Tag: rumah literasi indonesia

  • NLR  Indonesia Gelar Lokakarya Pemantapan Peran Personal dan LSM Peduli Disabilitas di 3 Provinsi

    NLR Indonesia Gelar Lokakarya Pemantapan Peran Personal dan LSM Peduli Disabilitas di 3 Provinsi

    Lembaga donor NLR Indonesia yang didukung Liliane Foundation menggelar lokakarya bagi mitra SCN yang telah melalui masa transisi program hingga tahap input data calon penerima manfaat.

    Kegiatan ini berlangsung pada 10–13 Maret 2026 di tiga kota yang berada di tiga provinsi berbeda.

    Tiga kota yang menjadi lokasi penyelenggaraan lokakarya tersebut adalah Palu (Sulawesi Tengah), Kupang (Nusa Tenggara Timur), dan Jember (Jawa Timur).

    Untuk kegiatan di Jember, lokakarya diikuti oleh masing-masing tujuh peserta dari Kabupaten Jember yang akan menangani wilayah Arjasa, Silo, dan Ledokombo.

    Sementara itu, wilayah Besuki dan Bungatan menjadi tanggung jawab organisasi penyandang disabilitas (OPDis) Situbondo.

    Adapun LSM Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia akan melakukan pendampingan bagi penyandang disabilitas serta anak dan remaja terdampak kusta berusia 1–24 tahun di Kecamatan Kalipuro dan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi.

    Materi lokakarya dirancang untuk memperkuat kapasitas pimpinan lembaga, officer program, bagian keuangan, serta tim Monitoring, Evaluation and Learning (MEL) dan koordinator lapangan Community Based Rehabilitation (CBR).

    Selain itu, peserta juga dibekali dengan pelatihan penyusunan proposal hingga penandatanganan kontrak kemitraan yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Maret ini.

    “Walau cuti Lebaran ke Ambon, kami tetap melakukan koreksi dan proses agar pada 1 April program sudah efektif berjalan dan segera berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk melakukan intervensi kepada penerima manfaat,” tutur fasilitator NLR, Nona, saat kegiatan berlangsung di Hotel Java Lotus Jember.

    Dalam kesempatan tersebut, Nella dan Anggun menyambut dengan senyum karena pihak donor menekankan pentingnya pemenuhan tenggat waktu, kelengkapan data, serta narasi pendukung program, tanpa melihat kondisi libur panjang atau tanggal merah.

    Selain sesi materi secara langsung, peserta di tiga kota juga mendapatkan bimbingan daring secara serentak dari narasumber Nurlia Wuliyanti dan Jasmine yang berada di kantor NLR Indonesia di Jakarta.

    Bimbingan tersebut memperkuat materi yang sebelumnya telah disampaikan melalui pertemuan daring pada pekan lalu.

    Beberapa materi utama yang dibahas dalam lokakarya ini antara lain Due Diligence, Standard Operating Procedure (SOP), timeline program, serta komitmen profesional yang menjunjung tinggi integritas dan etika kerja.

    Direktur Rumah Literasi Indonesia, Tunggul Harwanto, menyampaikan bahwa pertemuan teknis yang melibatkan mitra dari berbagai kota tersebut memberikan kesempatan untuk saling berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kesiapan dalam menjalankan program sosial kemanusiaan.

    “Dengan pertemuan teknis dan standar NLR yang melibatkan mitra dari kota lainnya, maka kita bisa berbagi pengalaman dan semakin mantap menjalankan program sosial kemanusiaan ini,” tuturnya.

    Hal senada juga disampaikan oleh Indah Catur Cahyaningtyas, Divisi Program Yayasan Aura Lentera Indonesia.

    Ia menjelaskan bahwa kearifan lokal dapat menjadi kekuatan dalam mendukung keberhasilan program bagi anak dan remaja difabel, termasuk bagi mereka yang berada di luar empat desa pilot project selama masih berada dalam kecamatan yang sama.

    “Harapannya, sinergi para pihak dapat menghindarkan ego sektoral dan memperkuat kolaborasi supertim untuk mencapai visi dan misi bersama yang telah dipelopori Bupati dan didukung kepala dinas,” ujar Indah.

    Indah sendiri merupakan istri Nurhadi Windoyo, yang pernah menjabat sebagai Ketua Pertuni serta memiliki pengalaman dalam pengelolaan komputer Braille.

