Tag: seni

  • Festival Literasi Using 2026 Jadi Ajang Pelajar Banyuwangi Kenali Bahasa dan Budaya Daerah

    Festival Literasi Using 2026 Jadi Ajang Pelajar Banyuwangi Kenali Bahasa dan Budaya Daerah

    BANYUWANGI – Upaya menjaga Bahasa Using sebagai bagian dari identitas budaya Banyuwangi kembali dilakukan melalui Festival Literasi Using 2026.

    Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi ambil bagian dalam ajang tahunan yang digelar Sabtu (5/9) di SDN Kepatihan.

    Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal sekaligus menggunakan bahasa daerah melalui berbagai bentuk perlombaan.

    Festival tahun ini diikuti pelajar jenjang SD dan SMP. Sejumlah cabang yang dilombakan antara lain Geguritan atau baca puisi, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Ketua Panitia Festival Literasi Using 2026, Yeti Chotimah, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan Bahasa Using kepada pelajar melalui kegiatan yang bersifat kreatif.

    “Anak-anak tidak hanya kita ajak untuk belajar Bahasa Using, tetapi juga menggunakannya secara langsung melalui berbagai kegiatan. Harapannya, mereka semakin mengenal dan terbiasa menggunakan bahasa daerahnya,” kata Yeti.

    Menurut Yeti, keberagaman cabang yang dilombakan memberikan pilihan bagi pelajar untuk mengenal Bahasa Using melalui kemampuan yang berbeda-beda.

    Ada yang mengekspresikannya melalui puisi dan tembang, ada pula yang menggunakan bahasa tersebut dalam pidato, cerita, dongeng, maupun tulisan.

    Salah satu yang menarik perhatian adalah cabang Geguritan tingkat SMP. Peserta tidak hanya dituntut mampu membawakan puisi dengan baik, tetapi juga diperkenalkan pada karya-karya yang menggunakan Bahasa Using.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Panitia menyediakan dua buku sebagai pilihan materi yang dapat dibawakan peserta, yakni Antologi Gotong Royong karya Komunitas Gotong Royong 45 dan Sanga Puluh Sanga (99) Basa Using karya Ir. Zaenuri, seorang penyair yang telah menulis beberapa buku berbahasa Using.

    Antusiasme terhadap cabang Geguritan juga cukup tinggi. Jumlah peserta tingkat SMP dibatasi sebanyak 45 orang karena peminatnya pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya cukup banyak.

    Dalam penilaian, juri memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan peserta dalam memahami dan menyampaikan isi puisi.

    Maulana Affandi Juri Festival Literasi Using

    Penilaian cabang Geguritan dilakukan oleh juri dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam.

    Mereka di antaranya Maulana Affandi, mahasiswa Pascasarjana Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Nuhbatul Fakhiroh yang merupakan juara Liga Puisi, Nur Kamilasari yang merupakan praktisi puisi, Ulvatus Soviyah anggota MGMP, serta Ahmad Istiqlal yang menjadi juara Festival Literasi Using pada tahun sebelumnya.

    Tidak hanya Geguritan, cabang lainnya juga memberikan kesempatan kepada pelajar untuk menggunakan Bahasa Using dalam bentuk yang berbeda.

    Ada peserta yang menyampaikan pidato, menembang, menulis, mendongeng, hingga membaca lontar.

    Beragamnya bentuk perlombaan membuat pelajar tidak hanya berhadapan dengan Bahasa Using sebagai materi pembelajaran.

    Mereka mendapat kesempatan untuk menggunakan bahasa tersebut melalui karya sastra, seni, dan penampilan di hadapan publik.

    Bagi budayawan, pertemuan pelajar dengan karya-karya berbahasa Using menjadi bagian yang tidak kalah penting dari kompetisi itu sendiri.

    Sebab, proses mengenalkan bahasa daerah tidak berhenti pada kemampuan berbicara, tetapi juga bagaimana generasi muda mengenal karya yang lahir dari bahasa tersebut.

    Agus Wahyu Nuryadi alias Bung Aguk, budayawan dari Sanggar Merah Putih 45, menilai penggunaan karya sastra berbahasa Using dalam perlombaan menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengenalan bahasa daerah kepada pelajar.

    Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman tampil di hadapan publik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan bahasa dan karya lokal.

    “Yang menarik dari kegiatan seperti ini adalah anak-anak tidak hanya belajar tampil. Mereka juga berhadapan langsung dengan karya dalam Bahasa Using. Dari situ mereka bisa mengenal kosakata, cara pengucapan, sekaligus memahami pesan yang ada dalam karya,” ujar Bung Aguk.

    Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan pelajar dengan bahasa dan karya lokal perlu terus dilakukan agar proses regenerasi tidak berhenti pada pengenalan budaya, tetapi berlanjut pada kemampuan untuk menggunakannya.

