Tag: kbbi

  • Berdentang: Arti Menurut Kamus dan Simboliknya dalam Bahasa Indonesia

    Berdentang: Arti Menurut Kamus dan Simboliknya dalam Bahasa Indonesia

    Dalam kekayaan kosakata bahasa Indonesia, kata “berdentang” adalah salah satu kata yang sarat dengan nuansa bunyi dan imajinasi.

    Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan suara keras, nyaring, dan berulang, terutama suara yang berasal dari logam atau alat penanda waktu seperti lonceng dan jam besar.

    Kata ini juga memiliki kekuatan deskriptif yang kuat dalam puisi, prosa, dan narasi untuk menciptakan suasana tertentu.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “berdentang” berarti:

    berbunyi nyaring dan berulang-ulang (tentang lonceng, bel, dan sebagainya).

    Dengan pengertian tersebut, “berdentang” termasuk dalam kategori onomatopoeia atau kata yang meniru bunyi aslinya.

    Suara yang dihasilkan biasanya keras, menggema, dan sering menjadi penanda peristiwa atau waktu yang penting.

    Contoh Penggunaan dalam Kalimat:

    • Jam tua di menara gereja berdentang dua belas kali menandakan tengah malam.
    • Lonceng berdentang nyaring, menggema hingga ke seluruh sudut kota.
    • Setiap kali bel berdentang, anak-anak segera masuk ke kelas.

    Dalam contoh-contoh tersebut, kata “berdentang” menggambarkan suara yang mencolok dan menuntut perhatian, baik sebagai penanda waktu, peringatan, maupun pemicu emosi dalam narasi.

    Selain makna literal, kata “berdentang” juga sering digunakan secara simbolik untuk menggambarkan momen penting, seperti perubahan, peringatan, atau lonceng perayaan.

    Dalam sastra, bunyi dentang bisa melambangkan waktu yang berjalan, akhir atau awal suatu fase kehidupan, bahkan bisa membawa kesan dramatis atau spiritual.

    Misalnya, dalam cerita berlatar gereja tua atau kota Eropa klasik, “berdentang” sering dihubungkan dengan lonceng besar yang berbunyi di saat penting, seperti kematian, kemenangan, atau perayaan tahun baru.

    Dalam puisi atau novel, kata ini membantu menciptakan suasana yang dalam dan menggetarkan.

    Sinonim dan Ungkapan Serupa

    Beberapa kata atau frasa yang memiliki makna serupa dengan “berdentang”:

    • Berdenting: bunyi logam yang lebih ringan atau halus
    • Berbunyi nyaring
    • Menggema
    • Menyeruak di udara (lebih puitis)

    Jadi, kata “berdentang” menurut KBBI berarti berbunyi nyaring dan berulang, terutama berkaitan dengan suara lonceng, bel, atau benda logam lainnya.

    Lebih dari sekadar bunyi, “berdentang” membawa nuansa emosional dan imajinatif yang kuat.

    Kata ini dapat menggambarkan suasana waktu yang berlalu, perubahan nasib, hingga suasana sakral atau dramatis dalam narasi.

    Dalam dunia bahasa, “berdentang” adalah suara yang tak hanya terdengar, tetapi juga terasa.

  • Membesarkan Hati: Arti Menurut Kamus dan Maknanya dalam Komunikasi

    Membesarkan Hati: Arti Menurut Kamus dan Maknanya dalam Komunikasi

    Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan “membesarkan hati”, terutama dalam situasi ketika seseorang sedang mengalami kesedihan, kekecewaan, atau rasa putus asa.

    Ungkapan ini memiliki kekuatan emosional yang mendalam karena menggambarkan tindakan yang tidak hanya bersifat verbal, tetapi juga menyentuh sisi psikologis dan perasaan seseorang.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), membesarkan hati diartikan sebagai:

    menghibur atau menyenangkan hati seseorang; menguatkan semangat.

    Dengan kata lain, “membesarkan hati” berarti memberi dorongan positif kepada seseorang yang sedang berada dalam kondisi emosional yang lemah atau sedang mengalami kesulitan.

    Tindakan ini bisa berupa ucapan yang menghibur, sikap suportif, atau sekadar kehadiran yang menenangkan.

    Contoh Penggunaan dalam Kalimat:

    • Kata-kata ibunya berhasil membesarkan hati Rina yang gagal dalam ujian.
    • Kami berusaha membesarkan hati korban bencana agar tetap tabah menghadapi kenyataan.
    • Ucapan itu tidak membantu, justru tidak membesarkan hati sama sekali.

