Tag: sastrawan

  • 11 Tokoh Sastra Dunia yang Menginspirasi Perkembangan Sastra Modern

    11 Tokoh Sastra Dunia yang Menginspirasi Perkembangan Sastra Modern

    Sastra dunia adalah harta karun yang penuh dengan kisah, emosi, dan kebijaksanaan dari berbagai budaya.

    Dari zaman klasik hingga modern, tokoh-tokoh sastra memberi pengaruh besar yang melampaui batas waktu dan geografis.

    Mereka tidak hanya menciptakan karya-karya terkenal, tetapi juga memberikan inspirasi dan wawasan yang relevan hingga hari ini.

    Dari puisi yang penuh makna hingga novel yang menggugah pemikiran, para penulis ini meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi pembaca di seluruh dunia.

    Nah, buat kamu yang ingin belajar sastra, berikut ini adalah nama dari para tokoh sastra dunia yang menjadi inspirasi bagi sastrawan generasi selanjutnya.

    Tokoh Sastra Dunia Abad Pertengahan – Abad Pencerahan

    Pada periode Abad Pertengahan hingga Abad Pencerahan, dunia sastra mengalami perkembangan yang signifikan.

    Masa ini menyaksikan lahirnya karya-karya yang tidak hanya mempengaruhi pemikiran zaman itu, tetapi juga membentuk fondasi bagi literatur modern.

    Para tokoh sastra dari periode ini dikenal dengan karya-karya mereka yang menggugah imajinasi, menantang norma-norma sosial, dan mendorong batasan intelektual.

    1. Geoffrey Chaucer (1343-1400)

    Geoffrey Chaucer dikenal sebagai “Bapak Sastra Inggris” karena peran pentingnya dalam mengembangkan bahasa Inggris sebagai medium sastra.

    The Canterbury Tales, karya monumentalnya, yakni kumpulan cerita yang disampaikan oleh sekelompok peziarah.

    Setiap cerita dalam karya ini membawa satir sosial yang tajam, mencerminkan kondisi masyarakat Inggris pada masa itu.

    2. William Shakespeare (1564-1616)

    William Shakespeare
    William Shakespeare (engoo)

    William Shakespeare adalah salah satu tokoh sastra yang paling terkenal di dunia. Karyanya mencakup berbagai genre, termasuk drama, puisi, dan tragedi.

    Shakespeare dikenal dengan kemampuannya menggambarkan karakter dan emosi manusia dengan mendalam. Tema cinta, ambisi, dan moralitas dalam karyanya tetap relevan hingga saat ini, menjadikannya ikon dalam dunia sastra.

    Karya William Shakespeare yang cukup terkenal diantaranya Hamlet, Romeo and Juliet, Macbeth

    3. Miguel de Cervantes (1547-1616)

    Miguel de Cervantes
    Miguel de Cervantes (theneweuropean)

    Miguel de Cervantes adalah penulis Spanyol yang terkenal dengan karyanya Don Quixote, yang dianggap sebagai novel modern pertama.

    Karya ini adalah satire yang menggambarkan petualangan seorang pria yang terobsesi dengan ide-ide kesatria.

    Don Quixote mengeksplorasi tema ilusi versus realitas dan kritik sosial terhadap masyarakat Spanyol pada zamannya.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 19

    Abad ke-19 merupakan era emas bagi dunia sastra, di mana sejumlah penulis besar muncul dengan karya-karya yang revolusioner dan mendalam.

    Pada masa ini, sastra menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan perubahan sosial, menggali kompleksitas manusia, dan mengekspresikan keindahan serta tragedi kehidupan.

    Berikut adalah beberapa tokoh sastra dunia dari abad ke-19 yang karyanya terus menginspirasi hingga saat ini.

    4. Leo Tolstoy (1828-1910)

    Leo Tolstoy
    Leo Tolstoy (piramida)

    Leo Tolstoy adalah penulis Rusia yang karyanya dianggap sebagai puncak sastra realisme. War and Peace adalah epik sejarah yang menggambarkan kehidupan masyarakat Rusia selama invasi Napoleon.

    Anna Karenina mengeksplorasi tema cinta, keluarga, dan moralitas. Tolstoy memiliki kemampuan luar biasa dalam menggambarkan kompleksitas karakter manusia dan kehidupan sosial.

    5. Charles Dickens (1812-1870)

    Charles Dickens
    Charles Dickens (oboolo)

    Charles Dickens adalah salah satu penulis Inggris yang paling produktif dan berpengaruh. Karyanya sering mengangkat isu sosial, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan eksploitasi anak.

    Dickens dikenal dengan karakter-karakter yang kuat dan alur cerita yang penuh dengan emosi dan kritik sosial.

    Beberapa karya Charles Dickens yang terkenal diantaranya A Tale of Two Cities, Great Expectations, Oliver Twist

    6. Emily Brontë (1818-1848)

    Emily Brontë
    Emily Brontë (thefamouspeople)

    Emily Brontë adalah penulis Inggris yang dikenal dengan satu-satunya novelnya, Wuthering Heights.

    Karya ini merupakan eksplorasi intens tentang cinta, pembalasan, dan kehancuran diri dalam lingkungan yang keras.

    Wuthering Heights dianggap sebagai salah satu karya sastra paling unik dan menantang dalam literatur Inggris, dengan narasi yang inovatif dan kompleks.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 20

    Abad ke-20 menandai periode penting dalam dunia sastra, di mana para penulis bereksperimen dengan gaya, tema, dan teknik baru untuk mencerminkan kompleksitas zaman yang penuh perubahan.

    Era ini dipenuhi dengan peristiwa besar seperti perang dunia, revolusi, dan transformasi sosial yang mempengaruhi karya sastra secara mendalam.

    Para tokoh sastra dari abad ke-20 tidak hanya menangkap esensi zaman mereka, tetapi juga mempengaruhi cara kita memahami dunia dan diri kita sendiri.

    Mari kita mengenal lebih jauh para tokoh sastra dunia dari abad ke-20 yang meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam sejarah literatur.

