Tag: book

  • Sinopsis Buku My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry Karya Fredrick Backman

    Sinopsis Buku My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry Karya Fredrick Backman

    Buku My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry menceritakan seorang gadis berusia tujuh tahun bernama Elsa yang memiliki hubungan istimewa dengan neneknya yang berusia hampir 78 tahun.

    Sejak Elsa kecil, neneknya gemar mendongeng, membawa cucunya masuk ke dunia imajinasi bernama Miamas.

    Mereka memiliki bahasa rahasia yang hanya dimengerti berdua, membuat cerita mereka tetap menjadi milik mereka saja.

    Bahkan, bahasa ini sempat membuat polisi kebingungan saat mereka berdua dibawa ke kantor karena nenek mengemudi tanpa SIM.

    Baca juga: Sinopsis Novel Big Breasts and Wide Hips Karya Mo Yan

    Namun kebahagiaan itu berakhir ketika nenek meninggal dunia. Elsa sangat terpukul, apalagi ia tidak pernah diberitahu bahwa neneknya mengidap kanker.

    Sebelum pergi, nenek meninggalkan sebuah surat untuk Elsa, dengan pesan agar ia menyerahkannya pada seseorang yang disebut sebagai “monster”.

    Dalam perjalanan menemukan monster ini, Elsa bertemu dengan seekor anjing yang ia panggil Teman Kita, serta berbagai makhluk fantasi yang selama ini hanya ada di dunia dongeng neneknya. Dari merekalah, Elsa mulai memahami siapa neneknya sebenarnya.

    Elsa berbeda dari anak-anak lain seusianya. Ia berbicara seperti orang dewasa dan punya pengetahuan yang luas berkat kebiasaannya membaca Wikipedia.

    Sayangnya, hal itu membuatnya sering jadi korban ejekan dan perundungan di sekolah.

    Ia kerap pulang dengan tubuh penuh memar, diejek karena memakai syal Gryffindor, bahkan diminta kepala sekolah untuk mengubah sikapnya atau pergi ke psikolog.

    Bagi Elsa, hanya neneklah yang selalu membelanya dan mengajarkan bahwa menjadi berbeda bukanlah hal yang salah.

    Petualangan Elsa di dunia nyata dan dunia dongeng neneknya membentuk perjalanan penuh makna.

    Ia belajar bahwa rasa takut terbesar datang dari hal-hal yang tidak kita ketahui, dan keberanian sering kali lahir dari rasa kehilangan.

    Setelah kematian nenek, kisah tidak berakhir, melainkan terus hidup bersama Elsa yang kini melanjutkan perjalanannya sendiri sebagai pahlawan di dunia yang pernah mereka bangun bersama.

  • How to Win Friends & Influence People Bahasa Indonesia

    How to Win Friends & Influence People Bahasa Indonesia

    How to Win Friends & Influence People in the Digital Age adalah versi modern dari buku pengembangan diri klasik karya Dale Carnegie yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1936.

    Dengan penjualan lebih dari 30 juta eksemplar di seluruh dunia, buku ini telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu buku terlaris sepanjang masa.

    Keberhasilannya tidak hanya terbatas pada angka penjualan, tetapi juga menjadikannya salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah literatur Amerika.

    Dalam tahun pertama penerbitannya, buku ini bahkan dicetak ulang sebanyak 17 kali, dan dalam tiga bulan pertama saja berhasil terjual hingga 250.000 eksemplar, sebuah pencapaian yang luar biasa untuk masanya.

    Dalam edisi digital age ini, Carnegie dan tim penyusun mengadaptasi prinsip-prinsip klasiknya agar relevan dengan tantangan komunikasi modern, khususnya di era media sosial dan interaksi daring.

    Buku ini memberikan panduan praktis untuk membangun hubungan positif dan memengaruhi orang lain dengan cara yang tulus, santun, dan bijaksana.

    Prinsip-prinsip penting seperti menghindari kritik, memberikan apresiasi yang jujur, menunjukkan minat tulus terhadap orang lain, serta membangun kepercayaan melalui empati tetap menjadi fondasi utama.

    Carnegie juga menekankan pentingnya etika komunikasi digital: bagaimana menjaga reputasi, menghindari konflik publik, dan menanggapi kritik dengan bijak di platform digital.

    Buku ini membekali pembaca dengan strategi efektif untuk membimbing perubahan perilaku orang lain tanpa memaksa, serta memberikan inspirasi untuk menjadi komunikator yang lebih baik di lingkungan sosial dan profesional.

    Dengan gaya penulisan yang ringan dan penuh ilustrasi nyata, buku ini cocok dibaca oleh siapa saja—pelajar, karyawan, pemimpin, hingga content creator yang ingin membangun pengaruh tanpa harus mendominasi.

    Meski beberapa pihak menilai pendekatannya terlalu sederhana atau berisiko dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, pesan utama Carnegie tetap kuat: hubungan yang sukses dibangun di atas dasar empati, penghargaan, dan komunikasi yang tulus.

    Tak heran jika karya ini terus relevan dan menjadi referensi utama dalam dunia pengembangan diri hingga saat ini.

    Mau baca bukunya? Klik di sini.