Tag: menurut para ahli

  • Pengertian Etnografi Menurut Para Ahli

    Pengertian Etnografi Menurut Para Ahli

    Pengertian Etnografi

    Secara bahasa, kata etnografi merupakan istilah yang berasal dari Bahaya Yunani ‘ethos’ yang artinya deskripsi mengenai orang, suku, bangsa yang diuraikan dengan tulisan.

    Kemudian, secara harfiah bisa disebut bahwa etnografi adalah budaya dalam perspektif keilmuan.

    Istilah etnografi sendiri adalah sub cabang dari antropologi, yang artinya lahir dan merupakan embrio dari keilmuan antropologi.

    Diperkirakan bidang kajian ini lahir pada tahun 1800-an manakalah masa kerajaan di Indonesia yang sedang berupaya dalam memperebutkan daerah kekuasan serta hasil alam, berupa rempah-rempah.

    Menurut KBBI, makna etnografi adalah: deskripsi tentang kebudayaan suku-suku bangsa, ilmu tentang pelukisan kebudayaan suku-suku bangsa yang hidup tersebar di muka bumi

    Pengertian Etnografi Menurut Para Ahli

    Namun, ada peranan dan maksud lain dari kelahiran etnografi sendiri. Seperti pengertian etnografi menurut para ahli berikut ini.

    1. Michael H. Agar (1986:12-24)

    Memberikan tawaran baru tentang penelitian etnografi dengan dilandasi oleh pemikiran fenomenologi, mengutip pendapat Giddens (1976), adalah inti dari proses mediasi kerangka pemikiran.

    “Hakikat dari suatu mediasi tertentu akan bergantung dari hakikat tradisi dimana terjadi kontak penelitian lapangan”.

    2. Charles Winnick (1915:193)

    Mendefinisikan etnografi sebagai the study of individual cultures, it is primarily adescriptvie and non interpretative study.

    3. Roger M. Keesing (1989:250)

    Mendefinisikan etnogarafi sebagai pembuatan dokumentasi dan analisis budaya tertentu dengan mengadakan penelitian lapangan.

    Artinya dalam mendefinisikan suatu kebudayaan seorang etnografer (peneliti etnografi) juga menganalisis.

    4. Richards dkk, (1985)

    Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa.

    Bidang kajian vang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok

    5. Wolcott (1977)

    Arti Etnografi adalah suatu metode khusus atau satu set metode yang di dalamnya terdapat berbagai bentuk yang mempunyai karakteristik tertentu, termasuk partisipasi etnografer, memahami dan mengikuti kehidupan sehari-hari dari seseorang dalam periode yang lama, melihat apa yang terjadi, mendengarkan apa yang dikatakan, bertanya kepada mereka, dan pada kenyataannya mengumpulkan data apa saja yang ada.

    Nah, itulah beberapa definisi etnografi menurut para ahli. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • Pengertian Karya Fiksi Menurut Para Ahli

    Pengertian Karya Fiksi Menurut Para Ahli

    Pengertian Karya Fiksi Menurut Para Ahli

    Kata fiksi (fiction) diturunkan dari bahasa Latin fictio, ficturn yang berarti membentuk, membuat, menciptakan.

    Fiksi adalah sesuatu yang dibentuk, dibuat, diciptakan, dan diimajinasikan. Karya fiksi contohnya seperi cerpen, novel, roman, dongeng, gurindam, dan sebagainya.

    Untuk lebih jelas, berikut adalah definisi fiksi dari para ahli:

    1. Menurut Abrams

    Istilah fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah tetapi suatu yang benar ada dan terjadi di dunia nyata sehingga kebenarannya pun dapat dibuktikan dengan data empiris.

    Yang membedakan karya fiksi dengan karya nonfiksi yaitu tokoh, peristiwa dan tempat yang disebut-sebut dalam karya fiksi bersifat imajinatif sedangkan pada karya nonfiksi bersifat faktual.

    2. Menurut Altenbernd dan Lewis

    Fiksi dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasi hubungan-hubungan antar manusia.

    Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan.

    Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya yang sekaligus memasukan unsur hubungan dan dengan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia.

    3. Menurut Krismarsanti

    Pengertian fiksi menurut Krismarsanti adalah karang yang berisi kisah atau cerita yang dibuat berdasarkan khayalan atau imajinasi pengarang.