    7. Franz Kafka (1883-1924)

    Franz Kafka
    Franz Kafka (deutschland)

    Franz Kafka adalah penulis Ceko yang karya-karyanya terkenal dengan nuansa absurditas dan alienasi.

    Istilah “Kafkaesque” digunakan untuk menggambarkan situasi yang aneh dan tidak masuk akal seperti yang digambarkan dalam karya-karyanya.

    The Metamorphosis dan The Trial mengeksplorasi tema identitas, birokrasi, dan ketidakberdayaan individu dalam menghadapi kekuatan besar.

    8. James Joyce (1882-1941)

    James Joyce
    James Joyce (catholicregister)

    James Joyce adalah salah satu tokoh utama dalam gerakan modernisme sastra.

    Karyanya Ulysses dianggap sebagai salah satu novel terpenting dalam sastra Inggris abad ke-20. Joyce dikenal dengan eksperimen dalam struktur naratif dan penggunaan bahasa.

    Karyanya penuh dengan alusi budaya, menjadikannya tantangan sekaligus keindahan untuk dibaca.

    9. Gabriel García Márquez (1927-2014)

    Gabriel García Márquez
    Gabriel García Márquez (humanidades)

    Gabriel García Márquez adalah penulis Kolombia yang menjadi pelopor gerakan realisme magis.

    One Hundred Years of Solitude adalah novel epik yang menggambarkan kehidupan keluarga Buendía selama beberapa generasi, di mana realitas dan fantasi bercampur dengan harmonis.

    Karya-karyanya sering menggambarkan kehidupan di Amerika Latin dengan campuran mitos dan realitas, yang menciptakan narasi yang kaya dan penuh warna.

    Beberapa karya Gabriel García Márquez yang terkenal diantaranya One Hundred Years of Solitude, Love in the Time of Cholera.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 21

    Abad ke-21 membawa dunia sastra ke dalam era baru yang ditandai dengan globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial yang cepat.

    Para penulis dari masa ini menghadapi tantangan dan peluang yang unik, menciptakan karya-karya yang mencerminkan kompleksitas dunia modern.

    Dengan gaya yang beragam dan tema yang mencakup berbagai aspek kehidupan kontemporer, para tokoh sastra abad ke-21 terus mendorong batasan kreativitas dan menghubungkan kita dengan berbagai realitas yang ada di seluruh dunia.

    10. Haruki Murakami

    Haruki Murakami adalah penulis Jepang yang karya-karyanya dipengaruhi oleh budaya pop Barat dan elemen surealisme.

    Tema-tema seperti kesepian, realitas alternatif, dan pencarian jati diri sering muncul dalam novelnya.

    Murakami dikenal dengan gaya naratif yang halus dan atmosfer yang melankolis, yang membuat karyanya menjadi favorit di kalangan pembaca global.

    Beberapa karyanya yang terkenal seperti Kafka on the Shore, Norwegian Wood.

    11. Chimamanda Ngozi Adichie

    Chimamanda Ngozi Adichie adalah penulis Nigeria yang karya-karyanya membahas isu-isu identitas, feminisme, dan postkolonialisme.

    Half of a Yellow Sun menggambarkan Perang Saudara Nigeria, sementara Americanah mengeksplorasi pengalaman imigran Afrika di Amerika.

    Adichie adalah suara penting dalam sastra kontemporer yang memberikan perspektif baru tentang Afrika dan peran wanita dalam masyarakat.

    Pengaruh Tokoh Sastra Dunia Terhadap Sastra Modern

    Pengaruh tokoh sastra dunia tidak hanya terasa pada masanya, tetapi juga membentuk landasan bagi perkembangan sastra modern.

    Melalui karya-karya mereka yang inovatif dan pemikiran yang mendalam, para penulis besar ini telah menginspirasi generasi penulis berikutnya untuk mengeksplorasi tema baru, bereksperimen dengan gaya penulisan, dan menantang konvensi yang ada.

    Dari narasi eksistensial hingga kritik sosial, warisan mereka terus mempengaruhi cara kita menulis dan memahami sastra hari ini.

    Peninggalan Sastra dan Inspirasi

    Tokoh-tokoh sastra ini tidak hanya menghasilkan karya-karya yang hebat, tetapi juga memberikan inspirasi yang mendalam bagi penulis-penulis generasi berikutnya.

    Mereka membentuk dasar-dasar sastra modern, menciptakan gaya dan tema yang masih diadopsi dan dikembangkan hingga hari ini.

    Pengaruh mereka terlihat jelas dalam berbagai bentuk sastra kontemporer, dari novel hingga drama dan puisi.

  • Siapakah HB Jassin dan bagaimana kedudukannya di dalam kesusastraan Indonesia?

    Hans Bague Jassin, yang dikenal dengan HB Jassin, adalah seorang pengarang, penyunting, cendekiawan muslim, dan kritikus sastra ternama dari Gorontalo.

    Lahir pada 31 Juli 1917, Jassin mendedikasikan hidupnya untuk memajukan kesusastraan Indonesia.

    Kontribusinya sangat besar dalam pengembangan dan pembentukan arah kesusastraan Indonesia modern.

    Profil H.B. Jassin

    H.B. Jassin menyelesaikan pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia, termasuk di bidang ilmu sastra dan bahasa.

    Selain sebagai kritikus sastra, H.B. Jassin juga dikenal sebagai editor, penerjemah, dan penulis. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan sastra dan kebudayaan Indonesia.

    H.B. Jassin dikenal luas sebagai kritikus sastra terkemuka di Indonesia.

    Tulisan-tulisannya sering membahas dan mengevaluasi karya-karya sastra, serta memberikan pandangan mendalam tentang perkembangan sastra Indonesia.

    Ia menerjemahkan berbagai karya sastra dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, yang membantu memperkenalkan literatur internasional kepada pembaca Indonesia.

    Kedudukan H.B. Jassin dalam Kesusastraan Indonesia

    H.B. Jassin memainkan peran penting dalam pengembangan sastra modern Indonesia.

    Ia memberikan kontribusi besar dalam mempromosikan dan memperkenalkan aliran sastra baru serta penulis-penulis baru kepada publik.

