Tag: kesehatan masyarakat

  • Kader ATM, RDS, dan Pokja Desa Sehat se-Blimbingsari Dibekali Penyusunan Program dan Pendampingan Pasien Penyakit Menular

    Kader ATM, RDS, dan Pokja Desa Sehat se-Blimbingsari Dibekali Penyusunan Program dan Pendampingan Pasien Penyakit Menular

    Kader ATM (AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria), Rumah Desa Sehat (RDS) yang menghadirkan Kader Pembangunan Manusia (KPM), serta pengurus Pokja Desa Sehat dari 10 desa se-Kecamatan Blimbingsari mendapatkan pembekalan di Balai Desa Patoman, Rabu (13/05).

    Balai Desa Patoman tampak bersih dan tertata rapi. Meski berada di lahan yang relatif sempit, berbagai ruangan ditata dengan baik, mulai dari ruang BPD, Rumah Desa Sehat yang terintegrasi dengan Pokja Desa Sehat dan PKK, hingga ruang arsip.

    Fasilitas lain seperti musala, dapur bersih, dan ruang lounge juga tersedia.

    Desa Patoman juga dikenal sebagai desa dengan keberagaman yang harmonis. Desa ini ditetapkan sebagai Kampung Pancasila oleh Pangdam V/Brawijaya dan sebagai Desa Kebangsaan oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Bakesbangpol.

    Keharmonisan masyarakat terlihat dari keberagaman suku seperti Bali, Madura, Tionghoa, Osing, dan Jawa, serta sikap welas asih antarumat beragama dan penghayat kepercayaan, mulai dari Islam, Hindu, Buddha, hingga Katolik.

    Camat Blimbingsari Teddy Ardiansyah, S.STP melalui Kasi PMK Abdul Aziz, SH, MH menyampaikan bahwa berdasarkan surat edaran menteri hingga gubernur, serta hasil koordinasi lintas dinas dan badan melalui zoom meeting, diperlukan kegiatan kolaboratif untuk mendukung sinergi isu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

    FKKS Kecamatan Blimbingsari

    Sementara itu, Kepala Puskesmas Badean, Indah Swartiningtyas, SST.Bid., M.MKes menyampaikan data penderita ODHA sebanyak 40 orang, TBC 38 orang, dan malaria nihil.

    Menurutnya, terdapat berbagai faktor pemicu yang menyebabkan seseorang terpapar penyakit tersebut.

    “Semua tertangani dan ada yang sudah sembuh. Karena itu, masyarakat harus mengenali dan memahami gejalanya serta memastikan pasien mendapat pendampingan rutin minum obat. Tetap waspada seperti saat menangani corona, jaga kesehatan, dan gunakan APD,” ujarnya.

    Bidan yang meraih prestasi nasional dalam inovasi zero stunting tersebut juga menekankan pentingnya peran kader dalam pendampingan pasien di tingkat desa.

    Di kesempatan yang sama, Novita Ika Wulandari, S.AP selaku fungsional Penggerak Swadaya Masyarakat dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) menjelaskan bahwa terdapat alokasi dana sebesar Rp2,5 juta dari ADD khusus untuk program ATM.

    “Contoh program dan usulan anggaran sudah kami siapkan dan masih bisa dikreasikan sesuai kebutuhan desa. Dari dinas dan Kementerian Kesehatan juga diupayakan CSR untuk insentif kader,” jelasnya.

    Ia berharap KPM di Rumah Desa Sehat dapat bersinergi bersama bidan desa, kader KB, Pokja IV PKK, kader ATM, dan Pokja Desa Sehat dalam menyusun program beserta anggarannya.

    Pendamping desa juga diharapkan membantu melengkapi kebutuhan dasar kader guna mewujudkan satu data, dokumen, dan arsip terpadu agar pemerintah desa dan negara benar-benar hadir untuk kesehatan serta kesejahteraan masyarakat.

    Sementara itu, aktivis LSM Gotong Royong ’45 yang juga anggota Forum Banyuwangi Sehat berharap Forum Komunikasi Kecamatan Sehat dapat mengawal program, baik dari sisi administrasi maupun pendampingan di lapangan.

    Dokumentasi kegiatan berupa narasi dan foto timeline diunggah ke Google Drive Forum Banyuwangi Sehat dengan koordinator Kasi PMK.

    Ia juga menambahkan, apabila terdapat penyandang disabilitas fisik maupun intelektual yang belum bisa baca tulis, diharapkan segera didata untuk kemudian dilakukan advokasi.

