Tag: biografi sastrawan

  • Biografi Ahda Imran, Karya, dan Prestasinya dalam Dunia Sastra

    Biografi Ahda Imran, Karya, dan Prestasinya dalam Dunia Sastra

    Ahda Imran adalah seorang penyair dan esais yang lahir di Payakumbuh pada 10 Agustus tahun 1966, kemudian besar dan berkarya di Cimahi, Jawa Barat.

    Selain dikenal sebagai penyair, Ahda Imran juga menulis beberapa naskah drama, salah satunya adalah untuk seri teater Monolog 3 Perempuan.

    Dalam karya tersebut, Ahda Imran berkolaborasi dengan Gunawan Maryanto dan Djenar Maesa Ayu.

    Kemudian pada tahun 2013, ia menulis naskah untuk Monolog Inggit Garnasih yang dimainkan oleh Happy Salma dan disutradarai oleh Wawan Sofwan.

    Sepanjang kariernya, ia telah melahirkan banyak karya juga mencetak berbagai penghargaan, salah satunya adalah Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kategori kumpulan puisi yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2022.

    Selain itu, ia juga telah menulis banyak puisi yang sering dimuat dalam Harian Kompas, salah satunya puisi berjudul “Sajak Tan Malaka Kepada Harry A Poeze (2012)”.

    Berikut ini adalah beberapa karya dan prestasi yang telah diraih oleh Ahda Imran sepanjang kariernya.

    Karya Puisi Ahda Imran

    • Sajak Tan Malaka Kepada Harry A Poeze (2012)
    • Hujan Yang Berwarna Hitam (2013)
    • Dari Bahasa kepada Puisi (2013); puisi untuk Afrizal Malna
    • Hikayat Sebuah Meja (2013); puisi untuk Hanafi
    • Setenang Buddha (2013)
    • Kalajengking (2013)
    • Hikayat Tangan (2013)
    • Dalam Kapal Nuh (2013)
    • Hikayat Aradea (2013)
    • 24 Jam Berikutnya dalam Kepalamu (2013)
    • Dunia Perkawinan (buku puisi, 1999)
    • Penunggang Kuda Negeri Malam (buku puisi, 2008)
    • Rusa Berbulu Merah (buku puisi, 2014)
    • Ludah Orang Suci (buku puisi, 2021)

    Antologi Puisi Ahda Imran

    • 70 Puisi: Penunggang Kuda Negeri Malam (2008); diterbitkan oleh Akar Indonesia
    • Rusa Berbulu Merah: Kumpulan Puisi 2008-2013 (2014); diterbitkan oleh Pustaka Jaya

    Kumpulan Cerita Ahda Imran

    • 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur! (2010); bersama Zaki Yamari; diterbitkan oleh Pikiran Rakyat
      Naskah drama Ahda Imran
    • Monolog Inggit Garnasih (2013); dipentaskan oleh Happy Salma, disutradarai oleh Wawan Sofwan
    • Monolog 3 Perempuan (2014); bersama Gunawan Maryanto dan Djenar Maesa Ayu
    • Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah (buku naskah drama)
    • Sjahrir (buku naskah drama)
    • Amir Hamzah; Nyanyian Sunyi Revolusi (buku naskah drama)
    • The Sin Nio, Sepinya Sepi (buku naskah drama)
    • Annelis Mallema (buku naskah drama)
    • Kacamata Sjafruddin (buku naskah drama)

    Karya Nonfiksi Ahda Imran

    • Di Atas Viaduct (2009); diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama
    • 5 Dasa Warsa Irawati Menari (2011); bersama Miftahul Malik dan Irawati Durban Ardjo