    Sebagai kritikus, H.B. Jassin memberikan penilaian yang tajam dan mendalam terhadap karya-karya sastra.

    Karyanya dalam kritik sastra membantu pembaca dan penulis memahami nilai-nilai estetika dan teknik-teknik sastra yang berkembang pada masa itu.

    Salah satu karya terkenalnya adalah kumpulan esai yang membahas berbagai aspek sastra, baik sastra klasik maupun modern.

    Esai-esai ini sering kali memuat analisis mendalam tentang karya sastra dan perkembangan sastra Indonesia.

    H.B. Jassin juga menulis buku-buku tentang sejarah sastra Indonesia yang memberikan wawasan berharga mengenai evolusi sastra di Indonesia dari masa ke masa.

    Sebagai pengarang, Jassin menulis beberapa karya sastra, seperti “Gema Suasana”, “Kesusastraan Indonesia di Masa Penjajahan Jepang”, dan “Kesusastraan Indonesia di Masa Kemerdekaan”.

    H.B. Jassin menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya terhadap sastra dan kebudayaan Indonesia.

    Penghargaan ini mencerminkan pengakuan atas dedikasinya dalam memajukan kesusastraan di Indonesia.

    Jassin dikenang sebagai salah satu pelopor dalam kritik sastra dan sejarah sastra Indonesia.

    Karya-karyanya terus dihargai dan menjadi referensi penting bagi akademisi dan penggemar sastra.

    Kesimpulan

    H.B. Jassin adalah tokoh sentral dalam kesusastraan Indonesia yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam bidang kritik sastra dan sejarah sastra.

    Melalui karya-karyanya, H.B. Jassin membantu membentuk pemahaman dan apresiasi terhadap sastra Indonesia, serta memperkenalkan karya-karya penting dari dalam dan luar negeri kepada pembaca Indonesia.

    Kedudukannya sebagai kritikus sastra dan sejarawan sastra menjadikannya sebagai figur yang sangat berpengaruh dalam pengembangan dan pengayaan kesusastraan Indonesia.

  • Biografi Lengkap WS Rendra dan Karya-karyanya

    Biografi Lengkap WS Rendra dan Karya-karyanya

    Biografi Rendra

    Nama Pena : WS Rendra
    Nama Lengkap : Willibrordus Surendra Broto Rendra
    Lahir : Solo, 7 Nopember 1935
    Agama : Islam
    Istri : Ken Zuraida

    Kehidupan WS Rendra

    Rendra, yang bernama asli Willibrordus Surendra Broto, lahir di Solo pada tanggal 7 November 1935 dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah.

    Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta.

    Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu.

    Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, di kota yang sama.

    Setamat SMA Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup.

    Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada.

    Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya, tidak berarti ia berhenti untuk belajar.

    Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA).

    Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

    Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP.

    Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerpen, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya.

    Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

    Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat.

    Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru.

    Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

    Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an.

    Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

    Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

    Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.

    Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya :

    • The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979)
    • The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985)
    • Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985)
    • The First New York Festival Of the Arts (1988)
    • Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989)
    • World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992)
    • Tokyo Festival (1995)

    Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta.

    Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater.

    Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air.

    Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

    Pendidikan WS Rendra

    • SMA St. Josef, Solo
    • Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
    • American Academy of Dramatical Art, New York, USA (1967)

    Karya-Karya Drama WS Rendra

    • Orang-orang di Tikungan Jalan
    • SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor
    • Oedipus Rex
    • Kasidah Barzanji
    • Perang Troya tidak Akan Meletus

    Sajak/Puisi WS Rendra

    • Jangan Takut Ibu
    • Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
    • Empat Kumpulan Sajak
    • Rick dari Corona
    • Potret Pembangunan Dalam Puisi
    • Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
    • Pesan Pencopet kepada Pacarnya
    • Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
    • Perjuangan Suku Naga
    • Blues untuk Bonnie
    • Pamphleten van een Dichter
    • State of Emergency
    • Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
    • Mencari Bapak
    • Rumpun Alang-alang
    • Surat Cinta

    Penghargaan WS Rendra

    • Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
    • Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969)
    • Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)
  • Mengenal Jon Fosse, Penulis yang Meraih Nobel Tahun 2023

    Mengenal Jon Fosse, Penulis yang Meraih Nobel Tahun 2023

    Siapa Jon Fosse?

    Jon Fosse adalah seorang penulis, penerjemah, dan dramawan Norwegia yang lahir pada tahun 1959 di Haugesund, Norwegia.

    Ia dikenal dengan karya-karyanya yang inovatif dan puitis, yang mengeksplorasi tema-tema eksistensial seperti cinta, kehilangan, dan kematian.

    Pada tahun 2023, ia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra atas drama dan prosa inovatifnya yang menyuarakan hal-hal yang tidak dapat diungkapkan.

    Selain itu, Fosse juga menerima berbagai penghargaan untuk karya-karyanya, seperti Penghargaan Dobloug, dan Penghargaan Nynorsk Literature.

    Karya-karya Fosse sering digambarkan sebagai “suara yang tidak terucapkan”.

    Hal ini karena ia menggunakan bahasa yang sederhana dan repetitif untuk menggambarkan pengalaman-pengalaman yang sulit untuk diungkapkan.

    Misalnya dalam dramanya yang berjudul “The Name”, tokoh utama, Asle, mencoba untuk memahami kematian istrinya yang baru saja meninggal.

    Ia berulang kali mengucapkan nama istrinya, “Hedda”, tetapi kata-kata itu tidak mampu mengungkapkan rasa kehilangan dan kesedihan yang ia rasakan.

    Fosse juga sering menggunakan teknik-teknik dramatis yang tidak konvensional untuk menciptakan efek yang tidak biasa.

    Misalnya, dalam dramanya yang berjudul “The Winter’s Night”, adegannya diulang-ulang dan tokoh-tokohnya sering berbicara sendiri.

    Teknik-teknik ini menciptakan rasa ketidakpastian dan misteri yang membuat penonton merasa seolah-olah sedang menyaksikan sesuatu yang tidak dapat dipahami sepenuhnya.

