Tag: guru

  • Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar
    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kita sering kali terjebak dalam pandangan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari angka, ranking, atau nilai rapor semata.

    Padahal, di balik semua itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: apakah pendidikan kita benar-benar sudah memanusiakan manusia?

    Hakikat pendidikan sejati sejatinya bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya—yang berpikir, berperasaan, dan berperilaku bijak.

    Pendidikan seharusnya menuntun setiap individu menemukan jati diri, menggali potensi, dan menumbuhkan kesadaran untuk memberi manfaat bagi lingkungannya.

    Pendidikan harusnya bisa memberikan kesadaran baru tentang nilai-nilai positif serta pemikiran yang mendalam tentang logika etika dan estetika dalam kehidupan.

    Paradigma baru pendidikan menegaskan bahwa peserta didik bukan sekadar alat ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, melainkan manusia yang memiliki potensi, minat, dan keunikan masing-masing.

    Mereka bukan mesin penghafal teori, tetapi pribadi yang perlu diarahkan untuk berpikir kritis, kreatif, dan berkarakter. Inilah makna pendidikan yang sejati—pendidikan yang membebaskan, bukan membelenggu.

    Ki Hajar Dewantara telah lama menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

    Pandangan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, yang memberi ruang bagi guru dan sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa.

    Kurikulum ini menuntut pendidikan yang lebih manusiawi, yang memberi ruang bagi anak untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya.

    Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 pada dasarnya hadir untuk memperkuat kerangka kurikulum, menambahkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), menyesuaikan struktur dan muatan pembelajaran untuk semua jenjang serta memperkenalkan mata pelajaran pilihan baru seperti “Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI)” secara bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026.

    Terlalu lama proses belajar terjebak pada rutinitas hafalan, sehingga lupa membuat siswa benar-benar memahami, bertanya, dan tumbuh sebagai manusia. Kerangka 8-3-3-4¹ mendorong sekolah membentuk profil lulusan yang utuh—cerdas, berkarakter, sehat, komunikatif, mandiri, dan kritis.

    Prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan mengajak kita membangun suasana belajar yang hidup, yang tidak berhenti di kelas, tetapi menyentuh hati, pengalaman, dan pola pikir siswa.

    Perubahan ini sesungguhnya bukan beban, tetapi kesempatan bagi sekolah dan guru untuk berkembang bersama.

    Deep learning membuka ruang bagi pendidik untuk mencoba pendekatan baru yang lebih kreatif, memperkuat kolaborasi, dan memanfaatkan teknologi sebagai jembatan untuk memperkaya pengalaman belajar.

    Lingkungan belajar—baik fisik maupun digital—dapat dibentuk menjadi ruang yang aman dan memerdekakan.

    Saat praktik pedagogis diperbarui, kemitraan diperkuat, dan refleksi menjadi budaya, kebijakan ini berubah dari sekadar aturan menjadi momentum penting menuju transformasi pendidikan yang lebih manusiawi.

    Pendekatan ini juga menuntun siswa untuk tidak hanya menghafal, tetapi sungguh memahami konsep, merenungkan maknanya, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

    Guru pun berperan sebagai pendamping yang menuntun siswa menemukan jawabannya sendiri.

    Di era digital, kemampuan ini menjadi semakin penting, terutama ketika siswa berhadapan dengan pembelajaran koding, teknologi, dan kecerdasan buatan yang menuntut ketelitian, kreativitas, dan adaptasi cepat terhadap perubahan.

    Namun, transformasi pendidikan tidak akan menyentuh maknanya yang paling dasar tanpa nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam keseharian sekolah.

    Menghargai keberagaman siswa, mengakui potensi setiap individu, memberi ruang kebebasan berpikir dan berkarya, serta menilai proses sama pentingnya dengan hasil adalah fondasi yang harus diperkuat.

    Relasi empatik antara guru dan siswa, serta penanaman nilai seperti empati, tanggung jawab, dan kejujuran, menjadi roh dari pendidikan yang memanusiakan manusia.

    Di sinilah inti perubahan: mengembalikan sekolah sebagai ruang tumbuh, ruang aman, dan ruang yang memberi harapan bagi masa depan setiap anak.

    Pendidikan sejati bukanlah yang membuat anak takut salah, tetapi yang memberi mereka keberanian untuk mencoba, berpikir, dan berbuat baik. Kita tidak sedang mencetak robot yang patuh, tetapi manusia yang mampu berpikir kritis dan bertindak dengan hati nurani.