    Ia menilai pengalaman menggunakan Bahasa Using secara langsung dapat membantu pelajar lebih akrab dengan bahasa daerah, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan berkesenian.

  • Apa yang Dimaksud dengan Perspektif dalam Seni Rupa?

    Apa yang Dimaksud dengan Perspektif dalam Seni Rupa?

    Perspektif dalam seni rupa adalah cara atau teknik untuk menggambarkan objek pada bidang dua dimensi (seperti kertas, kanvas, atau layar) agar tampak memiliki kedalaman, jarak, dan ruang, seolah-olah berada dalam tiga dimensi.

    Perspektif berasal dari kata Italia “Prospettiva” yang berarti pandangan atau sudut pandang. Menurut Leonardo da Vinci, perspektif merupakan sesuatu yang alami, yakni perubahan dari relief datar menjadi relief ruang.

    Secara sederhana, perspektif dapat dipahami sebagai teknik dengan sistem matematika untuk memproyeksikan bentuk tiga dimensi ke dalam bidang dua dimensi, seperti kertas atau kanvas.

    Melalui teknik ini, seniman dapat menggambar objek secara realistis pada bidang datar, sehingga tampak memiliki ruang dan kedalaman.

    Selain itu, perspektif juga memungkinkan penggambaran objek secara geometris dari berbagai sisi, seperti atas, bawah, samping, maupun depan.

    Dengan kata lain, perspektif digunakan untuk menciptakan ilusi ruang sehingga gambar terlihat lebih nyata dan proporsional.

    Teknik perspektif sudah dikenal sejak masa Yunani Kuno sebagai cara untuk menampilkan kesan tiga dimensi pada bidang dua dimensi.

    Pada abad ke-15, Paolo Uccello dianggap sebagai tokoh penting yang mempelopori penggunaan perspektif dalam seni lukis.

    Perkembangannya kemudian disempurnakan lebih jauh oleh para seniman Renaisans, di antaranya Leonardo da Vinci dan Andrea Mantegna.

  • Filosofi Gandrung dan Maknanya bagi Masyarakat Banyuwangi

    Filosofi Gandrung dan Maknanya bagi Masyarakat Banyuwangi

    Setiap daerah di Nusantara memiliki kesenian yang bukan hanya indah dilihat, tetapi juga menyimpan pesan dan makna yang dalam, tak terkecuali Banyuwangi.

    Daerah yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini mempunyai tarian yang begitu terkenal bernama Gandrung.

    Sekilas, tarian ini tampak seperti pertunjukan hiburan yang memikat dengan gerakan anggun, busana berwarna-warni, dan iringan musik gamelan yang rancak.

    Namun bila kita menyelaminya lebih jauh, Gandrung adalah tarian yang sarat filosofi, mengandung nilai sejarah, sosial, dan spiritual yang sudah mengakar sejak ratusan tahun lalu.

    Baca juga: 8 Kesenian Tradisional Jember yang Masih Dilestarikan Hingga Sekarang

    Filosofi Gandrung

    Kata Gandrung sendiri berasal dari bahasa Jawa Kawi yang berarti rasa cinta, kerinduan, atau jatuh cinta.

    Mengutip dari laman RSIS, pada masa awal kemunculannya, Gandrung dipentaskan sebagai wujud rasa syukur masyarakat kepada Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan.

    Bagi masyarakat agraris, panen bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan juga bagian dari siklus kehidupan yang erat dengan keyakinan dan spiritualitas.

    Maka, tarian Gandrung menjadi sarana untuk memuja sekaligus berterima kasih kepada alam dan sang pemberi kehidupan.

    Inilah yang membuat Gandrung pada masa lalu lebih dekat dengan ritual sakral ketimbang sekadar hiburan.

    Tari Gandrung menjadi doa yang diwujudkan dalam gerak tubuh, irama musik, dan kebersamaan warga.

    Filosofi dasarnya sangat sederhana namun mendalam, bahwa manusia harus selalu bersyukur atas rezeki dan hasil bumi yang diberikan.

    Dari Ritual ke Tarian Sosial

    tari gandrung
    tari gandrung (flickr/mas wisnu)

    Seiring berjalannya waktu, terutama setelah agama Islam semakin berkembang di Jawa Timur, makna ritual dalam Gandrung perlahan bertransformasi.

    Tarian ini tidak lagi dipandang hanya sebagai bagian dari pemujaan kepada Dewi Sri, melainkan juga menjadi bentuk hiburan rakyat.

    Perubahan ini wajar, karena setiap kesenian akan menyesuaikan diri dengan kondisi zaman dan budaya masyarakatnya.

