Tag: opini

  • Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi

    Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi

    Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi
    Penulis: Andi Sep Kurniawan, Anita Setyawati, Mohamad Yasin

    Di tengah sejumlah apresiasi dan penghargaan di bidang lingkungan yang pernah diterima Banyuwangi, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana capaian tersebut sejalan dengan kapasitas pengelolaan timbulan sampah yang cenderung meningkat.

    Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika volume sampah di Banyuwangi diperkirakan telah mencapai 850 sampai dengan 1.200 ton per hari.

    Angka itu mungkin terdengar sebagai konsekuensi wajar dari pertumbuhan penduduk, berkembangnya aktivitas ekonomi, dan meningkatnya kunjungan wisatawan.

    Namun di balik pertumbuhan tersebut tersimpan persoalan yang sering luput dari perhatian. Semakin maju suatu daerah, semakin besar pula tekanan yang dihadapi lingkungannya.

    Fenomena ini tidak hanya terjadi di Banyuwangi. Secara nasional, kualitas lingkungan masih menunjukkan berbagai pekerjaan rumah.

    Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat Indeks Kualitas Air Indonesia tahun 2024 berada pada level 54,78, sedikit di bawah target nasional.

    Bahkan lebih dari dua pertiga titik pantau sungai pada Semester I 2025 masih berada dalam kondisi tercemar.

    Selama ini pencemaran air kerap diasosiasikan dengan limbah industri atau aktivitas pertambangan. Padahal, sumber persoalan tidak selalu berasal dari sektor-sektor besar.

    Dalam banyak kasus, pencemaran justru berawal dari aktivitas yang tampak biasa, yaitu sampah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik.

    Di sinilah persoalan sampah menjadi menarik. Dampaknya jarang terlihat secara langsung.

    Satu kantong sampah yang dibuang hari ini tidak serta-merta mengubah warna sungai menjadi hitam. Tumpukan sampah di lahan kosong tidak langsung mencemari sumur warga.

    Akan tetapi, kerusakan lingkungan bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tumbuh perlahan, terakumulasi, lalu muncul dalam bentuk biaya yang sering kali jauh lebih mahal dibandingkan upaya pencegahannya.

    Dalam ekonomi, kondisi semacam ini menggambarkan adanya biaya tersembunyi yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh pihak yang menghasilkan masalah.

    Ketika sampah dibuang sembarangan, konsekuensinya tidak berhenti pada pelaku.

    Biaya kesehatan meningkat, kualitas air menurun, risiko banjir bertambah, dan pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk pemulihan lingkungan.

    Dengan kata lain, persoalan sampah sesungguhnya adalah persoalan distribusi biaya sosial.

    Karena itu, pengelolaan sampah tidak lagi dapat dipandang semata sebagai urusan kebersihan kota. Ia telah menjadi bagian dari agenda pembangunan.

    Daerah yang gagal mengelola sampah bukan hanya menghadapi persoalan lingkungan, tetapi juga menghadapi penurunan kualitas hidup masyarakat, meningkatnya beban fiskal, hingga berkurangnya daya tarik investasi dan pariwisata.

    Bagi Banyuwangi, tantangan tersebut memiliki arti yang lebih besar. Selama ini keberhasilan daerah tidak hanya dibangun melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui reputasi sebagai kabupaten yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan.

    Reputasi itu merupakan aset yang nilainya tidak kecil. Namun seperti aset lainnya, ia memerlukan pemeliharaan yang berkelanjutan.

    Kesadaran atas tantangan tersebut tercermin dalam Program Banyuwangi Hijau yang menjadi salah satu instrumen penting pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

    Program ini tidak hanya berorientasi pada kebersihan kawasan perkotaan, tetapi juga berupaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.

    Fokusnya mencakup pengurangan sampah dari sumbernya, penguatan pemilahan sampah rumah tangga, pengembangan ekonomi sirkular, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.

    Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang dalam pengelolaan sampah.

    Persoalan sampah tidak lagi diposisikan sebagai urusan akhir berupa pengangkutan dan pembuangan, melainkan sebagai bagian dari proses pembangunan yang melibatkan rumah tangga, komunitas, pelaku usaha, dan pemerintah daerah secara bersama-sama.

    Keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil diangkut, tetapi juga dari kemampuan mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.

    Dalam praktiknya, Banyuwangi telah menerapkan berbagai model pengelolaan sampah. Di sejumlah wilayah, layanan dilakukan melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang menyediakan sarana pemilahan dan pengangkutan sampah secara rutin.

    Di wilayah lainnya, masyarakat didorong untuk mengolah sampah organik menjadi kompos, sementara sampah anorganik dikumpulkan untuk didaur ulang atau diproses lebih lanjut.

    erbagai skema tersebut menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah sesungguhnya telah tersedia. Tantangan berikutnya adalah memastikan solusi tersebut menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat.

    Akan tetapi, pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa keberhasilan kebijakan lingkungan pada akhirnya tidak ditentukan oleh kualitas program semata.

    Persoalan mendasarnya terletak pada perilaku. Infrastruktur dapat dibangun. Teknologi dapat dihadirkan.

    Sistem dapat diperbaiki. Namun seluruh instrumen tersebut memiliki batas ketika berhadapan dengan kebiasaan masyarakat yang masih memandang sampah sebagai sesuatu yang selesai begitu keluar dari rumah.

    Cara pandang semacam itu menjadi akar dari paradoks pembangunan lingkungan. Di satu sisi, masyarakat menginginkan lingkungan yang bersih, sungai yang sehat, dan kawasan wisata yang terawat.

    Namun di sisi lain, masih terdapat kebiasaan membuang sampah sembarangan, enggan memilah sampah dari rumah, atau menganggap biaya pengelolaan sampah sebagai beban tambahan.

    Akibatnya, biaya lingkungan yang muncul pada akhirnya harus ditanggung bersama oleh seluruh masyarakat.

    Di titik inilah masa depan Banyuwangi akan diuji. Pertumbuhan ekonomi dan pariwisata yang menjadi sumber kebanggaan daerah pada saat yang sama juga menghasilkan tekanan lingkungan yang semakin besar.

    Tantangannya bukan memilih antara pembangunan atau lingkungan, melainkan memastikan keduanya berjalan beriringan.

    Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia tumbuh, tetapi juga oleh seberapa baik ia menjaga kualitas lingkungan yang menopang pertumbuhan tersebut.

    Banyuwangi telah menunjukkan komitmen untuk menjadi daerah hijau melalui berbagai inisiatif pengelolaan sampah dan pembangunan berkelanjutan.

    Pertanyaan berikutnya adalah apakah komitmen itu mampu bertahan ketika berhadapan dengan persoalan sampah yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

    Sebab masa depan Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh keputusan sehari-hari masyarakat dalam memperlakukan sampah yang mereka hasilkan.

    Penulis: Andi Sep Kurniawan, Anita Setyawati, Mohamad Yasin

  • Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Oleh: Andi Budi Setiawan

    Ruang kelas selalu menghadirkan wajah-wajah yang berbeda. Tidak hanya berbeda dalam kemampuan akademik, tetapi juga latar belakang keluarga, kondisi sosial, dan pengalaman hidup.

    Di tengah keragaman itulah seorang guru belajar memahami bahwa setiap perilaku peserta didik selalu memiliki cerita yang tidak tampak di permukaan.

    Saya pernah berhadapan dengan seorang siswa pindahan kelas XI, sebut saja Mawar. Pada semester awal, ia hadir sebagai sosok yang tenang, rajin, dan penuh semangat.

    Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menjadi pusat perhatian dalam rapat dewan guru beberapa bulan kemudian.

    Namun, memasuki semester kedua, perubahan itu mulai terlihat. Kehadiran berkurang, tugas tidak dikerjakan, nilai merosot, hingga akhirnya terancam tidak naik kelas.

    Sebagai guru matematika yang saat itu juga menjabat kepala sekolah, saya mencoba menelusuri akar persoalan.

    Bersama wali kelas dan guru BK, kami menemukan bahwa Mawar sedang menghadapi konflik berat di rumah.

    Pertengkaran orang tuanya yang terus-menerus membuatnya kehilangan arah. Ia tidak lagi menemukan ketenangan di rumah, dan sekolah menjadi pelampiasan.

    Dari sinilah sikap acuh, pembangkangan, hingga pergaulan yang salah mulai muncul.

    Sekolah tidak tinggal diam. Peringatan diberikan, pembinaan dilakukan, dan orang tua dipanggil berkali-kali.

    Bahkan tiga surat peringatan resmi telah dilayangkan. Namun perubahan yang diharapkan tidak kunjung datang.

    Dalam rapat dewan guru, dengan pertimbangan yang sangat berat, sekolah memutuskan mengembalikan Mawar kepada orang tuanya karena merasa seluruh upaya pembinaan telah maksimal.

    Keputusan itu justru menjadi titik balik. Mawar dan orang tuanya tersadar bahwa waktu yang tersisa sangat sempit.

    Ia sudah berada di kelas XII dan akan segera menghadapi ujian akhir. Pindah sekolah hampir mustahil, sementara masa depan pendidikannya dipertaruhkan. Orang tua Mawar kemudian mengajukan mediasi ke dinas pendidikan.

    Pertemuan di kantor dinas berlangsung panjang dan penuh pertimbangan. Pihak sekolah memaparkan seluruh proses pembinaan yang telah dilakukan.

    Dinas memahami langkah sekolah, namun melihat adanya itikad baik dari Mawar dan keluarganya, kesempatan terakhir pun diberikan.

