Tag: budaya

  • Pengertian Folklore, Ciri-Ciri dan Fungsinya

    Pengertian Folklore, Ciri-Ciri dan Fungsinya

    Pengertian Folklore

    Folklore merupakan gabungan dari dua kata Folk dan Lore, kata Folklore berasal dari bahasa Inggris yang masing-masing memiliki arti sebagai berikut:

    Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri khas tertentu seperti kebudayaan, fisik yang membedakan dengan kelompok lainnya.

    Lore adalah kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan maupun Isyarat.

    Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan.

    Adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian folklore adalah suatu kebudayaan manusia (kolektif) yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, baik itu dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk isyarat.

    Oleh karenanya Folklor identik dengan tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah yang telah menyatu di dalam kehidupan masyarakat.

    Di indonesia sendiri, setiap daerah, etnis, kelompok, suku, dan golongan agama masing-masing masyarakatnya telah mengembangakan folklorenya sendiri sehingga terdapat beranekaragam folklor yang ada di Indonesia.

    Ciri-Ciri Folklore

    Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri folklore:

    • Folklore merupakan milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini dikarenakan pencipta yang pertama sudah tidak diketahui lagi sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya, bahkan mengaku menciptakannya.
    • Pewarisan dan penyebaran dilakukan secara lisan, yakni melalui tutur kata maupun gerak isyarat atau alat pembantu pengikat lainnya. Folklore bersifat anonim, maksudnya penciptanya tidak diketahui.
    • Folklore hadir dalam versi-versi maupun variasi-variasi yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan oleh cara penyebarannya dilakukan secara lisan sehingga sangat mudah mengalami perubahan.
    • Folklore bersifat tradisional, maksudnya adalah folklore disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar.

    Bentuk-Bentuk Folklore

    1. Folklore Lisan

    Merupakan folklore yang bentuknya asli secara lisan yang terdiri dari: Puisi rakyat, seperti pantun dan parikan jowo. Contoh: wajik klethik gula Jawa (isih cilik sing prasaja).

    Bahasa rakyat, seperti logat (Batak, dayak, Jawa, Banyumasan, Bugis, Sunda dan lain-lain), julukan (si cungkring, si pendek) dan gelar kebangsawanan (datok,teuku, raden, dan sebagainya). Ungkapan tradisional, seperti peribahasa/pepatah.

    Sebagai Contoh: koyo monyet keno tulup (seperti kera kena sumpit), seperti telur di ujung tanduk (keadaan yang gawat) yakni untuk menggambarkan orang yang bingung. Cerita prosa rakyat, misalnya mite, legenda, dan dongeng.

    2. Folklore Sebagian Lisan

    Merupakan folklore yang bentuknya yang terdiri dari campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan, seperti: Permainan rakyat, kepercayaan rakyat (takhayul), adat istiadat, tarian rakyat , pesta rakyat dan lain-lain.

    3. Folklore Bukan Lisan (Non Verbal Folklore)

    Merupakan folklore yang bentuknya bukan lisan. Contoh adalah arsitektur rakyat (bentuk rumah Joglo, Minangkabau, Limasan, Toraja, dan sebagainya), kerajinan tangan, pakaian, dan perhiasan dan lain-lain. Yang sesuai dengan daerahnya masing-masing.

    Jenis-jenis Folklore

    1. Mitos

    Mitos merupakan suatu hal yang berbau mistis yang di percayai sekelompok orang yang berkembang di suatu daerah.

    2. Legenda

    Legenda adalah Prosa atau cerita rakyat yang berkembang di suatu daerah.

    3. Dongeng

    Dongeng merupakan cerita-cerita yang di buat oleh manusia yang berisikan nilai moral kehidupan biasanya dongeng diceritakan oleh orang tua kepada anaknya sebagai pengantar tidur.

    4. Nyanyian Rakyat

    Nyanyian Rakyat merupakan salah satu bentuk folklore yang terdiri dari teks dan lagu

    5. Upacara

    Upacara merupakan salah satu cara untuk memberikan penghormatan terhadap nenek moyang, tempat, peristiwa tertentu yang telah terjadi di masa lalu yang dihormati dan dilestarikan hingga kini.

    Fungsi Folklore

    Adapun fungsi folklore, yaitu sebagai berikut:

    • Sebagai sistem proyeksi, sebagai sarana untuk mencerminkan imajinasi kolektif.
    • Sebagai sarana untuk meratifikasi lembaga dan institusi budaya.
    • Sebagai alat pendidikan untuk anak-anak.
    • Sebagai instrumen kekuatan dan kontrol, sehingga norma-norma masyarakat selalu dihormati oleh anggota kolektif mereka.

    Nah, itulah pengertian, bentuk, ciri-ciri, jenis, dan fungsi folklor. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/.

