Kategori: Puisi

  • Uang dalam Puisi: Ketika Cinta Harus Menyerah pada Cicilan

    Uang dalam Puisi: Ketika Cinta Harus Menyerah pada Cicilan

    Di era serba digital dan serba mahal ini, cinta tak lagi cukup dengan janji manis dan puisi indah.

    Banyak hubungan yang kandas bukan karena hilangnya rasa, melainkan karena tidak sanggup menghadapi tekanan ekonomi bersama.

    Lalu, bagaimana jika kesedihan finansial itu kita tuangkan dalam puisi?

    Inilah saatnya kita membaca kumpulan puisi pendek yang menggabungkan ironi cinta dan realitas cicilan—sebuah refleksi puitis tentang cinta yang harus bernegosiasi dengan dompet.

    1. Puisi: Sebulan Setelah Gajian

    Cinta,
    waktu kamu bilang ingin jalan-jalan ke Bali,
    aku mengangguk pelan,
    sambil melirik sisa saldo:
    cukup untuk hidup… tiga hari lagi.

    Makna:

    Puisi ini menggambarkan dilema klasik pasangan muda: ingin romantis, tapi terhalang keterbatasan finansial. Ini dekat dengan realitas anak muda zaman sekarang—terutama yang terjebak gaya hidup FOMO (Fear of Missing Out).

    2. Puisi: Kredit Tanpa Bunga

    Katamu, kita bisa bahagia dengan sederhana.
    Tapi cicilan motor itu datang tiap tanggal lima.
    Dan kita mulai bertengkar
    karena kamu ingin aku bahagia
    tanpa terlambat bayar angsuran.

    Makna:

    Kritik sosial dalam bentuk puisi: cinta tidak cukup kalau urusan finansial tak beres. Kalimat “bahagia dengan sederhana” menjadi ironi ketika realitas ekonomi lebih rumit dari kata-kata.

    3. Puisi: ATM dan Aku

    Aku berdiri di depan ATM,
    seperti aku berdiri di depanmu:
    penuh harapan
    tapi tahu takkan ada yang keluar hari ini.

    Makna:

    Puisi ini menyindir realitas kaum gaji bulanan yang selalu “haus” sebelum tanggal gajian tiba. Relatable, tragis, dan lucu dalam satu waktu.

    4. Puisi: Dompet Kosong dan Pesan Singkatmu

    Kamu tanya,
    “Sudah makan?”
    Aku jawab:
    “Sudah kenyang lihat saldo rekening.”

    Makna:

    Puisi ini jadi kritik yang satir terhadap gaya basa-basi pasangan. Lucu dan menyakitkan di saat bersamaan—seperti cinta yang dipaksa bertahan di antara tagihan.

    5. Puisi: Tanggal Tua, Rasa Luka

    Kamu diam.
    Aku diam.
    Kita tak bicara karena takut
    satu sama lain mengucap:
    “Bisa pinjam dulu gak?”

    Makna:

    Puisi pendek ini sangat dekat dengan relasi anak muda urban yang menghadapi tekanan keuangan bersama—tanpa banyak kata, mereka tahu kondisi masing-masing sudah rapuh.

    Cinta dan uang mungkin dua dunia yang tampak berbeda. Tapi dalam realitas hidup, keduanya saling bersinggungan, bahkan saling memengaruhi.

    Lewat puisi-puisi ini, kita belajar bahwa cinta tak hanya soal perasaan, tapi juga perjuangan untuk bertahan hidup bersama. Bahkan, kadang, perjuangan itu harus tunduk pada cicilan dan tagihan.

  • Anatomi Cinta Karya Heri Iskandar

    Anatomi Cinta Karya Heri Iskandar

    Judul: Anatomi Cinta

    Karya: Heri Iskandar

    Anatomi cinta adalah sebuah penyatuan dari bagian bagian bagian penyusun sistem organ yang bernama rasa cinta, ekspresi yang dimunculkan merupakan aktualisasi dari nilai-nilai ketulusan hati yang murni tanpa pengaruh apapun.

    Disana ada sedih, disana ada gembira, disana ada rindu, disana ada kesal, disana ada terpuruk, disana ada bangkit, disana ada kasih, disan ada harapan, disana ada benci, disana ada  rindu, disana ada kejujuran, disana ada kebohongan, disana ada legowo, disana ada iri, disana ada semangat, disana ada putus asa, semua bergerak sesuai sang operator  utama yaitu hati.

    Bila sikap mulia yang ditunjukkan, maka kasih sayang yang dirasakan, tapi bila sakit yang di munculkan, maka kecewa yang di rasakan.

    Anatomi cinta mengajarkan kita untuk  lebih tahu batas antara cinta dan benci. Jangan membuang luka dihati yang penuh cinta karena dia akan membenci dengan pujian dan senyuman.

    Kata Penulis:

    Motivasi dan harapan penulis terhadap buku karya perdana ini adalah semoga dapat membuka
    cakrawala berfikir, merajut rasa dan menyamakan frekuensi pemikiran saat para
    pembaca menikmati tiap goresan kata yang berbanjar rapi di lembar demi lembar
    buku ini, sehingga menjadi inspirasi bagi para pemula untuk lebih menyukai
    dunia menulis puisi, dimanapun dan kapanpun.

    Salam hangat berupa
    persaudaraan dari hati paling dalam penulis sampaikan semoga buku ini dapat
    dinikmati, disukai dan berkesan di hati para pembacanya. Tentunya penulis
    menyadari akan ketidaksempurnaan dari karya ini, sehingga kritik dan saran
    selalu penulis nantikan untuk menjadi bahan perbaikan dalam buku-buku
    selanjutnya.

  • Buku Memoar Sang Veteran Karya IGB Sudharma

    Buku Memoar Sang Veteran Karya IGB Sudharma

    Puji syukur kita panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya buku “Memoar Sang Veteran” karya IGB Sudharma.

    Buku ini hadir sebagai sebuah cerminan perjalanan hidup, perjuangan, dan dedikasi seorang veteran yang telah berkontribusi besar bagi bangsa dan negara.

    Dalam setiap lembar memoarnya, penulis tidak hanya membagikan kisah perjalanan hidup yang penuh liku, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan moral yang dapat dipetik untuk generasi muda.

    Melalui pengalaman nyata yang dikisahkan dengan penuh kejujuran, pembaca diajak menyelami arti perjuangan, pengorbanan, serta semangat juang yang tidak pernah pudar meski zaman telah berubah.

    Buku ini menjadi lebih dari sekadar sebuah kumpulan cerita, tapi jadi jendela ke masa lalu yang sarat nilai sejarah, kebijaksanaan, dan inspirasi.

    Harapan kami, “Memoar Sang Veteran” dapat menjadi pengingat akan pentingnya mengenang dan menghargai jasa para pahlawan, sembari membangun semangat untuk terus melanjutkan perjuangan dalam bentuk yang sesuai dengan tantangan zaman.

    Terima kasih kepada IGB Sudharma yang telah dengan tulus membagikan perjalanan hidupnya serta kepada semua pihak yang telah mendukung terbitnya buku ini.

    Semoga karya ini dapat memberikan manfaat, menjadi inspirasi, serta menyalakan kembali semangat nasionalisme di hati para pembaca.

    Maulana Affandi

    Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi

  • Rumah Ilalang Karya Andi Budi Setiawan

    Rumah Ilalang Karya Andi Budi Setiawan

    “Rumah Ilalang” merupakan metafora yang melambangkan tempat berkumpulnya ilalang-ilalang, meskipun terlihat sederhana, namun memiliki keindahan dan keistimewaan tersendiri.

    Ilalang, rimbun serta bunganya yang halus, menjadi pengingat bahwa keindahan sering kali muncul dari hal-hal yang sederhana, namun memiliki makna yang mendalam.