    Aktivis yang juga pengawas Yayasan Aura Lentera Indonesia tersebut saat ini tengah menjalankan program bersama NLR Indonesia terkait mitigasi pemberdayaan disabilitas di wilayah Rogojampi dan Kalipuro.

    Dalam sesi tanya jawab, peserta yang mayoritas perempuan tampak antusias membahas berbagai persoalan teknis, termasuk kekhawatiran risiko penularan saat merawat jenazah penderita AIDS.

    Para kader bahkan disebut sebagai “kaum penghuni surga” karena menjalankan tugas kemanusiaan yang mulia.

    Kepala Desa Patoman, Suwito, yang telah tiga periode memimpin desa dengan potensi panen cabai jamu tersebut berharap para kepala desa mengetahui kondisi warganya secara by name by address dengan tetap menjaga kerahasiaan data untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

    “Kebetulan saya punya pengalaman 17 tahun mendampingi pasien HIV akibat perilaku asusila di lokalisasi Blibis. Mulai dari bedah rumah hingga mengambilkan obat di RSUD maupun puskesmas sampai pasien sembuh. Hendaknya kita tidak berperilaku menyimpang dari hukum adat, agama, maupun negara,” pesannya.

    Keturunan Sakera tersebut juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan alat cukur di tempat pangkas rambut dengan menggunakan satu silet untuk satu pelanggan.

  • FKKS Srono Perkuat Sinergi Desa Sehat Bersama Relawan dan Stakeholder Kesehatan

    FKKS Srono Perkuat Sinergi Desa Sehat Bersama Relawan dan Stakeholder Kesehatan

    Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Kecamatan Srono menggelar pertemuan koordinasi bersama berbagai elemen kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di Kantor Kecamatan Srono, Rabu (7/5).

    Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), puskesmas se-Kecamatan Srono, PLKB, petugas Kelompok Kerja (Pokja) Desa Sehat, unsur kesejahteraan rakyat (Kesra), hingga kader KPM Rumah Desa Sehat (RDS) dari seluruh desa di wilayah Kecamatan Srono.

    Acara dibuka dengan sambutan Ketua FKKS Srono yang diwakili Sekretaris FKKS, Harun. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya sinergi antara Pokja Desa Sehat, FKKS, dan Rumah Desa Sehat (RDS) agar program kesehatan di tingkat desa dapat berjalan lebih optimal.

    “Semakin baik sinergi antara Pokja Desa Sehat, FKKS, hingga Rumah Desa Sehat, maka hasil yang dicapai juga akan semakin baik. Akan semakin berkah jika turut menggandeng takmir masjid, DMI, hingga CSR perusahaan,” ujar aktivis GESID dan Tuku-Tuku Online tersebut.

    Peserta FKKS Srono

    Sambutan berikutnya disampaikan Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Srono, Imam Basori, S.Sos., mewakili Camat Srono. Ia mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga citra Banyuwangi sebagai daerah yang dikenal bersih dan sehat.

    “Banyuwangi sudah dikenal sebagai daerah yang bersih dan sehat. Karena itu, semua pihak harus bersama-sama menjaga dan mendukung program-program kesehatan yang ada,” ujarnya.

    Sementara itu, perwakilan Forum Banyuwangi Sehat, Aguk Wahyu Nuryadi atau yang akrab disapa Bung Aguk, mengingatkan pentingnya komunikasi aktif antara Pokja Desa Sehat dengan pemerintah desa, khususnya sekretaris desa sebagai penanggung jawab Rumah Desa Sehat.

    Menurutnya, RDS memiliki peran strategis dalam menyusun perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan desa, termasuk penanganan stunting, tuberkulosis (TBC), serta berbagai persoalan kesehatan lainnya.

    “Rumah Desa Sehat diharapkan menjadi ruang bersama bagi seluruh pelaku, praktisi, hingga relawan kesehatan untuk berkumpul dan menyusun langkah bersama,” jelasnya.

    Bung Aguk juga menegaskan agar seluruh program kerja tahunan disusun secara rapi, terukur, dan terdokumentasi dengan baik karena nantinya menjadi bagian dari laporan kepada Forum Banyuwangi Sehat.

    Ia berharap konsep “sehat” di Banyuwangi tidak hanya dimaknai sebatas kesehatan fisik, tetapi juga mencakup kesehatan pendidikan, ekonomi, relasi sosial, hingga kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

    Bung Aguk FBS

    Dalam kesempatan yang sama, aktivis Forum Banyuwangi Sehat asal Siliragung, Desika Ulfanissa, S.Kep., memaparkan sejumlah regulasi terkait pelaksanaan program kesehatan di desa.