  • Hubungan Manusia dan Kebudayaan Beserta Contohnya

    Hubungan Manusia dan Kebudayaan

    Manusia dan kebudayaan pada hakekatnya memiliki hubungan yang sangat erat dan bahkan hampir semua tindakan manusia merupakan kebudayaan sehingga manusia dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu sebagai

    1. penganut kebudayaan,
    2. pembawa kebudayaan,
    3. manipulator kebudayaan, dan
    4. pencipta kebudayaan.

    Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini.

    Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun.

    Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

    Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

    Definisi Kebudayaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

    Namun kebudayaan juga dapat kita nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan.

    Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya.

    Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan gender.

    Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli.

    Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.

    • Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilaSi kebudayaan sehingga masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sama.
    • Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.
    • Melting Pot: Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli tanpa campur tangan pemerintah.
    • Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai.

    Contoh Hubungan Antara Manusia dan Kebudayaan

    Berikut ini adalah beberapa contoh hubungan antara manusia dengan kebudayaan adalah sebagai berikut:

    1. Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan

    Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau biasanya pihak perempuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang melamar.

    2. Kebudayaan khusus atas dasar agama

    Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya.

    3. Kebudayaan berdasarkan profesi

    Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara mereka bergaul.

    4. Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda

    Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai (sense of value).

  • Kawin Tangkap, Tradisi Sumba yang Kontroversial

    Kawin Tangkap, Tradisi Sumba yang Kontroversial

    Kawin Tangkap

    Beberapa hari belakangan ini, media sosial tengah dihebohkan dengan beredarnya sebuah video perempuan meronta serta berteriak karena digotong oleh sejumlah pria.

    Kemudian dibawa masuk ke sebuah rumah di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur.

    Selain itu, ada juga video lainnya dengan motif yang sama, yaitu digotong oleh sejumlah pria di salah satu terminal di Kota Weetabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

    Usut punya usut, ternyata kedua video tersebut adalah sebuah praktik kawin tangkap yang dianggap sebagai warisan budaya oleh masyarakat setempat, khususnya yang berada di pedalaman.

    Praktik Kawin Tangkap

    Apakah benar demikian? Mari kita cari tahu kebenarannya.

    Banyak yang mengatakan jika kawin tangkap adalah sebuah tradisi yang lazim dilakukan di Pulau Sumba.

    Boleh jadi, hal tersebut memang benar adanya.

    Tapi jika melihat respon dari pihak perempuan yang menangis dan meronta, membuat sebagian orang, juga akademisi ingin mengkaji “warisan budaya” ini lebih dalam.

    Hingga akhirnya ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Janet Alison Hoskin dan Joel C Kuipers di Sumba mengenai kawin tangkap ini, dikutip dari laman Republik.

    Hasilnya cukup mengejutkan karena mereka menyebutkan jika kawin tangkap bukanlah budaya atau tradisi, tapi hanyalah sebuah praktik yang terus-menerus berulang di Pulau Sumba.

    Sementara menurut antropolog dari Universitas Widya Mandira Kupang, Pater Gregorius Neonbasu, SvD, mengatakan bahwa praktik kawin tangkap di Pulau Sumba hanyalah tindakan pragmatis yang terjadi karena kondisi dan iklim kehidupan sesaat.

    “Jadi menurut saya hal tersebut harus segera ditanggapi oleh tokoh masyarakat atau sesepuh masyarakat Sumba sendiri karena memang praktik kawin tangkap itu sendiri hanyalah tindakan yang terjadi karena kondisi dan iklim kehidupan sesaat di daerah itu,” katanya.

    Pater menambahkan bahwa pada umumnya masyarakat Sumba juga sedang mengupayakan untuk menghindari praktik kawin tangkap yang dianggap kontroversial bagi kebanyakan orang.

    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengatakan bahwa praktik kawin tangkap sebagaimana yang terjadi di Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.

    “Budaya atau tradisi tidak statis tetapi dinamis. Kasus kawin tangkap adalah praktik kekerasan dan pelecehan terhadap kaum perempuan dan anak. Jadi jangan sampai alasan tradisi budaya dipakai hanya sebagai kedok untuk melecehkan perempuan dan anak,” ujarnya.

    Menyusul laporan aktivis ke kepolisian mengenai praktik kawin tangkap di Sumba, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak meminta Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur untuk segera menangkap para pelaku kawin tangkap.

    Hal senada disampaikan oleh anggota Komisi IX DPR RI dari Daerah Pemilihan Sumba Ratu Ngadu Bonu Wulla yang mengaku prihatin terhadap praktik kawin tangkap yang sampai sekarang masih terjadi di Pulau Sumba.

    “Saya sebagai seorang perempuan dan juga berasal dari Sumba saya tidak setuju dengan budaya ini jika dipertahankan karena memang sangat berdampak buruk pada kaum perempuan di Sumba,” ujarnya.

    Kemudian, salah seorang warga di Sumba Tengah bernama Rambu Prailiang, dikutip dari laman Merdeka, mengaku bahwa praktik kawin tangkap yang terjadi sekarang sangat berbeda sekali dengan tradisi dulu.

