Tag: kearifan lokal

  • Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, tetap teguh menjaga tradisi leluhur melalui ritual adat Kebo-Keboan.

    Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, ikhtiar, dan doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, serta hasil panen yang melimpah.

    Ketua Lembaga Adat Kebo-Keboan Alas Malang sekaligus Ketua Panitia Kebo-Keboan 2026, Doni Agus Ferdianto, menjelaskan bahwa tradisi tersebut lahir dari sebuah peristiwa pagebluk yang pernah melanda desa pada masa lampau.

    Wabah penyakit saat itu menyebar begitu cepat hingga merenggut banyak nyawa warga.

    “Konon, pada masa itu seseorang yang pagi hari jatuh sakit, sore harinya sudah meninggal. Dalam kondisi tersebut, Buyut Karti melakukan semedi di Watu Loso sebagai ikhtiar memohon kepada Tuhan agar pagebluk segera berakhir,” ujar Doni.

    Dari peristiwa itulah kemudian lahir ritual Kebo-Keboan yang terus dilaksanakan hingga kini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan doa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah, diberi keselamatan, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan dan pertanian.

    Kerbau dipilih sebagai simbol utama dalam ritual ini karena memiliki kedekatan yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris.

    Hewan tersebut dikenal kuat, tangguh, dan menjadi sahabat petani dalam mengolah sawah sejak dahulu.

    Selain itu, dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat, Danyang Watu Loso digambarkan sebagai sosok berbadan manusia berkepala kerbau yang dipercaya menjaga wilayah Alas Malang.

    Rangkaian ritual Kebo-Keboan dimulai sejak malam 1 Suro dengan menggelar selametan di Watu Loso, tempat yang diyakini sebagai lokasi Buyut Karti memperoleh petunjuk untuk mengakhiri pagebluk.

    Memasuki H-7, warga bergotong royong mendirikan Gapura Poro Bungkil yang kemudian dihiasi berbagai hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang diberikan Tuhan.

    Pada H-3, panitia bersama masyarakat mengadakan santunan kepada anak-anak yatim yang diawali dengan pawai obor.

    Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus doa agar seluruh rangkaian ritual berlangsung dengan penuh keberkahan.

    Dua hari menjelang puncak acara, masyarakat kembali bergotong royong menghias gapura menggunakan beragam hasil pertanian, mulai dari padi, jagung, buah-buahan, hingga aneka sayuran yang menjadi hasil unggulan Desa Alas Malang.

    Sehari sebelum prosesi utama, warga mengikuti tasyakuran bersama yang digelar di sepanjang jalan dusun.

    Nuansa kebersamaan semakin terasa ketika malam harinya, seusai salat Isya, masyarakat menanam berbagai jenis pohon di sepanjang jalan kampung sebagai simbol pelestarian alam dan harapan akan kehidupan yang terus tumbuh.

    Menjelang dini hari, para sesepuh adat melaksanakan ritual peletakan sesaji di empat batu yang dianggap sakral, yakni Watu Loso, Watu Nogo atau Watu Tumpeng, Watu Gajah, dan Watu Karangan.

    Keempat batu tersebut dipercaya telah ada sejak sebelum Desa Alas Malang berdiri dan diyakini menjadi penjaga Dusun Krajan dari berbagai ancaman maupun niat jahat.

    Ritual ini menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan para leluhur agar seluruh rangkaian Kebo-Keboan berjalan dengan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

    Lebih dari sekadar ritual adat, Kebo-Keboan juga menjadi ruang yang memperkuat solidaritas warga. Seluruh masyarakat terlibat aktif dalam setiap tahapan persiapan hingga pelaksanaan, mulai dari membersihkan lingkungan, menghias kampung, menyiapkan perlengkapan ritual, hingga menyambut tamu yang datang dari berbagai daerah.

    Semangat gotong royong tersebut menjadi nilai penting yang terus diwariskan kepada generasi muda.

    Di sisi lain, penyelenggaraan Kebo-Keboan turut memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

    Ribuan wisatawan yang hadir setiap tahun membawa berkah bagi para pedagang kaki lima, pelaku UMKM, penjual hasil pertanian, hingga penyedia jasa parkir dan transportasi lokal.

    Perputaran ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan ritual menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi warga.

    Momentum ini juga menjadi panggung bagi para pelaku seni dan budaya lokal untuk menunjukkan kreativitasnya.

    Kelompok kesenian tradisional, penabuh gamelan, penari, pembuat properti adat, hingga para perajin lokal turut ambil bagian dalam menyukseskan rangkaian acara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.

    Bagi masyarakat Desa Alas Malang, Kebo-Keboan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya yang terus hidup dan berkembang.

    Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritual, gotong royong, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

    Melalui Kebo-Keboan, warisan budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga menjadi kekuatan yang mempersatukan warga sekaligus menggerakkan roda perekonomian desa.

  • Dari Warisan Sultan Agung, Dosen FISIP UNNES Temukan Nilai Kolaborasi dalam Sastra Gendhing

    Dari Warisan Sultan Agung, Dosen FISIP UNNES Temukan Nilai Kolaborasi dalam Sastra Gendhing

    Di tengah perubahan kehidupan sosial yang semakin dinamis pada abad ke-21, kemampuan masyarakat untuk bekerja sama, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan menjadi semakin penting.

    Kemajuan teknologi memang memudahkan komunikasi dan aktivitas sehari-hari, namun perubahan tersebut juga memunculkan tantangan baru dalam membangun relasi sosial yang sehat.

    Dalam situasi itu, warisan pemikiran Nusantara dapat menjadi sumber pembelajaran untuk menemukan kembali nilai-nilai kehidupan bersama yang relevan dengan kondisi saat ini.

    Salah satu warisan tersebut adalah Sastra Gendhing, karya yang dikaitkan dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma.

    Nilai-nilai di dalamnya dikaji oleh Khoirul Anwar, S.Pd., M.Pd., Dosen FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES), untuk melihat relevansinya dengan kehidupan sosial masyarakat kontemporer.

    Dalam proses kajiannya, Khoirul melibatkan KGPH Puger, putra PB XII sekaligus budayawan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

    Keterlibatan budayawan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif dalam membaca Sastra Gendhing, tidak hanya berdasarkan teks, tetapi juga dengan mempertimbangkan latar belakang kebudayaan Jawa yang melingkupinya.

    Kajian dari sudut pandang sosial-humaniora itu menemukan bahwa Sastra Gendhing tidak hanya berbicara mengenai persoalan filosofis dan spiritual.

    Karya tersebut juga memuat gagasan tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan bersama, membangun hubungan dengan sesama, serta menjaga keseimbangan dalam lingkungan sosial.

    Dari pembacaan tersebut, muncul pemahaman bahwa ajaran dalam Sastra Gendhing memiliki keterkaitan dengan etika kehidupan bersama, khususnya mengenai semangat gotong royong.

    Nilai ini menempatkan kepentingan bersama, tanggung jawab, dan keharmonisan sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan sosial.

    Perspektif tersebut dinilai masih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

    Kehidupan abad ke-21 menuntut setiap individu tidak hanya memiliki kemampuan personal, tetapi juga kecakapan untuk berkomunikasi, bernegosiasi, bekerja dalam tim, menghormati perbedaan, serta mengambil tanggung jawab dalam lingkungan sosial.

    Semangat yang tercermin dalam Sastra Gendhing menunjukkan bahwa terciptanya kehidupan yang harmonis membutuhkan kemauan untuk saling memahami dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

    Nilai tersebut dapat menjadi salah satu pijakan dalam membangun karakter masyarakat yang mampu berkolaborasi di tengah perubahan zaman.

    Khoirul Anwar menilai, mempelajari Sastra Gendhing tidak cukup hanya dengan menempatkannya sebagai peninggalan masa lalu yang perlu dilestarikan.

    Kandungan nilai di dalamnya perlu terus dibaca dan dikaitkan dengan persoalan kehidupan masyarakat masa kini.

    Menurutnya, semangat kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan upaya menjaga harmoni merupakan nilai yang tidak kehilangan relevansinya meskipun pola kehidupan masyarakat terus berubah.

    Karena itu, karya-karya intelektual Nusantara dapat diperlakukan sebagai sumber pengetahuan yang masih dapat diajak berdialog dengan persoalan sosial di era modern.

    Kajian tersebut sekaligus membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut terhadap berbagai karya pemikiran Nusantara dengan menggunakan pendekatan lintas disiplin.

    Pendekatan semacam ini memungkinkan warisan intelektual masa lalu tidak hanya dipahami dari sisi sejarah dan budaya, tetapi juga dikaji berdasarkan relevansinya terhadap kebutuhan masyarakat sekarang.

    Di sisi lain, generasi muda diharapkan tidak semakin jauh dari warisan pemikiran para intelektual Nusantara.

    Berbagai karya tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai nilai kehidupan, sekaligus ruang untuk memahami bagaimana gagasan masa lalu dapat diterapkan dan dimaknai kembali sesuai tantangan zaman.

    Melalui pembacaan kembali terhadap Sastra Gendhing, warisan pemikiran Sultan Agung tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah kebudayaan Jawa.

