Tag: budaya

  • Banyuwangi Perkuat Potensi Wisata Desa Kemiren Menuju Best Tourism Village UN Tourism

    Banyuwangi Perkuat Potensi Wisata Desa Kemiren Menuju Best Tourism Village UN Tourism

    Banyuwangi terus memperkuat potensi wisata berbasis desa dan budaya melalui pengembangan Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah.

    Penguatan tersebut mendapat dukungan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melalui pendampingan khusus agar Kemiren mampu meningkatkan tata kelola dan memenuhi standar pariwisata internasional.

    Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengunjungi Desa Wisata Kemiren dalam rangkaian kunjungan kerja selama dua hari di Banyuwangi, Sabtu-Minggu (25-26/7/2026).

    Dalam kunjungan tersebut, Menpar mendorong Kemiren untuk meraih predikat Best Tourism Village dari United Nations Tourism (UN Tourism), badan pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

    Desa Kemiren sebelumnya terpilih dalam Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 yang digagas UN Tourism.

    Program tersebut memberikan kesempatan bagi desa wisata yang dinilai memiliki potensi untuk memperkuat tata kelola serta meningkatkan kualitas pengelolaan agar memenuhi standar internasional.

    “Semoga setelah mendapat pendampingan, Desa Kemiren bisa meraih predikat Best Tourism Village,” ujar Menpar saat menyusuri kawasan rumah adat Osing Kemiren.

    Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat potensi budaya dan pariwisata Kemiren agar semakin siap menjadi destinasi yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

    Didampingi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Menpar berjalan kaki menyusuri lingkungan desa sekaligus berinteraksi dengan masyarakat. Ia melihat langsung aktivitas warga yang masih menjaga berbagai tradisi dan budaya Osing.

    “Warga di sini sangat kreatif dalam mempertahankan tradisi mereka,” puji Menpar.

    Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Sanggar Genjah Arim. Di lokasi tersebut, Menpar menikmati berbagai sajian tradisional Banyuwangi, mulai dari kue cucur, kopi Osing, rujak soto, hingga pecel pitik yang merupakan olahan ayam kampung panggang dengan kelapa parut dan bumbu khas masyarakat Osing.

    “Ini pertama kali saya makan rujak soto. Enak,” kata dia sambil mengacungkan jempol jarinya.

    “Kalau kue cucur, saya sudah biasa makan, tapi yang di sini luar biasa,” imbuhnya.

    Menpar juga ikut mencoba sejumlah aktivitas tradisional masyarakat Kemiren, seperti menyangrai kopi menggunakan tungku dan penggorengan dari tanah liat serta membuat kue cucur bersama warga.

    “Saya terkesan dengan suasana di sini. Kehangatan masyarakat Banyuwangi, budayanya, makanannya, desanya. Tadi sudah kami bahas bagaimana agar bisa meningkatkan pariwisata di Banyuwangi,” ujar Menpar.

    Potensi komoditas lokal juga menjadi bagian dari daya tarik wisata Kemiren. Menpar mencicipi berbagai jenis kopi asli Banyuwangi sekaligus menyaksikan pertunjukan seni tari Gandrung dan Barong Osing di Sanggar Genjah Arum.

    “Saya sudah mencicipi kopi arabika, liberika, dan kopi yang bisa bikin ngantuk. Enak. Saya sangat mendukung penuh industri kopi, termasuk dari Banyuwangi. Saya biasanya kalau ke luar negeri selalu bawa kopi untuk gift sebagai upaya mempromosikan kopi lokal,” ujarnya.

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan apresiasi atas pendampingan Kemenpar terhadap Desa Wisata Adat Osing Kemiren.

    Menurutnya, penguatan tata kelola perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya yang menjadi kekuatan utama desa.

    “Kemiren punya kekuatan budaya dan tradisi yang sangat khas. Kami berharap melalui pendampingan ini, Kemiren semakin siap menerima wisatawan dari berbagai negara, tanpa kehilangan jati diri dan karakter budaya Osing yang selama ini menjadi daya tariknya,” tutur Ipuk. (*)

  • Geopark Ijen Diperkuat sebagai Potensi Pariwisata dan Pembangunan Berkelanjutan Banyuwangi

    Geopark Ijen Diperkuat sebagai Potensi Pariwisata dan Pembangunan Berkelanjutan Banyuwangi

    Pengelolaan Geopark Ijen terus diperkuat Banyuwangi sebagai salah satu potensi unggulan daerah yang mengintegrasikan kekayaan alam, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari asesor UNESCO Global Geopark (UGG) yang melakukan proses revalidasi pada 3–6 Agustus 2026.

    Dua asesor UNESCO, Dr. Andreas Schüller dari Jerman dan Qinling Zhongnanshan dari China, melakukan penilaian untuk memastikan pengelolaan Geopark Ijen tetap memenuhi standar jaringan UNESCO Global Geopark. Revalidasi ini merupakan evaluasi pertama sejak kawasan tersebut memperoleh status UNESCO Global Geopark pada 2023.

    Evaluasi yang dilakukan setiap empat tahun tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan pengelolaan geopark berjalan sesuai standar internasional. Hasilnya akan menentukan keberlanjutan status Geopark Ijen dalam jaringan UGG, melalui Green Card, Yellow Card dengan kewajiban perbaikan, atau Red Card apabila status tersebut dicabut.

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan proses revalidasi menjadi kesempatan bagi daerah untuk menunjukkan perkembangan pengelolaan Geopark Ijen sekaligus memperkuat komitmen terhadap pengembangan kawasan secara berkelanjutan.

    Sejak memperoleh pengakuan UNESCO pada 2023, pengelolaan Geopark Ijen terus dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Pengembangan tersebut bertumpu pada tiga aspek utama, yakni edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.