    Dalam perkembangan menulisnya, Fosse dipengaruhi oleh berbagai sumber, termasuk agama, filsafat, dan seni.

    Ia tumbuh dalam keluarga Quaker dan nilai-nilai Quaker seperti kesederhanaan dan kerendahan hati tercermin dalam karya-karyanya.

    Fosse juga dipengaruhi oleh filsuf-filsuf seperti Martin Heidegger dan Søren Kierkegaard yang karya-karyanya mengeksplorasi tema-tema eksistensial.

    Selain itu, ia juga dipengaruhi oleh seniman-seniman seperti Edvard Munch dan Vincent van Gogh, yang karya-karyanya cenderung menggambarkan emosi yang kuat.

    Karya-Karya Jon Fosse

    Fosse telah menulis lebih dari 50 karya, mulai dari drama, prosa, puisi, dan esai. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa.

    Beberapa karyanya yang paling terkenal antara lain:

    1. Namnet (1997): Drama yang menceritakan kisah seorang penulis yang bertemu dengan seorang wanita muda yang hilang ingatan dan hubungan antara keduanya.

    2. Nightsongs (1997): Karya ini adalah koleksi puisi Fosse yang beragam, mencakup berbagai tema seperti cinta, kehidupan, dan kematian.

    3. Melancholy (1999): Drama ini menggambarkan hubungan antara dua pasangan yang terjerat dalam situasi rumit dan mencoba untuk mengatasi masalah pribadi mereka.

    4. Morning and Evening (2000): Karya ini adalah drama monolog yang mempertunjukkan perdebatan batin seorang pria yang merenungkan hidupnya.

    6. Death Variations (2000): Drama ini menggambarkan berbagai sudut pandang tentang kematian, termasuk sudut pandang seorang anak dan seorang dokter.

    7. I Am the Wind”(2010): Karya ini menggambarkan perjalanan dua orang lelaki di atas perahu yang tenggelam, menciptakan perasaan isolasi dan keputusasaan.

    8. The Other Name: Septology I-II (2019): Sebuah novel yang terdiri dari dua bagian, menggambarkan kisah seorang pria bernama Asle dan perjalanannya melalui kehidupan dan seni.

  • Biografi Ahda Imran, Karya, dan Prestasinya dalam Dunia Sastra

    Biografi Ahda Imran, Karya, dan Prestasinya dalam Dunia Sastra

    Ahda Imran adalah seorang penyair dan esais yang lahir di Payakumbuh pada 10 Agustus tahun 1966, kemudian besar dan berkarya di Cimahi, Jawa Barat.

    Selain dikenal sebagai penyair, Ahda Imran juga menulis beberapa naskah drama, salah satunya adalah untuk seri teater Monolog 3 Perempuan.

    Dalam karya tersebut, Ahda Imran berkolaborasi dengan Gunawan Maryanto dan Djenar Maesa Ayu.

    Kemudian pada tahun 2013, ia menulis naskah untuk Monolog Inggit Garnasih yang dimainkan oleh Happy Salma dan disutradarai oleh Wawan Sofwan.

    Sepanjang kariernya, ia telah melahirkan banyak karya juga mencetak berbagai penghargaan, salah satunya adalah Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kategori kumpulan puisi yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2022.

    Selain itu, ia juga telah menulis banyak puisi yang sering dimuat dalam Harian Kompas, salah satunya puisi berjudul “Sajak Tan Malaka Kepada Harry A Poeze (2012)”.

    Berikut ini adalah beberapa karya dan prestasi yang telah diraih oleh Ahda Imran sepanjang kariernya.

    Karya Puisi Ahda Imran

    • Sajak Tan Malaka Kepada Harry A Poeze (2012)
    • Hujan Yang Berwarna Hitam (2013)
    • Dari Bahasa kepada Puisi (2013); puisi untuk Afrizal Malna
    • Hikayat Sebuah Meja (2013); puisi untuk Hanafi
    • Setenang Buddha (2013)
    • Kalajengking (2013)
    • Hikayat Tangan (2013)
    • Dalam Kapal Nuh (2013)
    • Hikayat Aradea (2013)
    • 24 Jam Berikutnya dalam Kepalamu (2013)
    • Dunia Perkawinan (buku puisi, 1999)
    • Penunggang Kuda Negeri Malam (buku puisi, 2008)
    • Rusa Berbulu Merah (buku puisi, 2014)
    • Ludah Orang Suci (buku puisi, 2021)

    Antologi Puisi Ahda Imran

    • 70 Puisi: Penunggang Kuda Negeri Malam (2008); diterbitkan oleh Akar Indonesia
    • Rusa Berbulu Merah: Kumpulan Puisi 2008-2013 (2014); diterbitkan oleh Pustaka Jaya

    Kumpulan Cerita Ahda Imran

    • 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur! (2010); bersama Zaki Yamari; diterbitkan oleh Pikiran Rakyat
      Naskah drama Ahda Imran
    • Monolog Inggit Garnasih (2013); dipentaskan oleh Happy Salma, disutradarai oleh Wawan Sofwan
    • Monolog 3 Perempuan (2014); bersama Gunawan Maryanto dan Djenar Maesa Ayu
    • Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah (buku naskah drama)
    • Sjahrir (buku naskah drama)
    • Amir Hamzah; Nyanyian Sunyi Revolusi (buku naskah drama)
    • The Sin Nio, Sepinya Sepi (buku naskah drama)
    • Annelis Mallema (buku naskah drama)
    • Kacamata Sjafruddin (buku naskah drama)

    Karya Nonfiksi Ahda Imran

    • Di Atas Viaduct (2009); diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama
    • 5 Dasa Warsa Irawati Menari (2011); bersama Miftahul Malik dan Irawati Durban Ardjo

