Tag: teori

  • Apa perbedaan antara pendekatan klasik dan pendekatan keynesian dalam menjelaskan permintaan uang?

    Pendekatan klasik dan Keynesian memiliki perbedaan mendasar dalam memahami permintaan uang. Pendekatan klasik berfokus pada dua motif utama: transaksi dan berjaga-jaga.

    Suku bunga dianggap tidak signifikan dalam memengaruhi permintaan uang, dan intervensi pemerintah di pasar uang tidak diperlukan.

    Di sisi lain, Keynesian menambahkan motif spekulasi, di mana suku bunga memainkan peran penting. Permintaan uang dipengaruhi oleh output, harga, dan suku bunga.

    Kebijakan moneter dianggap penting untuk menstabilkan ekonomi, dan dapat memengaruhi output dan lapangan kerja, bukan hanya tingkat harga.

    Secara singkat, klasik melihat permintaan uang sebagai fungsi yang stabil dan tidak terpengaruh oleh suku bunga, sedangkan Keynesian melihatnya sebagai fungsi yang dinamis dan dipengaruhi oleh suku bunga.

    Perbedaan ini berimplikasi pada kebijakan moneter yang direkomendasikan untuk mencapai stabilitas ekonomi.

    Pendekatan klasik dan Keynesian merupakan dua teori ekonomi utama yang menjelaskan perilaku permintaan uang.

    Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada motif memegang uang, peran suku bunga, penekanan analisis, dan dampak kebijakan moneter.

    Motif Memegang Uang

    Klasik:

    • Transaksi: Uang dipegang untuk menyelesaikan transaksi barang dan jasa. Motif ini didorong oleh tingkat output (pendapatan) dan tingkat harga. Semakin tinggi output dan harga, semakin banyak uang yang dibutuhkan untuk transaksi.
    • Berjaga-jaga: Uang dipegang untuk keperluan darurat atau antisipasi pengeluaran tak terduga. Motif ini bersifat konstan dan tidak dipengaruhi oleh faktor ekonomi lainnya.

    Keynesian:

    • Transaksi: Sama seperti klasik.
    • Berjaga-jaga: Sama seperti klasik.
    • Spekulasi: Uang dipegang untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan suku bunga di masa depan. Investor akan memegang lebih banyak uang jika mereka mengharapkan suku bunga turun di masa depan, karena mereka dapat membeli obligasi dengan harga yang lebih tinggi kemudian.

    Peran Suku Bunga

    Klasik:

    • Suku bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan dana. Permintaan dana berasal dari pelaku ekonomi yang ingin berinvestasi, sedangkan penawaran dana berasal dari tabungan.
    • Permintaan uang hanya dipengaruhi oleh tingkat output (pendapatan) dan tingkat harga. Perubahan suku bunga tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan uang.
    • Pasar uang bersifat self-adjusting, sehingga intervensi pemerintah tidak diperlukan.

    Keynesian:

    • Suku bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang. Permintaan uang dipengaruhi oleh motif transaksi, berjaga-jaga, dan spekulasi. Penawaran uang dikendalikan oleh bank sentral.
    • Permintaan uang dipengaruhi oleh tingkat output, tingkat harga, dan suku bunga.
    • Perubahan suku bunga berpengaruh besar terhadap permintaan uang.

    Pasar uang mungkin tidak selalu self-adjusting, sehingga intervensi pemerintah diperlukan untuk menstabilkan ekonomi.

  • Teori Motivasi Apa yang Dicetuskan oleh Clayton P. Alderfer?

    Teori motivasi yang dicetuskan oleh Clayton P. Alderfer adalah teori ERG. ERG adalah akronim dari Existence, Relatedness, and Growth. Teori ini merupakan pengembangan dari teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow.

    Menurut Alderfer, manusia memiliki tiga kelompok kebutuhan inti, yaitu:

    1. Kebutuhan Eksistensi (Existence Needs): Kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup, seperti makanan, air, tempat tinggal, dan keamanan.
    2. Kebutuhan Hubungan (Relatedness Needs): Kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, seperti rasa cinta, kasih sayang, dan penerimaan.
    3. Kebutuhan Pertumbuhan (Growth Needs): Kebutuhan untuk mencapai potensi diri dan mengembangkan diri, seperti kebutuhan untuk diakui, dihargai, dan mencapai prestasi.