    Beberapa poin yang disoroti antara lain pentingnya tertib administrasi kegiatan, mulai dari surat undangan, notulen rapat, dokumentasi kegiatan, SK pengurus Pokja Desa Sehat, hingga penyusunan program kerja dan laporan keuangan yang dibahas melalui forum Rumah Desa Sehat.

    Pada sesi akhir, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti forum tersebut karena dinilai dapat menjadi pedoman sekaligus ruang berbagi pengalaman bagi relawan kesehatan di lapangan.

    Pendamping desa, Nanang Qosim, menyampaikan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah membangun kesadaran masyarakat terkait pentingnya sinergi, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat yang berjalan sesuai regulasi.

    Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat para kader dan relawan kesehatan yang selama ini menjadi ujung tombak pengabdian di tingkat dusun.

    “Kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, komunikasi dan pendampingan harus terus dilakukan, mulai dari penyusunan program, pelaksanaan kegiatan, monitoring dan evaluasi, hingga penyusunan laporan pertanggungjawaban,” ungkap warga Wonosobo tersebut.

  • Peringati Milad ke-56, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Donor Darah sebagai Wujud Nyata Kepedulian terhadap Sesama

    Peringati Milad ke-56, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Donor Darah sebagai Wujud Nyata Kepedulian terhadap Sesama

    Nuansa kepedulian dan semangat kemanusiaan terasa begitu kuat di lingkungan RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Dalam rangka memperingati milad ke-56, rumah sakit yang telah lama menjadi rujukan masyarakat ini menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Ayo Berdonor Darah”, yang disambut dengan antusias oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

    Sejak pukul 08.00 WIB pagi hari, halaman rumah sakit telah dipenuhi warga yang datang dengan satu tujuan mulia: berbagi kehidupan melalui setetes darah.

    Para peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, pegawai, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum.

    Mereka berbaur tanpa sekat, memperlihatkan bahwa kepedulian sosial mampu menyatukan semua kalangan dalam satu gerakan kemanusiaan.

    Kegiatan donor darah ini bukanlah kegiatan baru. Pelaksanaannya telah memasuki penyelenggaraan yang ke-49 kali dan menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali oleh RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Namun, pelaksanaan kali ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan milad ke-56 RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Selain itu, peningkatan jumlah peserta dari waktu ke waktu juga menjadi bentuk apresiasi tersendiri atas keberhasilan kegiatan ini.

    Menurut Rangga Zulfikar, S.Kom selaku koordinator donor darah dari RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, jumlah peserta donor terus mengalami peningkatan pada setiap pelaksanaan kegiatan.

    “Setiap kegiatan, jumlah pendonor terus meningkat. Ini menandakan kesadaran masyarakat tentang pentingnya donor darah semakin tinggi,” ujar Rangga.

    Ia menegaskan bahwa kegiatan donor darah ini bukan sekadar bagian dari rangkaian seremonial milad, tetapi merupakan wujud nyata gerakan kemanusiaan dalam membantu sesama.

    Donor darah, menurutnya, adalah bentuk kepedulian sederhana yang memiliki dampak sangat besar bagi kehidupan orang lain.

    donor darah pku rogojampi

    Mudah Dijangkau, Nyaman, dan Bersahabat

    Salah satu faktor yang membuat kegiatan donor darah di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi diminati masyarakat adalah lokasi rumah sakit yang strategis dan mudah dijangkau.

    Letaknya yang berada di jalur utama memudahkan masyarakat dari berbagai wilayah di Banyuwangi untuk datang berpartisipasi.

    Selain itu, pelayanan yang diberikan juga menjadi nilai tambah tersendiri. Para petugas dikenal ramah, komunikatif, serta profesional dalam melayani para pendonor.

    Suasana yang diciptakan selama kegiatan berlangsung membuat para peserta merasa nyaman, bahkan seperti berada di rumah sendiri.

    Khusnul Khotimah, salah satu pendonor yang telah mengikuti kegiatan donor darah sebanyak 25 kali, membagikan pengalamannya selama mengikuti kegiatan donor di tempat tersebut.

    “Donor di sini itu nyaman sekali. Petugasnya ramah, suasananya santai, jadi tidak tegang. Saya merasa seperti donor di rumah sendiri,” ujarnya dengan senyum.