    Ungkapan ini umum digunakan dalam konteks empati dan dukungan emosional, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Dalam budaya Indonesia yang sangat menjunjung tinggi rasa kebersamaan dan kekeluargaan, tindakan membesarkan hati sering menjadi bagian penting dalam relasi antarmanusia.

    “Membesarkan hati” bukan sekadar kata atau frasa biasa karena membawa nuansa empati, kasih sayang, dan dukungan moral.

    Orang yang sedang dalam kesulitan seringkali membutuhkan dorongan dari orang lain untuk bisa bangkit kembali.

    Dalam konteks ini, tindakan membesarkan hati menjadi sangat berarti, meskipun terkadang hanya berupa kalimat sederhana seperti:

    “Kamu sudah berusaha, jangan menyerah ya.”

    “Aku tahu ini sulit, tapi kamu kuat dan tidak sendirian.”

    Kalimat-kalimat seperti itu meski terdengar ringan, bisa menjadi penguat yang besar bagi seseorang yang sedang goyah secara batin.

    Sinonim dan Ungkapan Serupa

    Beberapa ungkapan yang memiliki makna mirip dengan “membesarkan hati” antara lain:

    • Menguatkan semangat
    • Menyuntikkan motivasi
    • Memberi penghiburan
    • Menentramkan jiwa

    Jadi, secara harfiah dan makna kiasan, “membesarkan hati” adalah bentuk dukungan emosional yang penting dalam kehidupan sosial.

    Menurut KBBI, artinya adalah menghibur atau menyenangkan hati. Namun lebih dari itu, ungkapan ini mencerminkan sikap peduli, empati, dan kekuatan kata-kata dalam membangun kembali semangat seseorang yang sedang rapuh.

    Dalam dunia yang penuh tekanan ini, kadang yang kita butuhkan hanyalah satu kalimat sederhana yang mampu membesarkan hati.

  • Menyanggah: Arti Menurut Kamus dan Penggunaannya dalam Komunikasi

    Menyanggah: Arti Menurut Kamus dan Penggunaannya dalam Komunikasi

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar atau menggunakan kata “menyanggah”, terutama dalam konteks perdebatan, diskusi, maupun percakapan formal.

    Kata ini memiliki kekuatan makna yang cukup besar, karena terkait dengan tindakan membantah, membalikkan, atau memberikan argumen tandingan terhadap pernyataan atau pendapat orang lain.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menyanggah diartikan sebagai:

    menyatakan tidak setuju; membantah; menyangkal.

    Dengan kata lain, “menyanggah” adalah tindakan mengemukakan pendapat yang berlawanan atau tidak sejalan dengan pendapat orang lain.

    Biasanya, kata ini digunakan dalam suasana debat, klarifikasi, pembelaan diri, atau ketika seseorang ingin memperbaiki informasi yang menurutnya keliru.

    Contoh Penggunaan dalam Kalimat:

    • Mahasiswa itu menyanggah argumen dosennya dengan data terbaru dari jurnal ilmiah.
    • Ia menyanggah tuduhan yang diarahkan kepadanya dengan bukti-bukti yang kuat.
    • Tak seorang pun berani menyanggah keputusan rapat itu.

    Dalam kalimat-kalimat tersebut, “menyanggah” tidak hanya berfungsi sebagai kata kerja, tetapi juga menyiratkan sikap kritis, berani, dan argumentatif yang sangat penting dalam kehidupan demokratis maupun lingkungan akademik.

    Kata “menyanggah” juga memiliki nuansa emosional tertentu, tergantung konteks penggunaannya.

    Dalam situasi formal, menyanggah bisa bermakna positif, yaitu seseorang menyanggah karena ingin meluruskan informasi atau menghadirkan kebenaran.

    Namun, dalam konteks emosional atau pribadi, kata ini bisa bernada konfrontatif, bahkan menyiratkan pertentangan atau konflik.

    Dalam sastra atau percakapan kiasan, “menyanggah” bisa digunakan bukan hanya untuk pendapat, tetapi juga perasaan dan keyakinan. Misalnya: Tak mungkin aku menyanggah rinduku padanya.

    Kalimat ini menunjukkan bahwa “menyanggah” bisa digunakan secara puitis untuk menyatakan ketidakmampuan menolak perasaan.