    Dengan satu syarat tegas: kesalahan sekecil apa pun akan berakibat dikembalikannya Mawar kepada orang tuanya.

    Sejak saat itu perubahan nyata terlihat. Orang tuanya mulai hadir secara utuh dalam kehidupan Mawar.

    Mereka mengantar dan menjemput setiap hari, menempuh jarak sekitar 18 kilometer. Mawar pun menunjukkan kesungguhan.

    Ia kembali masuk kelas, mengerjakan tugas, dan menjauhi pergaulan yang sebelumnya menjerumuskannya.

    Kesempatan terakhir itu benar-benar menjadi pintu kesadaran. Mawar tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikannya dan memperoleh ijazah, tetapi juga memperlihatkan perubahan sikap yang signifikan.

    Ia menjadi lebih santun, bertanggung jawab, dan memiliki tujuan hidup yang jelas untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

    Kisah Mawar mengajarkan bahwa kenakalan peserta didik sering kali bukan semata-mata persoalan disiplin sekolah, melainkan cermin dari luka yang mereka bawa dari rumah.

    Ketika sekolah, keluarga, dan negara hadir bersama, pendidikan menemukan maknanya yang paling hakiki: menyelamatkan masa depan.

    Setiap anak bisa saja tersesat, tetapi tidak ada kata terlambat untuk kembali. Kesempatan untuk berubah adalah anugerah yang tidak datang dua kali.

    Dan bagi seorang pendidik, melihat seorang siswa bangkit dari keterpurukan adalah keberhasilan yang jauh melampaui angka-angka di rapor.

  • Peran Tutor Sebaya sebagai Pendukung Pembelajaran Matematika di Jenjang SMK

    Peran Tutor Sebaya sebagai Pendukung Pembelajaran Matematika di Jenjang SMK

    Matematika sering dianggap menakutkan oleh peserta didik, baik di jenjang pendidikan dasar, menengah atas, maupun kejuruan.

    Hal ini muncul karena matematika identik dengan angka, perhitungan pasti, serta penggunaan rumus-rumus yang harus tepat dalam proses penyelesaiannya.

    Belajar matematika jelas berbeda dengan belajar bahasa atau ilmu sosial lainnya.

    Dalam pembelajaran bahasa atau ilmu sosial, peserta didik masih dapat belajar secara mandiri dengan mencari berbagai referensi.

    Sebaliknya, dalam pembelajaran matematika, peserta didik sangat membutuhkan pendampingan langsung dari tenaga pendidik yang mengampu mata pelajaran tersebut.

    Penulis merupakan salah satu tenaga pendidik di sebuah SMK swasta di Kabupaten Banyuwangi yang mengampu mata pelajaran matematika.

    Sebagai sekolah swasta yang berada di bawah naungan yayasan, diperlukan upaya yang lebih besar dalam memperoleh peserta didik baru.

    Di samping itu, sekolah juga harus mampu bersaing dengan SMK yang lain di sekitarnya.

    Dengan latar belakang peserta didik yang sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke bawah, dibutuhkan tenaga dan pemikiran ekstra dalam membimbing mereka selama proses pembelajaran.

    Saat mengajar di kelas X–XII pada beberapa jurusan, penulis menyadari bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit.

    Sudah menjadi rahasia umum bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar peserta didik.

    Bahkan sejak jenjang SMP, matematika telah menjadi momok tersendiri.

    Kondisi ini semakin terasa di lembaga tempat penulis mengajar, karena sebagian besar peserta didik yang diterima merupakan peserta didik yang belum berkesempatan melanjutkan pendidikan di SMA negeri dan memilih SMK sebagai jalur pendidikan lanjutan.

    Secara umum, kemampuan akademik mereka berada pada tingkat yang beragam, dengan sebagian masih memerlukan pendampingan lebih lanjut.

    Berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi dengan peserta didik, terdapat beberapa alasan mengapa matematika dianggap sulit untuk dipahami.

    Pertama, sebagian besar peserta didik sudah tidak menyukai matematika sejak jenjang pendidikan dasar maupun menengah pertama.

    Kedua, adanya ketidakcocokan dengan tenaga pendidik pada jenjang sebelumnya sehingga terbentuk persepsi bahwa matematika adalah mata pelajaran yang sulit.

    Ketiga, matematika merupakan mata pelajaran eksakta yang berkaitan dengan perhitungan, rumus, dan hasil akhir yang pasti. Kesalahan dalam menggunakan rumus akan berdampak langsung pada hasil akhir yang salah.

    Dampak dari kondisi tersebut adalah terjadinya ketimpangan pemahaman antarpeserta didik dalam mengikuti pembelajaran matematika.

    Ironisnya, dari materi yang disampaikan, hanya sekitar sepuluh persen peserta didik yang benar-benar mampu menguasainya.

    Sebagian besar peserta didik kurang memahami materi, bahkan tidak paham sama sekali.

    Fenomena ini sering penulis temui dan berdampak pada rendahnya nilai harian, penilaian tengah semester, hingga penilaian akhir semester.

    Banyak nilai rapor matematika yang tidak tuntas karena masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

    Selain itu, kondisi ini juga berdampak pada suasana kelas yang kurang kondusif.

    Ketika peserta didik kehilangan fokus, mereka cenderung bersikap acuh dan sibuk dengan aktivitas masing-masing, sehingga kelas menjadi ramai dan mengganggu proses pembelajaran.

    Hal tersebut menjadi persoalan serius bagi tenaga pendidik agar peserta didik kembali fokus, memperoleh pemahaman yang relatif merata, serta tercipta suasana kelas yang nyaman, tenang, dan kondusif.

    Harapannya, pada akhir evaluasi pembelajaran, peserta didik dapat mencapai ketuntasan belajar tanpa kendala berarti.

    Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis mencoba menerapkan pola atau sistem pembelajaran yang penulis anggap lebih menarik dan efektif.

    Pada awal pembelajaran, penulis memberikan asesmen diagnostik untuk mengetahui minat dan kemampuan awal peserta didik terhadap mata pelajaran matematika.

    Dari hasil asesmen tersebut, penulis memetakan kemampuan peserta didik dan membagi mereka ke dalam beberapa kelompok heterogen.

    Dalam setiap kelompok, setidaknya terdapat satu peserta didik yang memiliki minat dan kemampuan lebih baik di bidang matematika.

    Peserta didik tersebut diharapkan dapat berperan sebagai tutor sebaya yang mendampingi teman-temannya selama proses pembelajaran.

    Melalui kerja kelompok, peserta didik dapat saling berdiskusi, bertanya, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas.

    Selanjutnya, penulis merancang model pembelajaran matematika dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta didik, kebutuhan belajar, serta karakter dan perkembangan mereka.

    Pembelajaran dirancang dengan menghargai hak peserta didik untuk belajar, menciptakan suasana yang menyenangkan dan bermakna, serta memastikan tidak ada peserta didik yang tertinggal.

    Selain itu, penulis juga menanamkan growth mindset, yaitu pola pikir positif yang mendorong peserta didik untuk terus berkembang dan tidak mudah menyerah.

    Pembelajaran dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari agar peserta didik memahami manfaat dan aplikasi materi yang dipelajari.

    Perangkat pembelajaran juga memiliki peran penting dalam mendukung capaian pembelajaran.

    Penyusunan alur tujuan pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan prinsip sederhana, informatif, esensial, kontekstual, berkesinambungan, serta mengoptimalkan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

    Modul ajar disusun secara sistematis dengan prinsip relevan, kontekstual, dan berkesinambungan. Seluruh komponen tersebut menjadi faktor penentu keberhasilan pembelajaran matematika di kelas.

    Setelah beberapa pertemuan, terlihat perubahan yang signifikan dalam proses pembelajaran.

    Kegiatan belajar tidak lagi berpusat pada tenaga pendidik, melainkan lebih banyak diisi dengan diskusi dan tanya jawab antarkelompok.

    Pada awal pembelajaran, penulis menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi kepada peserta didik.

    Ketika suasana kelas mulai jenuh, penulis menyisipkan ice breaking agar peserta didik kembali bersemangat.

    Kelompok yang telah terbentuk dapat memaksimalkan peran tutor sebaya.

    Peserta didik yang sudah memahami materi membantu teman sekelompoknya dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami.

    Hal ini membuat peserta didik lebih nyaman dan tidak sungkan untuk bertanya.

    Setelah tugas selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, sementara kelompok lain memberikan tanggapan.

    Apa pun hasil presentasinya, penulis selalu memberikan apresiasi sebagai bentuk penghargaan dan motivasi.

    Pada akhir pembelajaran, penulis memberikan kesimpulan dan elaborasi terhadap materi yang telah dipelajari.

    Hasilnya, sebelum penerapan metode tersebut, tingkat pemahaman peserta didik hanya sekitar sepuluh persen.

    Dari 36 peserta didik, hanya 4–5 orang yang benar-benar menguasai materi.

    Setelah metode pembelajaran diterapkan, tingkat pemahaman meningkat menjadi sekitar 70–80 persen, atau sekitar 27 peserta didik menunjukkan penguasaan materi yang lebih baik.

    Peningkatan ini juga tercermin dari nilai harian dan nilai rapor peserta didik yang semakin banyak mencapai dan melampaui KKM.

    Meskipun masih terdapat beberapa peserta didik yang belum tuntas, persentasenya jauh berkurang.

    Bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan, penulis memberikan pendampingan khusus dengan pendekatan yang lebih sederhana dan persuasif.

    Penulis juga meluangkan waktu untuk memberikan motivasi agar semangat belajar mereka tumbuh kembali.

