Tag: Resensi

  • Sinopsis Novel Belenggu Karya Armijn Pane

    Sinopsis Novel Belenggu Karya Armijn Pane

    Sinopsis Novel Belenggu

    Novel Belenggu karya Armijn Pane menceritakan seorang dokter bernama Sukartono yang menikah dengan seorang gadis cantik dan cerdas bernama Sumartini.

    Awalnya, mereka tidak saling mencintai, namun karena memiliki kepentingan masing-masing, akhirnya keduanya sepakat untuk menikah.

    Sukartono (Tono) merasa bahwa Sumartini adalah orang yang cocok mendampinginya dengan melihat kecantikan serta kecerdasan yang dimiliki oleh Sumartini. Sedangkan Sumartini menikahi Sukartono dengan alasan ia ingin melupakan masa lalunya.

    Namun apa dikata, rumah tangga mereka tidak harmonis. Hampir setiap hari mereka bertengkar. Bahkan saling tak menyapa, alias diam tak berbicara, walau tinggal serumah.

    Sukartono adalah seorang dokter yang sangat profesional. Ia bekerja dengan disiplin tanpa kenal lelah. Bahkan, sifatnya yang dermawan juga sering membebaskan biaya untuk pasien yang tidak mampu.

    Namun, pengabdian Sukartono pada pekerjaanya telah membuatnya menomorduakan keluarga. Sumartini merasa diabaikan dan beranggapan bahwa suaminya lebih mencintai pekerjaan daripada dirinya.

    Jangankan untuk bermanja-manja, untuk komunikasi saja seakan tidak pernah ada waktu. Hari-hari mereka sering dilalui dengan pertengkaran. Sumartini merasa tidak dianggap oleh Sukartono.

    Hingga pada akhirnya, suatu hari Sukartono menerima telpon bahwa ada seorang pasien yang sedang sakit keras. Ia diminta menemui pasienya di suatu hotel. Dengan sigapnya, Sukartono pun memenuhi panggilan tersebut.

    Sesampainya di hotel, Sukartono terkejut bahwa pasienya adalah Siti Hayati, alias Rohaya yang merupakan teman sekolah dan sahabat masa kecilnya.

    Sembari memeriksa, Rohaya bercerita kepada Sukartono bahwa ia dipaksa nikah oleh orang tuanya dengan pria yang tidak dicintainya. Akhirnya Rohaya memutuskan untuk menjadi seorang janda dan pindah ke Jakarta.

    Dalam perasaan, sebenarnya Rohaya secara diam-diam telah mengagumi dan jatuh hati pada Sukartono. Itulah yang membuatnya mencari keberadaan Sukartono.

    Setelah bertemu, Rohaya kemudian memuai aksinya untuk rmerayu Sukartono. Semula Sukartono tidak terpengaruh dengan rayuan Rohaya. Tetapi karena terus diberi pujian, akhirnya ia mulai simpati kepada Rohaya.

    Sukartono merasa bahwa Rohaya bisa memberikan ketenangan hati yang selama ini tidak didapatkan dari Sumartini.

    Selang beberapa waktu. Sumartini mengetahui bahwa Sukartono ada hubungan lebih dengan Rohaya. Akhirnya Sumartini murka, kemudian pergi ke hotel tempat Rohaya menginap untuk melabraknya.

    Namun, setibanya di hotel, Sumartini tak jadi marah karena perasaannya luluh oleh kelembutan hati dan keramahan Rohaya.

    Setelah pulang dari hotel tempat Rohayah menginap, Sumartini berintrospeksi diri. Ia merasa terlalu kasar pada suaminya dan tidak bisa memberikan rasa kasih sayang seperti yang diinginkan suaminya. Hingga akhirnya ia memantapkan hati untuk berpisah dengan Sukartono.

    Mendengar keputusan itu, Sukartono langsung menolak. Namun, Sumartini tetap kukuh dengan keputusannya hingga akhirnya Sukartono tak kuasa untuk mencegahnya. Mereka pun bercerai

    Sukartono gundah, ditambah lagi ketika mengetahui bahwa Rohaya telah pergi dan meninggalkan sebuah surat yang menyatakan perasaanya pada Sukartono.

    Hingga akhirnya, Sukartono memilih untuk mengabdikan diri pada sebuah panti asuhan. Di tempat tersebut ia merasa tenang karena bisa membantu orang lain.

  • Cara Membuat Resensi Buku dan Contohnya

    Cara Membuat Resensi Buku dan Contohnya

    Pengertian Resensi

    Resensi adalah sebuah ulasan atau penilaian terhadap suatu karya, baik berupa buku, film, atau karya lainya.

    Kata resensi sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Sederhananya, resensi adalah tulisan yang berisi tentang ulasan suatu buku.

    Menulis resensi pada dasarnya sama saja dengan menulis artikel, hanya saja untuk menulis resensi ada aturan yang harus dipatuhi agar tulisan tersebut menjadi resensi yang baik.