    Makna Donor Darah: Lebih dari Sekadar Memberi

    Menurut Tri Eni selaku koordinator tim donor darah dari PMI Kabupaten Banyuwangi yang bertugas saat kegiatan berlangsung, donor darah memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan sosial masyarakat.

    “Donor darah adalah bentuk nyata dari kepedulian kita terhadap sesama. Kita mungkin tidak tahu siapa yang menerima darah kita, tapi kita tahu bahwa itu bisa menyelamatkan nyawa,” jelasnya.

    Ia juga menambahkan bahwa setiap tetes darah yang didonorkan merupakan harapan bagi mereka yang membutuhkan, seperti pasien kecelakaan, ibu yang sedang melahirkan, penderita anemia, hingga pasien dengan penyakit kronis.

    Kebutuhan Darah di Banyuwangi Masih Tinggi

    Di sisi lain, kebutuhan darah di Kabupaten Banyuwangi masih tergolong tinggi. Setiap harinya, rumah sakit membutuhkan persediaan darah untuk berbagai keperluan medis.

    Namun demikian, ketersediaan stok darah sering kali belum sebanding dengan kebutuhan yang ada.

    Oleh karena itu, kegiatan donor darah seperti ini menjadi sangat penting untuk membantu menjaga ketersediaan stok darah agar tetap aman dan mencukupi.

    “Kesadaran masyarakat harus terus ditingkatkan. Kita tidak bisa menunggu saat butuh baru mencari. Stok darah harus selalu tersedia,” tegas Tri Eni.

    Donor darah juga menjadi simbol solidaritas sosial bahwa manusia hidup saling membutuhkan dan saling menguatkan satu sama lain.

    Manfaat Donor Darah bagi Kesehatan

    Menurut Rizka, ahli gizi RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi yang pada kesempatan tersebut juga ikut berdonor, kegiatan donor darah tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga memberikan banyak manfaat kesehatan bagi pendonornya sendiri.

    Beberapa manfaat donor darah di antaranya adalah:

    • Menjaga kesehatan jantung dengan membantu mengurangi kadar zat besi berlebih dalam tubuh.
    • Meningkatkan produksi sel darah baru sehingga tubuh terasa lebih segar.
    • Membantu mendeteksi dini penyakit karena sebelum donor dilakukan pemeriksaan kesehatan sederhana.
    • Membantu menjaga berat badan melalui proses pembakaran kalori saat donor darah.
    • Memberikan efek psikologis positif karena munculnya rasa bahagia setelah membantu orang lain.

    “Donor darah itu sehat, bukan melemahkan. Justru membuat tubuh lebih bugar jika dilakukan secara rutin,” tambah Rizka.

    Donor Darah sebagai Gerakan Sosial

    Kegiatan donor darah ini juga menjadi bagian dari gerakan sosial yang lebih luas.

    Dalam momentum milad ke-56 ini, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi ingin menegaskan perannya bukan hanya sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi juga sebagai pelopor aksi kemanusiaan di tengah masyarakat.

    Donor darah menjadi wujud nyata implementasi nilai-nilai kemanusiaan yang dipegang teguh, yaitu menolong tanpa pamrih dan selalu hadir untuk masyarakat yang membutuhkan.

    Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian sosial serta memahami pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, Tempat Donor yang Dipercaya Masyarakat

    Kepercayaan masyarakat terhadap RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi sebagai tempat donor darah terus meningkat dari waktu ke waktu.

    Hal ini tidak terlepas dari konsistensi pelayanan yang profesional, fasilitas yang memadai, serta pendekatan humanis kepada setiap pendonor.

    Banyak masyarakat yang menjadikan rumah sakit ini sebagai lokasi utama untuk berdonor secara rutin.

    Bahkan tidak sedikit pendonor yang mengajak keluarga maupun teman untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan ini.

    “Di sini itu sudah seperti rumah kedua bagi pendonor. Nyaman, aman, dan terpercaya,” ujar salah satu peserta.

    Harapan Untuk Masa Depan

    Dengan semangat milad ke-56, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi berharap kegiatan donor darah ini dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

    “Ayo kita jadikan donor darah sebagai gaya hidup. Bukan hanya saat ada acara, tapi menjadi kebiasaan,” pesan Rangga sebagai penggerak kegiatan donor darah dalam rangka milad ke-56 RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih aktif terlibat dalam kegiatan sosial seperti donor darah, karena generasi muda merupakan agen perubahan di masa depan.

