Tag: budaya

  • Unsur Kebudayaan Indonesia Menurut Coedes dan Dr Brandes

    Unsur Kebudayaan Indonesia Menurut Coedes dan Dr Brandes

    Unsur Kebudayaan menurut Coedes:

    1. Memelihara ternak
    2. Mengenal keterampilan tekhnik perundagian
    3. Mengenal pengetahuan pelayaran di samudra luas
    4. Sistem kekerabatan Patrineal
    5. Kepercayaan animisme dan dinamisme serta pemujaan roh nenek moyang
    6. Mengenalorganisasi pembagian air untuk pertanian
    7. Kepandaian membuat barang barang dari tanah liat
    8. Kepercayaan pada Penguasa Gunung
    9. Cara pemakaman pada dolmen atau kubur batu
    10. Mitologi

    Unsur Kebudayaan Menurut Dr Brandes:

    1. Bercocok tanampadi di sawah
    2. Mengenal prinsipdasar bermain wayang
    3. Mengenal seni gamelan yang terbuat dari perunggu
    4. Pandai batik
    5. Pola susunan masyarakat Macapat
    6. Telah mengenal alat tukar dalam perdagangan
    7. Membuat barang barang dari logam
    8. Memiliki kemampuan tinggi dalam berlayar
    9. Mengenal Astronomi
    10. Susunan masyarakat yang teratur

    Itulah unsur kebudayaan Indonesia menurut Coedes dan Dr Brandes.

    Budaya merujuk pada segala aspek yang berkaitan dengan cara hidup dan perilaku manusia, seperti nilai-nilai, adat istiadat, seni, bahasa, dan kepercayaan yang diterima dan diwariskan dari generasi ke generasi.

    Bicara tentang budaya, setiap negara atau daerah memiliki budaya yang berbeda-beda, yang membuat keberagaman budaya menjadi salah satu kekayaan dunia.

    Budaya juga memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan keberlangsungan hidup suatu masyarakat.

    Oleh karena itu, perlu untuk mempelajari dan memahami budaya yang ada di sekitar kita sebagai upaya menjaga keberagaman dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

  • Tradisi Petik Laut, Simbol Rasa Syukur Nelayan Banyuwangi

    Tradisi Petik Laut, Simbol Rasa Syukur Nelayan Banyuwangi

    Setiap daerah atau wilayah pasti mempunyai adat, tradisi, dan budaya masing-masing. Keberagaman itu merupakan salah satu faktor yang mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut.

    Seperti keberagaman tradisi yang terdapat di kota paling ujung timur pulau Jawa, yaitu Banyuwangi.

    Kota Gandrung ini memang terkenal dengan unsur magisnya, sehingga tak jarang jika tradisi yang ada selalu berkaitan dan berhubungan dengan nilai magis dan sakral. Seperti tradisi Petik Laut.

    Petik Laut adalah sebuah upacara adat atau ritual yang dilangsungkan oleh warga Banyuwangi, khususnya daerah atau pemukiman pesisir (pantai).

    Tujuannya adalah sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah, rezeki, dan keselamatan yang telah diberikan.

    Ritual ini dilakukan oleh para nelayan yang bermukim di daerah Muncar sebab daerah tersebut dihuni oleh mayoritas nelayan.

    Ritual yang digelar setahun sekali ini umumnya dilaksanakan pada bulan Purnama, tepatnya setiap Bulan Muharam atau yang lebih akrab dikenal Bulan Syuro.

    Ritual petik laut dipimpin oleh sesepuh adat yang berasal dari Madura karena asal muasal dari ritual ini berasal dari warga Madura yang menetap di Muncar.

    Hal tersebut ditandai dengan kelengkapan ornamen saat ritual yakni dengan mengenakan pakaian adat Madura, yaitu “Baju Sakera”.

    Dalam pelaksanaannya, para nelayan menyiapkan sesaji yang terdiri dari: kepala kambing kendit, aneka kue sebanyak 44 macam, buah-buahan, pancing emas, candu, tumpeng, ayam jantan, dan berbagai sesaji lainnya.