    Meskipun berubah fungsi, nilai yang terkandung di dalamnya tidak hilang. Filosofi cinta, syukur, dan kebersamaan tetap menjadi dasar dari setiap pertunjukan Gandrung.

    Bahkan, dengan menjadikannya tarian sosial, pesan yang terkandung bisa lebih mudah dirasakan oleh banyak orang, tidak terbatas hanya pada kalangan tertentu.

    Gandrung Marsan dan Jejak Perlawanan

    Sejarah Gandrung tidak bisa dilepaskan dari sosok Marsan yang dikenal sebagai salah satu penari Gandrung laki-laki yang hidup pada masa kolonial.

    Pada waktu itu, Gandrung sering ditarikan oleh laki-laki yang berdandan seperti perempuan, disebut Gandrung Lanang.

    Marsan menjadi sosok penting karena lewat tarian yang dibawakannya, terselip pesan-pesan perjuangan dan perlawanan terhadap penjajahan.

    Marsan bukan hanya penari yang lihai, tetapi juga simbol dari semangat rakyat kecil.

    Gerakan tari yang lentur namun penuh tenaga dianggap sebagai gambaran kekuatan yang tersembunyi di balik kesederhanaan.

    Dari sini kita bisa melihat bahwa Gandrung tidak hanya memancarkan keindahan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan kritik sosial sekaligus ajakan untuk tetap teguh menghadapi penindasan.

    Filosofi Kebersamaan dan Gotong Royong

    festival gandrung
    festival gandrung (flickr/harjo’s)

    Salah satu nilai utama dari tarian Gandrung adalah semangat kebersamaan.

    Dalam setiap pementasan, baik ketika dilakukan di desa-desa kecil maupun dalam festival besar seperti Gandrung Sewu, yang tampak jelas adalah bagaimana ratusan penari bergerak selaras dengan irama.

    Setiap langkah, setiap ayunan tangan, meski dilakukan oleh orang berbeda, menghasilkan harmoni yang indah.

    Hal ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Banyuwangi. Keberhasilan tidak akan tercapai bila hanya mengandalkan satu orang, melainkan harus dengan kerja sama dan gotong royong.

    Gandrung menjadi media untuk meneguhkan bahwa dalam hidup bermasyarakat, keharmonisan lebih penting daripada kepentingan pribadi.

    Baca juga: Lotus Feet, Tradisi Mematahkan Jari Kaki di Tiongkok

    Simbolisme dalam Kostum dan Mahkota

    Penari Gandrung mudah dikenali dari busananya yang khas. Salah satu bagian yang paling menonjol adalah mahkota yang disebut omprog.

    Mahkota ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan kepala, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam.

    Warna dan bentuk omprog melambangkan kewibawaan, kesucian, dan semangat hidup. Elemen warna merah, putih, hitam, hijau, hingga emas yang dipakai melambangkan unsur-unsur penting dalam kehidupan manusia.

    Dalam pandangan masyarakat Osing, etnis asli Banyuwangi, simbol itu juga terkait dengan konsep sedulur papat lima pancer, yakni filosofi tentang empat penjaga kehidupan dan satu pusat diri.

    Dengan demikian, penari Gandrung yang memakai omprog bukan sekadar menampilkan keindahan visual, tetapi juga menghadirkan pesan spiritual bagi penontonnya.

    Musik yang Menghidupkan Gerak

    Tarian Gandrung tidak bisa dilepaskan dari iringan musik tradisional. Gamelan, kendang, gong, hingga biola menjadi instrumen yang menyatu, menghasilkan suasana magis sekaligus menggetarkan.

    Alunan musik ini memberi nyawa pada setiap gerakan penari. Ada bagian yang lembut, melambangkan kasih sayang dan keanggunan, tetapi ada pula bagian yang rancak dan penuh energi, mencerminkan semangat hidup dan kekuatan masyarakat Banyuwangi.

    Dalam konteks filosofi, musik Gandrung adalah pengingat bahwa kehidupan selalu memiliki irama. Kadang pelan dan menenangkan, kadang cepat dan penuh tantangan.

    Yang terpenting adalah bagaimana manusia mampu menari selaras dengan setiap irama kehidupan itu.

    Relevansi Gandrung di Masa Kini

    Di tengah gempuran budaya modern, Gandrung tetap bertahan sebagai identitas Banyuwangi.

    Festival Gandrung Sewu yang digelar setiap tahun menjadi bukti nyata bagaimana kesenian ini bukan hanya dipertahankan, tetapi juga dikembangkan agar relevan dengan zaman.

    Ribuan penari muda tampil bersama di tepi pantai Boom menciptakan pemandangan luar biasa yang sekaligus memperlihatkan semangat kolektivitas.