    Kegiatan “Ayo Berdonor Darah” bukan sekadar agenda tahunan atau bagian dari peringatan milad semata. Kegiatan ini merupakan simbol kepedulian, harapan, dan kehidupan.

    Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, masih ada tangan-tangan tulus yang rela berbagi tanpa pamrih. Setetes darah mungkin terlihat kecil, tetapi bagi mereka yang membutuhkan, setetes darah adalah segalanya.

    Dan di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, semangat itu terus mengalir—menghidupkan, menguatkan, dan menyatukan.

    Penulis: Heri Iskandar, S.Kep., Ners

  • DPD BKPRMI Banyuwangi Gelar Bakti Sosial Kesehatan di Desa Gintangan, Dorong Layanan Preventif Berbasis Komunitas

    DPD BKPRMI Banyuwangi Gelar Bakti Sosial Kesehatan di Desa Gintangan, Dorong Layanan Preventif Berbasis Komunitas

    sastrawacana.id/ — DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

    Melalui Lembaga Kesehatan Masyarakat (LKM) BKPRMI, organisasi kepemudaan berbasis masjid tersebut menggelar Bakti Sosial (Baksos) Kesehatan Masyarakat di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Sabtu (31/1/2026).

    Kegiatan yang dikoordinatori oleh Bd. Diah Fitrianingsih, S.Keb., M.Kes., CH., ini dirancang sebagai program rutin mingguan yang akan dilaksanakan secara bergilir di berbagai desa dan kecamatan di Banyuwangi.

    Program tersebut bertujuan memperluas akses layanan kesehatan preventif yang mudah dijangkau masyarakat.

    Sejak pukul 14.00 WIB, warga terlihat antusias mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis serta terapi akupunktur.

    Selain tim LKM BKPRMI Banyuwangi, kegiatan ini melibatkan sembilan terapis profesional akupuntur Banyuwangi.

    Brigade DPD BKPRMI juga diterjunkan untuk membantu pengaturan kegiatan agar berlangsung tertib.

    Sebelum menjalani terapi akupunktur, setiap peserta terlebih dahulu diperiksa tekanan darahnya untuk memastikan kondisi tubuh dalam keadaan aman.

    Terapi kemudian dilakukan dengan metode penusukan jarum pada titik-titik tertentu, disesuaikan dengan keluhan masing-masing peserta.

    Sejumlah warga mengaku merasakan manfaat langsung dari terapi tersebut. Salah satu peserta yang sebelumnya mengalami nyeri pada kaki saat sujud menyebut keluhannya berangsur hilang setelah menjalani akupunktur.

    Peserta lain yang sempat memiliki tekanan darah 149/108 mmHg mengalami penurunan menjadi 140/100 mmHg usai terapi.

    “Alhamdulillah, setelah diterapi, tekanan darah saya turun dan badan terasa lebih ringan,” ujar salah satu warga.

    Salah seorang terapis menjelaskan bahwa akupunktur merupakan metode penyembuhan non-obat yang efektif untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan, selama dilakukan secara tepat dan profesional.

    Kegiatan ini turut mendapat dukungan pemerintah desa setempat. Kepala Desa Gintangan hadir dan ikut menjalani terapi akupunktur untuk mengatasi nyeri pada kedua kakinya.

    Usai terapi, ia mengaku kondisi kakinya terasa lebih nyaman untuk digerakkan.

    Di stan pemeriksaan kesehatan, para ibu rumah tangga memanfaatkan layanan cek kesehatan sekaligus konsultasi pola hidup sehat.

    Dengan pendekatan komunikatif, Bd. Diah Fitrianingsih memberikan edukasi kesehatan secara langsung kepada warga. Masyarakat menyambut baik kegiatan tersebut, terlebih karena seluruh layanan diberikan secara gratis.

    Terpisah, Ketua Umum DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, H. Mujiono, menyampaikan bahwa program bakti sosial kesehatan ini merupakan bagian dari misi BKPRMI dalam menghadirkan peran masjid sebagai pusat pemberdayaan umat, tidak hanya di bidang spiritual, tetapi juga sosial dan kesehatan.

    “Melalui LKM BKPRMI, kami mendorong gerakan sadar sehat berbasis komunitas agar masyarakat tidak hanya berobat saat sakit, tetapi juga menjaga kesehatan sejak dini,” ujar H. Mujiono.

    Bakti sosial kesehatan ini berakhir sekitar pukul 16.30 WIB. Panitia dan tim terapis berpamitan dengan harapan dapat kembali menggelar kegiatan serupa di wilayah lain.