    Sementara itu, Umar Asmoro, yang aktif di Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), mengungkapkan rasa syukur karena Banyuwangi mendapatkan tambahan program Body Talk Kesehatan Reproduksi yang dipimpin oleh program officer Agus Wahyu Nuryadi.

    Selain itu, terdapat pula program Pengembangan Potensi Remaja yang akan dikelola oleh para relawan Rumah Literasi Indonesia yang memiliki minat bergabung dengan Youth Center PKBI serta akan berkolaborasi bersama Forum Anak Banyuwangi, yang diwakili oleh Annisa Rahmawati.

  • Validasi Data BEN-NLR Indonesia, Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Banyuwangi Inklusif

    Validasi Data BEN-NLR Indonesia, Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Banyuwangi Inklusif

    Dalam upaya memperkuat layanan inklusif bagi anak dan remaja penyandang disabilitas, Rumah Literasi Indonesia bersama Yayasan Aura Lentera Indonesia menggelar Pertemuan Validasi Data Program Building Effective Network (BEN), Selasa (3/3/2026), di Hotel Aston Banyuwangi.

    Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB ini diikuti 45 peserta dari unsur pemerintah daerah, akademisi, tenaga pendidik, serta organisasi penyandang disabilitas.

    Tunggul Harwanto dari Rumah Literasi Indonesia memaparkan latar belakang dan tujuan program BEN.

    Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Banyuwangi menjadi satu-satunya klaster yang dipercaya menjalankan tiga proyek sekaligus, yakni Building Effective Network (BEN) Pemberdayaan Disabilitas Berbasis Jejaring Masyarakat, MYP Pengembangan Potensi Anak dan Remaja Difabel (Down Syndrome & OYPMK), serta Body Talk SRHR tentang Perkembangan Kesehatan Reproduksi.

    Kepercayaan tersebut diberikan karena Banyuwangi dinilai memiliki komitmen kuat dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas dan pengembangan daerah inklusif yang mendapat dukungan penuh dari bupati serta berbagai elemen masyarakat.

    “Kami berharap melalui pertemuan ini, sinergi antarsektor semakin kuat sehingga pelayanan terhadap penyandang disabilitas dapat berjalan terpadu dan berkelanjutan,” ujar Tunggul.

    Program BEN merupakan inisiatif yang didukung oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia.

    Program ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mewujudkan layanan inklusif melalui pendekatan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM).

    Pertemuan ini menjadi forum untuk menyamakan persepsi sekaligus menyusun langkah kolaboratif berbasis data yang valid dan terintegrasi.

    Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda, S.Sos., MBA., MM., hadir sebagai pembicara kunci sekaligus membuka acara secara resmi.

    Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta sistem database yang terintegrasi.

    “Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif ini. Validasi dan integrasi data merupakan langkah strategis untuk memastikan program tepat sasaran dan berkelanjutan,” tegasnya.

    Sesi diskusi yang difasilitasi Indah Catur Cahyaning Tyas dari Yayasan Aura Lentera Indonesia menghadirkan dua narasumber dari unsur pendidikan dan kesehatan.

    Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Alfian, M.Pd., menekankan pentingnya penguatan jejaring lintas sektor guna mendukung pengembangan sekolah inklusif.

    Ia juga mengusulkan agar Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilibatkan dalam kegiatan selanjutnya karena keterkaitannya dengan data kependudukan.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, H. Amir Hidayat, S.K.M., M.Si., menyoroti pentingnya pengembangan layanan kesehatan inklusif berbasis analisis kebutuhan dan data yang akurat serta ramah disabilitas.

    Peserta yang hadir merupakan anggota Forum RBM (Rehabilitasi Berbasis Masyarakat) yang menjadi inti Building Effective Network.

    Mereka berasal dari Dinas Sosial dan PPKB, Bappeda, Camat Kalipuro dan Rogojampi, Kepala Puskesmas Klatak dan Gladag, kepala desa/lurah, tenaga pendidik dari sekolah inklusif dan SLB, serta organisasi seperti Perkins, GERKATIN, HWDI, dan Aisyiyah.

    Tunggul Harwanto dan Indah Catur Cahyaning Tyas selaku Leader Tim Transisi Banyuwangi menegaskan bahwa pertemuan ini bertujuan menyusun perencanaan berbasis data, memperkuat peran Forum RBM, serta membangun komitmen kolaboratif antar pemangku kepentingan di tingkat kabupaten untuk keberlanjutan program hingga 2028.