    Penghargaan Ahda Imran

    • Tahun 2014, antologi puisi Ahda Imran berjudul Rusa Berbulu Merah masuk dalam daftar lima besar nominasi ajang Kusala Sastra Khatulistiwa.
    • Tahun 2022 ia masuk dalam nominasi Penulis Skenario Adaptasi Terbaik bersama Kamila Andini dalam film Nana di Festival Film Indonesia 2022.
    • Buku puisi Rusa Berbulu Merah menjadi buku Rekomendasi Majalah Tempo (2015)
    • Buku puisi Ludah Orang Suci menjadi buku Rekomendasi Majalah Tempo (2021)
    • Buku puisi Ludah Orang Suci menerima Penghargaan Buku Puisi Kemendikbud (2022)
    • Pemenang Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta (2022) untuk naskah Mesin Jemaat Rawayan Award.
    • Novel biografisnya “Jais Darga Namaku” diangkat ke layar lebar dengan judul  Before, Now & Then (Nana) dan terpilih mengikut Berlinale Festival 2022 di Berlin.
  • Nama-Nama Tokoh Sastrawan Angkatan Pujangga Baru

    Nama-Nama Tokoh Sastrawan Angkatan Pujangga Baru

    Tokoh Sastrawan Angkatan Pujangga Baru

    Angkatan Pujangga Baru adalah angkatan yang terbentuk pada tahun 1993 dengan tujuan untuk menggantikan angkatan Balai Pustaka.

    Karya dari angkatan ini dipublikasikan melalui majalah Pujangga Baru. Adapun nama-nama tokoh sastrawan angkatan pujangga baru adalah sebagai berikut.

    1. Sutan Takdir Alisjahbana

    Motor dan pejuang bersemangat gerakan pujangga baru ialah Sutan Takdir Alisjahbana yang lahir pada tahun 1908.

    Sejak tahun 1929, ia muncul dalam panggung sejarah Indonesia, yaitu ketika ia menerbitkan roman pertama yang berjudul “Tak Putus Dirundung Malang”.

    Roman ini diterbitkan oleh Balai Pustaka.

    Kemudian, ia menulis roman kedua yang berjudul “Dian yang Tak Kunjung Padam (1932)” dan yang ketiga berjudul “Layar Terkembang (1936)”.

    Sedangkan roman yang berjudul Anak Perawan di Sarang Penyamun (1941) ditulisnya lebih dahulu daripada Layar Terkembang dan dimuat sebagai feuilleton dalam majalah Pandji Poestaka, namun diterbitkan sebagai buku.

    Tiga puluh tahun kemudian Takdir menulis sebuah roman kembali berjudul Grotta Azzurra (Gua Biru) yang diterbitkan tepat pada hari lahirnya yang ke-60.

    Takdir terkenal sebagai penulis esai dan pembina bahasa Indonesia kala itu.

    Bahkan, ia pernah disebut sebagai “insinyur bahasa Indonesia” oleh Ir.S. Udin.

    Berkat inisiatif Takdir melalui Poedjangga Baroe, pada tahun 1938 di Solo diselenggarakan gerakan Kongres Bahasa Indonesia yang pertama.

    Ia juga pernah menjadi pimpinan majalah Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952) yang memuat segala hal-ihwal perkembangan serta masalah perihal bahasa Indonesia.

    Tulisan-tulisannya yang berkaitan dengan bahasa Indonesia kemudian diterbitkan dengan judul “Dari Pejuang dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)”.

    Setelah kematian istrinya yang pertama, sajak-sajak yang ia tulis diterbitkan sebagai nomor khusus majalah Poedjangga Baroe berjudul “Tebaran Mega (1936)”.

    2. Armijn Pane

    Armijn Pane adalah salah satu Sastrawan Senior di Indonesia dengan salah satu karya sastra yang paling terkenal ialah novel Belenggu.

    Pada tahun 1933 bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru.

    Misinya adalah mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra.

    Sebagai pelajar di Solo, ia bergabung dengan organisasi pemuda nasional yakni Indonesia Muda, namun politik tampaknya kurang menarik minatnya daripada kesusasteraan.

    Saat itu ia memulai karirnya sebagai penulis dengan menerbitkan beberapa puisi nasionalis, dan dua tahun kemudian menjadi salah seorang pendiri majalah Pujangga Baru.

    Armijn Pane pernah menjadi wartawan surat kabar Soeara Oemoem di Surabaya (1932), mingguan Penindjauan (1934), surat kabar Bintang Timoer (1953), dan menjadi wartawan lepas.

    Ia pun pernah menjadi guru di Taman Siswa di berbagai kota di Jawa Timur.

    Menjelang kedatangan tentara Jepang, ia duduk sebagai redaktur Balai Pustaka.

    Pada zaman Jepang, Armijn Pane bersama kakaknya Sanusi Pane, bekerja di Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) dan menjadi kepala bagian Kesusasteraan Indonesia Modern.

    Sesudah kemerdekaan, ia aktif dalam bidang organisasi kebudayaan.

    Ia pun aktif dalam kongres-kongres kebudayaan dan pernah menjadi anggota pengurus harian Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) (1950-1955).

    Tahun 1969 Armijn Pane menerima Anugerah Seni dari pemerintah RI karena karya dan jasanya dalam bidang sastra.

    Pada awal Fevruari 1970, Tepatnya pada tanggal 16 Februari 1970, beliau meninggal.

    3. Amir Hamzah

    Amir Hamzah (1911-1946) adalah seorang keturunan bangsawan Langkat di Sumatera Timur.

    Ia pergi ke Jawa untuk sekolah hingga menjadi mahasiswa Fakultas Hukum yang dibiayai oleh pamannya, seorang Sultan Langkat.

    Di Jawa, Amir Hamzah aktif dalam kegiatan-kegiatan gerakan kebangsaan.

    Hingga akhirnya ia bersama Sutan Takdir dan Armijn Pane mendirikan majalah Poedjangga Baroe.

    Tapi Amir harus meninggalkan semuanya karena mendapat pagngilan dari pamannya sehingga ia harus pulang ke Langkat dan menikah dengan salah seorang putri Sultan Langkat.

    Dalam sajak-sajaknya, baik yang dimuat dalam Buah Rindu maupun yang dimuat dalam Nyanyian Sunyi, Amir banyak menggunakan kata-kata klasik, yang diambil dari khazanah bahasa Melayu dan Kawi.

