Tag: siswa

  • Dies Natalis Ke-32 SMP Negeri 3 Rogojampi Berlangsung Meriah, Jadi Ajang Kreativitas dan Kebersamaan Siswa

    Dies Natalis Ke-32 SMP Negeri 3 Rogojampi Berlangsung Meriah, Jadi Ajang Kreativitas dan Kebersamaan Siswa

    Suasana meriah menyelimuti halaman SMP Negeri 3 Rogojampi pada Senin (11/5) dalam peringatan Dies Natalis ke-32 sekolah yang digelar penuh semangat dan antusiasme.

    Kegiatan yang diikuti seluruh warga sekolah tersebut menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus menampilkan kreativitas siswa di berbagai bidang.

    Acara dibuka bersama oleh Ketua Komite dan Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Rogojampi.

    Dalam sambutannya, Plt Kepala Sekolah Dra. Hj. Sri Utami menyampaikan bahwa Dies Natalis bukan sekadar perayaan hari lahir sekolah, melainkan juga refleksi perjalanan pendidikan serta upaya bersama dalam membangun generasi yang berprestasi dan berkarakter.

    Ia juga mengapresiasi para pendahulu yang telah purna tugas dan berjasa menjaga kejayaan “Sempega” hingga saat ini.

    “Momentum Dies Natalis ini harus menjadi penyemangat bagi seluruh siswa untuk terus berkarya, berinovasi, dan menjaga nama baik sekolah. Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang untuk tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, disiplin, dan bertanggung jawab,” ujar alumnus IKIP PGRI Banyuwangi yang akan memasuki masa pensiun tiga bulan lagi itu di hadapan siswa, guru, dan tamu undangan.

    Menurutnya, semangat gotong royong antara guru, siswa, komite sekolah, dan orang tua menjadi kekuatan utama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang positif dan perlu terus digalakkan.

    “Terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini. Saya berharap semangat kebersamaan seperti ini terus terjaga demi kemajuan SMP Negeri 3 Rogojampi dan menjaga nama baik almamater kita,” tambahnya.

    Setelah sambutan kepala sekolah, acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Komite Sekolah, Ir. Isnain.

    Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendukung perkembangan siswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

    “Anak-anak membutuhkan dukungan bersama. Ketika sekolah dan orang tua berjalan seiring, maka akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak dan kepedulian sosial yang baik,” kata Ir. Isnain sembari menitipkan pesan kepada peserta didik untuk menyampaikan salam kepada orang tua terkait komitmen sekolah dalam mendukung aktivitas dan prestasi siswa, mulai tingkat lokal hingga nasional.

    Mantan Kepala SMK 6 Muhammadiyah sekaligus pensiunan guru MTsN 10 itu juga menjelaskan bahwa 32 tahun lalu, tepatnya 4 Mei, sekolah tersebut resmi beralih status dari Sekolah Kejuruan Keterampilan Putri (SKKP) menjadi SMP Negeri 3 Rogojampi.

    Ia menambahkan, tahun ini hingga tahun depan para guru yang pernah mengajar di era SKKP mulai memasuki masa pensiun.

    Sementara itu, Ketua Panitia Jumadi, S.Pd mengatakan kegiatan semacam ini mampu menjadi wadah bagi siswa untuk belajar berorganisasi, bekerja sama, menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus belajar berwirausaha.

    “Kegiatan seperti ini sangat positif karena siswa belajar langsung tentang tanggung jawab, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan melalui bazar per kelas. Ini pengalaman berharga yang tidak selalu didapat di dalam kelas,” tutur guru olahraga yang juga pembina OSIS tersebut.

    Puncak pembukaan acara ditandai dengan pelepasan balon ke udara sebagai simbol harapan dan cita-cita yang terus menjulang tinggi.

    Momen tersebut disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta yang hadir.

    Setelah itu, penampilan tari kreatif dari para siswa sukses memukau penonton dengan gerakan energik dan kostum berwarna-warni yang menambah semarak suasana.

    Tidak hanya pertunjukan seni, Dies Natalis juga diramaikan dengan berbagai stan bazar yang dikelola siswa dari masing-masing kelas, termasuk pameran prakarya, aktivitas laboratorium IPA, serta literasi perpustakaan.