    Filosofi Gandrung dalam konteks masa kini tidak lagi hanya soal rasa syukur atas panen, tetapi juga sebagai simbol cinta terhadap budaya, persatuan masyarakat, dan kebanggaan identitas.

    Tari Gandrung menjadi bukti bahwa warisan leluhur bisa hidup berdampingan dengan perkembangan modern, selama tetap dijaga esensinya.

    Kini, bagi masyarakat Banyuwangi, Gandrung adalah cermin diri sekaligus pengikat identitas. Bagi siapa pun yang menontonnya, Gandrung adalah pengalaman estetis yang sarat makna.

    Sebab, Gandrung mengajarkan bahwa hidup perlu dijalani dengan rasa syukur, cinta, dan kerja sama, sebab hanya dengan cara itu harmoni dapat tercapai.

    Sumber: Jurnal RSIS

  • Mengapa kata benda pada judul infografik ditulis menggunakan warna orange?

    Mengapa kata benda pada judul infografik ditulis menggunakan warna orange?

    Penggunaan warna oranye pada kata benda dalam judul infografik biasanya memiliki tujuan desain dan komunikasi yang strategis, yaitu:

    1. Menonjolkan Subjek Utama

    Kata benda dalam judul biasanya merupakan inti atau subjek dari informasi yang disampaikan dalam infografik.

    Dengan memberikan warna oranye yang mencolok dan hangat, pembaca akan secara otomatis lebih cepat mengenali apa topik utama infografik tersebut.

    Contoh:

    Judul: Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Saat Musim Hujan
    → Kata “Tubuh” disorot dengan warna oranye karena menjadi fokus utama.

    2. Membantu Hierarki Visual

    Dalam desain grafis, warna digunakan untuk menciptakan hierarki visual, yakni urutan perhatian pembaca.

    Oranye adalah warna yang menarik perhatian tanpa terlalu “keras” seperti merah.

    Dengan pewarnaan ini, mata pembaca langsung tertuju ke kata benda penting dalam judul, membuat mereka cepat memahami konteks isi infografik.

    3. Meningkatkan Konsistensi Desain

    Jika infografik memiliki identitas warna atau skema warna tertentu, penggunaan oranye pada kata benda bisa menjadi bagian dari konsistensi desain visual.

    Biasanya, kata benda yang diwarnai oranye di judul akan konsisten dengan elemen grafis lainnya yang menggunakan warna senada, sehingga infografik terlihat lebih harmonis dan profesional.

    4. Memudahkan Pembaca Mengingat Informasi

    Studi dalam psikologi warna menyebutkan bahwa warna oranye dapat membangkitkan emosi positif, rasa hangat, dan semangat.

    Hal ini membantu informasi menjadi lebih mudah diingat. Ketika kata benda penting ditampilkan dalam warna oranye, pembaca cenderung lebih mengingat topik tersebut karena terjadi penekanan visual dan emosional.

    5. Membuat Judul Lebih Dinamis dan Menarik

    Judul yang sepenuhnya menggunakan satu warna cenderung terlihat datar.

    Dengan menambahkan warna oranye pada kata benda, judul menjadi lebih hidup, dinamis, dan secara estetika lebih menarik.

    Hal ini penting terutama untuk infografik yang bersaing memperebutkan perhatian pembaca di media sosial atau presentasi publik.

  • Pameran Semerbak Mewangi Resmi Digelar, Ketapang Jadi Panggung Seniman Nusantara

    Pameran Semerbak Mewangi Resmi Digelar, Ketapang Jadi Panggung Seniman Nusantara

    Pameran lukisan “Semerbak Mewangi” telah resmi dibuka di Galeri Ujung Timur Ketapang, Banyuwangi.

    Acara yang diselenggarakan pada Kamis, 19 Juni 2025 ini menampilkan karya-karya seni lukis dari seniman lokal Banyuwangi maupun dari luar kota yang dianggap memiliki bakat dan kreativitas tinggi.

    “Pembukaan pameran lukisan ini merupakan kesempatan bagi masyarakat Banyuwangi untuk melihat dan menikmati karya seni yang indah dan kreatif, baik dari para seniman lokal maupun dari luar daerah,” ujar Hasan Basri, Ketua Dewan Kesenian Banyuwangi (DKB).

    “Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan rasa cinta, kepedulian, dan penghargaan masyarakat terhadap seni lukis. Tentu saja, harapan kita bersama agar seni lukis ini bisa ikut membawa harum nama Kabupaten Banyuwangi,” tambahnya.

    Meski lokasinya berada di pinggir jalan provinsi dan agak tersembunyi di antara deretan toko-toko di samping Galeri Mozes Misdy, pameran ini tetap mencerminkan kualitas kelas nasional jika melihat asal para pesertanya.