    Nilai-nilai di dalamnya dapat terus dihidupkan sebagai bahan refleksi untuk membangun masyarakat yang memiliki semangat gotong royong, mampu berkolaborasi, menghargai perbedaan, dan menjaga keharmonisan kehidupan bersama. (Miskawi)

  • Ribuan Warga Padati Tradisi Keboan Aliyan, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Banyuwangi

    Ribuan Warga Padati Tradisi Keboan Aliyan, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Banyuwangi

    Ribuan warga dari berbagai daerah memadati Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi pada Minggu (21/6).

    Mereka hadir untuk menyaksikan puncak ritual adat Keboan Aliyan, sebuah tradisi tahunan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus ruang silaturahmi bagi masyarakat setempat.

    Sejak pukul 05.00 WIB, suasana desa sudah disibukkan dengan gotong royong warga yang menyiapkan perlengkapan ritual, mulai dari pemasangan umbul-umbul, janur kuning, hingga hiasan daun kolang-kaling.

    Bagi masyarakat Aliyan, kelengkapan prosesi ini bersifat sakral dan tidak boleh ada yang terlewat.

    Tokoh adat Sukodono, Sugiono, menjelaskan bahwa tradisi ini diperkirakan sudah mengakar sejak era 1960-an berdasarkan cerita para sesepuh.

    “Tradisi ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah tanah subur dan hasil panen yang melimpah. Karena itu, sampai sekarang tetap kami jaga,” ujar Sugiono.

    Ketua Panitia Keboan Aliyan 2026, Rony Sanjaya, memaparkan bahwa ritual ini melibatkan dua kelompok besar yang secara historis tidak pernah digabungkan dalam satu prosesi karena perbedaan jalur silsilah leluhur:

    • Keboan Aliyan Timur: Meliputi Dusun Cempokosari, Krajan, Bolot, dan Timurrejo.
    • Keboan Aliyan Barat: Meliputi Dusun Sukodono, Kedawung, dan Damrejo.

    Rony menambahkan, antusiasme tahun ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.

    “Jumlah peserta yang memerankan keboan (kerbau manusia) melonjak hingga ratusan orang. Ini indikator kuat bahwa kecintaan generasi saat ini terhadap tradisi leluhur masih sangat tinggi,” kata Rony.

    Rangkaian acara sejatinya telah bergulir sejak Jumat (19/6) yang dibuka dengan sterilisasi lapangan dan pertunjukan musik etnik WEC.

    Pada Sabtu (20/6), warga menggelar tradisi Sonjo Bareng melalui ritual Songo Pangrekso Sengkolo, di mana warga menyalakan obor (oncor) di sepanjang jalan desa dan menggelar doa bersama.

    Adapun pada puncak acara yang berlangsung Minggu (21/6), lapangan desa dimeriahkan oleh berbagai atraksi seni, antara lain:

    • Tari Puja Santri & Tari Barong Jodog
    • Penampilan Keboan Aliyan Timur & Barat
    • Pertunjukan Barong Kumbo
    • Ritual Kebo-bider Bumi (arak-arak keliling desa)
    • Doa Penutup

    Acara ini turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pariwisata, Forkopimka, serta para pegiat budaya dan duta wisata.

    Kepala Desa Aliyan, Agus Nurbani Yusuf, mengapresiasi kerja keras seluruh pihak dan berharap ritual ini tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan tuntunan untuk menjaga nilai gotong royong dan kelestarian alam.

    Harapan senada disampaikan oleh Mbah Adim, salah satu peserta keboan tertua dari Sukodono. Ia berharap generasi muda terus merawat warisan budaya ini agar tidak punah ditelan zaman.

    Di sisi lain, tingginya animo penonton membawa dampak positif bagi sektor ekonomi mikro. Para pedagang kaki lima dan asongan meraup berkah dari gelaran ini.

    “Alhamdulillah, setiap tahun selalu ramai. Warga Aliyan juga sangat ramah dan terbuka kepada kami para pedagang,” ungkap Cak Sodik, seorang pedagang es keliling asal Pakis yang mengaku sudah bersiap di lokasi sejak usai salat Subuh.

    Bagi pengunjung seperti Heny (warga Pakistaji) dan Suparto (warga Tegalwero), Keboan Aliyan telah bertransformasi menjadi momentum pengikat sosial.

    Selain menjadi destinasi wisata budaya yang menjanjikan di Banyuwangi, tradisi ini terbukti ampuh menyatukan masyarakat di tengah modernisasi.

  • Tradisi Lebaran Rong Dino di Desa Bunder Jadi Ajang Doa Leluhur dan Silaturahmi Warga

    Tradisi Lebaran Rong Dino di Desa Bunder Jadi Ajang Doa Leluhur dan Silaturahmi Warga

    Ratusan warga Desa Bunder, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, mengikuti tradisi ziarah kubur pada hari kedua Hari Raya Idulfitri atau Lebaran Rong Dino, Minggu (22/3).