    Kata Sejenis dan Turunan

    Beberapa kata yang memiliki makna berdekatan dengan “menyanggah” antara lain:

    • Membantah: cenderung lebih keras atau frontal.
    • Menyanggah keras: digunakan untuk bentuk penolakan yang tegas.
    • Sanggahan: bentuk nomina dari menyanggah, artinya pernyataan penolakan atau bantahan.

    Jadi, kata “menyanggah” menurut KBBI berarti menyatakan tidak setuju, membantah, atau menyangkal.

    Kata ini penting dalam komunikasi yang sehat, khususnya dalam debat dan diskusi ilmiah. Selain makna literal, “menyanggah” juga mengandung nuansa emosional dan bisa digunakan secara metaforis.

  • Di Mana dapat Mencari Arti Kosakata Sulit?

    Di Mana dapat Mencari Arti Kosakata Sulit?

    Dalam kegiatan membaca, menulis, atau belajar, kita sering menemui kosakata yang belum kita pahami artinya.

    Kata-kata sulit ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, baik kata baku, istilah ilmiah, kata serapan, hingga ungkapan khas daerah atau bahasa asing.

    Lalu, di mana kita bisa mencari arti dari kosakata-kosakata tersebut? Jawabannya tidak hanya satu.

    Saat ini, kita memiliki banyak pilihan sumber untuk menemukan arti kosakata sulit, baik dalam bentuk cetak maupun digital.

    Salah satu sumber paling umum dan terpercaya adalah kamus, terutama Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

    Kamus ini merupakan rujukan resmi bahasa Indonesia yang disusun oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

    KBBI tidak hanya tersedia dalam bentuk buku, tetapi juga dalam bentuk digital melalui situs kbbi.kemdikbud.go.id dan aplikasi resmi di ponsel pintar.

    Melalui KBBI, kita bisa mencari arti kata dengan cepat dan akurat, termasuk kelas katanya, contoh penggunaannya dalam kalimat, dan makna lainnya jika kata tersebut memiliki lebih dari satu arti.

    Selain KBBI, kita juga dapat mencari arti kosakata sulit dari kamus-kamus khusus, seperti kamus istilah medis, kamus hukum, kamus ekonomi, atau kamus bahasa daerah.

    Kamus-kamus ini digunakan untuk memahami istilah teknis atau profesional yang tidak selalu terdapat di KBBI.

    Misalnya, jika kita membaca artikel kesehatan dan menemukan istilah “hipotermia”, kita bisa merujuk ke kamus medis atau ensiklopedia kesehatan untuk menemukan maknanya secara lebih rinci.

    Dalam dunia modern saat ini, mesin pencari seperti Google juga menjadi alat bantu yang sangat efektif.

    Cukup ketikkan kata sulit yang ingin diketahui, dan biasanya hasil pencarian akan langsung menampilkan definisinya dari berbagai sumber, seperti Wikipedia, KBBI daring, atau situs pendidikan lainnya.

    Selain itu, ada juga aplikasi kamus digital dan situs pembelajaran bahasa seperti Tesaurus, Google Translate, dan Kamusku, yang menyediakan sinonim dan terjemahan kata dalam berbagai bahasa.

    Bagi pelajar, buku pelajaran dan glosarium di akhir bab sering kali menyediakan daftar istilah penting beserta artinya.

    Terakhir, bertanya langsung kepada guru, dosen, atau orang yang lebih ahli juga merupakan cara efektif untuk memahami makna kosakata dalam konteks yang tepat.

    Dengan banyaknya sumber yang tersedia, kita tidak perlu bingung atau takut saat menemui kata yang tidak kita kenal.

    Justru, ini adalah peluang untuk memperluas kosa kata dan memperkaya wawasan berbahasa.

  • Tulisan Mushola yang Benar Menurut KBBI

    Tulisan Mushola yang Benar Menurut KBBI

    Menurut KBBI, tulisan mushola yang benar adalah musala.

    Kata mushola adalah bentuk tidak baku, sama halnya dengan musalla, mushala, mushola, musola, musolah, dan sebagainya.

    Jadi, penulisan yang tepat sesuai kaidah KBBi adalah musala.

    Pengertian Musala

    Musala adalah tempat ibadah yang digunakan oleh umat Muslim.

    Meskipun tidak sebesar masjid, musala memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai tempat berkumpulnya jamaah untuk melaksanakan ibadah.

    Secara umum, musala memiliki tata cara dan aturan yang sama dengan masjid dalam melaksanakan ibadah.