    Penghargaan Ahda Imran

    • Tahun 2014, antologi puisi Ahda Imran berjudul Rusa Berbulu Merah masuk dalam daftar lima besar nominasi ajang Kusala Sastra Khatulistiwa.
    • Tahun 2022 ia masuk dalam nominasi Penulis Skenario Adaptasi Terbaik bersama Kamila Andini dalam film Nana di Festival Film Indonesia 2022.
    • Buku puisi Rusa Berbulu Merah menjadi buku Rekomendasi Majalah Tempo (2015)
    • Buku puisi Ludah Orang Suci menjadi buku Rekomendasi Majalah Tempo (2021)
    • Buku puisi Ludah Orang Suci menerima Penghargaan Buku Puisi Kemendikbud (2022)
    • Pemenang Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta (2022) untuk naskah Mesin Jemaat Rawayan Award.
    • Novel biografisnya “Jais Darga Namaku” diangkat ke layar lebar dengan judul  Before, Now & Then (Nana) dan terpilih mengikut Berlinale Festival 2022 di Berlin.
  • Biografi D. Zawawi Imron Lengkap dengan Karyanya

    Biografi D. Zawawi Imron Lengkap dengan Karyanya

    Biografi D. Zawawi Imron

    Zawawi Imron lahir di desa Batang-batang 1 Januari 1945 di ujung timur pulau Madura.

    Dia mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 1982.

    Setelah tamat Sekolah Rakyat (SR, setara dengan sekolah dasar) dia melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep.

    Kumpulan sajaknya Bulan Tertusuk Ilallang mengilhami Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film layar perak Bulan Tertusuk Ilalang.

    Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985.

    Pada 1990 kumpulan sajak Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata terpilih menjadi buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

    Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada 1995.

    Buku puisinya yang lain adalah Berlayar di Pamor Badik (1994), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Madura, Akulah Darahmu (1999), dan Kujilat Manis Empedu (2003).

    Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria.

    Zawawi menjadi juara pertama menulis puisi di AN-teve.

    Pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunei Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunei Darussalam (Maret 2002).

    Penyair yang tidak tamat Sekolah Rakyat ini memenangkan hadiah utama penulisan puisi ANTV (1995).

    Bersama Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, dan Ayu Utami, Zawawi pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002).

    Karya-Karya D. Zawawi Imron

    • Semerbak Mayang (1977)
    • Madura Akulah Lautmu (1978)
    • Celurit Emas (1980)
    • Bulan Tertusuk Ilalang (1982; yang mengilhami film Garin Nugroho berjudul sama)
    • Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985)
    • Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996)
    • Lautmu Tak Habis Gelombang (1996)
    • Madura Akulah Darahmu (1999).
  • Biografi Joko Pinurbo, Sang Penyair Indonesia

    Biografi Joko Pinurbo, Sang Penyair Indonesia

    Biografi Joko Pinurbo
    • Nama : Joko Pinurbo
    • TTL    : Sukabumi, 11 Mei 1962
    • Istri    : Nurnaeni Amperawati Firmina
    • Anak  : Paskasius Wahyu Wibisono, Maria Azalea Anggraeni

    Biografi Singkat Joko Pinurbo

    Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Ia menyelesaikan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Sanata Darma Yogyakarta pada tahun 1987 dan kemudian menjadi staf pengajar di almamaternya.

    Sejak tahun 1979 Joko Pinurbo sudah tertarik dengan puisi dan atau sajak-sajak yang dibuat oleh para sastrawan terkenal Indonesia. Namun uniknya, selama 20 tahun ia mengamati puisi/sajak, selama itu pula ia belum membuat satu puisi pun.

    Hingga akhirnya pada tahun 1999 barulah ia menghasilkan puisi dan membukukan dalam suatu tema Celana, yang menurut pengakuannya belum pernah ada penyair sebelumnya memakai kata tersebut dalam karya puisi.

    Sejak tahun 1999, sudah 10 buku kumpulan puisi diluncurkan, diantaranya Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005).

    Beberapa buku kumpulan puisinya memperoleh hadiah Sastra Lontar 2001, Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi) 2001, penghargaan Sastra Pusat Bahasa Depdiknas 2002, Tokoh Sastra PIlihan Tempo 2001, Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005.