    Beragam makanan dan minuman dijajakan, mulai dari kuliner tradisional seperti cenil, klepon, dan tahu walik hingga makanan kekinian seperti dimsum, corndog, dan aneka minuman boba.

    Stan-stan tersebut dipadati pengunjung sejak pagi hari.

    Para siswa tampak antusias menawarkan dagangan mereka sambil menghias stan sekreatif mungkin agar menarik perhatian pembeli.

    Kegiatan bazar ini menjadi salah satu daya tarik utama dalam perayaan Dies Natalis tahun ini.

    Selain menjadi ajang hiburan, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman belajar kewirausahaan bagi siswa.

    Mereka belajar mengatur keuangan, bekerja sama dalam tim, hingga melayani pembeli secara langsung.

    Perayaan Dies Natalis SMP Negeri 3 Rogojampi berlangsung penuh keceriaan dan kebersamaan selama tiga hari.

    Pada hari pertama, bazar diikuti siswa kelas 7, dilanjutkan kelas 8 pada hari kedua.

    Sementara hari ketiga akan ditandai dengan kegiatan jalan sehat yang menyediakan berbagai doorprize alat rumah tangga persembahan dunia usaha dan SMK swasta di sekitar sekolah.

    Melalui kegiatan ini, sekolah berharap semangat kreativitas, solidaritas, dan cinta terhadap almamater dapat terus tumbuh di kalangan siswa maupun seluruh warga sekolah.

    “Insya Allah saat tanggal merah Kamis, 14 Mei, kami para guru, tenaga kependidikan, ustaz madin, serta komite akan melakukan refreshing ke Pulau Merah. Sedangkan tasyakuran purna wiyata kelas 9 akan digelar Kamis, 21 Mei, di halaman sekolah,” tutur KTU Drs. Imam Anshori. (Bung Aguk/Affandi)

  • Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar
    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kita sering kali terjebak dalam pandangan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari angka, ranking, atau nilai rapor semata.

    Padahal, di balik semua itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: apakah pendidikan kita benar-benar sudah memanusiakan manusia?

    Hakikat pendidikan sejati sejatinya bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya—yang berpikir, berperasaan, dan berperilaku bijak.

    Pendidikan seharusnya menuntun setiap individu menemukan jati diri, menggali potensi, dan menumbuhkan kesadaran untuk memberi manfaat bagi lingkungannya.

    Pendidikan harusnya bisa memberikan kesadaran baru tentang nilai-nilai positif serta pemikiran yang mendalam tentang logika etika dan estetika dalam kehidupan.

    Paradigma baru pendidikan menegaskan bahwa peserta didik bukan sekadar alat ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, melainkan manusia yang memiliki potensi, minat, dan keunikan masing-masing.

    Mereka bukan mesin penghafal teori, tetapi pribadi yang perlu diarahkan untuk berpikir kritis, kreatif, dan berkarakter. Inilah makna pendidikan yang sejati—pendidikan yang membebaskan, bukan membelenggu.

    Ki Hajar Dewantara telah lama menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

    Pandangan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, yang memberi ruang bagi guru dan sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa.

    Kurikulum ini menuntut pendidikan yang lebih manusiawi, yang memberi ruang bagi anak untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya.

    Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 pada dasarnya hadir untuk memperkuat kerangka kurikulum, menambahkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), menyesuaikan struktur dan muatan pembelajaran untuk semua jenjang serta memperkenalkan mata pelajaran pilihan baru seperti “Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI)” secara bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026.

    Terlalu lama proses belajar terjebak pada rutinitas hafalan, sehingga lupa membuat siswa benar-benar memahami, bertanya, dan tumbuh sebagai manusia. Kerangka 8-3-3-4¹ mendorong sekolah membentuk profil lulusan yang utuh—cerdas, berkarakter, sehat, komunikatif, mandiri, dan kritis.

    Prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan mengajak kita membangun suasana belajar yang hidup, yang tidak berhenti di kelas, tetapi menyentuh hati, pengalaman, dan pola pikir siswa.

    Perubahan ini sesungguhnya bukan beban, tetapi kesempatan bagi sekolah dan guru untuk berkembang bersama.

