Tag: sapardi djoko damono

  • Puisi Pada Suatu Hari Nanti (Sapardi Djoko Damono)

    Puisi Pada Suatu Hari Nanti (Sapardi Djoko Damono)

    Pada Suatu Hari Nanti
    Sapardi Djoko Damono

    pada suatu hari nanti
    jasadku tak akan ada lagi
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau tak akan kurelakan sendiri

    pada suatu hari nanti
    suaraku tak terdengar lagi
    tapi di antara larik-larik sajak ini
    kau akan tetap kusiasati

    pada suatu hari nanti
    impianku pun tak dikenal lagi
    namun di sela-sela huruf sajak ini
    kau tak akan letih-letihnya kucari

  • Biografi Sapardi Djoko Damono dan Karya-Karyanya yang Tak Lekang oleh Waktu

    Biografi Sapardi Djoko Damono dan Karya-Karyanya yang Tak Lekang oleh Waktu

    Biografi Sapardi Djoko Damono

    Nama Lengkap:
    Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono

    Tempat Lahir:
    Kampung Baturono, Solo

    Tanggal Lahir:
    Rabu, 20 Maret 1940

    Ayah:
    Sadyoko

    Ibu:
    Sapariah

    Biografi Singkat Sapardi Djoko Damono

    Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair Indonesia terkemuka.

    Ia dikenal lewat puisi-puisi nya yang menggunakan kata-kata sederhana dan menyentuh hati.

    Sapardi mulai suka menulis sekak kecil.

    Bahkan, saat masih duduk di sekolah menengah, karya-karya Sapardi Djoko Damono sudah sering dimuat di majalah.

    Ketertarikannya pada dunia sastra semakin tinggi sehingga ia mengambil kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.

    Tidak hanya mahir menulis, Sapardi juga punya kemampuannya di bidang seni, mulai dari menari, bermain gitar, bahkan bermain drama.

    Sapardi juga pernah menerjemahkan berbagai karya penulis asing, esai, dan sejumlah artikel di surat kabar.

    Di dunia akademisi, Sapardi adalah seorang guru besar ilmu sastra yang beberapa periode menjabat Pembantu Dekan I, Dekan, serta Ketua Program Pascasarjana yang semuanya dalam lingkup Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

    Dengan profesinya tersebut, Sapardi sering memberi ilmu dan pengarahan kepada mahasiswa tentang bagaimana cara menulis dan membaca puisi yang baik.

    Pendidikan Sapardi Djoko Damono

    • Sekolah Dasar Kasatrian
    • SMP II Mangkunagaran
    • SMA II di Margoyudan
    • Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM

    Karir Sapardi Djoko Damono

    • Guru Besar Ilmu Sastra
    • Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Ketua Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Pendiri Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI)
    • Dosen Universitas Diponegoro
    • Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia
    • Dosen tetap di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Anggota Dewan Kesenian Jakarta
    • Pelaksana harian Pusat Dokumentasi HB Jassin
    • Anggota redaksi majalah kebudayaan Basis
    • Country editor untuk majalah Tenggara
    • Koresponden untuk Indonesian Circle
    • Pendiri Yayasan Puisi dan menerbitkan Jurnal Puisi

    Karya-Karya Sapardi Djoko Damono

    • Duka-Mu Abadi, Bandung (1969)
    • Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
    • Mata Pisau (1974)
    • Sepilihan Sajak George Seferis (1975; terjemahan karya George Seferis)
    • Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan)
    • Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan)
    • Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya)
    • Perahu Kertas (1983)
    • Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
    • Water Color Poems (1986; translated by J.H. McGlynn)
    • Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono (1988; translated by J.H. McGlynn)
    • Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
    • Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
    • Hujan Bulan Juni (1994)
    • Black Magic Rain (translated by Harry G Aveling)
    • Arloji (1998)
    • Ayat-ayat Api (2000)
    • Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen)
    • Mata Jendela (2002)
    • Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002)
    • Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen)
    • Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an – 1910an) (2005; salah seorang penyusun)
    • Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
    • Kolam (2009; kumpulan puisi)
    • Sastra Lisan Indonesia (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
    • Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan
    • Dimensi Mistik dalam Islam (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel “Mystical Dimension of Islam”, salah seorang penulis.

    Penghargaan Sapardi Djoko Damono

    • Cultural Award dari Australia (1978)
    • Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983)
    • SEA Write Award dari Thailand (1986)
    • Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990)
    • Mataram Award (1985)
    • Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI
    • Penghargaan Achmad Bakrie (2003)
  • Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

    Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

    Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

    AKULAH SI TELAGA
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
    berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan
    bunga-bunga padma;
    berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
    sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
    — perahumu biar aku yang menjaganya

    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982.