    Teori ERG berbeda dengan teori Maslow dalam beberapa hal:

    • Kebutuhan tidak disusun secara hierarki: Alderfer tidak percaya bahwa manusia harus memenuhi kebutuhan yang lebih rendah sebelum dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Orang dapat termotivasi oleh berbagai kebutuhan secara bersamaan.
    • Kebutuhan dapat bergerak mundur: Jika seseorang frustrasi dalam memenuhi kebutuhannya pada tingkat yang lebih tinggi, mereka mungkin kembali fokus pada kebutuhan yang lebih rendah.
    • Kebutuhan dapat saling tumpang tindih: Kebutuhan yang berbeda dapat saling terkait dan memengaruhi satu sama lain.

    Teori ERG telah banyak digunakan dalam berbagai bidang, seperti:

    • Psikologi organisasi: Untuk memahami motivasi karyawan dan meningkatkan kinerja kerja.
    • Pendidikan: Untuk membantu siswa belajar lebih efektif.
    • Pemasaran: Untuk mengembangkan produk dan layanan yang memenuhi kebutuhan konsumen.

    Berikut adalah beberapa contoh bagaimana teori ERG dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

    • Seorang karyawan yang merasa tidak dihargai oleh atasannya mungkin menjadi kurang termotivasi untuk bekerja.
    • Seorang siswa yang merasa kesepian di sekolah mungkin kesulitan untuk fokus pada pelajarannya.
    • Seorang wirausahawan yang ingin mengembangkan bisnisnya mungkin termotivasi oleh kebutuhan untuk mencapai pertumbuhan dan prestasi.

    Teori ERG adalah teori motivasi yang komprehensif dan mudah dipahami. Teori ini dapat membantu kita untuk memahami apa yang memotivasi orang lain dan bagaimana kita dapat meningkatkan motivasi diri sendiri

  • Theory of Planned Behavior Adalah? Simak Penjelasannya

    Theory of Planned Behavior Adalah? Simak Penjelasannya

    Theory of Planned Behavior (TPB) merupakan sebuah kerangka kerja psikologis yang dikembangkan untuk memahami dan memprediksi perilaku manusia.

    Dicetuskan oleh Icek Ajzen pada tahun 1985, TPB menjadi perluasan dari Teori Tindakan Beralasan dan telah banyak digunakan dalam berbagai bidang, seperti psikologi, kesehatan, komunikasi, dan pemasaran.

    Konsep Inti Teori Perilaku Terencana

    TPB berlandaskan pada tiga determinan utama yang memengaruhi niat seseorang untuk melakukan suatu perilaku:

    • Sikap terhadap Perilaku (Attitude Toward the Behavior): Keyakinan individu mengenai baik atau buruknya suatu perilaku, serta konsekuensi positif atau negatif yang ditimbulkannya.
    • Norma Subyektif (Subjective Norm): Persepsi individu terhadap ekspektasi orang lain (norma sosial) terkait perilaku tersebut.
    • Kendali Perilaku yang Dirasakan (Perceived Behavioral Control): Keyakinan individu mengenai kemudahan atau kesulitan dalam melakukan suatu perilaku.

    Niat, yang merupakan prediktor utama perilaku, dibentuk oleh kombinasi ketiga determinan ini.

    Semakin kuat niat seseorang untuk melakukan suatu perilaku, semakin besar kemungkinan mereka untuk benar-benar melakukannya.

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Determinan TPB

    Determinan TPB tidak statis, tetapi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal, seperti:

    1. Informasi dan pengetahuan: Semakin banyak informasi yang dimiliki individu tentang suatu perilaku, semakin jelas pula sikap, norma subyektif, dan kendali perilaku yang dirasakan mereka.

    2. Pengalaman pribadi: Pengalaman individu dalam melakukan suatu perilaku dapat memengaruhi keyakinan mereka tentang konsekuensi dan kemudahannya.

    3. Pengaruh sosial: Orang-orang di sekitar individu, seperti keluarga, teman, dan rekan kerja, dapat memengaruhi norma subyektif mereka.

    4. Strategi intervensi: Intervensi yang dirancang untuk mengubah sikap, norma subyektif, atau kendali perilaku yang dirasakan dapat meningkatkan niat dan perilaku individu.