    Melalui program ini, DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi berharap dapat membangun model pelayanan kesehatan komunitas yang berkelanjutan dan berdampak langsung, khususnya bagi masyarakat pedesaan.

    Organisasi ini juga mengajak pemerintah desa, komunitas lokal, dan masyarakat luas untuk mendukung serta berpartisipasi aktif dalam agenda kesehatan LKM BKPRMI ke depan.

    Informasi jadwal dan lokasi kegiatan selanjutnya dapat diakses melalui kanal resmi DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi.

  • Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Oleh: Amalia Salsa Sabila
    (Mahasiswi Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga di Banyuwangi)

    Ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025 saat ritual salat Jumat, membuka mata banyak pihak akan urgensi membangun sistem dukungan kesehatan mental di sekolah yang nyata, bukan sekadar formalitas.

    Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan fisik, tetapi cerminan ketidakstabilan sosial dan psikologis yang telah lama mengendap di kalangan siswa.

    Ketika lingkungan belajar berubah menjadi tempat yang dipenuhi rasa takut. Ada masalah mendasar terkait cara sekolah memahami, mengidentifikasi, dan menangani tanda-tanda gangguan emosional serta perlakuan yang diterima siswa setiap hari.

    Menurut pernyataan dari Kepolisian Daerah Metro Jaya dan saksi di lokasi kejadian, salah satu siswa yang diduga sebagai pelaku telah menahan gejolak batinnya terlalu lama.

    Dia sering mengekspresikan perasaannya melalui media nonverbal seperti tulisan, gambar, dan bahkan ekspresi wajah sehari-hari, tetapi gagal mendapatkan respons yang tepat dari lingkungan sekolah (Kombes i Hermanto, tvOneNews, 10 November 2025; Wikipedia SMAN 72).

    Kasus ini memperkuat pendapat bahwa pendekatan preventif melalui konseling, komunikasi terbuka, dan pembentukan karakter harus menjadi inti sistem pendidikan, bukan sekadar tambahan dalam kurikulum.

    Konselor bimbingan, dengan segala tantangan pekerjaan mereka, harus hadir di tengah dinamika siswa dengan empati, bukan menunggu laporan administratif atau bahkan terjebak dalam praktik perundungan internal.

    Sekolah perlu menyadari bahwa setiap siswa memiliki latar belakang, tekanan, dan mekanisme penyesuaian yang berbeda.

    Sistem konseling yang efektif adalah sistem di mana guru benar-benar mengenali perubahan sikap, perilaku, dan tingkah laku, serta menciptakan ruang aman bagi siswa yang merasa terancam atau tidak nyaman, terutama mereka yang menghadapi stigma sosial atau perundungan (Sela, ANTARA News, 7 November 2025; DetikNews, CCTV SMAN 72).

    Sama pentingnya, keluarga juga harus menjadi sistem dukungan utama yang dapat memberikan landasan stabil di tengah tekanan kehidupan sekolah.

    Orang tua saat ini diharuskan memahami perubahan perilaku anak-anak mereka sejak dini, bukan hanya ketika masalah akut muncul. Komunikasi dua arah antara anak dan orang tua merupakan kunci untuk mencegah anak mencari “solusi” di luar saluran yang sehat.

    Pendidikan karakter dan dukungan psikososial, jika diterapkan secara konsisten, akan mencegah siswa merasa sendirian atau terpaksa “bertahan” dalam ekosistem pendidikan tanpa bimbingan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Siaran Pers, 9 November 2025; BBC Indonesia).

    Tragedi di SMAN 72 juga memaksa kita untuk mengevaluasi peran semua pihak: mulai dari kepala sekolah, guru, staf, hingga lingkungan sekitar, dalam memutus rantai perundungan dan berbagai bentuk intimidasi yang disamarkan sebagai disiplin.

    Insiden yang menewaskan lebih dari 90 korban terluka ini membuktikan bahwa masalah psikologis tidak boleh diremehkan.

    Sekolah harus mengembangkan SOP untuk deteksi dini perilaku berisiko, mengintegrasikan skrining emosional ke dalam program harian, dan selalu berkolaborasi dengan psikolog profesional.

    Kemitraan antara sekolah dan keluarga tidak boleh sekadar formal, tetapi aktif dan memiliki program konkret yang bertujuan menciptakan ruang yang aman dan nyaman, bukan sekadar slogan.

