Tag: prosa

  • Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Oleh: Andi Budi Setiawan

    Ruang kelas selalu menghadirkan wajah-wajah yang berbeda. Tidak hanya berbeda dalam kemampuan akademik, tetapi juga latar belakang keluarga, kondisi sosial, dan pengalaman hidup.

    Di tengah keragaman itulah seorang guru belajar memahami bahwa setiap perilaku peserta didik selalu memiliki cerita yang tidak tampak di permukaan.

    Saya pernah berhadapan dengan seorang siswa pindahan kelas XI, sebut saja Mawar. Pada semester awal, ia hadir sebagai sosok yang tenang, rajin, dan penuh semangat.

    Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menjadi pusat perhatian dalam rapat dewan guru beberapa bulan kemudian.

    Namun, memasuki semester kedua, perubahan itu mulai terlihat. Kehadiran berkurang, tugas tidak dikerjakan, nilai merosot, hingga akhirnya terancam tidak naik kelas.

    Sebagai guru matematika yang saat itu juga menjabat kepala sekolah, saya mencoba menelusuri akar persoalan.

    Bersama wali kelas dan guru BK, kami menemukan bahwa Mawar sedang menghadapi konflik berat di rumah.

    Pertengkaran orang tuanya yang terus-menerus membuatnya kehilangan arah. Ia tidak lagi menemukan ketenangan di rumah, dan sekolah menjadi pelampiasan.

    Dari sinilah sikap acuh, pembangkangan, hingga pergaulan yang salah mulai muncul.

    Sekolah tidak tinggal diam. Peringatan diberikan, pembinaan dilakukan, dan orang tua dipanggil berkali-kali.

    Bahkan tiga surat peringatan resmi telah dilayangkan. Namun perubahan yang diharapkan tidak kunjung datang.

    Dalam rapat dewan guru, dengan pertimbangan yang sangat berat, sekolah memutuskan mengembalikan Mawar kepada orang tuanya karena merasa seluruh upaya pembinaan telah maksimal.

    Keputusan itu justru menjadi titik balik. Mawar dan orang tuanya tersadar bahwa waktu yang tersisa sangat sempit.

    Ia sudah berada di kelas XII dan akan segera menghadapi ujian akhir. Pindah sekolah hampir mustahil, sementara masa depan pendidikannya dipertaruhkan. Orang tua Mawar kemudian mengajukan mediasi ke dinas pendidikan.

    Pertemuan di kantor dinas berlangsung panjang dan penuh pertimbangan. Pihak sekolah memaparkan seluruh proses pembinaan yang telah dilakukan.

    Dinas memahami langkah sekolah, namun melihat adanya itikad baik dari Mawar dan keluarganya, kesempatan terakhir pun diberikan.

    Dengan satu syarat tegas: kesalahan sekecil apa pun akan berakibat dikembalikannya Mawar kepada orang tuanya.

    Sejak saat itu perubahan nyata terlihat. Orang tuanya mulai hadir secara utuh dalam kehidupan Mawar.

    Mereka mengantar dan menjemput setiap hari, menempuh jarak sekitar 18 kilometer. Mawar pun menunjukkan kesungguhan.

    Ia kembali masuk kelas, mengerjakan tugas, dan menjauhi pergaulan yang sebelumnya menjerumuskannya.

    Kesempatan terakhir itu benar-benar menjadi pintu kesadaran. Mawar tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikannya dan memperoleh ijazah, tetapi juga memperlihatkan perubahan sikap yang signifikan.

    Ia menjadi lebih santun, bertanggung jawab, dan memiliki tujuan hidup yang jelas untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

    Kisah Mawar mengajarkan bahwa kenakalan peserta didik sering kali bukan semata-mata persoalan disiplin sekolah, melainkan cermin dari luka yang mereka bawa dari rumah.

    Ketika sekolah, keluarga, dan negara hadir bersama, pendidikan menemukan maknanya yang paling hakiki: menyelamatkan masa depan.

    Setiap anak bisa saja tersesat, tetapi tidak ada kata terlambat untuk kembali. Kesempatan untuk berubah adalah anugerah yang tidak datang dua kali.

    Dan bagi seorang pendidik, melihat seorang siswa bangkit dari keterpurukan adalah keberhasilan yang jauh melampaui angka-angka di rapor.

  • Mengenal Struktur Batin dan Struktur Fisik pada Puisi

    Pengertian Puisi

    Puisi adalah salah satu bentuk sastra yang ditulis dalam bentuk rangkaian kata-kata yang indah dan teratur.

    Puisi mengekspresikan perasaan, pemikiran, dan imajinasi penulis dengan cara yang kreatif dan bermakna.

    Biasanya, puisi memiliki struktur dan gaya bahasa yang khas, seperti penggunaan ritme, rima, dan metafora.

    Definisi puisi menurut Paul Valery merupakan sebuah seni yang didasarkan pada bahasa, namun puisi memiliki makna yang lebih umum yang sulit untuk menentukannya. Puisi juga bertujuan mengungkapkan keadaan pikiran tertentu.

    Sementara menurut KBBI, arti puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

    Baca juga: Kumpulan Puisi Cinta dan Rindu yang Bikin Pasanganmu Klepek-Klepek

    Ciri-Ciri Puisi

    Ciri-ciri puisi adalah sebagai berikut:

    1. Bahasa yang indah

    Puisi menggunakan kata-kata atau diksi yang kreatif dan estetis, sehingga menciptakan keindahan dalam susunan kata-katanya.