    Aplikasi Teori Perilaku Terencana

    TPB telah banyak diaplikasikan dalam berbagai konteks, seperti:

    • Promosi kesehatan: Mendorong perilaku hidup sehat, seperti berhenti merokok, berolahraga, dan makan makanan bergizi.
    • Pendidikan: Meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar dan menyelesaikan tugas.
    • Pemasaran: Mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
    • Perubahan perilaku: Mendorong individu untuk mengadopsi perilaku baru, seperti menggunakan teknologi baru atau mengikuti program daur ulang.

    Kekuatan dan Kelemahan Teori Perilaku Terencana

    TPB diakui sebagai kerangka kerja yang kuat untuk memahami dan memprediksi perilaku manusia. Kelebihannya antara lain:

    • Validitas dan reliabilitas tinggi: TPB telah diuji dalam berbagai penelitian dan terbukti valid dalam memprediksi perilaku.
    • Mudah diaplikasikan: TPB mudah dipahami dan diaplikasikan dalam berbagai konteks.
    • Fleksibilitas: TPB dapat dimodifikasi untuk mengakomodasi berbagai jenis perilaku.

    Namun, TPB juga memiliki beberapa kelemahan, seperti:

    • Memerlukan pengukuran: Penerapan TPB memerlukan pengukuran determinan dan niat individu, yang bisa memakan waktu dan biaya.
    • Tidak selalu akurat: TPB tidak selalu dapat memprediksi perilaku dengan sempurna, karena faktor lain di luar determinan TPB juga dapat memengaruhi perilaku.
    • Terlalu menyederhanakan: TPB mungkin terlalu menyederhanakan proses pengambilan keputusan dan perilaku manusia yang kompleks.
  • Piaget dalam teorinya menyatakan “memasukkan informasi baru dengan menambah atau memperkaya skema atau pemahaman yang sudah ada di dalam pikiran seseorang” dikenal sebagai proses?

    Piaget dalam teorinya menyatakan “memasukkan informasi baru dengan menambah atau memperkaya skema atau pemahaman yang sudah ada di dalam pikiran seseorang” dikenal sebagai proses asimilasi.

    Asimilasi adalah salah satu dari dua proses fundamental yang digunakan individu untuk memahami dunia di sekitar mereka.

    Proses ini bekerja dengan cara menghubungkan informasi baru dengan skema yang sudah ada dalam pikiran.

    Skema adalah struktur mental yang mewakili pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang suatu konsep atau objek.

    Saat individu menemukan informasi baru, mereka akan berusaha untuk menafsirkannya berdasarkan skema yang telah mereka miliki.

    Jika informasi baru tersebut dapat dimasukkan ke dalam skema yang ada dengan mudah, maka terjadilah asimilasi.

    Informasi baru tersebut diinterpretasikan dan diingat sesuai dengan skema yang sudah ada, dan skema tersebut diperkuat atau diperkaya.

    Contoh Asimilasi:

    • Bayi yang sudah memiliki skema tentang “anjing” melihat seekor kucing untuk pertama kalinya. Bayi tersebut mungkin akan menafsirkan kucing sebagai “anjing kecil” dan memasukkan informasi baru tentang kucing ke dalam skema “anjing” yang sudah ada.
    • Seorang anak yang sudah memiliki skema tentang “mobil” melihat jenis mobil baru yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Anak tersebut mungkin akan menafsirkan mobil baru tersebut sebagai “jenis mobil baru” dan memasukkan informasi baru tentang mobil tersebut ke dalam skema “mobil” yang sudah ada.

    Perbedaan Asimilasi dan Akomodasi:

    Asimilasi berbeda dengan akomodasi, yang merupakan proses lain dalam teori Piaget.

    Akomodasi terjadi ketika individu harus mengubah skema yang sudah ada untuk memasukkan informasi baru yang tidak dapat diinterpretasikan dengan skema yang ada.

    Kesimpulan:

    Asimilasi adalah proses penting dalam perkembangan kognitif yang memungkinkan individu untuk belajar dan memahami dunia di sekitar mereka dengan menghubungkan informasi baru dengan skema yang sudah ada.

  • Pengertian Teori Psikodinamika dan Contohnya

    Teori Psikodinamika

    Teori psikodinamika adalah teori psikologi yang berfokus pada peran motivasi, emosi, dan aspek-aspek internal lainnya dalam perilaku manusia.