    4. Wellek dan Warren

    Fiksi adalah bangunan struktur yang koheren, dan tetap mempunyai tujuan estetik.

    5. Nurgiantoro

    Fiksi adalah sebagai prosa naratif yang memiliki sifat imajinatif. Akan tetapi biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia.

    6. Thani Ahmad

    Definisi fiksi menurut Thani Ahmad adalah cerita naratif yang timbul dari imajinasi pengarang dan tidak memperdulikan fakta sejarah.

    Itulah beberapa definisi karya fiksi menurut para ahli dalam dunia sastra. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • 13 Pengertian Diksi Menurut Para Ahli

    13 Pengertian Diksi Menurut Para Ahli

    Pengertian Diksi

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kbbi), diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti apa yang diharapkan).

    Diksi atau sering juga disebut pilihan kata, penggunaan diksi berhubungan dengan ketetapan penggunaan kata, setiap kata memilki makna tertentu yang berbeda dengan makna yang lainnya.

    Walaupun ada beberapa kata yang sekilas memilki makna yang hampir sama, tetapi sebenarnya masing-masing memilki perbedaan.

    Seorang pengarang ketika menentukan kata dalam menulis tentunya tidak asal dalam memilih.

    Namun demikian kata yang akan dipilih itu akan diikuti dengan berbagai hal yang melingkupinya.

    Hal tersebut menyangkut di mana, kapan, dan tujuannya apa menggunakan kata tersebut.

    Semua itu dimaksudkan untuk memberi corak atau warna agar menarik perhatian pembaca, dengan syarat maksud atau pesan yang ingin disampaikan pengarang itu bisa tersampaikan ke pembaca.

    Pengertian Diksi Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian diksi menurut para ahli, diantaranya:

    1. Keraf (2008: 22-23)

    Diksi adalah pilihan kata atau diksi jauh lebih luas dari apa yang dipantulkan oleh hubungan kata-kata itu. Istilah ini bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan.

    2. Widyamartaya (1990: 45)

    Pendapat lain dikemukakan oleh Widyamartaya (1990: 45) yang menjelaskan bahwa diksi atau pilihan kata adalah kemampuan seseorang membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikannya dan kemampuan tersebut hendaknya disesuaikan dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat dan pendengar atau pembaca.

    3. Enre (1988: 102)

    Menjelaskan bahwa diksi ialah pilihan kata dan penggunaan kata secara tepat untuk mewakili pikiran dan perasaan yang ingin dinyatakan dalam pola suatu kalimat.

    4. Achmadi (1990: 136)

    Memberikan definisi diksi adalah seleksi kata-kata untuk mengekspresikan ide atau gagasan dan perasaan.

    5. Mustakim (1994: 41)

    Membedakan antara istilah pemilihan kata dan pilihan kata. Pemilihan kata adalah proses atau tindakan memilih kata yang dapat mengungkap gagasan secara tepat, sedangkan pilihan kata adalah hasil proses atau tindakan tersebut.

    6. Harimurti

    Diksi adalah pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di depan umum atau dalam mengarang.

    7. Susilo Mansurudin

    Susilo Mansurudin berpendapat pengertian diksi adalah pilihan kata. Pemakaian atau pemilihan diksi yang tepat, benar dan cermat bisa membantu memberi nilai pada suatu kata. Pilihan diksi yang sesuai dengan kata lain akan mencegah terjadinya kesalahan penafsiran yang berbeda.

    8. Triningsih

    Triningsih (2018, hlm. 15) menyatakan, bahwa diksi atau pilihan kata merupakan ketepatan seseorang dalam memilih dan menggunakan kata sesuai dengan situasi dan kondisi. Artinya, seorang penulis harus mampu memilih kata agar informasi yang disampaikan tidak ambigu atau tepat.

    9. Finoza

    Finoza (2018, hlm. 137) menyatakan, bahwa pilihan kata atau diksi pada dasarnya adalah hasil upaya memilih kata tertentu untuk dipakai dalam kalimat, alinea, serta wacana.

    10. Aminudin

    Aminudin (1995: 215) menyatakan fungsi diksi adalah menimbulkan keindahan yang menyangkut aspek bentuk sebagaimana dikreasikan penuturnya, dan menampilkan gambaran suasana.