    Pendampingan dilakukan secara konsisten hingga peserta didik mampu memahami materi sesuai dengan kemampuan masing-masing.

    Pesan yang dapat penulis ambil sebagai tenaga pendidik di SMK swasta dengan latar belakang peserta didik yang beragam adalah bahwa kunci utama dalam mendidik adalah keikhlasan lahir dan batin untuk menuntun segala potensi yang dimiliki peserta didik.

    Tugas pendidik adalah menuntun, bukan memaksa. Setiap anak memiliki kodrat dan keunikan masing-masing. Tidak ada istilah mengajari ikan untuk terbang atau burung untuk berenang.

    Guru hendaknya mampu menjadi sosok yang menginspirasi, memberikan teladan, dan menjadi pedoman hidup bagi peserta didiknya.

    Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Di tangan gurulah masa depan generasi bangsa dipertaruhkan.

    Daftar Pustaka

    • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Modul kerangka kurikulum: Prinsip pembelajaran dan asesmen. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2022). Prinsip dan prosedur alur tujuan pembelajaran. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    • Keluarga. (1936–1937). Dasar-dasar pendidikan. Th. I No. 1–4 (November–Desember 1936; Januari–Februari 1937).

    ✍️ Penulis adalah Guru di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Penulis Penerbit Lintang Banyuwangi dan Jurnalis Sastrawacana.

  • Sastrawacana: Ruang Tumbuh Jurnalisme di Antara Literasi dan Meja Redaksi

    Sastrawacana: Ruang Tumbuh Jurnalisme di Antara Literasi dan Meja Redaksi

    Bagi penulis, dunia jurnalisme adalah ruang baru yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran.

    Di tengah keseharian sebagai guru matematika di sebuah SMK swasta di Banyuwangi yang diisi dengan mengajar di kelas, mendampingi bimbingan belajar, serta menulis karya sastra, penulis berusaha tetap menyisihkan waktu untuk menulis berita dan opini.

    Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas tambahan, melainkan panggilan nurani untuk ikut mengabadikan peristiwa dengan menghadirkan cerita yang bermakna bagi pembaca.

    Penulis telah lama menekuni dunia kepenulisan, mulai dari puisi, quote, opini, hingga buku, dengan capaian tiga buku solo serta delapan belas buku antologi fiksi dan nonfiksi.

    Tulisan-tulisan tersebut penulis bagikan melalui media sosial, laman pribadi, serta media daring.

    Namun, ketika bergabung sebagai jurnalis di media online Sastrawacana, penulis merasakan tantangan yang berbeda.

    Menulis berita menuntut kedisiplinan, ketelitian, dan tanggung jawab yang lebih besar.

    Penulis belajar bahwa sebuah peristiwa tidak cukup hanya ditulis, tetapi harus disajikan secara utuh, berimbang, dan bernilai bagi publik.

    Sastrawacana, bagi penulis, bukan sekadar media, tapi rumah literasi yang telah berdiri lebih dari sepuluh tahun dan konsisten menyuguhkan konten positif, edukatif, serta inspiratif.

    Fokusnya pada pendidikan, literasi, dan prestasi menjadikan media ini sejalan dengan nilai-nilai yang penulis perjuangkan.

    Karena itu, penulis memilih untuk menaruh perhatian besar pada pemberitaan seputar literasi dan dunia pendidikan, tentang bagaimana literasi tumbuh di Banyuwangi, tentang prestasi peserta didik, pendidik, sekolah, hingga peristiwa kecil yang sering kali luput dari sorotan.

    Di tengah padatnya aktivitas, penulis meyakini bahwa sekecil apa pun momen layak untuk ditulis. Sebab setiap peristiwa memiliki cerita, dan setiap cerita dapat menjadi inspirasi.

    Di situlah penulis menemukan makna jurnalisme: dedikasi untuk hadir, merekam, dan menyampaikan nilai-nilai positif kepada masyarakat.

    Keyakinan ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Pimpinan Redaksi Sastrawacana, Maulana Affandi, S.S.

    Menurutnya, Andi Budi Setiawan, S.Pd a.k.a Penapanuluh merupakan salah satu aset penting bagi Sastrawacana karena konsistensi dalam menulis, khususnya di bidang literasi dan pendidikan.

    “konsistensi dalam menulis berita maupun opini yang membuatnya layak memperoleh penghargaan.” ungkap Maulana Affandi.

    Penghujung tahun 2025 menjadi momen yang sangat berkesan bagi penulis.

    Penghargaan sebagai Jurnalis Produktif Tahun 2025 dari Sastrawacana bukan hanya sebuah pencapaian personal, melainkan pengakuan atas proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan dan konsistensi.

    Penghargaan ini penulis terima langsung dari Maulana Affandi, sosok yang penulis hormati atas komitmennya menjaga marwah media yang positif dan berorientasi pada literasi.

    Penulis sangat tersanjung dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada beliau serta seluruh jajaran redaksi Sastrawacana atas program apresiasi ini.

    Bagi penulis, penghargaan ini memiliki makna yang mendalam.

    “Penghargaan ini bukan sekadar hadiah di penghujung tahun 2025, melainkan api semangat yang akan terus menyala untuk senantiasa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat lewat berita,” demikian yang selalu penulis yakini.

    Apresiasi ini menjadi motivasi tersendiri, bahwa setiap karya yang ditulis dan dirilis mendapatkan tempat serta penghargaan yang layak.

    Penghargaan ini semakin menguatkan keyakinan penulis bahwa jurnalisme dan literasi adalah dua sayap yang membantu penulis terbang menggapai tujuan: memberi kontribusi positif bagi masyarakat melalui tulisan.

    Sebagai Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), semangat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kerja literasi harus terus diperjuangkan, kapan pun dan di mana pun.

    Harapan penulis, program apresiasi seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi pemantik semangat bagi jurnalis lainnya untuk giat menulis berita, opini, maupun artikel yang mencerahkan.

    Mari bersama-sama menjaga Sastrawacana sebagai ruang bersama untuk menyuguhkan informasi yang positif dan edukatif, serta terus menyalakan api literasi melalui tulisan yang jujur, konsisten, dan bertanggung jawab.

  • Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri

    Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri

    Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri
    Oleh : Syafaat

    Suatu hari, di tengah hiruk-pikuk ibukota yang menua oleh kebijakan, seorang menteri berdiri dengan ketenangan yang aneh, seolah baru saja memindahkan bidak terakhir dalam permainan catur yang tak pernah dimenangkan siapa pun.

    Purbaya Yudhi Sadewa, sang Menteri Keuangan, berbicara tentang langkah baru yang tak pernah dibayangkan oleh para birokrat masa lalu: negara akan memanggil para hacker, para penembus dinding digital, untuk menambal bocornya jantung data pajak bangsa yang bernama Coretax.

    Di balik nadanya yang datar terselip sesuatu yang samar: rasa bangga yang berbaur dengan kegelisahan. Sebab apa yang lebih menakutkan daripada sebuah negara yang harus diselamatkan oleh para peretasnya sendiri?

    Di dunia yang lain, beberapa bulan sebelumnya, seperti ditulis Denny JA dengan judul “Dan Artificial Intelligence Pun Diangkat Menjadi Menteri” bercerita tentang sebuah berita dari Albania, negara kecil di Balkan yang tiba-tiba melompat jauh ke masa depan.

    Di sana, pemerintah mengangkat sosok digital bernama Diella, sebuah Artificial Intelligence yang diberi gelar menteri dan diberi tugas memberantas korupsi.

    Ia tidak bernafas, tidak mengenal lapar, tidak mengenal rasa takut. Tak ada darah, tapi penuh logika, tak ada kepentingan, hanya algoritma yang bekerja seperti doa yang tak bisa disuap.

    Diella tampil dalam wujud perempuan berpakaian adat rakyat Albania, suaranya jernih, tidak menuntut kepercayaan, namun justru menimbulkan ketakziman baru, karena untuk pertama kalinya, janji pemberantasan korupsi diucapkan oleh sesuatu yang bukan manusia.

    Dunia menatapnya dengan rasa takjub bercampur gentar, seperti anak kecil yang melihat api untuk pertama kali: indah, tapi tak bisa disentuh.

    Bayangan tentang Diella menimbulkan gema yang aneh di kepala, ada sesuatu yang terasa familiar, seperti deja vu dari dunia sinema dua dekade lalu.

    S1m0ne, film lama dari tahun 2002, berkisah tentang sutradara yang menciptakan aktris digital bernama Simulation One (Simone) sebuah ciptaan sempurna yang memikat dunia dengan pesonanya.

    Simone tidak pernah ada, namun dunia mengidolakannya, bahkan mencintainya. dan di situlah paradoks itu lahir: manusia selalu ingin sesuatu yang murni, tapi hanya mampu menciptakannya dalam bentuk ilusi.

    Kini, ilusi itu berjalan di antara kita, dengan bentuk yang lebih halus, lebih nyata, lebih sistematis, dalam dunia yang dikendalikan data, manusia mulai bernegosiasi dengan algoritma dan berunding dengan kode.

    Bayangkan jika suatu pagi, di Jakarta yang masih berkabut oleh debu politik, pemerintah mengumumkan hadirnya seorang Dirjen Pajak digital, AI yang menghitung semua transaksi dengan ketepatan sempurna, yang tidak mengenal amplop, tidak mengenal kasihan, dan tidak pernah tidur.

    Publik mungkin akan bersorak karena merasa menemukan obat bagi penyakit lama, namun di balik sorak itu, ada rasa waswas yang menggantung: manusia selalu takut pada ciptaannya sendiri ketika ciptaan itu mulai melampaui batas tuannya.