    Kini saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Tujuan utama pendidikan bukan sekadar melahirkan generasi berprestasi akademik, melainkan generasi yang mandiri, kreatif, dan berintegritas.

    Pendidikan yang memerdekakan akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

    Karena sejatinya, pendidikan yang baik bukan tentang berapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan seberapa besar pengetahuan itu mampu mengubah dirinya dan memberi manfaat bagi orang lain. Dari sinilah, manusia belajar menjadi manusia seutuhnya.

    ✍️ Penulis adalah Guru di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Jurnalis Sastrawacana.

    Catatan Kaki
    ¹ Kerangka 8-3-3-4 terdiri dari:
    8 Dimensi Profil Lulusan:
    Keimanan dan Ketakwaan Kepada Tuhan YME; Kewargaan; Kreativitas; Penalaran Kritis; Kolaboratif; Kemandirian; Kesehatan; Komunikasi.
    3 Prinsip Pembelajaran:
    Berkesadaran, Bermakna, Menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, olah raga.
    3 Pengalaman Belajar:
    Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi.
    4 Kerangka Pembelajaran:
    Praktik Pedagogis; Kemitraan Pembelajaran (guru, orang tua, komunitas); Lingkungan Belajar (fisik dan digital); Pemanfaatan teknologi digital (Zoom Meeting, Cloud, Gmeet, dll).

  • Bagaimana guru dapat memastikan murid terlibat aktif dalam pembelajaran?

    Bagaimana guru dapat memastikan murid terlibat aktif dalam pembelajaran?

    Keterlibatan murid dalam pembelajaran menjadi salah satu kunci keberhasilan proses pendidikan.

    Murid yang aktif akan lebih mudah memahami materi, memiliki motivasi belajar yang tinggi, dan mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis.

    Namun, menciptakan suasana belajar yang benar-benar partisipatif bukanlah hal yang otomatis terjadi.

    Guru perlu memiliki strategi dan pendekatan yang tepat agar setiap murid merasa memiliki peran penting dalam proses belajar.

    Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk memastikan murid terlibat aktif dalam pembelajaran.

    1. Menggunakan metode pembelajaran interaktif

    Metode ceramah yang hanya satu arah sering membuat murid menjadi pasif. Agar mereka lebih terlibat, guru dapat menggunakan metode interaktif seperti diskusi kelompok, tanya jawab, permainan edukatif, atau simulasi peran.

    Misalnya, dalam pelajaran sejarah, murid dapat diminta memerankan tokoh tertentu untuk memahami peristiwa yang dipelajari.

    Cara ini tidak hanya membuat suasana kelas lebih hidup, tetapi juga mendorong murid untuk berpikir, berpendapat, dan berinteraksi secara langsung dengan materi maupun teman-temannya.

    2. Mengaitkan materi dengan kehidupan nyata

    Murid akan lebih mudah terlibat ketika mereka merasa bahwa apa yang dipelajari ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

    Guru dapat memberikan contoh konkret atau studi kasus yang dekat dengan pengalaman murid.

    Misalnya, saat mengajarkan konsep matematika tentang persentase, guru bisa mengaitkannya dengan perhitungan diskon di toko.

    Hal ini membuat murid tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat manfaat langsung dari materi pelajaran.

    3. Memberikan kesempatan bertanya dan berpendapat

    Ruang untuk bertanya dan menyampaikan pendapat sangat penting agar murid merasa dihargai dalam proses belajar.

    Guru dapat memulai dengan pertanyaan pemantik yang mendorong murid berpikir, lalu memberi kesempatan mereka menanggapi.

    Ketika murid berani mengemukakan ide atau bertanya hal yang belum jelas, artinya mereka sudah terlibat aktif.

    Guru juga perlu menanggapi setiap pertanyaan atau pendapat dengan serius, agar murid merasa kontribusinya berharga.

    4. Menggunakan media dan teknologi pembelajaran

    Penggunaan media yang menarik dapat meningkatkan keterlibatan murid. Guru bisa memanfaatkan video, gambar, animasi, aplikasi interaktif, atau bahkan platform pembelajaran online untuk mendukung penjelasan materi.

    Misalnya, dalam pelajaran sains, murid bisa diajak menonton video eksperimen singkat sebelum mencoba melakukannya sendiri di kelas.