    “Pengelolaan ekosistem UGG Ijen dilakukan mengintegrasikan alam, budaya, dan masyarakat dalam satu kesatuan yang berkelanjutan,” kata Ipuk, Selasa (4/8/2026).

    Dalam rangkaian revalidasi, para asesor mengunjungi berbagai geosite dan lokasi yang mendukung pengelolaan Geopark Ijen. Peninjauan hari pertama mencakup Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI), Desa Adat Kemiren, serta sejumlah sentra ekonomi kreatif di Banyuwangi, Senin (3/8/2026).

    Pada hari berikutnya, asesmen berlanjut ke kawasan Alas Purwo dan Teluk Pangpang di Grajagan. Kedua kawasan tersebut menjadi bagian dari bentang alam dan ekosistem yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan Geopark Ijen.

    Rangkaian kunjungan diawali welcoming dinner di Pendopo Sabha Swagata pada Minggu malam (2/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid beserta jajaran, perwakilan Bappenas, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

    Dr. Andreas Schüller mengungkapkan kekagumannya terhadap bentang alam Banyuwangi yang dilihatnya dalam perjalanan kereta api dari Surabaya menuju Banyuwangi.

    “Kami mendapatkan gambaran awal tentang wilayah Anda yang sangat luar biasa ini. Pemandangan yang indah, ladang-ladang, tanaman, perkebunan kopi, dan di balik awan, dalam remang-remang kami bisa melihat beberapa gunung besar,” ujarnya.

    Menurut Andreas, pengelolaan Geopark Ijen telah menunjukkan perkembangan positif sejak mendapatkan pengakuan UNESCO Global Geopark. Ia menilai Banyuwangi memahami bahwa geopark tidak hanya berkaitan dengan perlindungan warisan geologi, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk mengembangkan pendidikan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

    “Geopark bukan hanya tentang geologi, tetapi juga tentang masyarakat, di mana masyarakat menjadi aktornya. Saya melihat komitmen yang kuat dari Ibu Bupati dan seluruh pihak dalam hal ini. Itu adalah awal yang sempurna dalam misi evaluasi ini,” katanya. (*)

  • Festival Literasi Using 2026 Jadi Ajang Pelajar Banyuwangi Kenali Bahasa dan Budaya Daerah

    Festival Literasi Using 2026 Jadi Ajang Pelajar Banyuwangi Kenali Bahasa dan Budaya Daerah

    BANYUWANGI – Upaya menjaga Bahasa Using sebagai bagian dari identitas budaya Banyuwangi kembali dilakukan melalui Festival Literasi Using 2026.

    Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi ambil bagian dalam ajang tahunan yang digelar Sabtu (5/9) di SDN Kepatihan.

    Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal sekaligus menggunakan bahasa daerah melalui berbagai bentuk perlombaan.

    Festival tahun ini diikuti pelajar jenjang SD dan SMP. Sejumlah cabang yang dilombakan antara lain Geguritan atau baca puisi, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Ketua Panitia Festival Literasi Using 2026, Yeti Chotimah, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan Bahasa Using kepada pelajar melalui kegiatan yang bersifat kreatif.

    “Anak-anak tidak hanya kita ajak untuk belajar Bahasa Using, tetapi juga menggunakannya secara langsung melalui berbagai kegiatan. Harapannya, mereka semakin mengenal dan terbiasa menggunakan bahasa daerahnya,” kata Yeti.

    Menurut Yeti, keberagaman cabang yang dilombakan memberikan pilihan bagi pelajar untuk mengenal Bahasa Using melalui kemampuan yang berbeda-beda.

    Ada yang mengekspresikannya melalui puisi dan tembang, ada pula yang menggunakan bahasa tersebut dalam pidato, cerita, dongeng, maupun tulisan.

    Salah satu yang menarik perhatian adalah cabang Geguritan tingkat SMP. Peserta tidak hanya dituntut mampu membawakan puisi dengan baik, tetapi juga diperkenalkan pada karya-karya yang menggunakan Bahasa Using.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Panitia menyediakan dua buku sebagai pilihan materi yang dapat dibawakan peserta, yakni Antologi Gotong Royong karya Komunitas Gotong Royong 45 dan Sanga Puluh Sanga (99) Basa Using karya Ir. Zaenuri, seorang penyair yang telah menulis beberapa buku berbahasa Using.

    Antusiasme terhadap cabang Geguritan juga cukup tinggi. Jumlah peserta tingkat SMP dibatasi sebanyak 45 orang karena peminatnya pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya cukup banyak.

    Dalam penilaian, juri memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan peserta dalam memahami dan menyampaikan isi puisi.

    Maulana Affandi Juri Festival Literasi Using

    Penilaian cabang Geguritan dilakukan oleh juri dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam.

    Mereka di antaranya Maulana Affandi, mahasiswa Pascasarjana Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Nuhbatul Fakhiroh yang merupakan juara Liga Puisi, Nur Kamilasari yang merupakan praktisi puisi, Ulvatus Soviyah anggota MGMP, serta Ahmad Istiqlal yang menjadi juara Festival Literasi Using pada tahun sebelumnya.

    Tidak hanya Geguritan, cabang lainnya juga memberikan kesempatan kepada pelajar untuk menggunakan Bahasa Using dalam bentuk yang berbeda.

    Ada peserta yang menyampaikan pidato, menembang, menulis, mendongeng, hingga membaca lontar.

    Beragamnya bentuk perlombaan membuat pelajar tidak hanya berhadapan dengan Bahasa Using sebagai materi pembelajaran.

    Mereka mendapat kesempatan untuk menggunakan bahasa tersebut melalui karya sastra, seni, dan penampilan di hadapan publik.

    Bagi budayawan, pertemuan pelajar dengan karya-karya berbahasa Using menjadi bagian yang tidak kalah penting dari kompetisi itu sendiri.