    Deep learning membuka ruang bagi pendidik untuk mencoba pendekatan baru yang lebih kreatif, memperkuat kolaborasi, dan memanfaatkan teknologi sebagai jembatan untuk memperkaya pengalaman belajar.

    Lingkungan belajar—baik fisik maupun digital—dapat dibentuk menjadi ruang yang aman dan memerdekakan.

    Saat praktik pedagogis diperbarui, kemitraan diperkuat, dan refleksi menjadi budaya, kebijakan ini berubah dari sekadar aturan menjadi momentum penting menuju transformasi pendidikan yang lebih manusiawi.

    Pendekatan ini juga menuntun siswa untuk tidak hanya menghafal, tetapi sungguh memahami konsep, merenungkan maknanya, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

    Guru pun berperan sebagai pendamping yang menuntun siswa menemukan jawabannya sendiri.

    Di era digital, kemampuan ini menjadi semakin penting, terutama ketika siswa berhadapan dengan pembelajaran koding, teknologi, dan kecerdasan buatan yang menuntut ketelitian, kreativitas, dan adaptasi cepat terhadap perubahan.

    Namun, transformasi pendidikan tidak akan menyentuh maknanya yang paling dasar tanpa nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam keseharian sekolah.

    Menghargai keberagaman siswa, mengakui potensi setiap individu, memberi ruang kebebasan berpikir dan berkarya, serta menilai proses sama pentingnya dengan hasil adalah fondasi yang harus diperkuat.

    Relasi empatik antara guru dan siswa, serta penanaman nilai seperti empati, tanggung jawab, dan kejujuran, menjadi roh dari pendidikan yang memanusiakan manusia.

    Di sinilah inti perubahan: mengembalikan sekolah sebagai ruang tumbuh, ruang aman, dan ruang yang memberi harapan bagi masa depan setiap anak.

    Pendidikan sejati bukanlah yang membuat anak takut salah, tetapi yang memberi mereka keberanian untuk mencoba, berpikir, dan berbuat baik. Kita tidak sedang mencetak robot yang patuh, tetapi manusia yang mampu berpikir kritis dan bertindak dengan hati nurani.

    Kini saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Tujuan utama pendidikan bukan sekadar melahirkan generasi berprestasi akademik, melainkan generasi yang mandiri, kreatif, dan berintegritas.

    Pendidikan yang memerdekakan akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

    Karena sejatinya, pendidikan yang baik bukan tentang berapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan seberapa besar pengetahuan itu mampu mengubah dirinya dan memberi manfaat bagi orang lain. Dari sinilah, manusia belajar menjadi manusia seutuhnya.

    ✍️ Penulis adalah Guru di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Jurnalis Sastrawacana.

    Catatan Kaki
    ¹ Kerangka 8-3-3-4 terdiri dari:
    8 Dimensi Profil Lulusan:
    Keimanan dan Ketakwaan Kepada Tuhan YME; Kewargaan; Kreativitas; Penalaran Kritis; Kolaboratif; Kemandirian; Kesehatan; Komunikasi.
    3 Prinsip Pembelajaran:
    Berkesadaran, Bermakna, Menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, olah raga.
    3 Pengalaman Belajar:
    Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi.
    4 Kerangka Pembelajaran:
    Praktik Pedagogis; Kemitraan Pembelajaran (guru, orang tua, komunitas); Lingkungan Belajar (fisik dan digital); Pemanfaatan teknologi digital (Zoom Meeting, Cloud, Gmeet, dll).

  • Tim DKV SMK PGRI Rogojampi Raih Juara 3 Lomba Video Kreatif Kesehatan RS PKU Muhammadiyah

    Tim DKV SMK PGRI Rogojampi Raih Juara 3 Lomba Video Kreatif Kesehatan RS PKU Muhammadiyah

    SMK PGRI Rogojampi kembali menorehkan prestasi di bidang Desain Komunikasi Visual (DKV).

    Tim Threefource, yang terdiri dari siswa kelas XI DKV, Mohammad Farhan, Mohammad Rifan, dan Aris Raditiya, berhasil meraih Juara 3 Lomba Video Kreatif Kesehatan kategori umum yang diselenggarakan oleh RS PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Lomba Video Kreatif ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia dengan tema seputar dunia kesehatan.