    Ia pun menggunakan kata-kata dari bahasa daerah, terutama bahasa-bahasa Melayu, Jawa dan Sunda.

    Sajak Amir lebih banyak bernada kerinduan, penuh dengan ratap kesedihan yang menimbulkan kesunyian dan kepasrahan.

    Tapi setelah melampui masa kesepian dan kebimbangan.

    Akhirnya ia menemukan kedamaian dalam Tuhan yang disebutnya, kemudian dimuat sebagai sajak terakhir dalam Nyanyi Sunyi.

    4. J.E Tatengkeng

    J.E Tatengkeng (1907-1968) adalah seorang sastrawan kelahiran Sangihe. Ia merupakan umat Kristen yang taat.

    Bahkan ketika anaknya meninggal saat bayi, ia menganggapnya sebagai kehendak Tuhan, kemudian menulis sajak berjudul ‘Anakku’.

    Sajak itu bersama dengan sajak lainnya diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Rindu Dendam (1934).

    Isinya kebanyakan sajak-sajak kerindudendaman terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

    Rindu Dendam adalah satu-satunya buku J.E Tatengkeng yang pernah terbit.

    Namun, sebetulnya banyak karyanya yang dimuat dalam berbagai majalah, terutama dalam majalah Poedjangga Baroe.

    Dalam berkarya, bahasanya bukanlah bahasa yang baik menurut norma-norma bahasa Melayu Riau.

    Struktur puisinya pun begitu, bila dibandingkan dengan kawan-kawan seangkatannya yang kebanyakan berasal Sumatera.

    Puisi J.E Tatengkeng terbilang yang paling bebas dari pengaruh pantun dan syair Melayu lama.

    5. Asmara Hadi dan Penyair Pujangga Baru Lainnya

    Diantara para penyair yang sajak-sajaknya sering dimuat dalam majalah Poedjangga Baroe, masih ada penulis lain yang tidak dibukukan.

    Seperti Asmara Hadi, Mozasa (nama samaran Muhammad Zain Saidi), M.R. Dajoh dan lain-lain.

    Sajak-sajak Asmara Hadi yang nama aslinya Abdul Hadi (lahir di Bengkulu 1914) kebanyakan romantik dan kesedihan karena ditinggal mati oleh kekasih.

    Luka jiwa karena kehilangan cintanya itu justru digunakan oleh Asmara Hadi sebagai sumber semangat berjuang yang tak kunjung padam.

  • Biografi D. Zawawi Imron Lengkap dengan Karyanya

    Biografi D. Zawawi Imron Lengkap dengan Karyanya

    Biografi D. Zawawi Imron

    Zawawi Imron lahir di desa Batang-batang 1 Januari 1945 di ujung timur pulau Madura.

    Dia mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 1982.

    Setelah tamat Sekolah Rakyat (SR, setara dengan sekolah dasar) dia melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep.

    Kumpulan sajaknya Bulan Tertusuk Ilallang mengilhami Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film layar perak Bulan Tertusuk Ilalang.

    Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985.

    Pada 1990 kumpulan sajak Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata terpilih menjadi buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

    Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada 1995.

    Buku puisinya yang lain adalah Berlayar di Pamor Badik (1994), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Madura, Akulah Darahmu (1999), dan Kujilat Manis Empedu (2003).

    Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria.

    Zawawi menjadi juara pertama menulis puisi di AN-teve.

    Pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunei Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunei Darussalam (Maret 2002).

    Penyair yang tidak tamat Sekolah Rakyat ini memenangkan hadiah utama penulisan puisi ANTV (1995).

    Bersama Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, dan Ayu Utami, Zawawi pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002).

    Karya-Karya D. Zawawi Imron

    • Semerbak Mayang (1977)
    • Madura Akulah Lautmu (1978)
    • Celurit Emas (1980)
    • Bulan Tertusuk Ilalang (1982; yang mengilhami film Garin Nugroho berjudul sama)
    • Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985)
    • Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996)
    • Lautmu Tak Habis Gelombang (1996)
    • Madura Akulah Darahmu (1999).
  • Biografi Muhammad Yamin, Sastrawan Nasional

    Biografi Muhammad Yamin, Sastrawan Nasional

    Nama : Prof. Mohammad Yamin, S.H.
    Lahir : Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903
    Meninggal : Jakarta, 17 Oktober 1962 (umur 59)
    Agama : Islam
    Ayah : Tuanku Oesman Gelar Baginda Khatib
    Ibu: Siti Saadah

    Jabatan 

    Menteri Kehakiman Indonesia ke-6 (27 April 1951 – 14 Juni 1951)
    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ke-8 (30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)
    Menteri Penerangan Indonesia ke-14 (6 Maret 1962 – 17 Oktober 1962)

    Biografi Muhammad Yamin

    Prof. Mr. Muhammad Yamin, S.H dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada tanggal 23 Agustus 1903.

    Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmadjo. Salah seorang anaknya yang dikenal, yaitu Rahadijan Yamin.

    Ketika kecil , Muhammad Yamin oleh orang tuanya diberi pendidikan adat dan agama hingga tahun 1914.

    Di zaman penjajahan, ia termasuk segelintir orang yang beruntung karena dapat menikmati pendidikan menengah dan tinggi.

    Lewat pendidikan itulah, ia sempat menyerap kesusastraan asing, khususnya kesusastraan Belanda.

    Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tradisi sastra Belanda diserapnya sebagai seorang intelektual sehingga ia tidak menyerap mentah-mentah apa yang didapatnya itu.

    Dia menerima konsep sastra Barat, dan memadukannya dengan gagasan budaya yang nasionalis.

    Riwayat Pendidikan Muhammad Yamin

    Pendidikan yang sempat diterima oleh Muhammad Yamin, antara lain, Hollands inlands School (HIS) di Palembang, tercatat sebagai peserta kursus pada Lembaga Pendidikan Peternakan dan Pertanian di Cisarua, Bogor, Algemene Middelbare School (AMS) ‘Sekolah Menengah Umum’ di Yogya, dan HIS di Jakarta.

    Muhammad Yamin menempuh pendidikan di AMS setelah menyelesaikan sekolahnya di Bogor yang dijalaninya selama lima tahun.

