Tag: Pengabdian Masyarakat

  • Tingkatkan Literasi Sains Siswa, Dosen dan Mahasiswa Universitas Negeri Malang Gelar Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Daun Mangga di SDN Jarangan 1

    Tingkatkan Literasi Sains Siswa, Dosen dan Mahasiswa Universitas Negeri Malang Gelar Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Daun Mangga di SDN Jarangan 1

    Pembelajaran sains tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas.

    Melalui pemanfaatan potensi alam yang ada di sekitar lingkungan sekolah, dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi siswa SDN Jarangan 1, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.

    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Peningkatan Literasi Sains Siswa SDN Jarangan 1 melalui Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Daun Mangga (Mangifera indica L.)” menjadi bukti nyata bahwa sains dapat dipelajari secara kontekstual melalui praktik langsung yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Kegiatan yang diselenggarakan pada Kamis, 16 Juli 2026 ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik sekaligus mengenalkan pemanfaatan tanaman lokal sebagai produk herbal bernilai tambah.

    Daun mangga yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah pekarangan diperkenalkan sebagai bahan baku teh herbal yang memiliki potensi manfaat bagi kesehatan apabila diolah dengan benar.

    Melalui pendekatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dipelajari melalui buku, tetapi juga melalui proses mengamati, mencoba, menganalisis, dan menarik kesimpulan berdasarkan fenomena yang mereka temui di lingkungan sekitar.

    pengabdian mahasiswa um di sd 1 jarangan

    Kegiatan ini diketuai oleh Dr. Frida Kunti Setiowati, S.T., M.Si. dengan anggota Dr. Sofia Ery Rahayu, S.Pd., M.Si., Dr. Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si., Dra. Hj. Nursasi Handayani, M.Si., Dr. Siti Imroatul Maslikha, S.Si., M.Si., Agung Witjoro, S.Pd., M.Kes., Stevanus Purbadirja, dan Talita Dwi Ardiningrum.

    Tim pengabdian memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna dengan memanfaatkan permasalahan dan potensi yang ada di lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

    Menurut Stevanus Purbadirja, kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan melalui pemanfaatan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

    “Ini merupakan langkah siswa untuk menghadapi tantangan di Era Globaliasi dan perkembangan di era 5.0, ini juga merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan bahan yang ada disekitar kita menjadi nilai guna,” ujar Stevanus Purbadirja (17/07).

    Sejak kegiatan dimulai, suasana belajar tampak hidup dan penuh antusiasme. Para siswa mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

    Diawali dengan pengenalan tanaman mangga beserta kandungan senyawa alaminya, peserta kemudian mempelajari manfaat daun mangga, prinsip pengolahan pangan herbal, hingga pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan pangan selama proses produksi.

    Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi, demonstrasi, permainan edukatif, serta tanya jawab sehingga mampu membangun keterlibatan aktif seluruh peserta.

    Puncak kegiatan berlangsung ketika siswa mempraktikkan secara langsung proses pembuatan teh herbal daun mangga. Dengan pendampingan dosen dan mahasiswa UM, peserta belajar memilih daun yang tepat, melakukan pencucian, pelayuan, penggulungan (rolling), pengeringan, hingga proses pengemasan sederhana.

    mahasiswa um di sd 1 jarangan

    Setiap tahapan tidak hanya mengajarkan keterampilan praktis, tetapi juga memperkenalkan konsep-konsep ilmiah seperti perubahan fisika dan kimia, pengaruh suhu terhadap kadar air, pentingnya sanitasi, serta teknik pengawetan bahan pangan.

    Melalui pengalaman tersebut, siswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan teori sains dengan penerapannya dalam kehidupan nyata.

    Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan karakter ilmiah pada peserta didik.

    Siswa dilatih untuk mengamati secara teliti, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, bekerja sama dalam kelompok, serta menyampaikan hasil pengamatannya.

    Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sebagai bagian dari kompetensi abad ke-21 yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan saat ini.

    Ketua tim pengabdian, Dr. Frida Kunti Setiowati, S.T., M.Si., menyampaikan bahwa pemanfaatan daun mangga dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, memiliki nilai ekonomis, serta menyimpan potensi sebagai bahan pangan fungsional.

    “Pemanfaatan daun mangga dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, memiliki nilai ekonomis, serta menyimpan potensi sebagai bahan pangan fungsional. Melalui inovasi sederhana ini, siswa diperkenalkan pada konsep hilirisasi hasil alam sejak usia dini sehingga mereka memahami bahwa sumber daya di sekitar dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi, dan ramah lingkungan apabila didukung oleh pengetahuan sains dan kreativitas,” ujar Dr. Frida Kunti Setiowati (17/07).

