Tag: ipuk fiestiandani

  • Program Gesah Bareng Ambi Bupati, Warga Bisa Curhat Langsung dan Cari Solusi Bersama

    Program Gesah Bareng Ambi Bupati, Warga Bisa Curhat Langsung dan Cari Solusi Bersama

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani membuka ruang komunikasi langsung dengan masyarakat melalui program “Gesah Bareng Ambi Bupati”.

    Forum ini dirancang sebagai tempat warga menyampaikan persoalan yang mereka hadapi sekaligus berdiskusi bersama pemerintah untuk mencari jalan keluar.

    Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap dua pekan. Masyarakat dapat datang dan menyampaikan keluhan maupun aspirasi secara langsung kepada Bupati Ipuk tanpa harus melewati proses birokrasi yang panjang.

    Menurut Bupati Ipuk, forum tersebut merupakan salah satu upaya mendekatkan pemerintah dengan masyarakat.

    Dengan bertemu langsung, pemerintah dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai persoalan yang terjadi di lapangan sekaligus menentukan langkah penanganannya.

    “Lewat Gesah Bareng Ambi Bupati, kami ingin warga bisa menyampaikan langsung apa yang menjadi persoalannya. Jadi tidak hanya mendengar dari laporan, tetapi kami bisa berdiskusi langsung dan mencari jalan keluarnya bersama,” ujar Bupati.

    Dialog secara langsung juga dinilai dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat. Setiap persoalan yang disampaikan akan dipetakan dan dikoordinasikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjutinya.

    “Jadi tidak hanya menampung persoalan warga, namun forum ini juga sarana bagi kami untuk mendapatkan masukan dari warga agar kebijakan kami lebih pas dengan kebutuhan warga,” kata Ipuk.

    “Harapannya, warga pulang dari forum ini tidak hanya membawa jawaban, tetapi juga kepastian siapa yang akan menindaklanjuti dan bagaimana prosesnya. Pemerintah juga mendapatkan masukan langsung untuk memperbaiki pelayanan,” imbuhnya.

    Pada pelaksanaan perdana, forum Gesah Bareng Ambi Bupati membahas sektor pertanian. Sejumlah warga menyampaikan persoalan yang mereka hadapi, mulai dari kebutuhan sarana produksi, irigasi, akses pupuk, hingga pemasaran hasil hortikultura.

    Bagi warga, forum tersebut dinilai memberikan ruang untuk menyampaikan persoalan secara langsung kepada pemimpin daerah. Fitri, warga Kampung Melayu, mengaku terbantu dengan adanya forum tersebut.

    “Saya kira, masyarakat ini perlu didengar. Apa yang menjadi keluh kesahnya bisa diketahui oleh pemimpinnya. Saya yakin Ibu Bupati pasti akan mencarikan solusi yang terbaik,” ungkapnya.

    Hal serupa disampaikan Sodiq, warga Kalibaru, yang hadir untuk menyampaikan aspirasi para petani kopi. Ia mengapresiasi kesempatan untuk berdialog langsung dengan pemerintah daerah.

    “Alhamdulillah, kami bisa menyampaikan secara langsung aspirasi kami. Ditanggapi dengan baik. Semoga segera dapat diwujudkan,” jelasnya.

    Pemkab Banyuwangi berencana melanjutkan program Gesah Bareng Ambi Bupati secara berkala dengan mengangkat berbagai tema yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

    “Silakan datang dan sampaikan apa yang menjadi masalah. Kita gesah bareng, kita cari solusinya bareng-bareng,” kata Wakil Bupati Mujiono. (*)

  • Takziah ke Mendiang Khusnan Abadi, Bupati Ipuk: Figur Politisi Pejuang

    Takziah ke Mendiang Khusnan Abadi, Bupati Ipuk: Figur Politisi Pejuang

    Banyuwangi – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bertakziyah ke rumah duka mendiang Khusnan Abadi di Genteng, Sabtu (13/6/2026).

    Ipuk mengenang mendiang sebagai seorang politisi pejuang semasa berkarir sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi.

    “Saya mengenal beliau sejak lama. Saya melihat langsung bagaimana kegigihan perjuangan beliau, dari seorang aktivis sampai menjadi salah politisi terkemuka di Banyuwangi. Selalu memperjuangkan aspirasi masyarakat,” ungkap Ipuk yang didampingi sang suami, Abdullah Azwar Anas.

    Sebagaimana diketahui, Khusnan Abadi merupakan aktivis yang berkarir sejak belia di Nahdlatul Ulama.

