Tag: linguistik

  • 10 Pengertian Kohesi Leksikal Menurut Para Ahli

    10 Pengertian Kohesi Leksikal Menurut Para Ahli

    Pengertian Kohesi Leksikal

    Dalam sebuah wacana, keterkaitan antarbagian sangat penting agar teks dapat dipahami secara utuh oleh pembaca.

    Hubungan antarunsur dalam wacana tidak hanya terbentuk melalui tata bahasa, tetapi juga melalui pilihan kata atau kosakata yang digunakan.

    Keterjalinan makna melalui kosakata inilah yang disebut dengan kohesi leksikal. Kehadiran kohesi leksikal menjadikan sebuah wacana lebih padu, tidak terputus, serta memiliki alur yang teratur.

    Tanpa adanya kohesi leksikal, sebuah teks akan terasa terpisah-pisah dan sulit untuk dipahami secara menyeluruh.

    Kohesi leksikal pada dasarnya membicarakan bagaimana kata-kata yang dipilih saling berhubungan satu sama lain sehingga menciptakan keserasian makna.

    Hubungan ini bisa muncul melalui pengulangan kata, sinonim, antonim, hiponimi, maupun kolokasi. Semua unsur tersebut bekerja sama untuk menjaga agar wacana tetap padu baik secara makna maupun bentuk.

    Pengertian Kohesi Leksikal Menurut Para Ahli

    Untuk memahami konsep kohesi leksikal dengan lebih mendalam, sejumlah ahli telah memberikan penjelasan yang beragam sesuai sudut pandang masing-masing.

    Pendapat para ahli ini memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana kohesi leksikal bekerja dan mengapa unsur ini sangat penting dalam membangun teks yang efektif.

    1. Baryadi 1990: 46)

    Pengertian kohesi leksikal adalah keterkaitan leksikal antara bagian-bagian wacana. Kohesi leksikal dapat dirinci menjadi pengulangan (reiteration), hiponimi (hyponimi), sinonim (synonimi), antonimi (antonymi), dan kolokasi (collocation).

    2. Sumarlam (2008: 35)

    Menjelaskan, bahwa kohesi leksikal adalah hubungan antarunsur dalam wacana secara semantis.

    3. Zaimar & Ayu (2011: 146)

    Mengemukakan bahwa kohesi leksikal adalah keterpautan atau keterjalinan makna di dalam suatu wacana dapat dilihat pada segi kosakatanya.

    4. Mulyana (2005: 55)

    Dilihat dari segi pengertian, kohesi leksikal memiliki tujuan diantaranya ialah untuk mendapatkan efek intensitas makna bahasa, kejadian informasi, dan keindahan bahasa lain.

    5. Kushartanti (dalam Kusnita 2014: 245)

    Menjelaskan “kohesi leksikal adalah hubungan semantik antarunsur pembentuk wacana dengan memanfaatkan unsur leksikal atau kata”

    6. Sudaryat (2008: 160)

    Menguraikan bahwa unsur kohesi leksikal yang menjadi keutuhan wacana itu dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu repetisi, sinonimi, hipernimi, ekuivalensi, kolokasi, dan antonimi.

    7. Mujianto (2010: 83)

    Hubungan leksikal merupakan pengulangan bagian teks tidak hanya dilakukan dengan mengulang struktur sintaksis, katak kata, maupun bunyi.

    8. Zaenal Arifin dkk. (2015: 67)

    Menyatakan bahwa kohesi leksikal menunjukan pada hubungan lesikal di antara bagian-bagian wacana untuk mendapatkan keserasian struktur secara kohesif.

    9. Indiyastini (2009: 70)

    Pengertian kohesi leksikal adalah alat pemadu kalimat-kalimat yang berupa sistem leksikal.

    10. Aswandi (2018: 43)

    Hubungan leksikal antara bagian-bagian wacana untuk mendapatkan keserasian struktur secara kohesif terjadi karena adanya alat kohesi.

  • Frasa Endosentris: Pengertian Menurut Ahli dan Contohnya

    Frasa Endosentris: Pengertian Menurut Ahli dan Contohnya

    Frasa endosentris adalah sebuah frasa yang memiliki struktur yang sama atau mirip dengan salah satu anggota frasa itu sendiri.

    Artinya, frasa tersebut memiliki elemen utama yang menjadi pusat dari frasa tersebut, dan elemen tersebut juga memiliki fungsi yang sama atau mirip dengan frasa secara keseluruhan.

    Dalam kajian linguistik, frasa menjadi salah satu elemen penting yang sering dibahas karena berhubungan langsung dengan struktur kalimat.

    Frasa tidak hanya sekadar gabungan kata, tetapi juga memiliki fungsi dan makna tertentu sesuai dengan susunannya.

    Pengertian Frasa Endosentris Menurut Ahli

    Untuk lebih memahami frasa endosentris secara mendalam, para ahli bahasa telah memberikan definisi yang lebih sistematis.

    Definisi ini membantu kita melihat frasa endosentris bukan hanya sebagai gabungan kata, tetapi juga sebagai konstruksi bahasa yang memiliki aturan sintaksis tertentu. Berikut adalah beberapa pengertian frasa endosentris menurut para ahli.

    1. Menurut Ramlan (1989)

    Frasa endosentris adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsur-unsurnya, baik sebagian maupun keseluruhan.

    2. Menurut Verhaar dalam Sukini (2010: 22)

    Frasa eksosentrik adalah frasa adalah frasa yang berdistribusi komplementer dengan pusatnya.

    3. Menurut Khairah dan Sakura Ridwan (2014: 22)

    Frasa eksosentris yaitu konstruksi frasa yang tidak berfungsi dan berdistribusi sama dengan semua unsur pembentuknya. Frasa eksosentrik adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya.

    4. Menurut Supriyadi (2014: 11)

    Frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya, disebut frasa endosentrik.

    5. Menurut Whitehall dalam Tarigan (2009: 100)

    Frasa endosentrik adalah frasa yang berhulu, yang berpusat, atau headed phrase yaitu frasa yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya.

    6. Menurut Parera (2009: 55)

    Frasa endosentris dikatakan sebuah frasa apabila satuan konstruksi frasa itu berdistribusi dan berfungsi sama dengan salah satu anggota pembentuknya.

    7. Menurut Chaer (2012: 226)

    Frasa endosentrik adalah frasa yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Artinya, salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya.

    8. Menurut Sukini (2010: 22)

    Frasa endosentrik adalah frasa yang berdistribusi pararel dengan salah satu atau semua unsur pembentuknya.

    9. Menurut Khairah dan Ridwan (2014: 22)

    Frasa yang berfungsi dan berdistribusi sama dengan salah satu anggota pembentuknya disebut frasa endosentrik.

    Contoh Frasa Endosentris

    Empat orang karyawan sedang duduk di ruang HRD untuk menerima gaji.

    Pada kalimat di atas, empat orang karyawan tergolong dalam frasa endosentris. Unsur orang dan unsur karyawan mempunyai distribusi yang serupa.

    Maka, tidak menjadi masalah jika salah satu unsur dihapus menjadi:

    • Empat karyawan sedang duduk di ruang HRD untuk menerima gaji.
    • Empat orang sedang duduk di ruang HRD untuk menerima gaji.
    • Karyawan sedang duduk di ruang HRD untuk menerima gaji.
  • 27 Pengertian Linguistik Menurut Para Ahli

    27 Pengertian Linguistik Menurut Para Ahli

    Bahasa merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Melalui bahasa, manusia dapat berkomunikasi, mengekspresikan pikiran, serta mewariskan budaya dan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Untuk memahami bahasa secara lebih mendalam, diperlukan suatu ilmu yang secara khusus mempelajari struktur, makna, dan fungsi bahasa, yaitu linguistik.

    Ilmu ini menjadi dasar utama dalam memahami bagaimana bahasa bekerja dan digunakan dalam berbagai konteks kehidupan.

    Pengertian Linguistik Menurut Para Ahli

    Linguistik merupakan dasar dalam mempelajari keahlian berbahasa. Sedangkan manfaat dari linguistik antara lain:

    • Dapat membantu dalam menyelesaikan dan melaksanakan tugas
    • Penting bagi guru bahasa dan guru studi
    • Dapat menterjemahkan suatu bahasa ke bahasa lain
    • Dapat digunakan untuk menyusun kamus
    • Serta bisa digunakan untuk menuntun buku pelajaran.

    Sebagai cabang ilmu yang kompleks, linguistik tidak hanya membahas tentang tata bahasa, tetapi juga menyangkut aspek fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, hingga pragmatik.

    Melalui pemahaman linguistik, seseorang dapat lebih mudah dalam mempelajari bahasa, menerjemahkan teks, menyusun kamus, bahkan mengembangkan metode pengajaran bahasa.

    Agar pemahaman tentang linguistik menjadi lebih jelas, berikut ini disajikan pengertian linguistik menurut para ahli dari berbagai sumber:

    1. BLOOMFIELD (1933: 20-34)

    Linguistik adalah sain (science), seperti halnya fisika dan kimia adalah sain.

    2. COMSKY

    Linguistik adalah sebuah generatif yang bersifat mentalistik karena tujuan utamanya adalah menjelaskan hakekat competence, dan bukan performance.

    3. HJLEMSLEV

    Linguistik adalah sebuah contoh metasemiotika (telaah tentang bahasa yang juga adalah bahasa itu sendiri).

    4. BENVENISTE

    Linguistik adalah perbedaan antara dimensi-simensi semiotik dan semantik pada bahasa.

    5. NEWMARK

    Lingusitik adalah ide dasar yang ada di dalam teks yang bersangkutan. Bisa dikatakan bahwa makna ini tidak berbeda jauh dari serangkaian makna leksikal.

    6. MARTINET (1987: 19)

    Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.

    7. MATTHEWS

    Linguistik didefinisikan sebagai ilmu bahasa atau studi ilmiah mengenai bahasa.

    8. HARIMUTI KRIDALAKSANA

    Linguistik merupakan ilmu tentang tata bahasa.

    9. DUBOIS, JEAN

    Linguistik merupakan kajian ilmiah tentang bahasa.

    10. Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1)

    a. Pengertian pertama

    Menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

    b. Pengertian Kedua

    Bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.

    11. Owen dalam Stiawan (2006:1)

    Bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).

    12. Tarigan (1989:4)

    Bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer.

    13. Santoso (1990:1)

    Bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar.

    14. Mackey (1986:12)

    Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem.

    15. Wibowo (2001:3)

    Bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.

    16. Walija (1996:4)

    Bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain.

    17. Syamsuddin (1986:2)

    a. Pertama

    Bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi

    b. Kedua

    Bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.

    18. Pengabean (1981:5)

    Bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf.

    19. Soejono (1983:01)

    Bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.

    20. W.N. Francis (1985: 13)

    Bahasa adalah sebagai sebuah sistem perubahan dari artikulasi (pengucapan) bunyi yang digunakan oleh sekelompok manusia sebagai sebuah harta kekayaan di dalam urusan kehidupan bermasyarakat mereka.

    21. Finocchioro (1974: 3)

    Bahasa adalah sebuah sistem perubahan (berubah-ubah), suara yang membolehkan untuk semau manusia menggunakannya dalam memberikan sebuah kebudayaannya, atau orang lain yang telah belajar sistem dari kebudayaan tersebut, untuk berkomunikasi dan berinteraksi.

    22. Pei dan Gaynor (1954: 119)

    Bahasa adalah sistem komunikasi dengan bunyi, i, e, sebagai alat dalam berpidato (berbicara) dan mendengar. Diantara manusia tentunya komunitas menggunakan simbol bunyi yang memiliki perubahan makna menurut kebudayaan (adat) masing-masing.

    23. Wardhaugh (1972: 3)

    Bahasa adalah sebuah sistem dari simbol bunyi (vocal) yang digunakan manusia dalam berkomunikasi.

    24. Greene (1972: 25)

    Bahasa adalah aturan dari semua kalimat yang possible (tepat) dan tata bahasa (grammar) dari sebuah bahasa adalah aturan-aturan yang membedakan antara kalimat dan bukan kalimat.

    25. Chomsky (1957: 13)

    Bahasa adalah sebagai aturan (finite or infinite-terbatas atau tidak terbatas) dari kalimat sebagian yang terbatas berada di dalam kalimat yang panjang dan gagasan yang keluar dari aturan kalimat terbatas dari elemen-elemennya.

    26. A. A. Hill (1958: 9)

    Bahasa adalah sebagai dasar dan bentuk yang rumit dari simbol aktivitas kehidupan manusia.

    27. Charles F. Hockett (1958: 137-138)

    Bahasa adalah sebuah sistem kebiasaan yang kompleks. Sistem ini diperincikan ke dalam 5 prinsip subsistem:

    a. Sistem gramatical (tata bahasa) : persediaan morpheme dan rencana kejadian terpikirkan
    b. Sistem phonologi : persediaan phonologi dan rencana kejadian yang terpikirkan
    c. Sistem morphophonemic : kode yang pertalian yang bersama gramatical dan sistem phonologi
    d. Sistem semantic : himpunan variasi morphem, kombinasi (gabungan) dan rencana morpheme dapat ditempatkan dengan sesuatu dan situasi atau beragam sesuatu dan situasi.
    e. Sistem phonetic : cara yang dimana serangkaian phonemes dapat diubah ke dalam gelombang-gelombang suara dari artikulasi pembicara dan dikode from jaringan pidato (bicara) oleh pendengar.

  • Proses Morfologis Bahasa Indonesia

    Proses Morfologis Bahasa Indonesia

    Morfologis adalah bagian dari kajian morfoligi, yakni ilmu yang mempelajari mengenai bentuk kaidah bahasa.

    Adapun proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari kesatuan yang lain yang merupakan bentuk dasarnya ( Ramlan: 1979).

    Bentuk dasar sendiri bisa berupa kata, seperti kata “berjalan” yang dibentuk dari kata “jalan, kata “menulis” dibentuk dari kata “tulis,” “gedung-gedung” dari kata “gedung.”

    Mungkin juga berupa pokok kata, atau istilah lainnya prakatagorial, misalnya kata “bertemu” dari pokok kata “temu,” kata “mengalir” dari kata “alir;” mungkin berupa frase, misalnya frase “ketidakadilan” dibentuk dari frase tidak “adil.”

    Dalam bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologis, yaitu :

    1. Proses pembubuhan afiks (afiksasi)
    2. Proses pengulangan (reduplikasi)
    3. Proses pemajemukan.

    Di samping tiga proses morfologis di atas, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yang disebut dengan proses perubaan zero.

    Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, yakni kata yang termasuk golongan kata verbal transitip, seperti : makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya adalah kata verbal transitif (kata verbal yang dapat diikuti oleh objek dan dapat diubah menjadi kata verbal pasif). Misalnya:

    Membeli => dibeli
    Memperbaiki => diperbaiki
    Makan => dimakan
    Minum => diminum

    1. Poses Pembubuhan Afiks (Imbuhan)

    Proses pembubuhan afiks adalah pembubuhan afiks suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afik ber- pada kata jalan menjadi berjalan. Pada sepeda menjadi bersepeda.

    Bentuk tunggal => terdiri dari satu morfem, misalnya : makan, minum.
    Bentuk kompleks => terdiri lebih dari satu morfem : rumah makan, berlari,.
    Kata berlari terdiri dari dua morfem yakni morfem [ber-] dan morfem [lari].

    Satuan yang dilekati afiks atau yang menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar disebut bentuk dasar, dalam contoh di atas kata jalan adalah bentuk dasar dari berjalan, kata sepeda adalah bentuk dasar dari kata bersepeda

    Bentuk afiksasi yang salah

    Tak jarang kita mendengar dipungkiri, atau kata mempesona. Kata-kata tersebut memiliki intensitas yang cukup tinggi, artinya sering diucapkan.

    Tapi apakah kata-kata tersebut sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia? Berikut sedikit pembahasan:

    Fonem /N/ pada morfem meN berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutiya berawal /p,b,f/. Misalnya :

    meN + pesan => memesan
    meN + pukul => memukul
    meN + potong => memotong
    meN + Pesona => memesona

    Jadi sudah jelas bahwa kata yang benar adalah memesona, bukan mempesona. Lalu bagimana dengan kata dipungkiri?

    Kata dipungkiri adalah bentuk yang salah. Dalam KBBI tidak ada kata dasar pungkir yang ada adalah mungkir jadi bentuk yang benar adalah dimungkiri.

    2. Proses Pengulangan (Reduplikasi)

    Proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan suatu gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak.

    Hasil pengulangan tersebut disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang disebut bentuk dasar.

    Misalnya kata ulang rumah-rumah dibentuk dari kata dasar rumah, kata ulang berjalan jalan dibentuk dari kata berjalan kata ulang bolak balik berasal dari kata balik.

    Akan tetapi kita sering terkecoh dengan bentuk yang mirip dengan kata ulang, tetapi susunguhnya bukanlah kata ulang, jika dilihat dari tinjauan deskriptif.

    Misalnya kata-kata berikut: sia-sia, huru-hara, mondar-mandir. Kata-kata tersebut bukanlah kata ulang, karena sebenarnya tidak ada satuan atau kata dasar yang diulang.

    kata sia-sa bukan berasal dari kata dasar sia, karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ada kata dasar sia, begitupun dengan kata huru-hara, dan kata mondar-mandir.

    3. Proses Pemajemukan

    Dalam bahasa Idonesia kerap sekali ditemukan gabungan dua kata yang membentuk makan baru.

    Kata yang terjadi dari gabungan dua kata tersebut lazim disebut dengan kata mejemuk. Rumah sakit, meja makan, kepala batu.

    Cara Membedakan Antara Kata Menjemuk Dengan Yang Bukan Kata Mejemuk?

    Misalnya saya beri contoh kursi malas dengan adik malas. Mana diantara contoh tersebut yang merupakan kata mejemuk.

    Dilihat dari kategori pengolongan kata, kata kursi malas dan adik malas terdiri dari kata benda dan kata sifat.

    Artinya keduanya mempunyai kemungkinan sebagai klausa dan sebagai frase.

    Jika kursi malas sebagi klausa, tentu dapat diikuti dengan kata itu, misalnya menjadi *kursi itu malas, kata malas dapat diikuti dengan kata sangat,tidak agak, *kursi itu sangat malas,* kursi itu agak malas.

    Jelaslah bahwa semua itu tidak lazim. berbeda halnya dengan adik malas, dapat diperluas menjadi *adik yang malas, atau adik itu sangat malas. Jadi jelas kursi malas bukanlah klausa.

    Jika kursi malas itu fase, tentu dapat disela dengan kata yang, misalnya pada contoh tadi; adik malas dapat disisipi kata yang menjadi adik yang malas.

    Sedangkan kursi yang malas tidak lazim atau tidak berterima, oleh karena itu maka kursi malas bukanlah frase melaikan kata majemuk.

  • Pengertian Parafrasa, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Parafrasa, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Parafrasa

    Parafrase atau parafrasa adalah pengungkapan kembali suatu tuturan bahasa ke dalam bentuk bahasa lain tanpa mengubah pengertian.

    Pengungkapan kembali tersebut bertujuan untuk menjelaskan makna yang tersembunyi.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.

    Pengertian Parafrasa Menurut Para Ahli

    Adapun pengertian parafrase menurut para ahli adalah sebagai berikut.

    1. Menurut L. Behrens (dalam A Sequence for Academic Writing. Longman, 2009)

    Paraphrase adalah bagian yang menyajikan poin penting, penjelasan, atau argumen tetapi itu tidak mengandung kata-kata yang mudah diingat atau langsung.

    2. Menurut L. Behrens (dalam A Sequence for Academic Writing. Longman, 2009)

    Parafrase adalah sebuah ringkasan, yang ditulis dengan kata-kata Anda sendiri, secara singkat menyatakan kembali poin utama penulis.

    3. Menurut Kridalaksana

    Menurut Kridalaksana dalam Kamus Linguistik III bahwa yang dimaksud dengan pengertian parafrasa adalah pengungkapan kembali konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, tanpa mengubah maknanya, dengan memberi kemungkinan penekanan yang agak berlainan.

    4. Menurut Sudaryanto

    Menurut Sudaryanto bahwa Parafrasa adalah bentuk lain (serta makna yang lain) dengan informasi yang sama.

    5. Menurut Crystal (1985)

    Menurut Crystal bahwa parafrasa merupakan istilah dalam linguistik untuk hasil atau proses produksi versi alternatif dari kalimat atau teks tanpa mengubah makna.

    Ciri-Ciri Parafrasa

    • Bentuk tuturan kata berbeda.
    • Bahasa penyampaian berbeda
    • Cara penyampaian berbeda
    • Arti dan Makna tuturan tetap sama.
    • Substansi tidak berubah.

    Cara Membuat Parafrasa

    Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam membuat parafrasa dari sebuah bacaan.

    Untuk membuat parafrasa lisan, langkah-langkahnya adalah membaca informasi secara cermat, mencatat kalimat inti, mengmbangkan kalimat inti menjadi pokok pikiran, menyampaikan pokok pikiran dalam bentuk uraian lisan dengan kalimat sendiri.

    Gunakanlah sinonim, ungkapan yang sepadan, mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, mengubah kalimat aktif menjadi kalimat tidak aktif, serta menggunakan kata ganti orang ketiga untuk narasi jika kesulitan menguraikan.

    Cara Memparafrasekan Puisi Menjadi Prosa

    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memfaraprasekan puisi menjadi prosa, ialah sebagai berikut :

    • Membaca atau mendengarkan pembacaan puisi dengan seksama
    • Pahami isi kandungan puisi secara utuh
    • Jelaskan kata-kata kias atau ungkapan yang terdapat dalam puisi
    • Uraikan kembali isi puisi secara tertulis dalam bentuk prosa dengan menggunakan kalimat sendiri
    • Sampaikan secara lisan atau dibacakan

    Contoh Parafrasa

    Aku

    Kalau sampai waktuku
    ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
    Tidak juga kau
    Tak perlu sedu sedan itu
    Aku ini binatang jalang
    Dari kumpulannya terbuang
    Bila peluru menembus kulitku
    Aku tetap meradang menerjang
    Lukadan bisa kubawa berlari
    Berlari
    Hingga hilang perih peri
    Dan aku akan lebih tidak peduli
    Aku mau hidup seribu tahun lagi

    (Chairil Anwar, DCD 1959:7)

    Parafrasanya :

    Kalau si aku meninggal, ia menginginkan jangan ada seorangpun yang bersedih, bahkan juga kekasih atau istrinya.

    Tidak perlu juga ada sedu sedan yang meratapi kematian si aku sebab tidak ada gunanya. Si aku ini adalah binatang jalang yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya.

    Iamerdeka tidak terikat oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak, peluru menembus kulitnya.

    Si aku tetap berang dan memberontak terhadap aturan-aturan yang mengikat tersebut.

    Segala rasa sakit dan penderitaan akan ditanggung, ditahan, diatasi hingga rasa sakit dan penderitaan itu pada akhirnya akan hilang sendiri.

    Si aku akan makin tidak peduli pada segala aturan dan ikatan, halangan, serta penderitaan. Si aku mau hidup seribu tahun lagi.

    Maksudnya, si aku menginginkan semangatnya, pikirannya, karya-karyanya akan hidup selama-lamanya. (Rachmat Djoko Pradopo)

  • Pengertian Abreviasi dan Contohnya

    Pengertian Abreviasi dan Contohnya

    Pengertian Abreviasi

    Abreviasi adalah proses penanggalan leksem atau kombinasi leksem yang diambil dari struktur kata lengkap atau frase dan memiliki makna yang sama dengan makna aslinya atau bentuk semula.

    Jenis-jenis abreviasi adalah singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf.

    Abreviasi didefinisikan sebagai kependekan dari sebuah kata atau frasa. Berikut jenis-jenis abreviasi/singkatan.

    • Akronim, membentuk singkatan dengan menggunakan huruf-huruf awalnya. Contoh, ABBA, MAD, OPEC, semuanya merupakan akronim yang menggunakan huruf pertama dari setiap kata untuk membentuk kata baru. Akronim yang kurang dikenal contohnya scuba dan laser, menunjukkan tidak semua akronim harus ditulis huruf besar.
    • Initialism (inisial), juga disebut alphabetism, sekumpulan huruf yang pengucapannya terpisah, biasanya digunakan sebagai singkatan suatu nama atau suatu ekspresi. Contohnya, CD, TV dan UK.
    • Truncation atau pemotongan, abreviasi ini berisi bagian awal dari sebuah kata. Tipe ini paling sering digunakan dalam sebuah judul yang mengacu pada bulan, tahun, hari seperti Mon, Fri, Oct.
    • Clipped, hampir sama dengan truncation, hanya saja bagian kata yang digunakan untuk membentuk singkatan dapat diambil dari tengah atau akhir kata, seperti phone (telephone), fridge (refrigerator).
    • Aphesis, penghilang vokal di awal kata, biasanya tidak disengaja dan terjadi dalam bahasa lisan dalam percakapan sehari-hari. Contoh cause untuk because.
    • Portmanteau, gabungan dua kata atau lebih. Contoh liger dari kata lion dan tiger, spork dari spoon dan fork, brinner utnuk breakfast dan dinner.

    Klasifikasi Jenis Jenis Abreviasi

    Singkatan terjadi karena proses – proses berikut:

    1) penggalan huruf pertama tiap komponen. Misalnya: H = Haji, AA = Asia-Afrika, RS = Rumah Sakit.
    2) pengekalan huruf pertama dengan pelesapan konjungsi, preposisi, reduplikasi, dan artikulasi kata. Misalnya: IKIP = Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
    3) pengulangan huruf pertama dengan bilangan bila berulang. Misalnya 3D = Dilihat, Diraba, Diterawang.
    4) pengekalan dua huruf pertama dari kata. Misalnya: Ny = nyonya, Wa = Wakil.
    5) pengekalan tiga huruf pertama dari sebuah kata. Misalnya: Okt = Oktober.
    6) pengekalan empat huruf pertama dari suatu kata. Misalnya: sekr = sekretaris, Sept = September.
    7) pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir kata. Misalnya: Ir = Insinyur.
    8) pengekalan huruf pertama dan huruf ketiga. Misalnya: Gn = Gunung.
    9) pengekalan huruf pertama dan terakhir dari suku kata pertama dan huruf pertama dari suku kata kedua. Misalnya: Kpt = Kapten.
    10) pengekalan huruf pertama kata pertama dan huruf pertama kata kedua dari gabungan kata. Misalnya: VW = Volkswagen.
    11) pengekalan dua huruf pertama dari kata pertama dan huruf pertama kata kedua dalam suatu gabungan kata. Misalnya Swt = Swatantra.
    12) pengekalan huruf pertama suku kata pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kata kedua dari suatu kata. Misalnya: Bdg = Bandung, tgl = tanggal.
    13) pengekalan huruf pertama dari tiap suku kata. Misalnya: hlm = halaman.
    14) pengekalan huruf pertama dan huruf keempat dari suatu kata. Misalnya:DO = depot.
    15) pengekalan huruf yang tidak beraturan. Misalnya: Kam = keamanan.

  • Bahasa Vernakular Adalah?

    Bahasa Vernakular Adalah?

    Bahasa Vernakular adalah bahasa atau variasi bahasa selain bahasa standar atau yang umum digunakan.

    Bahasa Vernakular sendiri sering dibedakan dari bahasa sastrawi, ilmiah, atau variasi bahasa lain yang memiliki prestise yang tinggi.

    Cara lain untuk memahami bahasa Vernakular adalah dengan melihat varian bahasa apa yang telah dikodifikasi, atau disempurnakan seiring waktu oleh badan atau kewenangan yang memiliki hak untuk melakukannya, dalam hal ini Badan Bahasa.

    Bahasa Vernakular adalah bahasa yang berada di luar proses tersebut.

    Definisi Bahasa Vernakular juga dapat diartikan ragam bahasa lisan dari suatu bahasa, yang merupakan bahasa sehari-hari masyarakat yang tidak melalui proses kodifikasi.

    Oleh karena itu, vernakular biasanya tidak memiliki status resmi di suatu negara karena hanya digunakan dalam bahasa sehari-hari.

    Vernakular pada umumnya dipengaruhi oleh keadaan sosial, budaya, atau keadaan geografi dari penuturnya.

    Sebagai contoh, bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat kelas menengah dan kelas bawah dapat berbeda.

    Contoh lain, adalah perbedaan penggunaan bahasa antara satu daerah dengan daerah lainnya yang biasanya dipengaruhi oleh dialek setempat.

    Vernakular biasanya dianggap lebih rendah dibandingkan dengan bahasa baku.

  • Pengertian Diftong dan Contohnya dalam Bentuk Kalimat

    Pengertian Diftong dan Contohnya dalam Bentuk Kalimat

    Pengertian Diftong

    Diftong adalah gabungan dua huruf vokal yang diucapkan secara bersamaan dalam satu suku kata dan menghasilkan satu bunyi padu.

    Kedua huruf vokal tersebut tidak dapat dipisahkan karena jika dipisahkan, makna atau bunyi katanya akan berubah.

    Dengan kata lain, diftong merupakan perpaduan bunyi vokal yang terjadi dalam satu tarikan napas sehingga terdengar sebagai satu kesatuan suara.

    Dalam bahasa Indonesia, diftong biasanya terjadi pada kombinasi huruf vokal seperti ai, au, dan oi. Ketiga kombinasi ini menghasilkan bunyi yang khas dan tidak dapat dipecah menjadi dua bunyi vokal yang terpisah.

    Misalnya kata harimau, maka huruf a dan u (au) menghasilkan bunyi “aw” adalah diftong. Contoh lain kata pantai, maka huruf a dan i (ai) menghasilkan bunyi “ay” adalah diftong.

    Dalam sistem fonetik bahasa Indonesia, diftong berbeda dari deret vokal biasa.

    Jika dua vokal berada dalam suku kata yang berbeda (misalnya pada kata seolah → se-o-lah), maka itu bukan diftong, melainkan dua vokal terpisah.

    Namun jika dua vokal berada dalam satu suku kata (misalnya pantai → pan-tai), maka itu disebut diftong.

    • Pada kata “harimau”, huruf a dan u membentuk diftong au yang menghasilkan bunyi “aw”.
    • Pada kata “pantai”, huruf a dan i membentuk diftong ai yang menghasilkan bunyi “ay”.
    • Pada kata “tomboi”, huruf o dan i membentuk diftong oi yang menghasilkan bunyi “oy”.

    Contoh Diftong dalam Kalimat Bahasa Indonesia

    Ayo kita pergi ke pantai.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah: ay (gabungan a dan i)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: pantai.

    Burung itu selalu berkicau.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah : aw (gabungan dari a dan u)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: kicau.

    Pak Lurah mengimbau warga untuk jaga kebersihan.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah: aw (gabungan dari a dan u)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: imbau.

    Si Dewi sangat tomboi karena sering main dengan pria.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah: oi (gabungan dari kata o dan i)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: tomboi.
  • 9 Sifat Bahasa Lengkap dengan Penjelasannya

    9 Sifat Bahasa Lengkap dengan Penjelasannya

    Pengertian Bahasa

    Sebelum membahas tentang sifat bahasa, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu arti dari bahasa.

    Jadi, bahasa adalah sistem komunikasi manusia yang berupa bunyi, dihasilkan dari alat ucap, yaitu mulut.

    Adapun yang mendukung dari bunyi adalah ekspresi muka, gerakan tangan, serta simbol-simbol tertentu sehingga pesan yang disampaikan benar-benar sampai kepada orang lain.

    Nah, itulah definisi bahasa. Lantas, apa saja sifat-sifat bahasa? Berikut diantaranya:

    Sifat Bahasa

    Berikut adalah beberapa sifat bahasa, diantaranya:

    1. Arbriter

    Arbriter bisa diartikan sebagai “suka-suka” atau “sewenang-wenang”. Maksudnya adalah hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu.

    Namun, meski bersifat abritrer, bahasa juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya.

    2. Produkfif

    Bahasa bersifat produktif, maksudnya adalah walaupun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang tidak terbatas, secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

    Misalnya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Poerwadarminta, bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.

    3. Dinamis

    Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu akan berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantik dan leksikon.

    Pada setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, alias tidak digunakan lagi.

    4. Beragam

    Masyarakat terdiri dari berbagai status sosial dan latar belakang yang tidak sama, maka dari itu membuat bahasa menjadi beragam atau bervarian. Misalnya Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta.

    5. Manusiawi

    Bahasa hanya digunakan oleh manusia, tidak hewan. Sebab alat komunikasi hewan bersifat statis, sedangkan alat komunikasi manusia bersifat dinamis. Selain itu, hewan tidak mampu mempelajari bahasa manusia, sehingga bahasa disebut sebagai manusiawi.

    6. Bersistem

    Bahasa adalah sebuah sistem yang berpola. Maksudnya adalah ketika berbahasa, manusia akan memadukan kata-kata menjadi rangkaian kalimat sehingga mudah dimengerti oleh lawan bicara.

    Ketika sistem itu tidak ditata dengan baik, maka komunikasi akan menjadi sulit karena lawan bicara tidak mengerti apa yang sedang disampaikan.

    7. Bunyi

    Menurut Kridalaksana (1983), bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa.

    8. Unik

    Bahasa juga memiliki sifat unik, artinya setiap bahasa memiliki ciri khas tersendiri dalam penyampaian dan pelafalannya.

    9. Universal

    Bahasa bersifat universal, artinya ada ciri-ciri yang sama oleh setiap bahasa di dunia dini. Baik ciri penyampaian, ciri penulisan, ciri sistem, atau ciri lainnya. Pada intinya, ada satu ciri yang sama.

    Nah, itulah pengertian dan sifat-sifat bahasa. Sekarang sudah tahu, kan? Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di Sastrawacana.

  • Linguistik: Pengertian, Subdisiplin, dan Manfaatnya

    Linguistik: Pengertian, Subdisiplin, dan Manfaatnya

    Pengertian Linguistik

    Pengertian Linguistik adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang bahasa secara ilmiah yang mengacu pada teori. Linguistik berasal dari bahasa latin ‘lingua’ yang berarti ‘bahasa’.

    Ilmu linguistik juga sering disebut sebagai general linguistics.

    Maksudnya adalah ilmu linguistik itu tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja, tapi mengkaji seluk beluk bahasa secara lengkap.

    Ada banyak tokoh linguistik dunia, namun ada satu yang paling populer dan mendapat gelar sebaga Bapak Linguistik modern, yaitu Ferdinand de Saussure (1857-1913).

    Ia juga pernah menulis buku berjudul Course de Linguistique Generale (1916)

    Menurut KBBI, linguistik artinya:

    • Ilmu tentang bahasa
    • Telaah bahasa secara ilmiah

    Disiplin ilmu linguistik telah mengalami tiga tahap perkembangan, diantaranya:

    1. Tahap pertama adalah tahap spekulasi yang artinya kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris, namun tetap dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

    2. Tahap kedua adalah observasi dan klasifikasi yang berkaitan dengan para ahli bahasa dalam mengumpulkan fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

    3. Tahap ketiga adalah perumusan teori. Pada tahap ini bisa disebut sebagai tahapan kompleks, yang mana setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah serta mengajukan pertanyaan berdasarkan data empiris. Kemudian, dikumpulkan hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan itu dan menyusun tes untuk menguji hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

    Subdisiplin Linguistik

    A. Adapun Subdisiplin linguistik dapat dikelompokkan berdasarkan:

    • Objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu.
    • Objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa.
    • Objek kajiannya adalah struktur internal bahasa.
    • Tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori atau untuk terapan.
    • Teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

    B. Dalam linguistik mikro ada beberapa subdisiplin yaitu:

    • Fonologi: menyelidiki tentang bunyi bahasa.
    • Morfologi: menyelidiki tentang morfem.
    • Sintaksis: menyelidiki tentang satuan-satuan kata.
    • Semantik: menyelidiki makna bahasa.
    • Leksikologi: menyelidiki leksikon atau kosakata.

    C. Subdisiplin linguistik makro antara lain:

    • Sosiolinguistik: mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaian di masyarakat.
    • Psikolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dana kal budi manusia.
    • Antropolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan budaya.
    • Filsafat bahasa: mempelajari kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia.
    • Stilistika: mempelajari bahasa dalam karya sastra.
    • Filologi: mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan tertulis.
    • Dialektologi: mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah.

    Manfaat Linguistik

    Linguistik memiliki manfaat langsung bagi setiap orang yang hidup di dunia ini.

    Di mana linguistik mampu meluruskan tata bahasa dalam komunikasi sehari-hari.

    Sebagaimana diketahui, bahasa adalah alat komunikasi terbaik bagi setiap prang.

    Selain itu, linguistik juga berperan penting dalam perkembangan dunia pendidikan.

    Adapun yang diuntungkan adalah seperti guru bahasa, penerjemah, penyusun kamus, penyusun buku teks, dan politikus.

    Manfaat lain dari linguistik adalah sebagai berikut:

    • Linguis: membantu menyelesaikan tugasnya dalam penyelidikan bahasa.
    • Guru bahasa: melatih dan mengajarkan keterampilan berbahasa.
    • Penerjemah: membantu dalam mendapatkan hasil terjemahan yang baik.
    • Penyusun kamus: membantu dalam menyusun kamus yang lengkap dan baik.
    • Penyusun buku teks: membantu dalam memilih kata dan menyusun kalimat yang tepat.
    • Politikus: membantu dalam aktivitasnya berkomunikasi dengan orang banyak.