Tag: frasa

  • Sebuah paragraf yang dibangun dengan hubungan antarkalimat yang erat

    Sebuah paragraf yang dibangun dengan hubungan antarkalimat yang erat dan perpaduan yang kokoh sehingga menjadi satu kesatuan ide disebut paragraf yang koheren.

    Koherensi dalam paragraf tercipta melalui beberapa aspek, yaitu:

    1. Kesatuan Gagasan

    Semua kalimat dalam paragraf harus berkontribusi pada pengembangan satu ide utama.

    Kalimat-kalimat yang tidak relevan dengan ide utama akan mengganggu koherensi dan membuat paragraf menjadi tidak fokus.

    2. Kelogisan Urutan Kalimat

    Kalimat-kalimat dalam paragraf harus tersusun secara logis dan runtut.

    Urutan kalimat yang tepat akan membantu pembaca memahami alur pemikiran penulis dan hubungan antar kalimat.

    3. Penggunaan Kata Penghubung

    Kata penghubung berperan penting dalam menghubungkan kalimat-kalimat dalam paragraf dan menunjukkan hubungan makna antar kalimat.

    Penggunaan kata penghubung yang tepat akan meningkatkan koherensi dan kejelasan paragraf.

    4. Penggunaan Kata Transisi

    Kata transisi membantu pembaca memahami peralihan antar ide dalam paragraf. Kata transisi dapat menunjukkan hubungan waktu, tempat, atau hubungan sebab-akibat.

    5. Koherensi Referensial

    Koherensi referensial tercipta dengan penggunaan kata ganti, frasa, atau kata rujukan yang merujuk pada kata atau frasa yang telah disebutkan sebelumnya.

    Hal ini membantu pembaca menghubungkan informasi dalam paragraf dan memahami makna kalimat dengan lebih mudah.

    Paragraf yang koheren memiliki beberapa manfaat, yaitu:

    • Memudahkan pemahaman pembaca: Pembaca akan lebih mudah memahami ide utama paragraf dan hubungan antar kalimat.
    • Meningkatkan keterbacaan: Paragraf yang koheren lebih mudah dibaca dan dipahami karena tidak ada kalimat yang membingungkan atau tidak relevan.
    • Menciptakan kesan profesional: Paragraf yang koheren menunjukkan bahwa penulis telah menulis dengan cermat dan terstruktur.

    Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk memperhatikan koherensi dalam menulis paragraf.

    Dengan membangun paragraf yang koheren, penulis dapat menyampaikan ide dan gagasannya dengan lebih jelas dan efektif kepada pembaca.

  • Apa Arti Ambigu? Ini Pengertian, Jenis, dan Contoh Kalimatnya

    Apa Arti Ambigu? Ini Pengertian, Jenis, dan Contoh Kalimatnya

    Pengertian Ambigu

    Ambigu adalah frasa atau kalimat memiliki lebih dari satu makna atau interpretasi sehingga menyebabkan kebingungan atau ketidakpastian dalam pemahaman.

    Sementara menurut KBBI, arti ambigu adalah bermakna lebih dari satu (sehingga kadang-kadang menimbulkan keraguan, kekaburan, ketidakjelasan, dan sebagainya).

    Biasanya, ambigu terjadi ketika kata-kata atau struktur kalimat tidak cukup jelas atau memiliki banyak arti yang mungkin, sehingga memerlukan penjelasan tambahan atau konteks untuk memahaminya dengan benar.

    Ambigu juga sering disebut ketaksaan yang artinya  memiliki lebih dari satu makna akan sebuah konstruksi sintaksis.

    Moeliono (1989:2:7) menyatakan bahwa kalimat ambiguitas adalah kalimat yang memiliki makna ganda. mempunyai dua pengertian. dan bersifat taksa.

    Ambigu seringkali merupakan sumber masalah dalam komunikasi, seperti yang dikemukakan oleh Abdul (2010:7) yang menyebutkan ambigu menjadi salah satu kendala yang menyebabkan komunikasi tidak tercapai atau tidak dipahami oleh lawan bicara.