    Mulai dari IPNU, PMII hingga menjadi Sekretaris Cabang NU Kabupaten Banyuwangi. Sempat menjadi komisioner KPU Banyuwangi sebelum kemudian berlabuh di Partai Kebangkitan Bangsa.

    Di PKB Banyuwangi itu, Khusnan Abadi kemudian mendapat amanah sebagai anggota DPRD Banyuwangi.

    Ia dipercaya hingga tiga periode sebagai wakil rakyat di Gedung Dewan tersebut.

    “Selama beliau menjadi anggota dewan, kerap bersebrangan pandangan dengan kami di eksekutif. Namun, perbedaan tersebut semata untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Banyuwangi. Tidak sekadar didorong oleh sentimen politik atau tendensi tertentu,” kenang Ipuk.

    Sekeras apapun perbedaan pandangan yang terjadi di gedung dewan itu, imbuh Ipuk, selalu disampaikan dalam kerangka akademik dan kesantunan adab.

    “Ini perlu diteladani oleh para politisi muda Banyuwangi. Perbedaan pandangan harus selalu disampaikan dengan cara beradab dan kerangka akademik yang dapat dipertanggungjawabkan,” harapnya.

    Di hadapan keluarga mendiang Khusnan Abadi, Ipuk berpesan agar dapat terus melanjutkan nilai-nilai perjuangan sang ayahanda.

    “Semoga terus diberikan kesabaran dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggal. Serta mari kita doakan almarhum diterima segala amal baiknya dan diampuni segala khilafnya,” pungkasnya. (*)

  • Dukung 8 Prioritas Presiden Prabowo 2027, Bupati Ipuk Sebut Selaras dengan Pembangunan Banyuwangi

    Dukung 8 Prioritas Presiden Prabowo 2027, Bupati Ipuk Sebut Selaras dengan Pembangunan Banyuwangi

    Presiden Prabowo Subianto menyampaikan delapan prioritas pembangunan yang akan menjadi fokus pemerintah pada 2027.

    Agenda tersebut meliputi kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur, perumahan serta ketahanan terhadap bencana, penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, hingga percepatan penurunan kemiskinan.

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai sejumlah agenda prioritas pemerintah pusat tersebut memiliki keterkaitan dengan berbagai program pembangunan yang telah dijalankan di Banyuwangi.

    “Delapan program tersebut selaras dengan agenda pembangunan daerah yang selama ini dijalankan Banyuwangi. Dengan adanya keselarasan antara kebijakan nasional dan program daerah, dengan demikian manfaat pembangunan akan semakin dirasakan masyarakat.” kata Bupati Ipuk, Sabtu (15/8).

    Delapan prioritas tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan terkait RAPBN 2027 di Gedung MPR RI, Jumat (14/8).

    Bupati Ipuk menyaksikan pidato tersebut secara langsung dari Gedung DPRD Banyuwangi.

    Kegiatan itu juga dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana beserta wakil dan anggota DPRD, Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) Wishnu Krestiawan, perwakilan Forkopimda, serta jajaran OPD Banyuwangi.

    Untuk sektor pangan, Banyuwangi telah menjalankan sejumlah kebijakan guna mempertahankan produktivitas pertanian.

    Salah satunya melalui regulasi yang membatasi alih fungsi lahan sawah produktif menjadi bangunan permanen.

    Kebijakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung target swasembada pangan nasional.

    Banyuwangi selama ini menjadi salah satu daerah penyangga pangan di Jawa Timur. Kontribusi tersebut antara lain terlihat dari produksi beras yang mencatat surplus 383.258,03 ton pada 2025.

    Sementara itu, produksi beras pada periode Januari hingga Juni 2026 telah mencatat surplus sebesar 174.005 ton.

    Di bidang pendidikan, berbagai program dijalankan Pemkab Banyuwangi untuk menekan angka putus sekolah, memperluas akses pendidikan tinggi, dan memperkuat pendidikan inklusif.

    Program tersebut di antaranya Beasiswa Banyuwangi Cerdas yang memberikan kesempatan kuliah gratis bagi warga kurang mampu serta Beasiswa Progresif (B-Pro) yang menyediakan dukungan pendidikan hingga jenjang dokter spesialis.

    Banyuwangi juga memiliki Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh), Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun (Rindu Bulan), program inklusi Agage Pinter bagi Anak Berkebutuhan Khusus, serta Siswa Asuh Sebaya (SAS) yang mendorong kepedulian antarsiswa.

    “Banyuwangi juga mendukung program Sekolah Rakyat dengan menyediakan lahan untuk pembangunannya,” kata Ipuk.

