Tag: pendidikan banyuwangi

  • Festival Literasi Bahasa Using 2026 Angkat Tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, Merawat Budaya Sekaligus Membentuk Generasi Beradab

    Festival Literasi Bahasa Using 2026 Angkat Tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, Merawat Budaya Sekaligus Membentuk Generasi Beradab

    Festival Literasi Bahasa Using 2026 kembali digelar sebagai ruang untuk memperkuat pelestarian bahasa, sastra, seni, dan budaya Using di Banyuwangi.

    Mengangkat tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, kegiatan ini menekankan pentingnya penghormatan kepada orang tua dan guru sebagai bagian dari pembentukan adab serta budi luhur generasi muda.

    Festival tersebut digelar di Panggung Kreatif Gesibu Blambangan, Sabtu, 5 September 2026.

    Sebanyak 450 murid SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, mengikuti rangkaian perlombaan yang diselenggarakan dalam festival tersebut.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari Festival Bahasa Ibu yang secara nasional digelar di 19 provinsi.

    Di Jawa Timur, kegiatan literasi bahasa ibu mencakup Bahasa Using dan Bahasa Madura yang dilaksanakan di tujuh kabupaten.

    Selain itu, juga mulai dirintis kegiatan bahasa di wilayah sekitar Sidoarjo dan Gresik.

    Untuk tingkat Jawa Timur, seluruh rangkaian kegiatan akan digelar pada Oktober mendatang di Balai Bahasa Jawa Timur, Surabaya.

    Juara pertama dari masing-masing kategori atau cabang lomba akan melanjutkan kompetisi di tingkat tersebut.

    Khusus untuk Bahasa Using, para juara secara otomatis menjadi wakil Jawa Timur dalam Festival Bahasa Ibu di Jakarta.

    Para pemenang juga memperoleh apresiasi berupa sertifikat yang ditandatangani Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen).

    Sertifikat tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pendukung dalam SPMB melalui jalur prestasi.

    Dalam Festival Literasi Bahasa Using 2026, peserta mengikuti tujuh cabang lomba sesuai petunjuk teknis (juknis) nasional.

    Pelaksanaan lomba ditempatkan di 14 kelas di SDN Kepatihan. Ketujuh cabang tersebut meliputi aksara, nembang, geguritan, dongeng cerita, ngewer, nulis cerita, dan pidato.

    Selain tujuh cabang lomba tersebut, panitia juga menghadirkan inovasi mandiri berupa Memengan Teater untuk jenjang SD dan Mocoan Lontar untuk jenjang SMP.

    Kabid SD Dispendik, Drs. Sutikno, menyampaikan bahwa festival tersebut menjadi wadah kreativitas dan prestasi yang lahir dari proses pembelajaran di sekolah.

    Menurutnya, kegiatan ini sekaligus menunjukkan kepedulian Pemerintah Daerah terhadap pelestarian dan pengembangan Bahasa Using.

    Jika pada tahun sebelumnya festival mengangkat tema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, tahun ini tema yang dipilih berfokus pada penghormatan terhadap orang tua dan guru.

    Pesan tersebut menjadi penting untuk memperkuat adab dan budi luhur di tengah tantangan kebiasaan penggunaan gawai pada era digital.

    Festival dibuka oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Pembukaan ditandai dengan prosesi tarik janur Kopat bersama Muspida serta basanan bersama para murid.

    Ipuk mengungkapkan bahwa festival tersebut memiliki arti strategis karena mempertemukan budaya literasi dengan budaya kearifan lokal sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.

    Suasana festival juga semakin semarak dengan penampilan tari dari siswi SMP Negeri 2 Rogojampi yang telah meraih prestasi tingkat nasional.

    Penampilan tersebut diiringi gamelan Wiyogo Lare dari Sanggar Sayu Wiwit Aliyan dan tampil atraktif serta memukau para penonton.

    Rangkaian kegiatan juga diisi doa yang dipimpin Dr. H. Fathurahman dari Kemenag serta santunan kepada yatim piatu.

    Doa dan santunan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar serta harapan kepada Gusti Pengeran agar festival tahunan tersebut berjalan lancar dan mendapatkan keberkahan.