    11. Pradopo

    Menurut Pradopo (1990: 93) pembaca dapat menikmati diksi yang dikreasikan oleh pengarang. Fungsi diksi adalah dapat menimbulkan tanggapan pikiran pembaca karena ada makna lain yang muncul dibalik kata itu.

    12. Siswono

    Kemudian Siswono (2014:07) mengemukakan diksi merupakan pilihan kata terhadap bahasa-bahasa yang dikuasai oleh penutur.

    Satuan pilihan kata yang terdapat pada pengertian diksi berstruktur gramatikal demikian, berupa polimorfemis bersteam pilih yang berkategori kelas kata verba, hal ini memarkahi aktivitas memilih.

    Yaitu memilih kata, lalu kapan penutur melakukannya yaitu saat sedang bertutur, baik yang tampak maupun tidak tampak, wujud bertutur yang tampak misalnya tuturan lisan dan tulis, sedangkan wujud bertutur yang tidak tampak karena masih terjadi di alam mental adalah berfikir.

    13. Awalludin

    Menurut Awalludin (2017:19) diksi merupakan pilihan kata. Artinya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Oleh sebab itu, diksi ini menjadi salah satu unsur yang sangat penting, baik dalam dunia tulis-menulis maupun dalam dunia tutur yang kita gunakan sehari-hari.

  • 5 Pengertian Fonologi Menurut Para Ahli

    5 Pengertian Fonologi Menurut Para Ahli

    Pengertian Fonologi

    sastrawacana.id/ – Fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa. Fonologi secara Etimologi berasal dari kata fon, yang artinya bunyi dan logos yang berarti ilmu.

    Fonologi merupakan bidang lingustik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa.

    Dalam khazanah bahasa Indonesia, istilah fonologi merupakan turunan kata dari bahasa Belanda, yaitu fonologie.

    Fonologi terdiri dari 2 dua bagian, yaitu Fonetik dan Fonemik.

    Fonologi berbeda dengan fonetik. Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan.

    Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan pengucapan bahasa.

    Pengertian fonologi Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian fonologi menurut para ahli.

    1. Keraf

    Fonologi ialah bagian dari tata bahasa yang memperlajari bunyi-bunyi bahasa (Keraf, 1984: 30).

    2. Kridalaksana

    Fonologi ialah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya (Kridalaksana, 1995: 57).

    3. Chaer

    Fonologi ialah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu (Chaer, 1994: 102).

    4. Verhaar (1984:36)

    Fonologi memiliki pengertian yang cukup signifikan yang mana sebuah Ilmu yang memperlajari bidang khusus pada linguistik yang meneliti bunyi suatu bahasa tertentu yang sesuai dengan fungsinya bertujuan menjadi pembeda antara makna leksikal dalam suatu bahasa.

    5. Fromkin & Rodman

    Definisi Fonologi yang mana fonologi merupakan suatu bidang linguistik yang mengamati, mempelajari, mengalisa dan membecirakan terkait dengan tata bunyi bahasa.

    Fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik

    Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

    Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

  • 10 Pengertian Pragmatik Menurut Para Ahli

    Pengertian Pragmatik

    Pragmatik adalah cabang linguistik yang mempelajari hubungan antara konteks luar bahasa dan maksud tuturan.

    Konteks luar bahasa ialah unsur di luar tuturan yang mempengaruhi maksud tuturan.

    Maksud tidak bisa dilihat dari bentuk dan makna saja, tetapi juga dari tempat dan waktu berbicara, siapa saja yang terlibat, tujuan, bentuk ujaran, cara penyampaian, alat berbicara, norma-norma, dan genre.

    Yang dipelajari dalam kajian pragmatik meliputi tindak tutur, implikatur tuturan, interaksi percakapan, dan faktor-faktor eksternal percakapan, misalnya deiksis.

    Definisi Pragmatik Menurut Para Ahli

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga tahun 2005 disebutkan bahwa pragmatik adalah yang berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi.

    Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177).

    Sedangkan menurut International Pragmatics Association (IPRA) yang dimaksud dengan pragmatik ialah penyelidikan bahasa yang menyangkut seluk belum penggunaan bahasa dan fungsinya (dalam Soemarmo, 1987 : 3).

    Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah pragmatik ini secara berbeda-beda.

    1. Yule (1996:3)

    Menyebutkan 4 definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara, (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara, dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.

    2. Levinson (1983:9)

    Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa. Disini, pengertian/pemahaman bahasa menunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya.

    3. Kridalaksana (1993:177)

    Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran.

    4. Verhaar (1996: 14)

    Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ekstralingual yang dibicarakan.

    5. Purwo (1990: 16)

    Mendefinisikan pragmatik sebagai telah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks.

    Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi.

    6. Morris (1960)

    Mengatakan bahwa pragmatik merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pemakaian tanda, yang secara spesifik dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan tanda bahasa dan cara tanda bahasa itu diinterpretasikan.

    Yang dimaksud orang menurut definisi tersebut adalah pemakai tanda itu sendiri, yaitu penutur.

    7. Leech (1993:8)

    Pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) yang meliputi unsur-unsur penyapa dan yang disapa, konteks, tujuan, tindak ilokusi, tuturan, waktu, dan tempat.

    8. Thomas (1995:2)

    Mendefinisikan pragmatik dengan menggunakan sudut pandang sosial dan sudut pandang kognitif.

    Dengan sudut pandang sosial, Thomas menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, pragmatik dihubungkan dengan interpretasi tuturan (utterance interpretation).

    Thomas (1995;2) menyebut adanya kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian yaitu, pertama dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara.

    Kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran.

    Selanjutnya Thomas (1995:22) dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makan dalam interaksi.

    9. Nababan (1987:2)

    Pragmatik ialah aturan-aturan pemakaian bahasa, yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaannya.

    Pragmatik sebagai ilmu bersumber pada beberapa ilmu lain yang juga mengkaji bahasa dan faktor-faktor yang berkaitan dengan penggunaan bahasa ilmu-ilmu itu ialah filsafat bahasa, sosiolinguistik antropologi, dan linguistik – terutama analisa wacana (discourse analysis) dan teori deiksis (Nababan, 1987).

    10. Crystal (1987: 120)

    Crystal menyatakan pragmatics studies the factors that govern our choice of language in social interaction and the effect of our choice on others. In theory, we can say anything we like. In practice, we follow a large number of social rules (most of them unconsciously) that constrain the way we speak.

    Pragmatik mengkaji faktor-faktor yang mendorong pilihan bahasa dalam interaksi sosial dan pengaruh pilihan tersebut pada mitra tutur. Di dalam teori, kita dapat mengatakan sesuatu sesuka kita. Di dalam praktik, kita harus mengikuti sejumlah aturan sosial (sebagian besarnya tidak disadari) yang harus kita ikuti.

  • Pengertian Dialektologi Menurut Para Ahli

    Pengertian Dialektologi Menurut Para Ahli

    Dialektologi pada dasarnya merupakan ilmu tentang dialek atau salah satu cabang linguistik yang mengkaji perbedaan-perbedaan isolek (istilah netral untuk perbedaan dialek) dengan memperlakukan perbedaan tersebut secara utuh.

    Bidang ini meneliti variasi bahasa berdasarkan distribusi geografis dan mencakup topik seperti percabangan dari dua dialek lokal dari induk bahasa yang sama.

    Dialektologi memeriksa unsur tata bahasa, leksikon, dan fonologi yang terkait dengan daerah tertentu.

    Maka dari itu, bidang ini tidak hanya peduli dengan orang-orang yang telah tinggal di daerah untuk generasi, tetapi juga kelompok imigran yang membawa bahasa mereka di daerah baru (bahasa kontak).

    Ada pun berikut ini adalah pendapat para pakar mengenai penjelasan apa itu dialektologi.

    1. Kridaklasana (2001: 41)

    Mengemukakan dialektologi merupakan ilmu tentang dialek; atau cabang dari linguistik yang mempelajari variasi-variasi bahasa dengan memperlakukannya sebagai struktur yang utuh.

    2. Pateda (1988: 51)

    Berpendapat bahwa dialektologi disebut pula variasi bahasa berdasarkan geografi, serta ilmu yang membanding-bandingkan bahasa-bahasa yang masih serumpun untuk mencari titik persamaan dan titik perbedaanya.

    3. Chabers dan Trudgill (1980: 3)

    Mengatakan bahwa dialektologi adalah salah satua kajian tentang dialek atau dialek-dialek.

    4. Keraf (1996: 143)

    Mengatakan dengan menggunakan istilah geografi dialek adalah cabang ilmu bahasa berdasarkan lokal dari semua aspeknya.

    5. Lauder (2001:1)

    Dialektologi cenderung memaparkan antar ragam bahasa dengan bertumpu pada satuan ruang tempat terwujudnyaragam-ragam itu pada saat penelitian itu dilakukan sehingga kesimpulan yang dihasilka dapat diperiksa kebenarannya.

  • Pengertian Humaniora Menurut Para Ahli

    Pengertian Humaniora Menurut Para Ahli

    Definisi Humaniora

    Mungkin telinga kita sudah tidak asing lagi saat mendengar istilah humaniora, baik dari televisi maupun internet.

    Namun, walau sering mendengar, nyatanya masih banyak yang tidak paham definisi humaniora itu sendiri.

    Lantas, apa arti humaniora?

    Secara umum, humaniora atau humanus lebih ditekankan pada sebuah perlakuan, perbuatan, serta tindakan manusia kepada manusia lainnya.

    Perlakuan yang benar dan tidak meninggalkan etika bermasyarakat memang perlu dilakukan demi menjalin sebuah hubungan yang sehat tanpa adanya konflik.

    Pengertian Humaniora

    Menurut Kbbi, humaniora adalah ilmu pengetahuan yang meliputi filsafat, hukum, sejarah, bahasa, sastra, seni, dan sebagainya.

    Istilah humaniora berasal dari program pendidikan yang dikembangkan CICERO, yang disebutnya humanitas sebagai faktor penting pendidikan untuk menjadi orator yang ideal.

    Dari segi keilmuan, humaniora adalah ilmu yang berhubungan dengan Ilmu Budaya Dasar.

    Ilmu Budaya Dasar bukanlah ilmu yang monolit yang sudah merupakan Body of Knowledge (tubuh keilmuan).

    Karena sasaran ilmu ini adalah masalah-masalah manusia dan budayanya, mencakup filsafat, teologi, sejarah, seni, dan cabang-cabangnya termasuk seni sastra, seni musik, seni lukis, dan sebagainya.

    Pendidikan humaniora adalah pendidikan yang berorientasi untuk mendidik manusia menjadi manusia seutuhnya.

    Prinsip pendidikan humaniora bertujuan membuat manusia lebih manusiawi atau untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia.

    Ilmu budaya dasar yang kita kenal kini, di luar negeri terutama di Negara-negara Barat dikenal dengan istilah humaniora, yang merupakan istilah lain dari The Humanities.

    Istilah itu berasal dari bahasa latin Humanus yang dalam bahasa Indonesia berarti manusiawi, berbudaya, dan halus (Widagdho, 2010:15).

    Manusia hidup dan tumbuh berkembang didampingi kebudayaan sejak masih belia.

    Kebudayaan yang telah diwariskan dari nenek moyang tanpa disadari dapat membentuk moral manusia menjadi lebih baik dan lebih halus.

    Dua kekayaan manusia yang paling utama ialah akal dan budi atau yang lazim disebut pikiran dan perasaan.

    Di satu sisi akal dan budi atau pikiran dan perasaan tersebut telah memungkinkan munculnya tuntutan-tuntutan hidup manusia yang lebih daripada tuntutan makhluk lain (Widagdho, 2010:24).

    Pengertian Humaniora Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa definisi humaniora menurut para ahli.

    1. Clauser (1990)

    Berpendapat bahwa mempelajari humaniora sastra, filsafat, sejarah – dapat meningkatkan kualitas pikir (qualities of mind) yang diperlukan dalam ilmu kedokteran.

    Kualitas pikir tidak lagi terfokus pada hal-hal hafalan, materi baku, konsep mati, tetapi ditingkatkan dalam hal kemampuan kritik, perspektif yang lentur, tidak terpaku pada dogma, dan penggalian nilai-nilai yang berlaku didalam ilmu kedokteran.

    2. Woodhouse (2002: 4)

    Pengertian humanities menurut Woodhouse (2002: 4) merupakan sekelompok disiplin pendidikan yang isi dan metodenya dibedakan dari ilmu-ilmu fisik dan biologi, dan juga paling tidak dibedakan dengan ilmu-ilmu sosial.

    Kelompok studi humanities meliputi bahasa, sastra, seni, filsafat, dan sejarah. Disini inti humanitas kadangkala ditentukan sebagai sekolah atau bagian dari sebuah universitas modern.

    3. Martiatmodjo, BS

    Menurut Martiatmodjo, BS dalam “Catatan Kecil tentang Humaniora” dikatakan ilmu budaya dasar yang merupakan mata kuliah wajib diperguruan tinggi dan merupakan juga terjemahan dari istilah basic bhumanitis atau pendidikan humaniora.

    Humaniora ini menyajikan bahan pendidikan yang mencerminkan keutuhan manusia dan membantu agar manusia menjadi lebih manusiawi.

    Martiatmodjo menegaskan bahwa perlunya humaniora bagi pendidik berarti menempatkan manusia di tengah-tengah proses pendidikan.

    Ruang Lingkup Humaniora

    Ruang lingkup humaniora ada delapan, yaitu manusia dan cinta kasih, manusia dan keindahan, manusia dan penderitaan, manusia dan keadilan, manusia dan pandangan hidup, manusia dan tanggung jawab, manusia dan kegelisahan, manusia dan harapan.

  • 8 Pengertian Morfologi Menurut Para Ahli

    8 Pengertian Morfologi Menurut Para Ahli

    Pengertian Morfologi Menurut Para Ahli

    Morfologi adalah bagian ilmu bahasa yang mempelajari atau membicarakan tentang seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata.

    Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik.

    Morfologi juga mempelajari arti yang timbul sebagai akibat peristiwa gramatik, yang biasa disebut arti gramatikal atau makna.

    Satuan yang paling kecil dipelajari oleh morfologi adalah morfem, sedangkan yang paling besar berupa kata.

    Morfologi hanya mempelajari peristiwa-peristiwa yang umum, peristiwa yang berturut-turut terjadi, yang bisa dikatakan merupakan sistem dalam bahasa.

    Peristiwa perubahan bentuk misalnya pada perubahan kata dari jala menjadi jalan pada kata berjalan, dan perubahan dari kata aku menjadi saya, serta perubahan kata dari tahun menjadi tuhan boleh dikatakan hanya terjadi pada kata tersebut.

    Oleh karena itu, peristiwa tersebut tidak bisa disebut sebagai peristiwa umum, tentu saja bukan termasuk dalam bidang morfologi, melainkan termasuk dalam ilmu yang biasa disebut etimologi, yaitu ilmu yang mempelajari seluk-beluk asal sesuatu kata secara khusus.

    Di sini dikemukakan bahwa pembicaraan tentang satuan gramatik yang salah satu dari unsurnya berupa afiks dibahas dalam bidang morfologi, dan pembicaraan tentang kata majemuk juga dibicarakan dalam bidang morfologi mengingat bahwa kata majemuk masih termasuk golongan kata.

    1. Cristal (198:232–233)

    Morfologi adalah cabang tata bahasa yang menelaah struktur atau bentuk kata, utamanya melalui pengguanaan morfem.

    Morfologi pada umumnya dibagi ke dalam dua bidang: yakni telaah infleksi (inflectional morfhology). Dan telaah pembentukan kata (lexical or derivational morphology).

    Analisis morfemik bagian dari telaah linguistik sikronis; analisis morfologis diterapkan terhadap telaah historis. Analisis morfologis dilakukan dalam berbagai bentuk.

    Satu pendekatan membuat telaah distribusional morfem dan varian morfemis yang muncul dalam kata (analisis susunan morfotaktis).

    2. Bauer (1983:33)

    Morfologi membahas struktur internal bentuk kata. Dalam morfologi, analisis membagi bentuk kata ke dalam formatif komponennya, dan berusaha untuk menjelaskan kemunculan setiap formatif.

    Morfologi dapat dibagi ke dalam dua cabang utama, yaitu morfologi infleksional dan pembentukan kata yang disebut morfologis leksikal. Morfologi infleksional membahas leksem – leksem baru dari pemajemukan kata (komposisi).