    Diskusi berlangsung aktif dalam sesi tanya jawab. Masfufah, S.Pd., Ketua Yayasan Matahati, menyampaikan harapan agar pendampingan dan layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas semakin diperkuat, terlebih regulasi sudah tersedia.

    Yudi, guru dari SDN 2 Gladag, juga mengungkapkan tantangan terkait seorang siswa dengan disabilitas intelektual yang orang tuanya belum berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

    Selain itu, Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang terlibat dalam pendataan anak dan remaja disabilitas membagikan temuan lapangan, khususnya terkait tantangan layanan di puskesmas dan sekolah serta pentingnya koordinasi yang baik dengan pemerintah desa.

    Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi dan integrasi layanan bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Banyuwangi, menuju sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan menyongsong pelaksanaan program tiga tahun yang akan dimulai pada April 2026.

  • Deklarasi Forum RBM Wujudkan Disabilitas Banyuwangi yang Ada, Kuat, dan Berdaya

    Deklarasi Forum RBM Wujudkan Disabilitas Banyuwangi yang Ada, Kuat, dan Berdaya

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 dengan tema “Setara Berkarya Berdaya Tanpa Batas” digelar pada Senin (1/12/25), difasilitasi Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari organisasi penyandang disabilitas dan OMS Peduli Disabilitas sebagai bagian dari penguatan Building Effective Network yang baru dideklarasikan.

    Selain Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia, belasan lembaga turut terlibat, di antaranya PPDI, Gerkatin, Pertuni, DMI, HWDI, Taliwangi, Difawangi, NPCI, Persawangi, SLBN Banyuwangi, SLB Matahati, SLB PGRI Cluring, SDN Kepatihan, Stepping Stones, Perkins, NLR Indonesia, serta Liliane Fonds.

    Rangkaian acara dibuka dengan konvoi sepeda motor modifikasi oleh anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI).

    Para penyandang disabilitas dari PPDI, Digawangi, Gerkatin, HWDI, dan Pertuni turut menjadi pembonceng.

    Konvoi dipandu MC Nurul Imam, barista netra dari Asyifa Kopi, dengan titik keberangkatan dari Terminal Wisata Terpadu Sobo (TWTS).

    Asisten Pemerintahan dan Kesra, M.Y. Bramudya, sebelum mengibarkan bendera start, menyampaikan harapannya agar komunitas difabel dapat memanfaatkan terminal terpadu tersebut secara rutin sebagai ruang ekspresi dan wadah diffabelpreneur untuk menampilkan karya, keterampilan, serta produk UMKM Sahabat Komunitas.

    Didampingi Kadinsos PP&KB dan Kasat Binmas yang mewakili Kapolresta yang beberapa bulan lalu memfasilitasi SIM D, Bramudya melepas konvoi.

    Di barisan depan, Kendaraan Tanggap Dinsos membawa pengeras suara berisi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan suara Nurhadi Windoyo, penyiar radio komunitas JRKBB-JRKI yang berprestasi tingkat provinsi dan nasional, mantan Ketua Pertuni, dan kini Ketua YALI.

    Sekitar 45 sepeda motor modifikasi dengan total 99 peserta bergerak menuju Taman Makam Pahlawan Wiswa Raga Satria.

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional Banyuwangi

    Rombongan disambut Bupati Banyuwangi dengan senyum dan pantun.

    “Konvoi ini tidak sekadar beriringan, tetapi membawa pesan bahwa kalian ada, kuat, berdaya, dan Banyuwangi memberi ruang kesetaraan inklusif di dunia pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga kesempatan berkarya,” tutur Bupati yang dikenal sangat peduli pada isu disabilitas dan telah menggagas program Rembug Disabilitas selama tiga tahun terakhir.

    Pada momen ini juga dilakukan pembacaan ikrar dan penandatanganan Program Building Effective Network (BEN) yang difasilitasi Liliane Fonds dan NLR Indonesia.

    Penandatanganan dilakukan oleh Bupati bersama dua lembaga pelaksana program, yaitu Rumah Literasi Indonesia dan Aura Lentera, serta komunitas penyandang disabilitas.

    Deklarasi Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) menjadi inti dari proses menuju visi dan mimpi bersama.

    Di sisi lain, pertandingan sepak bola amputasi dengan tujuh pemain digelar di barat Stadion Diponegoro.