    “Tradisi ini sebenarnya sudah menjadi tradisi yang turun temurun. Namun jika dilihat yang terjadi saat ini berbeda sekali dengan yang terjadi pada lalu-lalu,” katanya.

    Menurutnya, di masa lalu, perempuan yang menjalankan tradisi kawin tangkap atau Palaingidi Mawini sangat dihargai, bukan dipaksa.

    Orang yang menjalankan praktik kawin tangkap juga berasal dari keluarga kaya karena belis atau mahar yang harus dibayarkan ke pihak perempuan cukup tinggi.

    Perempuan yang akan “ditangkap”, juga sudah dipersiapkan layaknya pengantin pada umumnya.

    Mempelai perempuan sudah didandani dengan pakaian adat lengkap, gelang gading, dan aneka perhiasan menempel di tubuhnya.

    Sedangkan pria yang akan menikahi perempuan itu pun mengenakan pakaian adat lengkap dan menunggang kuda berhias kain adat.

    Setelah mempelai perempuan “ditangkap”, pihak laki-laki akan mengirim utusan ke keluarga perempuan untuk menyampaikan informasi mengenai kejadian kawin tangkap tersebut.

    Itulah kawin tangkap di zaman dulu, menurutnya.

    Namun, menurut Rambu, praktik kawin tangkap sekarang lebih mengarah pada penculikan dan membuat kaum perempuan Sumba hidup dalam ketakutan.

  • Tenun Ulap Doyo, Warisan Budaya Dayak yang Memesona

    Tenun Ulap Doyo, Warisan Budaya Dayak yang Memesona

    Bicara tentang tradisi dan budaya, Indonesia adalah rajanya. Bagaimana tidak, negeri kita tercinta ini memiliki lebih dari 1.300 suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

    Namun, kendati Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, tapi tidak semua berhasil dilestarikan hingga akhirnya hilang ditelan peradaban.

    Maka dari itu, tugas kita sebagai generasi muda adalah menjaga serta melestarikan budaya-budaya yang ada di Indonesia.

    Dari sekian banyak budaya yang jarang terekspos, ada satu yang berasal dari pedalaman Kalimantan, tepatnya di wilayah Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat.

    Di sini, ada sebuah produk tekstil tradisional yang sering disebut Tenun Ulap Doyo, yaitu jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia).

    Selain sebagai warisan budaya, Ulap Doyo juga sekaligus menjadi identitas bagi suku Dayak Benuaq yang menghuni wilayah setempat.

    Proses Pembuatan Tenun Ulap Doyo

    Menurut informasi yang dihimpun, material yang digunakan untuk membuat Ulap Doyo adalah daun doyo, tanaman sejenis pandan yang tumbuh liar di hutan wilayah Kutai Barat.

    Agar dapat digunakan sebagai bahan baku tenun, daun-daun tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu.

    Setelah kering, kemudian daun-daun itu disayat mengikuti arah serat hingga menjadi seratan yang halus.

    Kemudian serat-serat halus itu dilinting hingga membentuk benang kasar. Nah, dari benang kasar itulah nantinya Ulap Doyo akan dibuat.

    Namun, sebelum diproses menjadi kain tenun, benang kasar itu diwarnai terlebih dahulu menggunakan pewarna alami dari tumbuhan.

    Sebenarnya ada banyak warna yang bisa digunakan, sesuai dengan selera.

    Tapi umumnya menggunakan warna merah dan cokelat yang berasal dari buah gelinggam, buah londo, kayu oter, dan kayu uwar.

    Sejarah Kain Tenun Ulap Doyo

    Meskipun tidak diketahui secara pasti awal mula lahirnya budaya ini, tapi banyak yang mengatakan jika Ulap Doyo sudah ada sejak berabad-abad silam, hampir sama usianya dengan Kerajaan Hindu Kutai.

    Pendapat ini diperkuat dengan adanya temuan antropologi yang mendapatkan korelasi antara motif pada Ulap Doyo dengan strata sosial dari kelompok masyarakat saat itu.

    Ada beberapa motif dari Ulap Doyo ini yang menyimpan unsur sejarah. Misalnya motif waniq ngelukng yang digunakan oleh masyarakat biasa.

    Sedangkan motif jaunt nguku digunakan oleh para raja atau kalangan bangsawan.

    Dari motif-motif inilah terjadi korelasi dalam disiplin antropologi guna mengidentifikasi usia Ulap Doyo.

    Namun, seiring perkembangan zaman, Ulap Doyo kini memiliki berbagai motif unik, seperti motif Limar, Naga, Timang, Kinas, Timang Sesat Sungkar, Tukar Koray, Tipak Mening Knowala, Tipak Nuat, Motif Upak Tolang, Motif Tengkulutn Tongau, dan Motif Brabakng.

  • Rampogan Macan, Tradisi Bertarung Melawan Macan di Tanah Jawa

    Rampogan Macan, Tradisi Bertarung Melawan Macan di Tanah Jawa

    Rampogan Macan

    Bicara tentang tradisi, Indonesia adalah rajanya. Bagaimana tidak, negeri kita tercinta ini adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 1.300 suku yang memiliki budaya dan tradisi masing-masing.