    Menurut Wahyu Wibowo (2001:44) ambiguitas atau kemaknagandaan di dalam bahasa tulisan apapun ragamnya kecuali fiksi hendaknya patut diharamkan, mengingat lapisan pembaca yang heterogen (bermacam-macam latar belakang).

    Jenis-Jenis Ambigu

    Ambiguitas bisa timbul dalam berbagai variasi tulisan atau tuturan. Kempson (1977: 38) menyebutkan tiga bentuk utama ambiguitas (ketaksaan), yaitu:

    • Ambigu fonetik, muncul akibat berbaurnya bunyi-bunyi bahasa yang dilafalkan, misalnya kata “beruang” yang berarti “memiliki uang” atau nama binatang.
    • Ambigu gramatikal, muncul pada tataran morfologi dan sintaksis, misalnya “pemukul” bisa bermakna ganda
      “orang yang memukul” atau alat untuk memukul.
    • Ambigu leksikal, kata bisa bermakna lebih dari satu, bisa mengacu pada benda yang berbeda, misalnya kata “haram” yang artinya tergantung dari konteks, seperti makanan haram (tidak halal), tanah haram (tempat ibadah).

    Contoh Ambigu

    Berikut ini adalah beberapa contoh kalimat ambigu:

    1. Itu pemukulnya, besar bukan?

    Kalimat tersebut menciptakan makna ganda, antara “alat pemukul” atau “orang yang memukul”. Harusnya, diperjelas, misalnya : itu pemukulnya, badannya besar bukan? (maka artinya adalah orang yang memukul).

    2. Riska, anak, Budi sakit.

    Kalimat tersebut artinya ada 3 orang yang sakit karena kesalahan letak koma. Harusnya seperti ini: Riska, anak Budi sakit.

    3. Kamu main ke lereng saja!

    Jika diucapkan, kalimat tersebut mengandung makna “kelereng” (permainan) dan “ke lereng” (tempat).

    4. Rini baru saja membeli lukisan Raffi Ahmad.

    Kalimat tersebut ambigu, apakah Rini membeli lukisan milik Raffi Ahmad atau lukisan bergambar Raffi Ahmad.

    5. Istri Pak Camat yang baru itu cantik sekali!

    Kalimat tersebut ambigu, apakah Pak Camat yang baru atau istrinya yang baru.

    6. Kapan emas kawinnya?

    Pertanyaan tersebut ambigu bila dilapalkan karena bermakna ganda, yaitu menanyakan kapan seseorang kawin dan kapan mahar perkawinan diberikan.

    7. Heru berenang di laut mati.

    Ambigu muncul, apakah Heru mati karena berenang di laut atau dia berenang di laut yang bernama mati.

    8. Dia mengajar tari di sekolah.

    Akan muncul dua makna, yaitu apakah dia mengajar anak bernama Tari di sekolah atau dia sedang mengajarkan seni tari di sekolah.

    9. Rumah tetangga baru berwarna merah.

    Maksudnya, rumahnya tetangga baru atau rumah milik tetangga baru?

    10. Teman Rani yang gemuk itu sedang makan.

    Kalimat di atas mengandung dua arti, yaitu apakah Rani yang gemuk atau teman Rani yang bertubuh gemuk.

    Nah, itulah penjelasan tentang pengertian ambigu, jenis-jenis, dan contohnya. Maka hendaknya menggunakan frasa yang tepat dalam berkomunikasi karena ambigu dapat menimbulkan kebingungan bagi pendengar maupun pembaca.

  • Frasa Endosentris: Pengertian Menurut Ahli dan Contohnya

    Frasa Endosentris: Pengertian Menurut Ahli dan Contohnya

    Frasa endosentris adalah sebuah frasa yang memiliki struktur yang sama atau mirip dengan salah satu anggota frasa itu sendiri.

    Artinya, frasa tersebut memiliki elemen utama yang menjadi pusat dari frasa tersebut, dan elemen tersebut juga memiliki fungsi yang sama atau mirip dengan frasa secara keseluruhan.

    Dalam kajian linguistik, frasa menjadi salah satu elemen penting yang sering dibahas karena berhubungan langsung dengan struktur kalimat.