    Laga persahabatan antara Persewangi dan Persaid Jember yang diperkuat sejumlah pemain timnas berlangsung 2×15 menit di bawah kepemimpinan wasit Askab PSSI, Nanang, dan berakhir dengan skor 0–4.

    Puncak HDI 2025 berlangsung di SLB Negeri wilayah Giri dengan penampilan The Filling Band serta Gamelan Gerayangan yang mengiringi tari jejer gandrung tunarungu.

    Acara dilanjutkan dengan sholawatan dan penyerahan santunan untuk anak yatim penyandang disabilitas oleh Wakil Bupati H. Mujiono, didampingi Kadinsos, Kadis Kesehatan, Kadis Pendidikan, dan Camat Giri.

    HDI Banyuwangi 2025

    “Insan tidak dilihat dari kesempurnaannya, tetapi dari potensi dan kemanusiaannya yang setara. Pemerintah daerah pun belum sempurna, sehingga kami membutuhkan masukan dan kolaborasi untuk mencapai mimpi bersama,” ujar Wabup yang berkarier dari bawah hingga menjadi Sekda.

    Acara HDI 2025 juga diwarnai pelantikan Pengurus Gerkatin Banyuwangi oleh Ketua Gerkatin Jawa Timur, ditandai penyematan pin oleh Wakil Bupati.

    Sebagai bagian dari kampanye Bisindo, disajikan pembacaan Surat Al-Fatihah oleh kolaborasi qori’ tunanetra dan tunarungu menggunakan bahasa isyarat.

    Antusiasme memuncak ketika hadirin diajak menyanyikan lagu “Manusia Kuat” (Tulus) oleh penyanyi tunanetra bersama 11 anak tunarungu, diselingi puisi dari anak cerebral palsy.

    Stepping Stones turut memberikan bantuan simbolis berupa kursi roda, sepatu bantu tulang bengkok, dan alat kesehatan lainnya.

    Acara ditutup dengan pelepasan balon harapan dan pemborongan produk diffabelpreneur oleh para pejabat yang hadir.

    Menurut Juru Bahasa Isyarat (JBI) Firdaus, setelah HDI 2025 yang difasilitasi supertim B-Fest, pada 2 Desember akan digelar berbagai lomba antar-SLB, dan pada 3 Desember, tepat di Hari Disabilitas Internasional, diadakan jalan sehat di seputaran Gesibu Blambangan.

    “Insya Allah pada 3 Desember kepala sekolah kami, Bu Masfufah, sudah hadir sepulang menerima penghargaan dari Gubernur Khofifah sebagai kepala SLB berprestasi 3 besar dan inspirasi Jatim,” ujar sie acara, Suyitno Baskoro.

    Ketua Forum Organisasi Penyandang Disabilitas, Umar Asmoro, berharap momentum HDI 2025 dapat meningkatkan literasi dan akurasi data penyandang disabilitas, serta mengurangi hambatan bagi kelompok dengan kekhususan dan keistimewaan.

    Umar menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar mengizinkan difabel untuk ikut serta, tetapi mengakui difabel sebagai bagian utuh dalam kehidupan inklusif.

  • Semarak HDI 2025 dan Konvoi Difabel Tegaskan Komitmen Inklusif Banyuwangi, Ipuk: Kalian Ada, Kuat, dan Berdaya

    Semarak HDI 2025 dan Konvoi Difabel Tegaskan Komitmen Inklusif Banyuwangi, Ipuk: Kalian Ada, Kuat, dan Berdaya

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 bertema “Setara Berkarya Berdaya Tanpa Batas” digelar pada Senin (1/12/25), difasilitasi Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai organisasi penyandang disabilitas dan lembaga peduli difabel, seperti Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Rangkaian acara dibuka dengan konvoi sepeda motor modifikasi oleh anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI).

    Para penyandang disabilitas dari PPDI, Digawangi, Gerkatin, HWDI, dan Pertuni turut berpartisipasi sebagai pembonceng.

    Konvoi dipandu oleh MC Nurul Imam, barista netra dari Asyifa Kopi, dengan titik start di Terminal Wisata Terpadu Sobo (TWTS).

    Asisten Pemerintahan dan Kesra, M.Y. Bramudya, yang melepas keberangkatan konvoi, berharap komunitas difabel dapat memanfaatkan terminal terpadu tersebut secara rutin sebagai ruang ekspresi maupun wadah diffabelpreneur untuk menampilkan karya, keterampilan, dan produk UMKM Sahabat Komunitas.