    Maka kampanye anti bullying sejak dini perlu digalakkan yang lebih humanis dan empiris. Juga kesetaraan atas mungkin perbedaan fisik, keyakinan dan suku untuk suasana yang nyaman, aman dan harmoni penuh toleransi.

  • Wujudkan Desa Sehat, Karangrejo Gelar Rapat Evaluasi dan Penyusunan RKPDes

    Wujudkan Desa Sehat, Karangrejo Gelar Rapat Evaluasi dan Penyusunan RKPDes

    Pemerintah Desa Karangrejo bersama jajaran terkait menggelar rapat koordinasi dan evaluasi kinerja Pokja Desa Sehat serta Rumah Desa Sehat (RDS) pada Rabu (10/9).

    Pertemuan ini dihadiri Kepala Desa Karangrejo Subandriyo, Sekretaris Desa Abdul Haris, Kepala Puskesmas Blimbingsari Indah Swartiningtyas, SST, Bd, M.Kes, perwakilan Forum Banyuwangi Sehat (FBS) Bung Aguk, dan Kasie PMK Kecamatan Blimbingsari Abdul Aziz, S.H., M.H.

    Agenda utama rapat adalah penyusunan program kegiatan tahun 2026 dengan fokus pada pemberdayaan perempuan, anak, serta peningkatan kesehatan masyarakat.

    Kepala Desa Karangrejo Subandriyo dalam sambutannya menegaskan bahwa evaluasi merupakan bagian penting dari setiap program dan menekankan perlunya kolaborasi antar pihak agar setiap kegiatan dapat terselesaikan dengan baik.

    “Kita harus kerja cepat, cerdas, dan tanggap. Setiap tim wajib memahami fungsi dan tugasnya masing-masing. Kolaborasi antar pihak tidak boleh berhenti supaya semua kegiatan bisa terselesaikan dengan baik,” ujar Subandriyo.

    Evaluasi kinerja Pokja Desa Sehat Kecamatan Blimbingsari

    Sementara itu, Aziz Kasi PMK Kecamatan Blimbingsari menjelaskan bahwa RDS (Rumah Desa Sehat) merupakan wadah berkumpulnya seluruh pelaku kesehatan desa sekaligus tempat Koordinasi dan evaluasi berbagai program Kesehatan serta Penyusunan Program Kegiatan untuk Tahun selanjutnya.

    Ia mengimbau agar rapat koordinasi dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan sekali.

    Beberapa aspek yang menjadi perhatian Pokja Desa Sehat antara lain penyelenggaraan pasar rakyat sehat, penataan lingkungan bebas sampah dan semak belukar, kerja bakti membersihkan parit dan selokan, serta kegiatan senam bersama.

    “RDS ini wadah strategis untuk membicarakan masalah kesehatan desa. Jadi rapat semacam ini dilakukan setiap tiga bulan sekali agar capaian lebih terukur. Kita bisa fokus pada kegiatan nyata, seperti penataan lingkungan bebas sampah, kerja bakti membersihkan parit, dan juga senam bersama,” jelas Aziz.

    Narasumber berikutnya, Bung Aguk, memberikan arahan terkait kendala kesehatan di tingkat desa. Ia menekankan pentingnya komunikasi langsung dari pelaku lapangan agar setiap permasalahan dapat segera dicarikan solusi.

    Disampaikan pula bahwa identitas kader seperti seragam, rompi, atau pin diperlukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa tanggung jawab.

    Tak hanya itu, Bung Aguk juga menyoroti kendala yang masih dihadapi dalam pelayanan kesehatan di tingkat desa. Ia menekankan pentingnya komunikasi langsung antara kader lapangan dengan pihak desa.

    “Kalau ada masalah di lapangan, jangan menunggu. Segera sampaikan agar bisa cepat dicari solusinya,” papar Bung Aguk.

    Kepala Puskesmas Blimbingsari, Indah, menekankan bahwa program desa sehat bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Ia mengungkapkan adanya peningkatan kasus gangguan mental di masyarakat sehingga puskesmas menyediakan layanan dan obat-obatan untuk penanganannya.

    Ia juga menyoroti prestasi Kecamatan Blimbingsari yang berhasil mempertahankan status zero stunting dan zero AKI.

    Selain itu, Indah memperkenalkan program baru PERMATA HATI berupa layanan persalinan rawat jalan yang dapat diakses 24 jam.

    Bagi pemilik BPJS layanan ini gratis, sementara masyarakat tanpa BPJS bisa mengajukan bantuan melalui aplikasi SIKS-NG dengan pendampingan operator desa.