    Sebab, proses mengenalkan bahasa daerah tidak berhenti pada kemampuan berbicara, tetapi juga bagaimana generasi muda mengenal karya yang lahir dari bahasa tersebut.

    Agus Wahyu Nuryadi alias Bung Aguk, budayawan dari Sanggar Merah Putih 45, menilai penggunaan karya sastra berbahasa Using dalam perlombaan menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengenalan bahasa daerah kepada pelajar.

    Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman tampil di hadapan publik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan bahasa dan karya lokal.

    “Yang menarik dari kegiatan seperti ini adalah anak-anak tidak hanya belajar tampil. Mereka juga berhadapan langsung dengan karya dalam Bahasa Using. Dari situ mereka bisa mengenal kosakata, cara pengucapan, sekaligus memahami pesan yang ada dalam karya,” ujar Bung Aguk.

    Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan pelajar dengan bahasa dan karya lokal perlu terus dilakukan agar proses regenerasi tidak berhenti pada pengenalan budaya, tetapi berlanjut pada kemampuan untuk menggunakannya.

    Ia menilai pengalaman menggunakan Bahasa Using secara langsung dapat membantu pelajar lebih akrab dengan bahasa daerah, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan berkesenian.

  • Ribuan Warga Padati Tradisi Keboan Aliyan, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Banyuwangi

    Ribuan Warga Padati Tradisi Keboan Aliyan, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Banyuwangi

    Ribuan warga dari berbagai daerah memadati Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi pada Minggu (21/6).

    Mereka hadir untuk menyaksikan puncak ritual adat Keboan Aliyan, sebuah tradisi tahunan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus ruang silaturahmi bagi masyarakat setempat.

    Sejak pukul 05.00 WIB, suasana desa sudah disibukkan dengan gotong royong warga yang menyiapkan perlengkapan ritual, mulai dari pemasangan umbul-umbul, janur kuning, hingga hiasan daun kolang-kaling.

    Bagi masyarakat Aliyan, kelengkapan prosesi ini bersifat sakral dan tidak boleh ada yang terlewat.

    Tokoh adat Sukodono, Sugiono, menjelaskan bahwa tradisi ini diperkirakan sudah mengakar sejak era 1960-an berdasarkan cerita para sesepuh.

    “Tradisi ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah tanah subur dan hasil panen yang melimpah. Karena itu, sampai sekarang tetap kami jaga,” ujar Sugiono.

    Ketua Panitia Keboan Aliyan 2026, Rony Sanjaya, memaparkan bahwa ritual ini melibatkan dua kelompok besar yang secara historis tidak pernah digabungkan dalam satu prosesi karena perbedaan jalur silsilah leluhur:

    • Keboan Aliyan Timur: Meliputi Dusun Cempokosari, Krajan, Bolot, dan Timurrejo.
    • Keboan Aliyan Barat: Meliputi Dusun Sukodono, Kedawung, dan Damrejo.

    Rony menambahkan, antusiasme tahun ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.

    “Jumlah peserta yang memerankan keboan (kerbau manusia) melonjak hingga ratusan orang. Ini indikator kuat bahwa kecintaan generasi saat ini terhadap tradisi leluhur masih sangat tinggi,” kata Rony.

    Rangkaian acara sejatinya telah bergulir sejak Jumat (19/6) yang dibuka dengan sterilisasi lapangan dan pertunjukan musik etnik WEC.

    Pada Sabtu (20/6), warga menggelar tradisi Sonjo Bareng melalui ritual Songo Pangrekso Sengkolo, di mana warga menyalakan obor (oncor) di sepanjang jalan desa dan menggelar doa bersama.

    Adapun pada puncak acara yang berlangsung Minggu (21/6), lapangan desa dimeriahkan oleh berbagai atraksi seni, antara lain:

    • Tari Puja Santri & Tari Barong Jodog
    • Penampilan Keboan Aliyan Timur & Barat
    • Pertunjukan Barong Kumbo
    • Ritual Kebo-bider Bumi (arak-arak keliling desa)
    • Doa Penutup

    Acara ini turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pariwisata, Forkopimka, serta para pegiat budaya dan duta wisata.

    Kepala Desa Aliyan, Agus Nurbani Yusuf, mengapresiasi kerja keras seluruh pihak dan berharap ritual ini tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan tuntunan untuk menjaga nilai gotong royong dan kelestarian alam.

    Harapan senada disampaikan oleh Mbah Adim, salah satu peserta keboan tertua dari Sukodono. Ia berharap generasi muda terus merawat warisan budaya ini agar tidak punah ditelan zaman.

    Di sisi lain, tingginya animo penonton membawa dampak positif bagi sektor ekonomi mikro. Para pedagang kaki lima dan asongan meraup berkah dari gelaran ini.

    “Alhamdulillah, setiap tahun selalu ramai. Warga Aliyan juga sangat ramah dan terbuka kepada kami para pedagang,” ungkap Cak Sodik, seorang pedagang es keliling asal Pakis yang mengaku sudah bersiap di lokasi sejak usai salat Subuh.

    Bagi pengunjung seperti Heny (warga Pakistaji) dan Suparto (warga Tegalwero), Keboan Aliyan telah bertransformasi menjadi momentum pengikat sosial.

    Selain menjadi destinasi wisata budaya yang menjanjikan di Banyuwangi, tradisi ini terbukti ampuh menyatukan masyarakat di tengah modernisasi.

  • Upacara Adat Tujuh Bulanan Nusantara Warnai Kehamilan Pasangan Hafidz di Rogojampi

    Upacara Adat Tujuh Bulanan Nusantara Warnai Kehamilan Pasangan Hafidz di Rogojampi

    Pasangan hafidz, Muhammad Haidar Rosyid dan Fani Faizah Hurriyatul Alawiyah Hasan, menggelar upacara adat tujuh bulanan atau mitoni/tingkeban sebagai penanda usia kehamilan pertama mereka.