    Didampingi Kadinsos PP&KB dan perwakilan Polresta yang sebelumnya memfasilitasi pembuatan SIM D, Bramudya mengibarkan bendera start.

    Iring-iringan dipimpin oleh Kendaraan Tanggap Dinsos yang membawa pengeras suara berisi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan suara Nurhadi Windoyo, penyiar radio komunitas JRKBB-JRKI yang pernah menjadi Ketua Pertuni dan kini memimpin YALI.

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional Banyuwangi

    Sekitar 45 sepeda motor modifikasi dengan total 99 peserta bergerak menuju Taman Makam Pahlawan Wiswa Raga Satria. Di lokasi tersebut, rombongan disambut langsung oleh Bupati Banyuwangi dengan senyum dan pantun.

    “Konvoi ini bukan sekadar beriringan, tetapi membawa pesan bahwa kalian ada, kuat, berdaya, dan Banyuwangi memberi ruang kesetaraan inklusif di dunia pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga kesempatan berkarya,” ujar Bupati yang selama tiga tahun terakhir menginisiasi program Rembug Disabilitas.

    Pada momen ini juga dilakukan pembacaan ikrar dan penandatanganan Program Building Effective Network (BEN) yang difasilitasi Liliane Founds dan NLR Indonesia.

    Penandatanganan dilakukan oleh Bupati bersama dua lembaga pelaksana program, yaitu Rumah Literasi Indonesia dan Aura Lentera, serta komunitas penyandang disabilitas.

    Di sisi lain, pertandingan sepak bola amputasi turut meramaikan peringatan HDI.

    Bertempat di sisi barat Stadion Diponegoro, digelar laga persahabatan antara Persewangi dan Persaid Jember yang diperkuat sejumlah pemain timnas.

    Pertandingan 2×15 menit yang dipimpin wasit Askab PSSI, Nanang, berakhir dengan skor 0–4.

    Puncak HDI 2025 digelar di SLB Negeri wilayah Giri. Acara menampilkan The Filling Band dan Gamelan Gerayangan yang mengiringi penampilan tari jejer gandrung tunarungu.

    Kegiatan berlanjut dengan sholawatan dan penyerahan santunan yatim penyandang disabilitas oleh Wakil Bupati H. Mujiono, didampingi para kepala dinas dan Camat Giri.

    “Manusia tidak dinilai dari kesempurnaannya, tetapi dari potensi dan kemanusiaannya yang setara. Pemda pun belum sempurna, sehingga kami membutuhkan masukan dan kolaborasi untuk mencapai mimpi bersama,” ujar Wabup yang memulai karier birokrasi dari bawah hingga menjadi Sekda.

    Acara juga mencakup pelantikan Pengurus Gerkatin serta praktik bahasa isyarat berupa pembacaan Surat Al-Fatihah dan menyanyikan lagu Manusia Kuat (feat. Tulus).

    Selain itu, Perkins menyalurkan bantuan simbolis berupa kursi roda, sepatu bantu tulang bengkok, dan alat kesehatan lainnya.

    Kegiatan ditutup dengan pelepasan balon harapan dan pemborongan produk diffabelpreneur oleh pejabat yang hadir.

    Menurut JBI Firdaus, setelah HDI 2025 yang difasilitasi Dinas Sosial ini, pada tanggal 2 Desember akan digelar berbagai lomba antar-SLB, dan pada 3 Desember dilaksanakan jalan sehat di seputaran Gesibu Blambangan.

    “Insya Allah pada 3 Desember sudah hadir kepala sekolah kami, Bu Masfufah, yang saat ini menerima penghargaan dari Gubernur Khofifah sebagai kepala SLB berprestasi 3 besar dan inspirasi Jatim,” ujar Suyatno Baskoro selaku sie acara.

    Ketua Forum Organisasi Penyandang Disabilitas, Umar Asmoro, berharap momentum HDI 2025 dapat meningkatkan literasi, memperbaiki data penyandang disabilitas, serta mengurangi berbagai hambatan yang selama ini dihadapi kelompok dengan kekhususan dan keistimewaan ini.