    Studi di AMS Yogya sebetulnya merupakan persiapannya untuk mempelajari kesusastraan Timur di Universitas Leiden, Belanda.

    Di AMS, ia mempelajari bahasa Yunani, bahasa Latin, bahasa Kaei, dan sejarah purbakala.

    Dalam waktu tiga tahun saja ia berhasil menguasai keempat mata pelajaran tersebut, suatu prestasi yang jarang dicapai oleh otak manusia biasa.

    Dalam mempelajari bahasa Yunani, ia banyak mendapat bantuan dari pastor-pastor di Seminari Yogya, sedangkan dalam bahasa Latin ia dibantu Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer.

    Setamat AMS Yogya, Ia bersiap-siap berangkat ke Leiden. Akan tetapi, sebelum sempat berangkat sebuah telegram dari Sawahlunto mengabarkan bahwa ayahnya meninggal dunia.

    Karena itu, kandaslah cita-cita Yamin untuk belajar di Eropa sebab uang peninggalan ayahnya hanya cukup untuk belajar lima tahun di sana. Padahal, belajar kesusastraan Timur membutuhkan waktu tujuh tahun.

    Ia akhirnya melanjutkan kuliah di Recht Hogeschool (RHS) di Jakarta dan berhasil mendapatkan gelar Meester in de Rechten ‘Sarjana Hukum’ pada tahun 1932.

    Riwayat Organisasi Muhammad Yamin

    Sebelum tamat dari pendidikan tinggi, Muhammad Yamin telah aktif berkecimpung dalam perjuangan kemerdekaan.

    Berbagai organisaasi yang berdiri dalam rangka mencapai Indonesia merdeka yang pernah dipimpinnya antara lain, adalah, Yong Sumatramen Bond ‘Organisasi Pemuda Sumatera’ (1926–1928).

    Peran Muhammad Yamin bisa dilihat dalam Kongres Pemuda II.

    Muhammad Yamin termasuk tokoh yang ikut merumuskan sumpah pemuda. Disana disepakati penggunaan bahasa Indonesia

    Pada tahun 1938 hingga 1942, ia tercatat sebagai anggota Pertindo, yang merangkap sebagai anggota Volksraad ‘Dewan Perwakilan Rakyat’.

    Setelah kemerdekaan Indonesia terwujud, jabatan-jabatan yang pernah dipangku Muhammad Yamin dalam pemerintahan Indonesia antara lain sebagai Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953-1955), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962), dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961-1962).

    Dari riwayat pendidikan Muhammad Yamin dan dari keterlibatannya dalam organisasi politik maupun perjuangan kemerdekaan, tampaklah bahwa ia termasuk seorang yang berwawasan luas.

    Walaupun pendidikannya pendidikan Barat, ia tidak pernah menerima mentah-mentah apa yang diperolehnya itu sehingga ia tidak menjadi kebarat-baratan.

    Ini merupakan salah satu sifat teladan Muhammad Yamin.

    Ia tetap membawakan nasionalisme dan rasa cinta tanah air dalam karya-karyanya.

    Barangkali hal ini merupakan pengaruh lingkungan keluarganya karena ayah ibunya adalah keturunan kepala adat di Minangkabau.

    Dengan demikian, dapat dipahami apabila ia tidak terhanyut begitu saja oleh hal-hal yang pernah diterimanya.

    Baik itu berupa karya-karya sastra Barat yang pernah dinikmatinya maupun sistem pendidikan Barat yang pernah dialaminya.

    Karya Sastra Muhammad Yamin

    Umar Junus dalam bukunya Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern (1981) menyatakan bahwa puisi Yamin terasa masih berkisah, bahkan bentul-betul terasa sebagai sebuah kisah.

    Dengan demikian, puisi Yamin memang dekat sekali dengan syair yang memang merupakan puisi untuk mengisahkan sesuatu.

    ”Puisi Yamin itu dapat dirasakan sebagai syair dalam bentuk yang bukan syair”, demikian Umar Junus.

    Karena itu, sajak-sajak Yamin dapat dikatakan lebih merupakan suatu pembaruan syair daripada suatu bentuk puisi baru.

    Akan tetapi, pada puisinya seringkali bagian pertamanya merupakan lukisan alam, yang membawa pembaca kepada suasana pantun sehingga puisi Yamin tidak dapat dianggap sebagai syair baru begitu saja.

    Umar Junus menduga bahwa dalam penulisan sajak-sajaknya, Yamin menggunakan pantun, syair, dan puisi Barat sebagai sumber.

    Perpaduan ketiga bentuk itu adalah hal umum terjadi terjadi pada awal perkembangan puisi modern di Indonesia.

    Jika Umar Junus melihat adanya kedekatan untuk soneta yang dipergunakan Yamin dengan bentuk pantun dan syair, sebetulnya hal itu tidak dapat dipisahkan dari tradisi sastra yang melingkunginya pada waktu masih amat dipengaruhi pantun dan syair.

    Soneta yang dikenal Yamin melalui kesusastraan Belanda ternyata hanya menyentuhnya pada segi isi dan semangatnya saja.

    Karena itu, Junus menangkap kesan berkisah dari sajak-sajak Yamin itu terpancar sifat melankolik, yang kebetulan merupakan sifat dan pembawaan soneta.

    Sifat soneta yang melankolik dan kecenderungan berkisah yang terdapat didalamnya tidak berbeda jauh dengan yang terdapat dalam pantun dan syair.

    Dua hal yang disebut terakhir, yakni sifat melankolik dan kecenderungan berkisah, kebetulan sesuai untuk gejolak perasaan Yamin pada masa remajanya.

    Karena itu, soneta yang baru saja dikenal Yamin dan yang kemudian digunakannya sebagai bentuk pengungkapan estetiknyha mengesankan bukan bentuk soneta yang murni.

    Keith Robert Foulcher (1974) dalam disertasinyha mengemukakan bahwa konsepsi Yamin tentang soneta dipengaruhi sastra Belanda dan tradisi kesusastraan Melayu.