    Teori ini memandang manusia sebagai makhluk yang didorong oleh berbagai dorongan dan konflik yang terjadi di alam bawah sadar.

    Teori psikodinamika pertama kali dikembangkan oleh Sigmund Freud, seorang psikolog asal Austria.

    Freud percaya bahwa kepribadian manusia terbentuk melalui proses yang disebut psikoseksual.

    Proses ini dimulai sejak masa kanak-kanak dan melibatkan lima tahap perkembangan, yaitu:

    • Oral (0-1 tahun): bayi mendapatkan kepuasan dari mulutnya, seperti menyusu dan mengisap.
    • Anal (1-3 tahun): anak belajar mengendalikan buang air besar dan buang air kecil.
    • Falik (3-6 tahun): anak mengembangkan perasaan seksual terhadap orang tua lawan jenisnya.
    • Latent (6-12 tahun): anak menekan dorongan seksualnya dan fokus pada pengembangan keterampilan sosial.
    • Genital (12 tahun ke atas): remaja mengembangkan minat seksual pada orang lain.

    Menurut Freud, dorongan seksual dan agresi adalah dorongan dasar yang paling kuat dalam diri manusia.

    Dorongan-dorongan ini sering kali tidak dapat diterima secara sadar, sehingga mereka ditekan ke alam bawah sadar.

    Namun, dorongan-dorongan ini tetap dapat mempengaruhi perilaku manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Teori psikodinamika telah banyak dikritik karena dianggap terlalu menekankan pada alam bawah sadar.

    Namun, teori ini juga telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi pemahaman kita tentang perilaku manusia.

    Berikut adalah beberapa konsep penting dalam teori psikodinamika:

    • Id adalah bagian dari kepribadian yang dikendalikan oleh dorongan-dorongan dasar, seperti seksual dan agresi. Id bersifat primitif dan tidak rasional.
    • Ego adalah bagian dari kepribadian yang bertanggung jawab untuk mengendalikan dorongan-dorongan id. Ego bersifat rasional dan realistis.
    • Superego adalah bagian dari kepribadian yang mewakili nilai-nilai dan norma-norma sosial. Superego bersifat kritis dan menghukum.
    • Represi adalah mekanisme pertahanan diri yang digunakan untuk menekan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima secara sadar.
    • Transferensi adalah fenomena di mana pasien memproyeksikan perasaan dan pengalamannya ke terapis.
    • Analisis mimpi adalah teknik terapi yang digunakan untuk memahami isi alam bawah sadar melalui mimpi.

    Teori psikodinamika telah banyak digunakan dalam bidang psikologi klinis untuk memahami dan mengobati berbagai masalah psikologis, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan kepribadian.

    Contoh Teori Psikodinamika

    Berikut adalah beberapa contoh teori psikodinamika:

    Perilaku agresif

    Menurut teori psikodinamika, perilaku agresif dapat didorong oleh berbagai faktor, termasuk:

    • Dorongan agresi yang tidak terkendali
    • Mekanisme pertahanan diri, seperti proyeksi
    • Pengalaman masa kecil yang traumatis

    Misalnya, seorang anak yang sering dimarahi dan dihukum oleh orang tuanya mungkin akan mengembangkan perilaku agresif sebagai cara untuk mengekspresikan kemarahannya.

    Kecemasan

    Menurut teori psikodinamika, kecemasan dapat didorong oleh berbagai faktor, termasuk:

    • Konflik antara id, ego, dan superego
    • Mekanisme pertahanan diri yang tidak efektif
    • Pengalaman masa lalu yang tidak terselesaikan

    Misalnya, seorang anak yang sering dikritik oleh orang tuanya mungkin akan mengembangkan kecemasan sosial sebagai cara untuk menghindari kritik lebih lanjut.

    Gangguan kepribadian

    Menurut teori psikodinamika, gangguan kepribadian dapat didorong oleh berbagai faktor, termasuk:

    • Gangguan perkembangan kepribadian pada masa kanak-kanak
    • Pengalaman masa lalu yang traumatis
    • Mekanisme pertahanan diri yang tidak efektif

    Misalnya, seorang orang dewasa yang memiliki gangguan kepribadian ambang mungkin memiliki pengalaman masa lalu yang ditandai dengan pelecehan atau pengabaian.