    Frasa tidak hanya sekadar gabungan kata, tetapi juga memiliki fungsi dan makna tertentu sesuai dengan susunannya.

    Pengertian Frasa Endosentris Menurut Ahli

    Untuk lebih memahami frasa endosentris secara mendalam, para ahli bahasa telah memberikan definisi yang lebih sistematis.

    Definisi ini membantu kita melihat frasa endosentris bukan hanya sebagai gabungan kata, tetapi juga sebagai konstruksi bahasa yang memiliki aturan sintaksis tertentu. Berikut adalah beberapa pengertian frasa endosentris menurut para ahli.

    1. Menurut Ramlan (1989)

    Frasa endosentris adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsur-unsurnya, baik sebagian maupun keseluruhan.

    2. Menurut Verhaar dalam Sukini (2010: 22)

    Frasa eksosentrik adalah frasa adalah frasa yang berdistribusi komplementer dengan pusatnya.

    3. Menurut Khairah dan Sakura Ridwan (2014: 22)

    Frasa eksosentris yaitu konstruksi frasa yang tidak berfungsi dan berdistribusi sama dengan semua unsur pembentuknya. Frasa eksosentrik adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya.

    4. Menurut Supriyadi (2014: 11)

    Frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya, disebut frasa endosentrik.

    5. Menurut Whitehall dalam Tarigan (2009: 100)

    Frasa endosentrik adalah frasa yang berhulu, yang berpusat, atau headed phrase yaitu frasa yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya.

    6. Menurut Parera (2009: 55)

    Frasa endosentris dikatakan sebuah frasa apabila satuan konstruksi frasa itu berdistribusi dan berfungsi sama dengan salah satu anggota pembentuknya.

    7. Menurut Chaer (2012: 226)

    Frasa endosentrik adalah frasa yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Artinya, salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya.

    8. Menurut Sukini (2010: 22)

    Frasa endosentrik adalah frasa yang berdistribusi pararel dengan salah satu atau semua unsur pembentuknya.

    9. Menurut Khairah dan Ridwan (2014: 22)

    Frasa yang berfungsi dan berdistribusi sama dengan salah satu anggota pembentuknya disebut frasa endosentrik.

    Contoh Frasa Endosentris

    Empat orang karyawan sedang duduk di ruang HRD untuk menerima gaji.

    Pada kalimat di atas, empat orang karyawan tergolong dalam frasa endosentris. Unsur orang dan unsur karyawan mempunyai distribusi yang serupa.

    Maka, tidak menjadi masalah jika salah satu unsur dihapus menjadi:

    • Empat karyawan sedang duduk di ruang HRD untuk menerima gaji.
    • Empat orang sedang duduk di ruang HRD untuk menerima gaji.
    • Karyawan sedang duduk di ruang HRD untuk menerima gaji.
  • 9 Pengertian Frasa Endosentris Menurut Para Ahli

    9 Pengertian Frasa Endosentris Menurut Para Ahli

    Dalam ilmu linguistik, istilah frasa menjadi salah satu bahasan penting karena berkaitan langsung dengan struktur bahasa.

    Frasa dipahami sebagai gabungan kata yang menempati satu fungsi dalam kalimat, namun tidak sampai membentuk klausa.

    Dari berbagai jenis frasa yang dikenal, frasa endosentris menempati posisi menarik untuk dikaji karena keberadaannya menunjukkan bagaimana sebuah kelompok kata tetap dapat memiliki makna yang sama dengan unsur inti yang membentuknya.

    Dengan kata lain, meskipun frasa endosentris terdiri dari beberapa kata, makna dasarnya tetap mengacu pada inti yang menjadi pusat dari frasa tersebut.

    Pengertian Frasa Endosentris Menurut Ahli

    Untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas, para ahli bahasa telah mengemukakan definisi frasa endosentris melalui berbagai sudut pandang.

    Pandangan para ahli ini membantu kita memahami tidak hanya bentuk dan ciri frasa endosentris, tetapi juga bagaimana frasa ini berfungsi dalam konstruksi bahasa.

