Tag: hubungan

  • 4 Tips Memikat Hati Seseorang pada Pandangan Pertama

    Apakah kalian percaya dengan ungkapan cinta pertama? Perlu diketahui bahwa cinta pada pandangan pertama memang benar adanya dan sudah banyak fakta yang membenarkan hal tersebut.

    Tapi, jatuh cinta pada pandangan pertama pun tidak serta merta hadir tanpa sebuah alasan yang tepat sesuai dengan prinsip dasar “sebab-akibat”.

    Lantas, yang perlu kita ketahui dan cari tahu, apakah sebab yang menjadikan cinta tersebut muncul pada pandangan pertama?

    Hal ini penting, sebab cinta pada pandangan pertama tidak hanya ditujukan kepada lawan jenis, melainkan bisa juga ditujukan kepada relasi atau partner berbisnis.

    Cara Memikat Orang Pada Pandangan Pertama

    Nah, untuk lebih jelasanya, simak tips berikut agar kalian mampu memikat orang yang dituju pada saat pandangan pertama.

    1. Penampilan

    Pada dasarnya hampir setiap orang akan terlihat lebih elegan dan berwibawa jika mengenakan pakaian yang rapi.

    Sebab, dari cara berpakaian akan terlihat bagaimana karakter dan kepribadian orang tersebut. Dengan berpenampilan rapi, secara tidak langsung kita sudah menghipnotis orang lain untuk lebih memerhatikan kita.

    Semakin sering seseorang memerhatikan kita, sudah berarti semakin dia tertarik kepada kita. Logika sederhananya seperti itu.

    Jadi, usahakanlah kenakan pakaian yang rapi saat pertemuan pertama dengan seseorang.

    2. Cara Bicara

    Seperti ungkapan yang mengatakan “Diam adalah Emas”. Jangan terlalu banyak bicara jika dirasa tidak perlu atau tidak penting.

    Usahakan berbicaralah mengenai topik yang sedang dibincangkan dan jangan lari ke topik lain. Lantas, jangan terlalu diam.

    Sebab, dengan terlalu diam menunjukkan bahwa kita orang yang mudah dituntun dan tidak memiliki pola berpikir sendiri.

    Penting juga, jangan pernah memotong pembicaraan orang lain, sebab bagaimanapun etika harus tetap kita perhatikan.

    3. Perilaku

    Dalam hal apapun, kesopanan adalah hal yang tidak bisa ditawar walau sedikitpun. Tunjukkan bahwa kita adalah orang yang memiliki tingkat kesopanan tinggi.

    Dengan begitu, orang lain akan menganggap kita sebagai orang yang sangat berkualitas.

    Cara duduk, cara mendengarkan orang berbicara, cara menyampaikan argumen, dan berbagai macam hal lain.

    Termasuk cara kita tersenyum dan tertawa. Semua harus dalam ruang lingkup kesopanan dan tidak menganggu orang lain.

    Membuat orang lain nyaman dengan kita akan memicu lahirnya cinta yang akan menimbulkan efek baik.

    4. Pola Pikir

    Ini sering terjadi, di mana seseorang merasa enggan dengan tema pembahasan yang sedang dibicarakan lantas ia melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan.

    Misal saat kita sedang disuguhkan dengan topik perbincangan yang sama sekali tidak penting, alangkah baiknya kita tetap menghargainya.

    Jangan pernah melakukan sesuatu yang bermaksud untuk menghentikan topik pembicaraan tersebut, seperti memainkan handphone atau bahkan pura-pura mengantuk.

    Karena tidak semua orang yang kita anggap bodoh adalah benar-benar bodoh. Kadang mereka sengaja seolah-olah bodoh untuk mengetahui reaksi kita.

  • Jangan Takut Bertemu Calon Mertua Kalau Kamu Cinta Anaknya

    Bagi kalian yang sedang menjalin hubungan atau pacaran, alangkah baiknya kalian melakukan hubungan yang sehat.

    Dalam kasus ini, hubungan sehat diartikan sebagai hubungan yang tidak melanggar norma atau aturan yang berlaku serta tidak melenceng dari batas kewajaran.

    Cara paling mudah untuk mendapatkan hubungan yang sehat adalah saling mengenal dengan keluarga masing-masing.

    Hal umum yang diketahui bahwa pria cenderung takut untuk bertemu keluarga pacarnya, khususnya bertemu dengan ayah dari sang pacar.

    Hal tersebut dikarenakan sang pria takut jika ayah wanitanya menanyakan hal yang serius, seperti masalah pekerjaan atau hal yang menjurus ke pernikahan.

    Kadang juga, tak sedikit pria merasa takut jika nantinya ayah dari pacar tidak menyukainya karena beberapa alasa.

    Dengan begitu, sebuah kekhawatiran pun muncul, yakni hubungan mereka tidak mendapatkan restu yang akan menjadi momok dalam pikiran pria.

    Padahal, jika pria memang benar-benar sayang kepada pacarnya, ia tidak akan pernah ragu ataupun merasa takut jika dituntut untuk bertemu ayah dari wanita idamannya.

    Bagaimana tidak, justru dengan memiliki sifat gentle seperti itu, memberikan nilai positif bagi seorang pria.

    Untuk apa takut jika tidak melakukan kesalahan? Lantas, jika memang serius, mengapa tidak sampai nyali untuk sekedar berbincang hangat?

    Dengan penjabaran tersebut, bisa diambil kesimpulan ringan bahwa jika seorang pria takut bertemu orang tua karena pertanyaan yang lebih serius, maka cintanya juga perlu dipertanyakan.

    Sebab, ketika hati sudah mantap dan membulatkan tekad untuk hidup bersama, harusnya seorang pria senang dan justru menunjukkan antusiasnya, bukan malah menunda-nunda seakan bersembunyi di balik tubuh wanita.

    Untuk itu, cintailah orang yang benar-benar mencintai kita karena dalam cinta, ada sebuah etika yang tidak bisa ditawar, yakni keseriusan.

  • Menikah atau Karir? Polemik yang Tiada Akhir

    Bagi setiap insan yang sudah menginjak usia dewasa, tentunya mulai terbesit keinginan untuk memiliki bahtera kehidupan sendiri, yakni keluarga yang dimulai dengan pernikahan.

    Namun, menikah bukanlah suatu hal yang mudah bagi kaum muda. Ada begitu banyak pertimbangan serta polemik yang bisa mengurungkan niat mereka untuk menikah. Padahal usia sudah cukup matang, hanya saja nyali belum menunjukkan taringnya.

    Itulah fakta yang terjadi pada jaman yang semakin maju ini. Alasan umum orang enggan untuk menikah di usia yang tepat adalah faktor ekonomi. Mereka berdalih ingin meniti karir terlebih dahulu, baru menikah setelah karir yang diimpikan menjadi kenyataan.

    Perlu diingat, segala sesuatu memiliki parameter dan tolak ukur sendiri, termasuk dalam hal pernikahan. Sebagai insan yang bijaksana, sudah sepatutnya setiap manusia mengetahui parameter dan targetnya untuk menikah.

    Adapula yang ingin menikmati masa muda lebih lama lagi sehingga memilih untuk menunda pernikahan. Dengan begitu, muncullah sebuah pertanyaan, apakah dengan menikah, masa muda kita akan hilang? Atau harapan pada karir begitu saja hangus tertiup kabut kelam?

    Tidak! Sebenarnya, hal mendasar yang perlu disadari oleh setiap manusia tentang pernikahan ialah “KESIAPAN”. Ya, kesiapan adalah jawaban yang paling kompleks untuk mewakili kegelisahan yang dirasa.

    Karir baik tidak menjamin terwujudnya pernikahan yang baik pula. Begitu juga sebaliknya, usia matang belum tentu menjadikan pernikahan lebih nikmat. Justru jika terlalu matang, maka semakin cepat membusuk pula cita rasa itu.

    Usia berapapun dan materi seberapapun tidak bisa menjadi patokan dalam menentukan waktu pernikahan. Namun, dengan kesiapan, maka semua akan terasa nikmat karena tidak ada beban yang menjadi momok kehidupan.

    Kembali ke hakekatnya, bahwa rezeki manusia telah diatur oleh-Nya. Sangat tidak sopan jika kita merasa takut akan kekurangan. Sebab, merasa takut kekurangan adalah sebuah bentuk dari ketidaksyukuran kita terhadap ketentuan-Nya. Jadi, jangan menggunakan materi atau usia sebagai parameter, tapi menikahlah selagi kita “SIAP”.