Tag: pendidikan

  • Peran Tutor Sebaya sebagai Pendukung Pembelajaran Matematika di Jenjang SMK

    Peran Tutor Sebaya sebagai Pendukung Pembelajaran Matematika di Jenjang SMK

    Matematika sering dianggap menakutkan oleh peserta didik, baik di jenjang pendidikan dasar, menengah atas, maupun kejuruan.

    Hal ini muncul karena matematika identik dengan angka, perhitungan pasti, serta penggunaan rumus-rumus yang harus tepat dalam proses penyelesaiannya.

    Belajar matematika jelas berbeda dengan belajar bahasa atau ilmu sosial lainnya.

    Dalam pembelajaran bahasa atau ilmu sosial, peserta didik masih dapat belajar secara mandiri dengan mencari berbagai referensi.

    Sebaliknya, dalam pembelajaran matematika, peserta didik sangat membutuhkan pendampingan langsung dari tenaga pendidik yang mengampu mata pelajaran tersebut.

    Penulis merupakan salah satu tenaga pendidik di sebuah SMK swasta di Kabupaten Banyuwangi yang mengampu mata pelajaran matematika.

    Sebagai sekolah swasta yang berada di bawah naungan yayasan, diperlukan upaya yang lebih besar dalam memperoleh peserta didik baru.

    Di samping itu, sekolah juga harus mampu bersaing dengan SMK yang lain di sekitarnya.

    Dengan latar belakang peserta didik yang sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke bawah, dibutuhkan tenaga dan pemikiran ekstra dalam membimbing mereka selama proses pembelajaran.

    Saat mengajar di kelas X–XII pada beberapa jurusan, penulis menyadari bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit.

    Sudah menjadi rahasia umum bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar peserta didik.

    Bahkan sejak jenjang SMP, matematika telah menjadi momok tersendiri.

    Kondisi ini semakin terasa di lembaga tempat penulis mengajar, karena sebagian besar peserta didik yang diterima merupakan peserta didik yang belum berkesempatan melanjutkan pendidikan di SMA negeri dan memilih SMK sebagai jalur pendidikan lanjutan.

    Secara umum, kemampuan akademik mereka berada pada tingkat yang beragam, dengan sebagian masih memerlukan pendampingan lebih lanjut.

    Berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi dengan peserta didik, terdapat beberapa alasan mengapa matematika dianggap sulit untuk dipahami.

    Pertama, sebagian besar peserta didik sudah tidak menyukai matematika sejak jenjang pendidikan dasar maupun menengah pertama.

    Kedua, adanya ketidakcocokan dengan tenaga pendidik pada jenjang sebelumnya sehingga terbentuk persepsi bahwa matematika adalah mata pelajaran yang sulit.

    Ketiga, matematika merupakan mata pelajaran eksakta yang berkaitan dengan perhitungan, rumus, dan hasil akhir yang pasti. Kesalahan dalam menggunakan rumus akan berdampak langsung pada hasil akhir yang salah.

    Dampak dari kondisi tersebut adalah terjadinya ketimpangan pemahaman antarpeserta didik dalam mengikuti pembelajaran matematika.

    Ironisnya, dari materi yang disampaikan, hanya sekitar sepuluh persen peserta didik yang benar-benar mampu menguasainya.

    Sebagian besar peserta didik kurang memahami materi, bahkan tidak paham sama sekali.

    Fenomena ini sering penulis temui dan berdampak pada rendahnya nilai harian, penilaian tengah semester, hingga penilaian akhir semester.

    Banyak nilai rapor matematika yang tidak tuntas karena masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

    Selain itu, kondisi ini juga berdampak pada suasana kelas yang kurang kondusif.

    Ketika peserta didik kehilangan fokus, mereka cenderung bersikap acuh dan sibuk dengan aktivitas masing-masing, sehingga kelas menjadi ramai dan mengganggu proses pembelajaran.

    Hal tersebut menjadi persoalan serius bagi tenaga pendidik agar peserta didik kembali fokus, memperoleh pemahaman yang relatif merata, serta tercipta suasana kelas yang nyaman, tenang, dan kondusif.

    Harapannya, pada akhir evaluasi pembelajaran, peserta didik dapat mencapai ketuntasan belajar tanpa kendala berarti.

    Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis mencoba menerapkan pola atau sistem pembelajaran yang penulis anggap lebih menarik dan efektif.

    Pada awal pembelajaran, penulis memberikan asesmen diagnostik untuk mengetahui minat dan kemampuan awal peserta didik terhadap mata pelajaran matematika.

    Dari hasil asesmen tersebut, penulis memetakan kemampuan peserta didik dan membagi mereka ke dalam beberapa kelompok heterogen.

    Dalam setiap kelompok, setidaknya terdapat satu peserta didik yang memiliki minat dan kemampuan lebih baik di bidang matematika.

    Peserta didik tersebut diharapkan dapat berperan sebagai tutor sebaya yang mendampingi teman-temannya selama proses pembelajaran.

    Melalui kerja kelompok, peserta didik dapat saling berdiskusi, bertanya, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas.

    Selanjutnya, penulis merancang model pembelajaran matematika dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta didik, kebutuhan belajar, serta karakter dan perkembangan mereka.

    Pembelajaran dirancang dengan menghargai hak peserta didik untuk belajar, menciptakan suasana yang menyenangkan dan bermakna, serta memastikan tidak ada peserta didik yang tertinggal.

    Selain itu, penulis juga menanamkan growth mindset, yaitu pola pikir positif yang mendorong peserta didik untuk terus berkembang dan tidak mudah menyerah.

    Pembelajaran dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari agar peserta didik memahami manfaat dan aplikasi materi yang dipelajari.

    Perangkat pembelajaran juga memiliki peran penting dalam mendukung capaian pembelajaran.

    Penyusunan alur tujuan pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan prinsip sederhana, informatif, esensial, kontekstual, berkesinambungan, serta mengoptimalkan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

    Modul ajar disusun secara sistematis dengan prinsip relevan, kontekstual, dan berkesinambungan. Seluruh komponen tersebut menjadi faktor penentu keberhasilan pembelajaran matematika di kelas.

    Setelah beberapa pertemuan, terlihat perubahan yang signifikan dalam proses pembelajaran.

    Kegiatan belajar tidak lagi berpusat pada tenaga pendidik, melainkan lebih banyak diisi dengan diskusi dan tanya jawab antarkelompok.

    Pada awal pembelajaran, penulis menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi kepada peserta didik.

    Ketika suasana kelas mulai jenuh, penulis menyisipkan ice breaking agar peserta didik kembali bersemangat.

    Kelompok yang telah terbentuk dapat memaksimalkan peran tutor sebaya.

    Peserta didik yang sudah memahami materi membantu teman sekelompoknya dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami.

    Hal ini membuat peserta didik lebih nyaman dan tidak sungkan untuk bertanya.

    Setelah tugas selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, sementara kelompok lain memberikan tanggapan.

    Apa pun hasil presentasinya, penulis selalu memberikan apresiasi sebagai bentuk penghargaan dan motivasi.

    Pada akhir pembelajaran, penulis memberikan kesimpulan dan elaborasi terhadap materi yang telah dipelajari.