    Kepala SDN Jarangan 1, Suhartiwiningsih, S.Pd.SD., menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut.

    Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar memberikan pengalaman belajar baru yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

    Pembelajaran yang memadukan teori dan praktik dinilai lebih efektif dalam menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus memperkuat pemahaman konsep-konsep sains.

    Kehadiran dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Malang juga menjadi inspirasi bagi peserta didik untuk terus semangat belajar dan bercita-cita melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

    “Ini merupakan momentum yang Istimewa bagi SDN Jarangan 1, bisa diatangai oleh Bapak/Ibu Dosen Universitas Negeri Malang, serta kita memperoleh Ilmu Baru untuk keberlanjutan,” ujarnya (18/07).

    Bagi Universitas Negeri Malang, kegiatan ini merupakan bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat.

    Dosen dan mahasiswa tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun kemitraan dengan sekolah dalam menciptakan pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berkelanjutan.

    Melalui kolaborasi tersebut, hasil-hasil kajian akademik dapat diterapkan secara langsung sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar.

    Pelatihan pembuatan teh herbal daun mangga di SDN Jarangan 1 menjadi bukti bahwa literasi sains dapat ditumbuhkan melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

    Dengan mengintegrasikan potensi lokal, pembelajaran berbasis praktik, dan pendampingan dari perguruan tinggi, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami konsep sains, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

    Dari selembar daun mangga, lahir semangat baru untuk belajar, berinovasi, dan membangun masa depan melalui sains. (IZ.Fathma Agmadina/AWN)

  • Mahasiswa UM Sulap Daun Mangga Jadi Teh Herbal Sehat, Warga RW 15 Lowokwaru Antusias Ikuti Pelatihan

    Mahasiswa UM Sulap Daun Mangga Jadi Teh Herbal Sehat, Warga RW 15 Lowokwaru Antusias Ikuti Pelatihan

    Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) melalui mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang dibimbing oleh Dr. Ajeng Putri Pratiwi, M.Pd., sukses menggelar pelatihan produksi teh daun mangga di RW 15 Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang.

    Kegiatan ini menarik perhatian warga karena menghadirkan solusi kesehatan berbasis bahan alami sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif yang menjanjikan.

    Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut diketuai oleh Stevanus Purbadirja dari Departemen Biologi bersama tim mahasiswa lintas program studi Universitas Negeri Malang.

    Tim tersebut terdiri atas Talita Armitya Fahrsya Suhadi dari Departemen Matematika, Jalilatul Hikmah dan Rahel Andini Dwi Sasmita dari Departemen Biologi, serta Louis Giatra dari Departemen Teknik Industri.

    pengabdian masyarakat Mahasiswa Universitas Negeri Malang

    Melalui semangat kolaborasi dan kepedulian sosial, tim mahasiswa menghadirkan pelatihan inovatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat sekaligus pemanfaatan sumber daya lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

    Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat pun mendapat apresiasi positif dari warga setempat.

    Ketua PKK RW 15, Ibu Iin, menyampaikan apresiasinya saat memberikan sambutan pada Sabtu (10/05).

    “Ini merupakan inovasi baru dan menarik sehingga ibu-ibu semuanya yang hadir bisa mengikuti dan mengimplementasikannya di lingkungan kita,” ujarnya.

    Pelatihan tersebut mengusung konsep pemanfaatan daun mangga sebagai bahan minuman herbal yang kaya antioksidan.

    Selama ini, daun mangga kerap dianggap sebagai limbah yang kurang bernilai.

    Namun, di tangan mahasiswa UM, daun mangga diolah menjadi teh sehat dengan cita rasa khas dan manfaat yang baik bagi tubuh.

    Daun mangga diketahui mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, mangiferin, dan polifenol yang dipercaya dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.

    Kandungan tersebut juga berpotensi menjadikan teh daun mangga sebagai alternatif minuman herbal preventif di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat.

    Kegiatan berlangsung meriah dan mendapat sambutan hangat dari warga RW 15 Lowokwaru.

    Puluhan peserta yang terdiri atas ibu rumah tangga hingga pelaku UMKM lokal tampak antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan, mulai dari pemilihan daun mangga berkualitas hingga teknik penyeduhan dan pengemasan produk agar memiliki nilai jual tinggi.