    Tradisi turun-temurun tersebut dilaksanakan di pemakaman umum desa setempat dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan.

    Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat, dilanjutkan tabur bunga dan makan bersama sebagai simbol kebersamaan serta ungkapan syukur.

    Warga dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua, tampak antusias mengikuti tradisi yang rutin digelar setiap tahun tersebut.

    Salah satu warga, Jatmiko, mengatakan tradisi ziarah makam pada hari kedua Lebaran sudah berlangsung secara turun-temurun.

    Selain untuk mendoakan leluhur, kegiatan tersebut juga menjadi sarana berkumpul keluarga yang pulang dari perantauan.

    “Kegiatan mendoakan para leluhur di makam ini merupakan warisan budaya yang harus kita jaga. Selain untuk mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal, ini juga menjadi momen mempererat silaturahmi antarwarga setelah Idulfitri,” ujarnya.

    Senada dengan itu, warga lainnya menyampaikan bahwa tradisi tersebut memiliki nilai sosial yang kuat karena menjadi momen kebersamaan masyarakat desa.

    “Setiap tahun warga selalu menantikan momen ini. Selain berdoa, mereka juga saling berbagi makanan dan cerita sehingga hubungan antarwarga semakin erat,” ungkapnya.

    Lebaran Rong Dino di Desa Bunder

    Sementara itu, pemangku adat Desa Bunder menjelaskan tradisi ziarah mendoakan leluhur telah berlangsung sejak zaman nenek moyang dan sarat makna spiritual bagi masyarakat.

    “Ziarah mendoakan para leluhur ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Filosofinya adalah mengingat asal-usul, menghormati yang telah mendahului, serta memohon keselamatan kepada Allah SWT serta keberkahan bagi yang masih hidup,” jelasnya.

    Salah satu warga yang turut hadir juga mengaku bersyukur masih dapat mengikuti tradisi tersebut bersama masyarakat desa.

    “Kami merasa lebih dekat dengan keluarga yang sudah tiada. Selain itu, kegiatan ini membuat kami semua berkumpul dan saling memaafkan setelah Lebaran,” tuturnya.

    Tradisi mendoakan para leluhur yang dilaksanakan setiap Lebaran Rong Dino tersebut terus dilestarikan masyarakat karena dianggap sebagai kearifan lokal yang mengandung nilai religius, sosial, dan budaya.

    Selain menjadi sarana doa bagi para leluhur, kegiatan ini juga memperkuat identitas masyarakat serta menjaga keharmonisan antarwarga.

    Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, masyarakat Desa Bunder berharap tradisi tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya Banyuwangi.

  • Mendikdasmen Izinkan Revitalisasi Sekolah Menyesuaikan Kearifan Lokal Daerah

    Mendikdasmen Izinkan Revitalisasi Sekolah Menyesuaikan Kearifan Lokal Daerah

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan bahwa proses revitalisasi satuan pendidikan dapat menyesuaikan dengan kearifan lokal di wilayah masing-masing sekolah, termasuk dalam pemilihan bahan bangunan.

    Menurutnya, standar pemilihan material bangunan sekolah di berbagai daerah tidak dapat disamaratakan dengan standar yang berlaku di Jakarta.

    Karena itu, masyarakat diharapkan dapat melihat pelaksanaan program revitalisasi sekolah secara lebih menyeluruh.

    “Banyak orang Jakarta melihat Indonesia itu semuanya seperti ukuran Jakarta. Jadi, kalau ada sekolah kok dindingnya itu kayu dianggap di bawah standar,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Jakarta pada Senin (9/3).

    Ia menegaskan bahwa kebijakan revitalisasi satuan pendidikan yang dijalankan Kemendikdasmen memberi ruang bagi sekolah untuk tetap mempertahankan identitas budaya serta kearifan lokal di daerah masing-masing.

    Menurut Abdul Mu’ti, jika suatu daerah memiliki tradisi membangun bangunan dengan bahan kayu, maka pemerintah tidak akan memaksakan penggunaan bahan lain seperti semen atau batu bata.

    “Kalau memang local wisdom-nya kayu, ya jangan dipaksa pakai semen dan batu bata atau tembok, karena itu local wisdom. Kemudian memang ya local wisdom itu kita akomodir,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

    Ia juga menambahkan bahwa pemerintah turut mempertimbangkan lokasi pembangunan sekolah, terutama yang berada di kawasan hutan.

    Apabila kebijakan di wilayah tersebut tidak memperbolehkan pembangunan sekolah permanen, maka Kemendikdasmen akan menyesuaikan dengan aturan yang berlaku.