    Hasilnya, sebelum penerapan metode tersebut, tingkat pemahaman peserta didik hanya sekitar sepuluh persen.

    Dari 36 peserta didik, hanya 4–5 orang yang benar-benar menguasai materi.

    Setelah metode pembelajaran diterapkan, tingkat pemahaman meningkat menjadi sekitar 70–80 persen, atau sekitar 27 peserta didik menunjukkan penguasaan materi yang lebih baik.

    Peningkatan ini juga tercermin dari nilai harian dan nilai rapor peserta didik yang semakin banyak mencapai dan melampaui KKM.

    Meskipun masih terdapat beberapa peserta didik yang belum tuntas, persentasenya jauh berkurang.

    Bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan, penulis memberikan pendampingan khusus dengan pendekatan yang lebih sederhana dan persuasif.

    Penulis juga meluangkan waktu untuk memberikan motivasi agar semangat belajar mereka tumbuh kembali.

    Pendampingan dilakukan secara konsisten hingga peserta didik mampu memahami materi sesuai dengan kemampuan masing-masing.

    Pesan yang dapat penulis ambil sebagai tenaga pendidik di SMK swasta dengan latar belakang peserta didik yang beragam adalah bahwa kunci utama dalam mendidik adalah keikhlasan lahir dan batin untuk menuntun segala potensi yang dimiliki peserta didik.

    Tugas pendidik adalah menuntun, bukan memaksa. Setiap anak memiliki kodrat dan keunikan masing-masing. Tidak ada istilah mengajari ikan untuk terbang atau burung untuk berenang.

    Guru hendaknya mampu menjadi sosok yang menginspirasi, memberikan teladan, dan menjadi pedoman hidup bagi peserta didiknya.

    Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Di tangan gurulah masa depan generasi bangsa dipertaruhkan.

    Daftar Pustaka

    • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Modul kerangka kurikulum: Prinsip pembelajaran dan asesmen. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2022). Prinsip dan prosedur alur tujuan pembelajaran. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    • Keluarga. (1936–1937). Dasar-dasar pendidikan. Th. I No. 1–4 (November–Desember 1936; Januari–Februari 1937).

    ✍️ Penulis adalah Guru di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Penulis Penerbit Lintang Banyuwangi dan Jurnalis Sastrawacana.

  • Menyalakan Cahaya dari Kelas: Jejak Literasi Betty Lutviyanti di Banyuwangi

    Menyalakan Cahaya dari Kelas: Jejak Literasi Betty Lutviyanti di Banyuwangi

    Di banyak ruang kelas, cahaya pengetahuan kerap hadir dalam bentuk yang sederhana. Dari sana pula, perubahan sering kali bermula.

    Di Banyuwangi, cahaya itu tumbuh pelan namun konsisten melalui langkah seorang pendidik bernama Betty Lutviyanti, yang memilih menjadikan literasi sebagai jalan pengabdian—bukan hanya di sekolah, tetapi juga di ruang-ruang budaya dan sosial.

    Berangkat dari kesehariannya sebagai guru sekolah dasar, Betty menjadikan dunia anak, lingkungan sekolah, dan pendidikan sebagai sumber inspirasi utama karya-karyanya.

    Ia percaya bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan upaya menumbuhkan rasa, nalar, dan imajinasi sejak dini.

    Betty Lutviyanti merupakan pendidik dengan pengalaman mengajar selama 18 tahun. Ia mengabdi sebagai kepala SD Negeri 4 Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

    Dengan latar belakang pendidikan Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta Magister Pendidikan yang diraihnya pada tahun 2025, Betty aktif merancang dan menjalankan berbagai inovasi literasi di sekolah.

    Program seperti GESSAH (Gerakan Sedekah Satu Buku untuk Anak Sekolah), SAPA (Sehari Satu Pantun), dan Rame Riang (Gerakan Membaca Sehari Satu Dongeng) menjadi ikhtiar nyata untuk menumbuhkan budaya baca di kalangan siswa.

    “Literasi harus dihadirkan dengan cara yang dekat dan menyenangkan. Anak-anak perlu merasakan bahwa membaca dan menulis adalah bagian dari keseharian, bukan beban,” ujar Betty dalam salah satu kesempatan.

    Selain mengajar, Betty juga dikenal sebagai penulis produktif. Sejumlah karyanya telah diterbitkan, di antaranya Harmoni Putih Abu-abu dan Hujan Diksi Bulan Desember (2021), Praktik Baik Merdeka Mengajar dan Mengeja Rindu (2023), Pinasthika Laksamana (2024), serta Antologi Gotong Royong dan Toponimi Wilayah di Banyuwangi (2025).

    Ia juga terlibat sebagai kontributor dalam berbagai karya kolaboratif, termasuk e-book Anjasmara Kasmaran: Hikayat Damarwulan terbitan DISPUSIP Banyuwangi, antologi cerita cendhek Using Aroma Ring Pawon Using dalam buku Leroban, serta antologi cerita anak nusantara Lentera dari Timur ke Barat Jilid 2.

    Dedikasi tersebut turut membuahkan prestasi. Betty meraih Juara 2 Lomba Dongeng Video AI (2024), Juara 3 Lomba Cipta Puisi kategori umum KOPIWANGI (2024), serta terpilihnya 59 puisi karyanya dalam ajang cipta puisi bertema ibu dan guru pada tahun 2023.

    Ia juga aktif membina siswa dalam Festival Literasi Using dan PORSENI SD, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.

    Lebih dari sekadar deretan karya dan penghargaan, kiprah Betty Lutviyanti menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh dari ruang kelas yang sederhana, lalu menjalar ke panggung yang lebih luas.

    Ia menghadirkan literasi sebagai praktik kemanusiaan—menghubungkan pendidikan, budaya, dan harapan masa depan.

    Di tengah arus zaman yang serba cepat, langkah Betty menjadi pengingat bahwa perubahan besar kerap berawal dari ketekunan yang sunyi.

    Dari sekolah, cahaya itu dinyalakan—dan dari sana, ia terus menyala, menerangi generasi demi generasi.

  • Daftar Pemenang Lomba Literasi HUT ke-26 DWP Cabdindik Banyuwangi

    Daftar Pemenang Lomba Literasi HUT ke-26 DWP Cabdindik Banyuwangi

    Perayaan HUT ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Cabdindik Kabupaten Banyuwangi berlangsung dengan nuansa yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

    Bertempat di Aula SMKN 1 Glagah pada Sabtu (6/12/2025), acara tahun ini tak hanya diisi seremonial, tetapi juga diramaikan dengan gelaran lomba menulis cerpen dan cipta baca puisi yang menjadi pusat perhatian seluruh peserta.

    Inisiatif menghadirkan ajang literasi ini datang dari Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E, yang ingin membuka ruang kreatif bagi perempuan di lingkungan pendidikan.

    Sebanyak 29 lembaga berpartisipasi, menghadirkan semangat yang membuat suasana pagi terasa begitu hidup.

    Menurut Siti Nurjanah, kegiatan ini adalah langkah kecil namun berarti dalam mendorong anggota DWP untuk berani mengekspresikan gagasan mereka.