    Pada umumnya, musala dilengkapi dengan perlengkapan seperti sajadah, karpet, dan Al-Quran untuk digunakan oleh jamaah dalam melakukan salat.

    Musala dapat dibangun di mana saja, baik di lingkungan perumahan, kantor, atau di tempat-tempat umum lainnya.

    Meskipun ukurannya lebih kecil daripada masjid, namun fungsi dan makna dari musala tidak kalah pentingnya dalam menjaga keimanan dan ketakwaan umat Muslim.

    Di dalam musala, umat Muslim dapat melakukan salat berjamaah atau salat sendiri sesuai dengan kebutuhan.

    Selain itu, musala juga sering digunakan untuk mengadakan acara-acara keagamaan seperti pengajian dan kajian kitab suci.

  • 100 Kata Bahasa Indonesia yang Jarang Digunakan di Kehidupan Sehari-hari

    100 Kata Bahasa Indonesia yang Jarang Digunakan di Kehidupan Sehari-hari

    Bahasa Indonesia memiliki ratusan ribu kosakata yang sudah terdaftar di KBBI. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring berjalannya waktu dan perkembangan bahasa.

    Kosakata adalah kumpulan kata atau istilah yang digunakan dalam suatu bahasa untuk berkomunikasi.

    Namun, sebagai pengguna Bahasa Indonesia, kita tentu tidak mengetahui semua kosakata Indonesia yang ada dalam kamus.

    Sebab, ada kosakata yang merupakan kosa kata sehari-hari, ada pula kosa kata yang jarang digunakan.

    Ada lebih dari 1000 kosakata Bahasa Indonesia dan juga kosa kata sastra Indonesia yang jarang diketahui, apalagi diucapkan.

    Jika membuka buku kosa kata Bahasa Indonesia, kita akan melihat bagaimana keterbatasan kita terhadap bahasa.

    Ada banyak sekali kosakata Bahasa Indonesia dan artinya yang tidak pernah kita dengar sebelumnya.

    Kali ini sastrawacana.id/ telah merangkum beberapa kosakata yang jarang bahkan nyaris tidak pernah digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Berikut adalah 100 kosakata Bahasa Indonesia yang jarang diketahui dan digunakan.