    “Nah, yang begini kan kadang-kadang snapshot aja kan yang muncul di permukaan, tapi on the ground sesungguhnya terjadi itu tidak banyak yang tahu. Karena memang ya sekali lagi, banyak kita melihat masalah dari Jakarta, bukan langsung ke daerahnya,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

    Sebagai informasi, berdasarkan laman Museum Pendidikan Nasional, kearifan lokal merupakan pandangan atau gagasan yang bernilai baik, tertanam, diikuti, dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

    Nilai tersebut umumnya mencerminkan adat istiadat, pengetahuan lokal, serta etika yang berkembang di suatu daerah.

    Sumber: Antara

  • Pemerintah Desa Pondoknongko dan UPN Veteran Jatim Jalin Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    Pemerintah Desa Pondoknongko dan UPN Veteran Jatim Jalin Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    Sebanyak 21 mahasiswa Program Studi S1 Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur melaksanakan Kuliah Lapangan Dialektologi di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi pada Kamis (23/10).

    Kegiatan ini bertujuan untuk meneliti dan mendalami bahasa Using, bahasa tutur khas masyarakat Banyuwangi yang menjadi bagian penting dari kekayaan linguistik Nusantara.

    Acara pembukaan berlangsung di pendopo kantor desa, dihadiri oleh Ketua Program Studi Pendidikan, Dr. Endang Sholihatin, S.Pd., M.Pd., serta dua dosen pembimbing, Dwika Muzakky Anan Taturia, M.Hum., dan Nisa Hanum Mufida, M.Hum.

    Turut hadir pula Kasi PMK Kecamatan Kabat, Sahroni, S.T., Mujalis, perangkat desa, dan beberapa warga yang akan menjadi narasumber penelitian di wilayah Pondoknongko.

    Antusiasme masyarakat tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Warga merasa bangga karena bahasa yang mereka gunakan sehari-hari menjadi objek kajian ilmiah yang dapat memperkaya khazanah linguistik Indonesia.

    Kepala Desa Pondoknongko, Hamdan Ramahurmuzi, S.T., dalam sambutannya menyampaikan rasa haru dan bangga atas kedatangan mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur.

    Ia menyebut kegiatan ini memiliki makna pribadi karena dirinya merupakan alumnus kampus yang sama, angkatan 1996 jurusan Teknik Industri.

    Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    “Saya dulu angkatan 96 dari jurusan Teknik Industri. Kedatangan adik-adik mahasiswa ini benar-benar membawa kenangan dan kebanggaan tersendiri,” ujarnya.

    Hamdan berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat bagi warga desa serta memperkaya penelitian tentang bahasa Using.

    “Semoga kolaborasi ini membawa manfaat bagi warga desa serta memperkaya penelitian tentang bahasa Using,” imbuhnya.

    Bahasa Using sendiri dikenal sebagai identitas budaya masyarakat Banyuwangi yang memiliki struktur dan ciri khas tersendiri.

    Melalui kuliah lapangan ini, para mahasiswa berkesempatan mendalami karakter bahasa yang lahir dari sejarah panjang dan kehidupan masyarakat pesisir timur Jawa.

    Selain menggali aspek linguistik, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat.

    Bagi mahasiswa, pengalaman langsung di lapangan menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana bahasa hidup dan berkembang di tengah budaya lokal.

    Dari Desa Pondoknongko, semangat pelestarian bahasa daerah kembali digaungkan. Menjaga bahasa tidak sekadar melestarikan kata, tetapi juga merawat jati diri, budaya, dan ingatan kolektif bangsa.

  • Sastra Lisan Nyambei dari Rejang Lebong Resmi Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional

    Sastra Lisan Nyambei dari Rejang Lebong Resmi Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional

    Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah menetapkan sastra lisan Nyambei dari Rejang Lebong sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia 2025. Keputusan ini diumumkan dalam Sidang Penetapan WBTB 5–11 Oktober 2025 di Jakarta.

    Bupati Rejang Lebong, H. M. Fikri Thobari, menyatakan kebanggaannya atas pengakuan nasional tersebut. Ia menyebut bahwa penghargaan ini merupakan hasil dari proses panjang dan penilaian komprehensif.

    Menurutnya, pencapaian ini semoga memicu semangat masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya daerah.

    Pemkab Rejang Lebong akan mendorong agar Nyambei dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal.

    Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Zakaria, menegaskan bahwa pengakuan tersebut menegaskan bahwa budaya Nyambei adalah milik masyarakat Rejang Lebong.

    Ia menambahkan bahwa pihaknya akan menggelar lomba Nyambei di tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, bahkan nasional sebagai salah satu cara mempertahankannya.

    Zakaria juga menyatakan bahwa upaya pengusulan Nyambei sebagai warisan budaya takbenda nasional menunjukkan komitmen daerah dalam melestarikan nilai-nilai budaya lokal.