    Prosesi adat nusantara tersebut berlangsung di Gang Garuda V, Katesan, Prejengan 1, Rogojampi, Selasa (6/1/2026).

    Rosyid yang berasal dari suku Using dan Fani dari suku Madura menjalani prosesi adat yang sarat makna kebudayaan dan spiritual.

    Ritual mitoni dipandu Bu Mumun dari suku Sunda, dengan tamu undangan lintas etnis, mulai dari Jawa, Minang, hingga Madura.

    Acara dipandu oleh Aguk Darsono, pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Kabupaten Banyuwangi dari unsur suku Jawa, yang mengenakan busana surjan galur merah dan kopiah batik khas Jogokariyan, Yogyakarta.

    Prosesi diawali dengan pembacaan Ummul Kitab, Surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan sungkeman calon ayah dan ibu kepada kedua orang tua untuk memohon doa restu.

    Selanjutnya, dua keluarga besar serta tokoh agama dan masyarakat secara bergiliran memasukkan air dari tujuh sumber ke dalam belanga.

    Menariknya, sebagian air tersebut berasal dari sumber-sumber yang diperoleh Rosyid saat berziarah ke makam para wali, mulai dari makam pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo, Asembagus, hingga makam para aulia di Pulau Madura.

    Sukorejo sendiri merupakan tempat Rosyid menimba ilmu sejak SMA hingga sarjana, sekaligus menghafal Al-Qur’an 30 juz.

    Tahapan berikutnya, kembang setaman dimasukkan ke dalam belanga oleh ibunda Rosyid dan kakak Fani, Lisa Zakiyah.

    Ritual mitoni ini menjadi ikhtiar spiritual (krenteg hajad) agar calon ibu dan bayi diberi keselamatan, kesejahteraan, serta kelancaran proses kelahiran. Fani sendiri dikenal sebagai hafidzah yang menimba ilmu di pondok pesantren di Yogyakarta.

    Prosesi siraman dilakukan dengan pasangan mengenakan busana takwa dan gamis.

    Rangkaian prosesi simbolik dijalani dengan penuh khidmat, mulai dari pelilitan kain putih pada calon ibu, pelepasan telur, hingga menggendong dan melepas kelapa cengkir gading yang dihias tokoh wayang Arjuna dan Srikandi.

    Prosesi ini ditutup dengan pelepasan ikatan janur di perut calon ibu sebagai doa agar proses kelahiran berjalan lancar, ibu dan jabang bayi diberi keselamatan, serta sang suami selalu siaga mendampingi.

    Siraman diawali oleh calon kakek dari pihak perempuan, H. Hasan Basori, seorang guru agama sekaligus Ketua Asosiasi BPD se-Wongsorejo.

    Prosesi dilanjutkan oleh ibu pihak laki-laki, Asmiyati; Bu Mumun; para sesepuh keluarga; dan ditutup oleh ayah pihak laki-laki, Muhammad Nur, pengrajin suvenir, plakat, dan kaligrafi.

    Setelah itu, Rosyid menyiram istrinya menggunakan kendi yang kemudian dijatuhkan hingga pecah.

    Pecahan kendi tersebut diperebutkan warga sebagai simbol keberkahan, dilanjutkan tradisi “jualan” dawet dan rujak oleh pasangan calon orang tua.

    Usai berganti busana kering, Bu Mumun memperagakan ritual pemilihan tujuh kain batik bermotif khas, seperti gajah oling, karapan potre kuning, sido mukti, hingga sembrung cacing.

    Setelah enam motif dinilai kurang sesuai, pilihan jatuh pada kain batik parang barong yang melambangkan kewibawaan dan keanggunan.

    Dengan selempang batik tersebut, Fani melanjutkan prosesi berjualan rujak dan dawet yang disambut antusias warga.

    Rangkaian acara ditutup dengan pembagian jenang merah putih dan nasi tumpeng berkat, disertai doa syukur dan keselamatan yang dipimpin H. Hasan Basori.

    Acara yang dimulai selepas salat Asar berakhir menjelang waktu samarwulu, diiringi lantunan selawat dari Masjid Besar Baturahim.

    Pada malam harinya, rangkaian selamatan dilanjutkan dengan tahlilan ba’da Magrib yang dipimpin Kepala Dusun Prejengan 1, M. Basuni.

    Sebanyak 33 jamaah mengikuti tahlilan dengan pembacaan Surat Yusuf, Maryam, Muhammad, Luqman, Al-Ikhlas sebanyak 99 kali, serta Surat Yasin secara berjamaah.

    “Semoga keluarga Rosyid dan Fani menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, melahirkan generasi Qur’ani yang berbakti kepada orang tua, membahagiakan kakek-nenek, serta berguna bagi agama, bangsa, dan negara,” doa M. Basuni yang diamini seluruh jamaah.

  • Filosofi Gandrung dan Maknanya bagi Masyarakat Banyuwangi

    Filosofi Gandrung dan Maknanya bagi Masyarakat Banyuwangi

    Setiap daerah di Nusantara memiliki kesenian yang bukan hanya indah dilihat, tetapi juga menyimpan pesan dan makna yang dalam, tak terkecuali Banyuwangi.

    Daerah yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini mempunyai tarian yang begitu terkenal bernama Gandrung.

    Sekilas, tarian ini tampak seperti pertunjukan hiburan yang memikat dengan gerakan anggun, busana berwarna-warni, dan iringan musik gamelan yang rancak.

    Namun bila kita menyelaminya lebih jauh, Gandrung adalah tarian yang sarat filosofi, mengandung nilai sejarah, sosial, dan spiritual yang sudah mengakar sejak ratusan tahun lalu.