    Tidak sedikit warga yang mengaku baru mengetahui bahwa daun mangga dapat diolah menjadi produk herbal yang menarik dan berpotensi dipasarkan.

    “Saya kira daun mangga hanya sekadar daun biasa, ternyata bisa dijadikan teh. Ini inovasi yang baru dan keren, dan pelatihan ini bermanfaat karena membuka pengetahuan baru bagi warga,” ujar Ibu Ulla, Ketua RT 04/RW 15, dalam wawancara pada Sabtu (10/05).

    Pengabdian masyarakat Mahasiswa Universitas Negeri Malang

    Pendapat serupa juga disampaikan Ketua PKK RW 15 Lowokwaru yang mengapresiasi kreativitas mahasiswa UM dalam menghadirkan program inovatif yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

    “Kegiatan ini sangat positif karena tidak hanya memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama warga RW 15. Kegiatan ini sangat diapresiasi oleh warga, terlihat dari antusiasme peserta yang hadir, di mana setiap RT memiliki perwakilan untuk mengikuti kegiatan,” terangnya.

    Sementara itu, Stevanus Purbadirja selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata implementasi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui aksi sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    “Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi kreatif yang bermanfaat bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat secara langsung, sesuai dengan program UM saat ini yang harus berdampak dan beraksi nyata,” jelasnya.

    Suasana pelatihan semakin hidup ketika peserta mencoba langsung hasil seduhan teh daun mangga yang telah dibuat bersama. Aroma khas dan rasa unik dari teh tersebut membuat banyak warga tertarik untuk mengembangkan produk secara mandiri.

    Bahkan, beberapa peserta mulai berdiskusi mengenai peluang pemasaran produk melalui media sosial dan kemungkinan menjadikannya sebagai produk unggulan yang dapat dikembangkan di RW 15.

    Program ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi melalui inovasi berbasis sumber daya lokal.

    Kehadiran mahasiswa UM di tengah masyarakat membuktikan bahwa generasi muda tidak hanya berperan sebagai pelajar di ruang kelas, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan ide kreatif dan solusi nyata bagi lingkungan sekitar.

  • DPD BKPRMI Banyuwangi Gelar Bakti Sosial Kesehatan di Desa Gintangan, Dorong Layanan Preventif Berbasis Komunitas

    DPD BKPRMI Banyuwangi Gelar Bakti Sosial Kesehatan di Desa Gintangan, Dorong Layanan Preventif Berbasis Komunitas

    sastrawacana.id/ — DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

    Melalui Lembaga Kesehatan Masyarakat (LKM) BKPRMI, organisasi kepemudaan berbasis masjid tersebut menggelar Bakti Sosial (Baksos) Kesehatan Masyarakat di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Sabtu (31/1/2026).

    Kegiatan yang dikoordinatori oleh Bd. Diah Fitrianingsih, S.Keb., M.Kes., CH., ini dirancang sebagai program rutin mingguan yang akan dilaksanakan secara bergilir di berbagai desa dan kecamatan di Banyuwangi.

    Program tersebut bertujuan memperluas akses layanan kesehatan preventif yang mudah dijangkau masyarakat.

    Sejak pukul 14.00 WIB, warga terlihat antusias mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis serta terapi akupunktur.

    Selain tim LKM BKPRMI Banyuwangi, kegiatan ini melibatkan sembilan terapis profesional akupuntur Banyuwangi.

    Brigade DPD BKPRMI juga diterjunkan untuk membantu pengaturan kegiatan agar berlangsung tertib.

    Sebelum menjalani terapi akupunktur, setiap peserta terlebih dahulu diperiksa tekanan darahnya untuk memastikan kondisi tubuh dalam keadaan aman.

    Terapi kemudian dilakukan dengan metode penusukan jarum pada titik-titik tertentu, disesuaikan dengan keluhan masing-masing peserta.

    Sejumlah warga mengaku merasakan manfaat langsung dari terapi tersebut. Salah satu peserta yang sebelumnya mengalami nyeri pada kaki saat sujud menyebut keluhannya berangsur hilang setelah menjalani akupunktur.

    Peserta lain yang sempat memiliki tekanan darah 149/108 mmHg mengalami penurunan menjadi 140/100 mmHg usai terapi.

    “Alhamdulillah, setelah diterapi, tekanan darah saya turun dan badan terasa lebih ringan,” ujar salah satu warga.

    Salah seorang terapis menjelaskan bahwa akupunktur merupakan metode penyembuhan non-obat yang efektif untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan, selama dilakukan secara tepat dan profesional.

