Tag: taufik ismail

  • Kumpulan Puisi Taufik Ismail

    Kumpulan Puisi Taufik Ismail

    Sebuah Jaket Berlumur Darah

    Sebuah jaket berlumur darah
    Kami semua telah menatapmu
    Telah pergi duka yang agung
    Dalam kepedihan bertahun-tahun.

    Sebuah sungai membatasi kita
    Di bawah terik matahari Jakarta
    Antara kebebasan dan penindasan
    Berlapis senjata dan sangkur baja
    Akan mundurkah kita sekarang
    Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
    Berikara setia kepada tirani
    Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

    Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
    Kami semua telah menatapmu
    Dan di atas bangunan-bangunan
    Menunduk bendera setengah tiang.

    Pesan itu telah sampai kemana-mana
    Melalui kendaraan yang melintas
    Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
    Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
    Prosesi jenazah ke pemakaman
    Mereka berkata
    Semuanya berkata
    Lanjutkan Perjuangan.

    Syair Orang Lapar

    Lapar menyerang desaku
    Kentang dipanggang kemarau
    Surat orang kampungku
    Kuguratkan kertas
    Risau
    Lapar lautan pidato
    Ranah dipanggang kemarau
    Ketika berduyun mengemis
    Kesinikan hatimu
    Kuiris
    Lapar di Gunungkidul
    Mayat dipanggang kemarau
    Berjajar masuk kubur
    Kauulang jua
    Kalau.

    Karangan Bunga

    Tiga anak kecil
    Dalam langkah malu-malu
    Datang ke salemba
    Sore itu.

    Ini dari kami bertiga
    Pita hitam pada karangan bunga
    Sebab kami ikut berduka
    Bagi kakak yang ditembak mati
    Siang tadi.

    Salemba

    Alma Mater, janganlah bersedih
    Bila arakan ini bergerak pelahan
    Menuju pemakaman
    Siang ini.

    Anakmu yang berani
    Telah tersungkur ke bumi
    Ketika melawan tirani.

    Memang Selalu Demikian, Hadi

    Setiap perjuangan selalu melahirkan
    Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
    Jangan kau gusar, Hadi.

    Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
    Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
    Jangan kau kecewa, Hadi.

    Setiap perjuangan yang akan menang
    Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
    Dan para jagoan kesiangan.

    Memang demikianlah halnya, Hadi.

    Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa

    Jika adalah yang harus kaulakukan
    Ialah menyampaikan kebenaran
    Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
    Ialah ang bernama keyakinan
    Jika adalah yang harus kau tumbangkan
    Ialah segala pohon-pohon kezaliman
    Jika adalah orang yang harus kauagungkan
    Ialah hanya Rasul Tuhan
    Jika adalah kesempatan memilih mati
    Ialah syahid di jalan Ilahi.

    SAJADAH PANJANG

    Ada sajadah panjang terbentang
    Dari kaki buaian
    Sampai ke tepi kuburan hamba
    Kuburan hamba bila mati

    Ada sajadah panjang terbentang
    Hamba tunduk dan sujud
    Di atas sajadah yang panjang ini

    Diselingi sekedar interupsi
    Mencari rezeki, mencari ilmu
    Mengukur jalanan seharian
    Begitu terdengar suara azan
    Kembali tersungkur hamba

    Ada sajadah panjang terbentang
    Hamba tunduk dan rukuk
    Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
    Mengingat Dikau
    Sepenuhnya.
    1984
    (dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo)

    LONCENG TINJU

    Setiap kali lonceng berkleneng
    Tanda putaran dimulai
    Setiap kali mereka bangkit
    Dan mengepalkan tinju
    Setiap teriakan histeria
    Bergemuruh suaranya
    Aku kelu
    Dan merasa di pojok
    Sendirian