    Baca juga: 8 Kesenian Tradisional Jember yang Masih Dilestarikan Hingga Sekarang

    Filosofi Gandrung

    Kata Gandrung sendiri berasal dari bahasa Jawa Kawi yang berarti rasa cinta, kerinduan, atau jatuh cinta.

    Mengutip dari laman RSIS, pada masa awal kemunculannya, Gandrung dipentaskan sebagai wujud rasa syukur masyarakat kepada Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan.

    Bagi masyarakat agraris, panen bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan juga bagian dari siklus kehidupan yang erat dengan keyakinan dan spiritualitas.

    Maka, tarian Gandrung menjadi sarana untuk memuja sekaligus berterima kasih kepada alam dan sang pemberi kehidupan.

    Inilah yang membuat Gandrung pada masa lalu lebih dekat dengan ritual sakral ketimbang sekadar hiburan.

    Tari Gandrung menjadi doa yang diwujudkan dalam gerak tubuh, irama musik, dan kebersamaan warga.

    Filosofi dasarnya sangat sederhana namun mendalam, bahwa manusia harus selalu bersyukur atas rezeki dan hasil bumi yang diberikan.

    Dari Ritual ke Tarian Sosial

    tari gandrung
    tari gandrung (flickr/mas wisnu)

    Seiring berjalannya waktu, terutama setelah agama Islam semakin berkembang di Jawa Timur, makna ritual dalam Gandrung perlahan bertransformasi.

    Tarian ini tidak lagi dipandang hanya sebagai bagian dari pemujaan kepada Dewi Sri, melainkan juga menjadi bentuk hiburan rakyat.

    Perubahan ini wajar, karena setiap kesenian akan menyesuaikan diri dengan kondisi zaman dan budaya masyarakatnya.

    Meskipun berubah fungsi, nilai yang terkandung di dalamnya tidak hilang. Filosofi cinta, syukur, dan kebersamaan tetap menjadi dasar dari setiap pertunjukan Gandrung.

    Bahkan, dengan menjadikannya tarian sosial, pesan yang terkandung bisa lebih mudah dirasakan oleh banyak orang, tidak terbatas hanya pada kalangan tertentu.

    Gandrung Marsan dan Jejak Perlawanan

    Sejarah Gandrung tidak bisa dilepaskan dari sosok Marsan yang dikenal sebagai salah satu penari Gandrung laki-laki yang hidup pada masa kolonial.

    Pada waktu itu, Gandrung sering ditarikan oleh laki-laki yang berdandan seperti perempuan, disebut Gandrung Lanang.

    Marsan menjadi sosok penting karena lewat tarian yang dibawakannya, terselip pesan-pesan perjuangan dan perlawanan terhadap penjajahan.

    Marsan bukan hanya penari yang lihai, tetapi juga simbol dari semangat rakyat kecil.

    Gerakan tari yang lentur namun penuh tenaga dianggap sebagai gambaran kekuatan yang tersembunyi di balik kesederhanaan.

    Dari sini kita bisa melihat bahwa Gandrung tidak hanya memancarkan keindahan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan kritik sosial sekaligus ajakan untuk tetap teguh menghadapi penindasan.

    Filosofi Kebersamaan dan Gotong Royong

    festival gandrung
    festival gandrung (flickr/harjo’s)

    Salah satu nilai utama dari tarian Gandrung adalah semangat kebersamaan.

    Dalam setiap pementasan, baik ketika dilakukan di desa-desa kecil maupun dalam festival besar seperti Gandrung Sewu, yang tampak jelas adalah bagaimana ratusan penari bergerak selaras dengan irama.

    Setiap langkah, setiap ayunan tangan, meski dilakukan oleh orang berbeda, menghasilkan harmoni yang indah.

    Hal ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Banyuwangi. Keberhasilan tidak akan tercapai bila hanya mengandalkan satu orang, melainkan harus dengan kerja sama dan gotong royong.

    Gandrung menjadi media untuk meneguhkan bahwa dalam hidup bermasyarakat, keharmonisan lebih penting daripada kepentingan pribadi.

    Baca juga: Lotus Feet, Tradisi Mematahkan Jari Kaki di Tiongkok

    Simbolisme dalam Kostum dan Mahkota

    Penari Gandrung mudah dikenali dari busananya yang khas. Salah satu bagian yang paling menonjol adalah mahkota yang disebut omprog.

    Mahkota ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan kepala, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam.

    Warna dan bentuk omprog melambangkan kewibawaan, kesucian, dan semangat hidup. Elemen warna merah, putih, hitam, hijau, hingga emas yang dipakai melambangkan unsur-unsur penting dalam kehidupan manusia.

    Dalam pandangan masyarakat Osing, etnis asli Banyuwangi, simbol itu juga terkait dengan konsep sedulur papat lima pancer, yakni filosofi tentang empat penjaga kehidupan dan satu pusat diri.

    Dengan demikian, penari Gandrung yang memakai omprog bukan sekadar menampilkan keindahan visual, tetapi juga menghadirkan pesan spiritual bagi penontonnya.

    Musik yang Menghidupkan Gerak

    Tarian Gandrung tidak bisa dilepaskan dari iringan musik tradisional. Gamelan, kendang, gong, hingga biola menjadi instrumen yang menyatu, menghasilkan suasana magis sekaligus menggetarkan.

    Alunan musik ini memberi nyawa pada setiap gerakan penari. Ada bagian yang lembut, melambangkan kasih sayang dan keanggunan, tetapi ada pula bagian yang rancak dan penuh energi, mencerminkan semangat hidup dan kekuatan masyarakat Banyuwangi.