    Begitu pula puisi-puisi dalam buku ini, yang bila dirangkai bersama-sama, menciptakan harmoni keindahan yang menyentuh rasa.

    Rimbun Kata Teduhkan Rasa, sebuah frasa yang menjadi jiwa buku ini, lahir dari harapan bahwa setiap puisi yang tertuang mampu memberikan keteduhan dan kenyamanan bagi siapa saja yang membacanya.

    Puisi-puisi ini adalah refleksi dari berbagai rasa: bahagia, duka, rindu, dan syukur. Puisi-puisi ini ditulis dengan harapan dapat menyapa hati pembaca, menggugah kenangan, dan menghadirkan kedamaian.

    Buku ini penulis persembahkan teruntuk almarhum ayahanda tercinta, sosok yang menjadi teladan dalam mencintai dunia literasi.

    Lewat kecintaannya dalam membaca dan menulis, menanamkan benih-benih semangat dan konsistensi sehingga karya ketiga dengan judul “Rumah Ilalang – Rimbun Kata Teduhkan Rasa” ini bisa terbit.

    Dalam perjalanan menulis buku ini, penulis menyadari bahwa puisi adalah cara terbaik untuk merekam jejak perasaan.

    Seperti halnya ilalang yang tumbuh liar di tanah yang luas, puisi-puisi ini lahir dari berbagai sudut pandang serta pengalaman.

    Mereka adalah teman di saat sunyi, penghibur di kala sedih, dan penanda syukur di saat bahagia.

    Semoga buku ini menjadi rimbunan kata yang mampu meneduhkan rasa, seperti rindang ilalang di bawah sinar senja.

    Selamat membaca, dan semoga Anda menemukan keteduhan dan inspirasi dalam setiap bait yang tertuang.

    Salam hangat,

    Andi Budi Setiawan

  • Peluncuran Buku Puisi Suwidak Siji (61) Karya Drs. Ir Jaenuri, NZ, M.Pd, Bentuk Pelestarian Bahasa Using Jalur Literasi

    Peluncuran Buku Puisi Suwidak Siji (61) Karya Drs. Ir Jaenuri, NZ, M.Pd, Bentuk Pelestarian Bahasa Using Jalur Literasi

    sastrawacana.id/ – Acara peluncuran buku puisi Using berjudul Suwidak Siji (61) karya Drs. Ir Jaenuri, NZ, M.Pd berlangsung meriah di LKP TBM Elit, Rogojampi, Banyuwangi, pada Minggu (8/12/2024).

    Buku ini menjadi karya terbaru Jaenuri setelah buku sebelumnya yang berjudul Telu Likur (23), dengan tujuan untuk melestarikan budaya dan Bahasa Using.

    Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh literasi dan budayawan Banyuwangi, seperti Aekanu Hariyono (Ketua Kiling Using Banyuwangi), Taufik Rohman, M.Si (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi), Drs. Hasan Basri (Ketua Dewan Kesenian Blambangan), Dr. Lidiawati, serta tokoh-tokoh lainnya.

    Selain itu, acara ini juga diikuti oleh peserta dari berbagai komunitas literasi, seperti Kopiwangi, Penerbit Lintang, dan Media Literasi Sastrawacana.

    Dan tamu yang cukup spesial adalah IGB Sudharma, seorang veteran yang dalam waktu dekat juga akan meluncurkan buku berjudul ‘Memoar Sang Veteran.’

    Dalam sambutannya, Jaenuri menjelaskan alasan di balik pemilihan judul Suwidak Siji (61) yang terinspirasi dari angka 61.

    Ternyata, angka tersebut menggambarkan tahun kelahirannya dan usia istrinya yang tahun ini genap 61 tahun.

    Ia juga menyatakan bahwa buku ini dipersembahkan khusus untuk istrinya yang selalu mendukung setiap langkah yang diambilnya.

    “Buku ini saya persembahkan untuk istri, sebab istri saya mendukung apapun yang saya lakukan,” ujar Jaenuri dengan penuh haru.

    Acara yang dipandu oleh Bung Aguk, seorang pegiat literasi dan budayawan Banyuwangi, semakin meriah dengan penampilan pembacaan puisi yang memukau oleh Andre, murid SMP 3 Rogojampi, yang dilatih oleh Yeti Chotimah.

    Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Aekanu Hariyono, yang mengapresiasi terbitnya buku puisi Suwidak Siji (61).

    “Profesor Nuri, saya ucapkan selamat. Karya-karyanya luar biasa,” terangnya.

    Aekanu juga mengingatkan agar penulis tidak khawatir dengan kritik, karena sebetulnya kritik itu sifatnya membangun.

    Hasan Basri juga memberikan apresiasi terhadap karya Jaenuri dan menekankan pentingnya melestarikan Bahasa Using sebagai bagian dari identitas budaya Banyuwangi.

    “Saat ini sudah mulai terjadi fenomena alih kode dalam penggunaan bahasa using, sehingga hendaknya kita mengajarkan Bahasa Using kepada anak-anak kita,” terangnya.

    Acara ini semakin meriah dengan penampilan komedi using oleh Dudung yang membuat para peserta terpingkal-pingkal.

    Sebagai informasi, Suwidak Siji (61) adalah lanjutan dari buku puisi Telu Likur (23), yang bertujuan untuk menjaga kelestarian bahasa using.

    Diharapkan, Bahasa Using tetap eksis dan tidak terlupakan, terutama di kalangan generasi muda Banyuwangi.

  • Mengenang Pahlawan dan Menghidupkan Literasi, KOPIWANGI Gelar Lomba Menulis Puisi

    Mengenang Pahlawan dan Menghidupkan Literasi, KOPIWANGI Gelar Lomba Menulis Puisi

    Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, KOPIWANGI mengadakan lomba menulis puisi bertema pahlawan nasional khusus untuk para anggota komunitasnya pada Minggu, 10 November 2024.

    Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi dan penghormatan kepada jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia.

    Lomba ini juga merupakan salah satu bentuk nyata program KOPIWANGI dalam mendukung event literasi bagi anggota komunitasnya.

    Tujuan dari program ini adalah memberikan wadah kepada anggota yang memiliki minat dan bakat dalam menulis puisi, sekaligus mendorong semangat literasi di kalangan komunitas.

    Lomba diselenggarakan secara daring, di mana peserta memposting hasil karya puisinya dalam bentuk JPEG atau PNG yang telah dibuat sebelumnya melalui aplikasi Canva.

    Peserta kemudian mengunggahnya ke akun Instagram masing-masing dengan menambahkan caption: “Lomba Menulis Puisi Pahlawan Nasional” dan menandai akun IG komunitas, yaitu @komunitas_kopiwangi.

    Penilaian lomba ini berdasarkan jumlah like dan komentar terbanyak pada puisi yang diunggah.

    Satu karya terbaik dipilih untuk menerima hadiah berupa Buku Antologi Puisi berjudul “Lentera Di Pengujung Asa – Pendidikan Yang Memerdekakan” yang ditulis oleh anggota KOPIWANGI, serta sejumlah uang pembinaan.

    Lomba berlangsung dari tanggal 10 hingga 12 November 2024, dengan batas waktu penilaian hingga pukul 18.00 WIB. Pemenang lomba diumumkan pada 12 November 2024 pukul 20.00 WIB.

    Antusiasme peserta dalam mengikuti lomba sangat tinggi, terbukti dari keikutsertaan berbagai kalangan, mulai dari guru, pegiat literasi, hingga kepala sekolah.

    Namun, karena waktu penyelenggaraan lomba yang singkat, beberapa anggota komunitas tidak dapat ikut serta akibat kesibukan dan keterbatasan waktu, sehingga menyayangkan ketidakhadiran mereka dalam lomba ini.

    Pemenang lomba diraih oleh Rohmaniyah, S.Pd.Gr dengan puisinya yang berjudul “Ode Untuk Kartini.”