    Deriviasi berurusan dengan pembentukan leksem baru dari dua atau lebih sistem potensial. Derivasi kadang – kadang juga dibagi ke dalam derivasi mempertahankan kelas (class-maintaining derivation) dan derivasi perubahan kelas (class-changing derivation).

    3. Rumandji (1993:2)

    Morfologi mencakup kata, bagiannya, dan prosesnya.

    4. O’Grady dan Dobrovolsky (1989:89-90)

    Morfologi adalah komponen tata bahasa generative tranformasional (TTG) yang membicarakan struktur internal kata.

    Teori morfologi umum yang berurusan dengan pembahasan secara tepat mengenai jenis – jenis kaidah morfologi yang dapat ditemukan dalam bahasa – bahasa alamiah.

    Morfologi khusus merupakan seperangkat kaidah yang mempunyai fungsi ganda. Pertama, kaidah – kaidah ini berurusan dengan pembentukan kata baru.

    Kedua, kaidah – kaidah ini mewakili pengetahuan penutur asli yang tidak disadari tentang struktur internal kata yang sudah ada dalam bahasanya.

    5. Menurut Ramlan (1978:2)

    Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk struktur kata serta pengaruh perubahanperubahan struktur kata terhadap golongan dan arti kata.

    6. Menurut Nida (1974: 1)

    Menyatakan bahwa morfologi adalah suatu kajian tentang morfem-morfem dan penyusunan morfem dalam rangka pembentukan kata.

    7. Veerhar (1984 : 52)

    Morfologi atau tata bentuk ada pula yang menyebutnya morphemics adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal.

    Dengan perkataan lain, morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, dan klasifikasi kata-kata.

    8. Zaenal Arifin dan Juaiyah

    Morfologi adalah bentuk, makna, dan fungsi. Morfologi adalah ilmu bahasa tentang seluk-beluk bentuk kata (struktur kata).

  • Pengertian Sosiologi Sastra Secara Umum dan Para Ahli

    Pengertian Sosiologi Sastra Secara Umum dan Para Ahli

    Pengertian Sosiologi Sastra

    Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari kata sos (Yunani) yang berarti bersama, bersatu, kawan, teman, dan logi (logos) berarti sabda, perkataan, perumpamaan.

    Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana.

    Merujuk dari definisi tersebut, keduanya memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda bahkan bertentangan secara dianetral.

    Sosiologi adalah ilmu objektif kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (das sain) bukan apa yang seharusnya terjadi (das solen). Sebaliknya karya sastra bersifat evaluatif, subjektif, dan imajinatif.

    Pengertian Sosiologi Sastra Menurut Para Ahli

    Sosiologi sastra adalah suatu tela’ah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakatdan tentang sosial dan proses sosial.

    Sosiologi menelaah tentang bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan masalah-masalah perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain (Atar Semi: 52).

    Pandangan Atar Semi mendeskripsikan kajian sosiologi sastra tidak jauh beda dengan unsur-unsur ekstrinsik karya sastra. Sosiologi sastra ingin mengaitkan penciptaan karya sastra, keberadaan karya sastra, serta peranan karya sastra dengan realitas sosial (Ratna, 2009:164).

    Lebih jauh Wolf (Faruk dalam Endraswara, 2004:77) memberikan defiinisi bahwa sosiologi sastra merupakan disiplin yang tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik, terdiri dari studi, studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang agak lebih general, yang masing-masingnya hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dengan hubungan sastra dengan masyarakat.

    Generalisasi dari berbagai pendapat tentang sosiologi sastra di atas, sosiologi sastra merupakan tela’ah terhadap suatu karya sastra dalam kaitannya dengan pengaruh sosial-budaya yang ikut mempengaruhi cerita dalam karya sastra.

    Tela’ah sosiologis itu mempunyai tiga klasifikasi (Wellek dan Werren dalam Atar Semi: 53) yaitu:

    1. Sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, idiologi politik, dan lain-lain yang menyangkut status pengarang.

    2. Sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tenatang suatu karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya.

    3. Sosiologi sastra, yakni mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat pada prinsipnya, menurut Lauren dan Swingewood (Endraswara, 2004:79), terdapat tiga perspektif berkaitan dengan sosiologi sastra yaitu;

    1. Penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan
    2. Penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial penulisnya,
    3. Penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan sosial budaya.

    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra merupakan suatu tela’ah ilmu yang mencoba mengungkap fenomena masyarakat yang terdapat dalam sebuah karya sastra guna memberikan pandangan yang objektif dalam penilaian karya sastra.

  • 7 Pengertian Sintaksis Menurut Para Ahli

    7 Pengertian Sintaksis Menurut Para Ahli

    Pengertian Sintaksis

    Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari bagaimana kata-kata disusun menjadi frasa, klausa, atau kalimat yang memiliki makna.

    Dengan kata lain, sintaksis membahas aturan dan pola pengaturan kata agar membentuk struktur kalimat yang benar secara tata bahasa.

    Sintaksis juga menekankan hubungan antar kata dalam kalimat, misalnya subjek dengan predikat, objek, atau keterangan, sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan jelas.

    Ilmu ini penting dalam linguistik karena membantu memahami bagaimana bahasa bekerja dalam komunikasi sehari-hari

    Pengertian Sintaksis secara Etimologi

    Berikut adalah beberapa pengertian sintaksis secara etimologi, linguistik, maupun menurut para ahli.

    Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti ’dengan’ dan kata tattein yang berarti ’menempatkan’.

    Secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.

    Selain dari bahasa Yunani, sintaksis juga berasal dari bahasa Belanda yaitu syntaxis. Sintaksis juga berasal dari bahasa Inggris yaitu syntax.

    Istilah sintaksis (Belanda, Syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase (Ramlan 2001:18).

    Pengertian Sintaksis dalam Linguistik

    Di dalam linguistik, sintaksis adalah ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat dalam bahasa alami.

    Selain aturan ini, kata sintaksis juga digunakan untuk merujuk langsung pada peraturan dan prinsip yang mencakup struktur kalimat dalam bahasa apapun, sebagaimana “sintaksis Irlandia Modern.”

    Pengertian Sintaksis Menururut Para Ahli

    Adapun pengertian sintaksis menurut para ahli adalah sebagai berikut:

    1. Gleason (1955)

    “Syntax maybe roughly defined as the principles of arrangement of the construction (word) into large constructions of various kinds.”

    Artinya adalah sintaksis mungkin dikaitkan dari definisi prinsip aransemen konstruksi (kata) ke dalam konstruksi besar dari bermacam-macam variasi.

    2. Robert (1964:1)

    Berpendapat bahwa arti sintaksis adalah bidang tata bahasa yang menela’ah hubungan kata-kata dalam kalimat dan cara-cara menyusun kata-kata itu untuk membentuk sebuah kalimat.

    3. Ramlan (1976:57)

    Menyebutkan bahawa definisi sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frase dan kalimat.

    4. Fromkin dan Rodman (1983:200)

    Sintaksis adalah bagian dari pengetahuan linguistik yang menelaah struktur kalimat.

    5. Kridalaksana (1993)

    Berpendapat bahwa sintaksis adalah subsistem bahasa yang mencakup tentang kata yang sering dianggap bagian dari gramatika, yaitu morfologi dan cabang linguistik yang mempelajari tentang kata.

    Selain itu, beliau juga mendefinisikan sintaksis sebagai pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa. Satuan terkecil dalam bidang ini adalah kata.

    Menurut aliran struktural, sintaksis diartikan sebagai subdisiplin linguistik yang mempelajari tata susun frasa sampai kalimat.

    Dengan demikian ada tiga tataran gramatikal yang menjadi garapan sintaksis, yakni: frasa, klausa, dan kalimat (Suparno 1993: 81).

    “The system of the rules and categories that underlines sentence formation in human language” (O’ Grady, et. al. 1997). Artinya adalah aturan dalam sistem pola kalimat dasar dalam bahasa manusia.

    6. Verhaar (1999:161)

    Mendefinisikan bahwa sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kalimat dalam tuturan. Pendapat tersebut diperkuat oleh Arifin dan Junaiyah (2008:1) bahwa sintaksis membicarakan hubungan antar kata dalam tuturan.

    7. Arifin (2009)

    Pengertian sintaksis merupakan bidang subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan antar kata dalam tuturan yang meliputi tata susun frase, tata susun klausa, dan tata susun kalimat dalam suatu bahasa.