    Setiap lonceng berklenengan
    Dan tinju mulai berlayangan
    Meremuk kepala lawan
    Terkilas dalam ingatan
    Nenekku dulu berkata
    “Jangan kamu mengadu ayam”
    Dan bila aku menuntut ilmu
    Di Kedokteran Hewan
    Guruku menasihatkan
    “Jangan kamu mengadu hewan”

    Kini lagi, bel itu berklenengan
    Aku tersudut, bisu
    Dan makin merasa
    Sendirian
    1987

    LONDON, ABAD SEMBILAN BELAS

    1
    Pada ronde ke-99 yang berdarah-darah
    Petinju Simon Byrne selesai sudah
    Dia mati memuaskan penontonnya

    Tinju maut Si Tuli James Burke
    Diacung-acungkan wasit
    Para penonton berteriak gembira
    Polisi Inggeris datang bertugas
    Peraturan langsung menjerat kedua tangannya
    Tapi anehnya dia dibebaskan, tak lama
    Inilah ejekan pada undang-undang
    Walau pun ada manusia masih terlarang
    Putusan pengadilan bisa diperjual-belikan

    2
    Lalu tengoklah berbondong-bondong penonton
    Naik kereta api dari Setasiun Jambatan London
    Menuju tempat rahasia, 25 mil jauhnya
    Inilah pertandingan pertama antarbangsa
    Tom Sayers juara Britania
    Diadu John Heenan jagoan Amerika
    Sastrawan Dickens dan Thackeray menonton juga
    Sesudah 42 putaran adu manusia
    Keduanya berdarah-darah, lebam, habis daya
    Tak berketentuan wasit apa keputusannya
    Para penonton berteriak dalam histeria
    Mengacung-acungkan tinju ke udara
    Polisi melakukan interupsi
    Para juri dipisuhi, wasit dimaki-maki
    Penonton-penonton tak puas jadi buas
    Mereka lalu bertinju sesama mereka
    Mereka bergigitan seperti serigala
    Melolong bagai gorila
    Pertunjukan jadi lengkap
    Dan lumayan biadab

    3
    Itulah adegan abad sembilan belas
    Asal-usul adu manusia yang kita tidak tahu
    Tapi ujungnya kita tiru-tiru
    Sebagai bangsa minder apa saja dari Eropa dan Amerika
    Seperti kawanan bebek diturut dan ditirukan saja
    Sudah jelas ini adu manusia mereka bilang olahraga
    Seperti kambing mengembik kita setuju pula
    Inilah budaya tanpa pikir kita jiplak begitu saja

    Dari abad 19 orang masuk ke abad 20
    Di awal abad, adu manusia di sana dilarang undang-undang
    Tapi pemilik modal si orang kaya membeli undang-undang
    Disobek dicincang itu dokumen undang-undang
    Sebagai sampah hukum masuk keranjang
    Adu manusia jadi tidak lagi terlarang
    Lengkaplah bagian biadab budaya barat
    Yang garang, bringasan dan tamak pada uang
    Menjalar ke negeri sini, ditiru dan diulang-ulang
    Sudahlah minder, ditambah gebleg, kita tak kepalang

    4
    Pada hari ini akhir abad dua puluh
    Kakiku satu sudah masuk abad dua puluh satu
    Kita ketemu
    Kau ajak aku balik ke abad sembilan belas
    Lho tapi, kita ‘kan mau menembus abad 21
    Kenapa kau bujuk aku balik ke abad 19 lagi
    Mana aku mau

    Tapi kau berkeras balik kanan juga
    Kau tetap mau ditipu, adu manusia itu olahraga
    Kau menanam bibit kekerasan dan kebringasan
    Sudah berapa puluh tahun jangka waktunya
    Kau sudah panen lama kau mana tahu itu
    Bibitmu tumbuh, menyebar dan membesar
    Karena kau rabun mana bisa itu kau baca
    Ke masyarakatmu tak pernah kau berkaca
    Dan kau berkeras balik kanan juga

    Kau tak tahu sudah kusiapkan tali rafia biru
    Diam-diam kuikat kedua pergelangan tanganmu
    Kuseret kau masuk abad 21
    Masih saja kau berteriak tak tahu malu
    “Tidak mau! Tidak mau!”
    Tengoklah anak-anak yang berpikir itu
    Mereka terheran-heran melihat kamu.
    1989

    DENGAN PUISI AKU

    Dengan puisi aku bernyanyi
    Sampai senja umurku nanti
    Dengan puisi aku bercinta
    Berbaur cakrawala
    Dengan puisi aku mengenang
    Keabadian Yang Akan Datang
    Dengan puisi aku menangis
    Jarum waktu bila kejam mengiris
    Dengan puisi aku mengutuk
    Napas jaman yang busuk
    Dengan puisi aku berdoa
    Perkenankanlah kiranya

    AIR KOPI MENYIRAM HUTAN

    Tiga juta hektar
    Halaman surat kabar
    Telah dirayapi api
    Terbit pagi ini
    Panjang empat jari
    Dua kolom tegaklurus
    Dibongkar dari pik-ap
    Subuh dari percetakan
    Ditumpuk tepi jalan
    Dibereskan agen koran
    Sebelum matahari dimunculkan
    Dilempar ke pekarangan
    Dipungut oleh pelayan
    Ditaruh di mejamakan
    Ditengok secara sambilan
    Dasi tengah diluruskan
    Rambut isteri kekusutan
    Empat anak bersliweran
    Pagi penuh kesibukan
    Selai di ujung tangan
    Roti dalam panggangan
    Ketika tangan bersilangan
    Kopi tumpah di bacaan
    Menyiram tigajutahektar koran
    Dua kolom kepanjangan
    Apipadam menutup hutan
    Koranbasah dilipat empat
    Keranjang plastik anyaman
    Tempat dia dibuangkan
    Tepat pagi itu
    Jam setengah delapan.
    1988

    BERI DAKU SUMBA

    di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
    aneh, aku jadi ingat pada Umbu

    Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
    Di mana matahari membusur api di atas sana
    Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
    Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

    Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
    Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
    Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
    Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

    Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
    Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
    Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
    Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

    Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
    Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
    Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
    Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

    Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
    Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
    Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
    Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
    1970

    PANTUN TERANG BULAN DI MIDWEST

    Sebuah bulan sempurna
    Bersinar agak merah
    Lingkarannya di sana
    Awan menggaris bawah

    Sungai Mississippi
    Lebar dan keruh
    Bunyi-bunyi sepi
    Amat gemuruh

    Ladang-ladang jagung
    Rawa-rawa dukana
    Serangga mendengung
    Sampaikah suara

    Cuaca musim gugur
    Bukit membisu
    Asap yang hancur
    Biru abu-abu

    Danau yang di sana
    Seribu burung belibis
    Lereng pohon pina
    Angin pun gerimis
    1971

    BUNGA ALANG – ALANG

    Bunga alang-alang
    Di tebing kemarau
    Menggelombang

    Mengantar
    Bisik cemara
    Dalam getar

    Di jalan setapak
    Engkau berjalan
    Sendiri

    Ketika pepohon damar
    Menjajari
    Bintang pagi

    Sesudah topan
    Membarut
    Warna jingga
    Dan seribu kalong
    Bergayut
    Di puncak randu
    Di bawah bungur
    Kaupungut
    Bunga rindu

    Sementara awan
    Menyapu-nyapu
    Flamboyan

    Kemarau pun
    Berangkat
    Dengan kaki tergesa

    Dalam angin
    Yang menerbangkan
    Serbuk bunga.

    LAGU UNGGAS LAGU IKAN

    Katak rawa-rawa
    Menyanyi sendiri

    Pii
    Wii

    Serangga pepohonan
    Daun bermerahan

    Angsa menggelepar
    Dan berbunyi

    Pii
    Wii

    Ikan danau jauh
    Jerami yang luruh

    Langit mengental
    Paya-paya kristal
    Unggas sembunyi
    Hutan pun mati
    Bunyi yang sunyi
    Pii
    Wii

    SEORANG KULI TUA DI SETASIUN YOKOHAMA

    Seorang kuli tua di setasiun Yokohama
    Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota
    Berdiri agak terbungkuk di depan peron
    Handuk kecil di lehernya

    Beratus penumpang turun sepanjang ruangan
    Menari dalam kilau jendela kereta
    Ia pun menjamah koporku setelah menatapku
    Agak lama

    Hari itu musim panas di bulan Agustus
    Udara sangat lembab dan angin tak bertiup
    Menyeka dahi ditolaknya lembaran uang
    ‘Aku dulu di Semarang’

    Dengan hormat diucapkannya selamat jalan
    Ia pun kembali ke setasiun berbata-bata
    Berkaus dan bersepatu putih
    Tiba-tiba wajahnya sangat tua

    Di kapal kenapa kuingat kakak sepupuku
    Opsir Peta di Jatingaleh berlucut senjata
    Terbunuh dalam pertempuran lima hari
    Dua belas tahun yang lalu

    Hari itu musim panas di bulan Agustus
    Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota
    Seorang kuli di setasiun Yokohama
    Tiba-tiba wajahnya sangat tua.

    TENTANG SERSAN NURCHOLIS

    Seorang sersan
    Kakinya hilang
    Sepuluh tahun yang lalu

    Setiap siang
    Terdengar siulnya
    Di bengkel arloji

    Sekali datang
    Teman-temannya
    Sudah orang resmi

    Dengan senyum ditolaknya
    Kartu-anggota
    Bekas pejuang

    Sersan Nurcholis
    Kakinya hilang
    Di zaman revolusi

    Setiap siang
    Terdengar siulnya
    Di bengkel arloji

  • Kumpulan Puisi Taufik Ismail yang Melegenda

    Kumpulan Puisi Taufik Ismail yang Melegenda

    Taufik Ismail adalah salah satu sastrawan senior di Indonesia. Ia telah menciptakan begitu banyak karya sastra yang indah dan menyentuh hati.

    Untuk membaca biografi lengkap Taufik Ismail, silakan baca di sini: Biografi Taufik Ismail.

    Berikut adalah beberapa kumpulan puisi karya Taufik Ismail.

    SEBUAH JAKET BERLUMURAN DARAH

    Sebuah jaket berlumur darah
    Kami semua telah menatapmu
    Telah pergi duka yang agung
    Dalam kepedihan bertahun-tahun.

    Sebuah sungai membatasi kita
    Di bawah terik matahari Jakarta
    Antara kebebasan dan penindasan
    Berlapis senjata dan sangkur baja
    Akan mundurkah kita sekarang
    Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
    Berikara setia kepada tirani
    Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

    Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
    Kami semua telah menatapmu
    Dan di atas bangunan-bangunan
    Menunduk bendera setengah tiang.

    Pesan itu telah sampai kemana-mana
    Melalui kendaraan yang melintas
    Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
    Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
    Prosesi jenazah ke pemakaman
    Mereka berkata
    Semuanya berkata
    Lanjutkan Perjuangan.

    Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa

    Jika adalah yang harus kaulakukan
    Ialah menyampaikan kebenaran
    Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
    Ialah ang bernama keyakinan
    Jika adalah yang harus kau tumbangkan
    Ialah segala pohon-pohon kezaliman
    Jika adalah orang yang harus kauagungkan
    Ialah hanya Rasul Tuhan
    Jika adalah kesempatan memilih mati
    Ialah syahid di jalan Ilahi.

    KARANGAN BUNGA

    Tiga anak kecil
    Dalam langkah malu-malu
    Datang ke salemba
    Sore itu.

    Ini dari kami bertiga
    Pita hitam pada karangan bunga
    Sebab kami ikut berduka
    Bagi kakak yang ditembak mati
    Siang tadi.

    Salemba

    Alma Mater, janganlah bersedih
    Bila arakan ini bergerak pelahan
    Menuju pemakaman
    Siang ini.