    Dalam konteks filosofi, musik Gandrung adalah pengingat bahwa kehidupan selalu memiliki irama. Kadang pelan dan menenangkan, kadang cepat dan penuh tantangan.

    Yang terpenting adalah bagaimana manusia mampu menari selaras dengan setiap irama kehidupan itu.

    Relevansi Gandrung di Masa Kini

    Di tengah gempuran budaya modern, Gandrung tetap bertahan sebagai identitas Banyuwangi.

    Festival Gandrung Sewu yang digelar setiap tahun menjadi bukti nyata bagaimana kesenian ini bukan hanya dipertahankan, tetapi juga dikembangkan agar relevan dengan zaman.

    Ribuan penari muda tampil bersama di tepi pantai Boom menciptakan pemandangan luar biasa yang sekaligus memperlihatkan semangat kolektivitas.

    Filosofi Gandrung dalam konteks masa kini tidak lagi hanya soal rasa syukur atas panen, tetapi juga sebagai simbol cinta terhadap budaya, persatuan masyarakat, dan kebanggaan identitas.

    Tari Gandrung menjadi bukti bahwa warisan leluhur bisa hidup berdampingan dengan perkembangan modern, selama tetap dijaga esensinya.

    Kini, bagi masyarakat Banyuwangi, Gandrung adalah cermin diri sekaligus pengikat identitas. Bagi siapa pun yang menontonnya, Gandrung adalah pengalaman estetis yang sarat makna.

    Sebab, Gandrung mengajarkan bahwa hidup perlu dijalani dengan rasa syukur, cinta, dan kerja sama, sebab hanya dengan cara itu harmoni dapat tercapai.

    Sumber: Jurnal RSIS

  • Apa yang dimaksud dengan azas konsentris dalam menyikapi keberagaman dan masuknya pengaruh budaya luar?

    Apa yang dimaksud dengan azas konsentris dalam menyikapi keberagaman dan masuknya pengaruh budaya luar?

    Apa yang dimaksud dengan azas konsentris dalam menyikapi keberagaman dan masuknya pengaruh budaya luar?

    Jawaban:

    Azas konsentris adalah pendekatan atau prinsip berpikir yang mengutamakan prioritas dari pusat ke luar, atau dari lingkungan terdekat ke lingkungan yang lebih luas, dalam memahami dan menyikapi suatu persoalan, termasuk dalam hal keberagaman budaya dan masuknya pengaruh budaya luar.

    Dalam konteks sosial dan budaya, azas konsentris mengajarkan bahwa pemahaman, penerimaan, dan pembentukan sikap terhadap budaya luar sebaiknya dimulai dari penguatan identitas budaya sendiri, baru kemudian berkembang ke pemahaman terhadap budaya lain secara lebih terbuka dan selektif.

    Azas konsentris dapat diibaratkan seperti lingkaran-lingkaran yang saling bertumpuk dari pusat ke luar.

    Lingkaran pertama adalah keluarga dan lingkungan sekitar, kemudian masyarakat lokal, nasional, hingga ke budaya global.

    Dalam menyikapi keberagaman dan arus budaya luar, pendekatan ini menekankan bahwa:

    1. Kita perlu mengenali, memahami, dan mencintai budaya sendiri terlebih dahulu.

    Anak-anak dan remaja sebaiknya dibekali dengan pengetahuan dan kecintaan terhadap bahasa daerah, adat istiadat, nilai-nilai luhur bangsa, serta sejarah dan identitas nasional.

    Hal ini bertujuan agar mereka memiliki pondasi identitas yang kuat dan tidak mudah tergerus oleh budaya asing.

    2. Setelah identitas lokal dan nasional kuat, maka kita bisa membuka diri terhadap budaya luar.

    Budaya luar tentu bisa memberi pengaruh positif, seperti kemajuan teknologi, keterbukaan wawasan, dan nilai-nilai universal seperti toleransi dan kerja sama.

    Namun, dengan prinsip azas konsentris, kita menyaring pengaruh tersebut dengan kearifan lokal dan nilai-nilai bangsa, sehingga tidak menghilangkan jati diri.

    3. Penerimaan terhadap budaya luar dilakukan secara selektif dan bertanggung jawab.

    Tidak semua budaya luar cocok atau relevan dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat Indonesia.

    Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan membedakan antara budaya yang memperkaya dan budaya yang merusak.

    Contoh Penerapan Azas Konsentris:

    Seorang siswa yang mahir menggunakan media sosial dan mengikuti tren global tetap menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa daerah saat berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman sebaya.

    Sebuah komunitas lokal yang menyelenggarakan festival budaya tetap menerima wisatawan dan pengaruh luar, tetapi tetap menjaga nilai-nilai tradisi dan norma-norma lokal.

    Kesimpulan:

    Azas konsentris dalam menyikapi keberagaman dan masuknya pengaruh budaya luar menekankan pentingnya memperkuat identitas budaya sendiri terlebih dahulu sebelum menerima budaya dari luar.

    Dengan pendekatan ini, masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan tidak kehilangan arah di tengah arus globalisasi, tetapi justru menjadi individu yang terbuka, bijak, dan berakar kuat pada nilai-nilai bangsanya sendiri.

    Pendekatan ini menjadi kunci dalam menjaga harmoni keberagaman dan memperkuat ketahanan budaya nasional di era global.

  • Bagaimana perubahan sosial budayanya jika suatu masyarakat menutup diri dari dunia luar

    Bagaimana perubahan sosial budayanya jika suatu masyarakat menutup diri dari dunia luar

    Jika suatu masyarakat memilih untuk menutup diri dari dunia luar, maka akan terjadi sejumlah perubahan sosial dan budaya yang signifikan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

    Berikut adalah penjelasan panjang dan mendalam mengenai perubahan-perubahan tersebut:

    1. Stagnasi Budaya dan Inovasi

    Ketika sebuah masyarakat menutup diri dari pengaruh luar, ia kehilangan kesempatan untuk melakukan pertukaran budaya yang sehat.