    Dan yang lebih fenomenal lagi, bukunya sangat laris. Buku kumpulan puisi Kepada Cium (terbit tahun 2007), hanya dalam jangka waktu satu bulan sudah terjual 1000 buku. Suatu jumlah yang luar biasa untuk buku puisi.

    Pendidikan Joko Pinurbo

    • SD Mardi Yuana Warung Kiara, Sukabumi (1973)
    • SMP Sanjaya Babadan, Sleman (1976)
    • Seminari St Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang (1981)
    • IKIP Sanata Darma (sekarang Universitas Sanata Dharma) Yogyakarta (1987)

    Karya Joko Pinurbo

    • Celana (1999)
    • Di Bawah Kibaran Sarung (2001)
    • Pacarkecilku (2002)
    • Trouser Doll merupakan terjemahan karyanya berjudul Celana ke dalam bahasa Inggris (2002)
    • Telepon Genggam (2003)
    • Kekasihku (2004)
    • Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005)
    • Kepada Cium (2007)
    • Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007)
    • Haduh, aku di-follow (2013)
    • Surat Kopi (2014)
    • Malam ini aku akan tidur di matamu (2016)
    • Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016)

    Penghargaan Joko Pinurbo

    • Hadiah Sastra Lontar, 2001,
    • Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi), 2001,
    • Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Depdiknas, 2002,
    • Tokoh Sastra PIlihan Tempo, 2001,
    • Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005
  • Biografi Armijn Pane Beserta Karya-Karyanya

    Biografi Armijn Pane Beserta Karya-Karyanya

    Armijn Pane lahir di Muara Sipongi, Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada tanggal 18 Agustus 1908. Ia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara.

    Ayahnya Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang seniman daerah yang telah berhasil membukukan sebuah cerita daerah berjudul Tolbok Haleoan.

    Armijn Pane adalah salah satu Sastrawan Senior di Indonesia dengan salah karya sastranya yang paling terkenal ialah novel Belenggu.

    Pada tahun 1933 bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru.

    Misinya adalah mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra.

    Sebagai pelajar di Solo, ia bergabung dengan organisasi pemuda nasional yakni Indonesia Muda, namun politik tampaknya kurang menarik minatnya daripada kesusasteraan.

    Saat itu ia memulai karirnya sebagai penulis dengan menerbitkan beberapa puisi nasionalis, dan dua tahun kemudian menjadi salah seorang pendiri majalah Pujangga Baru.

    Armijn Pane pernah menjadi wartawan surat kabar Soeara Oemoem di Surabaya (1932), mingguan Penindjauan (1934), surat kabar Bintang Timoer (1953), dan menjadi wartawan lepas.

    Ia pun pernah menjadi guru di Taman Siswa di berbagai kota di Jawa Timur. Menjelang kedatangan tentara Jepang, ia duduk sebagai redaktur Balai Pustaka.

    Pada zaman Jepang, Armijn bersama kakaknya Sanusi Pane, bekerja di Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) dan menjadi kepala bagian Kesusasteraan Indonesia Modern.

    Sesudah kemerdekaan, ia aktif dalam bidang organisasi kebudayaan.

    Ia pun aktif dalam kongres-kongres kebudayaan dan pernah menjadi anggota pengurus harian Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) (1950-1955).

    Tahun 1969 Armijn Pane menerima Anugerah Seni dari pemerintah RI karena karya dan jasanya dalam bidang sastra. Pada awal Fevruari 1970, Tepatnya pada tanggal 16 Februari 1970, beliau meninggal.