    Sementara di sektor kesehatan, Pemkab Banyuwangi memprioritaskan penanganan stunting, penguatan layanan kesehatan berbasis desa, serta peningkatan fasilitas kesehatan di wilayah pelosok.

    Pembenahan sarana dan prasarana puskesmas juga terus dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan.

    Selain itu, dokter spesialis dijadwalkan memberikan layanan di puskesmas agar masyarakat dapat memperoleh akses pelayanan kesehatan yang berkualitas dan lebih dekat.

    “Semua ini untuk memberikan layanan kesehatan terbaik sebagaimana harapan Presiden Prabowo dalam pidatonya yang menjadikan Puskesmas sebagai ujung tombak layanan kesehatan rakyat Indonesia,” ujar Ipuk.

    Upaya pengentasan kemiskinan juga menjadi bagian dari agenda pembangunan Banyuwangi.

    Pemkab Banyuwangi menjalankan berbagai program dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan untuk menekan angka kemiskinan.

    “Banyuwangi juga fokus pada program pengentasan kemiskinan. Dengan berbagai upaya dan kolaborasi berbagai stakeholder daerah, Banyuwangi berhasil menurunkan angka kemiskinan daerah ke titik paling rendah sepanjang sejarah. Yakni menyisakan 6,13 persen angka kemiskinan di 2025,” tambah Ipuk. (*)

  • Gandeng ITS, Banyuwangi Dorong Hilirisasi dan Inovasi Sektor Perikanan

    Gandeng ITS, Banyuwangi Dorong Hilirisasi dan Inovasi Sektor Perikanan

    Banyuwangi memperkuat upaya pengembangan sektor perikanan dan potensi maritim melalui kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) serta PW IKA ITS Jawa Timur.

    Kerja sama tersebut dituangkan dalam kesepakatan bersama yang ditandatangani di Surabaya, Selasa (11/8). Penandatanganan dilakukan bersama Kabupaten Nganjuk, Lamongan, dan Kota Pasuruan.

    Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan sektor perikanan, serta mengoptimalkan potensi maritim melalui penerapan teknologi yang berkelanjutan.

    Wakil Rektor II ITS Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sarana Prasarana, Dr. Ir. Machsus, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dibutuhkan untuk mengoptimalkan kekayaan kelautan Indonesia.

    “Indonesia merupakan negara kepulauan. Sumber daya kelautan yang ada di dalamnya itulah yang perlu kita eksplorasi untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran bangsa ini,” ujar Machsus.

    Menurutnya, ITS memiliki sejarah panjang dalam pengembangan sektor kelautan dan kemaritiman.

    Perguruan tinggi tersebut menurutnya menjadi salah satu kampus yang mendapat amanat Presiden Soekarno untuk memberikan perhatian pada bidang kelautan.

    “Untuk itu perlu kolaborasi bersama, bagaimana ke depan bisa mengawal kemajuan kemaritiman di Indonesia ini. Sehingga segala potensi yang ada bisa kita berdayakan untuk kemakmuran bangsa, terutama untuk kemakmuran Jawa Timur,” tambahnya.

    Ketua Umum PW IKA ITS Jatim Eri Cahyadi menilai perguruan tinggi bersama jejaring alumninya perlu mengambil peran dalam memberikan solusi berbasis teknologi bagi pemerintah daerah.

    Salah satu penerapannya, menurut Eri, dapat dilakukan melalui pengembangan teknologi pengering ikan maupun teknologi penerangan yang membantu nelayan dalam meningkatkan hasil tangkapan.

    “IKA ITS harus hadir memberikan pendampingan dan memanfaatkan keunggulan teknologi untuk membantu wilayah-wilayah di Jawa Timur,” kata Eri sekaligus Wali Kota Surabaya ini.

    Eri juga menilai sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan ITS sesuai dengan karakter Banyuwangi yang memiliki wilayah pesisir luas serta potensi perikanan yang besar.

    “Bagi Banyuwangi, ini menjadi nilai tambah untuk menggandeng ITS, terutama dalam pengembangan sektor perikanan,” ujar Ipuk.

    Ipuk menyebut masih terdapat nelayan di Banyuwangi yang menjalankan aktivitasnya dengan metode tradisional.

    Karena itu, penguatan teknologi, riset, pengolahan, dan hilirisasi dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus nilai ekonomi hasil perikanan.

    Pemkab Banyuwangi berharap kerja sama dengan ITS dapat menghasilkan inovasi yang bisa diterapkan secara langsung di masyarakat, bukan hanya berhenti pada kegiatan penelitian.