    Inovasi dalam seni, teknologi, pendidikan, maupun pola pikir akan melambat atau bahkan berhenti.

    Tanpa adanya tantangan atau perbandingan dengan budaya luar, masyarakat bisa menjadi puas diri dan mempertahankan pola lama meskipun tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.

    Misalnya, teknologi pertanian, pengobatan, atau pendidikan dari luar yang sebenarnya bisa meningkatkan kualitas hidup, tidak akan diterima, sehingga masyarakat tertinggal dalam aspek kemajuan.

    2. Meningkatnya Tradisionalisme dan Konservatisme

    Menutup diri sering kali disertai dengan semangat mempertahankan nilai-nilai lama secara ketat.

    Tradisi menjadi pusat dari identitas kolektif masyarakat. Meskipun ini bisa menjaga warisan budaya, namun di sisi lain bisa menimbulkan resistensi terhadap perubahan, bahkan yang bermanfaat.

    Kondisi ini juga bisa memperkuat pandangan konservatif yang menolak hal-hal baru, baik itu gaya hidup, cara berpikir, hingga sistem sosial sehingga mempersempit wawasan generasi muda dan mencegah tumbuhnya sikap kritis atau progresif.

    3. Eksklusivisme dan Kecurigaan Sosial

    Isolasi budaya cenderung melahirkan eksklusivisme: rasa “kami” versus “mereka”.

    Masyarakat bisa mulai menganggap orang luar sebagai ancaman atau gangguan, memicu kecurigaan, stereotip, bahkan potensi konflik ketika interaksi akhirnya tak terhindarkan.

    Hal ini memperkuat batas sosial dan bisa menghambat kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dalam konteks global, terutama dalam dunia yang semakin terhubung seperti saat ini.

    4. Penyempitan Perspektif Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

    Tanpa akses ke pemikiran dan ilmu pengetahuan dari luar, sistem pendidikan dalam masyarakat tertutup berpotensi menjadi dogmatis.

    Kurikulum akan didominasi oleh ajaran-ajaran lokal tanpa penyempurnaan atau perbandingan dari perspektif lain.

    Hal ini menghambat lahirnya ilmuwan, inovator, dan pemikir baru. Pengetahuan menjadi turun-temurun dan bersifat lokal, bukan universal. Dampaknya, masyarakat sulit bersaing di tingkat regional atau global.

    5. Ketahanan Sosial yang Rapuh di Tengah Globalisasi

    Dalam jangka panjang, masyarakat tertutup akan mengalami kesulitan besar ketika harus menghadapi tekanan global, seperti perdagangan bebas, digitalisasi, perubahan iklim, atau pandemi.

    Ketika perubahan global menuntut adaptasi, masyarakat yang terbiasa hidup dalam sistem tertutup akan mengalami krisis identitas dan disorientasi sosial.

    Mereka bisa mengalami gegar budaya (culture shock) jika tiba-tiba harus berinteraksi dengan dunia luar tanpa persiapan yang matang.

    6. Peluang Kehilangan Eksistensi Budaya Sendiri

    Ironisnya, upaya menutup diri dengan maksud melestarikan budaya justru bisa menghasilkan efek sebaliknya, yakni budaya menjadi statis dan tidak lagi kontekstual. Budaya yang hidup adalah budaya yang mampu beradaptasi dan berdialog dengan zaman.

    Tanpa itu, ia hanya akan menjadi artefak yang perlahan kehilangan makna di tengah arus perubahan global.

  • Seribu Takir dan Tumpeng Hasil Bumi Warnai Perayaan Suro Penuh Syukur di Desa Sraten

    Seribu Takir dan Tumpeng Hasil Bumi Warnai Perayaan Suro Penuh Syukur di Desa Sraten

    Sraten, Jumat 27 Juni 2025- Semarak Tahun Baru Islam 1447 Hijriah terasa istimewa di Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.

    Masyarakat Dusun Sukodadi, khususnya Dukuh Kedawung, kembali menggelar Festival Tumpeng dan Takir Sewu desa Sraten sebagai bentuk syukur dan pelestarian tradisi.

    Festival yang masuk dalam kalender resmi Banyuwangi Festival 2025 ini berlangsung selama dua hari, dimulai sejak Kamis (26/6) dengan kegiatan jalan sehat dan pemeriksaan kesehatan gratis yang difasilitasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi.

    Pada malam harinya, masyarakat mengikuti ritual di Pemandian Mbah Sumber dan Mbah Gitik setelah Magrib, dan dilanjutkan dengan Khataman Al-Qur’an di makam Prabu Tawang Alun selepas Isya.

    Puncak acara berlangsung pada Jumat siang (27/6) dengan sajian 1.000 takir dan tumpeng hasil bumi yang telah disiapkan sejak pagi oleh warga Sraten.

    Setiap kepala keluarga berpartisipasi membuat 10 takir sebagai bentuk gotong royong dan rasa syukur atas panen melimpah.

    Acara resmi dibuka pukul 13.00 WIB di lokasi yang telah disiapkan. Acara dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Banyuwangi Ir. H. Mujiono, M.Si sekaligus membuka acara.

    Setelah pembukaan, digelar arak-arakan tumpeng dan takir sewu menuju area depan makam Prabu Tawang Alun.

    Rangkaian ini menampilkan aneka hasil bumi seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan palawija yang disusun dalam bentuk tumpeng besar, kemudian tumpeng dan takir dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol berbagi berkah.

    Festival ini menarik minat masyarakat luas, bukan hanya dari Sraten, tetapi juga dari berbagai kecamatan di Banyuwangi.

