Apa yang dimaksud dengan azas konsentris dalam menyikapi keberagaman dan masuknya pengaruh budaya luar?
Jawaban:
Azas konsentris adalah pendekatan atau prinsip berpikir yang mengutamakan prioritas dari pusat ke luar, atau dari lingkungan terdekat ke lingkungan yang lebih luas, dalam memahami dan menyikapi suatu persoalan, termasuk dalam hal keberagaman budaya dan masuknya pengaruh budaya luar.
Dalam konteks sosial dan budaya, azas konsentris mengajarkan bahwa pemahaman, penerimaan, dan pembentukan sikap terhadap budaya luar sebaiknya dimulai dari penguatan identitas budaya sendiri, baru kemudian berkembang ke pemahaman terhadap budaya lain secara lebih terbuka dan selektif.
Azas konsentris dapat diibaratkan seperti lingkaran-lingkaran yang saling bertumpuk dari pusat ke luar.
Lingkaran pertama adalah keluarga dan lingkungan sekitar, kemudian masyarakat lokal, nasional, hingga ke budaya global.
Dalam menyikapi keberagaman dan arus budaya luar, pendekatan ini menekankan bahwa:
1. Kita perlu mengenali, memahami, dan mencintai budaya sendiri terlebih dahulu.
Anak-anak dan remaja sebaiknya dibekali dengan pengetahuan dan kecintaan terhadap bahasa daerah, adat istiadat, nilai-nilai luhur bangsa, serta sejarah dan identitas nasional.
Hal ini bertujuan agar mereka memiliki pondasi identitas yang kuat dan tidak mudah tergerus oleh budaya asing.
2. Setelah identitas lokal dan nasional kuat, maka kita bisa membuka diri terhadap budaya luar.
Budaya luar tentu bisa memberi pengaruh positif, seperti kemajuan teknologi, keterbukaan wawasan, dan nilai-nilai universal seperti toleransi dan kerja sama.
Namun, dengan prinsip azas konsentris, kita menyaring pengaruh tersebut dengan kearifan lokal dan nilai-nilai bangsa, sehingga tidak menghilangkan jati diri.
3. Penerimaan terhadap budaya luar dilakukan secara selektif dan bertanggung jawab.
Tidak semua budaya luar cocok atau relevan dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan membedakan antara budaya yang memperkaya dan budaya yang merusak.
Contoh Penerapan Azas Konsentris:
Seorang siswa yang mahir menggunakan media sosial dan mengikuti tren global tetap menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa daerah saat berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman sebaya.
Sebuah komunitas lokal yang menyelenggarakan festival budaya tetap menerima wisatawan dan pengaruh luar, tetapi tetap menjaga nilai-nilai tradisi dan norma-norma lokal.
Kesimpulan:
Azas konsentris dalam menyikapi keberagaman dan masuknya pengaruh budaya luar menekankan pentingnya memperkuat identitas budaya sendiri terlebih dahulu sebelum menerima budaya dari luar.
Dengan pendekatan ini, masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan tidak kehilangan arah di tengah arus globalisasi, tetapi justru menjadi individu yang terbuka, bijak, dan berakar kuat pada nilai-nilai bangsanya sendiri.
Pendekatan ini menjadi kunci dalam menjaga harmoni keberagaman dan memperkuat ketahanan budaya nasional di era global.