    Lomba terbagi menjadi dua kategori, yaitu Program Unggulan untuk pegawai internal RS PKU Muhammadiyah Rogojampi, dan Kesehatan untuk umum yang diikuti puluhan peserta dari berbagai instansi kesehatan, praktisi, generasi milenial, hingga masyarakat umum.

    Kegiatan lomba berlangsung sejak 15 Agustus hingga 15 September 2025 dan pemenangnya diumumkan pada Selasa, 23 September 2025 di Aula RS PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Penilaian dilakukan oleh tiga juri berkompeten, yaitu Heri Iskandar (konten kreator), Rangga (desainer grafis dan editor video), serta Maulana Affandi (Pemimpin Redaksi media online dan Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi), dengan kriteria kreativitas, manfaat, dan kualitas teknis.

    “Alhamdulillah, rasa syukur tiada terkira. Dengan persiapan kurang dari setengah bulan, melalui proses yang berat dan usaha luar biasa, akhirnya konten kami selesai dan dapat dikirim. Sungguh di luar dugaan, kami bisa meraih prestasi ini,” ujar Farhan, salah satu anggota Threefource.

    Rifan menambahkan, “Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu guru pendamping SMK PGRI Rogojampi atas waktu dan pemikiran yang diberikan hingga kami sampai di titik ini. Terima kasih juga kepada Kepala SMK PGRI Rogojampi beserta jajaran yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk berkembang dan mengharumkan nama almamater. Tidak lupa kepada RS PKU Muhammadiyah Rogojampi dan dewan juri atas apresiasinya.”

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd selaku guru pendamping sekaligus Ketua Komunitas Literasi di SMK PGRI Rogojampi (SMKPRO) menuturkan bahwa torehan prestasi tersebut merupakan buah dari kerja keras siswa yang terlibat.

    “Awalnya saya melihat pamflet Lomba Video Kreatif yang diadakan RS PKU Muhammadiyah Rogojampi. Deadline lomba kurang dari setengah bulan lagi, sehingga saya harus mengonfirmasi kepada perwakilan siswa jurusan DKV yang juga merupakan peserta Event Literasi Sekolah Nasional Tahun 2025. Meskipun hanya satu kali bertemu untuk membahas konsep yang akan diangkat menjadi konten, mereka tetap bersemangat menyelesaikan tugas tersebut. Alhasil, kerja keras mereka terbayar dengan meraih Juara 3 Lomba Video Kreatif kategori umum, mewakili generasi milenial,” jelas Andi.

    Prestasi Threefource menambah daftar keberhasilan SMK PGRI Rogojampi di bidang DKV dan menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus berkarya dan berprestasi.

  • Apa yang dimaksud dengan menyesuaikan pendidikan sesuai kodrat alam?

    Apa yang dimaksud dengan menyesuaikan pendidikan sesuai kodrat alam?

    Menyesuaikan pendidikan sesuai kodrat alam adalah prinsip pendidikan yang menekankan bahwa proses belajar-mengajar harus mempertimbangkan, menghargai, dan menyelaraskan diri dengan hukum-hukum serta kondisi alami di sekitar peserta didik.

    Prinsip ini menjadi salah satu dasar penting dalam pendidikan di Indonesia dan sering dibahas dalam berbagai artikel pendidikan.

    Kodrat alam dalam konteks ini mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan fisik, geografis, iklim, serta sumber daya alam yang tersedia di tempat peserta didik tinggal.

    Pendekatan ini juga mendorong pendidikan lingkungan hidup, sehingga anak-anak dapat belajar memahami dan menghargai alam sejak usia dini.

    Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar

    Menyesuaikan pendidikan dengan kodrat alam berarti menggunakan lingkungan sekitar peserta didik sebagai media dan sumber pembelajaran.

    Misalnya, anak-anak yang tinggal di daerah pesisir dapat belajar tentang ekosistem laut, nelayan, atau perahu sebagai bagian dari pelajaran sains, IPS, dan keterampilan hidup.