    Adun = Bersolek, elok (karena berhias)
    Agul = Sombong, bangga
    Akaid = Kepercayaan yang telah pasti dan tidak boleh dipersoalkan lagi; ilmu tentang kepercayaan
    Aklimatisasi = penyesuaian (diri) dengan iklim, lingkungan, kondisi, atau suasana baru
    Akordeon = alat musik yang dapat dilipat yang dilengkapi dengan bilah gamitan (udara akan bertiup dengan kuat apabila pemuput udara digerakkan dengan tangan)
    Aksioma = pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian
    Alamas = intan
    Alimun = golongan pekerja yang sudah tidak produktif
    Ambin = kain (tali dan sebagainya) pengikat anak (barang dan sebagainya) yang digendong
    Ambivalen = bercabang dua yang saling bertentangan (seperti mencintai dan membenci sekaligus terhadap orang yang sama)
    Amtenar = pegawai negeri; pegawai pemerintah
    Anderak = lubang perangkap untuk menangkap gajah
    Anno = tahun
    Apriori = Anggapan yang muncul sebelum mengetahui (melihat, menyelidiki, dan sebagainya) keadaan yang sebenarnya
    Aristokrasi = pemerintahan (kekuasaan) berada di tangan kaum bangsawan
    Aubade = nyanyian atau musik (untuk) penghormatan pada pagi hari
    Baktau = induk semang bagi perempuan lacur; muncikari
    Balairung = balai atau pendopo besar tempat raja dihadap rakyatnya
    Barbur = suka menghambur-hamburkan uang; boros
    Bena = menarik untuk diperhatikan
    Bertih = beras yang disangrai di kuali sampai kulitnya pecah meletup
    Buhul= simpul pada tali; ikatan (pada dasi)
    Belandong = penebang kayu di hutan
    Candramawa = hitam bercampur putih (tentang warna bulu kucing)
    Candala = rendah; hina; nista
    Capik = lumpuh (tentang kaki dan tangan)
    Celangak = terbuka lebar (tentang pintu dan sebagainya); celangap
    Cempala = lancang
    Cempera = cerai berai
    Cenangga = cacat tubuh yang dibawa sejak lahir; cangga
    Cendala = hina; buruk; keji; cabul
    Cenduai = guna-guna (mantra) untuk memikat hati perempuan
    Cerana = tempat sirih yang bentuknya seperti dulang berkaki (dibuat dari kuningan, perak, dan sebagainya)
    Cerang = tempat dalam rimba yang sudah ditebang pohon-pohonnya (seperti bekas ladang)
    Cerau = tiruan bunyi air hujan yang deras
    Codak = angkat, dongak
    Curu = mencret
    Cutel = tamat; habis (tentang cerita dan sebagainya)
    Dabal = pundi-pundi yang digantungkan pada ikat pinggang
    Dabih = sembelih
    Dabik = pukul (menunjukkan keberanian)
    Dabir = juru tulis; penulis
    Dahriah = orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan; ateis
    Daksina = selatan
    Dalu = ranum; terlampau masak (tentang buah-buahan)
    Damik = tampar
    Decur = tiruan bunyi air memancur dan sebagainya
    Dedar = berasa panas (tentang badan)
    Degil = keras kepala
    Delap = tak tahu maul (suka meminta)
    Dingkit = sesak
    Durja = Muram, sedih
    Ekskursi = perjalanan untuk bersenang-senang; piknik; darmawisata
    Fadihat = kejelekan; keaiban; kenistaan
    Fiat = persetujuan penuh dan resmi
    Gagai = memanjat
    Gagau = meraba
    Gahara = keturunan raja yang tulen (ayah ibunya anak raja-raja)
    Gahari = sedang
    Galgal = serba tergesa-gesa dan kasar (tentang perbuatan, tingkah laku, pekerjaan, dan sebagainya)
    Gayang = terhuyung-huyung atau tidak tegak berdiri karena mabuk (pusing kepala, pening, dan sebagainya)
    Gegares = makan banyak-banyak (rakus)
    Geligis = menggigil; menggentar keras
    Gelincuh = tersaruk, salah urat
    Gelingsir = ingsut, meluncur turun
    Gelipar = meleset (tentang pedang dan sebagainya yang ditebaskan)
    Geligit = menggigit berulang-ulang
    Gelojoh = suka makan banyak; lahap; rakus
    Gelimang = kotor
    Gerenyau = lancang (terutama tentang anak perempuan)
    Germang = seram (tegak bulu badannya)
    Geruh = celaka; malang; sial; nasib buruk
    Geta = takhta, singgasana
    Geronyot = berdenyut-denyut (tentang urat daging dan sebagainya)
    Halimbubu = pusaran angin
    Hembalang = berguling-guling; pontang-panting (tentang lari);
    Hukama = orang orang cerdik pandai, orang alim
    Indarus = ayam sabungan yang telah kalah berlaga
    Inkaso = upah bagi pemungut uang
    Insinuasi = tuduhan tersembunyi, tidak terang-terangan, atau tidak langsung; sindiran
    Interim = sementara; sementara waktu
    Internir = mengasingkan
    Itlak = mengakui kebenaran suatu ajaran tanpa diselidiki sendiri
    Itifak = persetujuan; persamaan; persesuaian
    Jaharu = orang jahat
    Jamhur = orang pandai
    Jelengar = diam keheran-heranan
    Jemuas = kotor (bergelimang) oleh cairan dan sebagainya yang lekat-lekat (tentang muka, tangan, dan sebagainya)
    Juadah = bekal makanan
    Kacapuri = bagian rumah yang berada di tengah-tengah; induk rumah, pusat istana
    Kadera = kursi
    Kalakian = ketika itu
    Kalibut = huru-hara
    Kalicau = mengelak
    Kalimantang = panji-panji putih panjang
    Kapiran = tidak terurus; telantar; tidak beroleh apa-apa; sia-sia
    Kedadak = penyakit buang-buang air dan muntah-muntah
    Kedekut = kikir (sekali); pelit (sekali)
    Kedengkik = kurus kering
    Kelimun = kelompok orang banyak; kerumun

    Itulah beberapa contoh kosakata Bahasa Indonesia yang jarang digunakan dalam perbincangan sehari-hari.

    Seiring berjalannya waktu, bahasa juga ikut berkembang sehingga ada banyak kosakata baru Bahasa Indonesia yang diadopsi dari bahasa asing.

    Maka, alangkah baiknya agar kita selalu mempelahari bahasa Indonesia dengan baik dan benar agar kita tidak semakin asing dengan kata-kata baru yang muncul di kemudian hari.