    Ia menilai, banyak potensi yang selama ini tersimpan dan perlu mendapat ruang untuk ditampilkan.

    Adapun juri yang dihadirkan merupakan pegiat literasi yang telah berpengalaman di berbagai kegiatan kepenulisan dan kesastraan, yakni Maulana Affandi, S.S. dan Andi Budi Setiawan, S.Pd.

    Kehadiran para juri ini turut memberikan warna tersendiri, karena peserta dapat memperoleh penilaian sekaligus masukan langsung dari praktisi yang aktif berkecimpung di dunia literasi.

    Dalam proses penjurian, setiap karya dinilai melalui sejumlah kriteria yang telah ditetapkan.

    Untuk kategori cipta baca puisi, penilaian difokuskan pada pemilihan diksi, kedalaman makna, serta penampilan saat membacakan karya.

    Sementara itu, pada lomba menulis cerpen, juri menilai struktur dan isi cerita yang mencakup tema, alur, perwatakan, dan latar.

    Keindahan bahasa juga menjadi aspek penting, terlihat dari ketepatan diksi, gaya bahasa yang digunakan, serta keefektifan kalimat.

    Tak kalah diperhatikan adalah aspek teknis seperti tata bahasa, ejaan, tanda baca, hingga kerapian tulisan.

    Keseluruhan kriteria ini dirancang untuk memastikan setiap karya tampil utuh, kuat, dan bernilai secara literer.

    Setelah melalui proses penilaian oleh juri pegiat literasi, terpilihlah sejumlah nama yang dinyatakan sebagai pemenang untuk dua kategori perlombaan tersebut. Berikut daftarnya:

    Pemenang Lomba Cipta Baca Puisi

    • Juara 1: Siri Rohmatin Nazilah — SMAN 1 Glagah
    • Juara 2: Muntamah Khoir — SMKN 1 Banyuwangi
    • Juara 3: Danik Suselowati — SMAN 1 Cluring
    • Harapan 1: Lisa Nur Afita – SMAN Glenmore
    • Harapan 2: Vika Nur Imamah — SMAN 1 Banyuwangi
    • Harapan 3: Citra Nuraini — SMAN 1 Rogojampi

    Pemenang Lomba Menulis Cerpen

    • Juara 1: Viola Lutfy Sagita — SMAN 1 Cluring
    • Juara 2: Selvia Rahmawati — SMAN 1 Gambiran
    • Juara 3: Syina Dalila, S.Pd., M.Pd — SMKN 1 Glagah
    • Harapan 1: Ghina Ararifah, S.Pd — SLBN Banyuwangi
    • Harapan 2: Alifia Nudia Umbarika, S.Pd — SMAN 1 Srono
    • Harapan 3: Lesmiyati Hariyani — SMAN Darussholah Singojuruh

    Perayaan HUT ke-26 DWP Cabdindik Banyuwangi tahun ini bukan hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga momentum untuk menegaskan bahwa literasi memiliki ruang penting di lingkungan pendidikan.

    Melalui antusias para peserta, dukungan para juri, serta semangat kolaboratif dari berbagai lembaga, kegiatan ini berhasil menghadirkan atmosfer yang menginspirasi.

    Harapannya, langkah kecil ini dapat menjadi awal dari tradisi literasi yang terus tumbuh, memberi ruang bagi lebih banyak perempuan untuk berkarya, berekspresi, dan menguatkan peran mereka dalam membangun budaya baca dan tulis yang lebih maju di Banyuwangi.

  • FKKS Cluring Gelar Sosialisasi UKS di SDN 2 Sarimulyo yang Berdaya Saing Tinggi

    FKKS Cluring Gelar Sosialisasi UKS di SDN 2 Sarimulyo yang Berdaya Saing Tinggi

    SDN 2 Sarimulyo menjadi pilihan Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Cluring untuk kegiatan sosialisasi Kelembagaan UKS, Rabu (26/11/25).

    Sekolah berpagar merah putih ini tampil asri dengan halaman rindang dan fasilitas bersih, termasuk toilet.

    Dua ruang kelas yang disatukan menjadi aula mampu menampung 45 peserta.

    Meja bertaplak batik dilengkapi nama peserta, hiasan tanaman, serta suguhan polo pendem dan minuman segar secang dan markisa yang dipetik dari halaman sekolah.

    Sekolah ini memiliki 64 siswa dari kelas 1–6, dengan 61 di antaranya penerima KIIP/PIP.

    Di bawah kepemimpinan Eny Ismawati, S.Pd., dan didukung delapan guru serta tenaga kependidikan dan komite, SDN 2 Sarimulyo mencatat sejumlah prestasi.

    FKKS Cluring di SDN 2 Sarimulyo Banyuwangi

    “Alhamdulillah, tahun ini kami meraih juara Gerakan Sekolah Sehat dan Adiwiyata Jatim,” ujar Eny, perempuan asal Tampo. Ia menyebut pencapaian lain di bidang drumband, tari, puisi, pantomim, dan akademik.

    Sekolah ini mengusung visi Terwujudnya Peserta Didik yang Unggul dalam Prestasi Akademik dan Nonakademik, Sehat, Disiplin, Berakhlak Mulia, dan Berbudaya Lingkungan.

    Kantin sekolah juga dinyatakan bebas plastik dan bebas 5P (perasa, pemanis, pengawet, pengenyal, pewarna). Masa tugas Eny pada periode pertama akan berakhir pada 22 Desember 2025, bertepatan dengan Hari Ibu.

    Kegiatan sosialisasi UKS menghadirkan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), K3S, Pembina UKS/M, serta Pokja Desa Sehat se-Kecamatan Cluring.

    Koordinator Satkordikcam Cluring, Wiwit Sukesi, S.Pd., menyebut jumlah siswa SD di wilayahnya rata-rata 50–80 per sekolah.

    Kepala Puskesmas Benculuk yang juga Plt Puskesmas Tampo, Tatiek Setya Ningsih, Bd. SST, M.M.Kes., mengingatkan pentingnya menjaga ODF, budaya hidup bersih dan sehat, pengelolaan sampah, kantin sehat, serta konsumsi buah dan sayur.

    “Tiap sekolah perlu memiliki guru UKS dan kader UKS, serta bersinergi melalui musrenbang desa untuk penguatan sarpras UKS,” ujarnya.

    Plt Camat Cluring, Ir. Tri Wahyu Angembani, menegaskan perlunya kolaborasi dalam pelayanan dan inovasi, terutama di tengah efisiensi anggaran.

    FKKS Cluring

    Ninil, sapaan akrabnya, alumni SMPP/Smada 86 yang dua hari lagi memasuki masa purnabakti sebagai ASN berpamitan dan permohonan maaf, sembari berharap silaturahmi tetap terjaga.

    “kami pamit dan mohon maaf sambung dungo tetap jaga silaturahmi dan sehat senantiasa!”

    Paparan UKS disampaikan Desika Ulfatunissa, S.Kep., setelah Bung Aguk menyinggung kelembagaan dan kondisi Swasti Sabha Padapa yang diterima Banyuwangi.