  • Teori Ksatria Dikemukakan Oleh? Ini Jawaban yang Benar

    Teori Ksatria dikemukakan oleh C.C. Berg dan Mookerji yang beranggapan bahwa mengatakan bahwa proses kedatangan agama Hindu ke Indonesia dilangsungkan oleh para ksatria, yakni golongan bangsawan dan prajurit perang.

    Ksatria-ksatria yang berasal dari India memiliki saham yang besar yang diperoleh baik dengan cara merebut kekuasaan maupun dengan cara yang lebih halus dalam terbentuknya dinasti-dinasti yang ada di pulau Jawa.

    Kemudian para ksatria-ksatria tersebut menikahi putri-putri pribumi dari golongan terkemuka dan menghasilkan keturunan yang mengikuti sang ayah.

    Menurut teori ini, kedatangan para ksatria ke Indonesia disebabkan oleh persoalan politik yang terus berlangsung di India sehingga mengakibatkan beberapa pihak yang kalah dalam peperangan tersebut terdesak, dan para ksatria yang kalah akhirnya mencari tempat lain sebagai pelarian, salah satunya ke wilayah Indonesia.

    Teori Ksatria Menurut Moens

    Moens sependapat dengan Berg mengenai teori ksatria, hanya saja Moens menghubungkan antara mulainya dinasti-dinsati kerajaan tertentu di pulau Jawa, Sumatra, dan Malaka dengan peristiwa- peristiwa tertentu di India.

    Runtuhnya dinasti-dinasti kerajaan yang berkuasa di India membuat keturunan-keturunan dari dinasti tersebut menyingkir ke Kepulauan Indonesia yang nantinya menjadi nenek moyang dinasti-dinasti Hindu-Budha di Indonesia.

    Teori ksatria yang dikemukakan oleh Prof. Dr. J.L. Moens menyatakan bahwa ajaran Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum ksatria pada abad ke 4-6 M, namun kerap mengalami kekalahan perang.

    Kekalahan kaum ksatria tersebut membuat mereka melarikan diri hingga ke Nusantara yang kemudian berkembang menjadi kerajaan.

    F.D.K. Bosch Penentang Teori Ksatria

    Menurut pendapatnya, seandainya seorang raja India telah berhasil melakukan penaklukan-penaklukan ke negara-negara jauh, maka akan sangat wajar untuk mempermaklumkannya kepada rakyat dalam salah satu prasastinya.

    Begitu pula jika salah seorang dari keturunannya menjadi pendiri dari suatu dinasti kerajaan di negara lain. Sayangnya bukti itu tidak dijumpai baik di Indonesia maupun di India.

    Kemudian apabila benar telah terjadi percampuran antara orang asing dari India dan pribumi setidaknya dapat dijumpai sifat percampuran tersebut.

    Tipe Dravida memiliki panjang batok kepala lebih dari lebarnya, berkulit sangat gelap, dan berambut keriting atau mengombak.

    Sesuai dengan “Hukum Mendel” seharusnya akan muncul sifat ini. Akan tetapi belum pernah diketahui di manapun di Jawa atau Bali.

    Dalam segi bahasa, F.D.K. Bosch juga menyatakan keberatannya dengan teori Ksatria.

    Seharusnya dengan sendirinya orang asing dari India yang melakukan percampuran darah dengan orang Indonesia menggunakan salah satu dari bahasa-bahasa rakyat baik dari rumpun Aria, bahasa Prakit, ataupun Tamil.

    Akan tetapi pada kenyataannya bahasa yang dikenal orang pribumi adalah bahasa sansekerta yang digunakan dalam upacara suci atau dalam ilmu pengetahuan. Mereka tidak mengenal bahasa Prakrit dan Tamil.

    Sumber: Buku Silang Budaya Lokal dan Hindu Budha (Kemdikbud tahun 2017)

  • Mengenal Teori Pemrosesan Informasi, Tahapan, dan Tokoh-Tokohnya

    Mengenal Teori Pemrosesan Informasi, Tahapan, dan Tokoh-Tokohnya

    Teori Pemrosesan Informasi

    Teori pemrosesan informasi adalah teori belajar kognitif yang menggambarkan pemrosesan, penyimpanan, dan pengambilan pengetahuan dalam pikiran.

    Teori pemrosesan informasi dipelopori oleh Robert Gagne (1985) yang berasumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.