    Bukan hanya dari Banyuwangi, para pelukis juga datang dari berbagai daerah seperti Bali, Jember, Lumajang, Pasuruan, Sidoarjo, Malang, Pamekasan, Mojokerto, Surabaya, Madura, Tuban, Kebumen, Yogyakarta, Semarang, Bekasi, Bandung, Mataram, hingga Balikpapan. Bahkan ada peserta yang berasal dari luar negeri, yaitu Filipina.

    Kepala Desa Ketapang, Slamet Utomo, dalam sambutannya menyampaikan, “Kami sangat senang dan bangga bisa menjadi tuan rumah pameran lukisan Semerbak Mewangi ini. Desa Ketapang memiliki potensi besar di bidang seni dan budaya, dan kami berharap kegiatan ini dapat menginspirasi dan memperkuat kekayaan budaya di tengah masyarakat,” ujarnya.

    Pameran lukisan “Semerbak Mewangi” akan berlangsung selama 10 hari dan terbuka untuk umum. Pengunjung dapat menikmati karya-karya seni yang indah dan penuh kreativitas, serta berkesempatan untuk bertemu dan berdialog langsung dengan para seniman yang hadir.

    Ketua panitia pameran, Riyanto, mengatakan, “Pameran Lukisan Semerbak Mewangi ini menampilkan karya-karya seni luar biasa dari para pelukis luar daerah Banyuwangi. Kami telah menerima puluhan karya lukis yang beragam dan kreatif, dan kami berharap kegiatan ini menjadi wadah bagi para seniman untuk saling berbagi karya dan pengalaman.”

  • Memukau, Aksi Siswa dalam Pentas Operet Al Qomah Sukses Guncang Emosi Penonton di Wisuda Hafidz DaQu School

    Memukau, Aksi Siswa dalam Pentas Operet Al Qomah Sukses Guncang Emosi Penonton di Wisuda Hafidz DaQu School

    Kisah menyentuh tentang seorang anak yang kesulitan mengucapkan syahadat karena belum memperoleh rida ibunya menjadi penutup yang mengharukan dalam rangkaian Wisuda Hafidz dan Pentas Seni SD Darul Qur’an School, Sabtu, 21 Juni 2025.

    Drama operet berjudul Al Qomah yang dibawakan oleh siswa kelas 4 A Al Quddus di Auditorium Untag Banyuwangi sukses mencuri perhatian dan menggugah hati para hadirin.

    Mengangkat kisah klasik dalam khazanah Islam, operet ini mengisahkan Al Qomah, seorang pria saleh dan rajin beribadah, namun lalai terhadap ibunya lantaran lebih menuruti istrinya.

    Ketika menghadapi sakaratul maut, Al Qomah tak mampu mengucapkan syahadat hingga Rasulullah menyarankan agar sang ibu membakar jasad putranya sebagai pelajaran.

    Di momen puncak, sang ibu akhirnya memaafkan, dan barulah Al Qomah dapat wafat dalam keadaan husnul khatimah.

    Di balik panggung, ada perjuangan luar biasa. Para orang tua, khususnya para bunda dari paguyuban wali murid, terlibat penuh dalam proses produksi, mulai dari mendampingi proses casting, menyiapkan kostum bergaya era Rasulullah, hingga mengatur tata rias dan properti.

    Dari serangkaian proses tersebut, nuansa gotong royong benar-benar terasa kuat dalam setiap tahap persiapan.

    Pentas Operet Al Qomah
    Pentas Operet Al Qomah (Dok. sastrawacana.id/)

    Awalnya, wali kelas dari yayasan kemitraan Ustadz KH Yusuf Mansur hanya berbekal naskah sarat hikmah dan semangat pendidikan praktik baik. Dengan pengalaman yang masih terbatas, berbagai tantangan pun muncul.

    Titik terang hadir ketika Ketua Umum BKPRMI, Ahmad Sururudin, berkunjung ke rumah HM Basir Nadim, wali dari salah satu pemeran, Queen.

    Dari pertemuan itulah terjalin komunikasi dengan Divisi Media BKPRMI, yang sebelumnya telah menggelar pelatihan BCM (Bermain, Cerita, dan Menyanyi) untuk para ustaz LPPTKA.

    Tawaran bantuan langsung disambut oleh Bung Aguk Darsono, fasilitator BCM, yang turun tangan secara langsung.

    Dalam waktu terbatas, ia membimbing siswa melalui bedah naskah, latihan vokal, dan teknik dasar pernapasan.

    Ia tidak sendiri. Ia dibantu oleh tim dari Sanggar Merah Putih 45, yaitu Abdul Mun’im serta Nuhbatul Fakhiroh, pembina teater MTsN 1 Banyuwangi sekaligus juara baca puisi Radar Banyuwangi.