    Para hacker yang kini dipanggil oleh sang menteri bisa saja menjadi para patriot digital, penjaga baru negeri yang retak oleh kebocoran data dan korupsi yang tak pernah benar-benar mati.

    Mereka bekerja di sunyi, di hadapan layar yang memantulkan wajah mereka sendiri, dengan mata yang menyala oleh cahaya biru system, dalam diam, mereka memegang kunci dunia yang tak terlihat: dunia di mana uang bisa menguap tanpa jejak, dan kebenaran bisa dihapus dengan satu perintah.

    Namun di sisi lain, mereka juga bagian dari paradoks itu sendiri, manusia yang mampu menembus sistem, tapi tak selalu mampu menembus nuraninya.

    Artificial Intelligence bisa bekerja lebih cepat dari detak jantung manusia, dan mungkin lebih akurat dari nurani yang telah lama aus oleh godaan dunia.

    Ia tidak mengenal lapar, tidak pernah lelah, dan tidak butuh pujian, di tangan algoritma, angka menjadi ayat yang tak bisa dibantah, keputusan menjadi sebersih logika yang tak punya selera.

    Mungkin jika suatu hari ia diangkat menjadi pejabat, meja birokrasi akan berhenti berdebu oleh amplop.

    Tak akan ada lagi tanda tangan yang gemetar oleh rasa takut kehilangan jabatan, atau laporan yang disusun dengan tinta kepentingan, di ruang-ruang kantor yang selama ini berisi bisik-bisik transaksi, hanya akan terdengar dengung mesin yang setia menghitung tanpa menipu.

    Dalam sejarah negeri ini, pernah ada masa ketika para petani, santri, dan penyair menjadi penyelamat bangsa.

    Mereka bangkit dari tanah, dari sajadah, dari lembar-lembar kertas yang berdebu, membawa harapan dalam bentuk yang paling sederhana: cangkul yang menggali kehidupan, doa yang menegakkan langit, dan kata-kata yang menghidupkan kembali jiwa yang letih.

    Dari kesunyian sawah, dari pesantren di pinggir sungai, dari rumah-rumah bambu yang penuh cahaya lampu minyak, lahirlah kesetiaan pada tanah air, pada manusia, pada kejujuran yang tak bisa dijual dengan apapun. Mereka bukan pemilik algoritma, tapi mereka memahami ritme bumi dan rahasia hati.

    Kini, zaman telah berpindah arah. Di tempat yang dulu berdiri lumbung dan langgar, kini menjulang menara-menara sinyal. Dunia yang dulu diikat oleh sabda, kini diatur oleh sistem.

    Dan mungkin, penyelamat itu datang dalam wujud yang tak pernah dibayangkan oleh para pendahulu: mereka yang hidup di dunia maya, bernafas melalui jaringan, bekerja dalam kesunyian cahaya biru layar.

    Mereka bukan malaikat, tidak pula nabi, namun di jari-jarinya mengalir bahasa baru—bahasa yang hanya dimengerti oleh mesin, tapi perlahan menulis ulang nasib manusia.

    Mereka duduk di hadapan layar seperti para rahib digital, menatap baris-baris kode seperti ayat yang terus diperbarui.

    Tak ada aroma tanah, tak ada denting azan, hanya suara kipas prosesor yang terus berputar, seolah zikir yang tak henti-henti.

    Dari balik cahaya itu, mereka mencoba menambal retak dunia—mencegah bocornya data, menjaga kejujuran yang telah kehilangan alamat.

    Di tangan mereka tersimpan kemungkinan baru: masa depan yang tidak lagi digerakkan oleh tangan, melainkan oleh logika yang tak punya rasa. Sebuah dunia yang bersih tapi beku, jujur tapi sunyi, efisien tapi tanpa getar kasih.

    Dan entah bagaimana, manusia harus belajar hidup di dalamnya, antara rindu pada masa lalu yang hangat dan keyakinan pada masa depan yang serba pasti. Sebab zaman terus bergerak, dan penyelamat selalu berganti rupa.

    Dulu mereka datang dengan cangkul, tasbih, dan pena; kini mereka datang dengan algoritma, jaringan, dan layar tanpa wajah.

    Namun satu hal tak berubah: mereka tetap berjuang, dengan cara mereka masing-masing, untuk menjaga sesuatu yang nyaris hilang—jiwa manusia di tengah dunia yang perlahan menjadi mesin.

    Diella di Albania mungkin sedang menatap ke arah selatan dunia, ke negeri yang sedang mencoba menambal lubang-lubang digitalnya dengan cara-cara lama yang dibungkus istilah baru.

    Jika ia mampu tersenyum, mungkin ia akan tersenyum. Karena pada akhirnya manusia memang selalu berlari di belakang ciptaannya sendiri—menciptakan mesin untuk menambal kesalahan manusia, dan menciptakan manusia untuk memperbaiki kesalahan mesin.

    Negeri ini, seperti kapal tua di tengah badai, berderit di setiap sisinya. Bukan karena angin politik, melainkan karena gelombang data yang tak kasat mata, yang bergerak lebih cepat daripada logika para pengelolanya.

    Para hacker itu hanyalah penambal sementara, peretas bocor demi bocor, dalam kapal yang terus berlayar di tengah lautan algoritma.

    Mungkin di ujung perjalanan nanti, akan lahir versi Indonesia dari Diella—sebuah entitas digital yang duduk di kursi birokrasi, menandatangani kebijakan tanpa tremor, berbicara tanpa salah diksi, dan tak mengenal kampanye. Negara akan memujanya, sebagaimana dulu memuja dewa-dewa di masa lampau.

    Namun di antara semua kemungkinan itu, masih tersisa satu ruang kecil yang tidak bisa dijangkau mesin mana pun: ruang di mana manusia menyimpan rasa malu, cinta, dan doa.

    Selama ruang itu masih ada, dunia belum sepenuhnya kehilangan jiwanya, karena ada sesuatu dalam diri manusia yang tak bisa diretas, bukan oleh hacker paling jenius, bukan oleh Diella dari Albania, dan bahkan bukan oleh Simone yang tak pernah benar-benar hidup.

    Sesuatu yang tak terukur, tapi ada. Seperti keyakinan. Seperti nurani. Seperti iman.

    Bionarasi

    Syafaat, Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, sebuah rumah kecil tempat para penulis dan sastrawan bernaung, seperti lilin- lilin yang bersama-sama menjaga nyala. Juga sebagai pimred wartablambangan.com

    buku-buku yang menjadi saksi perjalanannya: 1, Cinta dan Pernikahan (2014): 2, Mengelola Pernikahan dan Keluarga dalam Praktek Hukum Agama dan Budaya (2025), 3, Perjalanan Haji Orang-Orang Terpilih (2017), 4, Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji (2024), dan kumpulan puisinya, 5, Seikat Petikan Jiwa Malam (2025).

    Beberapa tulisannya juga dimuat di beberapa media seperti kemenag.go.id sastrawacana.id/ dll.

  • Ketika Akal Sehat Tergeser Konten: Gempuran Digital dan Retaknya Pilar Keempat Demokrasi

    Ketika Akal Sehat Tergeser Konten: Gempuran Digital dan Retaknya Pilar Keempat Demokrasi

    Ketika Akal Sehat Tergeser Konten: Gempuran Digital dan Retaknya Pilar Keempat Demokrasi

    Oleh: Maulana Affandi, S.S
    (Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/, Direktur Penerbit Lintang, Penulis Buku, Pegiat literasi)

    “Tulisan ini lahir dari sebuah keresahan yang terus mendesak, meminta untuk disuarakan, hingga akhirnya tak bisa lagi diredam.”

    ***

    Di tengah gemuruh notifikasi dan derasnya arus informasi tanpa jeda, kita dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa salah satu faktor yang menggerus peradaban Indonesia modern adalah dominasi media sosial.

    Di era digital saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial telah menjadi kekuatan besar dalam pembentukan opini publik.

    Namun, kekuatan itu juga menyimpan sisi gelap yang secara perlahan meruntuhkan pondasi penting dalam demokrasi dan peradaban kita, yaitu pers.

    Sebelum maraknya media sosial, pers bukan sekadar pilar keempat demokrasi, tapi juga menjadi kekuatan yang benar-benar ditakuti sekaligus dihormati.

    Di era itu, awak media memiliki wibawa yang mampu menggoyang kursi pejabat. Satu laporan mendalam bisa memicu audit, menggulirkan sidang etik, bahkan mengganti kepala dinas.

    Pers bekerja dengan ritme yang jelas, yakni mencari fakta, mengolah data, mengonfirmasi silang, lalu menyajikannya kepada publik dengan keberanian yang sering mengorbankan kenyamanan, bahkan keselamatan pribadi.

    Pada masa itu, pejabat sangat takut untuk main-main karena mereka tahu, jika ada keputusan yang janggal atau kebijakan yang melenceng, pers akan datang mengetuk pintu, membawa secarik catatan, perekam suara, dan daftar pertanyaan yang sulit dielakkan.

    Dan ketika suatu kasus besar terbongkar ke publik, hampir seluruh pejabat memilih merespons dengan mekanisme formal, seperti konferensi pers, klarifikasi resmi, atau perbaikan kebijakan.

    Nyaris tidak ada ruang untuk bermain drama di depan kamera pribadi, tidak ada kesempatan menyulap kesalahan menjadi “konten humanis,” dan sulit mengaburkan kritik melalui banjir komentar fanatik.

    Kini, semua itu perlahan berubah. Media sosial telah menciptakan panggung baru yang justru memberi celah pencitraan bagi yang berkepentingan.