    Unsur Unsur Resensi

    Secara umum, ada beberapa unsur yang harus diperhatikan dalam menulis resensi. Adapun unsur-unsur tersebut diantaranya:

    1. Judul Resensi

    Judul sebuah resensi harus mempunyai korelasi dengan isi resensi. Tidak lupa juga, judul resensi harus dibuat semenarik mungkin agar bisa memberikan nilai tersendiri.

    2. Menyusun Data Buku

    Selanjutnya adalah menyusun data buku. Adapun hal yang dapat dilakukan dalam penyusunan data buku adalah sebagai berikut.

    Judul
    Pengarang
    Penerbit
    Tahun terbit beserta cetakannya
    Dimensi buku
    Harga

    3. Isi Resensi Buku

    Isi resensi biasanya selalu berisi tentang sinopsis, ulasan singkat buku dengan kutipan singkat yang dianggap penting. Tidak lupa juga, perlu dicantumkan kelebihan serta kelemahan buku.

    4. Penutup Resensi Buku

    Pada bagian penutup resensi, bisa diisi dengan kesimpulan yang berisi aalasan kenapa buku tersebut ditulis dan kepada siapa buku tersebut ditujukan.

    Jadi ketika beberapa unsur tersebut sudah terpenuhi, maka tulisan bisa dikatakan sebagai resensi yang baik dan bisa diterima oleh pembaca.

    Langkah Langkah Menulis Resensi

    Setelah mengetahui unsur-unsur resensi, penulis juga harus tahu bagaimana langkah-langkah dalam menulis resensi. Adapun langkahnya sebagai berikut:

    • Mengenal secara detail tentang buku yang akan diresensi, mulai dari tema, deskripsi, isi, kalau perlu tebal buku juga.
    • Membaca buku yang akan diresensi dengan cermat dan teliti agar tidak terjadi kekeliruan dalam meresensi.
    • Menentukan judul resensi, usahakan semenarik mungkin agar menimbulkan rasa penasaran bagi pembaca.
    • Menandai beberapa kutipan yang dianggap penting untuk dijadikan data/bahan tulisan.
    • Membuat sinopsis dari buku yang akan diresensi.
    • Memberikan nilai terhadap buku yang diresensi.
    • Mengajak orang lain untuk membaca buku yang diresensi.

    Contoh Resensi

    Untuk lebih jelas, berikut adalah contoh resensi buku yang berjudul Serpihan Masa Lalu karya Utami Panca Dewi.

    Judul : Serpihan Masa Lalu
    Penulis : Utami Panca Dewi
    Penerbit : Nuansa
    Cetakan : Pertama, 2016
    Tebal : 155 halaman
    ISBN : 978-602-73112-7-5

    Novel remaja ini bercerita tentang perjalanan seorang wanita bernama Dara.

    Sejak kepergian ibunya, Dara menjadi anak yang pendiam. Tentunya hal membuat itu ayahnya, Farid menjadi prihatin.

    Ayahnya yang berprofesi sebagai dokter berinisiatif mengajak Dara mengunjungi Rumah Singgah Bina Insani, yang sekaligus panti asuhan bagi anak-anak yang kurang beruntung, milik Bu Respati.

    Dokter Farid ingin Dara memiliki keceriaan kembali seperti sebelum ditinggal ibunya.

    Diawali dengan memperkenalkan diri di kelas barunya, banyak anak panti yang meminta Dara menjelaskan cara penyelesaian soal-soal IPA.

    Sebab, Dara merupakan siswi paling cerdas di kelas XI IPA 2. Dia mampu menjelaskan soal-soal secara mudah, melebihi teman-teman sekelasnya.

    Melihat keceerdasan Darai, Bu Respati mintanya menjadi guru atau pengajar mata pelajaran IPA bagi anak-anak panti.

    Kebetulan Rumah Singgah itu belum memiliki guru IPA dan Dara menyetujuinya. Jadi, setiap Jumat sore, Dara memberi pelajaran IPA pada anak-anak panti.

    Setelah berbulan-bulan mengajar di Rumah Singgah, akhirnya Dara sadar akan passion-nya. Seketika Dara ingin menjadi guru.

    Dia benar-benar menikmati momen saat berada di tengah anak-anak panti tersebut.

    Dia merasa jika menemukan kepuasan ketika murid-muridnya bisa memahami materi yang dijelaskannya. Bisa dikatakan sebagai sebuah kebanggaan tersendiri.

    Tentu saja cita-cita ini bertolak belakang dengan keinginan dokter Farid, ayahnya.

    Sebagai seorang dokter senior, Farid ingin Dara menjadi dokter juga agar dapat menggantikan mengelola klinik tersebut.

    Banyak pihak yang heran dengan cita-cita Dara. Salah satunya adalah Ruben, kakak kelasnya yang diam-diam menyukai Dara.

    Namun, Dara tetap teguh dengan harapannya. Dia menganggap bahwa setiap anak bebas memilih jalan yang diinginkan tanpa harus memenuhi permintaan orang tuanya.

    Padahal Dara memiliki rasa kepada Ruben. Tapi, Dara memilih mengubur perasaannya karena cita-citanya tersebut.

    Selain itu, dia juga memikirkan perasaan Mela, sepupu Dara, juga menyukai Ruben.