    Di tanah Jawa sendiri, ada segudang tradisi yang menjadi bukti kekayaan Indonesia, salah satunya adalah Rampogan Macan.

    Ya, rampogan macan adalah sebuah tradisi membunuh harimau yang dilakukan beramai-ramai menggunakan tombak. Harimau yang diadu merupakan harimau hasil tangkapan dari hutan.

    Banyak versi mengenai awal mula lahirnya tradisi ini. Ada yang mengatakan jika tradisi Rampogan Macan sudah berlangsung sejak abad ke 17 di Mataram saat pemerintahan raja Amangkurat II

    Versi lain mengatakan jika tradisi ini sudah berlangsung sejak jaman Kerajaan Singasari.

    Menurut buku “Bakda Mawi Rampog” ciptaan R Kartawibawa, disebutkan jika tradisi ini memang sudah ada sejak jaman kerajaan.

    Yang mana, macan tersebut dijuluki sebagai “sima” atau kucing besar. Kadang juga istilah ini merujuk pada macan loreng.

    Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1923 oleh Balai Pustaka (Bale-Poestaka) dan dipindai oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada, penulis menceritakan bahwa ketika dia kecil, hal ini memang menjadi suatu hal yang lumrah dilakukan.

    Lebih dari itu, macan memang menjadi hewan buas yang diburu sebab sering menyantap hewan ternak masyarakat sekitar.

    Bahkan, penguasa pada saat itu sampai memberikan upah sebesar 10 hingga 50 Gulden kepada siapapun yang dapat menangkap atau membunuh si loreng.

    Dijelaskan pula bahwa istilah “rampog” yang digunakan tidaklah sama dengan kata rampog dalam Bahasa Betawi yang bermakna perampas karena pertunjukkan ini berlangsung di wilayah Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta, dan kawasan Jawa Timur.

    Rampog di sini berarti beramai-ramai membunuh harimau dengan menggunakan tombak.

    Pada acara inti, masing-masing orang akan menunjukkan keahlian serta keampuhan tombak mereka dalam membunuh harimau.

    Biasanya, harimau dilepaskan di tengah alun-alun. Proses akan mudah ketika harimau sedang berang.

    Namun, ketika harimau sedang dalam kondisi diam, orang-orang akan memancing amarahnya dengan berbagai cara, salah satunya dengan meledakkan mercon besar.

    Saat harimau sudah murka, maka dia akan menerjang kerumunan orang yang jumlahnya ratusan.

    Saat itulah, harimau diserang menggunakan tombak-tombak yang sudah mereka siapkan dengan ritual khusus. Setelah mati, harimau akan dibeli oleh para saudagar kala itu.

    Tradisi ini menyebabkan populasi harimau loreng punah secara perlahan-lahan. Apalagi populasi harimau Jawa cukup langka.

    Hingga pada akhirnya di tahun 1905, negara melarang dan tidak memperbolehkan tradisi ini lagi demi menjaga populasi harimau Jawa.

    Semakin berkembangnya dunia pendidikan, The International Union for Conservation of Nature (IUCN), dalam situs resminya menyebutkan jika harimau Jawa sudah dikatakan punah sejak dekade 1970-an yang faktornya tak lain karena perburuan, kerusakan hutan, dan kehilangan mangsa.

  • Nyaris Sama, Inilah 6 Perbedaan Budaya Jepang dan Korsel

    Nyaris Sama, Inilah 6 Perbedaan Budaya Jepang dan Korsel

    Perbedaan Budaya Jepang dan Korsel

    Jepang dan Korea Selatan adalah dua negara maju yang menjadi percontohan banyak negara berkembang di dunia.

    Selain itu, kedua negara ini juga memiliki banyak kemiripan, mulai dari bentuk fisik warganya hingga tradisi serta budaya.

    Namun, meskipun memiliki kemiripan dalam budaya, faktanya ada perbedaan yang cukup signifikan antara keduanya.

    Hal ini menarik untuk dibahas karena tidak sedikit orang yang salah menyimpulkan sehingga sering tertukar.

    Agar lebih jelas, simak beberapa perbedaan budaya Jepang dan Korea Selatan berikut ini.

    1. Cara Memberi Salam

    Jepang dan Korsel memang memiliki kesamaan dalam memberi salam kepada orang lain, yaitu membungkuk.

    Namun, yang membedakan adalah orang Jepang membungkuk lebih rendah daripada orang Korea Selatan.

    Selain itu, di Jepang ada sebuah tradisi membungkuk berulang-ulang karena mereka menganggap orang yang terakhir membungkuk adalah sopan.

    Sedangkan di Korsel, mereka hanya membungkuk sekali saja.

    2. Arsitektur Bangunan

    Jika dilihat sekilas, kedua negara ini sepertinya memiliki bentuk bangunan yang nyaris sama karena identik dengan kuil dan istana.

    Padahal sebenarnya tidak. Ada ukiran-ukiran serta motif yang berbeda diantara keduanya.