    Hanya dalam tiga hari, para siswa digembleng intensif dalam olah vokal dan penokohan.

    Rekaman suara yang semula diperkirakan selesai dalam dua jam ternyata memakan waktu hingga lima jam.

    Proses tersebut dipandu oleh tim Radio Bung Tomo JRKI dan Studio Aura Lentera yang digawangi oleh pasangan tunanetra nasionalis, Indah CC dan Nurhadi Windoyo. Keduanya dikenal sebagai juara nasional drama dan Iklan Layanan Masyarakat.

    Meski tak lepas dari dinamika, mulai dari suara bising di luar naskah, intonasi karakter yang belum konsisten, hingga kejadian unik saat rekaman dilakukan pada hari tasyrik, termasuk momen berbagi daging kurban dan kejutan ulang tahun salah satu bunda, proses terus berlanjut.

    Latihan lanjutan dilakukan di Aula Panti Khadijah dengan fokus pada blocking dan dubbing. Gladi kotor dilangsungkan pada Senin, 16 Mei 2025, di Lantai Dua Ocha Aksesoris dan Oleh-Oleh Banyuwangi, Jalan Dr. Soetomo.

    Gladi Kotor Al Qomah
    Gladi Kotor Al Qomah (sastrawacana.id/)

    Kehadiran pelatih teater dan pegiat literasi, Affandi Maulana, S.S., yang kerap menjadi juri baca puisi dan lomba bercerita, memberikan suntikan semangat dan motivasi tambahan bagi para siswa.

    “Alhamdulillah, penampilan anak-anak luar biasa. Tari kreasi merah putih dan operetnya ekspresif, penuh penghayatan, dan mendapat aplaus dari para hadirin. Semoga ke depan anak-anak bisa terus didampingi belajar public speaking, entah itu pidato, storytelling, MC, atau puisi,” ungkap salah satu bunda yang turut berperan sebagai paman dan mertua Al Qomah, saat ramah tamah di Restoran Rehana, dekat kediaman Bupati Banyuwangi.

    Penampilan ini bukan sekadar hiburan penutup, melainkan juga ruang pembelajaran karakter, akhlak, serta kreativitas. Sebuah permulaan yang menjanjikan untuk pembinaan seni dan adab Islami sejak usia dini.

  • Sosialisasi P4GN di Desa Bayu, Mengenang Perjuangan dan Pesan Terakhir Pak Wiji Misto

    Sosialisasi P4GN di Desa Bayu, Mengenang Perjuangan dan Pesan Terakhir Pak Wiji Misto

    Sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) digelar di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, pada Minggu (5/1/2024).

    Acara ini diinisiasi oleh Komunitas Seni Topeng Madura “Laras Mustiko Jalmo” dan Padepokan Tri Suryo Mustiko, bekerja sama dengan Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK) Banyuwangi dan Yayasan Anti Narkotika Lapor Pulih Sehat Sejahtera (LPSS) Banyuwangi.

    Kegiatan ini juga melibatkan tiga pilar Desa Bayu, Kanit Binmas Polsek Songgon, serta warga desa setempat.

    Sosialisasi dihadiri oleh puluhan warga, anggota sanggar, petani kopi, peternak kambing, tokoh agama, aparat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan komunitas seni budaya.

    Semua pihak hadir untuk bersama-sama mewujudkan Banyuwangi Bersinar (Bersih dari Narkoba).

    Acara dimulai dengan sambutan Ketua Sanggar Moh. Soleh yang diwakili oleh Ketua Panitia, Misto alias Pak Wiji.

    Pak Wiji adalah sosok yang dikenal karena memiliki putri bernama Wiji yang kini mondok di Sragi.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kanit Binmas Polsek Songgon, Aiptu Anton, dan Kepala Desa Bayu, Yulia Herlina, ST.

    Dalam rangkaian acara tersebut, Hakim Said, SH, Ketua Yayasan Anti Narkotika LPSS sekaligus Founder RKBK Banyuwangi, memberikan edukasi hukum terkait penyalahgunaan narkoba.

    Materi tentang bahaya narkoba serta solusi rehabilitasi disampaikan oleh Ns. Rudi Purwantoro, S.Kep.

    Acara semakin meriah dengan hiburan seni budaya, termasuk tari topeng khas suku Madura yang memukau penonton.

    Pramoe Soekarno Shakti, seorang seniman dan budayawan Banyuwangi, turut menyuarakan perlawanan terhadap narkoba melalui pembacaan puisi bertema Narkoba.

    Doa penutup dibacakan oleh KH. Moh. Ikrom Hasan, Ketua Paguyuban Joko Thole yang merupakan wadah Suku Madura di Banyuwangi.