    Karena orang tua Mela baru saja bercerai, Mela harus pindah tempat tinggal dan sekolah. Terlebih lagi Mela mengidap thallasemia.

    Dara tak ingin sepupunya bersedih. Jika bersama Ruben bisa membuat Mela bahagia, Dara rela mengesampingkan perasaannya, walau harus sedikit terluka.

    Di sisi lain, Dara juga tertarik pada Ale, seorang remaja seusianya yang menjadi penjaja koran di lampu merah.

    Adik Ale, Adelia, seorang berkebutuhan khusus merupakan salah satu anak asuh Rumah Singgah Bina Insani, murid Dara.

    Setelah ayahnya meninggal, Ale berjuang membesarkan adiknya. Dia rela putus sekolah asal adiknya bisa mengenyam pendidikan.

    Dokter Farid tidak senang melihat kedekatan Dara dengan Ale.

    Menurutnya, anak jalanan seperti Ale yang berambut gondrong tidak punya sopan santun dan tidak punya masa depan sehingga tidak layak untuk dicintai.

    Apalagi mengetahui Dara terlambat pulang karena pergi bersama Ale, makin beranglah Dokter Farid.

    Untuk menjauhkan anak kesayangannya dari Ale, Farid mengizinkan Dara mengambil program studi Pendidikan Biologi di Yogyakarta.

    Bagi Dara, tak masalah dijauhkan dari Ale, selama tidak dilarang menjadi guru. Sebab, cita-citanya sudah bulat menjadi seorang guru yang berguna bagi setiap anak.

  • Pengertian Resensi Menurut Para Ahli dan Contohnya

    Pengertian Resensi Menurut Para Ahli dan Contohnya

    Definisi Resensi

    Resensi adalah sebuah ulasan atau penilaian terhadap suatu karya, baik berupa buku, film, atau karya lainya.

    Kata resensi sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere.

    Artinya dengan meresensi, maka seseorang akan melihat, menimbang, atau menilai karya tersebut.

    Dalam bahasa Belanda, resensi dikenal dengan recensie, sedangkan dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah review.

    Namun, dari ketiga istilah tersebut tetap mengacu pada hal yang sama, yaitu mengulas buku.

    Resensi Menurut Para Ahli

    Menurut Saryono (1997:56) pengertian resensi adalah sebuah tulisan berupa esai dan bukan merupakan bagian suatu ulasan yang lebih besar mengenai sebuah buku.

    Isinya meliputi laporan, ulasan, dan pertimbangan baik-buruknya buku tersebut. Dalam resensi, biasanya dilengkapi/didukung dengan ilustrasi buku, misalnya foto buku atau cover.

    Menurut WJS Poerwadarminta (dalam romli, 2003: 75) arti resensi secara bahasa adalah sebagai pertimbangan atau perbincangan tentang sebuah buku yang menilai kelebihan atau kekurangan buku tersebut.

    Dimana orang yang meresensi akan memberikan dorongan kepada masyarakat tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan seberapa manfaatnya buku tersebut.

    Resensi juga berkaitan dengan literasi novel, yaitu kemampuan individu untuk memahami, menganalisis, dan mengevaluasi sebuah novel dengan baik.

    Kemampuan ini meliputi pemahaman terhadap alur cerita, karakter tokoh, tema, dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis melalui novel tersebut.

    Sehingga secara sederhana, resensi bisa dikatakan sebagai sebuah tindakan yang memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengkritik suatu buku.

    Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resensi adalah:

    pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku: majalah itu memuat — buku-buku yang baru terbit
    pendapat atau pertimbangan redaksi tentang hasil kesenian, kesusastraan, dan sebagainya

    Jenis Jenis Resensi

    Secara umum, resensi terbagi menjadi tiga jenis, diantaranya:

    • Resensi Informatif, yaitu resensi yang hanya menyampaikan isi secara singkat dan umum dari keseluruhan isi buku.
    • Resensi Deskriptif, yaitu resensi yang mengulas secara detail pada tiap bagian atau bab dalam buku.
    • Resensi Kritis, yaitu resensi yang berbentuk ulasan terperinci dengan metodologi penelitian. Isi dari resensi kritis biasanya cukup tajam dan objektif dalam menilai sebuah buku.

    Struktur Resensi

    Ada beberapa struktur resensi, berikut diantaranya:

    • Identitas, yang mencakup judul buku, penerbit, pengaran, tahun terbit, tebal halaman.
    • Orientasi, yaitu penjelasan tentang kelebihan buku, misalnya penghargaan yang pernah diraih.
    • Sinopsis, yaitu ringkasan yang menggambarkan isi cerita tentang buku tersebut.
    • Analisis, yaitu paparan tentang keberadaan unsur-unsur cerita, seperti tema, watak, penokohan, latar, dan alur.
    • Evaluasi, yaitu paparan tentang kelebihan dan kekurangan suatu karya.

    Unsur Resensi

    Dalam resensi novel atau buku, diperlukan unsur-unsur resensi yang harus dipenuhi, sebagai berikut:

    1. Judul Resensi

    Judul sebuah resensi harus mempunyai korelasi dengan isi resensi. Tidak lupa juga, judul resensi harus dibuat semenarik mungkin agar bisa memberikan nilai tersendiri.