    “Mudah-mudahan kerja sama ini berdampak pada peningkatan produk perikanan. Tidak hanya perikanan, sektor pertanian dan pengembangan sumber daya manusia juga bisa dikolaborasikan,” kata Ipuk.

    Selain penandatanganan kerja sama, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan forum strategis nasional.

    Forum menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala Badan Penyuluhan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan KKP I Nyoman Radiarta, Direktur Utama PT Agrinas Jaladri Nasional (Persero) Kharisma Febriansyah, serta profesor dari ITS. (*)

  • Komnas HAM Apresiasi Pembangunan Inklusif Banyuwangi, Diusulkan Ikuti Penilaian HAM Nasional

    Komnas HAM Apresiasi Pembangunan Inklusif Banyuwangi, Diusulkan Ikuti Penilaian HAM Nasional

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI memberikan apresiasi terhadap berbagai upaya Pemkab Banyuwangi dalam memenuhi hak dasar masyarakat melalui kebijakan pembangunan yang inklusif.

    Apresiasi tersebut disampaikan dalam audiensi sekaligus sosialisasi program Penilaian HAM di Banyuwangi, Kamis (6/8). Kegiatan itu dihadiri Ketua Komnas HAM RI Anis Hidayah bersama jajaran komisioner.

    Dalam pertemuan tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan arah pembangunan daerah yang mengedepankan pendekatan human-centered development atau pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

    Sejumlah capaian pembangunan turut disampaikan, mulai dari penurunan angka kemiskinan menjadi 6,13 persen, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi 75,17, usia harapan hidup mencapai 74,43 tahun, hingga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,65 persen pada 2025.

    “Di sektor pendidikan kami terus memperkuat program sosial dan inklusif, Siswa Asuh Sebaya, Banyuwangi Mengajar, hingga beasiswa Banyuwangi Cerdas dan Banyuwangi Progresif,” ujar Ipuk.

    Dalam bidang pendidikan, Pemkab Banyuwangi juga memperluas akses bagi Anak Berkebutuhan Khusus melalui program Agage Pintar dan Lebur Seketi (Layanan Inklusif Peserta Berkebutuhan Khusus dengan Pendekatan Hati).

    Sementara di sektor kesehatan, pemerintah daerah mengembangkan berbagai layanan yang menitikberatkan pada pencegahan dan kemudahan akses masyarakat.

    Di antaranya Mall Orang Sehat, Jemput Bola Rawat Warga, serta layanan telekonsultasi 24 jam OASIS Wangi (Online Akses Solusi Indonesia Sehat dari Banyuwangi) yang menggandeng NGO NORA Health dari Amerika Serikat.

    “Pendidikan dan kesehatan merupakan investasi dasar. Kami memastikan faktor ekonomi, usia, maupun keterbatasan geografis tidak menghalangi warga memperoleh layanan yang layak,” kata Ipuk.

    Penguatan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) juga dilakukan melalui Peraturan Bupati Nomor 3 Tahun 2025 tentang Unit Layanan Disabilitas.

    Saat ini, enam dari 54 organisasi perangkat daerah di Banyuwangi telah mempekerjakan aparatur sipil negara penyandang disabilitas.

    Pemerintah daerah juga menyediakan ruang partisipasi bagi kelompok masyarakat melalui forum Rembuk Difabel, Rembuk Lansia, dan Rembuk Anak.

    Pada aspek pemenuhan hak pangan, Banyuwangi menjalankan program Rantang Kasih yang menyasar lebih dari 3.000 lansia miskin.

    Upaya penanganan stunting dilakukan melalui program Banyuwangi Tanggap Stunting dengan melibatkan sekaligus memberdayakan pedagang sayur keliling.

    “Setiap warga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh informasi, mengakses layanan publik, dan menikmati kehidupan yang layak tanpa terkecuali,” tegas Ipuk.

    Ketua Komnas HAM RI Anis Hidayah mengapresiasi kesiapan Pemkab Banyuwangi dalam menyampaikan data dan indikator pembangunan yang berkaitan dengan pemenuhan hak asasi manusia.

    “Saya cukup terkejut karena memperoleh data yang sangat komprehensif dari Ibu Bupati. Ini menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pemenuhan hak asasi manusia,” ujar Anis.

    Komnas HAM kemudian menyatakan akan menunjuk Banyuwangi sebagai salah satu daerah yang menjadi sasaran penilaian terhadap penerapan nilai-nilai HAM dalam pembangunan daerah.