    KH. Moh. Ikrom Hasan juga dikenal sebagai tokoh politik, mantan Ketua PPP, dan anggota DPRD Banyuwangi selama tiga periode.

    Ketua Panitia yang diwakili Misto alias Pak Wiji menyampaikan bahwa acara ini adalah bukti nyata semangat masyarakat Desa Bayu dalam memerangi narkoba.

    “Kami berharap sinergi seperti ini terus berlanjut agar generasi muda terhindar dari bahaya narkoba, dan bisa menjadi keteladanan bagi semua pihak. Saya titip seni topeng dari leluhur kami di Sumenep untuk dilestarikan dan mendapat perhatian dari desa maupun pemerintah daerah,” ucapnya penuh haru sambil memegangi ulu hati.

    Tak lama setelah menyampaikan pesan tersebut, Pak Wiji mengeluh sakit perut. Panitia segera memanggil dokter, dan setelah acara selesai, beliau dibawa ke Puskesmas Songgon.

    Sebelum itu, Pak Wiji sempat menitipkan udeng Banyuwangi yang bertahun-tahun ia kenakan kepada Moh. Soleh sambil berkata, “Kita yang udik di Banyuwangi harus mau gandrung dan kacong jebing jadi jebeng thulik!”

    Namun, nasib berkata lain. Pak Wiji mengembuskan napas terakhirnya di IGD Puskesmas Songgon. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi semua pihak.

    Moh. Soleh, dalam takziah yang dihadiri oleh Bung Aguk, menyampaikan, “Kami merasa kehilangan. Tolong jaringan sinergi yang dibangun almarhum terus dijaga dan dilanjutkan.”

    Sementara itu, Kepala Desa Bayu, Yulia Herlina, ST, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini, terutama Komunitas Seni Topeng Madura “Laras Mustiko” dan Padepokan Tri Suryo Mustiko sebagai penggagas sosialisasi P4GN.

    “Komitmen Desa Bayu untuk mendukung program Banyuwangi Bersinar adalah nyata. Kami siap menjadi desa yang menjadi contoh dalam upaya memberantas narkoba,” tegas Yulia, kepala desa berdarah Madura ini.

    Penulis: Aguk/Hakim Said

  • Memukau, Siswa Ekskul Teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi Menghipnotis Penonton di Peringatan Hari Pahlawan Banyuwangi

    Memukau, Siswa Ekskul Teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi Menghipnotis Penonton di Peringatan Hari Pahlawan Banyuwangi

    Siswa ekstra kurikuler teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi tampil menawan dalam acara peringatan Hari Pahlawan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Komunitas Gotong Royong 45, Asosiasi Usaha Mikro Kecil Koperasi Sinergi Gotong Royong 45 (Asosiasi UMKK Segoro 45), Sanggar Merah Putih 45, dan Jaringan Radio Komunitas dan Broadcast Banyuwangi (JRKBB).

    Acara yang diselenggarakan pada Minggu, 3 November 2024 di Masjid Al Hilal 2 ini bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia sekaligus mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menghargai sejarah bangsa.

    Dalam penampilannya, enam siswa ekskul teater yang didampingi oleh Rifkian Kurniawan selaku guru menyuguhkan teatrikal puisi berjudul “Merdekaku Merdekamu”.

    Terbilang sukses, mereka berhasil menggambarkan bagaimana perjuangan para pahlawan yang gugur dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

    Melalui ekspresi dan penjiwaan yang mendalam, penampilan mereka tidak hanya memukau, tetapi juga berhasil mengharukan hati seluruh penonton yang hadir, bahkan tak sedikit yang mengurai air mata.

    Teatrikal puisi yang diperagakan oleh enam siswa tersebut juga menjadi pengingat bagi generasi muda yang saat ini sering terlena dengan dunia maya, sehingga cenderung melupakan sejarah bangsanya.

    Dengan iringan lagu “Tanah Airku”, suasana semakin terbangun, menghipnotis penonton dan membangkitkan semangat nasionalisme, khususnya di kalangan generasi muda.

    Budayawan dan praktisi teater kawakan, Bung Aguk, memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilan siswa SMK Muhammadiyah 6.

    Ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dan penting untuk mengingatkan generasi muda akan sejarah bangsanya.

    Bung Aguk juga memuji kemampuan akting dan penjiwaan siswa yang mampu menarik perhatian serta emosi penonton.

    “Penjiwaannya dapat, penampilan kalian bisa membuat penonton hanyut ke dalam cerita pencipta literasinya,” paparnya.

    Selain itu, Bung Aguk juga menuturkan bahwa penampilan dari para siswa SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi berhasil menggugah rasa nasionalisme yang saat ini mulai memudar di kalangan remaja.