    Pendekatan ini mendukung metode belajar sambil bermain, di mana anak-anak dapat belajar usia dini melalui pengalaman langsung di lingkungan mereka.

    Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih relevan dan mudah dipahami karena dekat dengan pengalaman sehari-hari mereka.

    Guru dapat menerapkan kursus baca atau program belajar baca yang memanfaatkan benda dan situasi di sekitar, sehingga anak-anak tidak hanya belajar teori tetapi juga praktik.

    Analisis data sederhana juga dapat diterapkan untuk memahami perkembangan anak dan efektivitas metode pembelajaran yang digunakan.

    Menghormati Ritme dan Siklus Alam

    Kodrat alam juga mencakup siklus dan keteraturan alam, seperti perubahan musim, siang dan malam, atau fase pertumbuhan makhluk hidup.

    Pendidikan yang selaras dengan kodrat alam tidak memaksakan anak untuk belajar secara kaku, melainkan mengikuti irama alami perkembangan fisik dan psikologis anak.

    Metode pembelajaran yang mengutamakan bermain sambil belajar menjadi sangat efektif, terutama untuk anak usia dini, karena pada usia ini otak berkembang optimal melalui aktivitas fisik, interaksi sosial, dan pengalaman langsung.

    Menanamkan Kesadaran Lingkungan

    Pendidikan yang sesuai dengan kodrat alam juga bertujuan menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan.

    Anak-anak diajak memahami hubungan manusia dengan alam serta dampak dari aktivitas manusia terhadap keberlanjutan bumi.

    Hal ini merupakan bagian dari pembentukan karakter siswa dan kompetensi pendidikan yang mempersiapkan mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab secara ekologis.

    Dengan pendekatan ini, belajar motivasi dan motivasi pendidikan dapat tumbuh seiring dengan kesadaran lingkungan, sehingga anak-anak memiliki fondasi kuat untuk kehidupan akademik dan sosial mereka.

  • Peserta didik adalah individual yang unik dan memiliki gaya belajar tertentu. Bagaimana kita sebagai guru dapat mengakomodasi mereka?

    Peserta didik adalah individual yang unik dan memiliki gaya belajar tertentu. Bagaimana kita sebagai guru dapat mengakomodasi mereka?

    Peserta didik adalah individual yang unik dan memiliki gaya belajar tertentu. Bagaimana kita sebagai guru dapat mengakomodasi mereka?

    Jawaban:

    Sebagai guru, memahami bahwa setiap peserta didik adalah individu yang unik dan memiliki gaya belajar tertentu merupakan langkah awal untuk menciptakan pembelajaran yang adil, inklusif, dan bermakna.

    Untuk mengakomodasi keunikan tersebut, guru perlu menerapkan prinsip pembelajaran berdiferensiasi, yaitu strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, minat, dan karakteristik belajar siswa.

    Berikut adalah beberapa langkah valid dan praktis yang dapat dilakukan guru untuk mengakomodasi gaya belajar peserta didik:

    1. Mengidentifikasi Gaya Belajar Siswa

    Langkah pertama adalah mengenali gaya belajar siswa. Beberapa siswa belajar lebih baik melalui visual (gambar, diagram, video), yang lain melalui auditori (mendengar penjelasan atau diskusi), dan sebagian melalui kinestetik (melalui aktivitas fisik atau praktik langsung).

    Guru dapat menggunakan kuis singkat atau observasi di kelas untuk mengenali kecenderungan belajar siswa.

    2. Mendesain Aktivitas Belajar yang Variatif

    Setelah mengenal gaya belajar siswa, guru dapat merancang pembelajaran yang melibatkan berbagai pendekatan. Misalnya:

    • Memberikan infografis atau video untuk siswa visual.
    • Menyediakan ceramah, diskusi kelompok, atau rekaman audio bagi siswa auditori.
    • Menawarkan eksperimen, permainan edukatif, atau simulasi bagi siswa kinestetik.

    Dengan demikian, semua siswa memiliki akses yang adil terhadap pembelajaran.

    3. Memberikan Pilihan dalam Menyelesaikan Tugas

    Guru dapat menyediakan opsi cara penyelesaian tugas yang sesuai dengan kekuatan siswa, seperti: Menulis esai, membuat presentasi, merekam video, atau membuat poster.