    Program Penilaian HAM merupakan agenda nasional yang telah berlangsung selama tiga tahun di bawah koordinasi Bappenas.

    Program tersebut bertujuan mengukur sejauh mana pemerintah daerah menerapkan prinsip-prinsip HAM dalam pelaksanaan pembangunan.

    Anis menambahkan, Banyuwangi menjadi salah satu daerah di Pulau Jawa sekaligus perwakilan Jawa Timur yang diproyeksikan mengikuti penilaian HAM pada tahun depan bersama sejumlah daerah lainnya.

    “Program yang dijalankan Banyuwangi menunjukkan banyak kemajuan. Berbagai kebijakan yang telah dilakukan sudah mengarah pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat sesuai indikator hak asasi manusia,” kata Anis. (*)

  • Bupati Ipuk Lepas 1.312 Calon Jemaah Haji Banyuwangi 2026, Mayoritas Lansia dan Jemaah Prioritas Dapat Layanan Khusus

    Bupati Ipuk Lepas 1.312 Calon Jemaah Haji Banyuwangi 2026, Mayoritas Lansia dan Jemaah Prioritas Dapat Layanan Khusus

    Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, melepas keberangkatan Calon Jemaah Haji (CJH) Banyuwangi tahun 2026 di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Selasa (12/5).

    Tahun ini, total jemaah haji asal Banyuwangi mencapai 1.312 orang yang terbagi dalam lima kelompok terbang (kloter).

    Rinciannya, kloter 71 terdiri atas 8 jemaah, kloter 82 dan 83 sebanyak 752 jemaah, serta kloter 84 dan 85 sebanyak 550 jemaah.

    Pemberangkatan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama diikuti 752 jemaah yang tergabung dalam kloter 82 dan 83.

    Sementara kloter 84 dan 85 dijadwalkan berangkat pada Selasa malam. Adapun delapan jemaah yang tergabung dalam kloter 71 telah diberangkatkan lebih awal dari Kecamatan Glenmore.

    Seluruh jemaah diberangkatkan menuju Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci.

    Dalam sambutannya, Ipuk Fiestiandani mendoakan seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar dan kembali ke Banyuwangi sebagai haji yang mabrur.

    “Alhamdulillah Bapak/Ibu akan berangkat beribadah ke Tanah Suci memenuhi panggilan Allah SWT. Kami doakan ibadah yang dijalankan lancar, selamat hingga kembali menjadi haji yang mabrur,” ujar Ipuk.

    Ipuk juga meminta para jemaah turut mendoakan Banyuwangi agar tetap aman, nyaman, dan terhindar dari berbagai bencana.

    “Kami berharap bapak ibu semua berkenan mendoakan kebaikan untuk Banyuwangi, agar Banyuwangi diberikan keamanan, kenyamanan serta dijauhkan dari segala macam bencana dan bahaya,” lanjutnya.

    Menurut Ipuk, para jemaah tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga membawa nama baik daerah dan Indonesia selama berada di Arab Saudi.

    “Karena bapak/ibu bukan hanya menjadi jemaah haji, tetapi juga duta bagi Indonesia dan Banyuwangi khususnya, sehingga setiap sikap dan perilaku kita akan mencerminkan negara dan daerah asal,” katanya.

    Selain itu, Ipuk meminta para petugas haji memberikan pelayanan optimal, terutama kepada jemaah lanjut usia (lansia) dan jemaah dengan kondisi kesehatan khusus.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Banyuwangi, Rif’an Junaidi, menjelaskan bahwa para jemaah yang diberangkatkan pada Selasa pagi langsung menuju embarkasi Sukolilo di Surabaya.

    “Mereka akan beristirahat sekitar 20 jam dan akan diberangkatkan menuju Tanah Suci besok pagi. Prosesi haji akan berlangsung selama 40 hari,” terang Rif’an.

    Dari total 1.312 jemaah, sebanyak 503 orang merupakan jemaah lanjut usia di atas 65 tahun.

    Sementara itu, terdapat 144 jemaah dengan kategori risiko tinggi. Jemaah tertua asal Banyuwangi tercatat berusia 103 tahun, sedangkan yang termuda berusia 18 tahun.

    Rif’an menambahkan, jemaah prioritas seperti lansia, jemaah risiko tinggi, dan penyandang disabilitas telah didata untuk mendapatkan layanan khusus selama pelaksanaan ibadah haji.

    “Untuk jemaah prioritas yakni lansia, risti, dan juga difabel, Banyuwangi sudah mendata seluruhnya. Nantinya akan ada fasilitasi dan layanan lebih dibanding jemaah lainnya, salah satunya mengikuti program Murur,” ujarnya.