    Melalui prestasi dan materi UKS–Adiwiyata yang ditampilkan, SDN 2 Sarimulyo menjadi rujukan studi tiru bagi SD, MTs, dan SMK yang hadir. Sinergi sekolah dengan Puskesmas, Kepala Desa, serta unsur kedinasan juga dinilai kuat.

    “Harapannya, segera diterbitkan SK Tim Pelaksana UKS dengan tembusan ke Kades dan Camat. Semester depan, FKKS akan memfasilitasi pelatihan untuk guru UKS,” demikian penutup kegiatan. (Aguk)

  • Ketika Akal Sehat Tergeser Konten: Gempuran Digital dan Retaknya Pilar Keempat Demokrasi

    Ketika Akal Sehat Tergeser Konten: Gempuran Digital dan Retaknya Pilar Keempat Demokrasi

    Ketika Akal Sehat Tergeser Konten: Gempuran Digital dan Retaknya Pilar Keempat Demokrasi

    Oleh: Maulana Affandi, S.S
    (Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/, Direktur Penerbit Lintang, Penulis Buku, Pegiat literasi)

    “Tulisan ini lahir dari sebuah keresahan yang terus mendesak, meminta untuk disuarakan, hingga akhirnya tak bisa lagi diredam.”

    ***

    Di tengah gemuruh notifikasi dan derasnya arus informasi tanpa jeda, kita dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa salah satu faktor yang menggerus peradaban Indonesia modern adalah dominasi media sosial.

    Di era digital saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial telah menjadi kekuatan besar dalam pembentukan opini publik.

    Namun, kekuatan itu juga menyimpan sisi gelap yang secara perlahan meruntuhkan pondasi penting dalam demokrasi dan peradaban kita, yaitu pers.

    Sebelum maraknya media sosial, pers bukan sekadar pilar keempat demokrasi, tapi juga menjadi kekuatan yang benar-benar ditakuti sekaligus dihormati.

    Di era itu, awak media memiliki wibawa yang mampu menggoyang kursi pejabat. Satu laporan mendalam bisa memicu audit, menggulirkan sidang etik, bahkan mengganti kepala dinas.

    Pers bekerja dengan ritme yang jelas, yakni mencari fakta, mengolah data, mengonfirmasi silang, lalu menyajikannya kepada publik dengan keberanian yang sering mengorbankan kenyamanan, bahkan keselamatan pribadi.

    Pada masa itu, pejabat sangat takut untuk main-main karena mereka tahu, jika ada keputusan yang janggal atau kebijakan yang melenceng, pers akan datang mengetuk pintu, membawa secarik catatan, perekam suara, dan daftar pertanyaan yang sulit dielakkan.

    Dan ketika suatu kasus besar terbongkar ke publik, hampir seluruh pejabat memilih merespons dengan mekanisme formal, seperti konferensi pers, klarifikasi resmi, atau perbaikan kebijakan.

    Nyaris tidak ada ruang untuk bermain drama di depan kamera pribadi, tidak ada kesempatan menyulap kesalahan menjadi “konten humanis,” dan sulit mengaburkan kritik melalui banjir komentar fanatik.

    Kini, semua itu perlahan berubah. Media sosial telah menciptakan panggung baru yang justru memberi celah pencitraan bagi yang berkepentingan.

    Di era sekarang, meskipun tak semua, banyak para pejabat publik hadir di lini masa dengan dalih menyampaikan hasil kinerja, menjadikan media sosial sebagai panggung baru yang tak pernah sepi dari sorot kamera.

    Namun benarkah optimasi media sosial itu semata-mata demi mengabarkan pekerjaan, sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik yang “membiayai” mereka?

    Atau ada sesuatu yang lebih jauh, lebih sunyi, yang mereka kejar di balik setiap unggahan? Silakan resapi perlahan dan biarkan hati nuranimu yang menjawab.

    Di titik inilah kita perlu melihat lebih jernih bagaimana ruang digital mulai menggeser medan komunikasi publik.

    Ketika sorotan masyarakat semakin mudah diarahkan dan persepsi bisa dibentuk hanya lewat potongan video atau kalimat yang dipoles, maka hubungan antara pejabat dan warganya perlahan berubah bentuk.

    Alih-alih merespons kritik substansial dari pers, mereka kini dapat menata narasi sendiri, mengunggah video klarifikasi versi pribadi, dan menggulirkan opini alternatif yang diracik oleh tim konten.

    Dengan hitungan menit, sebuah isu serius bisa dikecilkan menjadi sekadar salah paham.

    Dalam beberapa jam, kritik yang sah dari jurnalis profesional bisa tenggelam di balik ribuan komentar positif yang tidak jarang digerakkan oleh buzzer bayaran.

    Dominasi media sosial ini membuat fungsi pers mulai teredam, bukan karena pers kehilangan integritas, tetapi karena ruang publik sedang dikeruhkan oleh narasi yang diproduksi tanpa standar etik dan metodologi jurnalistik.

    Pers tetap berdiri sebagai penegak akuntabilitas. Namun, gaungnya semakin sulit menembus riuh platform digital yang lebih menyukai dramatisasi ketimbang kebenaran.

    Dan ketika masyarakat lebih percaya potongan video estetis daripada laporan investigatif, kita sedang menghadapi tanda-tanda kemunduran demokrasi yang tidak lagi diam-diam, tetapi berlangsung di depan mata.

    Quote Malana Affandi

    Lantas, apa pengaruhnya bagi kemajuan negara dan kesejahteraan masyarakat?

    Mari kita simak baik-baik dan mendengar dengan hati nurani agar kita benar-benar memahami betapa dalam dampak yang ditimbulkan ketika ruang publik dikuasai oleh pencitraan, bukan oleh kebenaran.

    Sebab yang runtuh bukan hanya wibawa pers, melainkan juga kualitas keputusan politik, arah pembangunan, dan kecerdasan kolektif sebuah bangsa.

    Ketika pejabat lebih sibuk membangun citra daripada membangun kinerja, energi mereka tersedot ke hal-hal estetis, mulai dari membuat video harian, menyiapkan angle kamera terbaik, memilih musik latar yang menyentuh, dan mengatur gimik visual agar terlihat merakyat.

    Yang semestinya menjadi prioritas adalah penyusunan kebijakan, pengawasan anggaran, evaluasi program publik, justru seolah bergeser menjadi pekerjaan sampingan.

    Pada titik ini, pembangunan tidak berjalan berdasarkan kebutuhan masyarakat, melainkan berdasarkan kebutuhan konten.

    Lalu masyarakat?

    Ya, mereka perlahan digiring untuk menilai kinerja pejabat bukan dari indikator objektif seperti pencapaian program, penurunan angka kemiskinan, atau kualitas layanan publik, melainkan dari seberapa sering mereka muncul di beranda media sosial.

    Akhirnya, pejabat yang bekerja senyap namun efektif, kurang diminati, sementara pejabat yang gemar tampil dan piawai berbicara justru dielu-elukan.

    Fenomena ini bukan sekadar perubahan selera publik, tapi menjadi pergeseran standar dalam menilai kepemimpinan.

    Perlu diingat bahwa ketika standar turun, kualitas kepemimpinan ikut merosot. Kita bisa melihat dampaknya pada berbagai sektor.