  • Yayasan Aura Lentera dan Rumah Literasi Bangun Jejaring Inklusif bagi Disabilitas dan Penyintas Kusta di Banyuwangi

    Yayasan Aura Lentera dan Rumah Literasi Bangun Jejaring Inklusif bagi Disabilitas dan Penyintas Kusta di Banyuwangi

    Kickoff Program Building Effective Network (BEN) & Meaningful Youth Participation (MYP) digelar di Hotel Aston Banyuwangi, Senin (10/11/2025), bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Kegiatan ini menegaskan semangat “superteam” dalam melayani disabilitas dan penyintas kusta.

    Acara yang dimoderatori oleh Indah Cahyaning Tyas, aktivis Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI), diawali oleh NS. Tunggul Harwanto, M.Kes., Ketua Rumah Literasi Indonesia Banyuwangi, yang memaparkan edukasi tentang program BEN dan MYP.

    Program yang disuport oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia ini digagas untuk memperkuat kapasitas organisasi lokal, komunitas, serta para pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem dukungan yang berkelanjutan.

    Fokus utamanya adalah membangun jejaring efektif antar lembaga, sekolah, tenaga kesehatan, organisasi penyandang disabilitas, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok masyarakat agar anak serta remaja dengan disabilitas maupun yang terdampak kusta memperoleh akses setara terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kegiatan sosial.

    NLR Indonesia sebagai Grant Manager dari Program BEN dan MYP mendapat mandat untuk mengoordinasikan fase transisi, memastikan mekanisme koordinasi terbentuk, serta mempersiapkan peta jalan program Fase I (2026–2028).

    Program BEN saat ini telah dijalankan di tiga negara, yaitu Bangladesh, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, program ini dijalankan di tiga provinsi: Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.

    Kegiatan soft launching kickoff di Hotel Aston Banyuwangi dihadiri oleh pimpinan SKPD pemerintah daerah seperti Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Kemenag, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, serta Direktur RSUD Blambangan, juga organisasi penyandang disabilitas, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan remaja dengan disabilitas.

    Acara berlangsung hangat dengan sesi dialog interaktif, deklarasi komitmen bersama, serta pembentukan forum jejaring lokal.

    Tujuan kegiatan BEN dan MYP di Banyuwangi:

    1. Memperkenalkan kerangka program Building Effective Networks (BEN) kepada organisasi lokal dan pemangku kepentingan utama.

    2. Memfasilitasi pertukaran informasi dan pemahaman bersama terkait konteks, tantangan, dan peluang dalam memperkuat inklusi anak dan remaja dengan disabilitas.

    3. Membangun komitmen bersama untuk menjalankan fase transisi menuju tata kelola jaringan yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan.

    Diharapkan setelah kegiatan ini:

    • Peserta memiliki pemahaman yang jelas mengenai kerangka BEN, roadmap, dan struktur tata kelola yang akan dibangun.
    • Terbentuk kesepahaman awal terkait mekanisme koordinasi, peran, dan tanggung jawab organisasi lokal serta pemangku kepentingan.
    • Tersusunnya rencana tindak lanjut jangka pendek sebagai dasar pelaksanaan fase transisi.
    • Meningkatnya komitmen dan rasa kepemilikan (sense of ownership) dari organisasi lokal dan pemangku kepentingan terhadap tujuan BEN dan MYP di Banyuwangi.

    Bupati Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M., menyampaikan dukungan penuh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi.

    Dalam sambutannya, Suratno menjelaskan bahwa Banyuwangi telah menjadi Kabupaten Inklusif sejak 2014 dan kini telah memiliki Perda serta Perbup Unit Layanan Difabel Terintegrasi.

    “Harapan kami, program ini menjadi energi positif berkelanjutan untuk pelayanan kesetaraan bagi saudara-saudara kita yang istimewa,” tuturnya.

    Sementara itu, Sekretaris Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Budi Wahono, S.T., memberikan edukasi tentang berbagai program inklusif yang telah dilakukan Pemerintah Daerah, termasuk membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara).

    Sebagai narasumber, Masfufah, S.Pd., Kepala SLB Negeri Banyuwangi yang juga mewakili PERKINS International, menyampaikan materi tentang manajemen ekosistem inklusif dengan pendekatan Sustainable Development Goals (SDGs) dan Stakeholders Analysis.

    Ia juga mengulas mekanisme Sistem Layanan ULD Terintegrasi yang menjadi fondasi penguatan inklusi di tingkat daerah.

    Dalam sesi tanya jawab, beberapa peserta memberikan masukan mewakili komunitasnya.
    Ricky Malebhy, Ketua Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia), menyampaikan kesulitan komunitas Tuli dalam menyusun program kesejahteraan, terutama terkait keterlibatan dalam aktivitas UMKM Difabel.

    Umar Asmoro, tokoh senior forum OPDis, menambahkan sejumlah masukan terkait pengelolaan masalah difabel dan perlunya langkah nyata dalam penanganannya.

    Yang paling menarik, datang dari Nurhadi Windoyo, seorang tuna netra yang menjabat sebagai Ketua Aura Lentera.

    Menurut Windoyo, “Kita jangan terjebak dalam inovasi yang tidak berkelanjutan. Lebih baik membangun kolaborasi yang kuat dengan berbagai pihak. Hambatan terbesar dalam kolaborasi biasanya adalah ego sektoral.”

    Sementara itu, Mbak Hanum, aktivis pemberdayaan masyarakat, menambahkan, “Kolaborasi syaratnya mau terbuka, mau mendengar, dan siap bekerja sama. Norma yang harus dijaga adalah jangan mengorbankan kepentingan mayoritas demi minoritas, karena itu bukan inklusif, tapi eksklusif. Kita harus membangun sistem layanan terbaik tanpa terjebak pada prosedur yang kaku. Jangan hanya menciptakan inovasi yang indah di permukaan, tapi lupakan pondasi yang kuat,” tegasnya sambil tersenyum.

    Tunggul dan Indah menutup acara dengan menyampaikan ajakan untuk terus bersinergi dan bergandeng tangan.

    Mereka juga mengumumkan telah terpilihnya tujuh enumerator yang akan bekerja sama dengan camat, kepala desa, dan kepala puskesmas untuk melakukan input data pendampingan di wilayah terpilih.

    “Temuan lokal di desa bisa membuka ruang dialog hingga tingkat kabupaten, bahkan menjadi ajang aspirasi nasional yang berpotensi menjadi isu global untuk kedamaian dan kesejahteraan bersama,” tutup mereka. (Andre/Aguk)

  • Rumah Literasi Indonesia, Pusat Inspirasi dan Edukasi untuk Masyarakat Banyuwangi

    Rumah Literasi Indonesia, Pusat Inspirasi dan Edukasi untuk Masyarakat Banyuwangi

    Rumah Literasi Indonesia yang terletak di Ketapang, Banyuwangi adalah pusat edukasi dan literasi bagi anak-anak dan remaja.

    Tidak hanya menyediakan berbagai koleksi buku bacaan, tetapi juga menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif.

    Konsep yang diusung oleh sang penggagas, Tunggul Harwanto berhasil menarik perhatian berbagai pihak untuk berkolaborasi, termasuk lembaga internasional seperti UNICEF dan USAID hingga sejumlah perusahaan dalam negeri.

    Sebagai informasi, Tunggul Harwanto yang merupakan sosok di balik Rumah Literasi Indonesia memiliki latar belakang pendidikan yang menarik.

    Alumni SMAN 1 Jembrana, Bali ini melanjutkan pendidikannya di bidang keperawatan di STIKES Banyuwangi, lalu meraih gelar S2 di bidang Kedokteran Keluarga di sebuah perguruan tinggi negeri di Solo.

    Tunggul pernah menjadi dosen di Universitas Bhakti Indonesia Banyuwangi jurusan Keperawatan, namun ia memutuskan berhenti mengajar untuk fokus mengembangkan dunia literasi.

    Baginya, dunia literasi lebih dari sekadar menyediakan akses buku, tapi bentuk perjuangan untuk membuka wawasan dan masa depan generasi muda.

    “Rumah Literasi Indonesia ini adalah upaya kami untuk memberikan kesempatan bagi setiap anak dan remaja di pelosok daerah agar memiliki akses terhadap buku dan ilmu pengetahuan,” jelas Tunggul.

    Ia berharap Rumah Literasi Indonesia dapat membantu mengatasi kesenjangan dalam akses literasi, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

    Program Kegiatan di Rumah Literasi Indonesia

    Rumah Literasi Indonesia menjalankan beberapa program inovatif yang dirancang untuk menjangkau masyarakat luas.

    Program unggulannya adalah Gerakan 1000 Rumah Baca, sebuah gerakan untuk mengajak masyarakat mendirikan rumah baca berbasis komunitas di berbagai daerah.

    Gerakan ini dilandasi oleh visi bahwa keluarga memainkan peran penting dalam mendidik generasi muda.