    Setelah melalui proses penampilan dan penilaian, peserta dinilai oleh juri dari berbagai latar belakang.

    Mereka berasal dari kalangan seniman dan budayawan, di antaranya Dewan Kesenian Blambangan, Sengker Kuwung Blambangan, Pesinauan Kemiren, serta Sanggar Merah Putih ’45.

    Selain itu, terdapat wartawan Sastrawacana Jurnal News, radio komunitas JRKBB-JRKI, youtuber, Koppiwangi, tutor PKBM Koppat, akademisi bidang sastra dan budaya, serta guru madrasah yang memiliki karya dan prestasi juara.

    Juri Festival Literasi Using 2026

    Penilaian juga melibatkan unsur guru KKG dan MGMP Bahasa Using SMP yang sebelumnya telah mendapatkan pembekalan materi lomba dari para ahli.

    Pembekalan tersebut difasilitasi oleh Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Balai Bahasa Jawa Timur.

    Dari proses tersebut kemudian terpilih lima besar pada setiap cabang lomba yang langsung diumumkan.

    Para juara berasal dari berbagai wilayah Banyuwangi, mulai Pesanggaran, Purwoharjo, Cluring, Sempu, Songgon, Singojuruh, Srono, Blimbingsari, Kalipuro, Glagah, Kabat, hingga wilayah kota.

    Kemenangan juga diraih sejumlah sekolah swasta yang berhasil menjadi juara pertama.

    Dengan capaian tersebut, mereka berhak melanjutkan ke tingkat Jawa Timur di Surabaya sekaligus memperoleh tambahan pembinaan.

    Salah satu peserta, Arayo asal Desa Kebo-Keboan, Alasmalang, yang bersekolah di SMPN 3 Rogojampi, mengungkapkan rasa syukurnya setelah kembali meraih prestasi.

    “Alhamdulillah tahun lalu juara pidato dan tahun ini juara lawakan ngewer. Kesuwun guru hang bimbing lan emak hang dungo ugo kanca-kanca kabeh!,” ungkap Arayo.

    Sementara itu, juri Mocoan, Slamet Nyamsul Diharjo, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut yang dinilainya dapat menjadi bagian dari kaderisasi untuk menjaga keberlanjutan seni, budaya, adat, dan tradisi leluhur.

    “Kesuwun dikanggoaken kaderisasi ngelestariaken seni budaya adat tradisi leluhur!,” tutur Slamet Nyamsul Diharjo.

    Hal senada disampaikan Nuchbah Baroroh Maulidah, S.Ag., guru MTsN 1 Banyuwangi yang selama dua tahun berturut-turut terlibat sebagai juri geguritan.

    Ia mengaku senang dapat berkolaborasi dengan penyair yang memiliki karya dan prestasi di bidang baca puisi Jawa Timur.

    “Senang sudah 2 tahun ini jadi juri geguritan undhorasa bareng penyair yang punya karya dan prestasi baca puisi jatim!” kata Nuchbah Baroroh Maulidah, S.Ag.

    Nuchbah sendiri merupakan guru yang juga aktif berkarya di bidang puisi. Karya puisinya telah masuk dalam antologi ASEAN.

    Ia juga pernah meraih juara 1 baca puisi Radar Banyuwangi untuk kategori guru.

    Melalui Festival Literasi Bahasa Using 2026, pelestarian bahasa ibu tidak hanya ditempatkan sebagai upaya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, meraih prestasi, sekaligus memperkuat karakter melalui bahasa, sastra, seni, dan kearifan lokal.

    (Aguk Wahyu Nuryadi/Yechot)

  • Inspiratif! Semangat Literasi Warnai HUT DWP ke-26, Ketua DWP Cabdindik Banyuwangi: Kami Memberi Ruang Berkreasi untuk Para Wanita Hebat

    Inspiratif! Semangat Literasi Warnai HUT DWP ke-26, Ketua DWP Cabdindik Banyuwangi: Kami Memberi Ruang Berkreasi untuk Para Wanita Hebat

    Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Banyuwangi berlangsung meriah di Aula SMKN 1 Glagah, Sabtu (6/12/2025).