    2. Menyusun Data Buku

    Selanjutnya adalah menyusun data buku. Adapun hal yang dapat dilakukan dalam penyusunan data buku adalah sebagai berikut.

    • Judul
    • Pengarang
    • Penerbit
    • Tahun terbit beserta cetakannya
    • Dimensi buku
    • Harga

    3. Isi Resensi Buku

    Isi resensi biasanya selalu berisi tentang sinopsis, ulasan singkat buku dengan kutipan singkat yang dianggap penting. Tidak lupa juga, perlu dicantumkan kelebihan serta kelemahan buku.

    4. Penutup Resensi Buku

    Pada bagian penutup resensi, bisa diisi dengan kesimpulan yang berisi aalasan kenapa buku tersebut ditulis dan kepada siapa buku tersebut ditujukan.

    Manfaat Resensi

    Adapun beberapa manfaat resensi adalah sebagai berikut:

    1. Bahan Pertimbangan

    Memberikan gambaran umum kepada pembaca tentang suatu karya dan memengaruhi mereka atas karya tersebut. Sehingga mereka mendapat pertimbangan apakah layak untuk membeli/tidak, membaca/tidak.

    2. Nilai Materi

    Menjadi sumber penghasilan. Sebab begitu banyak penerbit yang menginginkan buku-buku terbitannya di resensi hingga bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas.

    3. Promosi Buku

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, resensi bisa membuat sebuah karya menjadi lebih dikenal masyarakat luas. Maka dari itu, banyak penulis/penerbit yang menginginkan jika karya terbarunya diresensi.

    4. Melatih Kreativitas

    Meresensi buku juga bisa melatih kreativitas seseorang. Di mana, kata-kata yang digunakan haruslah yang baik dan benar sehingga bisa diterima oleh masyarakat luas.

    Ciri Ciri Resensi

    Apa saja ciri-ciri resensi? Berikut diantaranya:

    • Terdapat judul resensi.
    • Memberikan identitas buku secara lengkap.
    • Ada sinopsis atau ulasan buku.
    • Menyajikan kelebihan dan kelemahan buku.
    • Penggunaan bahasa yang baik dan benar.
    • Memberi masukan, kritik, dan saran kepada penulis.
    • Memberi apresiasi atas sebuah karya tulis.
    • Menilai karya sastra secara objektif.

    Tujuan & Manfaat Resensi

    Adapun tujuan dan manfaat resensi adalah sebagai berikut.

    • Membantu pembaca untuk mengetahui gambaran umum sebuah buku secara ringkas.
    • Mengetahui kelebihan dan kelemahan buku yang diresensi.
    • Mengetahui latar belakang penulis dan alasan buku itu dibuat.
    • Menguji kualitas sebuah karya dan membandingkan dengan karya lainnnya.
    • Memberi masukan kepada penulis yang berupa kritik dan saran.
    • Mengajak untuk berdiskusi tentang karya yang diresensi.
    • Memberikan pemahaman secara komprehensif kepada pembaca.

    Contoh Resensi

    Berikut adalah contoh resensi buku yang berjudul Serpihan Masa Lalu karya Utami Panca Dewi.

    Judul : Serpihan Masa Lalu
    Penulis : Utami Panca Dewi
    Penerbit : Nuansa
    Cetakan : Pertama, 2016
    Tebal : 155 halaman
    ISBN : 978-602-73112-7-5

    Novel remaja ini bercerita tentang perjalanan seorang wanita bernama Dara.

    Sejak kepergian ibunya, Dara menjadi anak yang pendiam. Tentunya hal membuat itu ayahnya, Farid menjadi prihatin.

    Ayahnya yang berprofesi sebagai dokter berinisiatif mengajak Dara mengunjungi Rumah Singgah Bina Insani, yang sekaligus panti asuhan bagi anak-anak yang kurang beruntung, milik Bu Respati.

    Dokter Farid ingin Dara memiliki keceriaan kembali seperti sebelum ditinggal ibunya.

    Diawali dengan memperkenalkan diri di kelas barunya, banyak anak panti yang meminta Dara menjelaskan cara penyelesaian soal-soal IPA.

    Sebab, Dara merupakan siswi paling cerdas di kelas XI IPA 2. Dia mampu menjelaskan soal-soal secara mudah, melebihi teman-teman sekelasnya.

    Melihat keceerdasan Darai, Bu Respati mintanya menjadi guru atau pengajar mata pelajaran IPA bagi anak-anak panti.

    Kebetulan Rumah Singgah itu belum memiliki guru IPA dan Dara menyetujuinya. Jadi, setiap Jumat sore, Dara memberi pelajaran IPA pada anak-anak panti.

    Setelah berbulan-bulan mengajar di Rumah Singgah, akhirnya Dara sadar akan passion-nya. Seketika Dara ingin menjadi guru.

    Dia benar-benar menikmati momen saat berada di tengah anak-anak panti tersebut.

    Dia merasa jika menemukan kepuasan ketika murid-muridnya bisa memahami materi yang dijelaskannya. Bisa dikatakan sebagai sebuah kebanggaan tersendiri.