    Teknologi memberi variasi pada pembelajaran sehingga murid tidak cepat bosan dan lebih fokus mengikuti kegiatan belajar.

    5. Memberikan tugas kolaboratif

    Belajar bersama teman melalui kerja kelompok sering membuat murid lebih bersemangat. Guru dapat membagi murid ke dalam kelompok kecil untuk mengerjakan proyek, memecahkan masalah, atau menyusun presentasi.

    Dengan bekerja sama, murid belajar untuk mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, dan berkontribusi sesuai kemampuannya.

    Suasana kolaboratif ini menumbuhkan rasa kebersamaan sekaligus melatih keterampilan komunikasi dan kerjasama.

    6. Memberikan umpan balik positif

    Murid akan lebih aktif jika merasa dihargai. Oleh karena itu, guru perlu memberikan umpan balik positif setiap kali murid berpartisipasi.

    Tidak harus selalu berupa nilai, tetapi bisa berupa apresiasi lisan, pujian, atau dorongan yang menumbuhkan rasa percaya diri.

    Umpan balik yang baik akan memotivasi murid untuk terus mencoba, meskipun mereka belum sempurna dalam menjawab atau menyelesaikan tugas.

    7. Menciptakan suasana kelas yang nyaman dan terbuka

    Keterlibatan murid akan sulit tumbuh jika suasana kelas penuh tekanan atau rasa takut. Guru perlu memastikan kelas menjadi ruang yang aman, di mana murid bebas berekspresi tanpa takut salah atau diejek.

    Hal ini bisa diwujudkan dengan sikap guru yang ramah, terbuka terhadap pendapat, dan adil kepada semua murid.

    Kelas yang nyaman akan membuat murid lebih berani mencoba, lebih aktif bertanya, dan lebih siap untuk terlibat dalam setiap aktivitas pembelajaran.

  • Mengapa semua pihak harus berkolaborasi dalam menciptakan iklim sekolah yang menyenangkan?

    Mengapa semua pihak harus berkolaborasi dalam menciptakan iklim sekolah yang menyenangkan?

    Mengapa semua pihak harus berkolaborasi dalam menciptakan iklim sekolah yang menyenangkan?

    Jawaban:

    Menciptakan iklim sekolah yang menyenangkan merupakan tanggung jawab bersama.

    Tidak hanya guru, tetapi kepala sekolah, siswa, tenaga kependidikan, orang tua, hingga masyarakat sekitar perlu terlibat secara aktif.

    Kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar sekolah menjadi tempat yang tidak hanya mendidik secara akademik, tetapi juga membangun karakter, emosi, dan sosial peserta didik secara menyeluruh.

    Berikut adalah tiga alasan utama mengapa kolaborasi sangat penting:

    1. Iklim Sekolah yang Menyenangkan Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

    Ketika suasana di sekolah kondusif, nyaman, dan positif, siswa akan lebih mudah fokus, percaya diri, dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.

    Rasa aman secara fisik dan emosional membuat mereka lebih terbuka untuk bertanya, berdiskusi, dan berekspresi.

    Namun, suasana seperti ini tidak bisa dibentuk hanya oleh guru di dalam kelas.

    Kepala sekolah harus menciptakan kebijakan yang mendukung iklim positif, tenaga kependidikan menjaga interaksi yang ramah, dan orang tua memberikan dukungan dari rumah.

    Tanpa sinergi tersebut, pembelajaran tidak akan berlangsung optimal.

    2. Kolaborasi Memperkuat Budaya Sekolah yang Positif dan Konsisten

    Nilai-nilai seperti toleransi, kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab tidak bisa dibangun secara instan.

    Diperlukan pembiasaan yang berkesinambungan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

    Ketika guru mengajarkan sopan santun, lalu didukung oleh keteladanan dari kepala sekolah, serta diperkuat oleh pembinaan dari orang tua di rumah, maka nilai-nilai tersebut akan lebih mudah melekat dalam diri siswa.

    Kolaborasi ini memastikan pesan-pesan pendidikan disampaikan secara konsisten di berbagai lingkungan siswa.

    3. Sekolah Menjadi Ruang Tumbuh yang Inklusif dan Empatik

    Kolaborasi antar semua pihak memungkinkan terbentuknya lingkungan sekolah yang inklusif, yaitu sekolah yang menerima keberagaman latar belakang, kebutuhan, dan karakter siswa.

    Dengan komunikasi yang terbuka antar guru, siswa, orang tua, dan pihak sekolah, berbagai tantangan seperti konflik, kesenjangan belajar, atau masalah sosial dapat ditangani lebih cepat dan bijaksana.

    Sekolah pun menjadi tempat yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga empatik dan manusiawi, di mana setiap siswa merasa dihargai dan didukung.

    Dengan demikian, kolaborasi semua pihak bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

    Karena hanya melalui kerja sama yang kuat dan terarah, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, aman, dan bermakna bagi seluruh warga sekolah.

  • Ceritakan bagaimana merencanakan pembelajaran berdiferensiasi yang relevan di kelas bapak/ibu guru

    Ceritakan bagaimana merencanakan pembelajaran berdiferensiasi yang relevan di kelas bapak/ibu guru

    Ceritakan bagaimana merencanakan pembelajaran berdiferensiasi yang relevan di kelas bapak/ibu guru sehingga diyakini dapat diimplementasikan untuk mencapai tujuan pembelajaran?

    Jawaban:

    Sebagai seorang guru, merencanakan pembelajaran yang relevan dan mampu menjangkau keberagaman peserta didik merupakan hal yang sangat penting.

    Dalam praktiknya, saya meyakini bahwa pendekatan pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu strategi yang paling efektif untuk memastikan setiap siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan potensi, kebutuhan, dan gaya belajarnya.

    Langkah awal dalam merencanakan pembelajaran berdiferensiasi adalah melakukan pemetaan karakteristik siswa di kelas yang mencakup tiga aspek utama: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar.

    Saya menggunakan berbagai instrumen sederhana seperti angket minat, observasi aktivitas siswa di kelas, hasil pretest, hingga diskusi informal untuk menggali informasi tersebut.

    Data ini kemudian menjadi landasan penting dalam menyusun rancangan pembelajaran.

    Setelah mengetahui profil siswa, saya menyusun rencana pembelajaran (RPP atau modul ajar) dengan memuat strategi yang memungkinkan siswa belajar sesuai dengan kebutuhannya.

    Diferensiasi saya terapkan dalam tiga aspek utama: konten, proses, dan produk.

    Diferensiasi konten berarti saya menyediakan materi pembelajaran dalam beragam bentuk—teks, video, infografis, atau media interaktif agar bisa diakses sesuai preferensi siswa.

    Diferensiasi proses saya lakukan melalui berbagai model pembelajaran, seperti diskusi kelompok, pembelajaran berbasis proyek, atau eksplorasi mandiri.

    Kelompok siswa saya bentuk berdasarkan tingkat kesiapan, bukan hanya kecepatan belajar.

    Diferensiasi produk diterapkan dengan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka melalui berbagai bentuk output, seperti presentasi, poster, laporan tertulis, atau karya kreatif lainnya.

    Agar pembelajaran berdiferensiasi berjalan efektif, saya juga merancang tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur, disesuaikan dengan capaian pembelajaran di kurikulum yang berlaku.

    Saya pastikan bahwa indikator keberhasilan tidak seragam, melainkan memberikan ruang untuk variasi berdasarkan target capaian masing-masing siswa.

    Dalam implementasinya, saya terus melakukan refleksi dan evaluasi, baik secara mandiri maupun melalui umpan balik siswa.

    Hal ini penting untuk menyesuaikan strategi bila ada kendala atau dinamika baru di kelas.

    Selain itu, saya juga mendorong kolaborasi antar siswa agar tercipta lingkungan belajar yang inklusif dan saling mendukung.

    Dengan pendekatan ini, saya meyakini bahwa pembelajaran berdiferensiasi bukan hanya memungkinkan seluruh siswa mencapai tujuan pembelajaran, tetapi juga menumbuhkan motivasi, rasa percaya diri, dan pengalaman belajar yang lebih bermakna.

    Pembelajaran tidak lagi satu arah, melainkan menjadi ruang tumbuh bersama dalam keberagaman.

  • Universitas Jember Latih Guru TK Banyuwangi Kembangkan Media Budaya Osing dengan Memanfaatkan AI

    Universitas Jember Latih Guru TK Banyuwangi Kembangkan Media Budaya Osing dengan Memanfaatkan AI

    Dalam upaya mendorong pelestarian budaya lokal sejak dini, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Jember melaksanakan kegiatan pelatihan bertema “Pengembangan Media Pembelajaran Budaya Osing Berbasis Artificial Intelligence (AI) Sebagai Sarana Pelestarian Budaya Pada Anak Usia Dini”.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Dosen Mengabdi di Desa Asal dan menyasar para pendidik anak usia dini di Kabupaten Banyuwangi.