    2. Penuh emosi

    Puisi mengandung ekspresi emosi penulis, seperti cinta, kesedihan, kegembiraan, atau kebingungan. Puisi merupakan wadah untuk menyampaikan perasaan yang mendalam.

    3. Struktur yang khas

    Puisi memiliki struktur yang berbeda dengan tulisan prosa. Biasanya, puisi terdiri dari baris-baris pendek yang disusun dalam bait-bait atau stanza.

    4. Makna dalam makna

    Puisi seringkali mengandung makna ganda atau simbolik, yang mengajak pembaca untuk merenung dan memaknai isi dari setiap bait atau baris.

    5. Penggunaan ritme dan rima

    Beberapa puisi menggunakan ritme dan rima untuk menciptakan irama dan keharmonisan dalam pembacaan.

    6. Imajinatif

    Puisi dapat menggambarkan dunia dengan cara yang imajinatif dan tak terbatas, membebaskan penulis untuk berkreasi dalam menciptakan gambaran yang unik.

    Baca juga: Apa Arti Tanda VVV Pada Puisi? Simak Penjelasannya

    Struktur Puisi

    Sementara untuk strukturnya, puisi terdiri dari dua struktur pokok, yaitu struktur batin dan struktur fisik.

    1. Struktur Batin

    Struktur batin adalah sebuah unsur pembangun puisi yang tidak terlihat secara langsung dalam penulisan kata katanya. Struktur batin terdiri dari; tema, nada, rasa atau perasaan, dan amanat.

    Herman J. Waluyo 1996 (dalam Muntazir: 2016:32) menjelaskan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

    Sehingga pada dasarnya membaca puisi adalah upaya untuk melahirkan kontak lahir batin dengan puisi tersebut.

    Pembaca perlu menyelami isi puisi dengan pikiran dan perasaan untuk bisa menangkap apa makna sebenarnya dari puisi tersebut.

    Sebab, tak sedikit puisi yang “menyembunyikan makna” atau ambigu dibalik baris-baris kata yang indah.

    Baca juga: Apa Arti Pengimajinasian dalam Puisi dan Contohnya?

    2. Struktur Fisik Puisi

    Struktur fisik puisi atau terkadang disebut pula metode puisi merupakan sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi.

    Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.

    1. Perwajahan puisi (tipografi)

    Puisi berbentuk seperti halaman yang tanpa dipenuhi oleh kata-kata dan pengaturan baris.

    Bahkan, baris dalam puisi juga tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.

    Sehingga tipografi menjadi hal penting yang menentukan pemaknaan terhadap puisi.

    2. Diksi

    Diksi adalah pilihan kata digunakan oleh penulis dalam menulis puisi agar menjadi lebih indah.

    Dalam menggunakan diksi, penulis harus memperhatikan keselarasan bunyi, urutan kata, serta makna.

    Selain itu, diksi juga dapat mencerminkan gaya penulis dan memberikan karakteristik unik pada karya sastra atau tulisan.

    3. Imaji

    Susunan kata-kata untuk mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.

    Imaji sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil).

    Imaji dapat membuat pembaca seolah melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami oleh penyair.

    4. Kata konkret

    Kata yang dapat ditangkap dengan indera sehingga memungkinkan munculnya imaji pembaca.

    Kata-kata ini biasanya berhubungan dengan kiasan atau lambang, seperti “salju” yang melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup.

    Sedangkan kata kongkret “rawa” bisa melambangkan tempat yang kotor, tempat hidup, bumi.

    Baca juga: Puisi Rakyat: Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis dan Contohnya

    5. Bahasa figuratif

    Bahasa figuratif disebut juga sebagai majas, seperti metafora, plenoasme, simile, personifikasi, ironi, litotes, dan sebagainya.

    Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Herman J Waluyo, 1987:83).

    Bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128).

    6. Versifikasi

    Menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah pengulangan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi.

    Rima mencakup:

    1. Onomatope (tiruan terhadap bunyi)
    2. Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan sebagainya (Herman J Waluyo, 1987:92)
    3. Pengulangan kata/ungkapan.
  • Dari bentuknya, cerpen termasuk dalam karya sastra yang berupa?

    Dari bentuknya, cerpen termasuk dalam karya sastra yang berupa?

    Dari bentuknya, cerpen termasuk dalam karya sastra yang berupa prosa.

    Pembahasan

    Cerpen atau cerita pendek merupakan salah satu bentuk karya sastra yang populer di kalangan pembaca karena sifatnya yang ringkas, padat, dan mampu menghadirkan kisah lengkap dalam ruang yang terbatas.

    Dari segi bentuk, cerpen termasuk dalam karya sastra berupa prosa, yaitu karya sastra yang menggunakan bahasa sehari-hari dalam penyampaiannya, tanpa ikatan aturan seperti rima, ritma, atau jumlah baris sebagaimana puisi. Prosa lebih bebas, tetapi tetap memiliki struktur cerita yang jelas.

    Secara umum, prosa adalah karya sastra yang menggunakan bahasa terurai dengan tujuan menyampaikan cerita, gagasan, atau pesan tertentu.

    Karena sifatnya inilah, cerpen dapat dikategorikan sebagai bagian dari prosa, sebab ia disajikan dalam bentuk narasi yang mengisahkan suatu peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya.