    Tentu saja cita-cita ini bertolak belakang dengan keinginan dokter Farid, ayahnya.

    Sebagai seorang dokter senior, Farid ingin Dara menjadi dokter juga agar dapat menggantikan mengelola klinik tersebut.

    Banyak pihak yang heran dengan cita-cita Dara. Salah satunya adalah Ruben, kakak kelasnya yang diam-diam menyukai Dara.

    Namun, Dara tetap teguh dengan harapannya. Dia menganggap bahwa setiap anak bebas memilih jalan yang diinginkan tanpa harus memenuhi permintaan orang tuanya.

    Padahal Dara memiliki rasa kepada Ruben. Tapi, Dara memilih mengubur perasaannya karena cita-citanya tersebut.

    Selain itu, dia juga memikirkan perasaan Mela, sepupu Dara, juga menyukai Ruben.

    Karena orang tua Mela baru saja bercerai, Mela harus pindah tempat tinggal dan sekolah. Terlebih lagi Mela mengidap thallasemia.

    Dara tak ingin sepupunya bersedih. Jika bersama Ruben bisa membuat Mela bahagia, Dara rela mengesampingkan perasaannya, walau harus sedikit terluka.

    Di sisi lain, Dara juga tertarik pada Ale, seorang remaja seusianya yang menjadi penjaja koran di lampu merah.

    Adik Ale, Adelia, seorang berkebutuhan khusus merupakan salah satu anak asuh Rumah Singgah Bina Insani, murid Dara.

    Setelah ayahnya meninggal, Ale berjuang membesarkan adiknya. Dia rela putus sekolah asal adiknya bisa mengenyam pendidikan.

    Dokter Farid tidak senang melihat kedekatan Dara dengan Ale.

    Menurutnya, anak jalanan seperti Ale yang berambut gondrong tidak punya sopan santun dan tidak punya masa depan sehingga tidak layak untuk dicintai.

    Apalagi mengetahui Dara terlambat pulang karena pergi bersama Ale, makin beranglah Dokter Farid.

    Untuk menjauhkan anak kesayangannya dari Ale, Farid mengizinkan Dara mengambil program studi Pendidikan Biologi di Yogyakarta.

    Bagi Dara, tak masalah dijauhkan dari Ale, selama tidak dilarang menjadi guru. Sebab, cita-citanya sudah bulat menjadi seorang guru yang berguna bagi setiap anak.

  • Resensi Buku Belajar Mendidik Karya Prof. Dr. B.S. Mardiatmadja, SJ

    Resensi Buku Belajar Mendidik Karya Prof. Dr. B.S. Mardiatmadja, SJ

    Judul : Belajar Mendidik
    Penulis : Prof. Dr. B.S. Mardiatmadja, SJ
    Penerbit : Kanisius
    Cetakan : 1, 2017
    Tebal : 176 halaman
    ISBN : 978-979-21-5407-8

    Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November mengajak kita untuk mengenang dan menghargai jasa pahlawan tanpa tanda jasa.

    Pengorbanan dan pengabdian guru tidak pernah ternilai harganya bagi perjalanan hidup setiap orang.

    Di samping itu, Hari Guru Nasional juga mengajak kita kembali memikirkan persoalan pendidikan secara lebih luas.

    Buku berjudul Belajar Mendidik ini mengajak kita melihat kembali makna dan hakikat pendidikan, makna belajar, dan mendidik, untuk memandang pelbagai problem pendidikan secara lebih komprehensif dan berimbang.

    Pengarang melihat ada sebuah makna yang perlu kembali diluruskan terkait dengan “pendidikan”. Banyak yang menganggap “pendidikan” adalah sebuah hal yang serba formal, yang mana terjadi kegiatan belajar mengajar di sekolah.

    Sehingga imajinasi ma­sya­rakat tentang pendidikan hanya seputar sekolah, guru, dan ruang ke­las. Pengarang merasa pendidikan mengalami penyempitan makna.

    Padahal, pada da­sarnya pendidikan adalah sebuah proses perjalanan yang bisa berlangsung di mana saja. Bahkan, keluarga yang menjadi pendidik pertama dan yang paling utama bagi setiap orang.

    Dalam hal ini pengarang merancang pembahasan sistematis untuk mengingatkan kita pada hal-hal mendasar tentang pendidikan dan “proses mendidik”.

    Pengarang ingin mengembalikan pemahaman masyarakat tentang hakikat belajar yang selama ini hanya dinilai dengan murid, guru, dan ruang kelas.

    Lebih mendalam, pengarang sepertinya ingin menyadarkan kita bahwa setiap orang ternyata bisa berperan sebagai guru.

    Bahwa proses belajar seorang anak selama hidupnya dipengaruhi oleh banyak faktor, tak hanya guru di sekolah.

    Selain hal mendasar tersebut, bahasan menarik adalah tentang bagaimana pendidikan mampu merespon berbagai problem yang terjadi di masyarakat, terutama problem-probrem kebangsaan terkini.