    Ini menunjukkan bahwa guru menghargai keragaman cara siswa mengekspresikan pemahaman mereka.

    4. Menerapkan Penilaian Berdiferensiasi

    Penilaian tidak harus seragam. Guru dapat menggunakan berbagai jenis penilaian: lisan, tulisan, praktik, portofolio, atau proyek, untuk memberi kesempatan siswa menunjukkan kompetensinya sesuai gaya belajar mereka.

    5. Membangun Relasi dan Memberikan Dukungan Emosional

    Selain strategi akademik, guru juga harus membangun hubungan positif dengan siswa, agar mereka merasa aman, dihargai, dan termotivasi. Lingkungan yang mendukung sangat penting agar siswa merasa nyaman untuk belajar dengan cara mereka masing-masing.

  • Hidupkan Literasi, Gubernur Sulbar Wajibkan Siswa Baca 20 Buku Sebagai Syarat Lulus

    Hidupkan Literasi, Gubernur Sulbar Wajibkan Siswa Baca 20 Buku Sebagai Syarat Lulus

    Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) membuat kebijakan menarik demi menumbuhkan budaya baca di kalangan pelajar, khususnya siswa setingkat SMA/SMK.

    Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, mengeluarkan surat edaran yang mewajibkan setiap siswa untuk membaca minimal 20 judul buku sebagai syarat kelulusan.

    Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Nomor 000.4.14.1/174//11/2025 yang diteken pada 5 Juli 2025 dan disampaikan ke seluruh Bupati, Kepala Dinas Pendidikan, serta instansi terkait di Sulawesi Barat.

    Menurut Gubernur Suhardi Duka, budaya membaca adalah pondasi penting dalam membangun kecerdasan bangsa.

    “Gerakan ini menjadi salah satu upaya nyata Pemprov Sulbar dalam membangun generasi literat sebagai fondasi pembangunan daerah menuju Sulawesi Barat maju dan sejahtera,” ujar Suhardi.

    Langkah ini juga sesuai dengan Undang‑Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

    Dengan mewajibkan siswa membaca 20 buku, diharapkan literasi mereka meningkat signifikan yang pada gilirannya mendukung perkembangan Sulawesi Barat yang lebih maju.

    “Pentingnya pengembangan budaya membaca sebagai bagian dari pembangunan kecerdasan bangsa, sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan,” kata Suhardi.

    Dari 20 judul yang wajib dibaca, dua di antaranya harus membahas tokoh lokal, yaitu Andi Depu, pahlawan wanita asal Sulbar dan Baharuddin Lopa, mantan Jaksa Agung RI.

    Tujuannya bukan hanya mendorong minat baca, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap sejarah dan budaya daerah.

    Tidak hanya soal membaca, kebijakan ini juga mendorong kehadiran pojok baca atau perpustakaan mini di setiap sekolah dan kantor pemerintahan.

    Gubernur memerintahkan agar perpustakaan di sekolah diperbaiki dan dikelola dengan baik. Siswa diminta mengunjungi perpustakaan setidaknya satu kali seminggu.

    Tak ketinggalan, dana BOS dialokasikan untuk mendukung sarana dan buku perpustakaan sesuai Permendikbudristek No. 63 Tahun 2023.

    Tak hanya jenjang SMP dan SMK, Sekolah dasar (SD), madrasah, hingga instansi pemerintahan juga diimbau menerapkan program serupa.

    Dengan membangun budaya baca dari usia dini, pemprov berharap Sulbar mampu mengurangi kesenjangan informasi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di semua jenjang.

    Program ini adalah contoh konkret bahwa literasi adalah kunci membangun bangsa cerdas yang dimulai dari sekolah dan terus menjalar ke seluruh lapisan masyarakat.

  • Dengan Layanan BK, Peserta Didik Diharapkan Mampu

    Dengan layanan BK, peserta didik diharapkan mampu…

    A. Mendapatkan nilai sempurna di ujian akhir semester

    B. Mendapatkan perhatian lebih dari guru

    C. Memahami dan menerima diri serta lingkungannya

    D. Memahami dan menerima perbedaan

    Jawaban:

    C. Memahami dan menerima diri serta lingkungannya

    Pembahasan:

    Layanan bimbingan dan konseling (BK) bertujuan untuk membantu peserta didik dalam memahami diri mereka sendiri, lingkungan sekitar, serta mengembangkan potensi diri agar dapat mengambil keputusan yang tepat dan menghadapi berbagai tantangan hidup.