    Dengan adanya 1000 rumah baca di seluruh pelosok negeri, anak-anak di daerah terpencil akan memiliki akses buku dan kegiatan literasi yang dapat membantu mengembangkan kemampuan mereka.

    Selain itu, Tunggul dan timnya juga aktif melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah di daerah terpencil.

    Melalui kegiatan ini, mereka mengajak siswa untuk bermimpi besar dan menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi yang sama dengan anak-anak di kota.

    Cara ini dianggap lebih proaktif dan berfokus pada “menjemput bola” sehingga para siswa merasa lebih dekat dengan dunia literasi.

    Tunggul dan relawan juga mengemas kunjungan ini dengan aktivitas kreatif dan inspiratif untuk membangun cita-cita dan imajinasi anak-anak.

    Kemudian, Rumah Literasi Indonesia juga menjalankan program Wisata Literasi yang unik.

    Program ini menggabungkan unsur pendidikan dengan kegiatan wisata yang menarik, sehingga cocok untuk semua usia, mulai dari pelajar hingga profesional.

    Para pengunjung dapat ikut serta dalam berbagai kegiatan, seperti pengumpulan sampah organik yang kemudian dapat ditukar dengan uang, hingga belajar tentang budidaya lobster dan maggot.

    Pengalaman wisata ini mengajarkan nilai keberlanjutan dan memberikan kesadaran lingkungan bagi para pengunjung.

    SocioPreneur dan Ekonomi Mandiri

    Untuk mendukung keberlangsungan Rumah Literasi, Tunggul menerapkan konsep socio-preneur di mana Rumah Literasi yang berfungsi sebagai ruang belajar dan juga sirkulasi ekonomi mandiri.

    Konsep ini memberi kesempatan kepada para relawan muda untuk mengembangkan bisnis yang berfokus pada penyelesaian masalah sosial, seperti kesehatan masyarakat, pendidikan, dan lingkungan.

    Program ini diharapkan tidak hanya membantu perekonomian komunitas sekitar, tetapi juga melatih para relawan muda dalam mengelola bisnis berkelanjutan dengan tujuan sosial.

    Berkat konsep socio-preneur yang diterapkan, Rumah Literasi Indonesia kini menarik berbagai pihak untuk berkolaborasi.

    Sejumlah lembaga, seperti UNICEF, Alibaba, Gramedia, ASDP, BUMN, dan Rotary International telah bekerja sama dengan Rumah Literasi Indonesia dalam mendukung program-program edukasi.

    Dukungan dari Para Relawan dan Apresiasi Masyarakat

    Setiap harinya, Rumah Literasi Indonesia dikunjungi oleh berbagai tamu, mulai dari perorangan, lembaga, hingga perusahaan yang tertarik untuk berkontribusi.

    Saat ini, lebih dari 500 relawan terlibat aktif dalam mendukung kegiatan di Rumah Literasi.

    Kehadiran para relawan ini menjadi bukti bahwa semangat literasi telah menyebar dan mengakar kuat di masyarakat.

    Bung Aguk, seorang aktivis sosial dan pegiat literasi yang pernah mengikuti Jambore Sastra Asia Tenggara mengapresiasi Rumah Literasi Indonesia.

    “Apa yang dilakukan Rumah Literasi Indonesia ini adalah contoh nyata bagaimana literasi bisa menyentuh dan memberdayakan masyarakat, bukan hanya sebagai sarana membaca, tetapi sebagai bentuk kontribusi nyata bagi masa depan generasi muda,” ungkapnya.

    Bagi Bung Aguk, program ini bukan sekadar inisiatif lokal, melainkan gerakan besar yang sangat berarti dalam pembangunan masyarakat.

    Harapan di Masa Depan

    Tunggul berharap Rumah Literasi Indonesia bisa terus mengembangkan sayap dan menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.

    Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak, ia optimis Rumah Literasi bisa menjadi contoh model literasi yang berkelanjutan.

    Baginya, Rumah Literasi Indonesia adalah upaya untuk memberikan setiap anak kesempatan yang sama untuk meraih ilmu pengetahuan.

    “Rumah Literasi Indonesia hadir bukan hanya untuk memberikan buku, tetapi untuk menginspirasi dan membentuk generasi yang berdaya,” tegas Tunggul.

    Ia berharap, apa yang mereka lakukan di Rumah Literasi Indonesia bisa memicu munculnya lebih banyak gerakan literasi di berbagai daerah, terutama di pelosok negeri. (MA)