    “Kesehatan mental sama pentingnya dengan fisik. Kami sudah menyiapkan layanan serta obat-obatan untuk masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, Blimbingsari berhasil mempertahankan status zero stunting, ini prestasi yang harus kita jaga bersama,” ujar Indah.

    Sekretaris Desa Abdul Haris menutup rapat dengan menyampaikan komitmennya untuk terus memperhatikan kesejahteraan kader desa.

    Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah mengajak kader berwisata sambil belajar mengenai lingkungan sehat.

    Melalui rapat koordinasi ini, Pemerintah Desa Karangrejo bersama pihak terkait berharap dapat memperkuat sinergi dan menghadirkan program yang lebih efektif untuk mewujudkan masyarakat desa yang sehat, baik jasmani maupun rohani.

  • Interkoneksi antara Faktor Biologi, Psikologi, dan Sosial-Lingkungan dalam Model Biopsikososial

    Model biopsikososial memandang kesehatan dan penyakit sebagai hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial-lingkungan.

    Masing-masing faktor ini saling mempengaruhi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mari kita bahas lebih dalam mengenai interkoneksi ini:

    Interkoneksi antara Faktor Biologi dan Psikologi

    1. Pengaruh Biologi terhadap Psikologi

    Kondisi biologis seperti penyakit fisik, genetik, atau ketidakseimbangan hormon dapat mempengaruhi suasana hati, emosi, dan perilaku seseorang.

    Misalnya, seseorang dengan gangguan tiroid seringkali mengalami perubahan mood yang drastis.

    2. Pengaruh Psikologi terhadap Biologi

    Sebaliknya, kondisi psikologis seperti stres, depresi, atau kecemasan dapat memicu respons fisik seperti peningkatan tekanan darah, gangguan pencernaan, atau melemahnya sistem imun.

    Interkoneksi antara Faktor Biologi dan Sosial-Lingkungan

    1. Pengaruh Biologi terhadap Sosial-Lingkungan

    Kondisi biologis seseorang dapat mempengaruhi interaksi sosialnya. Misalnya, seseorang dengan disabilitas fisik mungkin mengalami kesulitan dalam berpartisipasi dalam aktivitas sosial tertentu.

    2. Pengaruh Sosial-Lingkungan terhadap Biologi

    Faktor sosial-lingkungan seperti status sosial ekonomi, akses terhadap perawatan kesehatan, dan paparan terhadap lingkungan yang tidak sehat dapat mempengaruhi kesehatan fisik seseorang.

    Misalnya, orang yang tinggal di daerah kumuh cenderung memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit menular.

    Interkoneksi antara Faktor Psikologi dan Sosial-Lingkungan

    1. Pengaruh Psikologi terhadap Sosial-Lingkungan

    Kondisi psikologis seseorang dapat mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan. Misalnya, seseorang yang memiliki harga diri rendah cenderung menarik diri dari pergaulan.

    2. Pengaruh Sosial-Lingkungan terhadap Psikologi

    Faktor sosial-lingkungan seperti dukungan sosial, tekanan sosial, dan peristiwa traumatis dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

    Misalnya, seseorang yang mengalami kehilangan orang yang dicintai cenderung mengalami depresi.

    Contoh Kasus

    Seorang individu mengalami depresi. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor:

    • Faktor Biologi: Kemungkinan adanya ketidakseimbangan kimiawi di otak.
    • Faktor Psikologi: Peristiwa traumatis di masa lalu, pola pikir negatif, atau kesulitan dalam mengatasi stres.
    • Faktor Sosial-Lingkungan: Dukungan sosial yang kurang, tekanan pekerjaan, atau masalah keuangan.

    Mengapa Model Biopsikososial Penting?

    Model biopsikososial memberikan pendekatan yang lebih holistik dalam memahami kesehatan dan penyakit. Dengan mempertimbangkan semua faktor yang saling terkait, kita dapat:

    • Mengidentifikasi penyebab yang lebih mendasar dari suatu masalah kesehatan.
    • Mengembangkan intervensi yang lebih komprehensif dan efektif.
    • Memperkuat hubungan antara pasien dan penyedia layanan kesehatan.

    Kesimpulan

    Model biopsikososial menekankan pentingnya melihat manusia sebagai suatu kesatuan yang kompleks, di mana faktor biologis, psikologis, dan sosial-lingkungan saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.

    Dengan memahami interkoneksi ini, kita dapat mencapai pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan dan penyakit, serta mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk pencegahan dan pengobatan.