    Selain pelestarian, langkah ini juga diharapkan mendukung visi Rejang Lebong sebagai destinasi wisata budaya.

    Sekilas Tentang Nyambei

    Nyambei adalah tradisi sastra lisan tradisional masyarakat Rejang yang sudah ada sejak zaman dahulu, sebelum pengaruh luar merambah ke wilayah Bengkulu bagian tengah.

    Dalam sejarahnya, Nyambei digunakan sebagai hiburan dalam acara adat dan hajatan masyarakat, terutama sebagai forum berbalas pantun, perkenalan, serta ekspresi emosional melalui untaian bahasa yang penuh makna.

    Uniknya, bahasa yang digunakan dalam Nyambei merupakan perpaduan berbagai unsur bahasa daerah, termasuk pengaruh bahasa Jawa.

    Pertunjukan biasanya diiringi alat musik tradisional, seperti kulintang “jenggung”, menciptakan suasana akrab di malam perkampungan Rejang.

    Dalam tradisi lisan masyarakat Rejang, dikenal istilah pengela (pembuka syair) dan andak (penutup dengan irama berbeda).

    Menariknya, tradisi Nyambei pernah tercatat dalam karya William Marsden The History of Sumatra (1785), yang menunjukkan bahwa tradisi ini telah berlangsung lebih dari dua abad.

    Meski perannya kini sering menyertai pertunjukan seni tari tradisional, semangat Nyambei tetap hidup sebagai simbol keindahan bahasa, kecerdasan lokal, dan romantika budaya Rejang yang terus dijaga.

    Sumber: rejanglebongkab

  • DPR Dukung Sastra Lokal Masuk Kurikulum, Upaya Perkuat Identitas Budaya Daerah

    DPR Dukung Sastra Lokal Masuk Kurikulum, Upaya Perkuat Identitas Budaya Daerah

    Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendukung agar sastra lokal, seperti sastra khas Tegal di Jawa Tengah, dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

    Menurut Fikri, upaya tersebut penting untuk memperkuat identitas daerah sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal.

    “Semarak Budaya itu mempunyai makna satu perlindungan budaya. Jadi, Tegal itu punya kekhasan Jawa tetapi berbeda, bukan Sunda tetapi Jawa, Nah, bahasanya saja berbeda, kemudian nanti ada budaya-budaya lain seperti tari dan sebagainya,” kata Fikri.

    Dukungan itu disampaikan dalam kegiatan Rembuk Budaya Tegal yang digelar di Pelataran Sastra Piek Ardiyanto Supriyadi, Kota Tegal.

    Acara tersebut merupakan bagian dari masa reses anggota DPR, hasil kerja sama antara DPR RI dan Kementerian Kebudayaan RI, dengan tujuan merawat serta mengembangkan kekayaan budaya lokal.

    Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan seniman, budayawan, dan generasi muda itu diharapkan menjadi momentum memperkuat karakter budaya Tegal.

    Fikri berharap kekayaan lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan secara kreatif agar tetap relevan.

    Legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX, yang meliputi Kabupaten dan Kota Brebes serta Tegal, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

    “Pemajuan budaya harus mencakup empat pilar utama, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan,” ungkapnya.

    Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa kementeriannya terus memberikan dukungan terhadap subsektor yang berkaitan dengan pemajuan kebudayaan.

    “Begitu juga dukungan kepada komunitas dalam berbagai bentuk baik sarana-prasarana, dukungan dalam berbagai macam event, festival-festival internasional. Misalnya, kita hampir hadir di semua festival film internasional dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan sebagian mempunyai prestasi, sebagian besar kita mendapatkan pencapaian. Begitu juga untuk seni dan juga ekspresi budaya lain,” ujar Fadli Zon.

    Fadli menjelaskan bahwa perhatian kementeriannya tidak hanya terfokus pada bidang seni, tetapi juga mencakup manuskrip, bahasa, sastra, pangan tradisional, permainan rakyat, olahraga tradisional, dan berbagai unsur budaya lainnya.

    Sumber: Antara

  • Festival Sastra Banggai ke-9 Resmi Dibuka dengan Tema Simpul Kesembilan Merajut Kata

    Festival Sastra Banggai ke-9 Resmi Dibuka dengan Tema Simpul Kesembilan Merajut Kata

    Yayasan Babasal Mombasa resmi membuka Festival Sastra Banggai (FSB) ke-9 tahun 2025 dengan tema “Simpul Kesembilan Merajut Kata” pada Rabu (15/10/2025) di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong, Luwuk.

    Acara pembukaan dihadiri oleh Wakil Bupati Banggai Drs. Furqanuddin Masulilli, MM, didampingi Kapolres Banggai dan sejumlah Kepala OPD Kabupaten Banggai.