    Sesajian tersebut disusun serapi mungkin dan diletakkan pada kapal yang telah dihias dengan indah. Kemudian kapal tersebut bergerak ke tengah samudera dengan diiringi oleh puluhan kapal lain yang telah dihias juga.

    Selanjutnya kapal akan berhenti pada arus yang tenang di tengah lautan serta menenggelamkan sesaji yang telah dipersiapkan tersebut.

    Saat itu pula, terdengar teriakan ucap syukur dari para nelayan menggema di hingga ke tepi laut.

    Uniknya, saat sesaji tersebut telah ditenggelamkan, para nelayan malah menceburkan diri untuk merebutkan sesaji tersebut. Hingga akhirnya acara ini ditutup dengan doa.

    Sebenarnya serangkaian acara pada Petik Laut merupakan sebuah simbol rasa syukur para nelayan atas berkah yang diberikan oleh Tuhan.

    Diharapkan dengan meningkatkan rasa syukur, maka penghasilan dan jumlah tangkapan ikan akan bertambah setiap harinya.

    Perlu diketahui juga, tradisi Petik Laut tidak hanya dilangsungkan di Muncar saja tapi banyak daerah lain yang juga melangsungkannya, seperti Grajagan dan Bulusan.

    Bahkan ada beberapa Kabupaten lain yang melangsungkannya juga, seperti Jember, tepatnya di Kecamatan Puger.

    Author : Eva
    Editor  : Maulana Affandi

  • Godong Lemes, Kebudayaan Berorganisasi Asli Banyuwangi

    Godong Lemes, Kebudayaan Berorganisasi Asli Banyuwangi

    Bicara tentang kebudayaan dan adat-istiadat, tentu saja setiap daerah memiliki budaya dan adatnya masing-masing.

    Sebab, kebudayaan itu lahir dari buah pikir, ide, opini, serta kebiasaan masyarakat yang diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

    Ada budaya yang sudah dikenal dan bahkan dilestarikan sampai sekarang. Namun, ada pula kebudayaan yang sudah tak terlihat lagi, alias tak jelas juntrungannya.

    Hal itu adalah hal yang wajar, mengingat begitu banyaknya jumlah kebudayaan yang tercipta, jadi tidak semua bisa dijaga.

    Selain itu, penikmat serta pegiat budaya juga semakin tergerus jumlahnya, banyak generasi penerus yang enggan, bahkan tidak mau meneruskan apa yang sudah dibuat oleh orang terdahulu.

    Padahal, kebudayaan adalah salah satu wujud, bentuk, dan aset Negara yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya.

    Bicara tentang budaya yang mulai luntur tentu saja tidak terhitung jumlahnya, salah satu contoh adalah Godong Lemes yang berasal dari Kota Gandrung, Banyuwangi.

    Ya, mungkin sebagian dari kita, khususnya anak muda tidak mengetahui apa itu Godong Lemes.

    Dikutip dari berbagai sumber, Godong Lemes disebut sebagai kebudayaan masyarakat Banyuwangi zaman dulu dalam berorganisasi.

    Kabarnya, kebudayaan berorganisasi ini sudah ada sejak tahun 1963-an silam, yang berlangsung di Sawahan, Kelurahan Pengantigan Banyuwangi.

    Jadi, secara garis besar, Godong Lemes adalah sebuah perkumpulan sosial yang beranggotakan kepala keluarga lelaki atau lelaki dewasa di wilayah Sawahan dan merembet ke sekitarnya.

    Mereka berkumpul secara insidentil bila ada anggotanya yang akan mempunyai hajat: mengawinkan atau menyunatkan anak serta sanak saudara.

    Perkumpulan ini bisa dilakukan pada tempat tertentu, namun umumnya para lelaki dewasa tersebut akan melakukan musyawarah di kediaman yang punya hajat.

    Adapun pembahasan ketika mereka berkumpul adalah tiada lain hanya untuk urusan bersama yang meliputi toleransi, tenggang rasa, gotong royong, seperti sifat-sifat dasar yang diajarkan oleh nenek moyang kita.

    Tak kalah penting pula, para warga yang berkumpul tersebut juga akan memberikan sedikit materi yang dimiliki, alias iuran.

    Jumlahnya tidak ditentukan, tapi seikhlas dan semampunya. Tentu saja ini merupakan bentuk toleransi dan kepedulian sosial yang teramat baik, bukan?

    Tidak sampai di situ saja, saat berkumpul ada kelakar dan candaan yang dilontarkan kepada tuan rumah yang akan segera melakukan hajat.

    Namun, lebih menarget kepada sosok atau seseorang yang akan dihajatkan. Guyonan khas Banyuwangi akan keluar dari lisan mereka, tujuannya tidak lain hanya untuk melatih mental serta menambah keakraban.

    Kabar terkini mengatakan jika kebudayaan berorganisasi Godong Lemes dibentuk oleh Almarhum Bapak Bacar Am dan Buang Asmono pada tahun 1963-an.

    Walau sudah tidak seramai dulu, tapi budaya ini masih bertahan hingga sekarang, meskipun hanya segelintir orang yang melakukannya dan tanpa pernah dipublikasikan.

    Kebudayaan berorganisasi ini juga terbilang cukup unik dan memiliki karakteristik, misalnya bila ada anggota Godong Lemes yang mempunyai anak 9 (Sembilan), maka dia berhak untuk didatangi anggota sebanyak 9 (sembilan) kali bila mempunyai hajat.

    Jadi, tidak ada istilah hitung-hitungan, berapapun anaknya, warga tetap akan membantu sebagai wujud toleransi yang luhur.

    Disadur dari tulisan Elvin Hendratha

  • Pengertian Budaya dan Sifat Kebudayaan Menurut Para Ahli

    Pengertian Budaya

    Budaya adalah sebuah opini, ide, gagasan, buah pemikiran yang diimplementasikan bersama oleh kelompok orang secara turun-menurun, generasi ke generasi dari nenek moyang atau pendahulunya.

    Bicara tentang budaya, kadang tidak ada habisnya. Sebab, budaya itu sifatnya unik yang terbentuk dari banyak unsur.

    Adapun unsur budaya eperti agama, suku, politik, adat-istiadat, bahasan, seni, dan masih banyak unsur lainnya.

    Ketika semua unsur itu disatukan, maka muncullah sebuah gagasan yang disebut budaya. Oleh karenanya, budaya juga bisa dipandang dengan berbagai sudut pandang berbeda, tergantung dari kemampuan berpikir setiap pelakunya.

    Dengan anggapan seperti itu, secara tidak langsung juga menjelaskan jika budaya sifatnya adalah dinamis, dapat berubah, dan menerima adanya masukan sehingga dikenal sebuah istilah yang bernama akulturasi.

    Pengertian Budaya Menurut Para Ahli

    Untuk lebih jelas, berikut adalah beberapa definisi budaya menurut para ahli.

    1. Budaya Menurut Koentjaraningrat

    Budaya adalah suatu sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar.

    2. Budaya Menurut E.B. Taylor

    Budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat.

    3. Budaya Menurut Kluckhohn dan Kelly

    Budaya adalah semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu, sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia.

    4. Budaya Menurut Linton

    Budaya adalah keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu.

    5. Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Budaya diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-istiadat. Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia.

    Sifat Sifat Budaya

    1. Etnosentis

    Sifat etnosentris adalah sebuah sifat kebudayaan merasa bahwa kebudayaannya adalah yang terbaik, jika dibandingkan dengan budaya-budaya yang lainnya.

    Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan budayanya sendiri.

    2. Universal

    Kebudayaan universal adalah kebudayaan yang selalu mencari jawaban atas problematika masyarakat, bukan apologi terhadap kesenian, tidak pula apriori terhadap politisasi massa.

    Tetapi, lebih merujuk pada rasionalitas untuk menjangkau perkembangan masyarakat majemuk Indonesia di masa depan.

    3. Akulturasi

    Akulturasi adalah suatu proses sosial yang muncul manakala suatu kelompok manusia dan kebudayaan tertentu bertemu dengan unsur dari suatu kebudayaan asing.

    Lambat laun, kebudayaan asing itu akan diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri menghilangkan unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

    Singkatnya, akulturasi bisa disebut sebagai campuran dua budaya yang membentuk sebuah budaya baru.

    4. Adaptif

    Sifat adaptif beranggapan bahwa kebudayaan adalah suatu mekansime yang dapat menyesuaikan diri. Kebudayaan adalah sebuah keberhasilan mekanisme bagi setiap manusia.

    Lantas, kebudayaan memberi manusia sebuah keuntungan selektif yang beguna untuk bertahan hidup terhadap bentuk kehidupan yang lain.

    5. Dinamis

    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kebudayaan itu tidak statis, tapi dinamis yang selalu berubah-ubah.

    Sebab, semakin hari akan ada unsur baru yang bisa bersahat dengna kebudayaan, bahkan bisa menggerus posisinya. Maka dari itu, lingkungan juga berpengaruh dalam perubahan kebudayaan secara lambat laun.

    Itulah beberapa pengertian budaya dan sifat kebudayaan menurut para ahli yang harus kita ketahui sebagai manusia yang sadar akan kebudayaan.

  • Festival Ogoh-Ogoh: Bentuk Kekompakan Umat Hindu di Bali

    Festival Ogoh-Ogoh: Bentuk Kekompakan Umat Hindu di Bali

    Setiap Agama memiliki hari rayanya masing-masing, begitu pula dengan Agama Hindu. Pada ajaran Agama Hindu, hari raya terbesarnya adalah Hari Raya Nyepi yang dilangsungkan setiap tahun baru menurut kalender Saka.

    Dipercayai oleh umat Hindu, bahwasanya Nyepi merupakan hari penyucian. Yang mana, setiap umat Hindu memohon kepada Tuhan YME untuk menyucikan alam semesta beserta isinya.

    Ada yang menarik saat umat Hindu memperingati Hari Raya Nyepi di Pulau Seribu Pura, Bali, yaitu festival ogoh-ogoh.

    Perlu diketahui terlebih dahulu, ogoh-ogoh merupakan sebuah seni patung dalam kebudayaan dan tradisi Bali. Bentuk dan ide cerita ogoh-ogoh umumnya berpegang pada cerita pewayangan. Namun, seiring perkembangan dunia seni, konsep dari ogoh-ogoh pun semakin bervarian pula.

    Tidak hanya menjadikan cerita pewayangan sebagai konsep, kini ogoh-ogoh yang diciptakan juga turut mengambil konsep lain, salah satunya adalah politik.

    Penampilan festival ogoh-ogoh di Bali dilakukan pada malam sebelum Hari Raya Nyepi yang biasa disebut Ngrupuk.

    Dihimpun dari berbagai sumber, bahwasanya aktivitas Ngrupuk ini bertujuan untuk mengusir Buta Kala dan energi negative di daerah setempat.

    Saat Buta Kala dan energi negative tersebut telah diusir, maka keesokan harinya umat Hindu di Seluruh Pulau Dewata akan tenang dan khitmad dalam menjalankan ibadah pada Hari Raya Nyepi.

    Pada kehidupan bermasyarakat di Bali, dikenal adanya “Banjar”. Banjar sendiri memiliki arti sebuah kesatuan masyarakat yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.

    Banjar diakui oleh hukum dan sangat dihormati dalam kehidupan bermasyarakat rakyat Bali. Banjar memiliki struktur organisasi yang kompleks, anggotanya pun terdiri dari pemuda serta orang tua.

    Dalam proses penciptaan karya yang sudah turun-menurun ini, seluruh masyarakat sekitar atau Banjar sangat kompak dan saling berkolaborasi guna menyelesaikannya.

    Lebih indahnya lagi, setiap Banjar memiliki karya masing-masing. Bahkan, beberapa Banjar menciptakan karya ogoh-ogoh lebih dari satu.

    Tidak ada sifat bersaing, justru setiap Banjar menunjukkan sifat dewasanya yaitu kekompakan dan toleransi bermasyarakat.

    Mmereka saling berbagi dan saling memberi saran guna menciptakan sebuah karya yang indah dan sedap untuk dinikmati oleh setiap penghuni Pulau Bali.

    Festival ogoh-ogoh merupakan salah satu dari sekian banyaknya budaya yang ada di Bali yang dapat menarik minat turis lokal maupun international.

    Bagaimana tidak, saat Ngrupuk sudah dimulai, terlihat ribuan ogoh-ogoh dengan bentuk yang berbeda di arak keliling oleh pemuda-pemudi Bali. Hal tersebut tentunya memanjakan mata setiap yang melihatnya.

    Inilah suatu bentuk kekompakan Umat Hindu di Bali yang patut dijadikan contoh oleh setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat. Saling membantu, saling berbagi, dan saling memotivasi.

    Author : Maulana Affandi

  • Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi dan Asal Usulnya

    Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi dan Asal Usulnya

    Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi

    Membahas tentang keindahan kota Banyuwangi memang tidak akan pernah ada habisnya.

    Banyuwangi merupakan kota yang sarat akan keindahan wisata, budaya, tradisi, dan kesenian.

    Salah satu kesenian yang telah menjadi ciri khas dari kota tersebut adalah Tari Gandrung.

    Kata “Gandrung” sendiri memiliki arti yaitu terpesonanya masyarakat Blambangan kepada Dewi Sri yang mereka percaya sebagai Dewi padi yang telah membawa kesejahteraan untuk pertanian mereka.

    Tujuan dari tari Gandrung adalah sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat akan hasil panen yang melimpah.

    Tari gandrung sendiri memiliki histori dan filosofi yang sangat menarik.

    Menurut sejarah, kesenian Gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirtagondo” untuk membangun ibukota Blambangan atas perintah dari Mas Alit yang telah dilantik sebagai Bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang.

    Pada awal kemunculannya, tari gandrung dibawakan oleh para lelaki yang berdandan seperti perempuan.

    Namun, pada tahun 1980an, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dan benar benar berakhir pada tahun 1914 setelah kematian penari terakhirnya yakni Karsan.

    Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi.

    Semi merupakan seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang menderita penyakit cukup parah pada tahun 1895.

    Segala macam cara sudah dilakukan demi kesembuhannya, namun Semi tak kunjung sembuh.

    Akhirnya Ibu Semi bernazar “kadhung sira waras, sun dhadekaken seblang, kadhung sing yo sing” yang berarti (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu seblang, kalau tidak ya tidak jadi).

    Lambat laun kesehatan Semi mulai berangsur membaik dan dijadikanlah dia seblang serta dimulainya babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh perempuan.

    Tradisi gandrung yang dilakukan oleh semi kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya.

    Pada mulanya tari gandrung hanya boleh ditarikan oleh keturunan penari gandrung saja.

    Namun di tahun 1970an, mulai banyak anak perempuan muda yang belajar tari gandrung sehingga tarian ini dikenal oleh seluruh masyarakat Banyuwangi.

    Pada perkembangan jaman, kesenian gandrung banyuwangi melibatkan seorang penari wanita profesional bersama para tamu pria yang menari dengan iringan musik khas Jawa dan Bali.

    Seperti gong, kluncing, biola, kendhang, kethuk dan panjak sebagai pelengkapnya.

    Selain itu di selingin dengan Saron Bali, angklung atau rebana sebagai bentuk kreasi.

    Tari gandrung di bagi menjadi 3 bagian yaitu:

    1. Jejer

    Merupakan bagian pembuka pertunjukan dengan dinyanyikannya beberapa lagu oleh penari secara solo.

    2. Maju

    Setelah jejer selesai, sang penari Gandrung memainkan dan memberikan selendangnya kepada tamu pria.

    Umumnya tamu-tamu pentingkah yang berkesempatan untuk menari terlebih dahulu.

    Penari Gandrung mendatangi tamu yang menari dengannya denga gerakan-gerakan menggoda. Itulah esensi dari tari Gandrung yakni tergila-gila dan hawa nafsu.

    3. Seblang Subuh

    Merupakan bagian penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan Gandrung.

    Pada bagian ini, penari Gandrung akan melakukan gerakan perlahan dan penuh penghayatan sambil membawa kipas yang dikibaskan sesuai dengan irama.

    Suasana mistis akan sangat terasa pada treatment ini karena terhubung erat dengan ritual seblang yang diartikan sebagai ritual penyembuhan atau penyucian.

    Busana yang dikenakan oleh penari Gandrung sangat khas dan berbeda dari kesenian tari Jawa lainnya.

    Karena terdapat pengaruh kerajaan Blambangan dan Bali di dalamnya. Hal itu dapat kita lihat dari busana penari Gandrung yang terbuat dari kain Beludru berwarna hitam yang dihiasi dengan ornamen berwarna emas.

    Sedangkan pada bagian bawah penari Gandrung mengenakan kain batik panjang khas Banyuwangi.

    Dan pada bagian kepala, penari gandrung memakai “Omprok” yakni mahkota dengan berbagai macam hiasan berwarna merah dan emas.

    Berbagai aksesoris seperti kelat pada tangan, ikat pinggang, selendang, dam simbong yang dihiasi warna emas juga digunakan.

    Tidak lupa juga tata rias khusus yang dipoleskan agar penari gandrung tampak semakin cantik.

    Pada era globalisasi ini, kesenian Gandrung Banyuwangi masih tetap kokoh dan telah menjadi maskot pariwisata Banyuwangi dengan disusulnya pembuatan patung Gandrung yang diletakkan di berbagai sudut kota dan desa.

    Bahkan pemerintah Banyuwangi mempromosikan gandrung untuk dipentaskan di beberapa kota bahkan luar negeri.

    Penulis : Eva

  • Pengertian Komunikasi Antar Budaya

    Pengertian Komunikasi Antar Budaya

    Pengertian Komunikasi

    Komunikasi Adalah Proses penyampaian pesan antara komunikator terhadap komunikan melalui saluran-saluran tertentu baik secara verbal maupun non verbal dan menghasilkan efek tertentu.

    Dalam kehidupan sehari-hari, tak peduli dimanapun berada, akan selalu berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tertentu yang berasal dari kelompok, ras, etnik, ataupun negara lain.

    Berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya menjadikan sebuah pengalaman baru yang selalu dihadapi.

    Berkomunikasi adalah kegiatan yang popular dan bahkan selalu dilakukan dalam pergaulan manusia.

    Aksioma Komunikasi:

    “Manusia selalu berkomunikasi, manusia tidak dapat menghindari komunikasi”

    “Manusia tidak bisa dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi dengan cara atau melalui pertukaran informasi, ide-ide, gagasan, maksud serta emosi yg dinyatakan dalam simbol-simbol dengan orang lain”.

    “55% dari komunikasi manusia dinyatakan dalam simbol non verbal, 38% melalui nada suara, dan 7% komunikasi yang efektif dinyatakan dengan kata-kata”, Menurut Mehrabian (1972)

    Sekelompok orang yang mengikuti arisan, atau kelompok organisasi, hanya bisa tumbuh dan berkembang sebagai sebuah komunitas bahkan masyarakat, kalau setiap anggotanya saling bertukar pengalaman, semakin hari semakin mendalam dan terjadi berulang-ulang, sebagaimana yang dikatakan para ahli komunikasi, bahwa komunikasi itu meliputi usaha untuk menciptakan pesan, mengalihkan pesan, memberikan diri kita sebagai sebuah tempat yakni dihati dan di otak orang lain untuk menerima pesan. Hasil dari komunikasi bersama itu adalah pemahaman atas hubungan antar pribadi.

    Jane Pauley (1999), tiga komponen yang harus ada dalam peristiwa komunikasi, sehingga kalau satu komponen kurang maka komunikasi tak akan terjadi. Yaitu :

    (1) Transmisi Informasi,
    (2)Transmisi Pengertian,
    (3) menggunakan simbol-simbol yang sama.

    Pengertian Komunikasi Antar Budaya

    Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan. Hammer (1989) mengutip perumpamaan Wilbur Schramm (1982) menggambarkan bahwa lapangan studi komunikasi itu ibarat sebuah oasis, dan studi komunikasi antarbudaya itu dibentuk oleh ilmu-ilmu tentang kemanusiaan yang seolah nomadik lalu bertemu di sebuah oase.

    Ilmu-ilmu sosial nomadik itu adalah antropologi, sosiologi, psikologi, dan hubungan internasional. Guo-Ming Chen dan William J.Starosta mengatakan bahwa komunikasi antar budaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing prilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.

    Komunikasi antarbudaya itu dilakukan :

    • Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang di pertentangkan.
    • Memalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan di buat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama
    • Sebagai pembimbing prilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap prilaku kita
    • Menunjukan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.

    Sedangkan terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antar budaya. Hambatan komunikasi semacam ini lebih mudah untuk dilihat karena hambatan-hambatan ini banyak yang berbentuk fisik. Hambatan-hambatan tersebut adalah (Chaney & Martin, 2004, p. 11 – 12):

    1. Fisik (Physical)

    Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhandiri, dan juga media fisik.

    2. Budaya (Cultural)

    Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.

    3. Persepsi (Perceptual)

    Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda.

    4. Motivasi (Motivational)

    Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.

    5. Pengalaman (Experiantial)

    Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu.

    6. Emosi (Emotional)

    Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.

    7. Bahasa (Linguistic)

    Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata- kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.

    8. Nonverbal

    Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi.

    9. Kompetisi (Competition)

    Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan.

  • Sejarah Wayang Kulit dan Proses Perkembangannya

    Sejarah Wayang Kulit dan Proses Perkembangannya

    Sejarah Wayang Kulit dan Perkembangannya

    Wayang merupakan salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya.

    Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang.

    Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

    Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

    Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa.

    Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata.

    Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

    Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan.

    Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf.

    Hadirnya tokoh panakawan dalam pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik dan yang benar-benar jahat.

    Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.

    Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa.

    Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir.

    Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.

    Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur.

    Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat.

    Diantara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Alasan mereka cukup kuat.

    Diantaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa.

    Punakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain.

    Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna) dan bukan bahasa lain.

    Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia.

    Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.

    Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe­wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.

    Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976-1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur­nya.

    Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X.

    Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia, Walmiki.

    Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya.

    Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata.

    Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In­dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh.

    Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).

    Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga.

    Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa­yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per­tunjukan wayang.

    Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi.

    Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis­toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone­sia halaman 987.

    Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa­yangan’, yang artinya bayangan.

    Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu.

    Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir.

    Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak.

    Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada.

    Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata.

    Sejak saat itulah cerita­cerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain.

    Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber.

    Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga.

    Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.

    Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu.

    Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.

    Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya.

    Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam.

    Silsilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa.

    Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar.

    Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.

    Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah.

    Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.

    Dan di wilayah Kulonprogo sendiri wayang masih sangatlah diminati oleh semua kalangan.

    Bukan hanya oleh orang tua saja, tapi juga anak remaja bahkan anak kecil juga telah biasa melihat pertunjukan wayang.

    Disamping itu, wayang juga biasa di gunakan dalam acara-acara tertentu di daerah kulonprogo ini, baik di wilayah kota Wates ataupun di daerah pelosok di Kulonprogo.

  • Pengertian Lontar Beserta Proses Pembuatannya

    Pengertian Lontar Beserta Proses Pembuatannya

    Pengertian Lontar dan Proses Membuatnya

    Lontar (dari Bahasa Jawa: ron tal, “daun tal”) adalah daun Siwalan atau tal (Borassus flabellifer atau palmyra) yang dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah dan kerajinan.

    Lontar sendiri dipakai hingga di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, kita akan menjumpai banyak naskah dari lontar di berbagai daerah seperti Jawa, Bali, Madura. Lombok, dan Sulawesi Selatan.

    Proses pembuatan lontar pun cukup sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Pertama-tama dimulai dari pemetikan daun Siwalan yang dilakukan pada bulan Maret/April atau September/Oktober.

    Di bulan tersebut, daun siwalan sudah cukup tua dan siap untuk dipetik. Selanjutnya, daun siwalan di potong kasar lalu dikeringkan dengan menggunakan panas matahari.

    Proses pemanasan tersebut akan membuat warna daun yang semula berwarna hijau berubah menjadi kuning.

    Daun-daun yang sudah dikeringkan tadi kemudian di rendam dengan air mengalir selama beberapa hari dan digosok menggunakan serbet atau serabut kelapa.

    Setelah itu daun-daun di keringkan kembali lalu direbus dengan campuran ramuan selama 8 jam agar kotoran yang menempel pada daun-daun tersebut luntur dan menjaga struktur daun supaya tetap bagus.

    Setelah direbus, daun-daun tersebut dijemur di atas tanah hingga kering dan pada sore hari daun-daun tersebut diangkat.

    Tanah yang digunakan sebagai alas pada saat penjemuran tadi, dibasahi dengan air kemudian daun-daun yang sudah kering diletakkan kembali di atas tanah agar menjadi lembab dan lurus. Selanjutnya, daun-daun tersebut dibersihkan dengan kain lap.

    Proses selanjutnya, daun-daun ditumpuk dan dipres menggunakan sebuah alat penjepit kayu berukuran cukup besar yang disebut dengan pamlagbagan selama kurang lebih enam bulan.

    Namun, daun-daun tersebut tidak dibiarkan begitu saja selama enam bulan melainkan diangkat dan dibersihkan setiap dua minggu sekali.

    Setelah itu daun-daun dipotong lagi sesuai ukuran yang diminta dan diberi tiga lubang: di ujung kiri, tengah, dan ujung kanan.

    Jarak dari lubang tengah ke ujung kiri harus lebih pendek daripada ke ujung kanan. Hal ini dimaksudkan sebagai penanda pada saat penulisan nanti. Tepi-tepi lontar juga dicat, biasanya dengan cat warna merah.

    Lontar sekarang siap ditulisi dan disebut dengan istilah pepesan dan sebuah lembar lontar disebut sebagai lempir.

    Penulisan naskah menggunakan lontar inipun tidak semudah saat kita menulis menggunakan kertas biasa dan pena.

    Sebelum menulis, etiap lempir lontar yang akan ditulisi, diberi garis terlebih dahulu agar saat menulis nanti hasil tulisannya terlihat rapi dan lurus. Hal ini dilakukan dengan menggunakan sebuah alat yang disebut panyipatan.

    Setelah lontar selesai diberi garis dan siap untuk ditulisi, ditulisi menggunakan pisau tulis yang disebut pengropak atau pengutik di setiap lempirnya.

    Kemudian tulisan pada lempir lempir tersebut di hitamkan atau diperjelas dengan menggunakan kemiri yang dibakar dan menghasilkan minyak.

    Lalu tumpukan lempir-lempir ini disatukan dengan sebuah tali melalui lubang tengah dan diapit dengan sepasang pengapit yang disebut sebagai cakepan.

    Namun, kadangkala lempir-lempir disimpan dalam sebuah peti kecil yang disebut dengan nama kropak yang artinya adalah naskah lontar.

    Cukup banyak naskah naskah yang ditulis menggunakan lontar diantarasnya naskah yang berisi tentang ajaran Hindu-Budha yang terdapat di Bali, Jawa dan Sulawesi.

    Namun kelemahan dari lontar ini adalah naskah yang ditulis tidak akan bertahan lama seperti naskah yang ditulis pada prasasti. Naskah lontar hanya mampu bertahan hingga 100-150 tahun saja.

    Beberapa Negara yang juga menyimpan koleksi lontar untuk dibaca oleh peneliti aiantaranya adalah Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, Britania Raya, German, dan Perancis.

  • Pengertian Ilmu Budaya Dasar Menurut Para Ahli

    Pengertian Ilmu Budaya Dasar Menurut Para Ahli

    Pengertian Ilmu Budaya Dasar

    Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

    Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”.

    Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin Humanus yang artinya manusia, berbudaya dan halus.

    Dengan mempelajari humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus.

    Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya.

    Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.

    Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan.

    Prof Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu:

    a. Ilmu-ilmu Alamiah (natural scince)

    Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah.

    Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas.

    Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100 5 benar dan 100 5 salah.

    b. Ilmu-ilmu sosial (social scince)

    Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia.

    Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100% benar, hanya mendekati kebenaran.

    Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia initidak dapat berubah dari saat ke saat.

    c. Pengetahuan budaya (the humanities)

    Bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi.

    Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.

    Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disilpin) seni dan filsafat.

    Sedangkan ilmu budaya dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

    Dengan perkataan lain IBD menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan.

    Tujuan Ilmu Budaya Dasar

    Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

    Dengan demikian mata kuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk di dalam pengetahuan budaya.

    Tapi IBD semata-mata sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri.

    Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat:

    1. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya

    Sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.

    Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemansiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.

    2. Mengusahakan agar mahasiswa sebagai calon pemimpin Bangsa dan Negara

    Serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat.

    Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancar dalam berkomunikasi.