    Acara yang dihadiri seluruh anggota DWP dari SMAN, SMKN, hingga SLBN di bawah naungan Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi ini tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

    Bekerjasama dengan media literasi sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang, tahun ini DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi mengangkat tema besar tentang penguatan literasi dengan menggelar lomba menulis cerpen dan cipta baca puisi.

    Program tersebut diinisiasi langsung oleh Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E, sebagai upaya menghadirkan ruang kreatif bagi para perempuan di lingkungan pendidikan.

    Sebanyak 29 lembaga pendidikan turut ambil bagian, menghadirkan antusiasme yang memenuhi aula sejak pagi.

    Dua pegiat literasi Banyuwangi, yakni Maulana Affandi, S.S., dan Andi Budi Setiawan, S.Pd diundang sebagai juri untuk menilai karya-karya para peserta.

    Untuk kategori cerpen, peserta menulis karya dari rumah lalu mengumpulkannya kepada panitia.

    Sementara lomba cipta baca puisi digelar langsung di ruang perpustakaan SMKN 1 Glagah.

    Peserta Lomba Puisi HUT DWP Banyuwangi

    Sorak bahagia dan semangat para peserta menghiasi jalannya perlombaan. Suasana hangat dan penuh energi membuat peringatan HUT DWP ke-26 terasa lebih hidup dan bermakna.

    Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E mengatakan bahwa penguatan literasi adalah cara untuk mendorong perempuan-perempuan di lingkungan DWP agar lebih percaya diri menyuarakan gagasannya.

    “Tahun ini kami ingin HUT DWP punya makna yang lebih dalam. Melalui lomba literasi ini, kami menyediakan ruang berkreasi bagi para wanita hebat yang selama ini mungkin belum sempat menunjukkan bakatnya. Kami ingin mereka berani menulis, berani membaca karya sendiri, dan bangga dengan kemampuan mereka,” ujarnya.

    Tak berhenti sampai di situ, ia menambahkan bahwa seluruh karya yang dikumpulkan peserta tidak akan berakhir sebagai dokumen lomba semata.

    DWP Cabdindik Banyuwangi berencana menyatukannya menjadi sebuah buku antologi yang akan dikenang dan menjadi dokumentasi kreativitas para perempuan di lingkungan pendidikan.

    Lebih dari sekadar kumpulan karya, antologi tersebut diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi anggota DWP di tahun-tahun mendatang, sekaligus penanda bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

    “Setiap karya punya nilai. Sayang sekali kalau hanya selesai di meja panitia. Karena itu, semua tulisan dan puisi akan kami abadikan dalam bentuk buku antologi agar dapat menjadi jejak karya bersama,” tambah Siti Nurjanah.

     

    Ia percaya bahwa penerbitan antologi ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghargaan terhadap proses dan usaha para peserta.

    Dengan adanya buku tersebut, setiap karya tidak hanya berhenti sebagai hasil lomba, tetapi berubah menjadi jejak kontribusi nyata bagi pengembangan budaya literasi di Banyuwangi.

    Pada sesi penutupan dan penyerahan hadiah, Siti Nurjanah bersama suaminya, Slamet Riyadi, M.Pd yang hadir mewakili Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta.

    Ia menyampaikan harapan agar kegiatan semacam ini dapat menjadi pemantik semangat literasi di Banyuwangi.

    HUT DWP ke 26 Kabupaten Banyuwangi

     

    “Teruslah berkarya, jangan berhenti pada lomba ini saja. Banyuwangi membutuhkan perempuan-perempuan yang tidak hanya mendidik, tapi juga menginspirasi. Semoga dari kegiatan ini lahir lebih banyak penulis, pembaca yang kritis, dan karya-karya yang membanggakan,” tuturnya.

    Peringatan HUT DWP ke-26 tahun ini menjadi bukti bahwa literasi dapat tumbuh di mana saja, termasuk di ruang-ruang organisasi perempuan.

    DWP Cabdindik Banyuwangi berharap agar kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut sebagai ruang untuk pengembangan kreativitas serta memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan.

  • Semangat Baru Para Pendidik Menggema di Seminar Motivasi MTS Maulana Ishaq Benelan Lor Banyuwangi

    Semangat Baru Para Pendidik Menggema di Seminar Motivasi MTS Maulana Ishaq Benelan Lor Banyuwangi

    Sebagai upaya memperkuat semangat para pendidik dalam menjalankan tugas mulia mereka, MTS Maulana Ishaq Benelan Lor menggelar Seminar Motivasi pada Sabtu (29/11) dengan tema “Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Inspirasi.”