    Puisi Rohmaniyah
    Puisi Rohmaniyah

    Puisinya berhasil mendapatkan puluhan like dan komentar, menunjukkan betapa puisinya diminati dan diapresiasi oleh para pembaca.

    Pengumuman pemenang ini kemudian dibagikan di grup komunitas KOPIWANGI.

    KOPIWANGI terus berkomitmen melaksanakan program-program literasi yang bermanfaat

    Beberapa program yang sudah berjalan di antaranya lomba menulis puisi, lomba baca puisi dan bercerita, lomba menulis esai, serta seminar kesehatan mental.

    “Itu merupakan bentuk komitmen bersama dalam memajukan literasi di Banyuwangi. Harapannya ke depan KOPIWANGI semakin eksis dan konsisten memberikan budaya positif di bidang literasi”, ujar Andi BS, ketua KOPIWANGI.

  • Kumpulan Puisi Cinta dan Rindu yang Bikin Pasanganmu Klepek-Klepek

    Puisi cinta adalah ungkapan perasaan seseorang yang sangat mencintai dan mengasihi seseorang dengan setulus hati.

    Karena begitu besar perasaan tersebut, maka ungkapan berbentuk puisi adalah salah satu cara mengekspresikan diri.

    Puisi cinta bukan hanya tentang kata-kata yang indah, tetapi juga tentang kekuatan dan makna di balik kata-kata tersebut.

    Puisi cinta dapat berupa ungkapan rindu, kebahagiaan akan pertemuan dengan orang yang dicintai, perasaan kehilangan, keabadian cinta, atau pengorbanan yang dilakukan dalam nama cinta.

    Dalam puisi cinta, penyair menggunakan imaji, metafora, rima, ritme, dan gaya bahasa yang khas untuk menggambarkan cinta secara mendalam.

    Mereka menciptakan suasana yang memikat dan menghidupkan kembali momen-momen indah, kesedihan, kerinduan, atau keromantisan yang terjadi dalam hubungan cinta.

    Berikut ini adalah kumpulan puisi cinta yang bisa kamu gunakan untuk merayu pasangan atau sebagai ungkapan bahwa kamu benar-benar mencintainya.

    Puisi Cinta dan Mimpi
    Eva E.T

    Dulu..
    Hanyalah sebuah mimpi
    Mimpi Indah yang selalu menemani

    Dulu..
    Hanyalah sebuah bintang
    Yang hanya mampu ku pandang

    Dulu..
    Teramat kuat berlari
    Mengabaikan rasa yang ku beri
    Teramat besar membenci
    Agar ku lekas pergi

    Tapi..
    Hati bersikukuh untuk tetap berdiri
    Melawan benci dengan Cinta suci
    Membalas perih dengan janji
    Janji yang selalu enggan untuk mati

    Dan hari ini..
    Ku bisa memeluk mimpi
    Hingga tak ada yang mampu mengakhiri
    Ku bisa menyentuh bintang
    Bukan hanya sekedar memandang

    Hari ini..
    Ku bisa memeluk erat hatimu
    Menikmati senyum indahmu
    Mencumbu setiap hela nafasmu
    Dan membangun mimpi bersamu

    Candu Rindu
    Maulana Affandi

    Hai candu rindu
    Yang selalu mengobati pilu

    Binar rembulan
    Yang membuat hati nyaman

    Seorang paling bermakan
    Tiada duanya

    Ya, itu kamu!

    Hari ini
    Dalam satu tarikan napas
    Kau menerimaku sebagai istrimu

    Kau bersaksi dengan amat tegas
    Tapi aku tahu
    Kau sedikit gemetar!

    Suamiku,
    Izinkan aku memelukmu
    Melayanimu dengan segenap ragaku
    Menjadi sandaran lelahmu
    Menghapus peluhmu

    Dan..
    Membahagiakanmu.

    Karena..
    Aku mencintaimu.

    Puisi Cinta

    Goresan aksaraku
    ingin menyapa tentang mu yang jauh
    benih benih rindu kini tumbuh dihatiku

    Rasa berdetak jantungku
    saat memandang lukisan wajahmu
    sungguh aku terpesona

    Apakah

    Rasa ini hanya aku yang rasakan
    Jujurku ingin dekat denganmu
    Ingin bersenda gurau denganmu
    Walau hanya lewat maya yang semu

    Namun bibirku tak sanggup berucap
    Hanya lewat aksara ini
    Ku ungkap keinginan hati

    Karena aku tau siapalah aku
    ku hanya wanita yang tak sempurna
    Mungkinkah kau terima aku dihatimu

    Walau sekedar teman tapi mesra
    Teman berbagi cerita berbagi rasa
    Sungguh keinginan ini menyiksaku

    Kukirimkan lewat maya ungkapan rasa
    yang tak sanggup ku ucap
    rinduku laksana candu
    merindumu setiap waktu

    Untaian sayairmu yang mengoda hatiku
    mungkinkah akulah pujaan hatimu
    ah….. jatuh cintakah aku

    Rasa itu ada
    sejak aku pertama kali mengenalmu
    sadarku betapa tak pantasnta aku untukmu

    Biarlah cinta dan rindu jadi rahasia hatiku
    biarlah bayangmu jadi teman mimpiku

    Kerena kamu tak mungkin menjadi
    Kekasih hatiku
    kerena kamu seperti dewa
    dan hatimu tak mungkin tersentuh olehku

    Puisi Cinta

    Ketika pertanyaanmu tak terjawab
    Saat hatimu menginginkan sebuah

    Jawaban
    Menangislah di atas sajadah
    Memohonlah saat kau berdoa
    Merintih dan memohon disetiap bait

    Permintaan
    Dilangit ketujuh tempat singgahsana
    Terindah dibalik malam yang kalam
    ya lillahi robbi pasti mendengar
    apa yang kau pertanyakan

    Tentang
    Cinta yang kau ragukan

    Tentang
    Setia yang kau harapkan

    Tentang
    Rindu ingin dipertemukan

    Tentang
    Rasa yang tak ingin diduakan 

    Tiada tempat
    sebaik baik mengadu 

    Dan tiada tempat
    Sebaik baik jawaban

    Bersabarlah dan ikhlaslah
    semua rintihanmu dan keluh kesahmu
    akan terjawab dengan kebahagiaan disana 

    Diatas langit ketujuh
    saat kau  kembali
    pada pelukkan robbmu.

    Puisi Rindu

    Kau begitu berisik
    Rindu padamu begitu mengusik
    Ada kamu disetiap langkahku
    Ada kamu disetiap hariku
    Aku tak sanggup menepis bayangmu

    Tatap matamu menyejukan hatiku
    Wahai sang pujaan hati
    Diam diam tapi sayang
    Diam diam kau buat kuberhayal

    Kita nikmati cinta yang indah
    Andai semua rasa dapat dituangkan
    Dalam aksara asmara semalam

    Ah….. malu aku malu
    Keinginan buatku tersipu
    Berisik yang mengusik rinduku
    Tak sanggup kutepis dari hatiku
    Kuingin kau selalu jadi milikku

    Puisi Cinta

    Cinta yang abadi, seindah sinar mentari,
    Mengalir dalam jiwa, takkan pernah sirna.
    Seperti irama yang mengalun merdu,
    Puisi cinta tercipta, menyentuh hati yang resah.

    Dalam puisi cinta, kata-kata terpilih,
    Menggambarkan getaran rasa yang tak tergantikan.
    Mengalir bagai sungai menuju samudra,
    Meluapkan perasaan, menciptakan kedamaian.

    Cinta adalah pelangi di langit senja,
    Warnanya memukau, mempesona hati yang merana.
    Dalam bait-bait indah yang terpilih,
    Terpancar keindahan, keabadian cinta tiada tanding.

    Cinta adalah misteri yang tak terungkap,
    Ia menyatukan dua hati dalam ikatan yang tak bisa direnggut.
    Seperti bunga yang mekar di taman yang penuh warna,
    Puisi cinta membawa kebahagiaan, menghiasi hidup yang sunyi.