    Berikut ini adalah beberapa definisi frasa endosentris menurut para ahli yang sering dijadikan rujukan dalam kajian linguistik.

    1. Menurut Ramlan (1989)

    Frasa endosentris adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsur-unsurnya, baik sebagian maupun keseluruhan.

    2. Menurut Verhaar dalam Sukini (2010: 22)

    Pengertian frasa eksosentrik adalah frasa adalah frasa yang berdistribusi komplementer dengan pusatnya.

    3. Menurut Khairah dan Sakura Ridwan (2014: 22)

    Frasa eksosentris yaitu konstruksi frasa yang tidak berfungsi dan berdistribusi sama dengan semua unsur pembentuknya. Frasa eksosentrik adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya.

    4. Menurut Supriyadi (2014: 11)

    Frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya, disebut frasa endosentrik.

    5. Menurut Whitehall dalam Tarigan (2009: 100)

    Frasa endosentrik adalah frasa yang berhulu, yang berpusat, atau headed phrase yaitu frasa yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya.

    6. Menurut Parera (2009: 55)

    Frasa endosentris dikatakan sebuah frasa apabila satuan konstruksi frasa itu berdistribusi dan berfungsi sama dengan salah satu anggota pembentuknya.

    7. Menurut Chaer (2012: 226)

    Frasa endosentrik adalah frasa yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Artinya, salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya.

    8. Menurut Sukini (2010: 22)

    Frasa endosentrik adalah frasa yang berdistribusi pararel dengan salah satu atau semua unsur pembentuknya.

    9. Menurut Khairah dan Ridwan (2014: 22)

    Frasa yang berfungsi dan berdistribusi sama dengan salah satu anggota pembentuknya disebut frasa endosentrik.

  • Pengertian Parafrasa, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Parafrasa, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Parafrasa

    Parafrase atau parafrasa adalah pengungkapan kembali suatu tuturan bahasa ke dalam bentuk bahasa lain tanpa mengubah pengertian.

    Pengungkapan kembali tersebut bertujuan untuk menjelaskan makna yang tersembunyi.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.

    Pengertian Parafrasa Menurut Para Ahli

    Adapun pengertian parafrase menurut para ahli adalah sebagai berikut.

    1. Menurut L. Behrens (dalam A Sequence for Academic Writing. Longman, 2009)

    Paraphrase adalah bagian yang menyajikan poin penting, penjelasan, atau argumen tetapi itu tidak mengandung kata-kata yang mudah diingat atau langsung.

    2. Menurut L. Behrens (dalam A Sequence for Academic Writing. Longman, 2009)

    Parafrase adalah sebuah ringkasan, yang ditulis dengan kata-kata Anda sendiri, secara singkat menyatakan kembali poin utama penulis.

    3. Menurut Kridalaksana

    Menurut Kridalaksana dalam Kamus Linguistik III bahwa yang dimaksud dengan pengertian parafrasa adalah pengungkapan kembali konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, tanpa mengubah maknanya, dengan memberi kemungkinan penekanan yang agak berlainan.

    4. Menurut Sudaryanto

    Menurut Sudaryanto bahwa Parafrasa adalah bentuk lain (serta makna yang lain) dengan informasi yang sama.

    5. Menurut Crystal (1985)

    Menurut Crystal bahwa parafrasa merupakan istilah dalam linguistik untuk hasil atau proses produksi versi alternatif dari kalimat atau teks tanpa mengubah makna.

    Ciri-Ciri Parafrasa

    • Bentuk tuturan kata berbeda.
    • Bahasa penyampaian berbeda
    • Cara penyampaian berbeda
    • Arti dan Makna tuturan tetap sama.
    • Substansi tidak berubah.

    Cara Membuat Parafrasa

    Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam membuat parafrasa dari sebuah bacaan.

    Untuk membuat parafrasa lisan, langkah-langkahnya adalah membaca informasi secara cermat, mencatat kalimat inti, mengmbangkan kalimat inti menjadi pokok pikiran, menyampaikan pokok pikiran dalam bentuk uraian lisan dengan kalimat sendiri.