    Kegiatan ini turut mendapat dukungan pemerintah desa setempat. Kepala Desa Gintangan hadir dan ikut menjalani terapi akupunktur untuk mengatasi nyeri pada kedua kakinya.

    Usai terapi, ia mengaku kondisi kakinya terasa lebih nyaman untuk digerakkan.

    Di stan pemeriksaan kesehatan, para ibu rumah tangga memanfaatkan layanan cek kesehatan sekaligus konsultasi pola hidup sehat.

    Dengan pendekatan komunikatif, Bd. Diah Fitrianingsih memberikan edukasi kesehatan secara langsung kepada warga. Masyarakat menyambut baik kegiatan tersebut, terlebih karena seluruh layanan diberikan secara gratis.

    Terpisah, Ketua Umum DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, H. Mujiono, menyampaikan bahwa program bakti sosial kesehatan ini merupakan bagian dari misi BKPRMI dalam menghadirkan peran masjid sebagai pusat pemberdayaan umat, tidak hanya di bidang spiritual, tetapi juga sosial dan kesehatan.

    “Melalui LKM BKPRMI, kami mendorong gerakan sadar sehat berbasis komunitas agar masyarakat tidak hanya berobat saat sakit, tetapi juga menjaga kesehatan sejak dini,” ujar H. Mujiono.

    Bakti sosial kesehatan ini berakhir sekitar pukul 16.30 WIB. Panitia dan tim terapis berpamitan dengan harapan dapat kembali menggelar kegiatan serupa di wilayah lain.

    Melalui program ini, DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi berharap dapat membangun model pelayanan kesehatan komunitas yang berkelanjutan dan berdampak langsung, khususnya bagi masyarakat pedesaan.

    Organisasi ini juga mengajak pemerintah desa, komunitas lokal, dan masyarakat luas untuk mendukung serta berpartisipasi aktif dalam agenda kesehatan LKM BKPRMI ke depan.

    Informasi jadwal dan lokasi kegiatan selanjutnya dapat diakses melalui kanal resmi DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi.

  • Pemerintah Desa Pondoknongko dan UPN Veteran Jatim Jalin Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    Pemerintah Desa Pondoknongko dan UPN Veteran Jatim Jalin Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    Sebanyak 21 mahasiswa Program Studi S1 Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur melaksanakan Kuliah Lapangan Dialektologi di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi pada Kamis (23/10).

    Kegiatan ini bertujuan untuk meneliti dan mendalami bahasa Using, bahasa tutur khas masyarakat Banyuwangi yang menjadi bagian penting dari kekayaan linguistik Nusantara.

    Acara pembukaan berlangsung di pendopo kantor desa, dihadiri oleh Ketua Program Studi Pendidikan, Dr. Endang Sholihatin, S.Pd., M.Pd., serta dua dosen pembimbing, Dwika Muzakky Anan Taturia, M.Hum., dan Nisa Hanum Mufida, M.Hum.

    Turut hadir pula Kasi PMK Kecamatan Kabat, Sahroni, S.T., Mujalis, perangkat desa, dan beberapa warga yang akan menjadi narasumber penelitian di wilayah Pondoknongko.

    Antusiasme masyarakat tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Warga merasa bangga karena bahasa yang mereka gunakan sehari-hari menjadi objek kajian ilmiah yang dapat memperkaya khazanah linguistik Indonesia.

    Kepala Desa Pondoknongko, Hamdan Ramahurmuzi, S.T., dalam sambutannya menyampaikan rasa haru dan bangga atas kedatangan mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur.

    Ia menyebut kegiatan ini memiliki makna pribadi karena dirinya merupakan alumnus kampus yang sama, angkatan 1996 jurusan Teknik Industri.

    Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    “Saya dulu angkatan 96 dari jurusan Teknik Industri. Kedatangan adik-adik mahasiswa ini benar-benar membawa kenangan dan kebanggaan tersendiri,” ujarnya.

    Hamdan berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat bagi warga desa serta memperkaya penelitian tentang bahasa Using.

    “Semoga kolaborasi ini membawa manfaat bagi warga desa serta memperkaya penelitian tentang bahasa Using,” imbuhnya.

    Bahasa Using sendiri dikenal sebagai identitas budaya masyarakat Banyuwangi yang memiliki struktur dan ciri khas tersendiri.

    Melalui kuliah lapangan ini, para mahasiswa berkesempatan mendalami karakter bahasa yang lahir dari sejarah panjang dan kehidupan masyarakat pesisir timur Jawa.