    Dalam lembutnya sentuhan kata,
    Terukir kisah cinta yang tiada terhingga.
    Ia menembus batas-batas waktu dan ruang,
    Mengukir kenangan indah yang selalu abadi.

    Puisi cinta adalah cermin jiwa yang penuh kasih,
    Menyiratkan kehangatan dalam setiap larik.
    Dalam irama puisi, terdengar desiran asmara,
    Mengajak kita menyelami, mencintai, dan menghayati.

    Dalam puisi cinta, hati bicara,
    Mengungkapkan perasaan yang tak terucapkan.
    Ia menjadi bahasa yang bisa dimengerti semua,
    Menyatukan kita dalam pesona cinta yang abadi.

    Jadi, mari kita berdansa dalam bait-bait puisi cinta,
    Mengalun bersama melintasi waktu dan ruang.
    Biarlah cinta ini tetap bersemi dan mekar,
    Dalam puisi cinta, kita temukan kebahagiaan yang sejati.

    Puisi Cinta

    Di antara kata-kata yang tersusun,
    Puisi cinta hadir, menciptakan runtun.
    Seperti melodi yang indah terdengar,
    Cinta kita berkisah, takkan pernah usai.

    Dalam tatap mata yang penuh arti,
    Terpancar cinta yang abadi.
    Seperti sinar bulan di malam gelap,
    Cinta kita bersinar, menghapus semua beban.

    Cinta adalah perjalanan yang tak terhingga,
    Menyatu dalam satu ikatan yang abadi.
    Seperti angin yang lembut membelai,
    Cinta kita tumbuh, mekar dalam setiap hari.

    Dalam dekapan hangat yang tak tergantikan,
    Terjalin kasih yang tak akan pudar.
    Seperti bintang-bintang di langit malam,
    Cinta kita bersinar, menerangi jalanan yang terjal.

    Jadi biarkan puisi cinta kita mengalun,
    Mengukir kisah tak terlupakan dalam hati.
    Seperti air yang mengalir di sungai yang jernih,
    Cinta kita mengalir, abadi hingga akhir nanti.

    Puisi Rindu

    Dalam sunyi malam yang sepi,
    Rindu merayap dalam hati.
    Seperti angin yang berhembus perlahan,
    Rinduku membara, tak terbendung lagi.

    Rindu adalah panggilan jiwa yang tak terucap,
    Memenuhi relung hati, menggenggam rapat.
    Seperti dedaunan yang jatuh di musim gugur,
    Rinduku memudar, kian dalam kau jauh.

    Mata ini merindu, mencari sosokmu,
    Di antara kerumunan, hanya dirimu.
    Seperti embun pagi yang menyegarkan,
    Rinduku memancar, ingin dekatimu selalu.

    Rindu adalah kilatan cahaya dalam kegelapan,
    Mengguncang jiwa, menggebrak rasa.
    Seperti detik-detik yang bergulir perlahan,
    Rinduku membuncah, merindukanmu tanpa henti.

    Oh, rindu, tetaplah bersemayam di sini,
    Hingga saat kita bersatu kembali.
    Seperti lautan yang bertemu dengan pantai,
    Rinduku takkan padam, sampai akhir hayatku.

    Puisi Rindu

    Di antara sepi malam yang kelam,
    Rindu membara dalam kalbu yang pilu.
    Seperti hujan yang turun dengan lembut,
    Rinduku menyentuh, mengisi jiwa yang kosong.

    Dalam setiap detak jantung yang berdentum,
    Rindu merajut kisah yang tak terucap.
    Seperti embun pagi yang menari di dedaunan,
    Rinduku berdansa, mencari hangat pelukanmu.

    Rindu adalah angin yang berbisik di telinga,
    Mengingatkan akan hadirmu yang tiada.
    Seperti bintang-bintang yang bersinar di langit,
    Rinduku bercahaya, memimpikanmu dalam tidur malam.

    Dalam jarak yang memisahkan kita,
    Rindu tak pernah berhenti menyapa.
    Seperti matahari yang merindukan senja,
    Rinduku tak bisa tersembunyi, tetap menyala.

    Oh, rindu, seindah dan setulus ini,
    Teruslah hadir, memenuhi setiap hela nafas.
    Seperti sungai yang mengalir ke lautan,
    Rinduku menyatu, mengalirkan cintaku padamu.

    Puisi Rindu

    Rindu merasuk dalam relung jiwa,
    Menyapa dengan pilu, sepanjang siang dan malam.
    Seperti awan mendung di langit biru,
    Rinduku hadir, memenuhi ruang yang sunyi.

    Dalam diam, rindu menyapa hati,
    Menggetarkan jiwa, mengisi kerinduan yang tumbuh.
    Seperti embun pagi di ujung daun,
    Rinduku berbisik, merindukan hadirmu yang tercinta.

    Rindu adalah nyanyian dalam senyap,
    Mengalun lembut, mencari jalan ke hati.
    Seperti bunga yang terbungkuk dalam angin,
    Rinduku menghampiri, meneteskan rasa yang terpendam.

    Dalam setiap detik waktu yang berjalan,
    Rindu menjelma menjadi kenangan yang terasa.
    Seperti malam yang memeluk kerinduan,
    Rinduku menggelapkan, membayangkan kembali wajahmu.

    Oh, rindu, bagaimana aku harus tahan,
    Dalam derita yang melanda, dalam kerinduan yang tak terkira.
    Seperti sungai yang mengalir tak terbendung,
    Rinduku mengalir, menuju pelukanmu yang kucinta.

    Puisi Cinta

    Cinta adalah nyala api yang menyala,
    Menerangi hati, meluapkan kehangatan.
    Seperti irama yang mempesona,
    Cinta berdansa, memikat jiwa yang terpaut.

    Dalam tatap mata yang berbinar,
    Cinta terpancar, mengalir dalam darah.
    Seperti senyum yang merekah di bibir,
    Cinta mekar, memancarkan kebahagiaan yang abadi.

    Cinta adalah doa yang tak terucapkan,
    Menghiasi harapan, membawa keajaiban.
    Seperti hujan lebat yang meresap ke bumi,
    Cinta membasahi, menghidupkan setiap sudut hati.

    Dalam sentuhan lembut yang menggetarkan,
    Cinta melambungkan, membebaskan jiwa.
    Seperti bintang yang berkelap-kelip di malam,
    Cinta bersinar, mengiringi langkah yang teguh.

    Oh, cinta, hadirmu bagai anugerah,
    Mengisi hidup, mewarnai kisah indah.
    Seperti sungai yang mengalir ke laut yang dalam,
    Cinta mengalir, mengabulkan impian yang tulus.

    Puisi Rindu

    Di malam sunyi, rindu menghampiri,
    Menyusup dalam relung jiwa yang sepi.
    Seperti angin yang lembut membelai,
    Rindu hadir, merayap tanpa henti.

    Dalam senyap, rindu merintih pilu,
    Mengiringi langkah yang terpisah jauh.
    Seperti embun pagi di dedaunan,
    Rindu menyapa, mencari hangatmu.

    Rindu adalah api yang tak pernah padam,
    Menghangatkan hati, membara dalam dada.
    Seperti bulan yang terbenam di ufuk,
    Rindu terasa, mengisi sepi malam yang kelam.

    Dalam kerinduan, waktu terasa panjang,
    Menyulam kenangan, membawa tawa dan tangis.
    Seperti ombak yang datang dan pergi,
    Rindu menghanyutkan, memenuhi hati yang rindu ini.

    Oh, rindu, teruslah hadir dan menguat,
    Menyemai harapan, memupuk cinta yang tumbuh.
    Seperti matahari yang merindukan senja,
    Rindu mengingatkan, bahwa kita saling menyayangi.