    Karya Armijn Pane

    • Puisi Gamelan Djiwa. Jakarta: Bagian Bahasa Djawa. Kebudayaan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. 1960
    • Djiwa Berdjiwa, Jakarta: Balai Pustaka. 1939.
    • Kisah Antara Manusia. 1952
    • Belenggu, Jakarta: Dian Rakyat. Cet. I 1940, IV 1954, Cet. IX 1977, Cet. XIV 1991
    • Djinak-Djinak Merpati. Jakarta: Balai Pustaka, Cet. I 1940
    • Kisah Antara Manusia. Jakarta; Balai Pustaka, Cet I 1953, II 1979
    • Ratna. 1943 (menyadur naskah Hendrik Ibsen, Nora)
    • Antara Bumi dan Langit”. 1951. Dalam Pedoman, 27 Februari 1951.
    • (Belanda) ort Oversicht van de Moderne Indonesische Literatuur (1949). Sebuah tinjauan tentang sastra Indonesia modern
    • Sandjak-sandjak Muda Mr Muhammad Yamin. 1954. sebuah bahasan tentang sajak-sajak Muhammad Yamin
    • Mencari Sendi Baru Tatabahasa Indonesia. 1950. Studinya tentang gramatika bahasa Indonesia
    • Jalan Sejarah Dunia. 1952
    • Tiongkok Jaman Baru, Sejarahnya: Abad ke-19 – sekarang. 1953. sebuah terjemahan
    • Membangun Hari Kedua. 1956. Terjemahan novel Ilya Ehrenburg.
    • Habis Gelap Terbitlah Terang. 1968. Menerjemahkan surat-surat Raden Ajeng Kartini
  • Biografi Merari Siregar Sastrawan Indonesia

    Biografi Merari Siregar Sastrawan Indonesia

    Biografi Merari Siregar

    Merari Siregar lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada 13 Juli 1896. Semasa kecil, Merari Siregar berada di Sipirok.

    OIeh karena itu, sikap, perbuatan, dan jiwa Merari Siregar sangat dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat Sipirok.

    Ia menjumpai kepincangan-kepincangan khususnya mengenai adat, misalnya, kawin paksa yang terdapat dalam masyarakat lingkungannya.

    Setelah dewasa dan menjadi orang terpelajar, Merari Siregar melihat keadaan suku bangsanya yang mempunyai pola berpikir yang tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

    Hati kecilnya ingin mengubah sikap orang-orang yang berpandangan kurang baik khususnya orang-orang di daerah Sipirok.

    Pada tahun 1923, ia menenyam bangku pendidikan di sekolah swasta yang didirikan oleh vereeniging tot van Oost en West, yang pada masa itu merupakan organisasi yang aktif memperakiekkan politik etis Belanda.

    Karyanya yang paling populer adalah Azab dan sengsara diterbitkan pada tahun 1920.

    Prosa berbentuk roman itu muncul saat pemerintah kolonial Belanda sedang gencar-gencarnya melaksanakan politik etis yang ditandai dengan berdirinya Conunissie Voor Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat).

    Karya Karya Merari Siregar

    Novel

    Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet. 1 tahun 1920,Cet.4 1965.
    Binasa Karena Gadis Priangan. Jakarta: Balai Pustaka 1931.
    Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi. Jakarta: Balai Pustaka 1924.
    Cinta dan Hawa Nafsu. Jakarta: t.th.

    Saduran

    Si Jamin dan si Johan. Jakarta: Balai Pustaka 1918.

  • Biografi Andrea Hirata, Penulis Novel Laskar Pelangi

    Biografi Andrea Hirata, Penulis Novel Laskar Pelangi

    Nama Lengkap : Andrea Hirata
    Alias : Andrea Hirata Seman Said Harun
    Lahir : Gantung, Belitung Timur, Bangka Belitung, 24 Oktober 1967
    Profesi : Sastrawan
    Agama : Islam
    Ayah : Seman Said Harunayah
    Ibu : NA Masturah

    Biografi Andrea Hirata

    Andrea Hirata adalah penulis Novel Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang novelis yang telah merevolusi sastra Indonesia dan karyanya diangkat ke layar lebar teater musikal.

    Salah satu buku karya Andrea Hirata adalah buku Laskar Pelangi yang sangat populer dan menjadi best seller di beberapa toko buku.

    Andrea Hirata terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun di Gantung, Belitung Timur, Bangka Belitung, 24 Oktober 1982.

    Ia berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.

    Saat masih kecil, orang tuanya mengubah namanya sebanyak tujuh kali. Nama ketujuhnya adalah Andrea, nama Hirata diberikan oleh ibunya.

    Hirata memulai pendidikan tinggi dengan gelar di bidang ekonomi dari Universitas Indonesia. Meskipun studi mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains-fisika, kimia, biologi, astronomi dan sastra.

    Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa di Himalaya.

    Setelah menerima beasiswa dari Uni Eropa, dia mengambil program master di Eropa, pertama di Universitas Paris, lalu di Universitas Sheffield Hallam di Inggris; tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari universitas tersebut dan ia lulus cum laude.

    Tesis itu telah diadaptasikan ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah.

    Hirata merilis buku Laskar Pelangi pada tahun 2005. Novel ini ditulis dalam waktu enam bulan berdasarkan pengalaman masa kecilnya di Belitung.

    Ia kemudian menggambarkannya sebagai “sebuah ironi tentang kurangnya akses pendidikan bagi anak-anak di salah satu pulau terkaya di dunia.”

    Novel ini terjual lima juta eksemplar, dengan edisi bajakan terjual 15 juta lebih. Novel ini menghasilkan tetralogi Laskar Pelangi, yakni Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.

    Di tahun 2022 kemarin, ada satu buku terbaru Andrea Hirata yang berjudul Ayah dan Sirkus Pohon.

    Pendidikan Andrea Hirata

    • S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
    • S2 Universite de Paris Sorbonne (Perancis)
    • Sheffield Hallam University (Inggris).

    Penghargaan Andrea Hirata

    Berikut ini adalah beberapa penghargaan yang telah diraih oleh Andrea Hirata:

    • Khatulistiwa Literaly Award (KLA), 2007
    • Aisyiyah Award,
    • Paramadina Award
    • Netpac Critics Award
    • Pemenang BuchAwards Jerman 2013
    • Pemenang Festival Buku New York 2013 (general fiction category)
    • Honorary Doctor of Letters (Hon DLitt) dari Universitas Warwick 2015

    Novel Andrea Hirata

    Berikut ini adalah beberapa novel karya Andrea Hirata:

    • Buku Novel Laskar Pelangi (2005)
    • Buku Novel Sang Pemimpi (2006)
    • Novel Edensor (2007)
    • Novel Maryamah Karpov
    • Novel Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (2010)
    • Novel Sebelas Patriot (2011)
    • Novel Laskar Pelangi Song Book (2012)
    • Novel Ayah (2015)
    • Novel Guru Aini (2020)
    • Novel Ayah dan Sirkus Pohon (2022)
  • Biografi Kahlil Gibran: Kisah Hidup Sang Penyair dan Filsuf Dunia

    Biografi Kahlil Gibran: Kisah Hidup Sang Penyair dan Filsuf Dunia

    Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir.

    Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.

    Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat.

    Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.

    Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika.

    Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.

    Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk.

    Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

    Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya.

    Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

    Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun.

    Karya pertamanya, “Spirits Rebellious” ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya.

    Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

    Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

    Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC.

    Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya.

    Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

    Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan’s Gowns.

    Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.

    Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston.

    Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

    Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

    Sebelum tahun 1912 “Broken Wings” telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya.

    Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.

    Pengaruh “Broken Wings” terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama “Broken Wings” ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

    Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya.

    Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.

    Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

    Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”. Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam “The Madman”.

    Setelah “The Madman”, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah “Twenty Drawing”, 1919; “The Forerunne”, 1920; dan “Sang Nabi” pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

    Sebelum terbitnya “Sang Nabi”, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia.

    Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya.

    Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran.

    Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

    Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis).

    Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum.

    Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca “Sang Nabi”.

    Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.

    Gibran menyelesaikan “Sand and Foam” tahun 1926, dan “Jesus the Son of Man” pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, “Lazarus” pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan “The Earth Gods” pada tahun 1931.

    Karyanya yang lain “The Wanderer”, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain “The Garden of the Propeth”.

    Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village.

    Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

    Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

    Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku.”