    Selain menggali aspek linguistik, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat.

    Bagi mahasiswa, pengalaman langsung di lapangan menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana bahasa hidup dan berkembang di tengah budaya lokal.

    Dari Desa Pondoknongko, semangat pelestarian bahasa daerah kembali digaungkan. Menjaga bahasa tidak sekadar melestarikan kata, tetapi juga merawat jati diri, budaya, dan ingatan kolektif bangsa.

  • Mahasiswa Psikologi UMM Gelar Tiga Program Pengabdian Masyarakat di Rogojampi

    Mahasiswa Psikologi UMM Gelar Tiga Program Pengabdian Masyarakat di Rogojampi

    Sejumlah program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) digelar di wilayah Rogojampi oleh mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

    Kegiatan ini mencakup edukasi kesehatan reproduksi untuk pelajar, dukungan digitalisasi bagi pelaku UMKM, hingga pelatihan keterampilan kreatif bagi ibu-ibu PKK.

    Keempat mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yakni; Sekarlangit Cahayaningtyas Syaifalanuada Timur Rahman, Wahyu Dwi Pangestu, Cindy Vanellia Agustin, dan Muhammad Cholis. Mereka berasal dari daerah Jawa dan luar Jawa.

    Program pertama berfokus pada pendidikan seksual yang diberikan sesuai jenjang usia, mulai dari PAUD hingga SMK.

    Materi mencakup pengenalan organ reproduksi, masa pubertas, pencegahan pernikahan dini, hingga pemahaman tentang hubungan sehat di masa muda.

    Edukasi ini dilaksanakan di enam sekolah dengan jadwal berbeda, yakni PAUD Mutiara Rogojampi /PKBM Koppat (29 Juli), SDN 2 Rogojampi (26 Juli), SDN 4 Rogojampi (28 Juli), SMPN 3 Rogojampi (30–31 Juli), dan SMK PGRI Rogojampi (7 Agustus).

    Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
    Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (Dok. sastrawacana.id/)

    Metode yang digunakan meliputi presentasi interaktif, pemutaran film pendek, diskusi, permainan edukatif, hingga sesi tanya jawab.

    Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman pelajar mengenai pendidikan seksual yang aman, sehat, dan sesuai perkembangan usia.

    Program kedua menyasar sektor ekonomi lokal dengan pemberdayaan UMKM Desa Rogojampi.

    Kegiatan yang berlangsung pada 31 Juli – 5 Agustus 2025 ini menawarkan bantuan pembuatan QRIS untuk transaksi digital dan pembuatan buku menu bagi para UMKM.

    Mahasiswa PMM mendatangi langsung lokasi usaha, membantu menjembatani proses pembuatan QRIS pada pihak Bank, dan mendesain buku menu sesuai kebutuhan.

    Dari insisiatif tersebut, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi transaksi serta memperkuat daya tarik usaha melalui media promosi yang rapi.

    Program ketiga adalah workshop meronce bersama ibu-ibu PKK Desa Rogojampi pada 10 Agustus di Balai Desa yang ada relief sejarah Banyuwangi.

    Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan kreatif yang bisa dimanfaatkan sebagai hobi, dekorasi rumah, atau peluang usaha.

    Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang di Rogojampi

    Peserta mendapatkan arahan teknik dasar, kesempatan praktik langsung, dan pendampingan hingga menghasilkan karya mandiri.

    Fahmi Dwi Mawardi, SE., M.S.A., CRSR. selaku dosen pembimbing juga menyampaikan, "Melalui tiga rangkaian program tersebut, bagaimana mahasiswa melalui program PMM berupaya mendorong peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan perekonomian masyarakat Rogojampi secara berkelanjutan!"

    Sekar dan tim PMM pada media ini berharap, "Kiprah pengabdian seperti ini, bisa berdampak secara nyata, berkelanjutan dan kami belajar menjiwai denyut nadi ragam lintas sosial sebagai bekal terjun ke masyarakat usai diwisuda kelak!" tutur perempuan asal Mataram NTB ini yang di Rogojampi sembari sambang kakek nenek dan saudara dari ayahnya Fathurahman,SH yang pendiri Teater REGES Rogojampi.