    Ciri-ciri cerpen menurut pendapat Sumarjo dan Saini (1997:36) sebagai berikut:

    • Ceritanya pendek;
    • Bersifat rekaan (fiction);
    • Bersifat naratif; dan
    • Memiliki kesan tunggal.

    Dengan ciri-ciri tersebut, cerpen tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media refleksi, kritik sosial, maupun wadah ekspresi pengarang. Cerpen yang baik mampu menyampaikan pesan mendalam meskipun disajikan dalam bentuk yang singkat.

  • Prosa: Pengertian, Unsur, Jenis, dan Contohnya

    Prosa: Pengertian, Unsur, Jenis, dan Contohnya

    Pengertian Prosa

    Kata prosa berasal dari bahasa latin yang artinya “terus terang”.

    Sehingga setiap jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta, ide, dan peristiwa.

    Oleh karenanya, prosa juga dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.

    Secara umum, prosa adalah karya sastra dalam bentuk bahasa yang terurai dan tidak terikat oleh rima, ritma, jumlah baris, atau aturan-aturan lainnya.

    Prosa juga bisa juga diartikan sebagai jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar.

    Serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya atau bisa juga diartikan sebagai hasil karya sastra lisan dan tulisan yang panjang, baik yang berbentuk cerita ataupun bukan cerita.

    Pengertian Prosa Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian prosa menurut para ahli.

    1. H.B. Jassin (dalam Suroto, 1989)

    Mengungkapkan bahwa prosa ialah pengucapan seorang penyair dengan pikiran yang berbeda dengan puisi yang merupakan pengucapan penyair dengan perasaan.

    2. Zainuddin (1991)

    Memberikan pengertian bahwa prosa ialah pengungkapan peristiwa secara jelas dengan penguraikan seluruh pikiran dan juga seluruh perasaan serta tidak terikat syarat-syarat tertentu dalam sebuah karya sastra.

    3. Aminuddin (2002)

    Memberikan pemahaman bahwa prosa fiksi ialah kisahan atau ceritera yang diemban olehpemeran tertentu dengan memperhatikan, latar, tahapan dan rangkaian.

    4. M. Saleh Saad Dan Anton M. Muliono (dalam Tjahyono, 1998)

    Mengungkapkan bahwa prosa ialah suatu bentuk narasi berplot yang dihasilkan oleh daya imajinasi.

    5. Henry Guntur Taringan (1993)

    Memberikan pemahaman bahwa prosa ialah karya sastra fiksi dalam bahasa Indonesia secara singkat dari buah hasil imajinasikan.

    6. Teeuw (1984)

    Memberikan pemahaman bahwa prosa ialah suatu bentuk kisah fiksi yang mencoba membeberkan suatu kenyataan.

    7. Henry Guntur Taringan (1993)

    Memberikan pengertian bahwa prosa ialah karya sastra fiksi yang bersifat relitas, bukan bersifat aktualitas.

    8. Herman J. Waluyo (2006)

    Menurutnya prosa fiksi adalah karya sastra dibagi menjadi tiga yaitu roman, novel dan cerita pendek atau cerpen.

    Unsur Intrinsik Prosa

    Adapun unsur intrinsik prosa adalah sebagai berikut.

    1. Tema, adalah inti dari cerita atau prosa.
    2. Amanat atau pesan, yaitu nasehat yang hendak disampaikan kepada pembaca.
    3. Plot atau alur, adalah rangkaian peristiwa yang membentuk cerita.
    4. Karakteristik atau penokohan, adalah cara-cara pengarang menggambarkan watak pelaku.
    5. Sudut pandang, adalah cara pengarang menempatkan diri.
    6. Sudut pandang orang pertama, adalah pengarang sebagai pelaku.
    7. Sudut pandang orang ketiga, adalah pengarang tidak menjadi pelaku.
    8. Latar atau seting, adalah gambaran atau keterangan mengenai tempat, waktu, situasi atau suasana berlangsungnya peristiwa.
    9. Gaya bahasa, adalah corak pemakaian bahasa.

    Jenis Jenis Prosa

    Prosa dibagi menjadi dua, yaitu prosa lama dan prosa baru. Adapun penjelasannya sebagai berikut.

    A. Prosa Lama

    Prosa lama adalah prosa nusantara yang belum terpengaruhi budaya luar sehingga ide cerita atau cara penyampaian ceritanya masih khas Nusantara. Selain ditulis, prosa lama juga sering dilafalkan secara verbal.

    Contoh Prosa Lama:

    Bentuk-bentuk prosa lama adalah sebagai berikut.

    1. Hikayat

    Hikayat adalah prosa lama yang sifatnya fiktif dengan mengisahkan tentang kehidupan para dewa, dewi, bidadari, pangeran, puteri, atau raja-raja yang mempunyai kekuatan gaib.

    Hikayat identik dengan karya sastra yang menceritakan tentang kesaktian yang dimiliki seseorang, walaupun sebenarnya hal tersebut hanyalah imajinasi belaka.

    Hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh hikayat: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, si Pitung, Hikayat si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

    2. Sejarah

    Sejarah (tambo) adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah berdasarkan fakta.

    Biasanya berisikan silsilah para raja. Contohnya : Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.