    Puisi Cinta

    Cinta adalah aliran yang mengalir dalam dada,
    Seperti sungai yang mengalir melintasi ladang.
    Ia tumbuh dalam hati yang penuh keajaiban,
    Mengukir kisah indah yang takkan terlupakan.

    Cinta adalah kekuatan yang menggetarkan jiwa,
    Seperti api yang membara dalam relung hati.
    Ia membawa hangat, mengatasi segala rasa sepi,
    Menyatukan dua hati dalam kebersamaan yang abadi.

    Cinta adalah bahasa yang tak perlu kata-kata,
    Seperti sentuhan yang lembut tanpa suara.
    Ia mengisi ruang kosong, membawa kebahagiaan,
    Menghadirkan keindahan dalam setiap langkah.

    Cinta adalah pelangi yang indah di langit biru,
    Seperti warna-warni yang melukis dunia.
    Ia memberikan arti dan makna dalam hidup,
    Menghiasi perjalanan dengan kebahagiaan yang tiada tara.

    Cinta adalah perjalanan yang tak terhingga,
    Seperti bintang-bintang yang bersinar di malam.
    Ia membawa kita melewati waktu dan ruang,
    Menciptakan kisah cinta yang abadi dan terpancar.

    Jadi, biarkan cinta tumbuh dan mekar dalam jiwa,
    Menyinari setiap sudut hati yang gelap.
    Biarkan cinta mengalir dan menggenggam tangan,
    Membawa kita pada kebahagiaan yang hakiki dan abadi.

  • Puisi Lelah Menghapus Mimpi Karya Maulana Affandi

    LELAH MENGHAPUS MIMPI

     

    Untuk yang kesekian kali.

    Aku memimpikanmu kembali.

    Sisa-sisa mimpi kita dulu.

    Ditakdirkan untuk kuhabisi sendiri.

     

    Kita sama-sama berdusta.

    Terlalu banyak mimpi yang kita cipta.

    Aku sibuk untuk menghabiskannya.

    Apa kau melakukan hal yang sama?

     

    Bisakah kita bertemu sebentar saja

    Untuk mencabut kembali janji kita

     

    Terlalu lelah untukku

    Habiskan dustamu dan dustaku

    Kuharap kau membantu

    Agar aku tak terlalu disiksa pilu

     

    Bila saatnya kita bertemu

    Semoga tidak ada mimpi baru

    Kuharap kau membantu

    Agar aku tak terlalu disiksa pilu

     

    ***

    Maulana Affandi

    Bwi, 26/12/2021

  • Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Cinta dan Kehidupan

    Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Cinta dan Kehidupan

    AKU TULIS PAMPLET INI

    Oleh :
    W.S. Rendra

    Aku tulis pamplet ini
    karena lembaga pendapat umum
    ditutupi jaring labah-labah
    Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
    dan ungkapan diri ditekan
    menjadi peng – iya – an
    Apa yang terpegang hari ini
    bisa luput besok pagi
    Ketidakpastian merajalela.
    Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
    menjadi marabahaya
    menjadi isi kebon binatang
    Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
    maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
    Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
    Tidak mengandung perdebatan
    Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
    Aku tulis pamplet ini
    karena pamplet bukan tabu bagi penyair
    Aku inginkan merpati pos.
    Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
    Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
    Aku tidak melihat alasan
    kenapa harus diam tertekan dan termangu.
    Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
    Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
    Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
    Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
    Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.
    Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
    Rembulan memberi mimpi pada dendam.
    Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
    yang teronggok bagai sampah
    Kegamangan. Kecurigaan.
    Ketakutan.
    Kelesuan.
    Aku tulis pamplet ini
    karena kawan dan lawan adalah saudara
    Di dalam alam masih ada cahaya.
    Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
    Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
    Dan di dalam air lumpur kehidupan,
    aku melihat bagai terkaca :
    ternyata kita, toh, manusia !
    Pejambon Jakarta 27 April 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Tuhanku,
    WajahMu membayang di kota terbakar
    dan firmanMu terguris di atas ribuan
    kuburan yang dangkal
    Anak menangis kehilangan bapa
    Tanah sepi kehilangan lelakinya
    Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
    tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
    Apabila malam turun nanti
    sempurnalah sudah warna dosa
    dan mesiu kembali lagi bicara
    Waktu itu, Tuhanku,
    perkenankan aku membunuh
    perkenankan aku menusukkan sangkurku
    Malam dan wajahku
    adalah satu warna
    Dosa dan nafasku
    adalah satu udara.
    Tak ada lagi pilihan
    kecuali menyadari
    -biarpun bersama penyesalan-
    Apa yang bisa diucapkan
    oleh bibirku yang terjajah ?
    Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
    mendekap bumi yang mengkhianatiMu
    Tuhanku
    Erat-erat kugenggam senapanku
    Perkenankan aku membunuh
    Perkenankan aku menusukkan sangkurku
    Mimbar Indonesia
    Th. XIV, No. 25
    18 Juni 1960

    GERILYA
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling di jalan
    Angin tergantung
    terkecap pahitnya tembakau
    bendungan keluh dan bencana
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Dengan tujuh lubang pelor
    diketuk gerbang langit
    dan menyala mentari muda
    melepas kesumatnya
    Gadis berjalan di subuh merah
    dengan sayur-mayur di punggung
    melihatnya pertama
    Ia beri jeritan manis
    dan duka daun wortel
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Orang-orang kampung mengenalnya
    anak janda berambut ombak
    ditimba air bergantang-gantang
    disiram atas tubuhnya
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Lewat gardu Belanda dengan berani
    berlindung warna malam
    sendiri masuk kota
    ingin ikut ngubur ibunya
    Siasat
    Th IX, No. 42
    1955

    GUGUR
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Tiada kuasa lagi menegak
    Telah ia lepaskan dengan gemilang
    pelor terakhir dari bedilnya
    Ke dada musuh yang merebut kotanya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Ia sudah tua
    luka-luka di badannya
    Bagai harimau tua
    susah payah maut menjeratnya
    Matanya bagai saga
    menatap musuh pergi dari kotanya
    Sesudah pertempuran yang gemilang itu
    lima pemuda mengangkatnya
    di antaranya anaknya
    Ia menolak
    dan tetap merangkak
    menuju kota kesayangannya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Belumlagi selusin tindak
    mautpun menghadangnya.
    Ketika anaknya memegang tangannya
    ia berkata :
    ” Yang berasal dari tanah
    kembali rebah pada tanah.
    Dan aku pun berasal dari tanah
    tanah Ambarawa yang kucinta
    Kita bukanlah anak jadah
    Kerna kita punya bumi kecintaan.
    Bumi yang menyusui kita
    dengan mata airnya.
    Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
    Bumi kita adalah kehormatan.
    Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
    Ia adalah bumi nenek moyang.
    Ia adalah bumi waris yang sekarang.
    Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
    Hari pun berangkat malam
    Bumi berpeluh dan terbakar
    Kerna api menyala di kota Ambarawa
    Orang tua itu kembali berkata :
    “Lihatlah, hari telah fajar !
    Wahai bumi yang indah,
    kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
    Nanti sekali waktu
    seorang cucuku
    akan menacapkan bajak
    di bumi tempatku berkubur
    kemudian akan ditanamnya benih
    dan tumbuh dengan subur
    Maka ia pun berkata :
    -Alangkah gemburnya tanah di sini!”
    Hari pun lengkap malam
    ketika menutup matanya