    Penulis: Bung Aguk/Yeti Chotimah

  • Tanam Ribuan Pohon di Hulu Brantas, UNAIR dan 4 PTN-BH Galang Aksi Konservasi Air

    Tanam Ribuan Pohon di Hulu Brantas, UNAIR dan 4 PTN-BH Galang Aksi Konservasi Air

    Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis air bersih dan dampak perubahan iklim, Universitas Airlangga (UNAIR) menggandeng empat Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) di Jawa Timur untuk melakukan aksi konservasi di hulu Sungai Brantas.

    Kegiatan penanaman pohon yang berlangsung pada Sabtu (26/7/2027) di Arboretum Sumber Brantas, Kota Batu, melibatkan Universitas Brawijaya (UB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan Universitas Negeri Malang (UM).

    Aksi ini merupakan bentuk nyata pengabdian masyarakat (pengmas) yang diprakarsai UNAIR melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) serta SDGs Center, bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, Perum Jasa Tirta I, dan PDAM Surya Sembada Kota Surabaya.

    Ketua LPPM UNAIR, Prof. Dr. Gadis Meinar Sari, menyebutkan bahwa penanaman pohon ini adalah langkah awal dari program jangka panjang yang bertujuan menjaga keberlanjutan sumber air di Jawa Timur.

    Menurutnya, Sungai Brantas adalah urat nadi kehidupan masyarakat di wilayah tersebut dan pengelolaannya tidak bisa dilakukan secara parsial.

    “Jawa Timur masih punya banyak permasalahan yang butuh diselesaikan bersama, salah satunya adalah pengelolaan Sungai Brantas, dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

    Prof. Gadis menekankan bahwa pengabdian masyarakat tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolis. Kolaborasi ini diharapkan membuka pintu bagi sinergi lintas bidang, mulai dari sosial humaniora, teknologi, ekonomi, hingga kesehatan.

    “Keberhasilan itu tidak bisa kita nikmati jika tidak semua elemen dilibatkan. Sedekah paling besar adalah air,” tambahnya.

    Ia berharap, semangat gotong royong yang muncul dalam aksi ini bisa menggerakkan lebih banyak pihak untuk terlibat dalam pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

    Agung Nugroho, Kepala Divisi di Perum Jasa Tirta I, menjelaskan bahwa Arboretum Sumber Brantas di Bumiaji bukanlah kawasan wisata, melainkan area konservasi yang berfungsi vital dalam menjaga ketersediaan air baku.

    Ia berharap kegiatan penanaman pohon ini akan membantu meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan serta meminimalisasi risiko banjir.

    Dalam jangka panjang, langkah ini akan menjaga kontinuitas aliran air ke hilir. Ia juga membuka peluang bagi kegiatan riset di kawasan arboretum dengan tetap menjaga fungsi konservatifnya.

    “Kawasan ini digunakan khusus untuk kegiatan konservasi dan tidak dibuka untuk umum atau wisata. Harapannya bisa menjaga kawasan arboritum. Jika ada yg mau penelitian disini juga diperbolehkan,” harapnya.

    Kepedulian serupa juga disuarakan oleh Direktur Operasi Perumda Air Minum Surya Sembada Surabaya, Nanang Widyatmoko.

    Ia menegaskan bahwa 93 persen kebutuhan air minum warga Surabaya bersumber dari Sungai Brantas. Karena itu, menjaga hulu sungai merupakan prioritas utama.

    Jika terjadi kerusakan atau gangguan, maka Surabaya bisa lumpuh. Apalagi dengan adanya perubahan iklim, pola hujan berubah, bendungan-bendungan mulai kekurangan stok air, dan kualitas air pun terancam karena limbah,” paparnya.

    Nanang menyambut baik keterlibatan kampus dalam isu-isu strategis seperti ini. Ia berharap, bentuk pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi bisa diarahkan untuk menjawab persoalan riil yang dihadapi penyedia layanan air, terutama di daerah yang kekurangan kapasitas teknis.

    “Air adalah shodaqoh terbaik. Dengan gotong royong, kita bisa memastikan air tetap mengalir untuk semua,” tandasnya.

    Aksi tanam pohon ini merupakan awal dari rangkaian program konservasi terpadu yang akan terus bergulir.

    LPPM dan SDGs Center UNAIR telah menyiapkan rencana lanjutan di wilayah hilir Sungai Brantas yang akan digelar pada bulan September mendatang, berlokasi di Kota Surabaya.

    Program ini menandai babak baru dalam pengabdian masyarakat lintas institusi di Jawa Timur.

    Dengan melibatkan lima PTN-BH sekaligus, kegiatan ini bukan hanya simbol kolaborasi akademik, tetapi juga refleksi kepedulian terhadap masa depan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

    Sumber: Unair