    Di era sekarang, meskipun tak semua, banyak para pejabat publik hadir di lini masa dengan dalih menyampaikan hasil kinerja, menjadikan media sosial sebagai panggung baru yang tak pernah sepi dari sorot kamera.

    Namun benarkah optimasi media sosial itu semata-mata demi mengabarkan pekerjaan, sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik yang “membiayai” mereka?

    Atau ada sesuatu yang lebih jauh, lebih sunyi, yang mereka kejar di balik setiap unggahan? Silakan resapi perlahan dan biarkan hati nuranimu yang menjawab.

    Di titik inilah kita perlu melihat lebih jernih bagaimana ruang digital mulai menggeser medan komunikasi publik.

    Ketika sorotan masyarakat semakin mudah diarahkan dan persepsi bisa dibentuk hanya lewat potongan video atau kalimat yang dipoles, maka hubungan antara pejabat dan warganya perlahan berubah bentuk.

    Alih-alih merespons kritik substansial dari pers, mereka kini dapat menata narasi sendiri, mengunggah video klarifikasi versi pribadi, dan menggulirkan opini alternatif yang diracik oleh tim konten.

    Dengan hitungan menit, sebuah isu serius bisa dikecilkan menjadi sekadar salah paham.

    Dalam beberapa jam, kritik yang sah dari jurnalis profesional bisa tenggelam di balik ribuan komentar positif yang tidak jarang digerakkan oleh buzzer bayaran.

    Dominasi media sosial ini membuat fungsi pers mulai teredam, bukan karena pers kehilangan integritas, tetapi karena ruang publik sedang dikeruhkan oleh narasi yang diproduksi tanpa standar etik dan metodologi jurnalistik.

    Pers tetap berdiri sebagai penegak akuntabilitas. Namun, gaungnya semakin sulit menembus riuh platform digital yang lebih menyukai dramatisasi ketimbang kebenaran.

    Dan ketika masyarakat lebih percaya potongan video estetis daripada laporan investigatif, kita sedang menghadapi tanda-tanda kemunduran demokrasi yang tidak lagi diam-diam, tetapi berlangsung di depan mata.

    Quote Malana Affandi

    Lantas, apa pengaruhnya bagi kemajuan negara dan kesejahteraan masyarakat?

    Mari kita simak baik-baik dan mendengar dengan hati nurani agar kita benar-benar memahami betapa dalam dampak yang ditimbulkan ketika ruang publik dikuasai oleh pencitraan, bukan oleh kebenaran.

    Sebab yang runtuh bukan hanya wibawa pers, melainkan juga kualitas keputusan politik, arah pembangunan, dan kecerdasan kolektif sebuah bangsa.

    Ketika pejabat lebih sibuk membangun citra daripada membangun kinerja, energi mereka tersedot ke hal-hal estetis, mulai dari membuat video harian, menyiapkan angle kamera terbaik, memilih musik latar yang menyentuh, dan mengatur gimik visual agar terlihat merakyat.

    Yang semestinya menjadi prioritas adalah penyusunan kebijakan, pengawasan anggaran, evaluasi program publik, justru seolah bergeser menjadi pekerjaan sampingan.

    Pada titik ini, pembangunan tidak berjalan berdasarkan kebutuhan masyarakat, melainkan berdasarkan kebutuhan konten.

    Lalu masyarakat?

    Ya, mereka perlahan digiring untuk menilai kinerja pejabat bukan dari indikator objektif seperti pencapaian program, penurunan angka kemiskinan, atau kualitas layanan publik, melainkan dari seberapa sering mereka muncul di beranda media sosial.

    Akhirnya, pejabat yang bekerja senyap namun efektif, kurang diminati, sementara pejabat yang gemar tampil dan piawai berbicara justru dielu-elukan.

    Fenomena ini bukan sekadar perubahan selera publik, tapi menjadi pergeseran standar dalam menilai kepemimpinan.

    Perlu diingat bahwa ketika standar turun, kualitas kepemimpinan ikut merosot. Kita bisa melihat dampaknya pada berbagai sektor.

    Misalnya dalam dunia pendidikan, alih-alih fokus meningkatkan kualitas guru dan proses belajar, ada kebijakan justru menggencarkan program-program viral yang mudah dipromosikan.

    Kemudian dalam sektor kesehatan, isu-isu serius seperti pelayanan dasar, ketersediaan dokter, hingga kesehatan lansia menjadi kalah gaung dengan video kunjungan lapangan yang penuh tepuk tangan dan soundtrack haru.

    Di bidang ekonomi, strategi jangka panjang juga sering dikalahkan oleh seremoni-seremonial demi pencitraan.

    Lebih jauh lagi, media sosial memungkinkan pemangku kepentingan menciptakan ilusi kinerja.

    Dengan dukungan tim konten profesional, mereka bisa menampilkan narasi yang rapi dan optimistis, menutupi cacat kebijakan dan kegagalan program.

    Ketika ada kritik cukup lempar video klarifikasi, ketika muncul laporan investigatif cukup unggah konten humanis, ketika muncul tanda-tanda isu sentral cukup banjiri komentar dengan dukungan palsu.

    Sementara itu, masyarakat yang tidak sempat menelusuri berita secara mendalam mudah terbawa arus narasi yang paling sering muncul di timeline.

    Akibatnya, kita berada dalam situasi paradoks: Di era informasi tanpa batas, kesadaran publik justru kian kabur, tersesat oleh riuhnya narasi yang direkayasa.

    Memang betul, kinerja tidak berhenti, tetapi kehilangan kedalaman. Demokrasi tidak bubar, tetapi kehilangan substansi.

    Semua berjalan seolah normal, padahal peradaban sedang ditarik mundur secara halus dan perlahan.

    Kata Kata Maulana Affandi

    Masih ingat, kita dulu pernah dijuluki “Macan Asia” yang disegani oleh negara tetangga?

    Julukan itu bukan tanpa alasan. Indonesia memasuki era ketika stabilitas sosial, kemajuan pendidikan, dan prestasi olahraga membentuk citra bangsa yang percaya diri.

    Pada masa itu, kita bukan sekadar penonton dalam percaturan kawasan, kita adalah pemain penting yang suaranya didengar dan langkahnya diperhitungkan.

    Sebagai contoh, pada SEA Games 1997, Indonesia tampil sebagai juara umum dengan perolehan 194 medali emas, 101 perak, dan 115 perunggu.

    Sebuah rekor perolehan medali terbanyak yang belum terpecahkan sepanjang gelaran SEA Games (Laporan hasil SEA Games 1997).

    Bahkan, menurut Ketua Bidang Prasarana dan Sarana SEA Games XIX 1997 Letjen TNI Marinir (Purn) Suharto, pada gelaran SEA Games 1997 nyaris tak mengeluarkan anggaran, seperti dinukil dari laporan Antara.

    “Dana SEA Games 1997 lalu itu tak sepeserpun dari pemerintah. Tetapi hebatnya, Indonesia keluar sebagai juara umum sehingga ini prestasi yang membanggakan,” kata Suharto.

    Mengutip dari informasi yang tersebar, selama 11 kali penyelenggaraan SEA Games pada masa Orde Baru, Indonesia merebut juara umum sebanyak 9 kali. Sebuah tren yang tidak lagi dapat dirasakan di Era Reformasi.

    Mau contoh lain? Baik, kita beralih ke dunia pendidikan yang gejalanya semakin tampak jelas.

    Tanah Air yang kucinta melebihi kecintaan pada nalarku sendiri ini pernah memiliki sistem pendidikan yang begitu dihormati hingga mampu mengirim guru ke luar negeri.

    Data Kemdikbud mencatat bahwa pada tahun 1966 Indonesia “mengekspor” tenaga pendidik ke Malaysia, sebuah fakta yang menunjukkan betapa mapannya kualitas pendidikan kita saat itu.

    Ironisnya, negara tetangga yang dulu berguru kepada kita, kini justru melesat jauh meninggalkan.

    Indikasinya bisa dilihat dari hasil PISA 2018, di mana Indonesia berada di peringkat ke-74, atau keenam dari posisi terbawah, sebuah cermin getir bahwa kualitas belajar-mengajar kita tak lagi berdiri tegak seperti dulu.

    Data itu bukan sekadar deretan angka, tetapi alarm keras bahwa generasi penerus kita hari ini tumbuh dalam sistem yang tertinggal dari mereka yang dulu sempat belajar pada kita.

    Sekarang, gambaran kemunduran itu bahkan kian mudah ditemukan di media sosial. Pernah melihat video yang membandingkan kemampuan siswa zaman dulu dan sekarang?

    Di TikTok, beredar banyak cuplikan anak SMA yang kesulitan mengerjakan perkalian dasar, sesuatu yang dulu dikuasai oleh siswa SD pada usia belia.

    Fenomena ini tentu tidak bisa digeneralisasi, tetapi cukup untuk menjadi alarm bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dalam ekosistem pendidikan kita.

    Apalagi, di tengah derasnya arus konten yang menguasai ruang digital, persoalan serius seperti merosotnya kualitas belajar sering tenggelam oleh hiruk-pikuk hal remeh yang lebih mudah viral.

    Media sosial yang harusnya berisi percakapan bernas justru berubah menjadi arena riuh tanpa arah, tempat opini dangkal lebih sering menang daripada gagasan yang mencerahkan.

    Maka, ketika gejala-gejala kemunduran itu semakin tampak di permukaan, kita perlu kembali melihat pencapaian-pencapaian masa lalu sebagai cermin bahwa bangsa ini pernah berdiri tegak karena ketekunan, disiplin, dan kesungguhan yang tidak ditentukan oleh algoritma atau viralitas.