    Kita melihat belakangan bagaimana nilai-nilai persaudaran sebangsa mulai terkikis lewat pelbagai pertikaian dan ujaran kebencian (hate speech) yang menjurus SARA.

    Dinamika politik dan sosial kerap memancing perdebatan dan pertikaian di kalangan masyarakat, didorong merebaknya kabar-kabar provokatif, bahkan kabar palsu (hoax) yang seakan terus memancing kita untuk mempermasalahkan perbedaan dan keragaman di masyarakat.

    Pendidikan harus bisa menjawab problem tersebut. Pendidikan dalam hal ini bertugas kem­bali menguatkan ni­lai-nilai persaudaraan kebangsaan di tengah masyarakat kita.

    Pe­nulis menganggap pentingnya “pen­didikan damai” yang menekankan pada bagaimana mem­­bangun kehidupan yang saling meng­hormati, ru­kun, da­lam masya­ra­kat yang majemuk men­jadi penting ditekankan.

    Ni­lai-nilai yang kita butuhkan sebagai bangsa yang majemuk dan beragam tersebut ha­rus kem­bali ditanamkan dan dirawat, demi terciptanya kehidupan yang damai di masyarakat.

  • Resensi Buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

    Resensi Buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

    Judul                           : Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
    Judul Asli                    : Sukarno: An Autobiography as told to Cindy Adams
    Alih Bahasa                : Syamsu Hadi
    Terbit                           : Cetakan pertama, Agustus 2007
    Penerbit                      : Yayasan Bung Karno
    Distributor                   : PT. Buku Seru
    Banyak Halaman        : 415

    Kata Sukarno pada Bab pertama buku ini : “Buku ini tidak ditulis untuk mendapatkan simpati atau meminta supaya setiap orang suka kepadaku. Harapanku hanyalah, agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta.”

    Buku yang berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” adalah otobiografi dari presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, yang terbit pertama kali pada tahun 1966. Buku ini adalah terjemahan dari buku yang berjudul “Sukarno: An Autobiography as told to Cindy Adams”. Pertama kali diterbtikan oleh The Bobbs-Merrill Company, Inc, New York, pada tahun 1965. Dan telah dicetak berulang kali.

    Penulis buku ini adalah Cindy Adams, seorang wartawan perempuan yang berasal dari Amerika. Ia kebetulan berada di Jakarta bersama suaminya, pelawak Joey Adams, yang memimpin Misi Kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara tahun 1961. Sukarno memiliki kesan tersendiri pada Cindy Adams, “dia adalah penulis tercantik yang pernah kutemui!” Karena Cindy Adams pula, Sukarno berkenan menuliskan riwayat hidupnya – setelah sekian lama sulit sekali untuk dibujuk.

    Ya, sulit membujuk Sukarno untuk mau menulis buku biografinya. Inilah yang dirasakan oleh Duta Besar Amerika di Indonesia, Howard Jones. Pada suatu hari, saat Howard dan istrinya sedang makan bersama Sukarno dan Hartini (Istri Sukarno) di bungalow Istana Bogor, Howard mengatakan, “Tuan Presiden, aku kira sudah waktunya Anda melihat kembali perjalanan sejarah. Menurutku sudah waktunya Anda menuliskan sejarah kehidupan Anda.” Dan seperti biasa, pertanyan serupa itu sering ditanyakan kepada Sukarno, ia menjawab, “Tidak. Insya Allah, aku masih hidup 10 atau 20 tahun lagi.”

    Petugas pers Istana Presiden, Nyonya Siel Rohmulyati juga merasakan betapa sulitnya membujuk Sukarno untuk menulis memoar dirinya. Pada tahun 1960, ketika Pemimpin Uni Soviet Nikita Sergeyevich Kruschchev sedang berkunjung ke Indonesia, ada seratus orang wartawan yang datang. Roh berkata pada Sukarno, “Maaf, Bapak jangan marah, karena kami sendiripun tidak tahu sejarah hidup Bapak, dan Bapak sedikit sekali memberikan wawancara. Karena itu dapatkah Bapak menentramkan hati saya dan ingin menulis riwayat hidup Bapak?” Lalu Sukarno berteriak padanya, “Berapa kali aku harus mengatakan padamu, T-I-D-A-K!” Namun pada akhirnya Sukarno menyesal telah membentak Roh, ia meminta Ajudannya untuk menelpon Roh dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu untuk meminta maaf.

    Perlu diingat, tulisan ini merupakan resensi dari “EDISI REVISI”. Karena ternyata, pada buku yang diterbitkan sebelum edisi revisi terdapat beberapa paragraf “ajaib”. Dikatakan demikian karena paragraf tersebut ternyata tidak terdapat pada buku aslinya. Atau, ada juga kalimat yang entah sengaja atau tidak, telah dihilangkan. Selain itu, terdapat pula beberapa kata yang kehilangan makna aslinya ketika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

    Masih belum terdapat jawaban mengenai penyimpangan penerjemahan buku ini saat sebelum direvisi. Bisa saja itu sebuah kesalahan yang tidak disengaja, namun bisa juga hal tersebut dilakukan oleh pihak tertentu dengan kesadaran penuh. Mengingat situasi di Indonesia yang tidak begitu kondusif ketika buku ini pertama kali diterbitkan. Tentu saja hal ini bisa ditanyakan kepada penerjemah pertama buku ini, (Mayor) Abdul Bar Salim, andaikan ia masih hidup.