    Menurut sesepuh desa Sraten, Bapak Suraji, S.Pd, kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama: menyambut 1 Suro (Tahun Baru Islam 1447 H), mengenang keberadaan Prabu Tawang Alun, serta sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi.

    Tradisi Tumpeng dan Takir Sewu tidak hanya memiliki nilai budaya dan religi, tetapi juga diharapkan membawa dampak nyata bagi masyarakat Sraten.

    Ketua BPD Sraten, Heru Supriyono, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki dua produk utama yang ingin dicapai.

    “Pertama, aspek spiritual yaitu tumbuhnya kerukunan dan kebersamaan di tengah masyarakat. Kedua, aspek material berupa meningkatnya pertumbuhan ekonomi UMKM lokal di Sraten,” ujarnya.

    Melalui kolaborasi budaya dan ekonomi ini, Festival Tumpeng dan Takir Sewu menjadi sarana memperkuat identitas desa sekaligus mendorong kesejahteraan warganya.

    Kemeriahan acara akan ditutup pada malam harinya dengan solawatan dari Majelis Rotib Al Manan yang akan menambah kekhusyukan sekaligus menutup festival dengan nuansa religius dan penuh doa.

  • Sosialisasi P4GN di Desa Bayu, Mengenang Perjuangan dan Pesan Terakhir Pak Wiji Misto

    Sosialisasi P4GN di Desa Bayu, Mengenang Perjuangan dan Pesan Terakhir Pak Wiji Misto

    Sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) digelar di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, pada Minggu (5/1/2024).

    Acara ini diinisiasi oleh Komunitas Seni Topeng Madura “Laras Mustiko Jalmo” dan Padepokan Tri Suryo Mustiko, bekerja sama dengan Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK) Banyuwangi dan Yayasan Anti Narkotika Lapor Pulih Sehat Sejahtera (LPSS) Banyuwangi.

    Kegiatan ini juga melibatkan tiga pilar Desa Bayu, Kanit Binmas Polsek Songgon, serta warga desa setempat.

    Sosialisasi dihadiri oleh puluhan warga, anggota sanggar, petani kopi, peternak kambing, tokoh agama, aparat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan komunitas seni budaya.

    Semua pihak hadir untuk bersama-sama mewujudkan Banyuwangi Bersinar (Bersih dari Narkoba).

    Acara dimulai dengan sambutan Ketua Sanggar Moh. Soleh yang diwakili oleh Ketua Panitia, Misto alias Pak Wiji.

    Pak Wiji adalah sosok yang dikenal karena memiliki putri bernama Wiji yang kini mondok di Sragi.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kanit Binmas Polsek Songgon, Aiptu Anton, dan Kepala Desa Bayu, Yulia Herlina, ST.

    Dalam rangkaian acara tersebut, Hakim Said, SH, Ketua Yayasan Anti Narkotika LPSS sekaligus Founder RKBK Banyuwangi, memberikan edukasi hukum terkait penyalahgunaan narkoba.

    Materi tentang bahaya narkoba serta solusi rehabilitasi disampaikan oleh Ns. Rudi Purwantoro, S.Kep.

    Acara semakin meriah dengan hiburan seni budaya, termasuk tari topeng khas suku Madura yang memukau penonton.

    Pramoe Soekarno Shakti, seorang seniman dan budayawan Banyuwangi, turut menyuarakan perlawanan terhadap narkoba melalui pembacaan puisi bertema Narkoba.

    Doa penutup dibacakan oleh KH. Moh. Ikrom Hasan, Ketua Paguyuban Joko Thole yang merupakan wadah Suku Madura di Banyuwangi.

    KH. Moh. Ikrom Hasan juga dikenal sebagai tokoh politik, mantan Ketua PPP, dan anggota DPRD Banyuwangi selama tiga periode.

    Ketua Panitia yang diwakili Misto alias Pak Wiji menyampaikan bahwa acara ini adalah bukti nyata semangat masyarakat Desa Bayu dalam memerangi narkoba.

    “Kami berharap sinergi seperti ini terus berlanjut agar generasi muda terhindar dari bahaya narkoba, dan bisa menjadi keteladanan bagi semua pihak. Saya titip seni topeng dari leluhur kami di Sumenep untuk dilestarikan dan mendapat perhatian dari desa maupun pemerintah daerah,” ucapnya penuh haru sambil memegangi ulu hati.

    Tak lama setelah menyampaikan pesan tersebut, Pak Wiji mengeluh sakit perut. Panitia segera memanggil dokter, dan setelah acara selesai, beliau dibawa ke Puskesmas Songgon.

    Sebelum itu, Pak Wiji sempat menitipkan udeng Banyuwangi yang bertahun-tahun ia kenakan kepada Moh. Soleh sambil berkata, “Kita yang udik di Banyuwangi harus mau gandrung dan kacong jebing jadi jebeng thulik!”

    Namun, nasib berkata lain. Pak Wiji mengembuskan napas terakhirnya di IGD Puskesmas Songgon. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi semua pihak.

    Moh. Soleh, dalam takziah yang dihadiri oleh Bung Aguk, menyampaikan, “Kami merasa kehilangan. Tolong jaringan sinergi yang dibangun almarhum terus dijaga dan dilanjutkan.”

    Sementara itu, Kepala Desa Bayu, Yulia Herlina, ST, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini, terutama Komunitas Seni Topeng Madura “Laras Mustiko” dan Padepokan Tri Suryo Mustiko sebagai penggagas sosialisasi P4GN.

    “Komitmen Desa Bayu untuk mendukung program Banyuwangi Bersinar adalah nyata. Kami siap menjadi desa yang menjadi contoh dalam upaya memberantas narkoba,” tegas Yulia, kepala desa berdarah Madura ini.

    Penulis: Aguk/Hakim Said