  • Biografi Marah Roesli, Penulis Novel Siti Nurbaya

    Biografi Marah Roesli, Penulis Novel Siti Nurbaya

    Nama : Marah Rusli bin Abu Bakar
    TTL : Padang, 07 Agustus 1889
    Meninggal : 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.
    Ayah : Abu Bakar, seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran

    Biografi Marah Roesli

    Marah Roesli lahir di keluarga yang terpandang. Ayahnya bekerja sebagai Demang.

    Sedangkan ibunya berasal dari Jawa dan keturunan Sentot Alibasyah, salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro.

    Marah Rusli sekolah di Padang yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar pada saat itu.

    Setelah lulus dari bangku Sekolah Dasar, ia melanjutkan ke sekolah Raja (Kweek School) di Bukit Tinggi dan lulus tahun 1910.

    Kemudian, Roesli kembali melanjutkan pendidikannya ke Vee Arstsen School (sekolah dokter hewan) di Bogor dan lulus tahun 1915.

    Setelah tamat, ia ditempatkan di Sumbawa Besar sebagai Ajung Dokter Hewan. Hingga akhirnya pada tahun 1916 ia menjadi Kepala Peternakan.

    Marah Rusli menikah dengan gadis keturunan sunda kelahiran Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1911 dan mempunyai 3 orang anak, dua laki-laki, satu perempuan.

    Sebenarnya hubungan Roesli dengan istrinya tidak mendapat restu orang tua, namun kegigihannya atas dasar cinta dapat meyakinkan keluarga bahwa pilihannya adalah yang terbaik.

    Roesli mencintai dunia sastra sejak kecil. Ia amat suka mendengarkan cerita-cerita sastra dari tukang kaba (Pencerita yang keliling di Sumatera Barat untuk menjual ceritanya).

    Dan hobinya membaca buku sastra menjadikan Roesli semakin tertarik pada dunia sastra.

    Hingga akhirnya Marah Roesli berhasil menulis roman yang berjudul ‘Siti Nurbaya’.

    Dalam karyanya ini, ia ingin mengutarakan landasan pemikirannya terhadap perjuangan rakyat dan emansipasi wanita.

    Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Roesli dinobatkan sebagai Bapak Roman Modern Indonesia oleh H.B Jasmin.

    Sebab, sebelum roman menjadi populer, kebanyakan karya sastra pada saat itu berbentuk hikayat.

    Setelah cukup banyak berkiprah di dunia sastra, Marah Roesli meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.

    Karya-Karya Marah Roesli

    • Siti Nurbaya (1922)
    • La Hami (1924)
    • Anak dan Kemenakan (1956)
    • Memang Jodoh (otobiografi)
    • Gadis Yang Malang terjemahan novel karya Charles Dickens (1922)

  • Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Indonesia Angkatan 45

    Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Indonesia Angkatan 45

    Nama : Abdullah Idrus
    TTL    : Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921
    Meninggal di Padang, Sumatera Barat, 18 Mei 1979 pada umur 57 tahun)
    Istri   : Ratna Suri (menikah pada tahun 1946
    Anak : Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riyadi Idrus, Rizal Idrus, Damayanti Idrus, Lanita Idrus, dan Taufik Idrus.

    Biografi Abdullah Idrus

    Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Ia rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa di perpustakaan sekolah.

    Dengan banyaknya buku bacaan yang dibaca, Ia pun menghasilkan cerpen kala itu.

    Karena minat yang ama tinggi pada dunia sastra, akhirnya ia memilih Balai Pustaka sebagai tempat bekerja.

    Idrus berharap dapat menyalurkan minat sastranya di tempat tersebut.

    Hingga pada akhirnya ia bisa membaca dan mendalami karya-karya sastra, bahkan berkenalan dengan para sastrawan terkenal seperti H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Noer Sutan Iskandar, Anas Makruf, dan lain-lain.

    Tidak hanya mencintai dunia sastra, Idrus juga suka membaca buku-buku ilmiah sampai akhirnya ia berhasil menulis buku Teknik Mengarang Cerpen dan International Understanding Through the Study of Foreign Literature.