    “Penampilan ini mampu menggugah rasa nasionalisme yang mungkin mulai memudar di kalangan anak muda,” terang Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang saat ini aktif melatih literasi dan dolanan teater di berbagai sekolah, sekaligus baru saja mengikuti Jambore Sastra Asia Tenggara.

    Sementara itu, sutradara sekaligus pelatih ekstra kurikuler teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi, Maulana Affandi menyatakan rasa bangga atas pencapaian anak didiknya.

    Ia berharap agar para siswa tidak hanya berperan di atas panggung, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

    “Harapan saya adalah anak-anak ini tidak hanya menjadi pemeran yang baik di atas panggung, tetapi juga bisa menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Mereka harus menyadari bahwa seni dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan moral,” ujarnya.

    Sebagai informasi tambahan, SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi dikenal memiliki prestasi yang membanggakan di bidang teater.

    Sekolah ini pernah meraih juara 1 dalam lomba Porfesi pada tahun 2023 tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Banyuwangi.

    Prestasi tersebut menunjukkan bakat siswa dalam seni peran serta dukungan dari pihak sekolah untuk menumbuhkan potensi yang dimiliki oleh siswa.

    Saat ini, SMK Muhammadiyah 6 juga sedang fokus pada peningkatan bakat dan minat siswa dalam bidang seni dan literasi melalui berbagai program yang dirancang untuk menggali potensi siswa.

  • Tari Kreasi Merupakan Jenis Tarian Tradisional yang…

    Tari Kreasi Merupakan Jenis Tarian Tradisional yang…

    Tari kreasi merupakan jenis tarian tradisional yang…

    A. diperbarui

    B. dimanipulasi

    C. diinovasi

    D. dikombinasi​

    Jawaban:

    C. diinovasi

    Pembahasan:

    Tari kreasi adalah sebuah bentuk seni tari yang lahir dari inovasi dan pengembangan terhadap tarian tradisional.

    Jika kita membayangkan sebuah kanvas kosong, maka tari tradisional adalah sketsa dasar yang sudah ada.

    Tari kreasi kemudian mewarnai sketsa itu dengan sentuhan-sentuhan baru, baik itu dari segi gerakan, iringan musik, kostum, maupun tema yang diangkat.

    Apa yang membedakan tari kreasi dengan tarian tradisional?

    • Fleksibilitas: Tari kreasi tidak terikat pada aturan-aturan yang sangat ketat seperti tarian tradisional. Penarinya memiliki kebebasan yang lebih besar untuk berekspresi dan berinovasi.
    • Modernisasi: Tari kreasi seringkali menggabungkan elemen-elemen modern, baik itu dalam bentuk musik, kostum, maupun konsep pertunjukan. Hal ini bertujuan untuk membuat tarian lebih relevan dengan zaman dan menarik minat generasi muda.
    • Fusi: Tari kreasi seringkali merupakan hasil fusi atau perpaduan antara berbagai gaya tari, baik itu tari tradisional dari berbagai daerah, tari modern, atau bahkan tari dari budaya lain.
  • Tari Klasik Bedaya Atau Serimpi Tempat Pertunjukannya Berada di?

    Tari Klasik Bedaya Atau Serimpi Tempat Pertunjukannya Berada di?

    Tari Klasik Bedaya atau Serimpi tempat pertunjukannya berada di?

    a. Panggung

    b. Pendapa

    c. Lapangan

    d. Pelataran​

    Jawaban:

    b. Pendapa

    Pembahasan:

    Tari klasik Bedaya dan Serimpi biasanya dipertunjukkan di pendapa, yaitu bangunan terbuka di lingkungan keraton Jawa.

    Pendapa menyediakan suasana sakral dan formal yang cocok untuk tari-tari klasik ini, yang dikenal dengan gerakan halus dan penuh makna filosofis.

    Pendapa merupakan tempat ideal untuk pementasan tari klasik Bedaya dan Serimpi karena suasana yang diciptakannya selaras dengan sifat sakral dan keagungan tari-tari ini.

    Sebagai bagian dari budaya keraton, pendapa memberikan nuansa yang intim namun tetap formal, di mana penonton bisa melihat setiap gerakan halus dan penuh makna dari para penari dengan jelas.

    Biasanya, pendapa berada di lingkungan keraton atau bangunan tradisional Jawa yang memungkinkan terciptanya interaksi khas antara penari, musik gamelan, dan suasana yang khusyuk.

    Penempatan di pendapa ini juga memperkuat elemen simbolis dari tari klasik, yang mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan, keselarasan, dan kekuatan spiritual.

    Tarian ini memang dirancang untuk dinikmati dengan penghormatan yang tinggi dan penghayatan mendalam, menjadikan pendapa tempat yang sesuai untuk menjaga esensi tradisional dan nilai budaya dari Tari Bedaya dan Serimpi.