    Ya, itu semua adalah pencapaian yang hingga kini terus diperjuangkan oleh banyak pihak, salah satunya perjuangan rakyat melawan buzzer yang dengungnya sangat berisik di hati ibu pertiwi.

    Jika kritik dipadamkan oleh buzzer, maka keputusan yang dihasilkan cenderung dangkal. Di tengah kondisi seperti ini, kesejahteraan masyarakat menjadi korban pertama.

    Yang diprioritaskan justru hal-hal yang dapat menaikkan engagement, apa pun segmennya.

    Tak masalah apakah kontennya dangkal atau tak memberi nilai bagi publik, yang penting ramai, berbunyi, dan memancing reaksi.

    Karena itu, memahami fenomena ini bukan sekadar perkara opini pribadi, melainkan ajakan untuk kembali ke akal sehat dan menuntut agar ruang publik tidak lagi dikendalikan oleh pencitraan, tetapi oleh akuntabilitas dan keterbukaan.

    Kita perlu kembali menempatkan pers sebagai penjaga demokrasi yang layak didengarkan.

    Sebab tanpa pers yang berfungsi dengan kuat, negara akan kehilangan rem yang menjaga keseimbangan kekuasaan.

    Pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa viral para pemimpinnya, tetapi oleh seberapa jujur mereka bekerja dan seberapa kritis masyarakatnya mengawasi.

    Itu hanya mungkin terjadi jika kita berani mengambil jarak dari hiruk-pikuk media sosial, kembali pada sumber informasi yang bertanggung jawab, serta membangun kesadaran bersama bahwa kebenaran jauh lebih berharga daripada pencitraan.

    Sebab peradaban tidak runtuh oleh guncangan besar, melainkan oleh kelengahan kecil yang terus dibiarkan.

    Satu informasi yang kita abaikan, satu kebohongan yang lolos tanpa koreksi, satu panggung pencitraan yang dianggap sekadar hiburan, pelan-pelan semua itu membentuk cara kita melihat realitas.

    Jika ruang publik terus digerus oleh konten tanpa substansi, akal sehat perlahan akan terkikis dan suara yang mestinya menjadi kompas bangsa justru tenggelam di tengah sorak-sorai maya yang serba semu.

    Tulisan Maulana Affandi

    Kita mungkin tidak bisa menghentikan derasnya arus digital, tetapi kita selalu bisa memilih sikap, menentukan mana yang layak dipercaya, mana yang hanya sekadar hiburan semu, dan mana yang harus ditanggapi dengan kritis demi menjaga akal sehat tetap utuh.

    Ketika masyarakat kembali menempatkan akuntabilitas di atas sensasi, kebenaran di atas kosmetika politik, dan jurnalisme yang bertanggung jawab di atas suara gaduh para buzzer, maka pilar keempat demokrasi akan berdiri kembali dengan martabatnya.

    Pada saat itulah, Ibu Pertiwi memiliki peluang untuk memulihkan marwahnya, bukan sekadar sebagai Macan Asia, tetapi sebagai bangsa yang berani menjaga kewarasan di tengah badai informasi. Tabik!

    ***

    Maulana Affandi, S.S
    Penulis yang percaya bahwa kata-kata bisa menjadi lentera kecil, yang meski redup, tetap menolak padam.

    Catatan:
    Opini ini tidak akan berhenti di satu ruang saja. Tulisan ini akan dibagikan ke seluruh jaringan, komunitas, dan ruang-ruang diskusi, agar semakin banyak orang tersadar bahwa masa depan bangsa bergantung pada keberanian, kejujuran, dan akal sehat yang diperjuangkan bersama.

    Referensi:

    Negara yang Dijuluki Macan Asia, Indonesia Salah Satunya, https://www.liputan6.com/hot/read/5601774/negara-yang-dijuluki-macan-asia-indonesia-salah-satunya

    SEA Games XIX/1997: Akhir Kejayaan Indonesia di Pesta Olahraga Asia Tenggara, https://kumparan.com/jefrymandiri98/sea-games-xix-1997-akhir-kejayaan-indonesia-di-pesta-olahraga-asia-tenggara-1uKzC907bTx/2

    Suharto kenang SEA Games 1997 sukses tanpa APBN, https://www.antaranews.com/berita/3230761/suharto-kenang-sea-games-1997-sukses-tanpa-apbn

    Dulu Mengekspor Guru, Kini Guru Indonesia Harus Belajar Dari Negara Lain, https://bbpmpjatim.kemdikbud.go.id/main/dulu-mengekspor-guru-kini-guru-indonesia-harus-belajar-dari-negara-lain/

    ”Buzzer” Politik, Pemborosan Anggaran dan Alat Propaganda yang Mengancam Demokrasi, https://www.kompas.id/artikel/buzzer-politik-antara-pemborosan-anggaran-dan-alat-propaganda

    Antitesis Pendidikan, https://www.kompas.id/artikel/antitesa-pendidikan

  • Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar
    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kita sering kali terjebak dalam pandangan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari angka, ranking, atau nilai rapor semata.

    Padahal, di balik semua itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: apakah pendidikan kita benar-benar sudah memanusiakan manusia?

    Hakikat pendidikan sejati sejatinya bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya—yang berpikir, berperasaan, dan berperilaku bijak.

    Pendidikan seharusnya menuntun setiap individu menemukan jati diri, menggali potensi, dan menumbuhkan kesadaran untuk memberi manfaat bagi lingkungannya.

    Pendidikan harusnya bisa memberikan kesadaran baru tentang nilai-nilai positif serta pemikiran yang mendalam tentang logika etika dan estetika dalam kehidupan.

    Paradigma baru pendidikan menegaskan bahwa peserta didik bukan sekadar alat ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, melainkan manusia yang memiliki potensi, minat, dan keunikan masing-masing.

    Mereka bukan mesin penghafal teori, tetapi pribadi yang perlu diarahkan untuk berpikir kritis, kreatif, dan berkarakter. Inilah makna pendidikan yang sejati—pendidikan yang membebaskan, bukan membelenggu.

    Ki Hajar Dewantara telah lama menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

    Pandangan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, yang memberi ruang bagi guru dan sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa.

    Kurikulum ini menuntut pendidikan yang lebih manusiawi, yang memberi ruang bagi anak untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya.

    Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 pada dasarnya hadir untuk memperkuat kerangka kurikulum, menambahkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), menyesuaikan struktur dan muatan pembelajaran untuk semua jenjang serta memperkenalkan mata pelajaran pilihan baru seperti “Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI)” secara bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026.

    Terlalu lama proses belajar terjebak pada rutinitas hafalan, sehingga lupa membuat siswa benar-benar memahami, bertanya, dan tumbuh sebagai manusia. Kerangka 8-3-3-4¹ mendorong sekolah membentuk profil lulusan yang utuh—cerdas, berkarakter, sehat, komunikatif, mandiri, dan kritis.

    Prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan mengajak kita membangun suasana belajar yang hidup, yang tidak berhenti di kelas, tetapi menyentuh hati, pengalaman, dan pola pikir siswa.

    Perubahan ini sesungguhnya bukan beban, tetapi kesempatan bagi sekolah dan guru untuk berkembang bersama.

    Deep learning membuka ruang bagi pendidik untuk mencoba pendekatan baru yang lebih kreatif, memperkuat kolaborasi, dan memanfaatkan teknologi sebagai jembatan untuk memperkaya pengalaman belajar.

    Lingkungan belajar—baik fisik maupun digital—dapat dibentuk menjadi ruang yang aman dan memerdekakan.

    Saat praktik pedagogis diperbarui, kemitraan diperkuat, dan refleksi menjadi budaya, kebijakan ini berubah dari sekadar aturan menjadi momentum penting menuju transformasi pendidikan yang lebih manusiawi.

    Pendekatan ini juga menuntun siswa untuk tidak hanya menghafal, tetapi sungguh memahami konsep, merenungkan maknanya, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

    Guru pun berperan sebagai pendamping yang menuntun siswa menemukan jawabannya sendiri.

    Di era digital, kemampuan ini menjadi semakin penting, terutama ketika siswa berhadapan dengan pembelajaran koding, teknologi, dan kecerdasan buatan yang menuntut ketelitian, kreativitas, dan adaptasi cepat terhadap perubahan.

    Namun, transformasi pendidikan tidak akan menyentuh maknanya yang paling dasar tanpa nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam keseharian sekolah.

    Menghargai keberagaman siswa, mengakui potensi setiap individu, memberi ruang kebebasan berpikir dan berkarya, serta menilai proses sama pentingnya dengan hasil adalah fondasi yang harus diperkuat.

    Relasi empatik antara guru dan siswa, serta penanaman nilai seperti empati, tanggung jawab, dan kejujuran, menjadi roh dari pendidikan yang memanusiakan manusia.

    Di sinilah inti perubahan: mengembalikan sekolah sebagai ruang tumbuh, ruang aman, dan ruang yang memberi harapan bagi masa depan setiap anak.

    Pendidikan sejati bukanlah yang membuat anak takut salah, tetapi yang memberi mereka keberanian untuk mencoba, berpikir, dan berbuat baik. Kita tidak sedang mencetak robot yang patuh, tetapi manusia yang mampu berpikir kritis dan bertindak dengan hati nurani.

    Kini saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Tujuan utama pendidikan bukan sekadar melahirkan generasi berprestasi akademik, melainkan generasi yang mandiri, kreatif, dan berintegritas.