    Seluruh guru dan tenaga kependidikan hadir sebagai bentuk komitmen bersama untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran.

    Seminar ini mengajak para guru untuk meneguhkan kembali peran mereka, bukan hanya sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pembimbing yang memberi perhatian, keteladanan, dan dorongan positif bagi perkembangan siswa.

    Mengajar dengan hati menuntut empati dalam proses pembelajaran, sementara mendidik dengan inspirasi mendorong guru untuk terus berinovasi dan menjadi teladan bagi peserta didik.

    Kegiatan diawali oleh sambutan Kepala Sekolah, Rustam Effendi, S.Pd.I, yang menegaskan bahwa momentum ini penting sebagai penyegaran kembali energi dan niat para pendidik.

    “Seminar ini kami selenggarakan untuk menguatkan kembali komitmen kita sebagai guru. Mengajar bukan hanya soal menyampaikan pelajaran, tetapi bagaimana kita memberikan pengaruh positif bagi pembentukan karakter siswa. Saya berharap kegiatan ini menjadi penyemangat baru bagi seluruh guru untuk terus menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inspiratif, dan tulus,” ujarnya.

    Rustam juga menekankan bahwa perkembangan zaman menuntut guru untuk senantiasa belajar dan beradaptasi.

    “Saat ini dunia pendidikan berubah sangat cepat, baik dari sisi teknologi maupun karakter siswa. Kita harus siap mengikuti perubahan tersebut. Dengan ketulusan mengajar dan semangat memberikan inspirasi, saya yakin sekolah kita mampu mencetak generasi yang cerdas sekaligus berakhlak baik,” tambahnya.

    Seminar Motivasi MTS Maulana Ishaq Banyuwangi

    Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber, Agung Surya Wirawan, entrepreneur sekaligus pendidik yang menekankan pentingnya keikhlasan dalam menjalankan profesi sebagai guru.

    Dalam penyampaian materinya, Agung menekankan bahwa profesi guru menuntut keikhlasan dan pengabdian yang tulus.

    Ia menyampaikan bahwa menjadi guru mungkin bukan pekerjaan dengan gaji terbesar, namun setiap kebaikan yang diberikan akan selalu mendapat balasan, begitu pula kelalaian yang pasti memiliki konsekuensinya.

    “Dalam bidang apa pun, termasuk dunia pendidikan, kita dituntut untuk benar-benar ikhlas dalam menjalankan pengabdian. Menjadi guru mungkin bukan profesi dengan gaji terbesar, tetapi percayalah, setiap kebaikan selalu memiliki balasan, dan setiap kelalaian pun memiliki konsekuensinya. Tuhan tidak pernah salah memberi reward maupun punishment,” terangnya.

    Lebih lanjut, Agung juga menegaskan bahwa guru harus bekerja dengan hati, totalitas dalam mengajar, tulus dalam membimbing, dan sungguh-sungguh menghadirkan layanan terbaik bagi siswa.

    “Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi menghadirkan keteladanan, menyalakan inspirasi, dan menjadi cahaya yang membentuk masa depan. Ketika kita mengajar dengan hati, setiap langkah kecil kita akan menjadi amal besar bagi generasi yang kita bimbing,” ujarnya.

    Setelah pemaparan materi yang bermakna oleh narasumber, seminar kemudian ditutup dengan sesi refleksi dan diskusi antarguru.

    Pada sesi ini, para pendidik berbagi pengalaman, tantangan, serta strategi pembelajaran yang lebih efektif.

    Diharapkan kegiatan ini mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas, menyenangkan, dan bermakna bagi seluruh siswa.

  • Sinergi STIKES Banyuwangi dan FBS Bangkitkan Semangat UKS/M di Blimbingsari

    Sinergi STIKES Banyuwangi dan FBS Bangkitkan Semangat UKS/M di Blimbingsari

    Kesadaran untuk menghidupkan kembali program Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) yang kini banyak hanya tinggal nama kembali digelorakan oleh Tim Promotor UKS STIKES Banyuwangi.

    Kegiatan ini digelar di Aula Satkordikwilcam Blimbingsari pada Kamis (16/10/2025), hasil kolaborasi antara STIKES Banyuwangi, Forum Banyuwangi Sehat (FBS), dan Pembina UKS Kecamatan Blimbingsari.

    Dalam sambutannya saat membuka acara, Kasi PMK Kecamatan Blimbingsari, Abdul Aziz, SH, MH, menyinggung sejumlah isu seperti mutasi camat, digitalisasi perlindungan sosial, dan musrenbang desa.

    Ia menekankan pentingnya menciptakan wilayah Blimbingsari yang aman, nyaman, dan sehat.

    Hal itu dapat diwujudkan dengan menghidupkan kembali program UKS/M di seluruh lembaga pendidikan, yang laporannya disampaikan ke Kantor Kecamatan untuk disinergikan dengan Puskesmas serta para pemangku kepentingan.

    Sementara itu, Aguk Wahyu Nuryadi dari FBS menjelaskan bahwa regulasi UKS merupakan hasil Surat Keputusan Bersama (SKB) empat kementerian.

    Kegiatan UKS dapat didukung oleh dana BOS dan PSM, dengan kepengurusan yang melibatkan komite sekolah, Puskesmas, dan pemangku wilayah.

    Ia menambahkan, UKS maupun program Adiwiyata termasuk indikator penting dalam penilaian Pendidikan Sehat guna mendukung Kabupaten Sehat.

    Paparan materi diawali oleh Intan Nur Wahyuni Ngsih, S.Pd, SD, Pembina UKS SDN 1 Watukebo, yang memaparkan profil dan prestasi sekolahnya sebagai jawara Gerakan Sekolah Sehat.

    “Kami tegas soal kebersihan lingkungan dan toilet, namun mengajar tetap menyenangkan di kelas. Kader Tiwisada dan dokter kecil juga dengan sopan menegur tamu, bahkan guru, yang merokok di lingkungan sekolah,” ujarnya.

    Ia juga menambahkan bahwa situs Watukebo telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui SK Bupati yang mendukung pengembangan Geopark Ijen.

    Kepala SDN 1 Watukebo, Umi Masrohatin, S.Pd, SD, berharap melalui pembinaan dari FBS dan Pembina UKS dapat diadakan sarana-prasarana pengelolaan sampah serta kantin sehat.

    Hal ini sebagai persiapan karena sekolahnya akan mewakili Kabupaten Banyuwangi dalam lomba tingkat Provinsi Jawa Timur.

    Dari Tim Pembina UKS Kabupaten yang juga Pengurus PKK Kabupaten, Pipit Haryono, S.Kep, M.Pd, menyampaikan bahwa SDN 1 Watukebo dapat menjadi studi tiru ideal bagi lembaga pendidikan di wilayah Blimbingsari, Kabat, Rogojampi, hingga Songgon.

    “Monggo, kepala sekolah bisa mengirim guru calon pembina UKS untuk mengikuti pelatihan dua hari di Watukebo dalam waktu dekat agar program UKS ini lebih serius dijalankan. Selanjutnya, bina kader dari siswa untuk siswa, baik dokter kecil maupun Kelompok Kesehatan Remaja,” ujarnya.

    Sesi berikutnya diisi oleh Desika Ulfatunisa, S.Kep, yang memimpin yel-yel “Sehat dimulai dari saya” sebelum menampilkan paparan tentang langkah-langkah pembentukan UKS.

    Ia menjelaskan pentingnya penerbitan SK Kepala Sekolah, penyusunan program, serta kegiatan monitoring. Ia juga mendorong pelibatan Puskesmas dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan kapasitas SDM.

    “Minimal ada kader 10 persen dari jumlah murid di setiap lembaga pendidikan untuk menjalankan program UKS. Maksimalkan pula potensi intra dan ekstrakurikuler guna mendukung UKS agar menjadi budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang menjadi karakter lembaga pendidikan,” tuturnya.

    Desika juga memberikan nomor kontak WhatsApp bagi peserta yang ingin mengundang atau mengunjungi praktik baik di STIKES Banyuwangi, yang berlokasi di Jalan Letkol Istiqlal.