim melalui kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) serta PW IKA ITS Jawa Timur.

    Kerja sama tersebut dituangkan dalam kesepakatan bersama yang ditandatangani di Surabaya, Selasa (11/8). Penandatanganan dilakukan bersama Kabupaten Nganjuk, Lamongan, dan Kota Pasuruan.

    Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan sektor perikanan, serta mengoptimalkan potensi maritim melalui penerapan teknologi yang berkelanjutan.

    Wakil Rektor II ITS Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sarana Prasarana, Dr. Ir. Machsus, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dibutuhkan untuk mengoptimalkan kekayaan kelautan Indonesia.

    “Indonesia merupakan negara kepulauan. Sumber daya kelautan yang ada di dalamnya itulah yang perlu kita eksplorasi untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran bangsa ini,” ujar Machsus.

    Menurutnya, ITS memiliki sejarah panjang dalam pengembangan sektor kelautan dan kemaritiman.

    Perguruan tinggi tersebut menurutnya menjadi salah satu kampus yang mendapat amanat Presiden Soekarno untuk memberikan perhatian pada bidang kelautan.

    “Untuk itu perlu kolaborasi bersama, bagaimana ke depan bisa mengawal kemajuan kemaritiman di Indonesia ini. Sehingga segala potensi yang ada bisa kita berdayakan untuk kemakmuran bangsa, terutama untuk kemakmuran Jawa Timur,” tambahnya.

    Ketua Umum PW IKA ITS Jatim Eri Cahyadi menilai perguruan tinggi bersama jejaring alumninya perlu mengambil peran dalam memberikan solusi berbasis teknologi bagi pemerintah daerah.

    Salah satu penerapannya, menurut Eri, dapat dilakukan melalui pengembangan teknologi pengering ikan maupun teknologi penerangan yang membantu nelayan dalam meningkatkan hasil tangkapan.

    “IKA ITS harus hadir memberikan pendampingan dan memanfaatkan keunggulan teknologi untuk membantu wilayah-wilayah di Jawa Timur,” kata Eri sekaligus Wali Kota Surabaya ini.

    Eri juga menilai sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan ITS sesuai dengan karakter Banyuwangi yang memiliki wilayah pesisir luas serta potensi perikanan yang besar.

    “Bagi Banyuwangi, ini menjadi nilai tambah untuk menggandeng ITS, terutama dalam pengembangan sektor perikanan,” ujar Ipuk.

    Ipuk menyebut masih terdapat nelayan di Banyuwangi yang menjalankan aktivitasnya dengan metode tradisional.

    Karena itu, penguatan teknologi, riset, pengolahan, dan hilirisasi dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus nilai ekonomi hasil perikanan.

    Pemkab Banyuwangi berharap kerja sama dengan ITS dapat menghasilkan inovasi yang bisa diterapkan secara langsung di masyarakat, bukan hanya berhenti pada kegiatan penelitian.

    “Mudah-mudahan kerja sama ini berdampak pada peningkatan produk perikanan. Tidak hanya perikanan, sektor pertanian dan pengembangan sumber daya manusia juga bisa dikolaborasikan,” kata Ipuk.

    Selain penandatanganan kerja sama, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan forum strategis nasional.

    Forum menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala Badan Penyuluhan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan KKP I Nyoman Radiarta, Direktur Utama PT Agrinas Jaladri Nasional (Persero) Kharisma Febriansyah, serta profesor dari ITS. (*)

  • Komnas HAM Apresiasi Pembangunan Inklusif Banyuwangi, Diusulkan Ikuti Penilaian HAM Nasional

    Komnas HAM Apresiasi Pembangunan Inklusif Banyuwangi, Diusulkan Ikuti Penilaian HAM Nasional

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI memberikan apresiasi terhadap berbagai upaya Pemkab Banyuwangi dalam memenuhi hak dasar masyarakat melalui kebijakan pembangunan yang inklusif.

    Apresiasi tersebut disampaikan dalam audiensi sekaligus sosialisasi program Penilaian HAM di Banyuwangi, Kamis (6/8). Kegiatan itu dihadiri Ketua Komnas HAM RI Anis Hidayah bersama jajaran komisioner.

    Dalam pertemuan tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan arah pembangunan daerah yang mengedepankan pendekatan human-centered development atau pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

    Sejumlah capaian pembangunan turut disampaikan, mulai dari penurunan angka kemiskinan menjadi 6,13 persen, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi 75,17, usia harapan hidup mencapai 74,43 tahun, hingga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,65 persen pada 2025.

    “Di sektor pendidikan kami terus memperkuat program sosial dan inklusif, Siswa Asuh Sebaya, Banyuwangi Mengajar, hingga beasiswa Banyuwangi Cerdas dan Banyuwangi Progresif,” ujar Ipuk.

    Dalam bidang pendidikan, Pemkab Banyuwangi juga memperluas akses bagi Anak Berkebutuhan Khusus melalui program Agage Pintar dan Lebur Seketi (Layanan Inklusif Peserta Berkebutuhan Khusus dengan Pendekatan Hati).

    Sementara di sektor kesehatan, pemerintah daerah mengembangkan berbagai layanan yang menitikberatkan pada pencegahan dan kemudahan akses masyarakat.

    Di antaranya Mall Orang Sehat, Jemput Bola Rawat Warga, serta layanan telekonsultasi 24 jam OASIS Wangi (Online Akses Solusi Indonesia Sehat dari Banyuwangi) yang menggandeng NGO NORA Health dari Amerika Serikat.

    “Pendidikan dan kesehatan merupakan investasi dasar. Kami memastikan faktor ekonomi, usia, maupun keterbatasan geografis tidak menghalangi warga memperoleh layanan yang layak,” kata Ipuk.

    Penguatan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) juga dilakukan melalui Peraturan Bupati Nomor 3 Tahun 2025 tentang Unit Layanan Disabilitas.

    Saat ini, enam dari 54 organisasi perangkat daerah di Banyuwangi telah mempekerjakan aparatur sipil negara penyandang disabilitas.

    Pemerintah daerah juga menyediakan ruang partisipasi bagi kelompok masyarakat melalui forum Rembuk Difabel, Rembuk Lansia, dan Rembuk Anak.

    Pada aspek pemenuhan hak pangan, Banyuwangi menjalankan program Rantang Kasih yang menyasar lebih dari 3.000 lansia miskin.

    Upaya penanganan stunting dilakukan melalui program Banyuwangi Tanggap Stunting dengan melibatkan sekaligus memberdayakan pedagang sayur keliling.

    “Setiap warga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh informasi, mengakses layanan publik, dan menikmati kehidupan yang layak tanpa terkecuali,” tegas Ipuk.

    Ketua Komnas HAM RI Anis Hidayah mengapresiasi kesiapan Pemkab Banyuwangi dalam menyampaikan data dan indikator pembangunan yang berkaitan dengan pemenuhan hak asasi manusia.

    “Saya cukup terkejut karena memperoleh data yang sangat komprehensif dari Ibu Bupati. Ini menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pemenuhan hak asasi manusia,” ujar Anis.

    Komnas HAM kemudian menyatakan akan menunjuk Banyuwangi sebagai salah satu daerah yang menjadi sasaran penilaian terhadap penerapan nilai-nilai HAM dalam pembangunan daerah.

    Program Penilaian HAM merupakan agenda nasional yang telah berlangsung selama tiga tahun di bawah koordinasi Bappenas.

    Program tersebut bertujuan mengukur sejauh mana pemerintah daerah menerapkan prinsip-prinsip HAM dalam pelaksanaan pembangunan.

    Anis menambahkan, Banyuwangi menjadi salah satu daerah di Pulau Jawa sekaligus perwakilan Jawa Timur yang diproyeksikan mengikuti penilaian HAM pada tahun depan bersama sejumlah daerah lainnya.

    “Program yang dijalankan Banyuwangi menunjukkan banyak kemajuan. Berbagai kebijakan yang telah dilakukan sudah mengarah pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat sesuai indikator hak asasi manusia,” kata Anis. (*)

  • Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, tetap teguh menjaga tradisi leluhur melalui ritual adat Kebo-Keboan.

    Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, ikhtiar, dan doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, serta hasil panen yang melimpah.

    Ketua Lembaga Adat Kebo-Keboan Alas Malang sekaligus Ketua Panitia Kebo-Keboan 2026, Doni Agus Ferdianto, menjelaskan bahwa tradisi tersebut lahir dari sebuah peristiwa pagebluk yang pernah melanda desa pada masa lampau.

    Wabah penyakit saat itu menyebar begitu cepat hingga merenggut banyak nyawa warga.

    “Konon, pada masa itu seseorang yang pagi hari jatuh sakit, sore harinya sudah meninggal. Dalam kondisi tersebut, Buyut Karti melakukan semedi di Watu Loso sebagai ikhtiar memohon kepada Tuhan agar pagebluk segera berakhir,” ujar Doni.

    Dari peristiwa itulah kemudian lahir ritual Kebo-Keboan yang terus dilaksanakan hingga kini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan doa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah, diberi keselamatan, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan dan pertanian.

    Kerbau dipilih sebagai simbol utama dalam ritual ini karena memiliki kedekatan yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris.

    Hewan tersebut dikenal kuat, tangguh, dan menjadi sahabat petani dalam mengolah sawah sejak dahulu.

    Selain itu, dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat, Danyang Watu Loso digambarkan sebagai sosok berbadan manusia berkepala kerbau yang dipercaya menjaga wilayah Alas Malang.

    Rangkaian ritual Kebo-Keboan dimulai sejak malam 1 Suro dengan menggelar selametan di Watu Loso, tempat yang diyakini sebagai lokasi Buyut Karti memperoleh petunjuk untuk mengakhiri pagebluk.

    Memasuki H-7, warga bergotong royong mendirikan Gapura Poro Bungkil yang kemudian dihiasi berbagai hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang diberikan Tuhan.

    Pada H-3, panitia bersama masyarakat mengadakan santunan kepada anak-anak yatim yang diawali dengan pawai obor.

    Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus doa agar seluruh rangkaian ritual berlangsung dengan penuh keberkahan.

    Dua hari menjelang puncak acara, masyarakat kembali bergotong royong menghias gapura menggunakan beragam hasil pertanian, mulai dari padi, jagung, buah-buahan, hingga aneka sayuran yang menjadi hasil unggulan Desa Alas Malang.

    Sehari sebelum prosesi utama, warga mengikuti tasyakuran bersama yang digelar di sepanjang jalan dusun.

    Nuansa kebersamaan semakin terasa ketika malam harinya, seusai salat Isya, masyarakat menanam berbagai jenis pohon di sepanjang jalan kampung sebagai simbol pelestarian alam dan harapan akan kehidupan yang terus tumbuh.

    Menjelang dini hari, para sesepuh adat melaksanakan ritual peletakan sesaji di empat batu yang dianggap sakral, yakni Watu Loso, Watu Nogo atau Watu Tumpeng, Watu Gajah, dan Watu Karangan.

    Keempat batu tersebut dipercaya telah ada sejak sebelum Desa Alas Malang berdiri dan diyakini menjadi penjaga Dusun Krajan dari berbagai ancaman maupun niat jahat.

    Ritual ini menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan para leluhur agar seluruh rangkaian Kebo-Keboan berjalan dengan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

    Lebih dari sekadar ritual adat, Kebo-Keboan juga menjadi ruang yang memperkuat solidaritas warga. Seluruh masyarakat terlibat aktif dalam setiap tahapan persiapan hingga pelaksanaan, mulai dari membersihkan lingkungan, menghias kampung, menyiapkan perlengkapan ritual, hingga menyambut tamu yang datang dari berbagai daerah.

    Semangat gotong royong tersebut menjadi nilai penting yang terus diwariskan kepada generasi muda.

    Di sisi lain, penyelenggaraan Kebo-Keboan turut memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

    Ribuan wisatawan yang hadir setiap tahun membawa berkah bagi para pedagang kaki lima, pelaku UMKM, penjual hasil pertanian, hingga penyedia jasa parkir dan transportasi lokal.

    Perputaran ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan ritual menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi warga.

    Momentum ini juga menjadi panggung bagi para pelaku seni dan budaya lokal untuk menunjukkan kreativitasnya.

    Kelompok kesenian tradisional, penabuh gamelan, penari, pembuat properti adat, hingga para perajin lokal turut ambil bagian dalam menyukseskan rangkaian acara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.

    Bagi masyarakat Desa Alas Malang, Kebo-Keboan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya yang terus hidup dan berkembang.

    Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritual, gotong royong, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

    Melalui Kebo-Keboan, warisan budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga menjadi kekuatan yang mempersatukan warga sekaligus menggerakkan roda perekonomian desa.

  • Sambut Musywil Ke-13 NA Jatim, Jurnalis Muda SMK Models Pertajam Ekoliterasi Lewat Jelajah Visual

    Sambut Musywil Ke-13 NA Jatim, Jurnalis Muda SMK Models Pertajam Ekoliterasi Lewat Jelajah Visual

    Suara lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk teriakan. Sebagian hadir dalam sehelai daun, tumbuhan yang perlahan menghilang, hingga kicauan burung yang kini tak lagi terdengar setiap pagi.

    Pesan itulah yang menjadi semangat kegiatan “Suara Bumi dalam Lensa: Jelajah Literasi Visual bersama Jurnalis Muda Lintas Iman” yang digelar di SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) Bayuwangi, Jawa Timur Sabtu (12/9/2026), pukul 08.00 WIB.

    Kegiatan yang diikuti oleh 16 jurnalis muda tersebut menjadi bagian dari rangkaian Gema Literasi Nasyiatul Aisyiyah Banyuwangi dalam rangka Semarak Musyawarah Wilayah (Musywil) Ke-13 Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur.

    Para peserta yang tergabung dalam Models Jurnalisme, Ekstrakurikuler Jurnalistik SMK Models, diajak untuk mengenal lingkungan melalui pendekatan berbeda: melihat, mengamati, membaca, memotret, dan kemudian menceritakan.

    Aksi Lingkungan Perlu Dikabarkan

    Kegiatan diawali dengan diskusi melingkar bersama Zahrotul Janah, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur Bidang Lingkungan Hidup serta Pustaka, Informasi dan Teknologi Digital.

    Dalam diskusi tersebut, Zahrotul Janah menyampaikan bahwa aksi lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan menanam pohon, membersihkan sampah, maupun mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan.

    Menurutnya, peran jurnalis juga memiliki posisi penting dalam gerakan menjaga bumi.

    “Aksi lingkungan tidak hanya berhenti pada menanam pohon, melakukan clean up sampah, atau menjalankan gaya hidup ramah lingkungan. Ada peran penting jurnalis untuk mengabarkan kepada dunia tentang keadaan lingkungan di sekitar kita,” ujarnya.

    Menurut Zahrotul, tulisan memiliki kekuatan untuk menggerakkan kesadaran. Melalui berbagai gaya penulisan dan cara bercerita, seorang jurnalis dapat menghadirkan persoalan lingkungan menjadi lebih dekat dan menyentuh hati pembacanya.

    “Kalau tidak ada peran serta jurnalis yang menyampaikan dengan tulisan yang mampu menyentuh hati, mungkin tidak semua orang akan tergerak untuk melakukan aksi lingkungan. Padahal menjaga lingkungan merupakan kewajiban bersama dan menjadi nilai yang diajarkan oleh semua agama,” katanya.

    Zahrotul yang juga inisiator Merdeka Sampah ini kemudian memantik diskusi dengan pertanyaan sederhana kepada para jurnalis muda.

    “Apa saja isu lingkungan yang kalian ketahui?”

    Pertanyaan tersebut membuka percakapan tentang berbagai persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Diskusi kemudian berlanjut pada persoalan kehilangan keanekaragaman hayati.

    Para peserta diajak mengingat kembali berbagai jenis tumbuhan maupun hewan yang dahulu mudah ditemukan, tetapi kini mulai sulit dijumpai atau bahkan tidak lagi terlihat.

    mendokumentasikan biodiversitas

    Menanam Sambil Mengenal Tumbuhan

    Usai diskusi, para peserta melanjutkan kegiatan dengan aksi penanaman.

    Sebanyak 25 bibit loofah atau blustru dan 5 bibit markisa ditanam di area SMK Models.

    Namun, kegiatan tidak berhenti pada proses menanam. Para jurnalis muda juga diajak mengobservasi berbagai tumbuhan yang ada di lingkungan sekolah.

    Tumbuhan yang belum mereka kenal menjadi pintu masuk untuk melakukan pencarian literatur. Peserta diajak mencari nama, karakteristik, manfaat, hingga informasi lain yang dapat memperkaya pemahaman mereka terhadap keanekaragaman hayati di sekitar sekolah.

    Founder Models Jurnalisme sekaligus Sekretaris PCNA Siliragung, Cici Arista Devi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki output berupa karya literasi visual dari masing-masing peserta.

    Setiap jurnalis muda diminta memotret tumbuhan yang mereka temukan di area sekolah dan kemudian membuat deskripsi berdasarkan hasil observasi serta penelusuran literatur.

    “Para jurnalis muda ini akan mengenal keanekaragaman hayati, khususnya tumbuhan yang ada di sekolah. Mereka tidak hanya mengambil gambar, tetapi juga belajar melihat lebih dekat, mengenali, mencari informasi, kemudian menceritakannya kepada orang lain,” ujarnya.

    Menurutnya, jurnalis muda memiliki ruang yang besar untuk menyuarakan ekoliterasi, terutama melalui karya visual dan tulisan yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

    Cici pun mengajak peserta untuk melihat lingkungan dengan cara yang lebih peka.

    “Tidak semua suara dapat didengar. Sebagian harus ditemukan, dilihat, lalu diceritakan,” katanya.

    Setelah mendapatkan arahan, para peserta kemudian dilepas untuk mengeksplorasi berbagai sudut sekolah.

    Kamera dan telepon genggam menjadi alat untuk menangkap cerita-cerita kecil tentang tumbuhan yang selama ini tumbuh di sekitar mereka.

    Ketika Suara Burung Mulai Hilang

    Kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman baru bagi para peserta. Salah satunya dirasakan Aurelia Clarista Putri.

    Ia mengaku sebelumnya belum banyak mengikuti isu lingkungan. Namun, diskusi tentang kehilangan keanekaragaman hayati membuatnya mulai melihat perubahan yang terjadi di sekitarnya.