    Menurutnya, pembelajaran merupakan keluaran pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia.

    Teori pemrosesan (information processing theory) mencakup aspek lingkungan, yaitu sebagai hal yang memiliki peran yang sangat peting dalam tahap pembelajaran.

    Teori ini didefenisikan oleh Byrnes yaitu belajar sebagai untuk mendapatkan serta penyimpanan informasi dengan memori jangka pendek dan memori jangka panjang dalam hal ini belajar terjadi secara internal dalam diri peserta didik (Muhammad Yaumi, 2012).

    Teori belajar pengolahan informasi juga mencakup pada toeri kognitif yang menjelaskan tentang belajar merupakan tahap dalam diri yang tidak bisa dilihat secara langsung.

    Setiap waktu, informasi terus-menerus memasuki pikiran kita, namun sebagian besar informasi tersebut akan dibuang dan kita mungkin tidak pernah menyadarinya.

    Agar terkurangnya beban pada memori kerja, lebih memokuskan fokus pada kemampuan belajar, dan urutan pembelajaran, teori pemrosesan informasi ini penting diterapkan.

    Memori Jangka Panjang adalah bagian dari sistem memori kita tempat menyimpan suatu informasi untuk jangka waktu lama.

    Memori jangka panjang dianggap sebagai penyimpanan memori berkapasitas sangat besar dan jangka panjang.

    Faktanya banyak ahli teori terpercaya bahwa kita mungkin tidak pernah melupakan informasi dalam jangka panjang.

    Tahapan Teori Pemrosesan Informasi

    Terdapat 9 tahap yang perlu diperhatikan guru berkaitan dengan pembelajaran pemrosesan informasi:

    1. Melakukan sesuatu hal yang bisa megambil perhatian siswa.

    2. Menyalurkan pengetahuan tentang tujuan yang hendak dibahas dalam pembelajaran.

    3. Memberi stimulus kepada siswa dalam memulai kegiatan belajar

    4. Menyampaikan isi pembelajaran sesuai pada pembahasan yang sudah dirancang.

    5. Membimbing sisw dalam kegiatan pembelajaran

    6. Penguatan pada sikap pembelajaran

    7. Memberikan respon balik atas sikap yang di perlihatkan kepada siswa.

    8. Melakukan evaluasi proses serta hasil

    9. Memberikan kesempatan terhadpa siswa agar menanyakan serta menjawab berdasarkan hal yang sudah dilalui.

    Dari paparan di atas dapat disimpulkan jika model pemrosesan informasi terdapat beberapa strategi pembelajaran, yaitu mengajar induktif, latihan inquiry, inquiry keilmuan, membentuk konsep, model pengembangan serta organizer model.

    Dalam pemrosesan informasi terjadi hubungan antara keadaan individu, proses kognitif dan kondisi rangsangan dari lingkungan dari gabungan antar keduanya akan menghasilkan hasil belajar.

    Tokoh Teori Pemrosesan Informasi

    1. Robert Mills Gagne

    Robert Mills Gagne yaitu ilmuwan psikologi lahir pada tahun 1916 di North Andover, MA dan meninggal pada tahun 2002.

    Gagne adalah pemberi pada instruksi pembelajaran yang di implementasikan pada training pilot AU Amerika.

    Datangnya teori pemrosesan informasi berawal dari pembaharuan teori matematika, yang sudah dirancang oleh para peneliti dengan memiliki tujuan agar bisa menilai serta peningkatan dalam pengiriman pesan.

    2. Atkinson

    Menurut Atkinson, orang mengambil informasi melalui indera mereka. Menerima informasi pertama melalui indera disebut memori sensorik (sensory memory).

    Informasi dari indera visual berlangsung kurang dari 1 detik dalam memori sensorik, sedangkan informasi dari indera pendengaran berlangsung selama 3-4 detik.

    Menurut Akinson, memori jangka panjang dapat menyimpan informasi untuk waktu yang sangat lama, tergantung bagaimana ia digunakan.

    Ketika teknik menyampaikan informasi ke memori jangka panjang berulang atau melalui proses memori dan memori.

  • Pengertian dan Contoh Teori Belajar Behavioristik

    Pengertian dan Contoh Teori Belajar Behavioristik

    Pengertian Teori Belajar Behavioristik

    Teori belajar behavioristik adalah pendekatan untuk memahami perilaku individu melalui observasi secara langsung dengan menggunakan metode pelatihan, pembiasan, dan pengalaman.