    3. Kisah

    Kisah adalah cerita tentang cerita perjalanan, pelayaran, perjuangan, dan pengembaraan orang jaman dulu yang suka keliling dari suatu tempat ke tempat lain dengan maksud dan tujuan tertentu. Contoh : Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.

    4. Dongeng

    Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal atau imajinasi. Dongeng memiliki banyak ragam, diantaranya:

    • Fabel: Fabel adalah cerita lama yang menceritakan tentang kehidupan binatang sebagai lambang pengajaran moral sehingga cerita fabel biasa disebut sebagai cerita binatang. Contoh : Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, dan masih banyak lagi.
    • Mite (mitos): Mitos adalah cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib. Contoh : Nyai Roro Kidul, Harimau Jadi-Jadian, Kelambai, dan lain-lain.
    • Legenda: Legenda adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya sebuah tempat atau wilayah. Contoh : Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, Legenda Alas Purwo, dan lain-lain.
    • Sage: Sage adalah cerita lama berhubungan dengan sejarah yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, dan kesaktian seseorang. Contoh : Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, dan lain-lain.
    • Parabel: Parabel adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh : Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Bhagawagita, dan lain-lain.
    • Dongeng jenaka: Dongeng jenaka adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas atau cerdik dan masing-masing dikemas secara jenaka atau lucu. Sehingga dongeng jenaka sifatnya adalah untuk hiburan.

    5. Cerita Berbingkai

    Cerita berbingkai adalah cerita di dalam cerita. Masudnya adalah sebuah cerita yang didalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh : Seribu Satu Malam.

    B. Prosa Baru

    Prosa baru adalah jenis karangan prosa yang muncul setelah mendapat pengaruh sastra dan budaya Barat. Adapun bentuk-bentuk prosa baru adalah sebagai berikut.

    1. Roman

    Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan tokoh secara lengkap, mulai dari masa kanak-kanak, dewasa, danampai meninggal dunia. Roman juga mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh.

    Roman juga dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya:

    • Roman Percintaan (Liebesroman)
    • Roman Petualangan (Abendteuerroman)
    • Roman Pendidikan (Bildsdungsroman)
    • Roman Kriminal (Krimi-und roman)
    • Roman Hiburan (Unterhaltungsroman)
    • Roman Psikologi (Psychologischerroman)
    • Roman Anak dan remaja ( Kinder-un Jugendroman)

    2. Novel

    Novel adalah bentuk prosa baru yang menceritakan kehidupan tokoh. Novel hampir sama seperti roman, tapi novel tidak selengkap roman.

    Keduanya sama-sama karya fiksi yang dikemas dalam bentuk tulisan dengan ide dan alur cerita yang imajinatif, artinya sesuai dengan kreativitas penulis.

    Contoh novel: Laskar Pelangi.

    3. Cerpen

    Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebuah peristiwa secara singkat dan ringkas. Hampir mirip seperti novel, hanya saja cerpen dibuat lebih ringkas tanpa perlu ratusan halaman.

    Contoh cerpen: Bola Lampu oleh Asrul Sani.

    4. Riwayat

    Riwayat (biografi) adalah sebuah karangan prosa yang berisi tentang perjalanan dan pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa, Prof. Dr. B.I Habibie, Ki Hajar Dewantara.

    5. Kritik

    Kritik adalah karya prosa yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan dan kriteria tertentu yang sifatnya objektif. Maksud dan tujuan dari kritik adalah agar karya bisa menjadi lebih baik.

    6. Resensi

    Resensi adalah pembicaraan atau ulasan suatu karya (buku, film, drama) yang isinya bersifat memaparkan poin-poin penting dari karya tersebut agar pembaca mengetahui aspek-aspeknya, seperti tema, alur, perwatakan, dialog, konflik, dan sebagainya.

    7. Esai

    Essay atau Esai adalah tulisan yang mengandung opini, gagasan, pandangan, atau ekspresi seseorang mengenai sebuah hal yang sedang terjadi di masyarakat. Seringkali esai juga digunakan sebagai sebuah jajak pendapat dalam menilai peristiwa secara gamblang.

  • Pengertian Parafrasa, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Parafrasa, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Parafrasa

    Parafrase atau parafrasa adalah pengungkapan kembali suatu tuturan bahasa ke dalam bentuk bahasa lain tanpa mengubah pengertian.

    Pengungkapan kembali tersebut bertujuan untuk menjelaskan makna yang tersembunyi.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.

    Pengertian Parafrasa Menurut Para Ahli

    Adapun pengertian parafrase menurut para ahli adalah sebagai berikut.

    1. Menurut L. Behrens (dalam A Sequence for Academic Writing. Longman, 2009)

    Paraphrase adalah bagian yang menyajikan poin penting, penjelasan, atau argumen tetapi itu tidak mengandung kata-kata yang mudah diingat atau langsung.

    2. Menurut L. Behrens (dalam A Sequence for Academic Writing. Longman, 2009)

    Parafrase adalah sebuah ringkasan, yang ditulis dengan kata-kata Anda sendiri, secara singkat menyatakan kembali poin utama penulis.

    3. Menurut Kridalaksana

    Menurut Kridalaksana dalam Kamus Linguistik III bahwa yang dimaksud dengan pengertian parafrasa adalah pengungkapan kembali konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, tanpa mengubah maknanya, dengan memberi kemungkinan penekanan yang agak berlainan.