    Idrus memiliki kemampuan 3 bahasa Asing, yaitu Belanda, Inggris, dan Jerman.

    Hal itulah yang membuatnya semakin mahir untuk menerjemahkan buku-buku asing dan menulisnya kembali dalam Bahasa Indonesia.

    Karya-Karya Abdullah Idrus

    • Aki
    • Corat-Coret di Bawah Tanah
    • Dengan Mata Terbuka
    • Hati Nurani Manusia
    • Hikayat Petualang Lima
    • Hikayat Putri Penelope
    • Perempuan dan Kebangsaan
      Surabaya
    • Ana
    • Buta
    • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
    • Dokter Bisma
    • Jibaku Aceh
    • Kejahatan Membalas Dendam
    • Keluarga Surono
    • Acoka
    • Cerita Wanita Termulia
    • Dari Penciptaan Kedua
    • Dua Episode Masa Kecil
    • Ibu yang Kukenang
    • Keju
    • Kereta Api Baja
    • Perkenalan dengan Anton Chekov
    • Perkenalan dengan Guy de Maupassant
    • Perkenalan dengan Jaroslov Hask
    • Perkenalan dengan Luigi Pirandello
    • Roti Kita Sehari-hari
  • Biografi Asrul Sani, Sastrawan dan Sutradara Top Indonesia

    Biografi Asrul Sani, Sastrawan dan Sutradara Top Indonesia

    Biografi Asrul Sani

    Asrul Sani adalah seorang Sastrawan yang lahir di Rao, Sumatera Bara pada 10 Juni tahun 1926.  Asrul Sani merupakan anak dari Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Padang Nunang Rao Mapat Tunggul Mapat Cacang, kepala adat Minangkabau di daerahnya.

    Ibunya bernama Nuraini binti Itam Nasution, adalah seorang keturunan Mandailing.

    Lahir : Rao, Pasaman, 10 Juni 1927
    Wafat : Jakarta. 11 Januari 2004, Pukul 22.15 WIB
    Istri : (1) Siti Nurani dan (2) Mutiara Sarumpaet
    Anak : Tiga putra, tiga putri, enam cucu

    Pendidikan:

    • SD di Rao, Sumatera Barat
    • SLTP hingga SLTA di Jakarta
    • Sekolah Seni Drama di Negeri Belanda tahun 1951-1952
    • Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Indonesia (IPB)
    • Dramaturgi dan sinematografi di University of Southern California,Amerika Serikat tahun 1955-1957

    Karier Politik:

    • Anggota DPR GR 1966-1971 mewakili Partai Nahdhatul Ulama
    • Anggota DPR RI 1972-1982 mewakili PPP

    Organisasi

    • Pendiri “Gelanggang Seniman Merdeka”
    • Pendiri Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)

    Kegiatan Pergerakan:

    • Lasjkaer Rakjat Djakarta, Tentara Pelajar di Bogo

    Kegiatan Penerbitan:

    • Menerbitkan “Suara Bogor”
    • Redaktur majalah kebudayaan “Gema Suasana”
    • Anggota redaksi “Gelanggang”
    • Ruang kebudayaan Majalah’ Siasat”
    • Wartawan Majalah “Zenith”

    Penghargaan dan prestasi:

    • Tokoh Angkatan 45
    • Bintang Mahaputra Utama, tahun 2000
    • Enam buah Piala Citra pada Festifal Film Indonesia (FFI)
    • Film Terbaik pada Festival Film Asia tahun 1970

    Karya

    • Puisi “Tiga Menguak Takdir” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin
    • Puisi Surat dari Ibu
    • Anak Laut
    • Tiga Menguak Takdir
    • Film “Titian Serambut Dibelah Tudjuh
    • Film “Apa yang Kau Cari Palupi”
    • Film “Monumen”
    • Film “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”
    • “Naga Bonar”
    • “Pagar Kawat Berduri”
    • “Salah Asuhan”
    • “Para Perintis Kemerdekaan”
    • “Kemelut Hidup”