    Tapi pembaca bisa merasa lebih lega, karena kesalahan tersebut telah diperbaiki pada edisi revisi. Seperti penghapusan satu paragraf yang tidak terdapat pada buku asli berbahasa Inggris yang isinya :

    Tidak ada yang berteriak, “Kami menghendaki Bung Hatta.” Aku tidak memerlukannya. Sama seperti aku tidak memerlukan Syahrir yang menolak untuk memperlihatkan diri di saat pembacaan proklamasi. Sebenarnya aku dapat melakukannya seorang diri, dan memang aku melakukannya sendirian. Di dalam dua hari yang memecahkan urat syaraf itu maka peranan Hatta dalam sejarah tidak ada.

    Salah satu cerita menarik dari buku ini adalah penggambaran kesederhanaan dalam gelegar semangat Revolusi Indonesia. Kisah itu bermula ketika Sukarno hendak mengangkat ajudan pertamanya :

    Pada saat itu, Romulo adalah tamu kenegaraan pertama yang datang ke Indonesia. Ia berasal dari Filipina. Sukarno belum memiliki ajudan, lalu ia menunjuk seorang pemuda untuk menjadi ajudannya. “Dengan ini,” kata Sukarno, “aku mengangkatmu jadi Letnan”. Lalu penasehat presiden mengatakan bahwa Ratu Juliana memiliki ajudan berpangkat kolonel. Sukarno kemudian memanggil lagi ajudannya. “Sudah berapa lama engkau jadi letnan?” tanya Presiden Sukarno. “Satu setangah jam, Pak,” jawabnya dengan hormat. “Negara kita baru lahir tetapi tumbuh cepat, mulai sekarang engkau jadi mayor.”

    Buku ini menceritakan secara lengkap perjalanan hidup Sukarno. Mulai dari ia dilahirkan sampai pasca-Revolusi Indonesia. Kisah dan perasaan Sukarno saat dipenjara pada sel yang sempit dan gelap diceritakan dengan begitu menjiwai. Bagaiamana ia dengan tidak malu-malu mengungkapkan dengan jujur, bahwa pledoi yang terkenal “Indonesia Menggugat” ia tulis dalam penjara di atas sebuah kaleng tempat buang air.

    Masih begitu banyak cerita menarik yang terdapat pada buku ini. Tentu saja semua tidak akan mungkin bisa tertulis pada resensi ini. Seperti kisah pembuangannya yang berkali kali itu. Keberaniannya mendatangi markas tentara Jepang – yang kapan saja dapat menembaknya – seorang diri. Serta jawabannya terhadap berita miring yang sering ditulis oleh wartawan Amerika.

  • Sinopsi Buku Goblok Pangkal Kaya – Bob Sadino

    Sinopsi Buku Goblok Pangkal Kaya – Bob Sadino

    Judul : Bob Sadino, Goblok Pangkal Kaya

    Penulis : Hana Wisteria

    Penerbit : Genesis Learning

    Cetakan : I, 2016

    Tebal : 161 hal

    ISBN` : 978-602-6805-89-8

    Bob Sadino, Goblok Pangkal Kaya

    Dunia bisnis Tanah Air tentunya sudah sangat mengenal pria berpakaian khas celana pendek dan berambut putih.

    Dialah Bob Sadino atau Om Bob, seorang pengusaha sukses yang tidak menonjolkan keberhasilan.

    Sampai akhir hidupnya, Om Bob masih menunjukkan kesederhanaan.

    Meskipun sudah meninggalkan pemikiran bagi dunia bisnis sampai masih relevan diaplikasikan.

    Isi buku Bob Sadino, Goblok Pangkal Kaya sangatlah sederhana, tetapi mengena dan relevan kondisi sekarang.

    Bisa dilihat orang berlomba menciptakan dan mencari peluang karena semakin sempitnya lapangan kerja.

    Banyak orang yang mulai “patah arang” karena gagal mencari pekerjaan. Tidak sedikit pula yang menganggur.

    Semakin banyak yang merasa tidak mampu bersaing.

    Ini bagus karena malah memunculkan para wirausaha “dadakan.” Mereka berhasil mengembangkan bisnis.

    Namun, tidak sedikit juga yang merasa takut melangkah dan berkecimpung menjadi seorang entrepreneur.

    Padahal untuk berwirausaha harus berani mengambil langkah konkret dengan memanfaatkan modal dan tidak terlalu banyak berpikir.

    Semakin banyak berpikir tambah takut terjerumus dalam belenggu (hal 55).

    Dunia bisnis bisa dikatakan perpaduan antara peluang dan kegagalan.

    Banyak orang berusaha mencari keuntungan agar bisnisnya bisa langgeng.

    Hanya sedikit yang berani mendekati risiko kegagalan dalam berbisnis.

    Padahal, semakin banyak kegagalan justru semakin besar peluang keberhasilan.