    4. Menurut Sudaryanto

    Menurut Sudaryanto bahwa Parafrasa adalah bentuk lain (serta makna yang lain) dengan informasi yang sama.

    5. Menurut Crystal (1985)

    Menurut Crystal bahwa parafrasa merupakan istilah dalam linguistik untuk hasil atau proses produksi versi alternatif dari kalimat atau teks tanpa mengubah makna.

    Ciri-Ciri Parafrasa

    • Bentuk tuturan kata berbeda.
    • Bahasa penyampaian berbeda
    • Cara penyampaian berbeda
    • Arti dan Makna tuturan tetap sama.
    • Substansi tidak berubah.

    Cara Membuat Parafrasa

    Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam membuat parafrasa dari sebuah bacaan.

    Untuk membuat parafrasa lisan, langkah-langkahnya adalah membaca informasi secara cermat, mencatat kalimat inti, mengmbangkan kalimat inti menjadi pokok pikiran, menyampaikan pokok pikiran dalam bentuk uraian lisan dengan kalimat sendiri.

    Gunakanlah sinonim, ungkapan yang sepadan, mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, mengubah kalimat aktif menjadi kalimat tidak aktif, serta menggunakan kata ganti orang ketiga untuk narasi jika kesulitan menguraikan.

    Cara Memparafrasekan Puisi Menjadi Prosa

    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memfaraprasekan puisi menjadi prosa, ialah sebagai berikut :

    • Membaca atau mendengarkan pembacaan puisi dengan seksama
    • Pahami isi kandungan puisi secara utuh
    • Jelaskan kata-kata kias atau ungkapan yang terdapat dalam puisi
    • Uraikan kembali isi puisi secara tertulis dalam bentuk prosa dengan menggunakan kalimat sendiri
    • Sampaikan secara lisan atau dibacakan

    Contoh Parafrasa

    Aku

    Kalau sampai waktuku
    ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
    Tidak juga kau
    Tak perlu sedu sedan itu
    Aku ini binatang jalang
    Dari kumpulannya terbuang
    Bila peluru menembus kulitku
    Aku tetap meradang menerjang
    Lukadan bisa kubawa berlari
    Berlari
    Hingga hilang perih peri
    Dan aku akan lebih tidak peduli
    Aku mau hidup seribu tahun lagi

    (Chairil Anwar, DCD 1959:7)

    Parafrasanya :

    Kalau si aku meninggal, ia menginginkan jangan ada seorangpun yang bersedih, bahkan juga kekasih atau istrinya.

    Tidak perlu juga ada sedu sedan yang meratapi kematian si aku sebab tidak ada gunanya. Si aku ini adalah binatang jalang yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya.

    Iamerdeka tidak terikat oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak, peluru menembus kulitnya.

    Si aku tetap berang dan memberontak terhadap aturan-aturan yang mengikat tersebut.

    Segala rasa sakit dan penderitaan akan ditanggung, ditahan, diatasi hingga rasa sakit dan penderitaan itu pada akhirnya akan hilang sendiri.

    Si aku akan makin tidak peduli pada segala aturan dan ikatan, halangan, serta penderitaan. Si aku mau hidup seribu tahun lagi.

    Maksudnya, si aku menginginkan semangatnya, pikirannya, karya-karyanya akan hidup selama-lamanya. (Rachmat Djoko Pradopo)

  • Pengertian Prosa, Jenis dan Contohnya

    Pengertian Prosa, Jenis dan Contohnya

    Pengertian Prosa

    Kata prosa berasal dari bahasa latin yang artinya “terus terang”. Sehingga setiap jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta, ide, dan peristiwa.

    Oleh karenanya, prosa juga dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.

    Secara umum, prosa adalah karya sastra dalam bentuk bahasa yang terurai dan tidak terikat oleh rima, ritma, jumlah baris, atau aturan-aturan lainnya.

    Prosa juga bisa juga diartikan sebagai jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar.

    Serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya atau bisa juga diartikan sebagai hasil karya sastra lisan dan tulisan yang panjang, baik yang berbentuk cerita ataupun bukan cerita.

    Unsur Intrinsik Prosa

    Adapun unsur intrinsik prosa adalah sebagai berikut.

    1. Tema, adalah inti dari cerita atau prosa.
    2. Amanat atau pesan, yaitu nasehat yang hendak disampaikan kepada pembaca.
    3. Plot atau alur, adalah rangkaian peristiwa yang membentuk cerita.
    4. Karakteristik atau penokohan, adalah cara-cara pengarang menggambarkan watak pelaku.
    5. Sudut pandang, adalah cara pengarang menempatkan diri.
    6. Sudut pandang orang pertama, adalah pengarang sebagai pelaku.
    7. Sudut pandang orang ketiga, adalah pengarang tidak menjadi pelaku.
    8. Latar atau seting, adalah gambaran atau keterangan mengenai tempat, waktu, situasi atau suasana berlangsungnya peristiwa.
    9. Gaya bahasa, adalah corak pemakaian bahasa.

    Jenis Jenis Prosa

    Prosa dibagi menjadi dua, yaitu prosa lama dan prosa baru. Adapun penjelasannya sebagai berikut.

    A. Prosa Lama

    Prosa lama adalah prosa nusantara yang belum terpengaruhi budaya luar sehingga ide cerita atau cara penyampaian ceritanya masih khas Nusantara. Selain ditulis, prosa lama juga sering dilafalkan secara verbal.

    Contoh Prosa Lama

    Bentuk-bentuk prosa lama adalah sebagai berikut.

    1. Hikayat

    Hikayat adalah prosa lama yang sifatnya fiktif dengan mengisahkan tentang kehidupan para dewa, dewi, bidadari, pangeran, puteri, atau raja-raja yang mempunyai kekuatan gaib.

    Hikayat identik dengan karya sastra yang menceritakan tentang kesaktian yang dimiliki seseorang, walaupun sebenarnya hal tersebut hanyalah imajinasi belaka.

    Hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah.

    Contoh hikayat: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, si Pitung, Hikayat si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

    2. Sejarah

    Sejarah (tambo) adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah berdasarkan fakta. Biasanya berisikan silsilah para raja.

    Contohnya : Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.

    3. Kisah

    Kisah adalah cerita tentang cerita perjalanan, pelayaran, perjuangan, dan pengembaraan orang jaman dulu yang suka keliling dari suatu tempat ke tempat lain dengan maksud dan tujuan tertentu.

    Contoh : Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.

    4. Dongeng

    Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal atau imajinasi. Dongeng memiliki banyak ragam, diantaranya:

    • Fabel

    Fabel adalah cerita lama yang menceritakan tentang kehidupan binatang sebagai lambang pengajaran moral sehingga cerita fabel biasa disebut sebagai cerita binatang.

    Contoh : Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, dan masih banyak lagi.

    • Mite (mitos)

    Mitos adalah cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib.

    Contoh : Nyai Roro Kidul, Harimau Jadi-Jadian, Kelambai, dan lain-lain.

    • Legenda

    Legenda adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya sebuah tempat atau wilayah.

    Contoh : Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, Legenda Alas Purwo, dan lain-lain.

    • Sage

    Sage adalah cerita lama berhubungan dengan sejarah yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, dan kesaktian seseorang.

    Contoh : Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, dan lain-lain.

    • Parabel

    Parabel adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan.

    Contoh : Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Bhagawagita, dan lain-lain.

    • Dongeng jenaka

    Dongeng jenaka adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas atau cerdik dan masing-masing dikemas secara jenaka atau lucu. Sehingga dongeng jenaka sifatnya adalah untuk hiburan.

    5. Cerita Berbingkai

    Cerita berbingkai adalah cerita di dalam cerita. Masudnya adalah sebuah cerita yang didalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh : Seribu Satu Malam.

    B. Prosa Baru

    Prosa baru adalah jenis karangan prosa yang muncul setelah mendapat pengaruh sastra dan budaya Barat. Adapun bentuk-bentuk prosa baru adalah sebagai berikut.

    1. Roman

    Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan tokoh secara lengkap, mulai dari masa kanak-kanak, dewasa, danampai meninggal dunia.

    Roman juga mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh.

    Roman juga dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya:

    • Roman Percintaan (Liebesroman)
    • Roman Petualangan (Abendteuerroman)
    • Roman Pendidikan (Bildsdungsroman)
    • Roman Kriminal (Krimi-und roman)
    • Roman Hiburan (Unterhaltungsroman)
    • Roman Psikologi (Psychologischerroman)
    • Roman Anak dan remaja ( Kinder-un Jugendroman)

    2. Novel

    Novel adalah bentuk prosa baru yang menceritakan kehidupan tokoh. Novel hampir sama seperti roman, tapi novel tidak selengkap roman.

    Keduanya sama-sama karya fiksi yang dikemas dalam bentuk tulisan dengan ide dan alur cerita yang imajinatif, artinya sesuai dengan kreativitas penulis. Contoh novel: Laskar Pelangi.

    3. Cerpen

    Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebuah peristiwa secara singkat dan ringkas. Hampir mirip seperti novel, hanya saja cerpen dibuat lebih ringkas tanpa perlu ratusan halaman.

    Contoh cerpen: Bola Lampu oleh Asrul Sani.

    4. Riwayat

    Riwayat (biografi) adalah sebuah karangan prosa yang berisi tentang perjalanan dan pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia.

    Contoh: Soeharto Anak Desa, Prof. Dr. B.I Habibie, Ki Hajar Dewantara.

    5. Kritik

    Kritik adalah karya prosa yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan dan kriteria tertentu yang sifatnya objektif.

    Maksud dan tujuan dari kritik adalah agar karya bisa menjadi lebih baik.

    6. Resensi

    Resensi adalah pembicaraan atau ulasan suatu karya (buku, film, drama) yang isinya bersifat memaparkan poin-poin penting dari karya tersebut agar pembaca mengetahui aspek-aspeknya, seperti tema, alur, perwatakan, dialog, konflik, dan sebagainya.

    7. Esai

    Essay atau Esai adalah tulisan yang mengandung opini, gagasan, pandangan, atau ekspresi seseorang mengenai sebuah hal yang sedang terjadi di masyarakat.

    Seringkali esai juga digunakan sebagai sebuah jajak pendapat dalam menilai peristiwa secara gamblang.

     

  • Hikayat: Pengertian, Fungsi, Ciri-Ciri, Unsur dan Jenisnya

    Hikayat: Pengertian, Fungsi, Ciri-Ciri, Unsur dan Jenisnya

    Pengertian Hikayat

    Hikayat adalah karya sastra lama berbentuk prosa naratif yang mengisahkan kehidupan tokoh-tokoh terkenal, biasanya kaum bangsawan, raja, pahlawan, atau orang sakti dengan berbagai kehebatan dan mukjizatnya.

    Hikayat berkembang terutama dalam kesusastraan Melayu klasik, yang banyak tumbuh di lingkungan kerajaan-kerajaan Nusantara.

    Secara etimologis, kata hikayat berasal dari bahasa Arab “ḥakā” yang berarti bercerita atau menceritakan.

    Dalam tradisi Arab, istilah ini digunakan untuk menyebut cerita-cerita yang berisi nasihat moral, kisah kepahlawanan, dan keajaiban tokoh-tokoh tertentu, baik yang nyata maupun imajinatif.

    Istilah ini kemudian diadopsi ke dalam tradisi sastra Melayu klasik, terutama setelah masuknya pengaruh Islam ke wilayah Nusantara sekitar abad ke-13.

    Sejak saat itu, karya-karya berbahasa Melayu mulai banyak mengadaptasi bentuk naratif Arab dan Persia, serta memadukannya dengan unsur lokal dan India.

    Fungsi Hikayat

    Hikayat bukan sekadar cerita lama untuk hiburan, tetapi juga memiliki fungsi sosial, moral, dan budaya yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Secara umum, fungsi hikayat dapat dijabarkan sebagai berikut:

    1. Sebagai Hiburan

    Hikayat berfungsi memberikan kesenangan dan hiburan bagi pembacanya.

    Kisah-kisah yang penuh petualangan, keajaiban, dan romantika kerajaan membuat pembaca terbawa ke dunia imajinatif yang menarik.

    Misalnya, Hikayat Indera Bangsawan menampilkan petualangan pahlawan dengan berbagai rintangan magis dan keajaiban.

    2. Sarana Pendidikan dan Moral

    Hikayat mengandung banyak pesan moral (didaktis) yang bisa menjadi teladan bagi pembacanya.
    Melalui tokoh utama, hikayat mengajarkan nilai-nilai seperti:

    • Kesetiaan dan keberanian (Hikayat Hang Tuah),
    • Ketaatan kepada orang tua,
    • Keteguhan dalam berjuang, serta
    • Kejujuran dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

    Dengan demikian, hikayat menjadi alat pendidikan karakter pada masa lampau.

    4. Media Dakwah atau Penyebaran Nilai Agama

    Pada masa penyebaran Islam di Nusantara, banyak hikayat digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam melalui bentuk cerita.

    Tokoh-tokoh seperti Amir Hamzah dan Bachtiar digambarkan sebagai pahlawan Islam yang menegakkan kebenaran dan menolak kezaliman.

    Fungsi ini menjadikan hikayat sebagai alat dakwah yang halus dan menarik, karena nilai-nilai agama disampaikan lewat kisah inspiratif.

    5. Sarana Pewarisan Budaya dan Sejarah

    Hikayat menyimpan banyak unsur budaya, adat, dan kepercayaan masyarakat masa lalu.
    Melalui bahasa, simbol, dan latar cerita, pembaca dapat memahami:

    • Sistem sosial kerajaan,
    • Pandangan hidup masyarakat Melayu, dan
    • Tradisi yang berkembang di masa itu.

    Oleh karena itu, hikayat berfungsi sebagai dokumen budaya yang mencerminkan identitas bangsa pada zamannya.

    Ciri-Ciri Hikayat

    Hikayat memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari karya sastra lain seperti dongeng, legenda, atau roman.

    Ciri-ciri ini terlihat pada gaya bahasa, tema, tokoh, dan penyajiannya. Berikut penjelasannya:

    1. Anonim (Pengarang Tidak Diketahui)

    Sebagian besar hikayat tidak mencantumkan nama pengarangnya. Hal ini karena hikayat pada awalnya berasal dari tradisi lisan, diwariskan turun-temurun oleh masyarakat tanpa diketahui siapa penciptanya.

    2. Statis

    Ceritanya tidak mengalami perubahan yang berarti meskipun diceritakan berulang kali dari generasi ke generasi. Isi dan alur umumnya tetap sama karena dianggap bagian dari warisan budaya yang harus dijaga keasliannya.

    3. Komunal (Milik Bersama)

    Hikayat dianggap sebagai milik masyarakat, bukan karya pribadi. Setiap orang boleh menceritakan kembali, menambah, atau menyesuaikan dengan nilai-nilai daerahnya, selama tidak mengubah inti cerita.

    4. Bahasa Klise (Penuh Ungkapan Baku dan Berulang)

    Bahasa yang digunakan dalam hikayat sering mengandung ungkapan-ungkapan khas dan berulang, seperti pembukaan dan penutup cerita yang sama di banyak karya. Ungkapan klise ini memberi nuansa khas sastra lama.

    5. Tradisional

    Hikayat mencerminkan nilai-nilai dan kepercayaan tradisional masyarakat zaman dahulu, seperti kepercayaan terhadap kesaktian, takdir, dan keberkahan. Nilai-nilai ini menjadi cerminan pandangan hidup masyarakat masa lampau.

    6. Didaktis (Mengandung Ajaran atau Nasihat)

    Sebagian besar hikayat mengandung pesan moral yang dapat dijadikan teladan, seperti kesetiaan, kejujuran, dan keberanian. Fungsi ini menjadikan hikayat sebagai sarana pendidikan karakter dan nilai-nilai luhur.