    Gunakanlah sinonim, ungkapan yang sepadan, mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, mengubah kalimat aktif menjadi kalimat tidak aktif, serta menggunakan kata ganti orang ketiga untuk narasi jika kesulitan menguraikan.

    Cara Memparafrasekan Puisi Menjadi Prosa

    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memfaraprasekan puisi menjadi prosa, ialah sebagai berikut :

    • Membaca atau mendengarkan pembacaan puisi dengan seksama
    • Pahami isi kandungan puisi secara utuh
    • Jelaskan kata-kata kias atau ungkapan yang terdapat dalam puisi
    • Uraikan kembali isi puisi secara tertulis dalam bentuk prosa dengan menggunakan kalimat sendiri
    • Sampaikan secara lisan atau dibacakan

    Contoh Parafrasa

    Aku

    Kalau sampai waktuku
    ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
    Tidak juga kau
    Tak perlu sedu sedan itu
    Aku ini binatang jalang
    Dari kumpulannya terbuang
    Bila peluru menembus kulitku
    Aku tetap meradang menerjang
    Lukadan bisa kubawa berlari
    Berlari
    Hingga hilang perih peri
    Dan aku akan lebih tidak peduli
    Aku mau hidup seribu tahun lagi

    (Chairil Anwar, DCD 1959:7)

    Parafrasanya :

    Kalau si aku meninggal, ia menginginkan jangan ada seorangpun yang bersedih, bahkan juga kekasih atau istrinya.

    Tidak perlu juga ada sedu sedan yang meratapi kematian si aku sebab tidak ada gunanya. Si aku ini adalah binatang jalang yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya.

    Iamerdeka tidak terikat oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak, peluru menembus kulitnya.

    Si aku tetap berang dan memberontak terhadap aturan-aturan yang mengikat tersebut.

    Segala rasa sakit dan penderitaan akan ditanggung, ditahan, diatasi hingga rasa sakit dan penderitaan itu pada akhirnya akan hilang sendiri.

    Si aku akan makin tidak peduli pada segala aturan dan ikatan, halangan, serta penderitaan. Si aku mau hidup seribu tahun lagi.

    Maksudnya, si aku menginginkan semangatnya, pikirannya, karya-karyanya akan hidup selama-lamanya. (Rachmat Djoko Pradopo)

  • 11 Pengertian Frasa Menurut Para Ahli dan Cirinya

    11 Pengertian Frasa Menurut Para Ahli dan Cirinya

    Secara umum, frasa merupakan satuan bahasa yang terdiri atas dua kata atau lebih yang berfungsi sebagai satu kesatuan dalam kalimat.

    Frasa tidak memiliki unsur subjek dan predikat, sehingga tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat utuh.

    Pengertian Frasa Menurut Para Ahli

    Berikut beberapa pengertian frasa menurut para ahli

    1. Verhaar (2001)

    Menjelaskan bahwa frasa adalah kelompok kata yang merupakan bagian fungsional dari tuturan yang lebih panjang.

    2. Kentjono (1990)

    Mendefinisikan frasa sebagai satuan gramatika yang terdiri dari dua kata atau lebih dari dua kata yang tidak berciri klausa yang pada umumnya menjadi pembentuk dalam klausa.

    3. Keraf (1991)

    Arti frasa adalah suatu konstruksi yang terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan.

    4. Kridalkasana (1993)

    Pengertian frasa adalah gubungan dari dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif, gabungan itu dapat rapat, dapat renggang.

    5. Parera (1994)

    Memberikan batasan frasa sebagai suatu konstruksi yang dapat dibentuk oleh dua kata atau lebih, baik dalam sebuah pola dasar kalimat maupun tidak.

    6. Chaer (1998)

    Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang merupakan satu kesatuan, dan menjadi salah satu unsur atau fungsi kalimat (subjek, predikat, objek, atau keterangan).

    7. Tarmini

    Pengertian frasa adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua konstituen atau lebih yang mampu mengisi fungsi sintaksis tertentu yang terdapat dalam kalimat akan tetapi tidak melampui dari batas-batas fungsi klausa atau yang dapat dikatakan sebagai frasa itu nonpredikatif.