  • Daftar Tiruan Bunyi Terlengkap (Onomatope)

    Daftar Tiruan Bunyi Terlengkap (Onomatope)

    Daftar Tiruan Bunyi (Onomatope)

    Onomatope (dari Bahasa Yunani ονοματοποιία) adalah kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkannya.

    Konsep ini berupa sintesis dari kata Yunani όνομα (onoma = nama) dan ποιέω (poieō, = “saya buat” atau “saya lakukan”) sehingga artinya adalah “pembuatan nama” atau “menamai sebagaimana bunyinya”.

    Bunyi-bunyi ini mecakup antara lain suara hewan, suara-suara lain, tetapi juga suara-suara manusia yang bukan merupakan kata, seperti suara orang tertawa.

    Beberapa contoh onomatope:

    Suara hewan: menggonggong, mendesis, mengeong dsb.
    Suara lain: tercebur
    Suara manusia: ha-ha-ha

    Suara makhluk hidup

    Kucing mengeong
    Burung mencericip/berkicau
    Babi menguik
    Bebek meleter
    Anjing menggonggong/mendengking
    Serigala melolong
    Sapi melenguh
    Katak menguak
    Ular mendesis
    Kambing mengembik
    Merpati berdekut
    Ayam jantan berkokok
    Ayam betina berkotek
    Anak ayam menciap
    Macan mengaum
    Tikus mencicit
    Kuda meringkik
    Tidur mendengkur
    Berjalan terhuyung-huyung.

    Suara benda mati

    Meriam berdentam
    Angin berkesiur/mendesau
    Papan/kayu berderak
    Bel/lonceng berdentang
    Sendok berdenting
    Air bergemericik
    Pintu berderit
    Gigi gelemetuk (kedinginan)
    Telepon berdering
    Peluru berdesing
    Daun bergemeresik
    Jantung berdegup
    Uang logam bergemerincing
    Petir menggelegar
    Kuda berderap.
    Darah berdesir/menggelenyar.
    Selendang berkibar.

    Berdasarkan aktivitas

    Minum: gluk, gluk, gluk
    Menginjak kayu/ranting: krak, krak, krak
    Jatuh ke dalam air: Byur, jebur, plung (jika yang jatuh adalah benda)
    Menggunting: kres, kres, kres
    Meninju: Buk, dhuak
    Menyobek kertas: srek, srek
    Meledak: bum!
    Jatuh dengan keras: gedebuk! Gedebum!
    Barang pecah: Prang!
    Kaleng tertendang: Klontang!
    Menembak: Dor!
    Menyeruput: Srup, srup.
    Mengayun tongkat: Syuut, syuut.
    Menumpuk barang: Bruk, bruk.
    Batuk: Uhuk, uhuk.
    Bersin: Hatsyi! Hatsyi!
    Kunci diputar: Klik.
    Menusuk dengan pisau: Jleb.
    Perut keroncongan: Kruk, kruk.
    Kain dirobek: Breet, breeet.
    Menggigit makanan renyah: Kriuuk.
    Jam dinding kuno: Tik tok.
    Pohon bambu tertiup angin: Keriang keriut
    Ketukan di pintu: Tok tok tok.
    Sepatu hak tinggi di lantai: Tuk tuk tuk.
    Air menetes: Tes tes tes.