    ANGIN, 1
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke
    sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar
    suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, “hei
    siapa ini yang mendadak di depanku?”

    angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita
    untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh
    lagi

    — sampai pagi tadi:
    ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di
    tengah bising-bising ini tanpa Hawa
    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982.

    ANGIN, 2
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar
    semalaman.
    Seekor ular lewat, menghindar.
    Lelaki itu masih tidur.
    Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
    di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.

    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982.

    AKU INGIN
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
     

    ANGIN, 3
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    “Seandainya aku bukan ……
    Tapi kau angin!
    Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut
    kamar,
    menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.
    “Seandainya aku . . . ., .”
    Tapi kau angin!
    Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang
    perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
    “Seandainya ……
    Tapi kau angin!
    Jangan menjerit:
    semerbakmu memekakkanku.
    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982.

    YANG FANA ADALAH WAKTU
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
    memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
    sampai pada suatu hari
    kita lupa untuk apa.
    “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
    tanyamu.
    Kita abadi.

     Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
    1982.

    BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di
    belakang

    aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

    aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
    yang telah menciptakan bayang-bayang

    aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara
    kami yang harus berjalan di depan

    BUNGA, 1
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    (i)
    Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
    Ia rekah di tepi padang waktu hening pagi terbit;
    siangnya cuaca berdenyut ketika nampak sekawanan gagak
    terbang berputar-putar di atas padang itu;
    malam hari ia mendengar seru serigala.

    Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku
    ini si bunga rumput, pilihan dewata!”

    (ii)
    Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.

    Ia kembang di sela-sela geraham batu-batu gua pada suatu pagi,
    dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua
    itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm
    dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan
    hutan terbakar dan setelah api ….

    Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para
    manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!” 
    Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
    1982.

    BUNGA, 2
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
    taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
    jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya — tak ada
    alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
    menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
    kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
    selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan
    menjelma
    pendar-pendar di permukaan kolam 
    Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
    1982.

    BUNGA, 3
    Oleh : Sapardi Djoko Damono 

    seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat
    ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
    tak ada sahutan
    seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di
    empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika
    terdengar ada yang memaksa membuka pintu
    lalu terdengar seperti gema “hai, siapa gerangan yang telah
    membawa pergi jasadku?”
     
    Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
    1982.

    HUJAN BULAN JUNI
    Tak ada yang lebih tabah
    Dari hujan bulan juni
    Dirahasiakannya rintik rindunya
    Kepada pohon berbunga itu
    Tak ada yang lebih bijak
    Dari hujan bulan juni
    Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
    Yang ragu-ragu di jalan ituTak ada yang lebih arif
    Dari hujan bulan juni
    Dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu(1989)DALAM DIRIKU
    Dalam diriku mengalir sungai panjang,
    Darah namanya;
    Dalam diriku menggenang telaga darah,
    Sukma namanya;
    Dalam diriku meriak gelombang sukma,
    Hidup namanya!
    Dan karena hidup itu indah,
    Aku menangis sepuas-puasnya
    (1980)Tiba-Tiba Malam pun risik
    tiba-tiba malam pun risik
    beribu Bisik
    tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
    satu-satunya Duka

    Di Atas Batu
    ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali…
    ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari…
    ia pandang sekeliling :
    matahari yang hilang – timbul di sela goyang daun-daunan,
    jalan setapak yang mendaki tebing kali,
    beberapa ekor capung
    — ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini
    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982.

    Hatiku Selembar Daun

    Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
    nanti dulu, biarkan aku sejenak…
    Terbaring di sini;
    ada yang masih ingin kupandang,
    yang selama ini senantiasa luput;
    Sesaat adalah abadi sebelum kausapu
    tamanmu setiap pagi…
    ~*Sapardi Djoko Damono*~
    Pada Suatu Hari Nanti
    Pada suatu hari nanti
    jasadku tak akan ada lagi…
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau tak akan kurelakan sendiri…
    Pada suatu hari nanti
    suaraku tak terdengar lagi…
    tapi di antara larik-larik sajak ini
    kau akan tetap kusiasati…
    Pada suatu hari nanti
    impianku pun tak dikenal lagi…
    namun di sela-sela huruf sajak ini
    kau tak akan letih-letihnya kucari…
    ~*Sapardi Djoko Damono*~