    Turut hadir pula Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI Bidang Diplomasi Budaya & Hubungan Internasional, Nisa Ringganis, serta Direktur Pengembangan Budaya Digital, Andi Syamsurizal, yang sekaligus membuka kegiatan FSB ke-9 secara resmi.

    Tahun ini, Festival Sastra Banggai telah mencapai simpul kesembilan sejak pertama kali digelar. Kegiatan ini akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2025, menghadirkan berbagai kelas program, pameran seni, hingga pementasan teatrikal.

    Direktur FSB, Ama Gaspar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan Festival Sastra Banggai ke-9 berjalan beriringan dengan Akademi Sastra Banggai ke-3.

    “Dua kegiatan ini masing-masing didukung oleh Dana Indonesiana, LPDP, Manajemen Talenta Nasional, & Penguatan Festival Sastra Nasional Kementerian Kebudayaan.” Ujar Direktur FSB.

    Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Banggai Ir. H. Amirudin, SP., MM atas dukungan penuh terhadap terselenggaranya FSB tahun ini, serta berharap kegiatan tersebut terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

    Dalam sambutannya, Wakil Bupati Banggai Furqanuddin Masulilli menegaskan bahwa Festival Sastra Banggai bukan sekadar ajang perayaan karya sastra, tetapi juga ruang ekspresi, refleksi, dan pelestarian identitas budaya.

    Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan RI atas dukungannya terhadap penguatan literasi budaya di Banggai.

    “Kami berterima kasih kepada Kementerian Kebudayaan RI atas dukungan dan perhatian terhadap upaya penguatan literasi budaya,” paparnya.

    Sementara itu, Direktur Pengembangan Budaya Digital, Andi Syamsurizal, menjelaskan bahwa pada tahun 2025 pihaknya meluncurkan program penguatan ekosistem sastra sebagai upaya menyatukan berbagai elemen penting dalam dunia sastra Indonesia.

    “Program penguatan komunitas sastra diinisiasi oleh Direkturat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan. Program ini berfokus mendorong berlangsungnya festival-festival sastra di berbagai daerah secara lebih berkelanjutan dan terkoneksi satu sama lain.” terangnya.

    Menurutnya, FSB telah berhasil menjadi ruang dialog penting bagi perkembangan sastra dan kebudayaan nasional, menjadikan Banggai sebagai salah satu lokus sastra penting di Indonesia.

    Malam pembukaan FSB 2025 turut diramaikan oleh sejumlah penulis ternama Indonesia, di antaranya Aan Mansyur, Dee Lestari, Eka Kurniawan, Eko Triono, dan Henry Manampiring. Mereka akan berbagi pengalaman dan mengisi berbagai sesi selama festival berlangsung.

    Menariknya, di wilayah Sulawesi hanya terdapat dua festival sastra besar yang konsisten digelar, yakni Makassar International Writers Festival (MIWF) di Fort Rotterdam Makassar, dan Festival Sastra Banggai di RTH Teluk Lalong, Luwuk.

    Acara pembukaan ditutup dengan prosesi pemukulan gong sebagai tanda dimulainya festival, serta penampilan memukau dari penyanyi solo Pusakata.

    Source: banggainews

  • Haul Ke-334 Tawang Alun, GENTA Perkuat Warisan Leluhur di Petilasan Rowo Bayu

    Haul Ke-334 Tawang Alun, GENTA Perkuat Warisan Leluhur di Petilasan Rowo Bayu

    Peringatan haul Tawang Alun ke-334 tidak hanya menjadi momentum mengenang sosok leluhur, tetapi juga mengajarkan bahwa selain kekuatan fisik, manusia harus memiliki kekuatan batin dan spiritual. Tawang Alun tidak hanya dikenang, tetapi juga diwarisi keberanian serta kebijaksanaannya.

    Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun menunjukkan dukungan terhadap pelestarian alam, kearifan lokal, situs budaya, dan identitas Banyuwangi yang juga termasuk bagian dari situs geopark dunia.

    Hal itu disampaikan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam suasana sakral di Samarwulu, tepi Waduk Rowo Bayu, Kecamatan Songgon, pada Kamis (18/09/25).

    Bupati menambahkan bahwa semangat konservasi Rowo Bayu harus dijaga sebagai rumah bersama yang menjadi energi spiritual bermartabat.

    Generasi Trah Tawang Alun (GENTA) Macan Putih Blambangan melalui tokohnya, Doni Osmond, SH, menegaskan memiliki tanggung jawab moral untuk mempererat silaturahmi sekaligus mewariskan budaya dan sejarah Blambangan yang luar biasa.