    Layanan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah dirancang untuk membantu peserta didik mencapai keseimbangan dalam aspek akademis, pribadi, sosial, dan karier.

    Dengan bantuan konselor, siswa diharapkan mampu memahami kekuatan dan kelemahan diri, mengenali potensi yang dimiliki, serta menerima berbagai kondisi yang ada di lingkungan mereka, baik di sekolah maupun di luar.

    BK juga berperan penting dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial dan emosional, sehingga mereka dapat berinteraksi dengan baik, menghadapi masalah, serta menghargai perbedaan yang ada di masyarakat.

  • Menurut anda, mengapa pelibatan seluruh warga sekolah menjadi hal yang penting dalam mencegah perundungan?

    Perundungan atau bullying merupakan masalah serius yang dapat mengganggu perkembangan psikologis, emosional, dan sosial peserta didik.

    Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang tidak kondusif bagi seluruh komunitas sekolah.

    Oleh karena itu, pencegahan perundungan tidak bisa dibebankan hanya kepada guru atau pihak sekolah saja, melainkan memerlukan keterlibatan aktif dari semua warga sekolah.

    Pelibatan seluruh warga sekolah dalam mencegah perundungan sangat penting karena beberapa alasan berikut:

    1. Membangun Budaya Positif

    Dengan melibatkan semua pihak, mulai guru, siswa, staf, dan orang tua, sekolah dapat menciptakan budaya yang mendukung nilai-nilai saling menghormati dan empati.

    Budaya seperti ini bisa membantu menumbuhkan lingkungan yang positif dan aman bagi semua siswa.

    2. Deteksi Dini dan Responsif

    Ketika seluruh warga sekolah terlibat, mereka lebih peka terhadap perilaku bullying yang mungkin terjadi.

    Setiap individu dapat berkontribusi untuk mendeteksi dan melaporkan tindakan perundungan, sehingga respons terhadap masalah ini dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

    3. Pendidikan dan Kesadaran

    Pelibatan semua pihak membantu meningkatkan kesadaran mengenai dampak perundungan.

    Melalui program pendidikan dan pelatihan, siswa dan staf dapat memahami bagaimana mengenali, mencegah, dan menangani situasi perundungan.

    4. Pemberdayaan Siswa

    Ketika siswa dilibatkan dalam upaya pencegahan, mereka merasa memiliki tanggung jawab dan kekuatan untuk mengubah lingkungan sekolah.

    Pemberdayaan seperti ini juga memberikan mereka keterampilan sosial yang penting untuk membela diri dan teman-teman mereka.

    5. Penguatan Komunikasi

    Pelibatan semua warga sekolah menciptakan saluran komunikasi yang lebih baik.

    Siswa merasa lebih nyaman untuk berbagi masalah mereka dengan guru atau teman sekelas, sehingga menciptakan jaringan dukungan yang lebih kuat.

    6. Keterlibatan Orang Tua

    Melibatkan orang tua dalam program pencegahan perundungan membantu menciptakan kesadaran di rumah.

    Ketika orang tua memahami pentingnya pencegahan perundungan, mereka dapat mendukung anak-anak mereka dalam mengatasi masalah ini.

    7. Pendekatan Holistik

    Perundungan adalah masalah kompleks yang tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.

    Pelibatan seluruh warga sekolah menciptakan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai perspektif dan solusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman.

    Kesimpulan

    Dengan melibatkan seluruh warga sekolah, upaya pencegahan perundungan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.

    Lingkungan yang positif dan suportif membantu menciptakan rasa aman bagi siswa, serta mengurangi risiko perundungan di sekolah.

  • Apa Inspirasi Baru yang Anda Dapatkan dari Upaya Tindak Lanjut?

    Berikut adalah beberapa inspirasi baru yang saya dapatkan dari upaya tindak lanjut:

    1. Pentingnya kolaborasi

    Upaya tindak lanjut menunjukkan kepada saya pentingnya kolaborasi dalam mencapai tujuan.