    Misalnya dalam dunia pendidikan, alih-alih fokus meningkatkan kualitas guru dan proses belajar, ada kebijakan justru menggencarkan program-program viral yang mudah dipromosikan.

    Kemudian dalam sektor kesehatan, isu-isu serius seperti pelayanan dasar, ketersediaan dokter, hingga kesehatan lansia menjadi kalah gaung dengan video kunjungan lapangan yang penuh tepuk tangan dan soundtrack haru.

    Di bidang ekonomi, strategi jangka panjang juga sering dikalahkan oleh seremoni-seremonial demi pencitraan.

    Lebih jauh lagi, media sosial memungkinkan pemangku kepentingan menciptakan ilusi kinerja.

    Dengan dukungan tim konten profesional, mereka bisa menampilkan narasi yang rapi dan optimistis, menutupi cacat kebijakan dan kegagalan program.

    Ketika ada kritik cukup lempar video klarifikasi, ketika muncul laporan investigatif cukup unggah konten humanis, ketika muncul tanda-tanda isu sentral cukup banjiri komentar dengan dukungan palsu.

    Sementara itu, masyarakat yang tidak sempat menelusuri berita secara mendalam mudah terbawa arus narasi yang paling sering muncul di timeline.

    Akibatnya, kita berada dalam situasi paradoks: Di era informasi tanpa batas, kesadaran publik justru kian kabur, tersesat oleh riuhnya narasi yang direkayasa.

    Memang betul, kinerja tidak berhenti, tetapi kehilangan kedalaman. Demokrasi tidak bubar, tetapi kehilangan substansi.

    Semua berjalan seolah normal, padahal peradaban sedang ditarik mundur secara halus dan perlahan.

    Kata Kata Maulana Affandi

    Masih ingat, kita dulu pernah dijuluki “Macan Asia” yang disegani oleh negara tetangga?

    Julukan itu bukan tanpa alasan. Indonesia memasuki era ketika stabilitas sosial, kemajuan pendidikan, dan prestasi olahraga membentuk citra bangsa yang percaya diri.

    Pada masa itu, kita bukan sekadar penonton dalam percaturan kawasan, kita adalah pemain penting yang suaranya didengar dan langkahnya diperhitungkan.

    Sebagai contoh, pada SEA Games 1997, Indonesia tampil sebagai juara umum dengan perolehan 194 medali emas, 101 perak, dan 115 perunggu.

    Sebuah rekor perolehan medali terbanyak yang belum terpecahkan sepanjang gelaran SEA Games (Laporan hasil SEA Games 1997).

    Bahkan, menurut Ketua Bidang Prasarana dan Sarana SEA Games XIX 1997 Letjen TNI Marinir (Purn) Suharto, pada gelaran SEA Games 1997 nyaris tak mengeluarkan anggaran, seperti dinukil dari laporan Antara.

    “Dana SEA Games 1997 lalu itu tak sepeserpun dari pemerintah. Tetapi hebatnya, Indonesia keluar sebagai juara umum sehingga ini prestasi yang membanggakan,” kata Suharto.

    Mengutip dari informasi yang tersebar, selama 11 kali penyelenggaraan SEA Games pada masa Orde Baru, Indonesia merebut juara umum sebanyak 9 kali. Sebuah tren yang tidak lagi dapat dirasakan di Era Reformasi.

    Mau contoh lain? Baik, kita beralih ke dunia pendidikan yang gejalanya semakin tampak jelas.

    Tanah Air yang kucinta melebihi kecintaan pada nalarku sendiri ini pernah memiliki sistem pendidikan yang begitu dihormati hingga mampu mengirim guru ke luar negeri.

    Data Kemdikbud mencatat bahwa pada tahun 1966 Indonesia “mengekspor” tenaga pendidik ke Malaysia, sebuah fakta yang menunjukkan betapa mapannya kualitas pendidikan kita saat itu.

    Ironisnya, negara tetangga yang dulu berguru kepada kita, kini justru melesat jauh meninggalkan.

    Indikasinya bisa dilihat dari hasil PISA 2018, di mana Indonesia berada di peringkat ke-74, atau keenam dari posisi terbawah, sebuah cermin getir bahwa kualitas belajar-mengajar kita tak lagi berdiri tegak seperti dulu.

    Data itu bukan sekadar deretan angka, tetapi alarm keras bahwa generasi penerus kita hari ini tumbuh dalam sistem yang tertinggal dari mereka yang dulu sempat belajar pada kita.

    Sekarang, gambaran kemunduran itu bahkan kian mudah ditemukan di media sosial. Pernah melihat video yang membandingkan kemampuan siswa zaman dulu dan sekarang?

    Di TikTok, beredar banyak cuplikan anak SMA yang kesulitan mengerjakan perkalian dasar, sesuatu yang dulu dikuasai oleh siswa SD pada usia belia.

    Fenomena ini tentu tidak bisa digeneralisasi, tetapi cukup untuk menjadi alarm bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dalam ekosistem pendidikan kita.

    Apalagi, di tengah derasnya arus konten yang menguasai ruang digital, persoalan serius seperti merosotnya kualitas belajar sering tenggelam oleh hiruk-pikuk hal remeh yang lebih mudah viral.

    Media sosial yang harusnya berisi percakapan bernas justru berubah menjadi arena riuh tanpa arah, tempat opini dangkal lebih sering menang daripada gagasan yang mencerahkan.

    Maka, ketika gejala-gejala kemunduran itu semakin tampak di permukaan, kita perlu kembali melihat pencapaian-pencapaian masa lalu sebagai cermin bahwa bangsa ini pernah berdiri tegak karena ketekunan, disiplin, dan kesungguhan yang tidak ditentukan oleh algoritma atau viralitas.

    Ya, itu semua adalah pencapaian yang hingga kini terus diperjuangkan oleh banyak pihak, salah satunya perjuangan rakyat melawan buzzer yang dengungnya sangat berisik di hati ibu pertiwi.

    Jika kritik dipadamkan oleh buzzer, maka keputusan yang dihasilkan cenderung dangkal. Di tengah kondisi seperti ini, kesejahteraan masyarakat menjadi korban pertama.

    Yang diprioritaskan justru hal-hal yang dapat menaikkan engagement, apa pun segmennya.

    Tak masalah apakah kontennya dangkal atau tak memberi nilai bagi publik, yang penting ramai, berbunyi, dan memancing reaksi.

    Karena itu, memahami fenomena ini bukan sekadar perkara opini pribadi, melainkan ajakan untuk kembali ke akal sehat dan menuntut agar ruang publik tidak lagi dikendalikan oleh pencitraan, tetapi oleh akuntabilitas dan keterbukaan.

    Kita perlu kembali menempatkan pers sebagai penjaga demokrasi yang layak didengarkan.

    Sebab tanpa pers yang berfungsi dengan kuat, negara akan kehilangan rem yang menjaga keseimbangan kekuasaan.

    Pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa viral para pemimpinnya, tetapi oleh seberapa jujur mereka bekerja dan seberapa kritis masyarakatnya mengawasi.

    Itu hanya mungkin terjadi jika kita berani mengambil jarak dari hiruk-pikuk media sosial, kembali pada sumber informasi yang bertanggung jawab, serta membangun kesadaran bersama bahwa kebenaran jauh lebih berharga daripada pencitraan.

    Sebab peradaban tidak runtuh oleh guncangan besar, melainkan oleh kelengahan kecil yang terus dibiarkan.

    Satu informasi yang kita abaikan, satu kebohongan yang lolos tanpa koreksi, satu panggung pencitraan yang dianggap sekadar hiburan, pelan-pelan semua itu membentuk cara kita melihat realitas.

    Jika ruang publik terus digerus oleh konten tanpa substansi, akal sehat perlahan akan terkikis dan suara yang mestinya menjadi kompas bangsa justru tenggelam di tengah sorak-sorai maya yang serba semu.

    Tulisan Maulana Affandi

    Kita mungkin tidak bisa menghentikan derasnya arus digital, tetapi kita selalu bisa memilih sikap, menentukan mana yang layak dipercaya, mana yang hanya sekadar hiburan semu, dan mana yang harus ditanggapi dengan kritis demi menjaga akal sehat tetap utuh.

    Ketika masyarakat kembali menempatkan akuntabilitas di atas sensasi, kebenaran di atas kosmetika politik, dan jurnalisme yang bertanggung jawab di atas suara gaduh para buzzer, maka pilar keempat demokrasi akan berdiri kembali dengan martabatnya.

    Pada saat itulah, Ibu Pertiwi memiliki peluang untuk memulihkan marwahnya, bukan sekadar sebagai Macan Asia, tetapi sebagai bangsa yang berani menjaga kewarasan di tengah badai informasi. Tabik!

    ***

    Maulana Affandi, S.S
    Penulis yang percaya bahwa kata-kata bisa menjadi lentera kecil, yang meski redup, tetap menolak padam.

    Catatan:
    Opini ini tidak akan berhenti di satu ruang saja. Tulisan ini akan dibagikan ke seluruh jaringan, komunitas, dan ruang-ruang diskusi, agar semakin banyak orang tersadar bahwa masa depan bangsa bergantung pada keberanian, kejujuran, dan akal sehat yang diperjuangkan bersama.

    Referensi:

    Negara yang Dijuluki Macan Asia, Indonesia Salah Satunya, https://www.liputan6.com/hot/read/5601774/negara-yang-dijuluki-macan-asia-indonesia-salah-satunya

    SEA Games XIX/1997: Akhir Kejayaan Indonesia di Pesta Olahraga Asia Tenggara, https://kumparan.com/jefrymandiri98/sea-games-xix-1997-akhir-kejayaan-indonesia-di-pesta-olahraga-asia-tenggara-1uKzC907bTx/2

    Suharto kenang SEA Games 1997 sukses tanpa APBN, https://www.antaranews.com/berita/3230761/suharto-kenang-sea-games-1997-sukses-tanpa-apbn

    Dulu Mengekspor Guru, Kini Guru Indonesia Harus Belajar Dari Negara Lain, https://bbpmpjatim.kemdikbud.go.id/main/dulu-mengekspor-guru-kini-guru-indonesia-harus-belajar-dari-negara-lain/

    ”Buzzer” Politik, Pemborosan Anggaran dan Alat Propaganda yang Mengancam Demokrasi, https://www.kompas.id/artikel/buzzer-politik-antara-pemborosan-anggaran-dan-alat-propaganda

    Antitesis Pendidikan, https://www.kompas.id/artikel/antitesa-pendidikan

  • Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar
    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kita sering kali terjebak dalam pandangan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari angka, ranking, atau nilai rapor semata.

    Padahal, di balik semua itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: apakah pendidikan kita benar-benar sudah memanusiakan manusia?

    Hakikat pendidikan sejati sejatinya bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya—yang berpikir, berperasaan, dan berperilaku bijak.

    Pendidikan seharusnya menuntun setiap individu menemukan jati diri, menggali potensi, dan menumbuhkan kesadaran untuk memberi manfaat bagi lingkungannya.

    Pendidikan harusnya bisa memberikan kesadaran baru tentang nilai-nilai positif serta pemikiran yang mendalam tentang logika etika dan estetika dalam kehidupan.

    Paradigma baru pendidikan menegaskan bahwa peserta didik bukan sekadar alat ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, melainkan manusia yang memiliki potensi, minat, dan keunikan masing-masing.

    Mereka bukan mesin penghafal teori, tetapi pribadi yang perlu diarahkan untuk berpikir kritis, kreatif, dan berkarakter. Inilah makna pendidikan yang sejati—pendidikan yang membebaskan, bukan membelenggu.

    Ki Hajar Dewantara telah lama menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

    Pandangan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, yang memberi ruang bagi guru dan sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa.

    Kurikulum ini menuntut pendidikan yang lebih manusiawi, yang memberi ruang bagi anak untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya.

    Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 pada dasarnya hadir untuk memperkuat kerangka kurikulum, menambahkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), menyesuaikan struktur dan muatan pembelajaran untuk semua jenjang serta memperkenalkan mata pelajaran pilihan baru seperti “Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI)” secara bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026.

    Terlalu lama proses belajar terjebak pada rutinitas hafalan, sehingga lupa membuat siswa benar-benar memahami, bertanya, dan tumbuh sebagai manusia. Kerangka 8-3-3-4¹ mendorong sekolah membentuk profil lulusan yang utuh—cerdas, berkarakter, sehat, komunikatif, mandiri, dan kritis.

    Prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan mengajak kita membangun suasana belajar yang hidup, yang tidak berhenti di kelas, tetapi menyentuh hati, pengalaman, dan pola pikir siswa.

    Perubahan ini sesungguhnya bukan beban, tetapi kesempatan bagi sekolah dan guru untuk berkembang bersama.

    Deep learning membuka ruang bagi pendidik untuk mencoba pendekatan baru yang lebih kreatif, memperkuat kolaborasi, dan memanfaatkan teknologi sebagai jembatan untuk memperkaya pengalaman belajar.

    Lingkungan belajar—baik fisik maupun digital—dapat dibentuk menjadi ruang yang aman dan memerdekakan.

    Saat praktik pedagogis diperbarui, kemitraan diperkuat, dan refleksi menjadi budaya, kebijakan ini berubah dari sekadar aturan menjadi momentum penting menuju transformasi pendidikan yang lebih manusiawi.

    Pendekatan ini juga menuntun siswa untuk tidak hanya menghafal, tetapi sungguh memahami konsep, merenungkan maknanya, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

    Guru pun berperan sebagai pendamping yang menuntun siswa menemukan jawabannya sendiri.

    Di era digital, kemampuan ini menjadi semakin penting, terutama ketika siswa berhadapan dengan pembelajaran koding, teknologi, dan kecerdasan buatan yang menuntut ketelitian, kreativitas, dan adaptasi cepat terhadap perubahan.

    Namun, transformasi pendidikan tidak akan menyentuh maknanya yang paling dasar tanpa nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam keseharian sekolah.

    Menghargai keberagaman siswa, mengakui potensi setiap individu, memberi ruang kebebasan berpikir dan berkarya, serta menilai proses sama pentingnya dengan hasil adalah fondasi yang harus diperkuat.

    Relasi empatik antara guru dan siswa, serta penanaman nilai seperti empati, tanggung jawab, dan kejujuran, menjadi roh dari pendidikan yang memanusiakan manusia.

    Di sinilah inti perubahan: mengembalikan sekolah sebagai ruang tumbuh, ruang aman, dan ruang yang memberi harapan bagi masa depan setiap anak.

    Pendidikan sejati bukanlah yang membuat anak takut salah, tetapi yang memberi mereka keberanian untuk mencoba, berpikir, dan berbuat baik. Kita tidak sedang mencetak robot yang patuh, tetapi manusia yang mampu berpikir kritis dan bertindak dengan hati nurani.

    Kini saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Tujuan utama pendidikan bukan sekadar melahirkan generasi berprestasi akademik, melainkan generasi yang mandiri, kreatif, dan berintegritas.

    Pendidikan yang memerdekakan akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

    Karena sejatinya, pendidikan yang baik bukan tentang berapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan seberapa besar pengetahuan itu mampu mengubah dirinya dan memberi manfaat bagi orang lain. Dari sinilah, manusia belajar menjadi manusia seutuhnya.

    ✍️ Penulis adalah Guru di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Jurnalis Sastrawacana.

    Catatan Kaki
    ¹ Kerangka 8-3-3-4 terdiri dari:
    8 Dimensi Profil Lulusan:
    Keimanan dan Ketakwaan Kepada Tuhan YME; Kewargaan; Kreativitas; Penalaran Kritis; Kolaboratif; Kemandirian; Kesehatan; Komunikasi.
    3 Prinsip Pembelajaran:
    Berkesadaran, Bermakna, Menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, olah raga.
    3 Pengalaman Belajar:
    Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi.
    4 Kerangka Pembelajaran:
    Praktik Pedagogis; Kemitraan Pembelajaran (guru, orang tua, komunitas); Lingkungan Belajar (fisik dan digital); Pemanfaatan teknologi digital (Zoom Meeting, Cloud, Gmeet, dll).

  • SMK PGRI Rogojampi Resmi Bentuk PC Khusus PGRI, Langkah Baru Penguatan Organisasi Guru

    SMK PGRI Rogojampi Resmi Bentuk PC Khusus PGRI, Langkah Baru Penguatan Organisasi Guru

    SMK PGRI Rogojampi resmi menggelar Konferensi Pengurus Cabang Khusus (PC Khusus) PGRI di aula baru Sasana Pro, pada Sabtu (15/11).

    Acara ini menjadi momentum penting bagi keluarga besar SMK PGRI Rogojampi, karena untuk pertama kalinya lembaga ini membentuk PC Khusus PGRI secara mandiri.

    Konferensi berlangsung dalam suasana hangat, tertib, serta mencerminkan komitmen kuat untuk memperkuat organisasi profesi guru di tingkat sekolah.

    Konferensi PC Khusus PGRI Rogojampi turut dihadiri oleh Ketua PGRI Banyuwangi, Sudarman, S.Pd., M.Si., beserta perwakilan dari PC PGRI Rogojampi.

    Kehadiran para tokoh tersebut memberikan dukungan moral sekaligus penguatan regulasi terhadap rencana pembentukan PC Khusus di SMK PGRI Rogojampi.

    Dalam sambutannya, Sudarman menjelaskan bahwa salah satu syarat pembentukan PC Khusus PGRI adalah adanya minimal 20 anggota aktif di satu instansi atau lembaga pendidikan.

    Sementara itu, SMK PGRI Rogojampi menunjukkan kesiapan yang sangat baik dengan jumlah anggota lebih dari 70 orang.

    Konferensi Pengurus Cabang Khusus PGRI di SMK PGRI Rogojampi

    Jumlah tersebut tidak hanya memenuhi aturan, tetapi juga menunjukkan antusiasme besar para guru dan karyawan untuk terlibat aktif dalam organisasi.

    Lebih lanjut, Sudarman menyampaikan apresiasinya terhadap kekompakan para pendidik di SMK PGRI Rogojampi.

    “Keberhasilan penyelenggaraan konferensi ini merupakan buah dari komunikasi dan koordinasi yang intens antara Ketua PC PGRI Rogojampi dengan perwakilan calon pengurus PC Khusus di sekolah,” terangnya.

    Sinergi yang terbangun ini diharapkan dapat menjadi landasan kuat dalam memperkokoh peran PGRI sebagai wadah profesionalitas dan kesejahteraan guru di wilayah Rogojampi.

    Dalam proses konferensi, seluruh peserta melalui rangkaian sidang pemilihan sesuai tata tertib yang berlaku.

    Pada akhir sidang, forum secara mufakat menetapkan H. Danang Bagiono, S.Si. sebagai Ketua PC Khusus PGRI Rogojampi periode 2025–2030.

    Selain itu, konferensi juga menetapkan empat pengurus harian serta menunjuk 14 koordinator bidang yang akan mengelola berbagai program, mulai dari peningkatan mutu profesi, advokasi, organisasi, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

    Sebagai ketua terpilih sekaligus Kepala SMK PGRI Rogojampi, H. Danang Bagiono, S.Si dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas amanah yang diberikan.

    Ia menekankan bahwa keberadaan PC Khusus PGRI di sekolah bukan hanya sebagai pelengkap struktur organisasi, tetapi sebagai wadah bagi guru untuk bertumbuh, berkolaborasi, dan menguatkan kompetensi dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

    “PC Khusus ini adalah ruang bagi guru untuk tumbuh bersama. Kita tidak hanya bekerja, tetapi saling menguatkan agar mampu menjawab tuntutan pendidikan yang semakin kompleks,” ujarnya.

    Ia berharap seluruh pengurus yang berjumlah 19 orang dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, loyalitas, dan komitmen tinggi demi kemajuan PGRI di wilayah Rogojampi.

    Lebih jauh, Danang menekankan pentingnya kolaborasi antarpengurus. Menurutnya, organisasi yang besar membutuhkan kerja sama yang solid dan komunikasi yang baik.

    “Tidak ada program besar yang bisa berhasil tanpa kolaborasi. Kita harus solid, transparan, dan saling mendukung, karena itulah kunci kekuatan sebuah organisasi guru,” tandasnya.

    Lima tahun masa bakti ke depan akan menjadi periode yang penuh tantangan, di mana PGRI dituntut mampu menjawab berbagai isu profesionalitas guru, kurikulum, hingga peningkatan kualitas pembelajaran.

    Dengan semangat solidaritas yang tinggi, para pengurus PC Khusus PGRI Rogojampi menyatakan komitmennya untuk menjalankan tugas seoptimal mungkin.

    Mereka siap bersinergi, berinovasi, serta menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi guru dan sekolah.

    Konferensi ini tidak hanya menjadi awal perjalanan organisasi baru, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan baru bagi para pendidik di SMK PGRI Rogojampi.

  • Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Gramedia Serpong Berbagi Perlengkapan Sekolah untuk Anak Yatim dan Dhuafa

    Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Gramedia Serpong Berbagi Perlengkapan Sekolah untuk Anak Yatim dan Dhuafa

    Sebanyak 154 anak yatim dan dhuafa dari wilayah Tangerang dan Tangerang Selatan mendapat bantuan perlengkapan sekolah dalam kegiatan bertajuk Penyaluran Donasi Perlengkapan Sekolah yang digelar di Gramedia Summarecon Mall Serpong (SMS), Rabu (5/11).

    Acara yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Gramedia Serpong (Region D) tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap pendidikan dan literasi anak-anak Indonesia.

    Melalui pembagian school kit, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap dunia baca tulis sejak dini.

    Perwakilan Partnership Dompet Dhuafa, Diana Rahma, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan Gramedia yang terus konsisten berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

    “Kami berterima kasih kepada Gramedia yang telah menjadi mitra baik Dompet Dhuafa dalam menebar manfaat. Semoga bantuan perlengkapan sekolah ini menjadi penyemangat bagi adik-adik untuk terus belajar dan mengejar cita-cita,” ujarnya.

    Sementara itu, Sulton, perwakilan Manajemen Summarecon Mall Serpong, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud komitmen Gramedia dalam mendukung kemajuan pendidikan nasional.

    “Setiap anak memiliki hak untuk belajar dan berkembang. Kami berharap bantuan ini bisa memotivasi mereka agar terus berprestasi,” katanya.

    Selama kegiatan berlangsung, suasana di area Gramedia SMS dipenuhi tawa dan antusiasme anak-anak. Beragam permainan interaktif yang dipandu tim Dompet Dhuafa dan Gramedia membuat acara semakin hangat dan menyenangkan.

    Momen paling dinanti terjadi saat pembagian paket perlengkapan sekolah berupa tas, buku, dan alat tulis dilakukan. Senyum lebar menghiasi wajah anak-anak penerima manfaat.

    Tak hanya perlengkapan sekolah, tim Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa juga turut memberikan uang saku sebagai dukungan tambahan agar anak-anak semakin bersemangat menuntut ilmu.

    Melalui kegiatan ini, Dompet Dhuafa dan Gramedia berharap sinergi yang telah terjalin dapat terus berlanjut, menjangkau lebih banyak penerima manfaat di seluruh Indonesia.

    “Kami berharap kolaborasi ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan lebih banyak program pemberdayaan dan literasi bagi masyarakat,” tutup Diana.

    Sumber: kbknews

  • Inspiratif, MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember Luncurkan Mobil Literasi dan Gelar LKBB

    Inspiratif, MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember Luncurkan Mobil Literasi dan Gelar LKBB

    MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember menggelar kegiatan peluncuran Mobil Literasi dan pembukaan Lomba Kreativitas Baris Berbaris (LKBB) di halaman asrama putri Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Senin (27/10/2025).

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 1447 H.

    Acara diawali dengan penampilan nasyid Firqatul Insyad Az Zahra yang membawakan mahallul qiyam, dilanjutkan pembacaan orasi ilmiah salah satu pengasuh, Ustaz Jamaluddin.

    Dalam paparannya, Ustaz Jamaluddin menekankan pentingnya budaya literasi di lingkungan pesantren sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam.

    “Literasi adalah cahaya yang menerangi jalan panjang kehidupan, dari huruf menuju hikmah,” ujarnya.

    Peluncuran Mobil Literasi dan pembukaan LKBB secara resmi dilakukan oleh KH. Yazid Karimullah.

    Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa gerakan literasi merupakan bagian dari semangat Iqra’ warabbuka al-akram; bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.

    “Inilah bagian dari sunnatullah dalam menegakkan ilmu dan adab,” tuturnya.

    KH. Yazid Karimullahjuga berpesan agar para santri terus menumbuhkan semangat belajar dan berprestasi di berbagai bidang.

    “Jadilah pemuda yang kakinya menapaki bumi, namun cita-citanya setinggi bintang di langit,” pesannya.

    Dalam kesempatan tersebut, KH. Yazid Karimullah menegaskan pentingnya sinergi antarunit pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Qarnain, khususnya antara MA Nurul Qarnain dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain.

    Ia juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat lembaga tersebut akan bertransformasi menjadi Institut KH. Yazid Karimullah (INSYAKA).

    Peluncuran Mobil Literasi ini diharapkan dapat memperkuat budaya membaca dan menulis di lingkungan pesantren serta menjadi sarana pembinaan literasi bagi para santri.

  • Cegah Kekerasan Sejak Dini, Koppiwangi dan YPKAP Gelar Sosialisasi Anti-Bullying di SDN 5 Lateng

    Cegah Kekerasan Sejak Dini, Koppiwangi dan YPKAP Gelar Sosialisasi Anti-Bullying di SDN 5 Lateng

    Koppiwangi, sebuah organisasi yang fokus pada peningkatan pendidikan dan kesejahteraan anak di Banyuwangi, kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan.

    Kali ini, Koppiwangi menggelar kegiatan sosialisasi anti-bullying di SDN 5 Lateng, Jumat, (24/10) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan pemahaman siswa tentang bahaya tindakan perundungan serta cara mencegahnya sejak dini.

    Kegiatan yang berlangsung dengan penuh antusias ini turut menggandeng Yayasan Perlindungan Konsumen dan Advokasi Publik (YPKAP) yang diketuai oleh Alex Budi Setyawan, S.H., M.H.

    Para aktivis YPKAP bersama tim Koppiwangi menyampaikan materi edukatif seputar jenis-jenis bullying, dampak psikologis maupun sosial yang dapat ditimbulkan, serta langkah-langkah strategis dalam pencegahan dan penanganan kasus perundungan di lingkungan sekolah.

    Sosialisasi Koppiwangi

    Dalam sesi interaktif, siswa juga diajak untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman seputar pertemanan dan sikap saling menghargai antar teman.

    Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan empati serta membangun kesadaran bahwa bullying bukanlah hal sepele, melainkan perilaku yang dapat merusak masa depan seseorang.

    Ketua Koppiwangi, H. Mujiono, S.H., menjelaskan bahwa program ini merupakan lanjutan dari kegiatan serupa yang sebelumnya sukses dilaksanakan di SDN 1 Kemiren.

    Pihaknya berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan kegiatan ke sekolah-sekolah lain di Banyuwangi agar semakin banyak siswa yang mendapatkan edukasi terkait pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.

    “Kami ingin anak-anak Banyuwangi tumbuh dengan rasa aman, tanpa takut diintimidasi atau diremehkan. Melalui kegiatan ini, kami juga ingin membentuk karakter siswa yang berjiwa sosial, peduli terhadap sesama, dan berani menolak segala bentuk kekerasan,” ujar Mujiono.

    Sementara itu, Kepala SDN 5 Lateng, Rustamaji, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas kehadiran Koppiwangi dan YPKAP di sekolahnya.

    Ia berharap kegiatan positif semacam ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat berlanjut dengan program-program lanjutan yang mampu memperkuat karakter siswa dan mempererat hubungan antar warga sekolah.

    “Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan dukungan dari Koppiwangi serta YPKAP. Kegiatan seperti ini sangat penting bagi kami dalam membangun budaya sekolah yang sehat, aman, dan saling menghormati. Semoga ke depan, kegiatan ini bisa berkesinambungan,” ungkapnya.

    Melalui kegiatan ini, Koppiwangi menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai mitra strategis dunia pendidikan, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan. (MZN)