    Pendidikan yang memerdekakan akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

    Karena sejatinya, pendidikan yang baik bukan tentang berapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan seberapa besar pengetahuan itu mampu mengubah dirinya dan memberi manfaat bagi orang lain. Dari sinilah, manusia belajar menjadi manusia seutuhnya.

    ✍️ Penulis adalah Guru di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Jurnalis Sastrawacana.

    Catatan Kaki
    ¹ Kerangka 8-3-3-4 terdiri dari:
    8 Dimensi Profil Lulusan:
    Keimanan dan Ketakwaan Kepada Tuhan YME; Kewargaan; Kreativitas; Penalaran Kritis; Kolaboratif; Kemandirian; Kesehatan; Komunikasi.
    3 Prinsip Pembelajaran:
    Berkesadaran, Bermakna, Menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, olah raga.
    3 Pengalaman Belajar:
    Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi.
    4 Kerangka Pembelajaran:
    Praktik Pedagogis; Kemitraan Pembelajaran (guru, orang tua, komunitas); Lingkungan Belajar (fisik dan digital); Pemanfaatan teknologi digital (Zoom Meeting, Cloud, Gmeet, dll).

  • Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Oleh: Amalia Salsa Sabila
    (Mahasiswi Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga di Banyuwangi)

    Ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025 saat ritual salat Jumat, membuka mata banyak pihak akan urgensi membangun sistem dukungan kesehatan mental di sekolah yang nyata, bukan sekadar formalitas.

    Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan fisik, tetapi cerminan ketidakstabilan sosial dan psikologis yang telah lama mengendap di kalangan siswa.

    Ketika lingkungan belajar berubah menjadi tempat yang dipenuhi rasa takut. Ada masalah mendasar terkait cara sekolah memahami, mengidentifikasi, dan menangani tanda-tanda gangguan emosional serta perlakuan yang diterima siswa setiap hari.

    Menurut pernyataan dari Kepolisian Daerah Metro Jaya dan saksi di lokasi kejadian, salah satu siswa yang diduga sebagai pelaku telah menahan gejolak batinnya terlalu lama.

    Dia sering mengekspresikan perasaannya melalui media nonverbal seperti tulisan, gambar, dan bahkan ekspresi wajah sehari-hari, tetapi gagal mendapatkan respons yang tepat dari lingkungan sekolah (Kombes i Hermanto, tvOneNews, 10 November 2025; Wikipedia SMAN 72).

    Kasus ini memperkuat pendapat bahwa pendekatan preventif melalui konseling, komunikasi terbuka, dan pembentukan karakter harus menjadi inti sistem pendidikan, bukan sekadar tambahan dalam kurikulum.

    Konselor bimbingan, dengan segala tantangan pekerjaan mereka, harus hadir di tengah dinamika siswa dengan empati, bukan menunggu laporan administratif atau bahkan terjebak dalam praktik perundungan internal.

    Sekolah perlu menyadari bahwa setiap siswa memiliki latar belakang, tekanan, dan mekanisme penyesuaian yang berbeda.

    Sistem konseling yang efektif adalah sistem di mana guru benar-benar mengenali perubahan sikap, perilaku, dan tingkah laku, serta menciptakan ruang aman bagi siswa yang merasa terancam atau tidak nyaman, terutama mereka yang menghadapi stigma sosial atau perundungan (Sela, ANTARA News, 7 November 2025; DetikNews, CCTV SMAN 72).

    Sama pentingnya, keluarga juga harus menjadi sistem dukungan utama yang dapat memberikan landasan stabil di tengah tekanan kehidupan sekolah.

    Orang tua saat ini diharuskan memahami perubahan perilaku anak-anak mereka sejak dini, bukan hanya ketika masalah akut muncul. Komunikasi dua arah antara anak dan orang tua merupakan kunci untuk mencegah anak mencari “solusi” di luar saluran yang sehat.

    Pendidikan karakter dan dukungan psikososial, jika diterapkan secara konsisten, akan mencegah siswa merasa sendirian atau terpaksa “bertahan” dalam ekosistem pendidikan tanpa bimbingan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Siaran Pers, 9 November 2025; BBC Indonesia).

    Tragedi di SMAN 72 juga memaksa kita untuk mengevaluasi peran semua pihak: mulai dari kepala sekolah, guru, staf, hingga lingkungan sekitar, dalam memutus rantai perundungan dan berbagai bentuk intimidasi yang disamarkan sebagai disiplin.

    Insiden yang menewaskan lebih dari 90 korban terluka ini membuktikan bahwa masalah psikologis tidak boleh diremehkan.

    Sekolah harus mengembangkan SOP untuk deteksi dini perilaku berisiko, mengintegrasikan skrining emosional ke dalam program harian, dan selalu berkolaborasi dengan psikolog profesional.

    Kemitraan antara sekolah dan keluarga tidak boleh sekadar formal, tetapi aktif dan memiliki program konkret yang bertujuan menciptakan ruang yang aman dan nyaman, bukan sekadar slogan.

    Maka kampanye anti bullying sejak dini perlu digalakkan yang lebih humanis dan empiris. Juga kesetaraan atas mungkin perbedaan fisik, keyakinan dan suku untuk suasana yang nyaman, aman dan harmoni penuh toleransi.

  • KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Sering kita dengar pernyataan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Tentunya itu bukan sekadar angka, seolah-olah bangsa ini nyaris tidak gemar membaca.

    Namun, jika ditelusuri, data tersebut tidak tercatat dalam laporan resmi UNESCO maupun BPS.

    Faktanya, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2024), tingkat kemampuan baca-tulis masyarakat Indonesia justru sudah sangat tinggi, yaitu sekitar 96–99%.

    Artinya, hampir semua penduduk Indonesia sudah bisa membaca dan menulis.

    Namun tantangannya kini bukan lagi sekadar bisa membaca, melainkan bagaimana menjadikan membaca bagian dari kehidupan.

    Banyak dari kita mampu membaca teks, tetapi belum tentu memahami isinya atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Persoalan utama bukan lagi pada kemampuan membaca, melainkan bagaimana membangun budaya membaca dan memperdalam literasi.

    Literasi bukan hanya sekadar mengenal huruf, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk berpikir reflektif dan kreatif. Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan upaya berkelanjutan.

    Pada dasarnya, literasi memiliki tiga makna, yaitu:

    1. Pertama, Enlightenment (mencerahkan) — literasi menghadirkan kesadaran baru dan membuka wawasan pembacanya. Dengan membaca, seseorang dapat memahami dunia dengan lebih luas.
    2. Kedua, Enrichment (memperkaya) — setiap bacaan memperkaya pengetahuan, memperluas empati, dan menambah khazanah berpikir.
    3. Ketiga, Empowerment (memberdayakan) — literasi menjadikan seseorang memiliki kompetensi dan keterampilan hidup (life skills) untuk menghadapi tantangan zaman.

    Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), sebuah komunitas literasi yang berdiri pada Maret 2023 dan berperan aktif menumbuhkan semangat membaca serta menulis di Banyuwangi.

    Anggotanya berasal dari beragam latar belakang, mulai dari tenaga pendidik (mayoritas guru penggerak), mahasiswa, dosen, penulis, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.

    Dengan visi “bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi,” KOPIWANGI mengusung misi yang nyata dan terukur: mengadakan pelatihan menulis fiksi dan nonfiksi, pendampingan sampai penerbitan karya, berbagi praktik baik antarpenulis, serta menyelenggarakan kegiatan dan kolaborasi literasi dengan berbagai pihak.

    Melalui program pelatihan komunitas, KOPIWANGI membuka ruang bagi siapa pun, baik guru, siswa, penulis pemula, maupun masyarakat umum untuk mengasah keterampilan menulis secara daring maupun luring.

    Kegiatan lomba literasi menjadi wadah bagi pegiat literasi dan memotivasi anggota agar terus produktif berkarya.

    Pertemuan bulanan berfungsi sebagai ruang refleksi, diskusi, dan evaluasi agar komunitas tetap tumbuh secara berkelanjutan.

    Beberapa kegiatan telah terlaksana setiap tahun, antara lain lomba cipta dan baca puisi untuk jenjang pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum tingkat kabupaten.

    Selain itu, KOPIWANGI rutin menggelar lomba baca puisi dan mendongeng bagi siswa SD, SMP, dan SMA sederajat, serta lomba cipta puisi, pantun, dan quote antaranggota komunitas.

    Melalui berbagai kegiatan ini, KOPIWANGI terus menumbuhkan semangat berekspresi dan kecintaan terhadap literasi.

    Kegiatan menulis puisi dan esai di KOPIWANGI dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap pelatihan, pendampingan, hingga penerbitan karya antaranggota komunitas.

    Upaya ini membuahkan hasil nyata melalui terbitnya tiga buku antologi, yakni Lentera di Pengujung Asa – Pendidikan yang Memerdekakan (2024), Pena Sang Surya – Kisah Inspiratif Pendidikan Era Milenial (2024), dan Antologi Gotong Royong (2025).

    Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa literasi akan berkembang jika dilakukan bersama dengan tekad serta niat yang kuat.

    Lebih dari sekadar komunitas, KOPIWANGI hadir sebagai jembatan antara literasi dan lintas generasi.

    Di dalamnya, berbagai usia dan latar belakang bersatu dalam semangat yang sama: mencintai literasi.

    Kegiatan sharing dan diskusi antara guru, penulis pemula, penulis senior, hingga kalangan masyarakat umum mendorong inspirasi untuk menulis dan membaca.

    Literasi pun menjadi ruang dialog antar generasi, tempat di mana pengalaman dan gagasan bertemu untuk melahirkan perubahan.