    HAI, KAMU !
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Luka-luka di dalam lembaga,
    intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
    noda di dalam pergaulan antar manusia,
    duduk di dalam kemacetan angan-angan.
    Aku berontak dengan memandang cakrawala.
    Jari-jari waktu menggamitku.
    Aku menyimak kepada arus kali.
    Lagu margasatwa agak mereda.
    Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
    Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.
    Jakarta, 29 Pebruari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    LAGU SEORANG GERILYA
    (Untuk puteraku Isaias Sadewa)
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Engkau melayang jauh, kekasihku.
    Engkau mandi cahaya matahari.
    Aku di sini memandangmu,
    menyandang senapan, berbendera pusaka.
    Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
    engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
    Engkau menjadi suatu keindahan,
    sementara dari jauh
    resimen tank penindas terdengar menderu.
    Malam bermandi cahaya matahari,
    kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
    Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
    engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu
    Peluruku habis
    dan darah muncrat dari dadaku.
    Maka di saat seperti itu
    kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
    bersama kakek-kakekku yang telah gugur
    di dalam berjuang membela rakyat jelata
    Jakarta, 2 september 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    LAGU SERDADU
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Kami masuk serdadu dan dapat senapang
    ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
    Yoho, darah kami campur arak!
    Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak
    Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
    Wahai, tanah yang baik untuk mati
    Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
    cukilah ia bagi puteraku di rumah
    Siasat
    No. 630, th. 13
    Nopember 1959

    MAZMUR MAWAR

    Kita muliakan Nama Tuhan
    Kita muliakan dengan segenap mawar
    Kita muliakan Tuhan yang manis,
    indah, dan penuh kasih sayang
    Tuhan adalah serdadu yang tertembak
    Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
    sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
    dengan baju compang-camping
    membelai kepala kanak-kanak yang lapar.
    Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
    Dengan pandangan arif dan bijak
    membelai kepala para pelacur
    Tuhan berada di gang-gang gelap
    Bersama para pencuri, para perampok
    dan para pembunuh
    Tuhan adalah teman sekamar para penjinah
    Raja dari segala raja
    adalah cacing bagi bebek dan babi
    Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian
    yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu
    Dan sekarang saya lihat
    Tuhan sebagai orang tua renta
    tidur melengkung di trotoar
    batuk-batuk karena malam yang dingin
    dan tangannya menekan perutnya yang lapar
    Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
    menangis di tepi jalan.
    Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
    Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
    Para perampok, pembunuh, penjudi,
    pelacur, penganggur, dan peminta-minta
    Marilah kita datang kepada-Nya
    kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.
    Dikutip dari:
    Sajak-sajak Sepatu Tua
    Rendra
    Pustaka Jaya

    NOTA BENE : AKU KANGEN
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih,
    indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
    Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
    dan anak kita akan lahir di cakrawala.
    Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.
    Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
    untukmu hidupku terbuka.
    Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
    Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
    Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
    aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.
    Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    ORANG-ORANG MISKIN
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Orang-orang miskin di jalan,
    yang tinggal di dalam selokan,
    yang kalah di dalam pergulatan,
    yang diledek oleh impian,
    janganlah mereka ditinggalkan.
    Angin membawa bau baju mereka.
    Rambut mereka melekat di bulan purnama.
    Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
    mengandung buah jalan raya.
    Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
    Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
    Tak bisa kamu abaikan.
    Bila kamu remehkan mereka,
    di jalan kamu akan diburu bayangan.
    Tidurmu akan penuh igauan,
    dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
    Jangan kamu bilang negara ini kaya
    karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
    Jangan kamu bilang dirimu kaya
    bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
    Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
    Dan perlu diusulkan
    agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
    Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
    Orang-orang miskin di jalan
    masuk ke dalam tidur malammu.
    Perempuan-perempuan bunga raya
    menyuapi putra-putramu.
    Tangan-tangan kotor dari jalanan
    meraba-raba kaca jendelamu.
    Mereka tak bisa kamu biarkan.
    Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
    Mereka akan menjadi pertanyaan
    yang mencegat ideologimu.
    Gigi mereka yang kuning
    akan meringis di muka agamamu.
    Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
    akan hinggap di gorden presidenan
    dan buku programma gedung kesenian.
    Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
    bagai udara panas yang selalu ada,
    bagai gerimis yang selalu membayang.
    Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
    tertuju ke dada kita,
    atau ke dada mereka sendiri.
    O, kenangkanlah :
    orang-orang miskin
    juga berasal dari kemah Ibrahim
    Yogya, 4 Pebruari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    Sajak Sajak Cinta

    Setiap ruang yang tertutup akan retak
    karena mengandung waktu yang selalu mengimbangi
    Dan akhirnya akan meledak
    bila tenaga waktu terus terhadang

    Cintaku kepadamu Juwitaku
    Ikhlas dan sebenarnya
    Ia terjadi sendiri, aku tak tahu kenapa
    Aku sekedar menyadari bahwa ternyata ia ada

    Cintaku kepadamu Juwitaku
    Kemudian meruang dan mewaktu
    dalam hidupku yang sekedar insan

    Ruang cinta aku berdayakan
    tapi waktunya lepas dari jangkauan
    Sekarang aku menyadari
    usia cinta lebih panjang dari usia percintaan
    Khazanah budaya percintaan­
    pacaran, perpisahan, perkawinan
    tak bisa merumuskan tenaga waktu dari cinta

    Dan kini syairku ini
    Apakah mungkin merumuskan cintaku kepadamu

    Syair bermula dari kata,
    dan kata-kata dalam syair juga meruang dan mewaktu
    lepas dari kamus, lepas dari sejarah,
    lepas dari daya korupsi manusia
    Demikianlah maka syairku ini
    berani mewakili cintaku kepadamu

    Juwitaku

    belum pernah aku puas menciumi kamu
    Kamu bagaikan buku yang tak pernah tamat aku baca
    Kamu adalah lumut di dalam tempurung kepalaku
    Kamu tidak sempurna, gampang sakit perut,
    gampang sakit kepala dan temperamenmu sering tinggi
    Kamu sulit menghadapi diri sendiri
    Dan dibalik keanggunan dan keluwesanmu
    kamu takut kepada dunia

    Juwitaku
    Lepas dari kotak-kotak analisa
    cintaku kepadamu ternyata ada
    Kamu tidak molek, tetapi cantik dan juwita
    Jelas tidak immaculata, tetapi menjadi mitos
    di dalam kalbuku

    Sampai disini aku akhiri renungan cintaku kepadamu
    Kalau dituruti toh tak akan ada akhirnya
    Dengan ikhlas aku persembahkan kepadamu :

    Cintaku kepadamu telah mewaktu
    Syair ini juga akan mewaktu
    Yang jelas usianya akan lebih panjang
    dari usiaku dan usiamu

     

     

    Sajak Orang Lapar

     

    kelaparan adalah burung gagak
    yang licik dan hitam
    jutaan burung-burung gagak
    bagai awan yang hitam

    o Allah !
    burung gagak menakutkan
    dan kelaparan adalah burung gagak
    selalu menakutkan
    kelaparan adalah pemberontakan
    adalah penggerak gaib
    dari pisau-pisau pembunuhan
    yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

    kelaparan adalah batu-batu karang
    di bawah wajah laut yang tidur
    adalah mata air penipuan
    adalah pengkhianatan kehormatan

    seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
    melihat bagaimana tangannya sendiri
    meletakkan kehormatannya di tanah
    karena kelaparan
    kelaparan adalah iblis
    kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

    o Allah !
    kelaparan adalah tangan-tangan hitam
    yang memasukkan segenggam tawas
    ke dalam perut para miskin

    o Allah !
    kami berlutut
    mata kami adalah mata Mu
    ini juga mulut Mu
    ini juga hati Mu
    dan ini juga perut Mu
    perut Mu lapar, ya Allah
    perut Mu menggenggam tawas
    dan pecahan-pecahan gelas kaca

    o Allah !
    betapa indahnya sepiring nasi panas
    semangkuk sop dan segelas kopi hitam

    o Allah !
    kelaparan adalah burung gagak
    jutaan burung gagak
    bagai awan yang hitam
    menghalang pandangku
    ke sorga Mu.

     

     

    Surat Cinta

     

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    bagai bunyi tambur yang gaib,
    Dan angin mendesah
    mengeluh dan mendesah,
    Wahai, dik Narti,
    aku cinta kepadamu !

    Kutulis surat ini
    kala langit menangis
    dan dua ekor belibis
    bercintaan dalam kolam
    bagai dua anak nakal
    jenaka dan manis
    mengibaskan ekor
    serta menggetarkan bulu-bulunya,
    Wahai, dik Narti,
    kupinang kau menjadi istriku !

    Kaki-kaki hujan yang runcing
    menyentuhkan ujungnya di bumi,
    Kaki-kaki cinta yang tegas
    bagai logam berat gemerlapan
    menempuh ke muka
    dan tak kan kunjung diundurkan

    Selusin malaikat
    telah turun
    di kala hujan gerimis
    Di muka kaca jendela
    mereka berkaca dan mencuci rambutnya
    untuk ke pesta
    Wahai, dik Narti
    dengan pakaian pengantin yang anggun
    bunga-bunga serta keris keramat
    aku ingin membimbingmu ke altar
    untuk dikawinkan
    Aku melamarmu,
    Kau tahu dari dulu:
    tiada lebih buruk
    dan tiada lebih baik
    dari yang lain­
    penyair dari kehidupan sehari-hari,
    orang yang bermula dari kata
    kata yang bermula dari
    kehidupan, pikir dan rasa

    Semangat kehidupan yang kuat
    bagai berjuta-juta jarum alit
    menusuki kulit langit:
    kantong rejeki dan restu wingit
    Lalu tumpahlah gerimis
    Angin dan cinta
    mendesah dalam gerimis.
    Semangat cintaku yang kuta
    batgai seribu tangan gaib
    menyebarkan seribu jaring
    menyergap hatimu
    yang selalu tersenyum padaku

    Engkau adalah putri duyung
    tawananku
    Putri duyung dengan
    suara merdu lembut
    bagai angin laut,
    mendesahlah bagiku !
    Angin mendesah
    selalu mendesah
    dengan ratapnya yang merdu.
    Engkau adalah putri duyung
    tergolek lemas
    mengejap-ngejapkan matanya yang indah
    dalam jaringku
    Wahai, putri duyung,
    aku menjaringmu
    aku melamarmu

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    kerna langit
    gadis manja dan manis
    menangis minta mainan.
    Dua anak lelaki nakal
    bersenda gurau dalam selokan
    dan langit iri melihatnya
    Wahai, Dik Narti
    kuingin dikau
    menjadi ibu anak-anakku !

  • Kumpulan Puisi Taufik Ismail

    Kumpulan Puisi Taufik Ismail

    Sebuah Jaket Berlumur Darah

    Sebuah jaket berlumur darah
    Kami semua telah menatapmu
    Telah pergi duka yang agung
    Dalam kepedihan bertahun-tahun.

    Sebuah sungai membatasi kita
    Di bawah terik matahari Jakarta
    Antara kebebasan dan penindasan
    Berlapis senjata dan sangkur baja
    Akan mundurkah kita sekarang
    Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
    Berikara setia kepada tirani
    Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

    Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
    Kami semua telah menatapmu
    Dan di atas bangunan-bangunan
    Menunduk bendera setengah tiang.

    Pesan itu telah sampai kemana-mana
    Melalui kendaraan yang melintas
    Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
    Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
    Prosesi jenazah ke pemakaman
    Mereka berkata
    Semuanya berkata
    Lanjutkan Perjuangan.

    Syair Orang Lapar

    Lapar menyerang desaku
    Kentang dipanggang kemarau
    Surat orang kampungku
    Kuguratkan kertas
    Risau
    Lapar lautan pidato
    Ranah dipanggang kemarau
    Ketika berduyun mengemis
    Kesinikan hatimu
    Kuiris
    Lapar di Gunungkidul
    Mayat dipanggang kemarau
    Berjajar masuk kubur
    Kauulang jua
    Kalau.

    Karangan Bunga

    Tiga anak kecil
    Dalam langkah malu-malu
    Datang ke salemba
    Sore itu.

    Ini dari kami bertiga
    Pita hitam pada karangan bunga
    Sebab kami ikut berduka
    Bagi kakak yang ditembak mati
    Siang tadi.

    Salemba

    Alma Mater, janganlah bersedih
    Bila arakan ini bergerak pelahan
    Menuju pemakaman
    Siang ini.

    Anakmu yang berani
    Telah tersungkur ke bumi
    Ketika melawan tirani.

    Memang Selalu Demikian, Hadi

    Setiap perjuangan selalu melahirkan
    Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
    Jangan kau gusar, Hadi.

    Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
    Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
    Jangan kau kecewa, Hadi.

    Setiap perjuangan yang akan menang
    Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
    Dan para jagoan kesiangan.

    Memang demikianlah halnya, Hadi.

    Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa

    Jika adalah yang harus kaulakukan
    Ialah menyampaikan kebenaran
    Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
    Ialah ang bernama keyakinan
    Jika adalah yang harus kau tumbangkan
    Ialah segala pohon-pohon kezaliman
    Jika adalah orang yang harus kauagungkan
    Ialah hanya Rasul Tuhan
    Jika adalah kesempatan memilih mati
    Ialah syahid di jalan Ilahi.

    SAJADAH PANJANG

    Ada sajadah panjang terbentang
    Dari kaki buaian
    Sampai ke tepi kuburan hamba
    Kuburan hamba bila mati

    Ada sajadah panjang terbentang
    Hamba tunduk dan sujud
    Di atas sajadah yang panjang ini

    Diselingi sekedar interupsi
    Mencari rezeki, mencari ilmu
    Mengukur jalanan seharian
    Begitu terdengar suara azan
    Kembali tersungkur hamba

    Ada sajadah panjang terbentang
    Hamba tunduk dan rukuk
    Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
    Mengingat Dikau
    Sepenuhnya.
    1984
    (dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo)

    LONCENG TINJU

    Setiap kali lonceng berkleneng
    Tanda putaran dimulai
    Setiap kali mereka bangkit
    Dan mengepalkan tinju
    Setiap teriakan histeria
    Bergemuruh suaranya
    Aku kelu
    Dan merasa di pojok
    Sendirian

    Setiap lonceng berklenengan
    Dan tinju mulai berlayangan
    Meremuk kepala lawan
    Terkilas dalam ingatan
    Nenekku dulu berkata
    “Jangan kamu mengadu ayam”
    Dan bila aku menuntut ilmu
    Di Kedokteran Hewan
    Guruku menasihatkan
    “Jangan kamu mengadu hewan”

    Kini lagi, bel itu berklenengan
    Aku tersudut, bisu
    Dan makin merasa
    Sendirian
    1987

    LONDON, ABAD SEMBILAN BELAS

    1
    Pada ronde ke-99 yang berdarah-darah
    Petinju Simon Byrne selesai sudah
    Dia mati memuaskan penontonnya

    Tinju maut Si Tuli James Burke
    Diacung-acungkan wasit
    Para penonton berteriak gembira
    Polisi Inggeris datang bertugas
    Peraturan langsung menjerat kedua tangannya
    Tapi anehnya dia dibebaskan, tak lama
    Inilah ejekan pada undang-undang
    Walau pun ada manusia masih terlarang
    Putusan pengadilan bisa diperjual-belikan

    2
    Lalu tengoklah berbondong-bondong penonton
    Naik kereta api dari Setasiun Jambatan London
    Menuju tempat rahasia, 25 mil jauhnya
    Inilah pertandingan pertama antarbangsa
    Tom Sayers juara Britania
    Diadu John Heenan jagoan Amerika
    Sastrawan Dickens dan Thackeray menonton juga
    Sesudah 42 putaran adu manusia
    Keduanya berdarah-darah, lebam, habis daya
    Tak berketentuan wasit apa keputusannya
    Para penonton berteriak dalam histeria
    Mengacung-acungkan tinju ke udara
    Polisi melakukan interupsi
    Para juri dipisuhi, wasit dimaki-maki
    Penonton-penonton tak puas jadi buas
    Mereka lalu bertinju sesama mereka
    Mereka bergigitan seperti serigala
    Melolong bagai gorila
    Pertunjukan jadi lengkap
    Dan lumayan biadab