    “Awalnya saya tidak mengikuti terkait isu lingkungan. Ternyata setelah mengikuti kegiatan ini kami membahas tentang kehilangan keanekaragaman hayati dan saya juga mengalami hal itu, yaitu sudah hilangnya suara burung setiap pagi,” katanya.

    Sementara itu, Rico Adi Prasetyo menilai kegiatan tersebut menjadi bentuk edukasi yang penting bagi jurnalis muda.

    Menurutnya, pemahaman terhadap isu lingkungan akan membuat generasi muda lebih sensitif terhadap berbagai perubahan yang terjadi.

    “Kegiatan ini adalah edukasi yang baik untuk jurnalis muda dan kami jadi lebih sensitif terhadap isu seperti El Nino. Dari kegiatan ini bisa menjadi langkah awal para jurnalis muda lebih dekat dengan bumi dan menyuarakan isu lingkungan,” ujarnya.

    Melalui Suara Bumi dalam Lensa, para jurnalis muda tidak hanya belajar membuat berita. Mereka juga belajar membaca lingkungan sebagai sebuah teks. Setiap daun, batang, bunga, dan tumbuhan memiliki cerita.

    Sebagian tumbuh dan tetap bertahan. Sebagian lainnya perlahan menghilang tanpa sempat terdokumentasikan.

    Karena itu, literasi tidak hanya berlangsung di depan buku atau layar. Literasi juga dapat dimulai dari langkah kaki yang menyusuri halaman sekolah, mata yang memperhatikan tumbuhan, kamera yang menangkap gambar, serta tulisan yang menyampaikan suara bumi kepada lebih banyak orang.

    SMK Muhammadiyah 8 Siliragung sendiri merupakan sekolah dampingan Eco Bhinneka Muhammadiyah yang aktif mengembangkan berbagai aksi lingkungan secara inklusif.

    Melalui keterlibatan jurnalis muda dalam kegiatan ini, aksi lingkungan diharapkan tidak hanya menjadi gerakan yang dilakukan, tetapi juga menjadi cerita yang terus disuarakan.

    Sebab bumi juga memiliki suara. Dan terkadang, suara itu membutuhkan jurnalis muda untuk menemukan, melihat, lalu menceritakannya kepada dunia.

  • MGMP Bahasa Using dan Dinas Pendidikan Banyuwangi Siapkan Wikipedia Bahasa Using, Penulis dan Pegiat Literasi Ikut Ambil Bagian

    MGMP Bahasa Using dan Dinas Pendidikan Banyuwangi Siapkan Wikipedia Bahasa Using, Penulis dan Pegiat Literasi Ikut Ambil Bagian

    Sebagai upaya menghadirkan Bahasa Using di ruang digital, MGMP Bahasa Using SMP bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi menggelar Wikilatih Wikipedia Bahasa Using di Lab IPA SMP Negeri 3 Rogojampi, Selasa dan Rabu, 8–9 September 2026.

    Wikilatih ini menjadi wadah inkubasi bagi calon relawan dan kontributor Wikipedia sekaligus mendorong semakin banyak penulis untuk mendokumentasikan Bahasa Using beserta kekayaan budaya dan sejarah Banyuwangi.

    Kegiatan resmi dibuka Kepala SMPN 3 Rogojampi, Kukung Joko Kurniawan, S.Pd., tepat pukul 08.17 WIB.

    Dalam sambutannya, ia berharap peserta tidak hanya mampu menulis menggunakan bahasa daerah, tetapi juga memahami berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan Bahasa Using dan Banyuwangi, mulai dari adat, tradisi, toponimi, legenda, hingga sejarah Blambangan dan Banyuwangi.

    Sesi berikutnya diisi motivasi oleh Ketua Komunitas Gotong Royong ’45, Aguk Darsono yang lebih akrab disapa Bung Aguk. Ia telah aktif dalam kegiatan seni teater sejak duduk di sekolah dasar.

    Saat SMA, Bung Aguk juga berhasil menjadi juara karya tulis tingkat nasional dan mendapat undangan untuk mengikuti Upacara 17 Agustus di Istana Negara.

    Hingga kini, Bung Aguk tetap aktif berbagi ilmu di bidang teater dan literasi. Ia juga berkegiatan sebagai wartawan di media lokal maupun nasional.

    “Harapannya kegiatan wikilatih ini menjadi pemicu pemegang kebijakan bahwasanya Basa Using adalah Bahasa bukan sekedar dialek atau logat Jawa!” ungkap aktivis pendidikan, kesehatan, dan disabilitas tersebut.

    Wikilatih juga menghadirkan mentor asal Madura, Alfian Rizzi Afdiquni, yang telah mendapatkan bonus sebagai kontributor aktif ke Afrika.