    Selain itu, di Korsel terdapat banyak istana-istana sisa zaman kerajaan.

    Sedangkan di Jepang, lebih banyak kuil peninggalan zaman dulu yang difungsikan hingga sekarang.

    3. Budaya Pendidikan

    Jepang dan Korea Selatan memiliki sistem pendidikan yang sama majunya dengan mengedepankan teknologi.

    Hanya saja, di Jepang juga ada sebuah materi pembelajaran informal yang mengajarkan tentang etika dan sopan santun, khususnya kepada orang yang lebih tua.

    Namun untuk urusan formal, mereka berdua sama-sama memiliki sistem yang apik.

    4. Budaya Berpakaian

    Jepang memiliki pakaian tradisional yang bernama Kimono. Sedangkan Korsel memiliki pakaian tradisional yang bernama Hanbok.

    Meski terlihat sama, padahal keduanya memiliki perbedaan. Salah satunya adalah dari motif dan garis.

    Hanbok umumnya lebih cerah dengan garis yang sederhana dan tidak memiliki saku.

    Sedangkan Kimono umumnya memiliki motif ramai, misalnya bunga sakura atau motif lain sesuai dengan budaya setempat.

    5. Bentuk Wajah

    Wajah orang Jepang dan Korea Selatan memang rupawan. Tapi ada perbedaan diantara keduanya.

    Umumnya orang Jepang memiliki bentuk wajah yang sedikit oval dengan tulang pipi sedikit ke bawah.

    Sedangkan orang Korea memiliki bentuk wajah sedikit datar dengan tulang pipi terangkat.

    6. Bentuk Mata

    Orang Jepang memiliki bentuk mata yang lebih besar dibandingkan orang Korea.

    Bentuk mata orang Jepang kecil memanjang yang terlihat jelas pada perempuannya.

    Sedangkan bentuk mata orang Korea lebih kecil lagi dengan satu kelopak mata.

  • 7 Pasar Seni Terbaik di Indonesia, Sudah Tahu Belum?

    7 Pasar Seni Terbaik di Indonesia, Sudah Tahu Belum?

    Indonesia adalah salah satu negara dengan budaya dan kesenian yang melimpah.

    Dari Sabang sampai Merauke, ada segudang kesenian dengan keindahan masing-masing.

    Dengan seni yang melimpah, tak heran jika terdapat banyak pasar seni di Indonesia.

    Nah, bicara tentang pasar seni, kali ini sastrawacana.id/ telah merangkum 7 pasar seni terbaik di Indonesia yang bisa kamu kunjungi.

    Pasar Seni Terbaik Indonesia

    Apa saja pasar seni terbaik di Indonesia? Berikut diantaranya.

    1. Pasar Seni Sukawati Bali

    Bali adalah salah satu daerah potensial yang dimiliki oleh Indonesia. Selain kaya akan tempat wisata, Bali juga terkenal dengan keseniannya.

    Ada banyak pasar seni di Bali, salah satunya adalah pasar seni Sukawati yang terletak di Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar.

    Di pasar ini tersedia berbagai macam hasil seni setempat, seperti patung tradisional, lukisan, topeng, pernak-pernik, kain motif Bali, dan masih banyak lagi.

    2. Pasar Triwindu Surakarta

    Pasar Triwindu Surakarta termasuk sebagai salah satu pasar seni terbaik di Indonesia.

    Usia pasar ini cukup tua hingga pada tahun 1939 dibangun kembali dan hingga saat ini tidak pernah sepi.

    Di sini, kamu akan melihat beragam barang seni mulai dari pernak-pernik, aneka keris Jawa, barang kuno, mesin tik kuno, lukisan, motor tua, hingga kain dengan batik khas Surakarta.

    3. Pasar Beringharjo Yogyakarta

    Pasar seni yang satu ini terletak di jantung kota Yogyakarta.

    Kabarnya, pasar Beringharjo sudah menjadi pusat perbelanjaan sejak tahun 1758 dan hingga kini masih dipadati oleh masyakarat, baik setempat maupun pelancong.

    Selain sebagai pusat seni, pasar Beringharjo juga menjadi ikon bersejarah yang dimiliki oleh Yogyakarta.

    4. Pasar Gede Hardjonagoro Surakarta

    Selain menjadi pusat perbelanjaan yang menjual karya seni, pasar ini juga menjadi sorotan banyak orang karena bentuk bangunannya yang penuh histori.

    Pasar ini menggabungkan beberapa unsur budaya, seperti Eropa, Tiongkok, dan Jawa.

    Selain banyak karya seni, Pasar Gede Hardjonagoro, Surakarta juga menyediakan aneka kuliner lokal.

    5. Pasar Baru Jakarta

    Tidak seperti namanya, pasar Baru Jakarta bukanlah pusat perbelanjaan yang baru berdiri, tapi sudah ada sejak tahun 1800-an.

    Sampai sekarang, pasar ini tidak pernah sepi karena diserbu oleh pengunjung setiap hari.