    Tak ada kesuksesan yang diraih tanpa kegagalan (hal 121).

    Bob memberi beberapa sandaran mental yang dibutuhkan untuk memulai berkecimpung dalam dunia bisnis.

    Sendiri ini merupakan hasil analisisnya selama lebih 40 tahun mengarungi lautan bisnis.

    Pertama, memiliki kemauan menjadi pengusaha. Kedua, harus mempunyai komitmen kuat. Ketiga, keberanian mengambil peluang.

    Keempat, kemandirian. Kelima, syukur kepada Tuhan (hal 104).

    Di samping sendi-sendi yang bisa menjadi bekal dalam mengarungi lautan bisnis.

    Dia juga mengingatkan para entrepreneur agar berani menjadi yang pertama atau be the first, menjadi yang terbaik be the best, dan menjadi yang berbeda be different (hal 65).

    Buku ini perlu dibaca mereka yang akan belajar bisnis.

    Buku Bob Sadino, Goblok Pangkal Kaya juga menceritakan jatuh bangun Bob ketika memulai usaha.

    Dia mulai berjualan telur dari rumah ke rumah sampai berhasil membuka toko Kemchicks.

  • Sinopsis Buku Tuhan Tidak Salah Desain

    Sinopsis Buku Tuhan Tidak Salah Desain

    Judul : Tuhan Tidak Salah Desain
    Pengarang : Nita Nathan
    Penerbit : Gramedia
    Cetakan : I November 2016
    Tebal : 166 hlm
    ISBN` : 978-602-03-3594-0

    Saat bertemu anak berkebutuhan khusus, maka pikiran akan langsung diisi rasa kasihan. Persepsi orang “biasa,” anak itu tidak bisa apa-apa, masa depannya suram, hidup hanya menyusahkan orangtua, dan tidak berarti. Semua berkelindan memenuhi otak yang iba.

    Namun, ketika kemudian direnungkan, siapa yang telah menciptakan anak berkebutuhan khusus itu? Tentu saja Tuhan. Lalu, apakah Tuhan telah salah mencipta? Manusia harus berpikir, Tuhan tidak pernah salah. Manusia diciptakan dalam keadaan yang baik dan sempurna.

    Anak-anak berkebutuhan khusus pun sempurna. Di sinilah buku Tuhan Tidak Salah Desain akan menggugah pembaca dalam memahami dan mendidik anak berkebutuhan khusus. Buku menjelaskan bahwa anak berkebutuhan khusus sama istimewanya dengan putra-putri normal. Mereka diciptakan tidak dalam keadaan salah desain.

    Anak-anak ini juga memiliki keistimewaan yang sama dengan manusia umumnya (hlm 17). Untuk itu, anak-anak istimewa tersebut harus diterima sebagai bentuk perwujudan sikap menerima setiap anugerah Tuhan.

    Dengan penerimaan, mereka akan memiliki kedudukan sama dengan lainnya. Anak akan mendapat hak dan kewajiban sama alias tidak didiskriminasikan. Sebaliknya, mereka mendapat perlakukan khusus. Kehebatan anak berkebutuhan khusus hanya bisa temukan dan dieksplorasi dengan cara-cara yang istimewa pula (hlm 31).

    Buku juga menguraikan pendidikan istimewa yang bisa dberikan pada anak-anak tersebut. Alternatif pendidikan dilakukan penulis yang juga memiliki anak-anak berkebutuhan khusus (hlm 97). Jadi, buku ini merepresentasikan pengalaman penulis. Konsep pendidikan praktis yang dibahas dalam buku bertumpu pada enam metode yang diakronimkan dengan istilah Revive. Kepanjangannya adalah reframe, evolve, victory, inspire, volunteer, dan emplower (hlm 145).

    Pendidikan dengan konsep revive dimulai dari perspektif paradigma (reframe) (hlm 21). Orangtua dan guru harus berpikir bahwa anak berkebutuhan khusus yang istimewa itu ciptaan Tuhan yang tidak salah desain. Jadi mereka harus diperlakukan sebaik mungkin sebagai wujud rasa cinta pada Tuhan.

    Dengan spirit ini manusia akan bisa terus mendukung tumbuh kembang (envolve) anak (hlm 63) sesuai dengan bakat dan potensi sehingga bisa memperoleh kemenangan (victory). Mereka menang bila sudah berhasil mengembangkan potensi anak untuk bisa meraih kehidupan yang sebenarnya. Anak-anak inilah yang kemudian akan menginspirasi (inspire) banyak orang. Mereka mampu melampaui keterbatasan (hlm 131).

    Di sinilah buku membimbing pembaca untuk bisa mejadi relawan (volunteer) dalam mendidik anak (hlm 139). Melalui basis kerelawaanan inilah orangtua bisa menjadi pelatih (emplower) yang terus mendidik anak-anak berkebutuhan khusus dengan baik (hlm 145). Buku ini akan menyadarkan pembaca untuk bisa menghargai anak berkebutuhan khusus sebagai generasi istimewa yang memerlukan pendidikan istimewa pula. Mereka tak boleh diremehkan, apalagi diperlakukan secara diskriminatif.