    Teori behavioristik dalam kegiatan belajar diaplikasikan untuk memindahkan pengetahuan agar apa yang dipahami oleh guru juga dipahami oleh murid.

    Jadi, dalam penerapan teori belajar behavioristik mengedepankan perubahan perilaku siswa dalam proses pembelajaran yang dihasilkan oleh adanya interaksi antara stimulus dan respons.

    Sebagai contohnya, secara naluriah, bayi akan belajar merangkak dan melakukan aktivitas itu dengan terus-menerus.

    Namun, dibutuhkan orang lain untuk memandu dan mengajarkan cara merangkak agar bayi dapat melakukannya dengan baik.

    Begitupun dalam dunia pendidikan, guru berperan sebagai pendidik yang mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa dengan metode pelatihan, bembiasaan, serta pengalaman.

    Sederhananya, teori belajar behavioristik dapat diartikan sebagai teori yang mempelajari perilaku manusia, yang dalam dunia pendidikan adalah siswa.

    Teori belajar behavioristik banyak diterapkan di sekolah-sekolah dengan tujuan membentuk siswa untuk berperilaku baik.

    Pengertian Teori Belajar Behavioristik Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa definisi teori belajar behavioristik menurut para ahli.

    1. Thorndike (1911)

    Teori behavioristik dikaitkan dengan belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan respons (yang juga berupa pikiran, perasaan, dan gerakan).

    2. Watson

    Bahwa belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respons, namun stimulus dan respons yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur.

    3. Desmita (dalam Nahar, 2016: 65)

    Teori belajar behavioristik merupakan teori yang memahami tingkah laku yang menggunakan pendekatan objektif, mekanistik, dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada seseorang dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian.

    4. Familus (2016: 99)

    Menyatakan bahwa Teori Behavioristik merupakan teori belajar yang lebih menekankan pada perubahan tingkah laku serta sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.

    Contoh Teori Belajar Behavioristik

    Berikut ini adalah beberapa contoh teori belajar behavioristik di sekolah:

    1. Guru memberikan apresiasi kepada siswa yang dapat menjawab pertanyaan. Dengan begitu, maka siswa akan lebih giat belajar.

    2. Sekolah menerapkan aturan poin untuk setiap kesalahan. Dengan begitu, siswa akan lebih berhati-hati untuk tidak melanggar aturan.

    3. Dalam proses pembelajaran, guru akan lebih banyak memberikan contoh berupa instruksi.

    4. Guru akan lebih banyak memberikan latihan atau praktek.

    5. Guru memberi motivasi kepada siswa di sekolah.

  • Pengertian Bahasa Menurut Plato Adalah?

    Pengertian Bahasa Menurut Plato Adalah?

    Pengertian bahasa menurut Plato adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut.

    Dengan kata lain, bahasa merupakan cermin dari ide yang keluar dari pikiran seseorang dan diwujudkan dalam bentuk suara atau kata yang meluncur melalui mulut.

    Bagi Plato, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai refleksi dari gagasan yang ada dalam akal manusia.

    Plato adalah seorang filsuf besar asal Yunani yang hidup pada masa klasik. Ia merupakan murid dari Socrates dan sekaligus guru dari Aristoteles. Dari gurunya, Plato banyak belajar tentang pentingnya dialog dan pencarian kebenaran melalui percakapan.

    Namun, Plato lebih sistematis dibandingkan Socrates karena ia menyusun filsafatnya ke dalam kerangka pemikiran yang lebih runtut.

    Salah satu gagasan besar Plato yang terkenal adalah tentang teori idea atau ide. Menurutnya, ide merupakan realitas sejati yang bersifat abadi dan tidak berubah.

    Segala sesuatu yang kita lihat di dunia hanyalah bayangan dari ide yang sempurna. Pandangan ini membuat Plato sering disebut sebagai bapak filsafat idealisme.

    Selain dikenal lewat gagasan filosofisnya, Plato juga mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang bernama Akademi Platonik di Athena.

    Lembaga ini dianggap sebagai sekolah tingkat tinggi pertama di dunia Barat dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan serta filsafat pada masanya. Dari sinilah lahir banyak pemikir yang turut mewarnai sejarah peradaban manusia.