    Pelatihan yang digelar pada Sabtu, (7/62025) di TK Sayuwiwit ini diikuti oleh guru-guru dari enam lembaga Taman Kanak-Kanak (TK) yang tergabung dalam Gugus 6 Gugus Barong Ider Bumi, Kecamatan Banyuwangi.

    Tujuan utama pelatihan ini adalah membekali para guru TK dengan pengetahuan serta keterampilan dalam menciptakan media pembelajaran digital berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mengangkat konten budaya lokal khas masyarakat Osing.

    Mengingat anak-anak zaman sekarang sangat akrab dengan teknologi, penggunaan media digital untuk memperkenalkan budaya lokal dinilai sebagai pendekatan yang strategis agar anak-anak tetap terhubung dengan identitas budaya mereka di tengah kemajuan teknologi.

    Sepanjang kegiatan pelatihan, para guru dikenalkan dengan berbagai macam teknologi AI yang bisa dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, seperti AI untuk menghasilkan teks cerita, ilustrasi gambar, video, suara, musik, hingga animasi 3D.

    Para peserta tidak hanya menerima penjelasan teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan media pembelajaran yang menarik dan kontekstual dengan bantuan AI.

    Sebagian besar guru telah memiliki pengetahuan dasar tentang pemanfaatan AI, khususnya dalam membuat teks.

    Namun, antusiasme meningkat ketika pemateri dari Universitas Jember memperlihatkan contoh lagu anak bertema budaya lokal Banyuwangi yang dihasilkan dengan bantuan AI.

    Praktik Dosen Mengabdi di Desa Asal
    Praktik Dosen Mengabdi di Banyuwangi (Dok. sastrawacana.id/)

    Dalam sesi praktik, para guru diajak menggali tema-tema khas budaya Banyuwangi, seperti tarian tradisional, makanan khas, bahasa Osing, serta kekayaan alam daerah, untuk kemudian disusun menjadi lagu edukatif yang ramah bagi anak-anak.

    Kemudian, dengan memanfaatkan teknlogi AI generatif juga tercipta melodi lagu indah dengan nuansa ceria.

    Tidak hanya membuat lagu, para guru juga berlatih membuat animasi 3D sederhana yang menampilkan kekayaan flora dan fauna khas Blambangan.

    Animasi flora meliputi berbagai jenis bunga, buah, dan pohon, sedangkan animasi fauna menampilkan keanekaragaman hewan laut Banyuwangi serta satwa liar dari hutan Alas Purwo.

    Media visual interaktif ini dirancang agar dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas, membantu anak mengenali objek-objek budaya dan alam tanpa harus melihatnya secara langsung.

    “Saya sangat terkesan karena ternyata membuat lagu dan animasi bisa dilakukan dengan bantuan AI. Kami jadi lebih dimudahkan dan berikutnya dapat menjadi inspirasi dalam mengajarkan budaya lokal kepada anak menjadi semakin menarik,” ujar Ibu Nanik, salah satu guru TK dari Kecamatan Kebalenan.

    Reski Yulina Widiastuti, selaku ketua tim pengabdian, menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini bukan sekadar mengenalkan teknologi AI kepada guru, melainkan memperkenalkannya sebagai alat bantu strategis untuk menggali dan mengembangkan ide-ide kreatif dalam proses pembelajaran berbasis budaya.

    “Dengan AI, guru bisa menciptakan lagu, animasi, cerita interaktif, dan banyak hal lainnya tanpa harus menjadi ahli teknologi,” jelasnya.

    Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi dan kolaborasi antarguru, sehingga tercipta komunitas kreatif yang aktif dalam menciptakan konten pembelajaran yang berakar pada budaya lokal.

    Melalui pelatihan ini, diharapkan para pendidik usia dini di Banyuwangi, khususnya di jenjang TK, dapat meningkatkan kompetensi digital mereka dan menghasilkan media pembelajaran yang edukatif sekaligus memikat.

    Harapannya, guru-guru dapat menjadi pionir dalam upaya pelestarian budaya Osing melalui pendidikan yang inovatif, menyenangkan, dan sejalan dengan perkembangan teknologi masa kini.