    Ia didampingi kontributor Bahasa Indonesia asal Sumbersari, Srono, Mbok Ulum Arifah.

    Ulum mengatakan, upaya merintis Wikipedia Bahasa Using sebenarnya bukan hal baru.

    Perintisannya telah dimulai sejak 2018, sementara pada tahun lalu juga terdapat proyek penyusunan kamus 2.000 kata Using.

    Saat ini, sudah terdapat sekitar 450 artikel mengenai Banyuwangi dan Bahasa Using. Namun, aktivitas menulis secara rutin masih menjadi tantangan.

    Menurut Ulum, belum lebih dari tiga penulis yang istiqomah menghasilkan tulisan setiap minggu.

    Kondisi tersebut membuat Wikipedia atau web berbahasa Using belum muncul sebagaimana bahasa daerah lain yang telah memiliki Wikipedia, seperti Betawi, Bali, Madura, Jawa, Minang, dan 19 bahasa ibu lainnya.

    “Sesungguhnya sudah dirintis sejak 2018 dan tahun lalu ada proyek kamus 2000 kata Using. Sudah ada sekitar 450 artikel tentang Banyuwangi dan bahasa Using. Tapi tidak istiqomah mingguan menulis buat lebih dari 3 penulis. Maka belum muncul web bassa Using seperti Betawi, Bali, Madura, Jawa, Minang dan 19 bahasa ibu lainnya. Harapannya 4-5 bulan ke depan sudah lahir Wikipedia Using menambah kekayaan bahasa nusantara yang juga diakui internasional!” harap Ulum yang kini tinggal di Surabaya.

    Sementara itu, Alfian Rizzi Afdiquni memberikan paparan mengenai Wikipedia secara umum maupun secara khusus.

    Setelah menyampaikan materi melalui PPT, ia kemudian membimbing peserta membuat akun dan mempraktikkan langsung penulisan artikel.

    Peserta diperkenalkan dengan berbagai SOP dalam penulisan Wikipedia sekaligus visi dan misi yang harus dipahami oleh seorang kontributor.

    “Kami yakin dengan semangat peserta inkubator ini maka segera terwujud Bahasa Using jadi web di Wikimedia!” ungkap Putri Koneng, yang juga berharap Bahasa Kangean dapat mendunia.

    Alfian juga berpesan agar setiap tulisan yang dibuat bersumber dari data dan referensi yang terpercaya. Ia menegaskan bahwa tulisan untuk Wikipedia tidak boleh menggunakan AI.

    Salah seorang peserta, Nani Asiany Ms (64), mengaku semangatnya langsung meningkat ketika mendengar kata Using.

    “Isun langsung jenggirat, mugo perjuangan Hasan Ali lan budayawan lain terus dadi amal lan dilanjutkan generasi alfa z saiki!” ungkapnya.

    Nani merupakan penulis bahan ajar muatan lokal Bahasa Using di SD. Ia juga tercatat sebagai kontributor Belambangan.com dan kamus kata Wiki.

    Kegiatan Wikilatih diikuti 70 peserta yang dibagi dalam dua hari. Peserta berasal dari berbagai unsur, yakni guru, pegiat literasi, komunitas penulis, serta jurnalis warga.

    Ketua MGMP Bahasa Using, Yeti Chotimah, M.Pd., berharap Wikipedia Bahasa Using dapat segera terwujud. Yeti sendiri telah banyak menerbitkan buku dan dikenal sebagai Google Master.

    “Semoga web Using Wikipedia jadi kado terindah buat hari jadi Banyuwangi ke 255 tanggal 18 Desember 2026 momentum Perang Puputan Bayu!” tutur Yeti. (Aguk Wahyu Nuryadi)

  • Festival Literasi Using 2026 Jadi Ajang Pelajar Banyuwangi Kenali Bahasa dan Budaya Daerah

    Festival Literasi Using 2026 Jadi Ajang Pelajar Banyuwangi Kenali Bahasa dan Budaya Daerah

    BANYUWANGI – Upaya menjaga Bahasa Using sebagai bagian dari identitas budaya Banyuwangi kembali dilakukan melalui Festival Literasi Using 2026.

    Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi ambil bagian dalam ajang tahunan yang digelar Sabtu (5/9) di SDN Kepatihan.

    Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal sekaligus menggunakan bahasa daerah melalui berbagai bentuk perlombaan.

    Festival tahun ini diikuti pelajar jenjang SD dan SMP. Sejumlah cabang yang dilombakan antara lain Geguritan atau baca puisi, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Ketua Panitia Festival Literasi Using 2026, Yeti Chotimah, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan Bahasa Using kepada pelajar melalui kegiatan yang bersifat kreatif.