    “Peringatan haul ke-334 ini tepat dengan pepengetan tilarnipun Kanjeng Sinuwun Prabu Tawang Alun, Ratu Kerajaan Macan Putih, pada 18 September 1691 hingga 18 September 2025. Biasanya acara digelar sederhana hanya bersama inti trah. Namun kali ini menggunakan protokoler dan prototype model, dimulai pra-acara dengan mohon restu ke eyang di titik sumber, membawa Panji Sonangkara yang dipimpin Mbah Made Widagdo, hingga dilanjutkan ke panggung utama. Ini akan menjadi pegangan saat haul ke-335 nanti, yang direncanakan masuk agenda Banyuwangi Festival,” tutur pria asal Lateng yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.

    Haul Ke-334 Tawang Alun

    Sementara itu, tokoh yang dituakan, Joni Subagyo, SH, MH alias Ki Ageng Bumi Sroyo, menyampaikan bahwa laku budaya ini merupakan amanat sesepuh Mas Soepranoto Manggisan dan HR. Mas Slamet Oetomo.

    Mereka membekali dengan semangat, filosofi, visi misi, serta ragam literasi berupa buku, benda peninggalan, peta, hingga silsilah keluarga besar.

    “Selain Kanjeng Tawang Alun, kami juga memperingati tokoh Wong Agung Wilis, Rempeg Jagapati, dan Sayu Wiwit,” ungkap mantan pimpinan DPRD Banyuwangi tersebut.

    Ketua Masyarakat Adat Nusantara (Matra) Jawa Timur, Kanjeng Pangeran Panji Srie Soe Putra Jowo Uja Ciptonagoro, juga turut memberikan paparan.

    Ia menceritakan tentang kearifan Suku Kajang yang diakui dunia sebagai pelestari alam terbaik, sekaligus memberikan motivasi terkait bela negara.

    Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap proksi media sosial dan intelijen asing yang menguasai antropologi serta sosiologi Nusantara untuk mengadu domba bangsa Indonesia yang bhinneka.

    “Ilmu adiluhung leluhur dan perilaku luhur perlu terus diajarkan kepada generasi penerus. Empat pusaka soso jendro yang harus dijaga adalah menghapus rasa benci, iri, gengsi, dan dendam dari hati,” tuturnya.

    Paparan tersebut juga diperkuat oleh KH. Achmad Wahyud, SH, MHI, serta Wakapolresta Banyuwangi, AKBP Teguh Priyo Sasono, SIK.

    Acara yang dipandu Cornelis dan Fitri ini dihadiri berbagai kalangan, mulai pejabat daerah (Kepala Dinas, Kepala Badan, Camat, dan Kades), seniman, budayawan, pelestari pusaka, media, FKUB, hingga Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) binaan Bakesbangpol.

    Hadir pula Ki Mursyid Bin H. Huzairi Prayitno yang memiliki sejarah dengan Djoko Supaat Slamet, sosok yang pertama kali memulai situs ini berkat bisikan gaib Eyang Tawang Alun dan Srikandi Sayu Wiwit, serta utusan abdi dalem Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

    “Kami turunan Wali Sunan Giri. Ziarah ke Blambangan bagi kami juga merupakan penghormatan kepada leluhur,” ujar Nimas Ayu Ranu Wijayanti, yang kesehariannya menjaga tradisi leluhur dengan melestarikan acara tingkeban, ruwatan, dan pitutur agar budaya tetap adiluhung.

    Sementara itu, Aguk Darsono memberikan apresiasi jika kejayaan Kerajaan Macan Putih dan epos Perang Puputan Bayu dijadikan kalender tetap dalam Banyuwangi Festival. Ia juga berharap tokoh Blambangan dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

    “Hanya dalam Perang Bayu dan Perang Suroboyo, komandan penjajah gugur dan mereka menghabiskan biaya besar. Itu menjadi spirit sekaligus motivasi bagi karakter jati diri bangsa,” ujarnya.

    Ia menegaskan perlunya dukungan nyata melalui forum musrenbangdes dan musrenbang kecamatan yang dihadiri anggota dewan, agar dapat diakomodasi dalam musrenbang kabupaten bersama Bappeda Jawa Timur.

    Hal itu untuk perbaikan infrastruktur rawa yang ambrol, revitalisasi situs, pembangunan toilet dan tempat ibadah, serta memperbanyak dialog dan diskusi tentang pelestarian adat, tradisi, dan sejarah.

    “Semua ini demi kemajuan Banyuwangi tercinta yang harmoni, welas asih, sekaligus heroik,” tegas Wakil Ketua FPK yang pernah menjadi panitia pengusulan Pahlawan Nasional bagi Pejuang Blambangan ini saat menjabat Sekretaris DHC ’45 Banyuwangi.