    3
    Itulah adegan abad sembilan belas
    Asal-usul adu manusia yang kita tidak tahu
    Tapi ujungnya kita tiru-tiru
    Sebagai bangsa minder apa saja dari Eropa dan Amerika
    Seperti kawanan bebek diturut dan ditirukan saja
    Sudah jelas ini adu manusia mereka bilang olahraga
    Seperti kambing mengembik kita setuju pula
    Inilah budaya tanpa pikir kita jiplak begitu saja

    Dari abad 19 orang masuk ke abad 20
    Di awal abad, adu manusia di sana dilarang undang-undang
    Tapi pemilik modal si orang kaya membeli undang-undang
    Disobek dicincang itu dokumen undang-undang
    Sebagai sampah hukum masuk keranjang
    Adu manusia jadi tidak lagi terlarang
    Lengkaplah bagian biadab budaya barat
    Yang garang, bringasan dan tamak pada uang
    Menjalar ke negeri sini, ditiru dan diulang-ulang
    Sudahlah minder, ditambah gebleg, kita tak kepalang

    4
    Pada hari ini akhir abad dua puluh
    Kakiku satu sudah masuk abad dua puluh satu
    Kita ketemu
    Kau ajak aku balik ke abad sembilan belas
    Lho tapi, kita ‘kan mau menembus abad 21
    Kenapa kau bujuk aku balik ke abad 19 lagi
    Mana aku mau

    Tapi kau berkeras balik kanan juga
    Kau tetap mau ditipu, adu manusia itu olahraga
    Kau menanam bibit kekerasan dan kebringasan
    Sudah berapa puluh tahun jangka waktunya
    Kau sudah panen lama kau mana tahu itu
    Bibitmu tumbuh, menyebar dan membesar
    Karena kau rabun mana bisa itu kau baca
    Ke masyarakatmu tak pernah kau berkaca
    Dan kau berkeras balik kanan juga

    Kau tak tahu sudah kusiapkan tali rafia biru
    Diam-diam kuikat kedua pergelangan tanganmu
    Kuseret kau masuk abad 21
    Masih saja kau berteriak tak tahu malu
    “Tidak mau! Tidak mau!”
    Tengoklah anak-anak yang berpikir itu
    Mereka terheran-heran melihat kamu.
    1989

    DENGAN PUISI AKU

    Dengan puisi aku bernyanyi
    Sampai senja umurku nanti
    Dengan puisi aku bercinta
    Berbaur cakrawala
    Dengan puisi aku mengenang
    Keabadian Yang Akan Datang
    Dengan puisi aku menangis
    Jarum waktu bila kejam mengiris
    Dengan puisi aku mengutuk
    Napas jaman yang busuk
    Dengan puisi aku berdoa
    Perkenankanlah kiranya

    AIR KOPI MENYIRAM HUTAN

    Tiga juta hektar
    Halaman surat kabar
    Telah dirayapi api
    Terbit pagi ini
    Panjang empat jari
    Dua kolom tegaklurus
    Dibongkar dari pik-ap
    Subuh dari percetakan
    Ditumpuk tepi jalan
    Dibereskan agen koran
    Sebelum matahari dimunculkan
    Dilempar ke pekarangan
    Dipungut oleh pelayan
    Ditaruh di mejamakan
    Ditengok secara sambilan
    Dasi tengah diluruskan
    Rambut isteri kekusutan
    Empat anak bersliweran
    Pagi penuh kesibukan
    Selai di ujung tangan
    Roti dalam panggangan
    Ketika tangan bersilangan
    Kopi tumpah di bacaan
    Menyiram tigajutahektar koran
    Dua kolom kepanjangan
    Apipadam menutup hutan
    Koranbasah dilipat empat
    Keranjang plastik anyaman
    Tempat dia dibuangkan
    Tepat pagi itu
    Jam setengah delapan.
    1988

    BERI DAKU SUMBA

    di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
    aneh, aku jadi ingat pada Umbu

    Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
    Di mana matahari membusur api di atas sana
    Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
    Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

    Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
    Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
    Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
    Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

    Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
    Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
    Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
    Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

    Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
    Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
    Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
    Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

    Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
    Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
    Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
    Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
    1970

    PANTUN TERANG BULAN DI MIDWEST

    Sebuah bulan sempurna
    Bersinar agak merah
    Lingkarannya di sana
    Awan menggaris bawah

    Sungai Mississippi
    Lebar dan keruh
    Bunyi-bunyi sepi
    Amat gemuruh

    Ladang-ladang jagung
    Rawa-rawa dukana
    Serangga mendengung
    Sampaikah suara

    Cuaca musim gugur
    Bukit membisu
    Asap yang hancur
    Biru abu-abu

    Danau yang di sana
    Seribu burung belibis
    Lereng pohon pina
    Angin pun gerimis
    1971

    BUNGA ALANG – ALANG

    Bunga alang-alang
    Di tebing kemarau
    Menggelombang

    Mengantar
    Bisik cemara
    Dalam getar

    Di jalan setapak
    Engkau berjalan
    Sendiri

    Ketika pepohon damar
    Menjajari
    Bintang pagi

    Sesudah topan
    Membarut
    Warna jingga
    Dan seribu kalong
    Bergayut
    Di puncak randu
    Di bawah bungur
    Kaupungut
    Bunga rindu

    Sementara awan
    Menyapu-nyapu
    Flamboyan

    Kemarau pun
    Berangkat
    Dengan kaki tergesa

    Dalam angin
    Yang menerbangkan
    Serbuk bunga.

    LAGU UNGGAS LAGU IKAN

    Katak rawa-rawa
    Menyanyi sendiri

    Pii
    Wii

    Serangga pepohonan
    Daun bermerahan

    Angsa menggelepar
    Dan berbunyi

    Pii
    Wii

    Ikan danau jauh
    Jerami yang luruh

    Langit mengental
    Paya-paya kristal
    Unggas sembunyi
    Hutan pun mati
    Bunyi yang sunyi
    Pii
    Wii

    SEORANG KULI TUA DI SETASIUN YOKOHAMA

    Seorang kuli tua di setasiun Yokohama
    Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota
    Berdiri agak terbungkuk di depan peron
    Handuk kecil di lehernya

    Beratus penumpang turun sepanjang ruangan
    Menari dalam kilau jendela kereta
    Ia pun menjamah koporku setelah menatapku
    Agak lama

    Hari itu musim panas di bulan Agustus
    Udara sangat lembab dan angin tak bertiup
    Menyeka dahi ditolaknya lembaran uang
    ‘Aku dulu di Semarang’

    Dengan hormat diucapkannya selamat jalan
    Ia pun kembali ke setasiun berbata-bata
    Berkaus dan bersepatu putih
    Tiba-tiba wajahnya sangat tua

    Di kapal kenapa kuingat kakak sepupuku
    Opsir Peta di Jatingaleh berlucut senjata
    Terbunuh dalam pertempuran lima hari
    Dua belas tahun yang lalu

    Hari itu musim panas di bulan Agustus
    Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota
    Seorang kuli di setasiun Yokohama
    Tiba-tiba wajahnya sangat tua.

    TENTANG SERSAN NURCHOLIS

    Seorang sersan
    Kakinya hilang
    Sepuluh tahun yang lalu

    Setiap siang
    Terdengar siulnya
    Di bengkel arloji

    Sekali datang
    Teman-temannya
    Sudah orang resmi

    Dengan senyum ditolaknya
    Kartu-anggota
    Bekas pejuang

    Sersan Nurcholis
    Kakinya hilang
    Di zaman revolusi

    Setiap siang
    Terdengar siulnya
    Di bengkel arloji