    Di pasar Baru, kamu bisa membeli aneka ragam barang seni, mulai dari aksesoris, bahan tekstil, elektronik, pakaian, hingga barang antik dengan unsur seni tinggi.

    6. Pasar Seni Banyumulek Lombok

    Pasar seni Banyumulek Lombok adalah salah satu pasar seni terbaik yang ada di Pulau Lombok.

    Desa setempat memang dipenuhi oleh masyarakat dari golongan seni sehingga hasil karya mereka dijual secara resmi melalui pasar seni.

    Ada banyak barang seni yang bisa kamu temukan di sini, salah satu yang paling menarik adalah perlengkapan dapur dengan bentuk yang unik.

    7. Pasar Seni Ubud Bali

    Nama pasar seni Ubud sudah mendunia. Tidak hanya pelancong lokal saja, tapi pelancong mancanegara juga sering mengunjungi pasar ini untuk membeli oleh-oleh khas Bali.

    Lokasinya pun dekat dengan pusat kota Ubud sehingga sering digunakan sebagai persinggahan bagi bus pariwisata atau rombongan yang liburan ke Bali.

    Nah, itulah beberapa pasar seni terbaik di Indonesia. Ada yang mau nambahin lagi? Jangan lupa share artikel ini untuk berbagi manfaat kepada orang lain.

  • Mengenal Pring Petuk, Jenis, Kegunaan, dan Harganya

    Mengenal Pring Petuk, Jenis, Kegunaan, dan Harganya

    Indonesia adalah salah satu negara yang kebanyakan masyarakatnya masih mempercayai hal-hal berbau mistis.

    Buktinya, banyak benda pusaka yang masih dipercaya oleh masyarakat Indonesia, salah satunya adalah pring petuk.

    Pring Petuk Asli

    Tahukah kamu apa itu pring petuk?

    Jadi, pring petuk adalah sebuah bambu yang berbeda dari bambu pada umumnya karena terdapat anomali yang unik, yaitu bertemunya dua ruas dalam arah berlawanan.

    Dari segi bahasa, pring adalah bambu, sedangkan petuk adalah bertemu. Sehingga secara sederhana, pring petuk bisa diartikan sebagai bambu yang ruasnya saling bertemu/berhadapan satu sama lain.

    Fenomena pring petuk bukan hal yang baru di Indonesia. Bahkan, kabarnya benda pusaka ini sudah dipercaya sejak ratusan tahun lalu.

    Ini adalah sebuah bukti konsistensi masyarakat Nusantara yang masih memegang tradisi lama hingga sekarang.

    Padahal, untuk mendapatakan pring petuk tidak semudah membalikkan telapak tangan.

    Ada risiko yang harus ditanggung sehingga tidak semua orang bisa mendapatkannya.

    Konon, sebelum mengambil pring petuk, seseorang harus melakukan negosiasi terlebih dahulu dengan makhluk halus yang menjaga bambu itu.

    Proses negosiasi tidak selalu berjalan lancar. Kadang ada sedikit kendala yang menyebabkan penghuni bambu itu murka sehingga harus menyerang orang yang mencoba mengambil pring petuk.

    Sehingga tidak sembarang orang bisa mengambil benda pusaka yang satu ini.

    Khasiat dan Manfaat Pring Petuk

    Apa Fungsi dan Kegunaan Pring Petuk?

    Konon katanya, khasiat pring petuk bisa membuat pemiliknya kaya raya karena benda pusaka ini bisa menjadi pelaris dan penarik rezeki.

    Entah darimana dasarnya, yang jelas teori ini masih dipercaya dan katanya sudah terbukti.

    Oleh karenanya, tak heran jika banyak orang yang mencari pring petuk asli karena bisa digunakan sebagai jimat atau benda pusaka.

    Harga Pring Petuk

    Berapa harga pring pethuk?

    Tidak sedikit pula yang memanfaatkan fenomena ini sebagai sebuah ladang bisnis karena harga pring petuk asli memang cukup tinggi. Harganya bervarian dilihat dari jenisnya.

    Dimulai dari jutaan hingga ratusan juta. Bahkan, ada yang harganya menembus angka miliar! Sangat fantastis.

    Dari tingginya harga tersebut, bermunculan oknum-oknum yang membuat dan menjual pring petuk palsu.

    Diantara ruas bambu petuk asli dihuni oleh makhluk halus. Sedangkan yang palsu, biasanya disambung menggunakan lem dan material lainnya untuk mengelabui.

    Sehingga saat diuji oleh paranormal, pring petuk palsu tidak akan bereaksi karena tidak dihuni oleh makhluk halus.

    Filosofi Pring Petuk

    Apa filosofi pring petuk?

    Di samping menyimpan unsur mistis, pring petuk juga memiliki filosofi yang tinggi.

    Bambu ini merupakan salah satu bambu yang cukup sulit pertumbuhannya, alias sedikit lambat.

    Namun, meskipun tumbuhnya lambat, bambu petuk memiliki akar yang sangat kuat sehingga tidak mudah dirobohkan.