    Dalam pandangan ilmu alam, Plato juga memiliki kecenderungan untuk menyetujui pemikiran Pythagoras, terutama dalam hal hubungan antara angka, harmoni, dan keteraturan alam semesta.

    Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Plato tidak hanya terbatas pada bidang etika dan metafisika, tetapi juga merambah ke ranah ilmu pengetahuan.

  • Prinsip Relevansi Adalah? Berikut Penjelasan Menurut Ahli

    Prinsip Relevansi Adalah? Berikut Penjelasan Menurut Ahli

    Pengertian Prinsip Relevansi

    Prinsip relevansi adalah prinsip kesesuaian atau kecocokan, dimana sesuatu saling berkaitan dan berhubungan.

    Dalam pendidikan, prinsip relevansi adalah sistem pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan zaman sehingga siswa mendapat bekal wawasan yang berguna untuk bekal kehidupan.

    Menurut Sukmadinata (2007), prinsip relevansi terdiri dari dua jenis, yaitu relevansi internal dan relevansi eksternal.

    Relevansi internal

    Relevansi internal dalah adanya kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum seperti tujuan, isi, proses penyampaian dan evaluasi, atau dengan kata lain relevansi internal menyangkut keterpaduan komponen-komponen dalam kurikulum.

    Relevansi eksternal

    Sedangkan relevansi eksternal adalah kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan dalam masyarakat.

    Relevansi Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian relevansi menurut para ahli.

    1. Menurut Burhan Nurgiyantoro (1998: 50)

    Sementara dalam dunia pendidikan, Burhan Nurgiyantoro (1998:50) mengartikan prinsip relevansi sebagai berikut:

    Adanya kesatuan antara hasil pendidikan (lingkungan sekolah) dengan tuntutan kehidupan yang ada di masyarakat. Sehingga sistem pendidikan dapat dikatakan relevan jika lulusan yang dihasilkan suatu lembaga pendidikan berguna bagi kehidupan.

    Begitupun sebaliknya, jika kompetensi lulusan suatu lembaga pendidikan kurang fungsional bagi keperluan kehidupan, berarti sistem pendidikan yang dijalankan kurang relevan dengan tuntutan kehidupan.”

    2. Menurut Nurgiyantoro (1998:51)

    Relevansi pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi.

    Pertama,  relevansi pendidikan dengan lingkungan peserta didik atau masyarakat setempat
    Kedua, relevansi pendidikan kaitannya dengan tuntutan pekerjaan.
    Ketiga, relevansi pendidikan kaitannya dengan perkembangan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.

    3. Subandijah (1993; 48).

    Relevansi adalah kesesuaian dan keserasian pendidikan dengan tuntutan masyarakat.

    4. Menurut Suharto dan Tata Iryanto

    Relevansi adalah kesesuaian sesuatu yang diinginkan, Sedang menurut Poerwadarminta bahwa relevansi adalah kesesuaian keberadaan sesuatu pada tempatnya atau yang diinginkan.

    5. Menurut Ali (2009)

    Pengertian relevansi pendidikan adalah kesesuaian antara kemampuan atau sekill yang diperoleh melalui jenjang pendidikan dengan kebutuhan pekerjaan.

    6. Menurut Poerwadarminta

    Pengertian relevansi adalah kesesuaian keberadaan sesuatu atau gaya kepemimpinan yang diinginkan oleh suatu kelompok.

    7. Menurut Ainon Mohd

    Relevansi adalah kaitan atau hubungan erat terkait pokok masalah yang sedang dihadapi. Relevansi merupakan pengembangan dari kata relevan. Secara bahasa relevansi memiliki arti keterkaitan, hubungan atau kecocokan.

    Sedangkan secara istilah, relevansi adalah sesuatu yang mempunyai kecocokan atau saling berhubungan. Pada intinya relevansi adalah keterkaitan hubungan atau kecocokan, begitu juga menurut KBBI yaitu saling berhubungan dan berkaitan.

    8. Menurut Green (1995:16)

    Relevansi adalah suatu sifat yang terdapat pada dokumen  yang bisa membantu pengarang dalam memecahkan kebutuhan informasi.

    9. Menurut Joan M. Reitz

    Menurut Joan M. Reitz, relevan adalah sebuah informasi dalam pencarian pada koleksi perpustakaan seperti data bibliografi, yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pengguna.