    Program Murur merupakan skema pelayanan haji di mana jemaah hanya melewati area Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan saat puncak musim haji

    Dalam skema ini, jemaah bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah dan langsung melanjutkan perjalanan ke Mina tanpa menjalani mabit atau bermalam di Muzdalifah seperti prosesi haji pada umumnya.

    “Dengan demikian jemaah prioritas terhindar dari kepadatan, sehingga bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman dan kesehatannya tetap terjaga,” tambah Rif’an.

    Menjelang keberangkatan, berbagai prosesi pelepasan juga dilakukan oleh keluarga, warga, hingga kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) di sejumlah wilayah Banyuwangi.

    Jemaah asal Wongsorejo misalnya, diberangkatkan dari Masjid Jami Baiturrahim pada Selasa pagi (12/5).

    Sementara jemaah dari Rogojampi, Blimbingsari, Songgon, dan Kabat dilepas melalui Masjid Besar Baiturohiem sebelum menuju depan Kantor Pemkab Banyuwangi.

    Beberapa jemaah juga mendapat pelepasan khusus dari keluarga dan lingkungan sekitar. Suginaryo, imam Musala Ar Rohman Prejengan 1, diawali prosesi pamitan di Radio Komunitas Istana Laros FM Candian.

    Triasari Nur dilepas langsung oleh keluarga besar Mbah Ardiman. Marhen mendapat doa dan dukungan dari rekan guru serta warga Perum Gurit.

    Sementara pasangan Fairuz Abadi dan Rita berjalan kaki diiringi tetangga serta warga SMPN 3 dan SMAN Darushollah dari kediaman tokoh masyarakat H. Choirul Zain.

    Dalam prosesi pelepasan tersebut, Ketua Takmir Dr. H. Lukman turut memberikan pesan kepada para jemaah.

    “Mesti sabar, manut ketua regu dan rombongan serta pembimbing,” pesannya.

    Doa bersama juga dipimpin H. Hayatuddin dengan harapan seluruh jemaah kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat serta memperoleh predikat haji mabrur dan ahli surga.

  • Semarak HDI 2025 dan Konvoi Difabel Tegaskan Komitmen Inklusif Banyuwangi, Ipuk: Kalian Ada, Kuat, dan Berdaya

    Semarak HDI 2025 dan Konvoi Difabel Tegaskan Komitmen Inklusif Banyuwangi, Ipuk: Kalian Ada, Kuat, dan Berdaya

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 bertema “Setara Berkarya Berdaya Tanpa Batas” digelar pada Senin (1/12/25), difasilitasi Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai organisasi penyandang disabilitas dan lembaga peduli difabel, seperti Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Rangkaian acara dibuka dengan konvoi sepeda motor modifikasi oleh anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI).

    Para penyandang disabilitas dari PPDI, Digawangi, Gerkatin, HWDI, dan Pertuni turut berpartisipasi sebagai pembonceng.

    Konvoi dipandu oleh MC Nurul Imam, barista netra dari Asyifa Kopi, dengan titik start di Terminal Wisata Terpadu Sobo (TWTS).

    Asisten Pemerintahan dan Kesra, M.Y. Bramudya, yang melepas keberangkatan konvoi, berharap komunitas difabel dapat memanfaatkan terminal terpadu tersebut secara rutin sebagai ruang ekspresi maupun wadah diffabelpreneur untuk menampilkan karya, keterampilan, dan produk UMKM Sahabat Komunitas.

    Didampingi Kadinsos PP&KB dan perwakilan Polresta yang sebelumnya memfasilitasi pembuatan SIM D, Bramudya mengibarkan bendera start.

    Iring-iringan dipimpin oleh Kendaraan Tanggap Dinsos yang membawa pengeras suara berisi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan suara Nurhadi Windoyo, penyiar radio komunitas JRKBB-JRKI yang pernah menjadi Ketua Pertuni dan kini memimpin YALI.

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional Banyuwangi

    Sekitar 45 sepeda motor modifikasi dengan total 99 peserta bergerak menuju Taman Makam Pahlawan Wiswa Raga Satria. Di lokasi tersebut, rombongan disambut langsung oleh Bupati Banyuwangi dengan senyum dan pantun.

    “Konvoi ini bukan sekadar beriringan, tetapi membawa pesan bahwa kalian ada, kuat, berdaya, dan Banyuwangi memberi ruang kesetaraan inklusif di dunia pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga kesempatan berkarya,” ujar Bupati yang selama tiga tahun terakhir menginisiasi program Rembug Disabilitas.

    Pada momen ini juga dilakukan pembacaan ikrar dan penandatanganan Program Building Effective Network (BEN) yang difasilitasi Liliane Founds dan NLR Indonesia.

    Penandatanganan dilakukan oleh Bupati bersama dua lembaga pelaksana program, yaitu Rumah Literasi Indonesia dan Aura Lentera, serta komunitas penyandang disabilitas.

    Di sisi lain, pertandingan sepak bola amputasi turut meramaikan peringatan HDI.

    Bertempat di sisi barat Stadion Diponegoro, digelar laga persahabatan antara Persewangi dan Persaid Jember yang diperkuat sejumlah pemain timnas.

    Pertandingan 2×15 menit yang dipimpin wasit Askab PSSI, Nanang, berakhir dengan skor 0–4.

    Puncak HDI 2025 digelar di SLB Negeri wilayah Giri. Acara menampilkan The Filling Band dan Gamelan Gerayangan yang mengiringi penampilan tari jejer gandrung tunarungu.

    Kegiatan berlanjut dengan sholawatan dan penyerahan santunan yatim penyandang disabilitas oleh Wakil Bupati H. Mujiono, didampingi para kepala dinas dan Camat Giri.

    “Manusia tidak dinilai dari kesempurnaannya, tetapi dari potensi dan kemanusiaannya yang setara. Pemda pun belum sempurna, sehingga kami membutuhkan masukan dan kolaborasi untuk mencapai mimpi bersama,” ujar Wabup yang memulai karier birokrasi dari bawah hingga menjadi Sekda.

    Acara juga mencakup pelantikan Pengurus Gerkatin serta praktik bahasa isyarat berupa pembacaan Surat Al-Fatihah dan menyanyikan lagu Manusia Kuat (feat. Tulus).

    Selain itu, Perkins menyalurkan bantuan simbolis berupa kursi roda, sepatu bantu tulang bengkok, dan alat kesehatan lainnya.

    Kegiatan ditutup dengan pelepasan balon harapan dan pemborongan produk diffabelpreneur oleh pejabat yang hadir.

    Menurut JBI Firdaus, setelah HDI 2025 yang difasilitasi Dinas Sosial ini, pada tanggal 2 Desember akan digelar berbagai lomba antar-SLB, dan pada 3 Desember dilaksanakan jalan sehat di seputaran Gesibu Blambangan.

    “Insya Allah pada 3 Desember sudah hadir kepala sekolah kami, Bu Masfufah, yang saat ini menerima penghargaan dari Gubernur Khofifah sebagai kepala SLB berprestasi 3 besar dan inspirasi Jatim,” ujar Suyatno Baskoro selaku sie acara.

    Ketua Forum Organisasi Penyandang Disabilitas, Umar Asmoro, berharap momentum HDI 2025 dapat meningkatkan literasi, memperbaiki data penyandang disabilitas, serta mengurangi berbagai hambatan yang selama ini dihadapi kelompok dengan kekhususan dan keistimewaan ini.

  • Banyuwangi Ikuti Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional

    Banyuwangi Ikuti Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional

    Banyuwangi kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman.

    Pada Senin, 11 Agustus 2025, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan inovasi pada sembilan tatanan Kabupaten Sehat dalam agenda verifikasi lanjutan tingkat nasional.

    Kegiatan ini berlangsung secara daring dari Aula Rempeg Jagapati Pemkab Banyuwangi.

    Dalam kesempatan tersebut, Bupati Ipuk didampingi oleh Wakil Bupati Mujiono, Sekretaris Daerah Guntur Priambodo, Asisten MY Bramudya, Kepala Bappeda Yayan TW, serta jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah.

    Turut hadir pula Ketua Forum Banyuwangi Sehat Soekarjo beserta jajaran, perwakilan Forum Kabupaten/Kota Sehat (FKKS) Frida, Camat Kota Banyuwangi Hartono, Ketua TP PKK Anna Nazili Hanim, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya yang berperan dalam pengembangan Kabupaten Sehat.

    Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional
    Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional (Dok. sastrawacana.id/)

    Dalam pemaparannya, Bupati Ipuk menyoroti berbagai inovasi dan prestasi yang telah dicapai Banyuwangi pada masing-masing tatanan.

    Ia juga memaparkan penghargaan yang telah diraih, mulai dari tingkat nasional hingga pengakuan internasional seperti status Geopark.

    Semua pencapaian tersebut menjadi pertimbangan penting agar Banyuwangi kembali memperoleh penghargaan Swasti Sabha Wistara.

    Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi antarinstansi dan kolaborasi berbagai pihak yang terus bekerja melayani masyarakat.

    Agenda verifikasi lanjutan ini dimoderatori oleh perwakilan Kementerian Kesehatan RI, Anugerah, yang memberikan kesempatan kepada Dirjen untuk menyampaikan sambutan.

    Tim verifikator nasional kemudian memberikan catatan, masukan, dan permintaan data tambahan yang berkaitan dengan dokumen yang telah dikirim serta dinilai oleh pembina KKS Provinsi Jawa Timur.

    Tidak semua kota atau kabupaten lolos ke tahap verifikasi lanjutan. Bagi yang terpilih, tim nasional juga berpeluang melakukan tinjauan langsung ke lapangan untuk memastikan kesesuaian antara dokumen dan kondisi nyata.

    Asisten MY Bramudya dalam sambutannya menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan semata-mata untuk memperoleh penghargaan atau trofi.

    Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional

    Hal yang lebih penting adalah memastikan Banyuwangi tetap menjadi daerah yang bersih, nyaman, dan sehat, baik bagi warganya maupun bagi para tamu yang datang berkunjung.

    Sebagai tindak lanjut, seluruh catatan dari tim verifikasi nasional akan segera ditindaklanjuti.

    Dalam waktu maksimal 2 x 24 jam, data tambahan dan dokumen yang diminta akan disiapkan oleh SKPD terkait sesuai dengan sembilan tatanan Kabupaten Sehat.

    Penulis: Bung Aguk

    Editor: Maulana Affandi

  • Syukuran Kepulangan dari Tanah Suci, Bupati Banyuwangi Gelar Walimatul Hajj Bersama Tokoh dan Warga

    Syukuran Kepulangan dari Tanah Suci, Bupati Banyuwangi Gelar Walimatul Hajj Bersama Tokoh dan Warga

    Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menggelar acara walimatul hajj di kediaman pribadinya pada Jumat (13/6/2025).

    Acara ini dihadiri oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh masyarakat, serta para tetangga di sekitar kediaman Bupati.

    Walimatul hajj ini merupakan bentuk ungkapan syukur atas kepulangan Bupati Banyuwangi dari tanah suci Makkah usai menunaikan ibadah haji.

    Suasana acara semakin khidmat dengan pembacaan doa dan penampilan hadrah dari Majelis Shalawat Sajadah Nusantara.

    Ketua OJK bersama para tamu undangan menyampaikan ucapan selamat kepada Bupati atas kepulangannya dari ibadah haji.

    Mereka juga menyampaikan apresiasi atas semangat Bupati yang berhasil menjalankan ibadah haji dengan baik, sembari tetap menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin daerah.

    Kebahagiaan juga dirasakan oleh masyarakat Banyuwangi atas kepulangan pemimpin mereka.

    Tak sedikit yang berharap agar Bupati Ipuk Fiestiandani dapat menjadi teladan dalam menjalani kehidupan beragama dan menjalankan tugas pemerintahan dengan penuh integritas.

    Dalam sambutannya, Bupati Ipuk membagikan pengalaman berhajinya di tahun ini yang menurutnya sangat luar biasa, terutama karena adanya perubahan sistem pelaksanaan haji berbasis syarikah.

    Perubahan sistem ini disebutnya membawa dampak positif terhadap keteraturan dan keamanan proses ibadah haji.

    “Pelaksanaan haji tahun 2025 ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dengan adanya penerapan berbasis syarikah dan pemeriksaan secara ketat kepada jamaah haji oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia,” ujarnya.

    Tak lupa, Bupati juga menyampaikan bahwa selama di tanah suci, dirinya memanfaatkan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan jamaah haji asal Banyuwangi.

    Ia pun menitipkan doa untuk keberkahan, keselamatan, dan kemajuan Kabupaten Banyuwangi.

    Dalam penutup sambutannya, Bupati berharap agar seluruh perangkat kerja Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dapat melaksanakan tugas dengan baik, penuh tanggung jawab, dan senantiasa mendapat keberkahan dari Allah SWT.

    Acara walimatul hajj tersebut berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan, menjadi momen syukur yang tak terlupakan bagi Bupati Banyuwangi serta seluruh tamu undangan yang hadir.

    Kegiatan walimatul hajj ini tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur pribadi Bupati Ipuk Fiestiandani, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antara pemerintah daerah dan masyarakat.

    Momentum spiritual ini menjadi pengingat akan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai religius, serta semangat kebersamaan dalam membangun Banyuwangi yang lebih baik.