    Anakmu yang berani
    Telah tersungkur ke bumi
    Ketika melawan tirani.

    GUGUR DALAM PENCEGATAN TAHUN EMPATPULUH-DELAPAN

    Demikian cerita kakek penjaga
    Tentang pengunjung lelaki setengah baya
    Berkemeja dril lusuh, dari luar kota
    Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya
    Datang ke musium perjuangan
    Pada suatu sore yang sepi
    Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela
    Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara
    Lelaki itu menulis kesannya di buku-tamu
    Buku tahun-keenam, halaman seratus-delapan
    Dan sebelum dia pergi
    Menyalami dulu kakek Aki
    Dengan tangannya yang dingin aneh
    Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh
    Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan
    Ke tengah gerimis di pekarangan
    Tetapi sebelum ke pagar halaman
    Lelaki itu tiba-tiba menghilang

    DOA

    Tuhan kami
    Telah nista kami dalam dosa bersama
    Bertahun-tahun membangun kultus ini
    Dalam pikiran yang ganda
    Dan menutupi hati nurani

    Ampunilah kami
    Ampunilah
    Amin

    Tuhan kami
    Telah terlalu mudah kami
    Menggunakan AsmaMu
    Bertahun di negeri ini
    Semoga Kau rela menerima kembali
    Kami dalam barisanMu

    Ampunilah kami
    Ampunilah
    Amin

    12 MEI, 1998

    Mengenang elang Mulya, Hery Hertanto,
    Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan

    Empat syuhada berangkat pada suatu malam
    gerimis air mata tertahan di hari keesokan
    telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
    dan simaklah itu sedu-sedan

    Mereka anak muda pengembara tiada sendiri,
    mengukir reformasi karena jemu deformasi
    dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru,

    Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
    Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu

    Tapi malaikat telah mencatat
    indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti
    bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani
    mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri,

    Merah putih yang setengah tiang ini
    merunduk di bawah garang matahari
    tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi,

    Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama
    dan kalian pahlawan bersih dari dendam
    karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari tuhan.

    SYAIR ORANG LAPAR

    Lapar menyerang desaku
    Kentang dipanggang kemarau
    Surat orang kampungku
    Kuguratkan kertas
    Risau
    Lapar lautan pidato
    Ranah dipanggang kemarau
    Ketika berduyun mengemis
    Kesinikan hatimu
    Kuiris
    Lapar di Gunungkidul
    Mayat dipanggang kemarau
    Berjajar masuk kubur
    Kauulang jua
    Kalau.

    MEMANG SELALU DEMIKIAN, HADI

    Setiap perjuangan selalu melahirkan
    Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
    Jangan kau gusar, Hadi.

    Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
    Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
    Jangan kau kecewa, Hadi.

    Setiap perjuangan yang akan menang
    Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
    Dan para jagoan kesiangan.

    Memang demikianlah halnya, Hadi.

  • Biografi Taufik Ismail dan Karya-Karyanya yang Melegenda

    Biografi Taufik Ismail dan Karya-Karyanya yang Melegenda

    Biografi Taufik Ismail

    Nama lengkap : Taufiq Ismail
    Tempat lahir : Fort de Kock (Bukittinggi), Sumatera Barat
    Tanggal lahir : 25 Juni 1935
    Kewarganegaraan : Indonesia
    Pekerjaan : Penulis, penyair

    Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan.

    Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.

    Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963.

    Pada tahun 1971–1972 dan 1991–1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.

    Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.

    Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962).

    Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964).

    Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.

    Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.

    Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968).

    Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968–1978).

    Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990). Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.

    Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.

    Karya-Karyanya:

    1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)
    2. Benteng, Litera ( 1966)
    3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
    4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)
    5. Puisi-puisi Langit, Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)
    6. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)
    7. Ketika Kata Ketika Warna (1995)
    8. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (1998)

    Karya terjemahan:

    Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)
    Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
    Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964).