  • Langkah Baru Menuju Pendidikan Berkualitas, Mendikdasmen Ajak Guru Jadi Mentor dan Penggerak

    Langkah Baru Menuju Pendidikan Berkualitas, Mendikdasmen Ajak Guru Jadi Mentor dan Penggerak

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, melakukan kunjungan kerja ke SMA Negeri 2 Wates, Yogyakarta.

    Dalam acara bertajuk “Sambung Rasa Guru,” Abdul Mu’ti berdialog langsung dengan para guru dan tenaga pengajar untuk mendengarkan masukan serta berbagi visi mengenai pendidikan di Indonesia.

    “Saya merasa bahagia dapat bertemu dengan para ujung tombak pendidikan Indonesia. Melalui forum ini saya mengajak kepada semua guru untuk bersama sama mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” kata Abdul Mu’ti, Rabu (13/11).

    Menurutnya, untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan bermutu, pemerintah akan berfokus pada peningkatan sarana dan prasarana sekolah serta peningkatan kualifikasi guru.

    Menteri Mu’ti menegaskan bahwa para guru sebaiknya memiliki standar pendidikan minimal D4 atau S1.

    Dengan kualifikasi ini, harapannya guru bisa menjalankan peran lebih dari sekadar penyampai ilmu, tetapi juga menjadi mentor dan konselor yang membentuk karakter anak didik.

    “Upaya pemenuhan kualifikasi guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, di mana ke depannya guru tidak hanya sebagai penyampai ilmu pengetahuan, namun juga sebagai mentor dan konselor pembangun karakter bangsa peserta didik,” ungkapnya.

    Di hadapan para guru, Abdul Mu’ti juga membahas pentingnya pembelajaran yang menyenangkan. Ia yakin suasana belajar yang bahagia akan meningkatkan mutu pendidikan.

    “Pendidikan yang gembira akan membuat para pelaku pendidikan akan menikmati proses pembelajaran. Dari proses yang gembira itu akan membuat pendidikan kita akan bermutu bagi semua warga satuan pendidikan,” tambahnya.

    Acara ini juga menjadi kesempatan bagi para guru untuk menyampaikan aspirasi.

    Henri Saputro, seorang guru dari SMP Negeri 2 Kalibawang, Kulon Progo, menyoroti kesejahteraan guru sebagai aspek penting untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas dan menyenangkan.

    Henri juga berharap pemerintah memberikan perlindungan hukum bagi para guru agar mereka merasa aman dalam menjalankan tugas.

    “Selain aspek kesejahteraan, melalui forum ini kami meminta kepada Mendikdasmen untuk membuat regulasi atau perlindungan hukum bagi para guru. Jika regulasi itu terwujud akan menjadi hal yang baik dan menjadi bagian penting dari proses peningkatan kualitas pendidikan,” ujar Henri.

    Sementara itu, Titi Nurhayati, Kepala SLB Negeri 1 Kulon Progo, juga menyampaikan aspirasinya.

    Ia menyoroti pentingnya perhatian khusus untuk SLB dari sisi fasilitas, tenaga pengajar, dan tenaga kependidikan.

    “Dengan semangat pendidikan bermutu untuk semua, SLB juga harus menjadi bagian penting dan mendapatkan perhatian khusus dalam proses pembelajaran. Alokasi dana harus ditingkatkan untuk keberlangsungan SLB mengarungi proses pembelajaran untuk peserta didik,” katanya.

    Selain itu, Wulan, seorang guru dari Kelompok Bermain di Kulon Progo, menyinggung soal pengakuan bagi Kelompok Bermain yang saat ini masih dianggap sebagai pendidikan nonformal.

    Wulan menginginkan Kelompok Bermain mendapat status sebagai lembaga pendidikan formal, karena hal ini penting agar para guru PAUD memperoleh hak yang sama dengan tenaga pendidik di lembaga formal lainnya.

    “Saat ini kami memiliki 17 guru yang memiliki pendidikan S-1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kami menginginkan bahwa Kelompok Bermain harus mendapatkan pengakuan sebagai lembaga pendidikan formal. Sehingga para pengajar juga mendapatkan hak yang sama dengan pengajar pendidikan formal guna meningkatkan kualitas pendidikan,” kata Wulan.

    Acara ini dihadiri oleh sekitar 150 guru dari Kulon Progo. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nunuk Suryani, Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen Iwan Syahril, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kulon Progo Arif Prastowo, serta perwakilan dari Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Yogyakarta dan Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Yogyakarta.

    Melalui pertemuan ini, Abdul Mu’ti berharap komunikasi yang baik dengan para guru terus berlanjut. Pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan dan memastikan bahwa pendidikan yang bermutu dapat dirasakan oleh semua anak di Indonesia, tanpa terkecuali.

  • Perubahan apa yang ibu/bapak rasa akan paling signifikan dalam pembelajaran intrakurikuler?

    Perubahan apa yang ibu/bapak rasa akan paling signifikan dalam pembelajaran intrakurikuler?

    Perubahan yang saya rasa akan paling signifikan dalam pembelajaran intrakurikuler adalah pendekatan yang lebih fleksibel dan berpusat pada peserta didik.

    Saya melihat adanya pergeseran dari metode pembelajaran tradisional, yang umumnya berbasis guru, menuju pembelajaran yang lebih berfokus pada pengembangan kemampuan individu setiap siswa.

    Di masa lalu, saya terbiasa mengikuti panduan kurikulum secara kaku, yang sering mengarahkan seluruh siswa pada jalur yang sama, dengan asumsi bahwa mereka semua siap menerima materi yang sama dalam waktu yang sama.

    Namun, sekarang saya merasa didorong untuk lebih memperhatikan perbedaan kemampuan, minat, dan gaya belajar setiap siswa.

    Salah satu perubahan besar yang saya lihat adalah kebutuhan untuk melakukan asesmen awal di awal pembelajaran.

    Dengan asesmen ini, saya bisa memahami kemampuan dan kebutuhan khusus setiap siswa, sehingga saya bisa menyesuaikan metode dan materi yang lebih tepat.

    Hal ini bukan sekadar perubahan teknis, tetapi juga perubahan pola pikir yang signifikan bagi saya.

    Saya harus lebih kreatif dalam merancang kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa mengembangkan pemahaman sesuai kecepatan mereka sendiri.

    Hal ini juga menuntut saya untuk lebih fleksibel dalam cara saya mengelola waktu dan mengatur dinamika kelas, agar tidak hanya sekadar “menyampaikan materi” tetapi memastikan siswa benar-benar memahami konsep yang diajarkan.

    Perubahan lain yang saya lihat adalah pada pemanfaatan teknologi.

    Pembelajaran intrakurikuler sekarang lebih terbuka untuk menggunakan media digital sebagai alat bantu belajar, yang sangat membantu siswa mengeksplorasi materi secara mandiri.

    Penggunaan teknologi ini juga memungkinkan saya untuk memberikan variasi dalam tugas dan penilaian, yang dapat membantu siswa lebih termotivasi dan terlibat dalam pembelajaran.

  • Apa yang akan menjadi tantangan terbesar anda dalam menerapkan kurikulum merdeka di satuan pendidikan anda?

    Apa yang akan menjadi tantangan terbesar anda dalam menerapkan kurikulum merdeka di satuan pendidikan anda?

    Jawaban:

    Tantangan terbesar saya dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di satuan pendidikan saya adalah memastikan bahwa setiap siswa benar-benar mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna sesuai dengan kemampuan dan minat mereka.

    Saya percaya Kurikulum Merdeka memberikan ruang kebebasan yang luas, baik bagi guru maupun siswa, tetapi pada saat yang sama, kebebasan ini memerlukan kesiapan dari semua pihak, mulai dari guru, siswa, hingga sistem pendukung di sekolah.

    Pertama, saya melihat tantangan dalam mengelola waktu dan sumber daya dengan efektif.

    Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk menyesuaikan materi dan metode dengan kebutuhan siswa, tetapi di tengah tuntutan administrasi dan keterbatasan fasilitas, cenderung sulit untuk memberikan pendekatan pembelajaran yang benar-benar personal.

    Misalnya, saya ingin agar siswa dapat mengeksplorasi lebih banyak proyek atau kegiatan praktis, tetapi keterbatasan alat dan fasilitas sekolah bisa menghambat pelaksanaannya.

    Kedua, tantangan dalam merancang pembelajaran yang inklusif juga menjadi perhatian saya.

    Saya sadar bahwa di setiap kelas, siswa memiliki latar belakang, kemampuan, dan gaya belajar yang berbeda-beda.

    Merancang kegiatan yang bisa mengakomodasi semua karakter ini membutuhkan waktu dan inovasi, sehingga saya harus sering beradaptasi dan melakukan penyesuaian.

    Selanjutnya, tantangan lain bagi saya adalah memberikan pemahaman yang kuat kepada orang tua dan siswa tentang konsep Kurikulum Merdeka itu sendiri.

    Tidak sedikit orang tua yang masih mengukur keberhasilan pendidikan dari nilai akademis yang tinggi.

    Dengan perubahan pendekatan yang lebih fleksibel, ada risiko munculnya kesalahpahaman atau ketidakpuasan, sehingga saya harus lebih aktif menjelaskan tujuan dan manfaat Kurikulum Merdeka kepada mereka.

    Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, saya akan mencoba untuk terus mengembangkan diri dengan belajar dan berbagi pengalaman dengan rekan-rekan guru lain.

    Saya juga berencana untuk memanfaatkan teknologi dan berinovasi dalam menyusun metode pembelajaran yang lebih interaktif dan sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka.

  • Bagaimana perasaan anda setelah mengetahui prinsip dan karakteristik kurikulum merdeka?

    Setelah mengetahui prinsip dan karakteristik Kurikulum Merdeka, saya merasa sangat antusias dan optimis.

    Kurikulum ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam pembelajaran, sehingga saya bisa lebih kreatif dalam menyusun materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

    Kemudian, saya juga merasa senang karena fokus pada pengembangan karakter dan keterampilan siswa sejalan dengan visi saya sebagai pendidik.

    Dengan pendekatan yang lebih personal dan berbasis proyek, saya yakin siswa akan lebih aktif, mandiri, dan mampu berpikir kritis dalam menghadapi tantangan masa depan.

    Selain itu, saya merasa bahwa Kurikulum Merdeka benar-benar memberi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka.

    Tidak hanya berfokus pada hasil akademis, tapi juga pada pengembangan karakter dan kemampuan berpikir kritis, yang sangat relevan dengan kebutuhan dunia saat ini.

    Saya juga merasa lebih termotivasi karena kurikulum ini mendorong kolaborasi antar guru dan siswa, serta memberikan kebebasan dalam memilih metode pengajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan.

    Dengan demikian, saya yakin bahwa kurikulum ini dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, dinamis, dan relevan bagi perkembangan siswa di era modern.

  • Bagaimana bapak dan ibu selama ini merancang program PJOK sebagai bagian dari pengembangan kurikulum mata pelajaran PJOK?

    Dalam merancang program PJOK (Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan), guru biasanya mengikuti beberapa langkah utama untuk memastikan program tersebut sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan siswa:

    1. Mengacu pada Kurikulum Nasional

    Program PJOK disusun berdasarkan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah, seperti Kurikulum 2013 atau Kurikulum Merdeka untuk memastikan semua aspek pendidikan jasmani dan kesehatan yang relevan tercakup.

    2. Penyesuaian dengan Kondisi Sekolah

    Guru mempertimbangkan fasilitas, sumber daya, dan kondisi lingkungan sekolah. Misalnya, sekolah dengan lapangan luas bisa lebih fokus pada olahraga luar ruangan.

    3. Mengidentifikasi Kebutuhan Siswa

    Program PJOK dirancang sesuai dengan karakteristik siswa, termasuk usia, tingkat kebugaran, dan minat mereka sehingga membantu meningkatkan partisipasi dan antusiasme siswa.

    4. Menentukan Tujuan Pembelajaran

    Tujuan pembelajaran ditetapkan untuk memastikan siswa mendapatkan manfaat fisik, mental, dan sosial dari setiap aktivitas PJOK.

    5. Memilih Aktivitas yang Sesuai

    Guru memilih berbagai aktivitas, mulai dari olahraga tim, olahraga individu, hingga latihan kebugaran dan kesehatan agar siswa mendapatkan pengalaman yang beragam.

    6. Evaluasi dan Penilaian

    Guru juga merancang alat evaluasi untuk mengukur pencapaian siswa, baik dari segi kemampuan fisik maupun pemahaman tentang kesehatan.

    7. Integrasi dengan Aspek Kesehatan

    Selain fokus pada aktivitas fisik, program PJOK juga memasukkan materi tentang pola hidup sehat, nutrisi, dan kesehatan mental.

    Dengan langkah-langkah ini, guru dapat menciptakan program PJOK yang komprehensif, mendukung perkembangan fisik dan mental siswa, serta sejalan dengan visi sekolah dan kurikulum nasional.