    Karena itu, soneta Yamin bukanlah suatu adopsi bentuk eropa dalam keseluruhan kompleksitas strukturalnya, tetapi lebih merupakan suatu pengungkapan yang visual, sesuatu yang bersifat permukaan saja dari soneta Belanda, yang masih memiliki ekspresi puitis yang khas Melayu.

    Muhammad Yamin Wafat

    Muhammad Yamin wafat pada tanggal tanggal 17 Oktober 1962 di Jakarta. Atas peran dan jasa Muhammad Yamin maka pemerintah kemudian memberikan gelar Pahlawan Nasional.

    Walaupun pada masa dewasanya ia praktis meninggalkan lapangan sastra dan lebih banyak berkecimpung dalam lapangan politik dan kenegaraan ia telah meninggalkan karya-karya yang berarti dalam perkembangan sastra Indonesia.

    Di samping menulis sajak, misalnya Ken Arok dan Ken Dedes (1943) dan Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932?). Yamin memang banyak menaruh minat pada sejarah, terutama sejarah nasional.

    Baginya sejarah adalah salah satu cara dalam rangka mewujudkan cita-cita Indonesia Raya. Dengan fantasi seorang pengarang roman dan dengan bahasa yang liris, ia pun menulis Gadjah Mada (1946) dan Pangeran Diponegoro (1950).

    Ia banyak pula menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia, antara lain karya sastrawan Inggris William Shakespeare (1564–1616) berjudul Julius Caesar (1952) dan dari pengarang India Rabindranath Tagore (1861–1941) berjudul Menantikan Surat dari Raja dan Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga.

    Karya Muhammad Yamin

    Puisi : Indonesia, Tumpah Darahku
    Drama : Ken Arok dan Ken Dedes, Kalau Dewa Tara Sudah Berkata.
    Terjemahan : Julius Caesar karya Shakspeare, Menantikan Surat dari Raja, Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga, Tan Malaka.
    Sejarah : Gadjah Mada, Sejarah Pangerah Dipenogoro.

  • Biografi Singkat Abdoel Moeis, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Singkat Abdoel Moeis, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Abdoel Moeis

    Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – wafat di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia.

    Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad yang didirikan pada tahun 1916 oleh pemerintah penjajahan Belanda.

    Ia dimakamkan di TMP Cikutra – Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).

    Karier Abdoel Moeis

    Dia pernah bekerja sebagai klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada surat kabar Belanda, Preanger Bode, harian Kaum Muda dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim.

    Selain itu ia juga pernah aktif dalam Syarikat Islam dan pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama (1920-1923). Setelah kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan.

    Riwayat Perjuangan

    • Mengecam tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di harian berbahasa Belanda, De Express.
    • Pada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar Dewantara.
    • Pada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat.
    • Mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School – Institute Teknologi Bandung (ITB)

    Karya Sastra Abdoel Moeis

    • Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972)
    • Pertemuan Jodoh (novel, 1933)
    • Surapati (novel, 1950)
    • Robert Anak Surapati(novel, 1953)

    Karya Terjemahan Abdoel Moeis

    • Don Kisot (karya Cerpantes, 1923)
    • Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928)
    • Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932)
    • Tanah Airku (karya C. Swaan Koopman, 1950)
  • Biografi Joko Pinurbo, Sang Penyair Indonesia

    Biografi Joko Pinurbo, Sang Penyair Indonesia

    Biografi Joko Pinurbo
    • Nama : Joko Pinurbo
    • TTL    : Sukabumi, 11 Mei 1962
    • Istri    : Nurnaeni Amperawati Firmina
    • Anak  : Paskasius Wahyu Wibisono, Maria Azalea Anggraeni

    Biografi Singkat Joko Pinurbo

    Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Ia menyelesaikan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Sanata Darma Yogyakarta pada tahun 1987 dan kemudian menjadi staf pengajar di almamaternya.

    Sejak tahun 1979 Joko Pinurbo sudah tertarik dengan puisi dan atau sajak-sajak yang dibuat oleh para sastrawan terkenal Indonesia. Namun uniknya, selama 20 tahun ia mengamati puisi/sajak, selama itu pula ia belum membuat satu puisi pun.

    Hingga akhirnya pada tahun 1999 barulah ia menghasilkan puisi dan membukukan dalam suatu tema Celana, yang menurut pengakuannya belum pernah ada penyair sebelumnya memakai kata tersebut dalam karya puisi.

    Sejak tahun 1999, sudah 10 buku kumpulan puisi diluncurkan, diantaranya Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005).

    Beberapa buku kumpulan puisinya memperoleh hadiah Sastra Lontar 2001, Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi) 2001, penghargaan Sastra Pusat Bahasa Depdiknas 2002, Tokoh Sastra PIlihan Tempo 2001, Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005.

    Dan yang lebih fenomenal lagi, bukunya sangat laris. Buku kumpulan puisi Kepada Cium (terbit tahun 2007), hanya dalam jangka waktu satu bulan sudah terjual 1000 buku. Suatu jumlah yang luar biasa untuk buku puisi.

    Pendidikan Joko Pinurbo

    • SD Mardi Yuana Warung Kiara, Sukabumi (1973)
    • SMP Sanjaya Babadan, Sleman (1976)
    • Seminari St Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang (1981)
    • IKIP Sanata Darma (sekarang Universitas Sanata Dharma) Yogyakarta (1987)

    Karya Joko Pinurbo

    • Celana (1999)
    • Di Bawah Kibaran Sarung (2001)
    • Pacarkecilku (2002)
    • Trouser Doll merupakan terjemahan karyanya berjudul Celana ke dalam bahasa Inggris (2002)
    • Telepon Genggam (2003)
    • Kekasihku (2004)
    • Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005)
    • Kepada Cium (2007)
    • Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007)
    • Haduh, aku di-follow (2013)
    • Surat Kopi (2014)
    • Malam ini aku akan tidur di matamu (2016)
    • Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016)

    Penghargaan Joko Pinurbo

    • Hadiah Sastra Lontar, 2001,
    • Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi), 2001,
    • Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Depdiknas, 2002,
    • Tokoh Sastra PIlihan Tempo, 2001,
    • Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005