    Saya belajar bahwa dengan bekerja sama dengan orang lain, saya dapat mencapai lebih banyak daripada yang dapat saya capai sendiri.

    2. Pentingnya refleksi

    Upaya tindak lanjut juga menunjukkan kepada saya pentingnya refleksi.

    Saya belajar bahwa dengan merenungkan pengalaman saya, saya dapat belajar dari kesalahan saya dan meningkatkan kinerja saya di masa depan.

    3. Pentingnya umpan balik

    Upaya tindak lanjut juga menunjukkan kepada saya pentingnya umpan balik.

    Saya belajar bahwa dengan menerima umpan balik dari orang lain, saya dapat mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan meningkatkan kinerja saya.

    4. Pentingnya kegigihan

    Upaya tindak lanjut juga menunjukkan kepada saya pentingnya kegigihan. Saya belajar bahwa dengan terus berusaha, saya dapat mencapai tujuan saya, bahkan ketika saya menghadapi rintangan.

    5. Pentingnya pembelajaran berkelanjutan

    Upaya tindak lanjut juga menunjukkan kepada saya pentingnya pembelajaran berkelanjutan. Saya belajar bahwa dunia selalu berubah, dan saya perlu terus belajar dan berkembang untuk tetap relevan.

    Berikut adalah beberapa contoh bagaimana saya akan menerapkan inspirasi ini dalam pekerjaan saya:

    • Kolaborasi: Saya akan lebih sering bekerja sama dengan kolega, siswa, dan orang tua untuk mencapai tujuan bersama.
    • Refleksi: Saya akan meluangkan waktu untuk merenungkan pengalaman saya dan belajar dari kesalahan saya.
    • Umpan balik: Saya akan secara aktif mencari umpan balik dari orang lain untuk meningkatkan kinerja saya.
    • Kegigihan: Saya akan terus berusaha mencapai tujuan saya, bahkan ketika saya menghadapi rintangan.
    • Pembelajaran berkelanjutan: Saya akan terus belajar dan berkembang untuk tetap relevan.

    Saya yakin bahwa dengan menerapkan inspirasi ini, saya dapat menjadi guru yang lebih efektif dan membawa dampak positif bagi dunia pendidikan.

  • Seorang siswa diberikan tugas untuk memecahkan masalah menggunakan berpikir komputasional

    Seorang siswa diberikan tugas untuk memecahkan masalah menggunakan berpikir komputasional

    Seorang siswa diberikan tugas untuk memecahkan masalah menggunakan berpikir komputasional. Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah?

    A. Menulis kode program menggunakan bahasa pemrograman

    B. Mengidentifikasi masalah yang harus dipecahkan

    C. Membaca buku teks tentang algoritma

    D. Mencari solusi yang telah dibuat oleh orang lain di internet

    E. Membahas masalah dengan teman sekelas

    Jawaban:

    B. Mengidentifikasi masalah yang harus dipecahkan

    Baca juga: Langkah Pertama dalam Berpikir Komputasional Adalah?

    Pembahasan:

    Langkah pertama dalam berpikir komputasional adalah mengidentifikasi masalah. Sebelum menulis kode atau mencari solusi, penting untuk memahami secara mendalam apa yang harus diselesaikan.

    Setelah masalah teridentifikasi, barulah siswa bisa melanjutkan ke langkah-langkah berikutnya, seperti merancang algoritma, menulis program, atau mencari solusi alternatif.

    Mengidentifikasi masalah merupakan langkah awal yang sangat penting dalam berpikir komputasional, karena tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang perlu dipecahkan, solusi yang dihasilkan bisa tidak tepat atau tidak efisien.

    Dengan mengenali masalah, siswa dapat menentukan batasan, tujuan, serta parameter penting lainnya sebelum merancang strategi pemecahan.

    Setelah masalah terdefinisi dengan baik, mereka dapat melanjutkan ke tahap perancangan algoritma, mengeksplorasi solusi yang mungkin, dan akhirnya menerapkan kode program.

    Proses ini membantu menciptakan solusi yang lebih terstruktur, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan.