Tag: sosial

  • Bagaimana sikap yang baik menghadapi kehadiran masyarakat pendatang?

    Bagaimana sikap yang baik menghadapi kehadiran masyarakat pendatang?

    Jawaban:

    Sikap yang baik dalam menghadapi kehadiran masyarakat pendatang adalah dengan bersikap terbuka, ramah, dan penuh rasa hormat.

    Kehadiran pendatang merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sosial, terutama di daerah yang berkembang dan memiliki banyak peluang ekonomi maupun pendidikan.

    Oleh karena itu, masyarakat setempat sebaiknya tidak memandang pendatang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang dapat memberikan kontribusi positif.

    Menyambut mereka dengan sikap sopan, membantu ketika membutuhkan informasi, serta menunjukkan keramahan akan membuat pendatang merasa diterima dan nyaman tinggal di lingkungan baru.

    Selain bersikap ramah, masyarakat juga perlu menjunjung tinggi sikap toleransi terhadap perbedaan budaya, adat istiadat, bahasa, maupun kebiasaan yang dibawa oleh para pendatang.

    Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri, sehingga perbedaan tersebut seharusnya menjadi sarana saling belajar dan memperkaya wawasan.

    Dengan saling menghargai, potensi konflik dapat dihindari dan hubungan sosial dapat terjalin dengan baik.

    Komunikasi yang terbuka juga sangat penting untuk mencegah kesalahpahaman, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan bersama.

    Masyarakat setempat sebaiknya mengajak para pendatang untuk berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan, seperti kerja bakti, pertemuan warga, kegiatan keagamaan, atau acara perayaan tertentu.

    Keterlibatan ini dapat menumbuhkan rasa memiliki dan mempererat hubungan antarwarga. Melalui kebersamaan tersebut, tercipta suasana yang harmonis dan saling mendukung.

    Dengan sikap terbuka, toleran, dan gotong royong, kehadiran masyarakat pendatang dapat membawa dampak positif bagi perkembangan sosial dan ekonomi daerah.

    Pada akhirnya, persatuan dan keharmonisan akan semakin kuat meskipun masyarakat berasal dari latar belakang yang beragam.

  • Rayakan 13 Tahun, EL Grup Berbagi Kebahagiaan Bersama Lansia di Muncar

    Rayakan 13 Tahun, EL Grup Berbagi Kebahagiaan Bersama Lansia di Muncar

    Senyum bahagia merekah terpancar dari wajah 30 lansia saat menerima kunjungan “anak cucu” mereka dari EL Grup dalam kegiatan berwisata hati ke Panti Jompo Sahabat Lansia Blambangan, Muncar, Rabu (7/1/2026).

    Kegiatan ini digelar sebagai bentuk tasyakuran atas 13 tahun berdirinya EL Hotel Banyuwangi Residence, sekaligus perayaan hadirnya Banyuwangi Park yang turut mendukung pengembangan pariwisata di Bumi Blambangan.

    Direktur PT Mitra Buana Niaga (EL Grup), Vera Safira, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud rasa syukur perusahaan yang diwujudkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

    “Sebagai ungkapan syukur, tahun ini kami berbagi kebahagiaan dengan para lansia di panti jompo,” ujar Vera Safira yang hadir bersama sekitar 45 karyawan EL Grup.

    Senada, General Manager EL Hotel Banyuwangi, Wilmar Des Rizal, menyampaikan rasa haru dan bahagianya bisa bersilaturahmi langsung dengan para lansia.

    “Oma, opa, kami ini anak cucumu yang datang menjenguk,” ucapnya penuh kehangatan.

    Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PHRI Banyuwangi serta mitra IHC RS Bhakti Husada Krikilan yang turut mendampingi dan memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi para lansia.

    EL Grup di Panti Jompo Sahabat Lansia Muncar

    Dalam kesempatan tersebut, perwakilan PHRI Banyuwangi, Hafrida, menyampaikan ucapan selamat atas hari jadi ke-13 EL Grup.

    Ia berharap kegiatan bakti sosial seperti ini dapat menginspirasi anggota PHRI lainnya.

    “Kami doakan seluruh usaha yang tergabung dalam EL Grup semakin laris, banyak pengunjung, dan meraih kesuksesan di Banyuwangi,” ujarnya, yang diamini oleh seluruh hadirin.

    Tak hanya berbagi bantuan berupa dana, sembako, pampers, selimut, dan kebutuhan lainnya, EL Grup juga menghadirkan kebahagiaan melalui berbagai aktivitas interaktif.

    Para lansia diajak bermain permainan sederhana menggunakan bola kecil, bernyanyi lagu-lagu nostalgia, berbagi cerita masa kecil, hingga berjoget bersama badut Park dan Joira Istimewa. Kegiatan tersebut ditutup dengan pembuatan buket bunga bersama.

    Sementara itu, Ketua Yayasan Sahabat Lansia, Indah Purwaningrum, menjelaskan bahwa saat ini yayasan mengasuh 30 lansia serta 16 anak yatim yang dibekali pendidikan agama.

    “Tujuan kami adalah menyiapkan para lansia agar dapat menjalani masa akhir hidup dengan bahagia dan husnul khotimah,” ujarnya.

    Indah menuturkan, yayasan yang berdiri sejak tiga tahun lalu ini awalnya beroperasi di Desa Kelir dengan menyewa lahan.

    Sekitar dua tahun terakhir, yayasan berpindah ke Muncar dan kini telah memiliki lahan sendiri meski masih dalam proses mencicil pembangunan panti.

    “Karena panti kami masih terakreditasi C, kami belum mendapatkan bantuan permakanan dari Dinas Sosial. Syaratnya minimal akreditasi B, sehingga selama ini bantuan murni berasal dari swasta dan para donatur,” jelasnya.

    Ia menambahkan, yayasan juga telah memiliki mobil layanan dan rumah singgah di Malang yang digunakan saat harus mendampingi rujukan perawatan anak yatim maupun lansia.

    “Alhamdulillah, kami hanya menjadi kurir dari para donatur dan dermawan,” tutup relawan Rumah Kebangsaan Banyuwangi tersebut.

  • Dinsos Banyuwangi Respons Cepat Kondisi Penyandang Disabilitas di Kedaleman Rogojampi

    Dinsos Banyuwangi Respons Cepat Kondisi Penyandang Disabilitas di Kedaleman Rogojampi

    Senyum cerah terpancar dari wajah Luk Luul Maknun (19), penyandang daksa asal Dusun Krajan, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

    Gadis yang mengalami disabilitas fisik sejak lahir ini mendapat kunjungan dari Komunitas Gotong Royong 45, media online sastrawacana.id/, dan pegiat sosial yang peduli terhadap penyandang disabilitas di daerah, Minggu (9/11).

    Luk Luul tinggal bersama kedua orang tuanya, Mansur (57) dan Sumiyati (53). Ayahnya bekerja sebagai kernet bus Minto jurusan Banyuwangi–Situbondo, sementara ibunya hanya ibu rumah tangga.

    Sejak kecil, Luk Luul tidak mengenyam pendidikan secara penuh, hanya sempat bersekolah di taman kanak-kanak selama dua tahun.

    Hal itu disebabkan keterbatasan orang tua, sang ayah sibuk bekerja, sementara sang ibu tidak bisa mengendarai kendaraan bermotor untuk mengantar.

    Kunjungan Komunitas Gotong Royong 45 yang dipimpin oleh Bung Aguk Darsono, yang juga aktif di Forum Banyuwangi Sehat (FBS) dan Forum Pembauran Kebangsaan {FPK) menjadi awal harapan baru bagi keluarga ini.

    Luk Luul Maknun Disabilitas Kedaleman

    Dalam kesempatan itu, turut hadir Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ sekaligus Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi, Maulana Affandi, S.S., serta beberapa pegiat sosial Banyuwangi.

    “Luk Luul ini anak yang cerdas dan ceria. Walau ada sedikit kesulitan berbicara, tapi semangatnya luar biasa. Dia tidak malu, malah terlihat senang saat diajak ngobrol,” ujar Bung Aguk yang juga merupakan pemandu bakat talenta yatim piatu.

    Ditemani pamannya, Iwan (50), yang juga penyandang disabilitas akibat kram dingin saat musibah kapal nelayan di Pantai Puger, Jember, Luk Luul menyampaikan keinginannya yang sederhana, yakni ingin bisa keluar rumah karena ejak kecil hampir seluruh waktunya dihabiskan di dalam rumah.

    Pamannya menuturkan, jika Luk Luul memiliki kursi roda, ia akan lebih mudah beraktivitas di luar rumah.

    “Selama ini dia hanya bisa duduk atau berbaring di kasur, jarang sekali keluar,” ujar Pakdhe Iwan, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang servis elektronik dan dapat dihubungi melalui nomor ponsel 082341828320.

    Menanggapi hal tersebut, Bung Aguk langsung menghubungi Khoirul Hidayat, S.STP., M.Si., Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Banyuwangi, untuk menyampaikan kondisi Luk Luul.

    Khoirul Hidayat menyampaikan, pihaknya siap memberikan bantuan dan berharap pemerintah desa turut aktif memantau kondisi warganya serta memperbarui data agar ia dapat menerima bantuan sosial yang selama ini belum pernah diterimanya.

    “Kami akan segera tindak lanjuti. Tapi ke depannya, pihak desa perlu lebih aktif melaporkan dan memperbarui data agar bantuan sosial bisa tepat sasaran,” ujarnya melalui pesan singkat.

    Sementara itu, Maulana Affandi menyampaikan apresiasi terhadap respons cepat Dinas Sosial Banyuwangi.

    “Langkah cepat Pak Khoirul dan tim Dinsos patut diapresiasi. Ini bukti bahwa kepedulian Dinsos Banyuwangi kepada warga yang membutuhkan sangat tinggi,” ujarnya.

    Menurut Affandi, pihaknya masih menunggu tindak lanjut dari pekerja sosial di Rogojampi untuk mendata Luk Luul, karena namanya belum tercatat dalam data penyandang disabilitas Kabupaten Banyuwangi

    Luk Lukul Maknun Kedaleman

    Ia juga menambahkan, Dinas Sosial Banyuwangi memang dikenal tanggap terhadap berbagai persoalan sosial.

    “Bukan hanya kali ini, sebelumnya Dinas Sosial juga sigap membantu warga lain, seperti Aripin yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan kerja. Hal itu menunjukkan adanya kesinambungan kepedulian yang nyata, salah satunya melalui pemberian kursi roda 3 in 1,” ujarnya.

    Kehadiran komunitas sosial, rekan media, dan pegiat kemanusiaan di rumah Luk Luul membawa semangat baru bagi keluarganya.

    Mereka berharap Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) juga dapat melakukan survei dan memberikan bantuan bagi Luk Luul, yang kini tinggal di rumah warisan kakek-neneknya dari pihak ayah.

    Selain menantikan bantuan berupa kursi roda dan popok, Luk Luul yang memiliki hobi bernyanyi juga direncanakan akan tampil dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) mendatang. Ia akan didampingi oleh relawan dari Komunitas Gotong Royong 45 dan Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Koordinator Divisi Program YALI, Indah Catur Cahyaningtyas, mengatakan dirinya hanyalah relawan, bukan pahlawan.

    “Bersamaan dengan momentum Hari Pahlawan, Luk Luul kami catat sebagai anggota dampingan kami. Harapannya, keluarga bisa lebih responsif dan kami juga akan mengikutkan mereka dalam pelatihan bagi orang tua yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas,” tutur aktivis Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) ini.

    Melalui kegiatan itu, Luk Luul akan mendapat ruang untuk menyalurkan bakatnya dan tampil bersama para penyandang disabilitas lainnya. Lewat gawai milik ibunya, ia juga diharapkan bisa menjalin silaturahmi agar tidak merasa sendirian.

    Dengan nada pasrah, sang ibu, Sumiyati, berharap ada pihak yang peduli terhadap putrinya, terutama dalam hal mobilitas agar bisa beraktivitas di luar rumah.

    “Bukan karena malu, tapi saya enggan merepotkan tetangga dan kerabat. Ternyata saya salah, dulu tidak menyekolahkan, tidak membuatkan KIA, dan baru mengurus KTP setelah usianya lebih dari 18 tahun,” ujarnya lirih.

    Semangat dan senyum Luk Luul menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Di balik segala keterbatasan, tersimpan keyakinan bahwa kuasa Tuhan selalu hadir bagi hamba-Nya, pada waktu dan cara yang paling tepat. (Affandi/Bung Aguk)

  • Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Gramedia Serpong Berbagi Perlengkapan Sekolah untuk Anak Yatim dan Dhuafa

    Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Gramedia Serpong Berbagi Perlengkapan Sekolah untuk Anak Yatim dan Dhuafa

    Sebanyak 154 anak yatim dan dhuafa dari wilayah Tangerang dan Tangerang Selatan mendapat bantuan perlengkapan sekolah dalam kegiatan bertajuk Penyaluran Donasi Perlengkapan Sekolah yang digelar di Gramedia Summarecon Mall Serpong (SMS), Rabu (5/11).

    Acara yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Gramedia Serpong (Region D) tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap pendidikan dan literasi anak-anak Indonesia.

    Melalui pembagian school kit, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap dunia baca tulis sejak dini.

    Perwakilan Partnership Dompet Dhuafa, Diana Rahma, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan Gramedia yang terus konsisten berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

    “Kami berterima kasih kepada Gramedia yang telah menjadi mitra baik Dompet Dhuafa dalam menebar manfaat. Semoga bantuan perlengkapan sekolah ini menjadi penyemangat bagi adik-adik untuk terus belajar dan mengejar cita-cita,” ujarnya.

    Sementara itu, Sulton, perwakilan Manajemen Summarecon Mall Serpong, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud komitmen Gramedia dalam mendukung kemajuan pendidikan nasional.

    “Setiap anak memiliki hak untuk belajar dan berkembang. Kami berharap bantuan ini bisa memotivasi mereka agar terus berprestasi,” katanya.

    Selama kegiatan berlangsung, suasana di area Gramedia SMS dipenuhi tawa dan antusiasme anak-anak. Beragam permainan interaktif yang dipandu tim Dompet Dhuafa dan Gramedia membuat acara semakin hangat dan menyenangkan.

    Momen paling dinanti terjadi saat pembagian paket perlengkapan sekolah berupa tas, buku, dan alat tulis dilakukan. Senyum lebar menghiasi wajah anak-anak penerima manfaat.

    Tak hanya perlengkapan sekolah, tim Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa juga turut memberikan uang saku sebagai dukungan tambahan agar anak-anak semakin bersemangat menuntut ilmu.

    Melalui kegiatan ini, Dompet Dhuafa dan Gramedia berharap sinergi yang telah terjalin dapat terus berlanjut, menjangkau lebih banyak penerima manfaat di seluruh Indonesia.

    “Kami berharap kolaborasi ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan lebih banyak program pemberdayaan dan literasi bagi masyarakat,” tutup Diana.

    Sumber: kbknews

  • Empat Tahun Lumpuh, Aripin Warga Desa Kedaleman Rogojampi Uji Kesabaran Keluarga

    Empat Tahun Lumpuh, Aripin Warga Desa Kedaleman Rogojampi Uji Kesabaran Keluarga

    Hidup penuh perjuangan kini dirasakan oleh Aripin (48), warga RT 03/02 Dusun Krajan, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi.

    Sejak empat tahun lalu ia mengalami kelumpuhan setelah terjatuh dari atap toko saat bekerja sebagai kuli bangunan.

    "Awalnya saya jatuh di tempat kerja. Beberapa hari kemudian, kaki dan tangan saya tidak bisa digerakkan, sampai sekarang," ungkap Aripin dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di rumahnya, Minggu (31/8).Ia sudah ikhtiar medis dan alternatif.

    Terpantau, kondisi Aripin hanya bisa terbaring di tempat tidur dengan tangan dan kaki yang tidak mampu digerakkan.

    Situasi ini tentu tidak mudah bagi keluarganya, namun sang istri, Mutamaroh, tetap sabar mendampingi dan merawatnya.

    Kini, kebutuhan rumah tangga ditopang dari penghasilan istri yang bekerja sebagai tukang jahit pakaian.

    Sementara putri tunggalnya Firda bekerja di Toko Cinta depan Kantor Kecamatan Rogojampi. Diinformasikan pula jika owner Cinta juga kerap membantu keluarga Aripin.

    Aripin dikenal sebagai sosok aktif dalam kegiatan keagamaan di desanya. Ia merupakan penggerak pengajian rutin mingguan di Dusun Krajan sebelum mengalami musibah yang merubah kehidupannya.

    "Saya sudah berobat ke mana-mana, tapi belum ada hasilnya. Dari kantor balai desa sudah pernah mendapatkan bantuan. Saat mengkonsumsi obat dari Shin She ada sedikit perubahan, namun harganya lumayan mahal,” tuturnya.

    Harapan besar ia sampaikan kepada pemerintah maupun lembaga sosial untuk bisa mendapatkan bantuan pengobatan agar kondisinya bisa pulih seperti sedia kala. Ia juga butuh tempat pembaringan mekanik seperti di rumah sakit serta kursi roda 3 in 1.

    Keprihatinan juga datang dari salah satu tokoh masyarakat setempat, Maulana Affandi yang turut berusaha untuk mencarikan solusi ke sejumlah lembaga dan dinas sosial untuk memberikan perhatian sebagaimana sesuai harapan Aripin.

    Affandi menilai Aripin layak mendaat perhatian serius. Ia menilai bahwa kondisi yang dialami Aripin bukanlah persoalan ringan yang bisa dibiarkan begitu saja.

    Sebagai sosok yang selama ini dikenal aktif dalam kegiatan masyarakat dan keagamaan, Aripin sudah banyak memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya.

    Karena itu, ketika kini Aripin harus berjuang dengan keterbatasan fisik akibat kelumpuhan, sudah seharusnya perhatian serius diberikan kepadanya.

    "Saya pribadi merasa prihatin melihat kondisi Pak Aripin. Beliau dulu sangat aktif dalam kegiatan masyarakat dan keagamaan. Sekarang, ketika beliau dalam keadaan sulit, sudah seharusnya kita yang ada di sekelilingnya ikut hadir untuk memberikan dukungan, baik moril maupun materiil. Saya berharap masyarakat bersama pemerintah bisa turun tangan, karena kepedulian kita akan sangat berarti bagi keluarga beliau," papar Affandi yang juga merupakan pemimpin redaksi dari media sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Sementara itu, Ketua Komunitas Gotong Royong 45, Agus Wahyu Nuryadi atau yang akrab disapa Bung Aguk, juga lakukan advokasi dan peduli dan ajak segenap elemen masyarakat agar lpeduli terhadap kondisi yang menimpa Aripin.

    "Melihat keadaan Pak Aripin, hati kita semua tentu terenyuh. Karena itu saya mengajak masyarakat, komunitas sosial, maupun pemerintah untuk hadir. Kita perlu bahu-membahu memberikan bantuan, sekecil apa pun, agar beliau bisa tetap melanjutkan pengobatannya dan keluarganya tidak merasa sendirian dalam menghadapi ujian ini. Alhamdulillah setelah komunikasi dengan Wakil Bupati di TL ke Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dengan sigap Kabid Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial Khoirul Hidayat siap kirim kursi roda 3 in 1 setelah surat permohonan dari Kades diterima," tutur Bung Aguk Ketua Komunitas Gotongroyong'45, yang juga tergabung dalam FBS (Forum Banyuwangi Sehat) ini.

  • Proses Interaksi Sosial Akan Terjadi Apabila Memiliki Syarat

    Proses Interaksi Sosial Akan Terjadi Apabila Memiliki Syarat

    Proses interaksi sosial akan terjadi apabila memenuhi dua syarat utama, yaitu kontak sosial dan komunikasi.

    Kedua syarat ini merupakan dasar dari terjadinya hubungan sosial antarindividu maupun antarkelompok dalam masyarakat.

    Pengertian Kontak Sosial

    Kontak sosial adalah awal mula terjadinya interaksi. Kontak ini bisa bersifat langsung maupun tidak langsung.

    Kontak langsung terjadi ketika individu bertemu secara fisik, misalnya berbicara tatap muka, berjabat tangan, atau bekerja sama dalam suatu kegiatan.

    Sementara itu, kontak tidak langsung bisa terjadi melalui media seperti telepon, pesan singkat, media sosial, atau surat.

    Meskipun tidak bertatap muka, hubungan tetap bisa terjalin asalkan ada saling pengaruh dan respons.

    Pengertian Komunikasi

    Setelah terjadi kontak sosial, syarat kedua yang harus ada adalah komunikasi. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan, ide, perasaan, atau informasi dari satu pihak kepada pihak lain.

    Dalam komunikasi, setidaknya ada lima unsur penting, yaitu pengirim pesan, pesan itu sendiri, media penyampaian, penerima pesan, dan efek atau respons dari penerima.

    Komunikasi dapat dilakukan secara verbal (lisan dan tulisan) maupun nonverbal (gerakan tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara, dll).

    Tanpa adanya kontak dan komunikasi, maka tidak akan terjadi proses saling memengaruhi yang menjadi inti dari interaksi sosial.

    Oleh karena itu, interaksi sosial hanya bisa terjadi jika dua syarat utama ini terpenuhi dan berjalan timbal balik antarindividu atau kelompok.

  • Bagaimana perubahan sosial budayanya jika suatu masyarakat menutup diri dari dunia luar

    Bagaimana perubahan sosial budayanya jika suatu masyarakat menutup diri dari dunia luar

    Jika suatu masyarakat memilih untuk menutup diri dari dunia luar, maka akan terjadi sejumlah perubahan sosial dan budaya yang signifikan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

    Berikut adalah penjelasan panjang dan mendalam mengenai perubahan-perubahan tersebut:

    1. Stagnasi Budaya dan Inovasi

    Ketika sebuah masyarakat menutup diri dari pengaruh luar, ia kehilangan kesempatan untuk melakukan pertukaran budaya yang sehat.

    Inovasi dalam seni, teknologi, pendidikan, maupun pola pikir akan melambat atau bahkan berhenti.

    Tanpa adanya tantangan atau perbandingan dengan budaya luar, masyarakat bisa menjadi puas diri dan mempertahankan pola lama meskipun tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.

    Misalnya, teknologi pertanian, pengobatan, atau pendidikan dari luar yang sebenarnya bisa meningkatkan kualitas hidup, tidak akan diterima, sehingga masyarakat tertinggal dalam aspek kemajuan.

    2. Meningkatnya Tradisionalisme dan Konservatisme

    Menutup diri sering kali disertai dengan semangat mempertahankan nilai-nilai lama secara ketat.

    Tradisi menjadi pusat dari identitas kolektif masyarakat. Meskipun ini bisa menjaga warisan budaya, namun di sisi lain bisa menimbulkan resistensi terhadap perubahan, bahkan yang bermanfaat.

    Kondisi ini juga bisa memperkuat pandangan konservatif yang menolak hal-hal baru, baik itu gaya hidup, cara berpikir, hingga sistem sosial sehingga mempersempit wawasan generasi muda dan mencegah tumbuhnya sikap kritis atau progresif.

    3. Eksklusivisme dan Kecurigaan Sosial

    Isolasi budaya cenderung melahirkan eksklusivisme: rasa “kami” versus “mereka”.

    Masyarakat bisa mulai menganggap orang luar sebagai ancaman atau gangguan, memicu kecurigaan, stereotip, bahkan potensi konflik ketika interaksi akhirnya tak terhindarkan.

    Hal ini memperkuat batas sosial dan bisa menghambat kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dalam konteks global, terutama dalam dunia yang semakin terhubung seperti saat ini.

    4. Penyempitan Perspektif Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

    Tanpa akses ke pemikiran dan ilmu pengetahuan dari luar, sistem pendidikan dalam masyarakat tertutup berpotensi menjadi dogmatis.

    Kurikulum akan didominasi oleh ajaran-ajaran lokal tanpa penyempurnaan atau perbandingan dari perspektif lain.

    Hal ini menghambat lahirnya ilmuwan, inovator, dan pemikir baru. Pengetahuan menjadi turun-temurun dan bersifat lokal, bukan universal. Dampaknya, masyarakat sulit bersaing di tingkat regional atau global.

    5. Ketahanan Sosial yang Rapuh di Tengah Globalisasi

    Dalam jangka panjang, masyarakat tertutup akan mengalami kesulitan besar ketika harus menghadapi tekanan global, seperti perdagangan bebas, digitalisasi, perubahan iklim, atau pandemi.

    Ketika perubahan global menuntut adaptasi, masyarakat yang terbiasa hidup dalam sistem tertutup akan mengalami krisis identitas dan disorientasi sosial.

    Mereka bisa mengalami gegar budaya (culture shock) jika tiba-tiba harus berinteraksi dengan dunia luar tanpa persiapan yang matang.

    6. Peluang Kehilangan Eksistensi Budaya Sendiri

    Ironisnya, upaya menutup diri dengan maksud melestarikan budaya justru bisa menghasilkan efek sebaliknya, yakni budaya menjadi statis dan tidak lagi kontekstual. Budaya yang hidup adalah budaya yang mampu beradaptasi dan berdialog dengan zaman.

    Tanpa itu, ia hanya akan menjadi artefak yang perlahan kehilangan makna di tengah arus perubahan global.

  • Jelaskan secara ringkas corak kehidupan sosial ekonomis pada masyarakat berburu meramu tingkat lanjut

    Jelaskan secara ringkas corak kehidupan sosial ekonomis pada masyarakat berburu meramu tingkat lanjut, masa bercocok tanam, dan masa perundagian.

    Jawaban:

    Berikut adalah penjelasan ringkas tentang corak kehidupan sosial ekonomis pada tiga tahap perkembangan masyarakat, yaitu masyarakat berburu meramu tingkat lanjut, masa bercocok tanam, dan masa perundagian:

    1. Masyarakat Berburu Meramu Tingkat Lanjut

    Corak Kehidupan: Masyarakat ini hidup dengan mengandalkan sumber daya alam melalui kegiatan berburu hewan dan mengumpulkan tumbuhan. Mereka bersifat nomaden, berpindah-pindah untuk mengikuti pola migrasi hewan dan ketersediaan makanan.

    Ekonomi: Kegiatan ekonomi berbasis subsisten, mengandalkan hasil buruan dan hasil hutan. Mereka menggunakan alat sederhana seperti panah dan kapak.

    Sosial: Kehidupan sosial cenderung egaliter, di mana posisi individu tidak terlalu terikat pada status atau kelas sosial. Hubungan antaranggota masyarakat didasarkan pada kerja sama dan solidaritas.

    2. Masa Bercocok Tanam

    Corak Kehidupan: Masyarakat mulai menetap dan melakukan pertanian, menanam berbagai jenis tanaman pangan. Kehidupan mereka lebih terstruktur dan berorientasi pada musim tanam dan panen.

    Ekonomi: Sistem ekonomi beralih dari subsisten ke semi-subsisten dengan produksi berlebih. Pertanian menjadi sumber utama pendapatan, dan mulai muncul kegiatan perdagangan.

    Sosial: Kelas sosial mulai terbentuk, dengan adanya perbedaan status antara petani yang memiliki lahan dan yang tidak. Masyarakat menjadi lebih terorganisir, seringkali membentuk komunitas dengan struktur kepemimpinan yang lebih jelas.

    3. Masa Perundagian

    Corak Kehidupan: Masyarakat berkembang menjadi lebih kompleks dengan munculnya industri kecil. Mereka tidak hanya bertani, tetapi juga memproduksi barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti alat pertanian, tekstil, dan perhiasan.

    Ekonomi: Ekonomi lebih beragam, mengandalkan pertanian dan kerajinan. Perdagangan meningkat, baik lokal maupun antar daerah, dan munculnya sistem barter serta pertukaran barang.

    Sosial: Terjadi stratifikasi sosial yang lebih jelas. Para pengrajin, pedagang, dan petani memiliki posisi sosial yang berbeda, dan masyarakat mulai memiliki struktur kelas yang lebih kompleks, dengan adanya pemimpin atau penguasa yang mengatur.

  • Apa nama gerakan sosial di Eropa pada abad ke-19 yang berfokus pada penghapusan perbudakan dan penegakan hak-hak buruh?

    Apa nama gerakan sosial di Eropa pada abad ke-19 yang berfokus pada penghapusan perbudakan dan penegakan hak-hak buruh?

    Apa nama gerakan sosial di Eropa pada abad ke-19 yang berfokus pada penghapusan perbudakan dan penegakan hak-hak buruh?

    a. gerakan abolisionis
    b. gerakan reformasi
    c. gerakan revolusioner
    d. gerakan progresif
    e. gerakan sosialisme

    Jawaban:

    a. gerakan abolisionis

    Pembahasan:

    Gerakan abolisionis adalah gerakan sosial yang berkembang di Eropa dan Amerika pada abad ke-19, bertujuan untuk menghapus perbudakan dan memperjuangkan hak asasi manusia, termasuk hak-hak buruh.

    Di Eropa, khususnya di Inggris, gerakan ini didorong oleh kelompok-kelompok religius dan aktivis yang menentang perbudakan atas dasar moral dan kemanusiaan.

    Selain itu, gerakan ini juga berhubungan erat dengan upaya memperbaiki kondisi buruh yang bekerja di pabrik-pabrik selama Revolusi Industri.

    Abolisionis memperjuangkan penghapusan sistem perbudakan serta reformasi sosial yang lebih luas, termasuk perlindungan hak-hak buruh dan kondisi kerja yang lebih adil.

    Gerakan ini tidak hanya berfokus pada penghapusan perbudakan, tetapi juga mendorong kesetaraan sosial, seperti hak-hak sipil dan perbaikan kondisi ekonomi bagi kelas pekerja.

    Pada akhirnya, gerakan abolisionis memainkan peran penting dalam membentuk pandangan masyarakat tentang hak asasi manusia dan keadilan sosial, memberikan dampak yang signifikan pada perubahan hukum dan kebijakan di berbagai negara Eropa.

  • Menurut Auguste Comte Konflik Antar Kelas di Masyarakat Terjadi Karena?

    Menurut Auguste Comte konflik antar kelas di masyarakat terjadi karena?

    a. perilaku anggota masyarakat yang sangat kompleks
    b. tidak ada hukum yang mengatur timbulnya gejala sosial
    c. hilangnya norma atau pegangan bagi masyarakat dalam bertindak
    d. beragamnya kepentingan yang memegaruhi perilaku masyarakat
    e. hidup yang selalu tergantung pada ketersediaan SDA

    Jawaban:

    d. beragamnya kepentingan yang memegaruhi perilaku masyarakat

    Pembahasan:

    Comte berpendapat bahwa masyarakat terdiri dari berbagai kelas sosial dengan kepentingan yang berbeda-beda, dan perbedaan ini dapat memicu konflik sosial.

    Kepentingan yang beragam ini sering kali membuat kelompok-kelompok dalam masyarakat bertindak dengan cara yang berbeda, yang pada akhirnya dapat menyebabkan ketegangan dan konflik di antara kelas-kelas tersebut.

    Auguste Comte, sebagai pelopor sosiologi, melihat bahwa perbedaan kepentingan di antara berbagai kelas sosial sering kali menjadi sumber utama konflik.

    Setiap kelas sosial memiliki tujuan, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda, yang dapat bertentangan satu sama lain.

    Ketika kepentingan ini saling berbenturan, terutama dalam konteks distribusi sumber daya atau kekuasaan, konflik sosial cenderung muncul.

    Comte menekankan pentingnya memahami dinamika ini untuk menganalisis dan meredakan ketegangan dalam masyarakat.