    8. Lyons

    Definisi frasa adalah satu kelompok kata yang secara gramatikal sepadan dengan satu kata dan tidak memiliki subjek dan predikat sendiri.

    9. Putrayasa

    Arti frasa menurut Putrayasa adalah kelompok kata yang memiliki kedudukan sebagai sautu fungsi dalam kalimat yang tidak semua dari frase itu terdiri dari kelompok kata.

    10. Trask (1999)

    Arti frasa menurut Trask adalah unit gramatikal yang lebih kecil dibandingkan klausa, terdiri dari 2 kata atau lebih, tapi tidak terkadung unsur-unsur yang ada pada klausa.

    11. Redford (1999)

    Pengertian frasa adalah rangkaian 2 kata atau lebih yang bukan merupakan klausa, karena tidak berisi subjek dan atau predikat.

    Ciri-ciri Frasa

    • Terdiri dari minimal 2 kata atau lebih.
    • Bersifat non-predikatif.
    • Memiliki fungsi gramatikal dalam kalimat.
    • Dalam frasa harus memiliki satu makna gramatikal.
    • Selalu menduduki satu fungsi kalimat.
    • Maknanya dapat berubah sesuai pemakaiannya.
    • Kata penyusun frasa masih mampu dipertahankan untuk makna aslinya.
  • Pengertian Frasa dan Klausa Beserta Contohnya

    Pengertian Frasa dan Klausa Beserta Contohnya

    Pengertian Frasa

    Definisi frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonprediktif, artinya tidak terdapat predikat.

    Sering juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis dalam kalimat. Contoh frasa:

    – Nasi goreng
    – Anak emas
    – Rumah megah
    – Baru pulang

    Satuan bahasa nasi goreng, anak emas, rumah megah, dan baru pulang adalah frasa tidak membentuk hubungan subjek dan predikat.

    Jenis Frasa Berdasarkan Kelas Kata

    Berdasarkan kelas kata, frasa dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

    1. Frasa verbal

    Frasa herbal adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata kerja. Frasa verbal terdiri dari tiga macam, yaitu:

    A. Frasa verbal modifikatif (pewatas) yang dibedakan menjadi.

    1. Pewatas belakang, seperti contoh berikut:

    – Ia sakit keras sekarang
    – Andi berlari cepat saat pulang ke rumah dari sekolah

    2. Pewatas depan, seperti contoh berikut:

    – Kami akan melantunkan lagu Peterpan
    – Kamu pasti menyukai pakaian itu

    B. Frasa verbal koordinatif, yaitu dua verba yang disatukan dengan kata penghubung dan atau atau, seperti contoh berikut:

    – Mereka datang dan pergi kerumah ini
    – Kita  pergi atau kembali ke rumah saja

    C. Frasa verbal apositif yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan. Contoh frasa verbal apositif, yaitu:

    – Desa Marga Mulya, tempat tinggal saya, akan menjadi pusat pemerintahan kecamatan Sungai Bahar.

    2. Frasa Adjektival

    Frasa adjectival adalah kelompok kata yang menggunakan kata sifat atau keadaan sebagai inti dan menambahkan kata lain yang berfungsi menerangkan. Frasa adjectival dibagi atas tiga jenis, yaitu:

    A. Frasa adjektival modifikatif (membatasi), contohnya sebagai berikut:

    – Cantik nian pacarmu
    – Indah benar pemandangan itu.

    B. Frasa adjektival koordinatif (menggabungkan), contohnya sebagai berikut:

    – Mereka merasa tenang dan damai tinggal di komplek perumahan ini.

    C. Frasa adjektival apositif, contohnya sebagai berikut:

    – Srikandi cantik, ayu rupawan, diperistri oleh Arjuna.

    3. Frasa Nominal

    Frasa nominal adalah kelompok kata yang dibenuk dengan menggunakan kata benda. Frasa nominal dibagi menjadi:

    A. Frasa nominal modifikatif (mewatasi), contohnya sebagai berikut:

    – Pada hari minggu bank tutup
    – Pada minggu pertama masuk kuliah, dosen banyak yang tidak masuk

    B. Frasa nominal koordinatif (tidak saling menerangkan), contohnya sebagai berikut:

    – Hak dan kewajiban telah diatur dalam UUD 1945

    4. Frasa Adverbial

    Frasa adverbial adalah kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan kata sifat. Frasa adverbial dibagi menjadi:

    A. Frasa adverbial yang bersifat modifikatif (mewatasi), contohnya sebagai berikut:

    – Andi adalah murid yang sangat pintar.

    B. Frasa adverbial yang bersifat koordinatif (tidak saling menerangkan), contohnya sebagai berikut:

    – Jarak antara kost saya dengan kampus kurang lebih 1 kilometer.

    5. Frasa Pronominal

    Frasa pronominal adalah frasa yang dibentuk dari kata ganti. Frasa Pronominal dibagi menjadi:

    A. Frasa pronominal modifikatif, contohnya sebagai berikut:

    – Kita semua adalah mahasiswa sastra Indonesia
    – Kami berdua sedang menunggu angkot

    B. Frasa pronominal koordinatif, contohnya sebagai berikut:

    – Aku dan kau pergi ke kampus
    – Aku dan dia duduk berdua

    C. Frasa pronominal apositif, contohnya sebagai berikut:

    – Kami, mahasiswa Indonesia, memerangi korupsi
    – Mahasiswa, para dosen, bersalam-salaman

    6. Frasa Numeralia

    Frasa numeralia adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata bilangan. Frasa numeralia terdiri dari dua jenis yaitu:

    A. Frasa numeralia modifikatif, contohnya seperti berikut:

    – Bencana itu menelan dua ratus lima puluh jiwa.
    – Harga bakso yang anda makan adalah Sembilan ribu rupiah.

    B. Frasa numeralia koordinatif, contohnya seperti di bawah ini.

    – Tiga atau empat pria bertubuh besar merampok sebuah toko emas
    – Entah tiga, entah empat kali dia menyakitiku

    7. Frasa Introgativa koordinatif

    Frasa introgativa koordinatif adalah frasa yang menjadikan kata Tanya sebagai inti. Contohnya seperti berikut:

    – Pertanyaan apa atau mengapa kini terjawab sudah
    – Entah mengapa atau bagaimana saya bisa menjadi seperti ini

    8. Frasa Demonstrativa koordinatif

    Frasa demonstrativa koordinatif adalah frasa yang dibentuk dengan dua kata yang tidak saling menerangkan. Contohnya seperti berikut:

    – Aku telah mencarimu disana dan disini
    – Aku memakai sepatu yang ini atau itu, sama saja

    9. Frasa Proposional Koordinatif

    Frasa proposional koordinatif adalah frasa yang dibentuk dari kata depan dan tidak saling menerangkan. Contohnya seperti berikut:

    – Perjalanan kami dari dan ke Bandung memerlukan waktu enam jam.
    – Koperasi dari, oleh dan untuk anggota.

    Pengertian Klausa

    Klausa adalah kelompok kata yang tidak terdapat intonasi final. Intonasi final itu berupa tanda baca.

    Menurut Keraf (1984:138), klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung unsur predikatif.

    Jenis-jenis Klausa

    Widjono membagi klausa menjadi beberapa jenis, yaitu:

    1. Klausa kalimat majemuk setara

    Kalimat majemuk setara dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan. Contoh sebagai berikut; Andi membaca komik, dan ibunya mencuci piring.

    Klausa pertama andi membaca komik, klausa kedua ibunya mencuci piring, dapat dilihat di sini bahwa keduanya tidak saling menerangkan.

    2. Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat

    Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih.

    Contohnya seperti berikut ini: Ayah pulang dari kantor setelah aku mandi dan adik bangun dari tidurnya.

    Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa,

    • Ayah pulang dari kantor (klausa pertama)
    • Setelah aku mandi (klausa kedua)
    • Adik bangun dari tidurnya (klausa ketiga)

    1. Ayah pulang dari kantor setelah aku mandi (kalimat majemuk bertingkat)

    2. Aku mandi dan adik bangun dari tidurnya (Kalimat majemuk setara)