    Ini dijadikan dasar filosofi pring petuk yang dikaitkan dengan rezeki.

    Yang mana, dengan menyimpan pring petuk, maka rezeki seseorang akan kuat layaknya akar pring petuk yang tak goyah meski diterpa angin kencang.

    Memang fenomena pring petuk ini masih dianggap sebagai sebuah mitos. Percaya atau tidak dikembalikan kepada pribadi masing-masing.

    Yang jelas, mereka punya alasan sendiri kenapa percaya dengan pring petuk sampai rela membeli dengan harga yang tinggi.

  • Sejarah Tanah Jawa dan Unsur Gaib di Dalamnya

    Sejarah Tanah Jawa dan Unsur Gaib di Dalamnya

    Sejarah Tanah Jawa

    Tanah Jawa atau Bhumi Jawa dan Daerah Jawa, merupakan beberapa daerah di pulau Jawa yang lebih condong ke wilayah Timur. Yang identik dengan Suku Jawa dan Adat istiadat Jawa.

    Pulau Jawa adalah pulau terbesar dan memiliki penduduk terbanyak di Indonesia. Kamu bisa menemukan Ibukota negara di pulau ini, sehingga menjadikan kota-kota sekitarnya lebih berkembang daripada kota yang berada di luar Pulau Jawa.

    Namun, apakah kamu mengetahui tentang asal muasal munculnya pulau ini? Berikut adalah sejarah tanah jawa yang kental dengan unsur gaib dan mistisnya.

    1. Proses Kemuculan Pulau Jawa

    Menurut ahli geologi menyebutkan proses terjadinya daratan yang terjadi di belahan Asia bagian selatan adalah akibat dari proses pergerakan anak benua India ke utara yang bertabrakan dengan lempengan sebelah utara. Pergerakan lempeng bumi inilah yang melahirkan gunung Himalaya.

    Konon, pada zaman dahulu anak benua di selatan sebagian terendam air laut, sehingga yang muncul di permukaan air adalah gugusan pulau yang merupakan mata rantai gunung berapi. Gugusan pulau itu adalah di Asia Tenggara salah satunya adalah Nuswantoro (Nusantara).

    2. Ditemukannya Pulau Jawa

    Setelah kemunculannya. Ternyata, tidak banyak warga dunia yang mengetahui keberadaan pulau ini. Hingga salah seorang peziarah dari china (Fa Hien) yang menemukannya pada tahun 414 Masehi.

    Menurut dari salah satu sumber menyebutkan bahwa pada 2.000 tahun sebelum Masehi. Pulau Jawa masuk dalam koloni bangsa Atlantis. Lalu, setelah Atlanstis hancur, hanya tinggal Jawa yang seperti sekarang ini.

    3. Ajaran Yang Ditinggalkan Bangsa Atlantis

    Sejarah gaib tanah jawa tak lepas dari pengaruh bangsa Atlantis yang berkuasa. Ketika pulau Jawa masih dikuasai oleh bangsa Atlantis, ajaran gaib dan mistis mulai mereka ajarkan kepada rakyat Jawa yang tinggal di sini. Sehingga menjadikan rakyat Jawa pada kala itu memuja para dewa.

    Raja pada waktu itu meminta pagar gaib untuk melindungi Pulau Jawa. Selain itu, tujuannya adalah agar pengaruh ajaran gaib hitam ini tetap berlanjut dari abad ke abad. Tentu saja hal tersebut cukup merusak tatanan kehidupan yang ada saat itu.

    4. Datangnya Agama Hindu Yang Penuh Lika Liku

    Sekitar 1.200 tahun sebelum masehi, Raja Vaivasvata yang beragama Hindu datang secara damai ke Tanah Jawa. Awalnya, mereka membuat perdagangan kecil kemudian seiring berjalannya waktu pendatang Hindu meningkat pesat dan akhirnya mereka menjadi dominan dalam komunitas.

    Meskipun ajaran agama Hindu sudah bisa diterima di kalangan rakyat Jawa. Namun, mereka kembali ke ajaran lama yaitu ajaran ilmu hitam yang semakin menjadi-jadi.

    Setelah itu, datang lah seorang pemimpin Ekspedisi yaitu Aji Saka yang diemban tugaskan oleh Raja Vaivasvata untuk memberantas aliran hitam di pulau ini.

    Aji Saka menanamkan jimat yang memiliki magnet kuat yang ditanam di titik Pulau Jawa untuk memusnahkan aliran hitam di pulau ini. Saat itu juga Aji Saka dianggap melambangkan kedatang Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Budha).

    5. Aliran Sesat Yang Kembali Di Tanah Jawa

    Setelah penanaman jimat dari Aji Saka, memang bertahan hingga ratusan tahun. Namun setelahnya, keadaan kembali seperti semula. Di mana jin mulai berkuasa dan bencana merajalela. Pada masa itu ajaran sesat semakin berkembang. Dibuktikan dengan munculnya kejawen, klenik, dan juga kebatianan.

    6. Kedatangan Syekh Subakir

    Hingga pada abad ke 13, seorang ulama yang dikirm oleh Turki Utsmaniah ke Tanah Jawa untuk memberantas dari pengaruh buruk ajaran sesat, yaitu Syekh Subakir.

    Ia mengetahui bahwa pengaruh ilmu gaib sangat kuat di sini. Sehingga ia membawakan batu hitam dari Arab yang telah dirajah.

    Kemudian, Syekh Subakir memasangnya di Puncak Gunung Tidar, Magelang. Konon di puncak inilah titik pertengahan dan paku dari Tanah Jawa. Sehingga pengaruh gaib dapat dihalau.

    Setelah masa Syekh Subakir yang memagarai pengaruh gaib berakhir, kemudian perjuangan ini dilanjutkan oleh Wali Songo. Para wali ini berjuang dengan cara menyebarkan Agama Islam kepada seluruh Rakyat di Tanah Jawa.

    Nah, itulah sejarah asal muasal terbentuknya Pulau Jawa hingga masuknya beberapa Agama di pulau ini. Sungguh penuh perjuangan para pendahulu-pendahulu yang ingin menyelamatkan Tanah Jawa dari Pengaruh Negatif hingga menjadi pulau yang seperti ini sekarang.

    Sumber :

    Sindonews (https://daerah.sindonews.com/read/998989/29/kisah-sejarah-gaib-tanah-jawa-1431076748)

  • Pengertian Komunikasi Antar Budaya dan Fungsinya

    Pengertian Komunikasi Antar Budaya dan Fungsinya

    Pengertian Komunikasi

    Komunikasi adalah proses penyampaian pesan antara komunikator terhadap komunikan melalui saluran-saluran tertentu baik secara verbal maupun non verbal dan menghasilkan efek tertentu.

    Dalam kehidupan sehari-hari, tak peduli di manapun berada, setiap orang akan selalu berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tertentu yang berasal dari kelompok, ras, etnik, ataupun negara lain.

    Berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya menjadikan sebuah pengalaman baru yang selalu dihadapi. Berkomunikasi adalah kegiatan yang popular dan bahkan selalu dilakukan dalam pergaulan manusia.

    Jane Pauley (1999) menyebutkan bahwa ada tiga komponen yang harus ada dalam peristiwa komunikasi, sehingga kalau satu komponen kurang maka komunikasi tak akan terjadi yaitu:

    1. Transmisi Informasi.
    2. Transmisi Pengertian.
    3. menggunakan simbol-simbol yang sama.

    Pengertian Komunikasi Antar Budaya

    Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan.

    Hammer (1989) mengutip perumpamaan Wilbur Schramm (1982) menggambarkan bahwa lapangan studi komunikasi itu ibarat sebuah oasis, dan studi komunikasi antarbudaya itu dibentuk oleh ilmu-ilmu tentang kemanusiaan yang seolah nomadik lalu bertemu di sebuah oase.

    Ilmu-ilmu sosial nomadik itu adalah antropologi, sosiologi, psikologi, dan hubungan internasional.

    Guo-Ming Chen dan William J.Starosta mengatakan bahwa komunikasi antar budaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing prilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.

    Komunikasi Antar Budaya Dilakukan

    • Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang di pertentangkan.
    • Memalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan di buat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama
    • Sebagai pembimbing prilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap prilaku kita
    • Menunjukan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.

    Sedangkan terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antar budaya. Hambatan komunikasi semacam ini lebih mudah untuk dilihat karena hambatan-hambatan ini banyak yang berbentuk fisik.

    Hambatan-hambatan tersebut adalah (Chaney & Martin, 2004, p. 11 – 12):

    1. Fisik (Physical)

    Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhandiri, dan juga media fisik.

    2. Budaya (Cultural)

    Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.

    3. Persepsi (Perceptual)

    Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda.

    4. Motivasi (Motivational)

    Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.

    5. Pengalaman (Experiantial)

    Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu.

    6. Emosi (Emotional)

    Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.

    7. Bahasa (Linguistic)

    Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata- kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.

    8. Nonverbal

    Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi.

    9. Kompetisi (Competition)

    Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan.

    Fungsi Komunikasi Antar Budaya

    Adapun beberapa fungsi dari komunikasi antar budaya adalah:

    1. Menyatakan Identitas Sosial

    Dengan adanya komunikasi antarbudaya, individu tersebut dapat menunjukkan identitas sosialnya sendiri.

    2. Menyatakan Intergasi Sosial

    Komunikasi antarbudaya dapat menyatukan dan mempersatukan antar pribadi dalam interaksi tersebut.

    3. Menambah Pengetahuan

    Komunikasi antarbudaya pun dapat memberikan wawasan yang baru, bahkan wawasan yang belum pernah diketahui oleh individu tersebut.

    4. Hubungan Interaksi

    Komunikasi antarbudaya juga dapat menciptakan hubungan yang komplementer serta hubungan yang selaras.