    KOPIWANGI hadir sebagai jembatan antara intuisi dan tulisan; antara pemikiran dan karya.

    Setiap intuisi atau pemikiran yang lahir mengalir ke dalam tulisan dan menjadi karya.

    Melalui tulisan, KOPIWANGI tidak hanya menyalurkan ide tetapi juga meneguhkan bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menggerakkan.

    Makna kata “jembatan” menggambarkan peran sebagai penghubung antara karya literasi dan lintas generasi — sebuah warisan yang dapat dinikmati dari masa ke masa.

    Melalui karya yang sarat nilai positif dan logis, literasi menjadi cermin reflektif budaya, khususnya dalam bidang sastra, yang terus hidup dan berkembang seiring perjalanan waktu.

    Dalam dunia yang dibanjiri informasi, kemampuan literasi menjadi tameng sekaligus kompas.

    Masyarakat yang melek literasi tidak mudah terombang-ambing oleh hoaks, tidak cepat tersulut oleh opini kosong, dan mampu menilai setiap informasi secara kritis.

    Karena itu, gerakan literasi seperti KOPIWANGI memiliki arti penting: membangun Banyuwangi yang cerdas, berbudaya, dan berdaya saing.

    Sampai di sini, KOPIWANGI membuktikan komitmennya bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca buku atau menulis cerita, tetapi sebuah gerakan yang mencerahkan, memperkaya, dan memberdayakan.

    Dari Banyuwangi, semangat api literasi terus menyala — menghubungkan masa lalu lewat tulisan yang berakar pada nilai-nilai budaya, masa kini yang dinamis, dan masa depan yang dipenuhi generasi milenial yang cakap berliterasi.

    Mari dukung gerakan ini, karena setiap kata yang ditulis dan setiap karya yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar bagi generasi berikutnya.

    Penulis merpakan Pendidik di SMK PGRI Rogojampi yang aktif di dunia literasi dan Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

  • Gema Madrasah di Liga Puisi – Syafaat

    Gema Madrasah di Liga Puisi – Syafaat

    Gema Madrasah di Liga Puisi
    Oleh: Syafaat

    Liga Puisi 4 yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi memang telah berakhir, namun gema dan napasnya belum benar-benar pergi. Ia masih berputar di udara seperti gema adzan di dada yang belum selesai berdzikir.

    Setiap kali kenangan itu disentuh, terdengar kembali suara-suara anak madrasah yang membaca puisi dengan wajah serius, suara yang mungkin sedikit gemetar, namun jujur. Suara yang tidak hanya mengucapkan kata, tetapi menyalakan lentera kecil di dalam dirinya sendiri.

    Dari empat kategori jenjang yang dilombakan, tiga juara pertama diraih oleh insan madrasah: SD/MI, SMP/MTs, dan kategori guru.

    Tiga kemenangan itu seperti tiga bait dalam satu puisi panjang tentang kesabaran, bait pertama ketulusan, bait kedua keuletan, bait ketiga doa yang tak bersuara.

    Orang bisa menyebutnya keberuntungan, tetapi siapa pun yang memahami denyut hidup di madrasah akan tahu: ini bukan kebetulan.

    Ini buah dari kerja panjang yang senyap, dari peluh yang jatuh di antara dhuha dan ashar, dari latihan-latihan kecil yang tak pernah dimuat di berita, tapi menyimpan cahaya di baliknya, seperti lampu minyak yang terus menyala di tengah malam panjang.

    Madrasah adalah dunia kecil yang melatih kepekaan dengan cara paling sederhana. Di sana anak-anak belajar membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, melagukan Tilawah dengan suara yang bening, lalu tanpa sadar belajar pula membaca kehidupan dengan rasa yang halus.

    Dua tahun sekali mereka mengadakan Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) hingga ke tingkat provinsi—dan membaca puisi selalu menjadi cabang lomba yang ditunggu, seperti zikir yang berubah rupa menjadi suara.

    Di madrasah, puisi bukan pelarian dari kenyataan, melainkan pelengkap iman. Anak-anak membaca dan menulis tentang ibu yang tak pernah berhenti berdoa, tentang guru yang berjalan di bawah gerimis membawa spidol, tentang langit pagi yang disapa dengan salam dan harapan.

    Sering kali terlupa bahwa di balik seragam hijau tua itu, tersimpan anak-anak yang memendam mimpi menjadi penyair. Mereka mungkin tak memiliki banyak buku sastra, tetapi mereka punya guru yang mengajarkan makna kata ikhlas.

    Mungkin karena itu, setiap kali mereka membaca puisi, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan, getar yang membuat penonton diam sejenak sebelum bertepuk tangan. Bukan karena kagum, tetapi karena terharu. Sebab yang berbicara di atas panggung bukan sekadar anak madrasah, melainkan hati yang sedang mencari cara untuk bersyukur.

    Kini banyak madrasah menggandeng pelatih profesional, bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena ingin belajar dari yang terbaik. Mereka tahu, membaca puisi bukan hanya tentang suara, tetapi tentang keberanian membuka hati.

    Di antara anak-anak itu, ada yang dulunya pemalu, tak berani bicara di depan kelas. Namun ketika diberi teks puisi dan diminta membaca, sesuatu di dalam dirinya menyala. Puisi memberi ruang untuk menjadi diri sendiri, memberi tempat bagi jiwa untuk berbicara tanpa takut dihakimi.

    Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir semakin giat menumbuhkan gerakan literasi dan sastra. Guru-guru madrasah dan ASN membentuk komunitas, menerbitkan antologi, menulis di media.

    Sebagian dari mereka bahkan rutin mengadakan pelatihan menulis di sela jam mengajar, di antara azan dan ujian. Literasi di madrasah bukan sekadar program, melainkan jalan menuju empati; bukan lomba untuk menang, tetapi perjalanan menuju pencerahan.

    Entah dengan rahasia apa, madrasah selalu punya cara yang lembut namun dalam dalam menanak rasa. Kata-kata di sana tumbuh dari tanah yang disiram doa dan diterangi ayat.

    Saat para santri menulis, ada aroma kitab yang baru saja dibuka, wangi kertas, tinta, dan kesunyian yang penuh makna. Di antara diksi-diksi mereka tercium jejak sujud yang panjang, langkah kecil menuju pemahaman yang tak selalu perlu dijelaskan.

    Dan ketika mereka membaca, suara mereka datang dari ruang yang lebih jauh dari sekadar panggung, ada gema doa di setiap jeda, ada dzikir yang bersembunyi di antara tanda baca.

    Bahasa mereka mungkin belum semegah para penyair besar, tetapi kejujuran mereka berdenyut lebih hangat, lebih hidup—seperti embun yang tak tahu bahwa dirinya sedang memantulkan cahaya matahari. Sebab di madrasah, kata-kata tak pernah dikejar untuk dipuji, melainkan dijaga agar tetap suci.

    Di sana, kalimat lahir dari hati yang terbiasa tunduk pada makna, dan setiap makna adalah perjalanan pulang menuju Yang Maha Kata.

    Liga Puisi bukan sekadar ajang, melainkan cermin kecil dari apa yang telah mereka tanam bertahun-tahun. Kemenangan bukan tujuan utama, mereka datang bukan hanya untuk bersaing, tetapi untuk berbagi ruh.

    Ada murid MI yang membaca puisi tentang pendidikan dan kemiskinan, guru madrasah yang menulis tentang sunyi ruang kelas dan karut-marut nasib anak bangsa, siswi MTs yang suaranya nyaris pecah menahan tangis saat membaca tentang perjuangan orang tua. Tak satu pun dari itu dibuat-buat, semuanya lahir dari hati yang mengenal kehilangan dan doa.

    Layak diteladani, bagaimana mereka saling mendukung tanpa iri, tanpa ingin tampil paling indah. Di ruang lomba itu, terpantul semangat lama: bahwa puisi tidak dilahirkan dari kepandaian, melainkan dari kepedihan yang diterima dengan sabar.

    Dan barangkali di situlah madrasah menang, karena mereka telah terbiasa menulis dan membaca dengan kesabaran, seperti santri yang belajar menulis huruf arab satu demi satu hingga menjadi doa yang utuh.

    Madrasah, dengan segala kesederhanaannya, kini menjelma taman kata. Di sana, iman dan imajinasi saling berpelukan seperti dua sahabat lama yang tak pernah benar-benar berpisah. Anak-anak belajar shalawat sambil belajar metafora, menulis bukan untuk terkenal, melainkan agar langit mendengar.

    Setiap bait menjadi doa yang disusun dalam bentuk baru; setiap kata adalah zikir yang disampaikan dengan nada lembut. Suatu hari nanti, tak ada lagi yang heran melihat madrasah terus melahirkan penyair.

    Sebab di sana, puisi tak pernah diajarkan sebagai pelajaran, tetapi dihidupkan sebagai kehidupan. Membaca puisi menjadi cara lain untuk bersyukur, menulis puisi menjadi bentuk zikir yang paling sunyi.

    Dan ketika panggung Liga Puisi telah kosong, mikrofon dimatikan, para juri meninggalkan tepat, gema itu masih tinggal. Ia bergetar di dada para guru yang tersenyum bangga, berbisik di hati anak-anak yang malamnya masih mengulang bait-baitnya di depan cermin.

    Di dunia yang semakin bising ini, madrasah telah memberi satu anugerah paling berharga: kemampuan untuk mendengarkan suara hati sendiri, suara yang lirih namun abadi, yang kelak tumbuh menjadi puisi kehidupan itu sendiri.

    Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi