Tag: biografi sastrawan

  • Biografi Suwarsih Djojopuspito, Penulis Novel dengan Tiga Bahasa

    Biografi Suwarsih Djojopuspito, Penulis Novel dengan Tiga Bahasa

    Biografi Singkat Suwarsih Djojopuspito

    Nama penulis yang satu ini mungkin masih cukup asing, Suwarsih Djojopuspito adalah penulis kawakan yang berhasil menciptakan karya novel dalam tiga bahasa yakni Sunda, Belanda, dan Indonesia.

    Penulis wanita ini lahir di Cibatok, Bogor, 21 April 1912 dan meninggal di Yogyakarta, 24 Agustus 1977 silam.

    Suwarsih Djojopuspito merupakan salah satu penulis Indonesia yang hidup dan merasakan masa penjajahan di Indonesia pada waktu itu.

    Semasa hidupnya, Suwarsih sudah menghasilkan 9 buku. Karya-karyanya juga diakui di negeri Belanda.

    Salah satu karyanya yang terkenal berjudul Manusia Bebas atau Buiten het Gareel dalam bahasa Belanda.

    Suwarsih Djojopuspito juga terkenal dengan novel Manusia Bebas—novel yang awalnya ditulis dengan bahasa Belanda dan untuk publik intelektual Belanda dan Indonesia— menulis buku Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW yang pertama kali diterbitkan pada 1959, lalu untuk cetakan kedua diterbitkan Pustaka Jaya pada 1976.

    Menilik riwayat pendidikannya yang berbasis kebudayaan Eropa, perjuangan Suwarsih dalam sejarah politik dan pendidikan Indonesia, dan latar sejarah keluarga priyayi Jawa dalam pengalaman hidupnya, buku ini memberikan perspektif yang sangat menarik untuk kita baca saat ini, khususnya dilihat dari perspektif perempuan.

    Suwarsih sempat meminta cendekiawan kondang H. Abdul Malik Amrullah (Hamka) sebagai salah satu pakar sejarah Islam pada masa itu untuk “meminta pemeriksaan dan bandingan”, tapi tak digubris oleh Hamka.

    Secara umum, masih sangat sedikit sekali penulis perempuan yang menulis seorang nabi yang dalam tradisi agama monoteistik ibrahimi laki-laki.

    Kekurangan ini memang akan sangat terasa sekali jika kita melihat dalam tradisi keilmuan di Indonesia.

    Karya Novel Suwarsih Djojopuspito

    Buiten het gareel, De Haan Uitgevery, Utrecht, 1940.
    Tudjuh tjeritera pendek.
    Empat serangkai. Kumpulan tjerita pendek.
    Riwayat hidup Nabi Muhammad s.a.w.
    Marjanah.
    Siluman Karangkobar.
    Hati Wanita.
    Manusia Bebas.
    Maryati.

  • Biografi Chairil Anwar dan Karya-karyanya

    Biografi Chairil Anwar dan Karya-karyanya

    Nama Lengkap : Chairil Anwar
    Tempat Lahir : Medan, Indonesia
    Tanggal Lahir : 26 Juli 1922
    Meninggal : 28 April 1949
    Nama Julukan : Si Binatang Jalang
    Kebangsaan : Indonesia
    Nama Ayah : Toeloes
    Nama Ibu : Saleha

    Biografi Singkat Chairil Anwar

    Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Chairil Anwar merupakan anak tunggal.

    Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat.

    Ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota.

    Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda.

    Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus.

    Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang dapat ditemukan.

    Memasuki usia dewasa, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastra.

    Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil sangat mahir berbahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Jerman.

    Kesehariannya diisi dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama.

    Seperti Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron.

    Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

    Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun.

    Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.

    Chairil pernah jatuh cinta kepada Sri Aryati, rekan kerja di radio Jepang di Jakarta.

    Tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

    Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

    Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku: Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

    Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan.

    Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: “Krawang-Bekasi”, yang disadurnya dari sajak “The Young Dead Soldiers”, karya Archibald MacLeish (1948).

    Dia juga menulis sajak “Persetujuan dengan Bung Karno”, yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.

    Bahkan sajaknya yang berjudul “Aku” dan “Diponegoro” juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan.

    Kata Aku binatang jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka.

    Chairil Anwar yang dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku) adalah pelopor Angkatan ’45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat.

    Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia.

    Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

    Hari meninggalnya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

    Puisi-Puisi Chairil Anwar:

    • Deru Campur Debu (1949)
    • Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
    • Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
    • “Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949”, disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
    • Derai-derai Cemara (1998)
    • Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
    • Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
    • Puisi-puisi Chairil Anwar yang Diterjemahkan dalam Bahasa Asing:
    • “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
    • “Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
    • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
    • “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
    • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
    • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
    • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
    • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
    • Dalam Kumpulan “Poeti Indonezii” (Penyair-Penyair Indonesia). Terjemahan oleh S. Semovolos. Moscow: Inostrannaya Literatura, 1959, № 4, hlm. 3-5; 1960, № 2, hlm. 39-42.
    • Dalam Kumpulan “Golosa Tryoh Tisyach Ostrovov” (Suara Tiga Ribu Pulau). Terjemahan oleh Sergei Severtsev. Moscow, 1963, hlm. 19-38.
    • Dalam kumpulan “Pokoryat Vishinu” (Bertakhta di Atasnya). Puisi penyair Malaysia dan Indonesia dalam terjemahan Victor Pogadaev. Moscow: Klyuch-C, 2009, hlm. 87-89.
    • Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
  • Biografi Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Besar dengan Suara Perlawanan

    Biografi Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Besar dengan Suara Perlawanan

    Biografi Pramoedya Ananta Toer

    Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung.

    Ia meneruskan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

    Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan seringkali ditempatkan di Jakarta di akhir perang kemerdekaan.

    Ia menulis cerpen dan buku sepanjang karir militernya dan dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949.

    Pada 1950-an ia sanggup tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran budaya, dan saat kembalinya ia menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia.

    Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.

    Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, dan pada saat yang sama mulai berhubungan erat dengan para penulis di China.

    Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia.

    Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa mesti dipindahkan ke luar Jawa.

    Perjuangan Pramoedya Ananta Toer

    Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Chinanya.

    Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau-pulau di sebeluah timur Indonesia.

    Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan:

    • 13 Oktober 1965 – Juli 1969,
    • Juli 1969 – 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan,
    • Agustus 1969 – 12 November 1979 di Pulau Buru,
    • November – 21 Desember 1979 di Magelang.

    Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru.

    Namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia.

    Tokoh utamanaya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalamannya sendiri.

    Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

    Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S.

    Tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999.

    Dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

    Pramoedya Ananta Toer Berkarya

    Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri.

    Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).

    Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsasay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat ‘protes’ ke yayasan Ramon Magsasay.

    Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai “jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang” di masa demokrasi terpimpin.

    Tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.

    Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu.

    Katanya, bukan menuntut ‘pencabutan’, tetapi mengingatkan ‘siapa Pramoedya itu’.

    Katanya, banyak orang tidak mengetahui ‘reputasi gelap’ Pram dulu.

    Dan pemberian penghargaan Magsasay dikatakan sebagai suatu kecerobohan.

    Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsasay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.

    Lubis juga mengatakan, HB Yassin pun akan mengembalikan hadiah Magsasay yang pernah diterimanya.

    Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Yassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.

    Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965.

    Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran ‘tidak terpuji’ pada ‘masa paling gelap bagi kreativitas’ pada jaman demokrasi terpimpin.

    Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.

    Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari ‘golongan polemik biasa’ yang boleh diikuti siapa saja.

    Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang ‘kelewat jauh’.

    Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala.

    Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup.

    Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.

    Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya Ananta Toer tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.

    Pramoedya Ananta Toer Mengkritik Pemerintah

    Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini.

    Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang.

    Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa.

    Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.

    Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa.

    Pramoedya Ananta Toer Aktif Menulis

    Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri.

    Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Hadiah Ramon Magsaysay untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995.

    Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra.

    Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors’ Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia.

    Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memenangkan hadiah dari Universitas Michigan.

    Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan sedang dirawat di rumah sakit.

    Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak nsapas dan jantungnya melemah.

    Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya.

    Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya.

    Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara.

    Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

    Penghargaan Pramoedya Ananta Toer

    Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
    Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
    Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people”, dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
    Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
    UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence” dari UNESCO, Perancis, 1996
    Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom” dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
    Chancellor’s distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding”, dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
    Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999
    New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
    Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
    The Norwegian Authors Union, 2004
    Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004

    Karya Pramoedya Ananta Toer

    Bumi Manusia
    Gadis Pantai
    Arus Balik
    Jejak Langkah
    Nyanyi Sunyi Seorang Bisu
    Arok Dedes
    Larasati
    Anak Semua Bangsa
    Bukan Pasar Malam
    Perburuan
    Cerita Dari Blora
    Panggil Aku Kartini Saja
    Rumah Kaca
    Mangir
    Keluarga Gerilya
    Cerina Calon Arang
    Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
    Midah Si Manis Bergigi Emas
    Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer
    Sekali Peristiwa di Banten Selatan
    Subuh
    Tepi di Kali Bekasi
    Cerita Dari Jakarta
    Mereka Yang Dilumpuhkan
    Korupsi
    Gulat di Jakarta
    Jang Sudah Hilang
    Menggelinding
    Kronik Revolusi Indonesia
    Saya Terbakar Amarah Sendirian
    Memoar Oei Tjoe Tat: pembantu Presiden Soekarno