    “Anak-anak tidak hanya kita ajak untuk belajar Bahasa Using, tetapi juga menggunakannya secara langsung melalui berbagai kegiatan. Harapannya, mereka semakin mengenal dan terbiasa menggunakan bahasa daerahnya,” kata Yeti.

    Menurut Yeti, keberagaman cabang yang dilombakan memberikan pilihan bagi pelajar untuk mengenal Bahasa Using melalui kemampuan yang berbeda-beda.

    Ada yang mengekspresikannya melalui puisi dan tembang, ada pula yang menggunakan bahasa tersebut dalam pidato, cerita, dongeng, maupun tulisan.

    Salah satu yang menarik perhatian adalah cabang Geguritan tingkat SMP. Peserta tidak hanya dituntut mampu membawakan puisi dengan baik, tetapi juga diperkenalkan pada karya-karya yang menggunakan Bahasa Using.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Panitia menyediakan dua buku sebagai pilihan materi yang dapat dibawakan peserta, yakni Antologi Gotong Royong karya Komunitas Gotong Royong 45 dan Sanga Puluh Sanga (99) Basa Using karya Ir. Zaenuri, seorang penyair yang telah menulis beberapa buku berbahasa Using.

    Antusiasme terhadap cabang Geguritan juga cukup tinggi. Jumlah peserta tingkat SMP dibatasi sebanyak 45 orang karena peminatnya pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya cukup banyak.

    Dalam penilaian, juri memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan peserta dalam memahami dan menyampaikan isi puisi.

    Maulana Affandi Juri Festival Literasi Using

    Penilaian cabang Geguritan dilakukan oleh juri dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam.

    Mereka di antaranya Maulana Affandi, mahasiswa Pascasarjana Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Nuhbatul Fakhiroh yang merupakan juara Liga Puisi, Nur Kamilasari yang merupakan praktisi puisi, Ulvatus Soviyah anggota MGMP, serta Ahmad Istiqlal yang menjadi juara Festival Literasi Using pada tahun sebelumnya.

    Tidak hanya Geguritan, cabang lainnya juga memberikan kesempatan kepada pelajar untuk menggunakan Bahasa Using dalam bentuk yang berbeda.

    Ada peserta yang menyampaikan pidato, menembang, menulis, mendongeng, hingga membaca lontar.

    Beragamnya bentuk perlombaan membuat pelajar tidak hanya berhadapan dengan Bahasa Using sebagai materi pembelajaran.

    Mereka mendapat kesempatan untuk menggunakan bahasa tersebut melalui karya sastra, seni, dan penampilan di hadapan publik.

    Bagi budayawan, pertemuan pelajar dengan karya-karya berbahasa Using menjadi bagian yang tidak kalah penting dari kompetisi itu sendiri.

    Sebab, proses mengenalkan bahasa daerah tidak berhenti pada kemampuan berbicara, tetapi juga bagaimana generasi muda mengenal karya yang lahir dari bahasa tersebut.

    Agus Wahyu Nuryadi alias Bung Aguk, budayawan dari Sanggar Merah Putih 45, menilai penggunaan karya sastra berbahasa Using dalam perlombaan menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengenalan bahasa daerah kepada pelajar.

    Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman tampil di hadapan publik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan bahasa dan karya lokal.

    “Yang menarik dari kegiatan seperti ini adalah anak-anak tidak hanya belajar tampil. Mereka juga berhadapan langsung dengan karya dalam Bahasa Using. Dari situ mereka bisa mengenal kosakata, cara pengucapan, sekaligus memahami pesan yang ada dalam karya,” ujar Bung Aguk.

    Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan pelajar dengan bahasa dan karya lokal perlu terus dilakukan agar proses regenerasi tidak berhenti pada pengenalan budaya, tetapi berlanjut pada kemampuan untuk menggunakannya.

    Ia menilai pengalaman menggunakan Bahasa Using secara langsung dapat membantu pelajar lebih akrab dengan bahasa daerah, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan berkesenian.

  • Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    BANYUWANGI – Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi mengikuti Festival Literasi Using 2026 yang digelar di SDN Kepatihan, Banyuwangi, Sabtu (5/9).

    Kegiatan yang dihelat setiap tahun ini menjadi salah satu agenda budaya dan literasi terbesar di Banyuwangi, dengan mempertemukan pelajar dalam berbagai kompetisi yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Using.

    Festival yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

    Bupati Banyuwangi di Festival Literasi Using 2026

    Kehadiran Bupati Banyuwangi menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap antusiasme peserta didik yang mengikuti festival tersebut setiap tahunnya.

    Tahun ini, Festival Literasi Using mempertandingkan sejumlah cabang, yakni Geguritan, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Antusiasme pelajar terlihat salah satunya pada cabang Geguritan (baca puisi) tingkat SMP.