    Dari KBBI

    bang n tiruan bunyi spt bunyi – barang jatuh, meletup, dsb
    bap n tiruan bunyi barang jatuh di tanah lembut dsb; debap
    celebuk n tiruan bunyi spt batu dsb yg jatuh ke air
    celepik n tiruan bunyi spt barang kecil (cecak, kertas, dsb) jatuh di lantai
    celepuk n tiruan bunyi spt celepik tetapi lebih nyaring
    celung n tiruan bunyi spt bunyi angklung dsb
    ceter /cetér/ n tiruan bunyi cemeti (cambuk dsb) yg dicambukkan
    cit n tiruan bunyi spt bunyi tikus atau anak burung
    ciut n tiruan bunyi spt bunyi pohon ditempuh angin, pintu terbuka, dsb;
    berciut-ciut (menciut-ciut) v berbunyi “ciut, ciut”
    debak n bunyi spt bunyi orang meninju; debuk;
    debak-debuk v berulang-ulang berbunyi ”bak-buk” (spt bunyi barang-barang berat berjatuhan, orang meninju berulang-ulang, dsb)
    debam n tiruan bunyi spt bunyi benda berat jatuh ke lantai
    debap n tiruan bunyi spt bunyi barang jatuh dsb
    debar n, berdebar (berdebar-debar) v
    bergerak-gerak atau berdenyut-denyut keras atau lebih kencang
    decup n tiruan bunyi spt bunyi ikan menangkap kelekatu;
    berdecup(-decup) v berbunyi spt bunyi ikan menangkap kelekatu
    decur n tiruan bunyi spt bunyi air memancar (memancur dsb);
    medecur v 1 berbunyi spt bunyi air memancar; 2 memancar; memancur; bercucuran
    decut n tiruan bunyi spt bunyi bayi menyusu;
    berdecut(-decut) v berbunyi seperti bunyi bayi menyusu
    gar n tiruan bunyi spt bunyi guruh dsb; degar
    gelebuk n tiruan bunyi spt, barang jatuh
    gerdam n tiruan bunyi spt bunyi barang yg berat dan besar yg jatuh
    gerentang n tiruan bunyi berdentam-dentam (berdentang-dentang)
    koak (koak-koak) n tiruan bunyi spt bunyi burung gagak;
    letang n tiruan bunyi spt bunyi besi dipalu
    letik n tiruan bunyi spt bunyi gelas retak kena air panas;
    meletik v berbunyi
    mung n tiruan bunyi canang
    ning n tiruan bunyi sbg bunyi lonceng kecil
    nung n tiruan bunyi spt bunyi kenung

  • Daftar Kata Baru KBBI [Pemutakhiran 2019]

    Dalam setiap periode, kosakata bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan. Hal tersebut dikarenakan sifat bahasa yang dinamis, artinya dapat berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman.

    Maka dari itu, KBBI terus melakukan pemutakhiran kata atau pembaharuan agar pembendaharaan kata bahasa Indonesia semakin kaya dan tertata. Umumnya, KBBI versi daring akan memperbaharui kosakata sebanyak dua kali dalam setahun.

    Nah, agar lebih jelas, berikut adalah beberapa daftar kata baru KBBI 2019.

    1. Kahumata

    Mungkin masih banyak yang tidak tahu bahkan asing dengan kata yang satu ini. Yap, kahumata adalah kosakata baru dalam KBBI yang artinya bulan kesatu.

    Perlu diketahui, di Tanah Air tercinta ini, ada sebagian masyarakat yang tidak hanya menggunakan kalender Hijriah saja, tapi juga menggunakan kalender Batiang, yaitu kalender yang mengacu pada fase bulan.

    Nah, kata kahumata sendiri merujuk pada bulan kesatu atau awal fase menuju bulan pertama.

    2. Janapada

    Pemutakhiran kata KBBI selanjutnya adalah janapada. Tahukah kalian apa arti janapada? Merujuk pada KBBI, janapa memiliki arti wilayah di pinggi kota/negara. Sebenarnya istilah ini diambil dari bahasa Inggris, yaitu sub urban.

    Namun untuk memperkaya pembendaharaan kata bahasa Indonesia, KBBI menyebutnya sebagai kata baru, yaitu janapada.

    3. Takepan

    Takepan adalah jilid naskah lontar yang biasanya terbuat dari bilah kayu atau bambu. Untuk menghargai sejarah, lontar tetap menjadi peninggalan yang dilestarikan. Sebab di dalam lontar, berisi cerita-cerita zaman dulu, termasuk zaman kerajaan kerajaan sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    4. Rahum

    Kosakata baru ini diperuntukkan bagi kendaraan laut, yaitu perahu ataupun kapal. Maksud dari rahum adalah air asin/air laut yang masuk ke perahu/kapal. Jadi, ketika ada ombak tinggi yang airnya sampai masuk ke dalam perahu, maka hal tersebut disebut sebagai rahum.

    5. Anyu

    Mungkin kalian pernah merasa kesulitan membuka pintu karena kedua tangan memegang barang? Saat mengalami momen tersebut, kebanyakan orang pasti membuka pintu dengan organ tubuh lainnya, misalnya pinggang dengan cara mendorong.

    Yap, mendorong berulang-ulang menggunakan pinggang disebut dengan anyu. Istilah ini merupakan kosakata baru yang dimutakhirkan pada tahun 2019.

    6. Unikorn

    Belakangan ini kata unikorn tengah hangat dibincangkan oleh masyarakat Indonesia. Tapi ternyata unikorn bukan hanya sebuah istilah saja, namun sudah dimutakhirkan menjadi kata baku.