    7. Magis (Mengandung Unsur Keajaiban dan Kesaktian)

    Ciri yang paling menonjol dalam hikayat adalah adanya unsur magis, mukjizat, atau hal-hal supranatural yang sulit diterima akal. Tokohnya sering digambarkan memiliki kekuatan luar biasa atau dibantu oleh makhluk gaib.

    8. Tokoh Utama Selalu Unggul

    Tokoh utama dalam hikayat hampir selalu digambarkan sebagai sosok sempurna: berani, gagah, saleh, bijaksana, dan tidak pernah benar-benar kalah. Hal ini memperkuat fungsi hikayat sebagai kisah teladan atau heroik.

    9. Latar Istana atau Kerajaan

    Sebagian besar hikayat berlatar kehidupan bangsawan, kerajaan, atau dunia istana, karena pada masa itu sastra lebih banyak berkembang di lingkungan istana dan kalangan elit.

    Unsur Hikayat

    Sama seperti karya prosa lainnya, hikayat memiliki berbagai unsur pembangun yang saling berkaitan dan membentuk keutuhan cerita.

    Unsur-unsur ini membantu pembaca memahami makna, alur, serta pesan moral yang ingin disampaikan pengarang. Berikut penjelasan masing-masing unsurnya:

    1. Tema

    Tema adalah ide utama atau gagasan pokok yang menjadi dasar keseluruhan cerita. Tema dalam hikayat umumnya berkaitan dengan kepahlawanan, keadilan, kesetiaan, kebijaksanaan, cinta kasih, atau ajaran moral dan keagamaan. Tema ini menjadi arah utama pengembangan alur dan penokohan.

    2. Latar (Setting)

    Latar mencakup tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Hikayat sering berlatar kerajaan atau lingkungan bangsawan, dengan nuansa kehidupan istana, peperangan, atau petualangan di negeri-negeri jauh. Latar waktu biasanya tidak disebutkan secara pasti, melainkan bersifat masa lampau yang legendaris, sedangkan suasananya sering menggambarkan kemegahan, keajaiban, dan unsur mistis.

    3. Alur (Plot)

    Alur adalah rangkaian peristiwa yang tersusun secara logis dan kronologis sehingga membentuk jalan cerita dari awal hingga akhir. Hikayat umumnya menggunakan alur maju (progresif) — dimulai dari perkenalan tokoh, timbulnya konflik, puncak masalah, dan diakhiri dengan penyelesaian bahagia. Namun, beberapa hikayat juga memiliki alur berbingkai atau cerita di dalam cerita.

    4. Amanat (Pesan Moral)

    Amanat adalah pesan, nilai, atau ajaran moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui kisahnya. Pesan ini bisa tersurat (disampaikan secara langsung) atau tersirat (tersimpan dalam tindakan tokoh). Hikayat sarat dengan pesan moral tentang kebaikan, kesetiaan, keberanian, kesabaran, dan keadilan.

    5. Tokoh dan Penokohan

    Tokoh adalah pelaku dalam cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menggambarkan watak atau sifat tokoh tersebut. Dalam hikayat, tokoh utama sering digambarkan hebat, sakti, dan berjiwa luhur. Sementara tokoh antagonis digambarkan sebagai jahat, iri, atau tamak.

    6. Sudut Pandang

    Sudut pandang adalah posisi atau cara pengarang menempatkan diri dalam menceritakan kisah. Sebagian besar hikayat menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, di mana pencerita mengetahui seluruh kejadian, pikiran, dan perasaan tokoh. Hal ini membuat cerita terasa berjarak dan objektif, sesuai dengan gaya sastra klasik.

    7. Gaya Bahasa

    Gaya bahasa dalam hikayat bersifat klasik, formal, dan penuh dengan ungkapan khas Melayu lama. Ciri khasnya adalah penggunaan kalimat panjang, pengulangan, serta kata-kata arkais seperti sebermula, maka, adapun, syahdan, dan sebagainya. Selain itu, hikayat juga menggunakan ungkapan metaforis, peribahasa, dan kiasan untuk memperindah narasi.

    Jenis Hikayat

    Hikayat memiliki berbagai jenis berdasarkan isi dan tokoh yang diceritakan. Setiap jenis memiliki ciri khas tersendiri dari segi tema, latar, dan pesan yang disampaikan. Berikut penjelasannya:

    1. Hikayat Panji

    Menceritakan kisah kehidupan tokoh kerajaan, terutama tentang cinta, peperangan, dan petualangan para bangsawan.

    2. Hikayat Rakyat

    Berisi kisah kehidupan rakyat biasa dengan unsur keajaiban, nasihat moral, dan nilai-nilai kebaikan.

    3. Hikayat Sejarah

    Mengisahkan tokoh atau peristiwa sejarah yang dipadukan dengan unsur legenda atau mitos untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap masa lalu.

    4. Hikayat Agama

    Berisi ajaran dan nilai keagamaan, menceritakan tokoh suci atau peristiwa yang mengandung pesan moral dan spiritual.

    5. Hikayat Kiasan atau Alegoris

    Disampaikan melalui simbol atau perumpamaan, berisi makna tersembunyi dan pesan kehidupan bagi pembaca.

    6. Hikayat Epos atau Kepahlawanan

    Menonjolkan semangat keberanian, kesetiaan, dan perjuangan tokoh utama dalam menghadapi berbagai rintangan.