    Jumlah peserta pada cabang ini dibatasi sebanyak 45 orang. Pembatasan tersebut dilakukan karena pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peminat cabang ini sangat tinggi.

    Dalam penilaian Geguritan, peserta dinilai dari sejumlah aspek kebahasaan, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan menyampaikan makna dari teks yang dibawakan.

    Salah satu juri pada cabang tersebut adalah Maulana Affandi, mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Menurut Maulana, kemampuan peserta dalam membawakan Geguritan tidak hanya dilihat dari penguasaan teks, tetapi juga dari ketepatan penggunaan bahasa saat menyampaikan setiap bait.

    Pengucapan, intonasi, dan tekanan kata menjadi bagian penting agar isi Geguritan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

    “Selain interpretasi, bahasa juga menjadi fondasi utama dalam membaca Geguritan. Peserta harus mampu menjaga ketepatan pengucapan sekaligus memahami bagaimana sebuah kata disampaikan. Selain itu, intonasi dan tekanan juga ikut menentukan apakah pesan dalam teks bisa sampai kepada pendengar,” ujar Maulana.

    Menurut Maulana, kemampuan menggunakan bahasa daerah akan lebih mudah berkembang ketika peserta didik tidak hanya mempelajarinya secara teori, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Festival Literasi Using menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus melestarikannya melalui karya sastra.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa bahasa Using tidak hanya berkaitan dengan kosakata, tetapi juga memiliki sistem, konteks penggunaan, serta keterkaitan dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

    Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang ia dapatkan selama menempuh studi di UMM.

    “Kalau kita berbicara tentang bahasa Using, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai kumpulan kosakata. Ada sistem, ada cara penggunaan, ada konteks, dan ada identitas masyarakat yang melekat di dalamnya. Karena itu, ketika anak-anak menggunakan bahasa Using dalam karya sastra, sebenarnya mereka sedang berinteraksi dengan kekayaan bahasa dan budaya daerahnya,” jelasnya.

    Hadirnya Maulana sebagai juri turut membawa unsur akademik UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini.

    Pengetahuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan bahasa di Pascasarjana UMM diterapkan dalam kegiatan yang secara langsung melibatkan pelajar dan penggunaan bahasa Using.

    Bagi Maulana, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan praktik kebahasaan di tengah masyarakat.

    Ia berharap pelajar tidak memandang bahasa Using hanya sebagai materi yang dipelajari ketika mengikuti perlombaan.

    “Bahasa akan tetap hidup ketika digunakan. Anak-anak harus merasa bahwa bahasa Using bukan hanya bahasa yang dipelajari untuk mengikuti lomba, tetapi bahasa yang memiliki nilai dan bisa digunakan untuk berkarya,” katanya.

    Ia juga menilai rasa bangga terhadap bahasa daerah perlu ditanamkan sejak dini. Keberanian pelajar menggunakan bahasa Using di ruang publik menjadi salah satu bentuk sederhana dalam menjaga keberadaan bahasa daerah.

    “Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan. Ketika anak-anak berani tampil menggunakan bahasa Using di depan orang lain, itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah,” ujarnya.

    Keterlibatan Maulana sebagai mahasiswa Pascasarjana UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini juga menjadi bagian dari keterlibatan akademisi dalam kegiatan kebahasaan dan budaya di masyarakat.

    Hal tersebut sejalan dengan perhatian Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terhadap keberlanjutan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan generasi muda.

    Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Assoc. Prof. Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., menilai pelestarian budaya Using perlu terus diperbarui agar mampu menarik minat generasi Z dan generasi muda untuk mengenal, memahami, menguasai, sekaligus mencintai budaya daerahnya.

    Menurutnya, pembaruan dapat dilakukan dengan mengemas kegiatan seni dan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

    Penggunaan bahasa Using dalam konteks yang lebih kekinian juga dapat menjadi salah satu cara agar bahasa dan budaya daerah tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

    “Penting ada upaya-upaya terbarukan untuk budaya Osing agar bisa menumbuhkan keinginan generasi Z atau generasi muda lainnya untuk lebih mengenal, memahami, menguasai, dan mencintai budaya Osing sebagai upaya pemertahanan dan pelestariannya. Misalnya, bagaimana menata festival seni baca Aljin yang menarik untuk generasi muda Banyuwangi atau penggunaan bahasa Osing yang kekinian,” tuturnya.

    Ia menambahkan, pelestarian budaya juga tidak dapat dilepaskan dari peran pendidik.

    Guru maupun pendidik diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan mengajar, tetapi juga mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan peserta didik dan kebudayaan di sekitarnya.

    “Terus terang, kita sendiri sebagai pendidik kadang hanya suka mengajar, bukan mengajarkan kehidupan,” tutupnya.