    Yap, unikorn adalah perusahaan rintisan yang nilainya lebih dari satu miliar dolar Amerika. Sebelumnya, istilah ini berasal dari bahasa asing, yaitu Unicorn. Kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi unikorn.

    7. Alpis

    Alpis adalah sebuah istilah yang digunakan untuk perut wanita yang baru saja melahirkan. Perut yang awalnya besar, kemudian menjadi mengecil setelah melahirkan. Itulah yang dinamakan alpis.

    8. Agau

    Agau adalah proses menyuapkan makanan ke anak menggunakan sendok hingga sang anak tekak atau terdesak, ditandai dengan sedikit batuk-batuk. Jadi ketika ibu terlalu dalam memasukkan sendok ke dalam mulut anak hingga membuat anak batuk, maka itu yang dimaksud dengan agau.

    9. Afoka

    Afoka adalah buah pisang yang terlepas dari tangkainya karena terlalu matang. Jadi, ketika buah pisang yang jatuh (akibat terlalu matang) karena telat dipanen, maka itu disebut afoka.

    10. Albung

    Untuk kata yang satu ini lebih condong ke urusan rasa. Albung adalah rasa hambar (tentang tuak) karena telah bercampur air.

    11. Antarlina

    Pernahkah kalian mendengar suara yang semakin lama semakin menghilang? Kalau pernah, maka itu adalah antarlina. Yap, kejadian ini memang sering dialami oleh kebanyakan orang. Misalnya suara sepeda motor yang semakin lama semakin menghilang karena jaraknya semakin jauh.

    12. Lantatur

    Lantatur adalah layanan tanpa turun; pengoperasian bisnis (seperti bank atau rumah makan) yang dirancang agar pelanggan dapat dilayani tanpa harus turun dari mobil.

    13. Kordofon

    Kordofon adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari senar yang dipetik, digesek, dan sebagainya. Misal gitar, biola, bass, dan sebagainya.

    Nah, selain itu, masih banyak lagi kosakata baru yang dimutakhirkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sehingga pembendaharaan kata bahasa Indonesia saat ini semakin kaya.

    Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/.

  • Pengertian dan Fungsi KBBI dalam Bahasa Indonesia

    Pengertian dan Fungsi KBBI dalam Bahasa Indonesia

    Dalam Bahasa Indonesia, tentu saja ada aturan-aturan atau kaidah yang berlaku dan harus diikuti oleh setiap penggunanya.

    Kaidah sendiri merupakan sebuah aturan yang mengatur perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Namun dalam konteks ini, perilaku yang diatur adalah perilaku berbahasa, baik verba maupun tulisan.

    Nah, karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sangat kaya akan kata, meliputi kata serapan dari Bahasa Asing, maka ada aturan pula yang mengikatnya. Aturan tersebut berupa bentuk penulisan yang baik dan benar.

    Hal tersebut difungsikan agar maksud dan tujuan yang dikemukakan menjadi lebih terarah serta jelas. Sebab, begitu banyak kata yang terkadang memiliki makna berbeda, walau penulisan sama.

    Pengertian KBBI

    Nah, menyadari hal tersebut akhirnya dibentuklah sebuah aturan baku yang disebut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam KBBI, berisi daftar kata baku yang digunakan dalam Bahasa Indonesia. Kata baku tersebut fungsinya untuk tulis-menulis yang sifatnya formal atau resmi.

    Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1988 saat Pembukaan Kongres V Bahasa Indonesia, terbit pertama kali KBBI.

    Sedari itu, KBBI adalah sumber rujukan yang jelas dan bisa dipercaya dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar.

    Semakin ke sini, perkembangan Bahasa Indonesia semakin mengalami kemajuan sehingga terdapat begitu banyak kata serapan baru yang sudah dicantumkan dalam KBBI.

    Fungsi KBBI

    Adapun manfaat atau fungsi KBBI adalah bisa digunakan sebagai sumber rujukan dalam penulisan karya tulis ilmiah maupun karya tulis lainnya.

    Mengingat teknologi sudah canggih, jadi setiap orang yang ingin menggali informasi dari KBBI, tidak perlu lagi membeli kamus yang tebalnya sampai ratusan halaman.

    Nah, itulah pengertian KBBI beserta fungsi dan manfaatnta. Jadi, jangan sampai salah tulis lagi, ya! Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/