Tag: teori

  • Tiga unsur pokok penting dalam konsep belajar adalah?

    Menurut Gagne (1984) belajar adalah suatu proses dimana suatu organisma berubah perilakunya akibat pengalaman.

    Ada tiga unsur pokok penting dalam konsep belajar adalah proses, perubahan perilaku, dan pengalaman.

    1. Proses: Aktivitas-aktivitas yang terjadi selama pembelajaran adalah proses mental, emosional, dan pikiran siswa. Misalnya siswa bertanya, mempelajari, menjawab, dan diskusi.
    2. Perubahan perilaku: Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan perilaku sebagai akibat dari kegiatan belajarnya.
    3. Pengalaman: Belajar dapat dilakukan melalui pengalaman langsung maupun pengalaman tidak langsung.

    Sementara, Rifa’i dan Ani (2012, h. 68) mengatakan bahwa unsur-unsur dalam belajar yaitu:

    • Pembelajar, meliputi peserta didik, pembelajar dan warga belajar.
    • Rangsangan (stimulus), sesuatu yang merangsang pengindaraan pembelajar agar mampu belajar optimal.
    • Memori, berisi berbagai kemampuan yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari aktivitas belajar sebelumnya.

    Dengan memperhatikan pandangan dari Gagne serta Rifa’i dan Ani, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu aktivitas kompleks yang melibatkan berbagai aspek dalam diri individu.

    Tidak hanya sekadar menghafal atau menerima informasi, belajar mencakup proses internal yang aktif dan dinamis, dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan stimulus yang diterima.

    Setiap pembelajar memiliki karakteristik unik yang menentukan cara dan kecepatan mereka dalam menerima serta mengolah informasi.

    Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran, penting bagi pendidik untuk memberikan stimulus yang sesuai dan variatif agar dapat mengaktifkan memori serta meningkatkan motivasi belajar.

  • Semiotika Menurut Ferdinand de Saussure Adalah?

    Semiotika Menurut Ferdinand de Saussure Adalah?

    Semiotika menurut Ferdinand de Saussure adalah ilmu yang mempelajari peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Pemikiran ini dituangkan dalam karyanya Course in General Linguistics yang ditulis pada rentang tahun 1857 hingga 1913.

    Saussure menegaskan bahwa tanda bukan sekadar lambang atau simbol, melainkan sebuah sistem yang hidup di tengah masyarakat, digunakan untuk berkomunikasi, serta menjadi sarana untuk membangun pemahaman bersama.

    Ferdinand de Saussure adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Swiss yang dikenal luas sebagai pelopor kajian linguistik modern.

    Pemikirannya memberi landasan bagi lahirnya ilmu semiotika yang kemudian berkembang pesat dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari bahasa, sastra, komunikasi, hingga budaya.

    Dengan gagasannya, ia berhasil menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya alat untuk berbicara, melainkan juga sebuah struktur sosial yang penuh aturan.

    Dalam penjelasannya, Ferdinand de Saussure menggunakan istilah semiologi untuk menyebut kajian tentang tanda. Semiologi ini menurutnya memiliki peran penting karena setiap tindakan, ucapan, maupun perilaku manusia selalu membawa makna.

    Selama suatu perbuatan dapat dipahami sebagai tanda, maka di baliknya pasti terdapat sistem perbedaan dan konvensi yang mengatur.

    Dengan kata lain, tanda tidak pernah berdiri sendiri, tapi selalu berhubungan dengan tanda lain dalam suatu sistem yang memberi arti dan memungkinkan orang untuk memahami maksud yang ingin disampaikan.

    Saussure menegaskan bahwa di mana ada tanda, di sana pasti ada sistem yang menopang keberadaannya.

    Pandangan ini sebagaimana dikutip oleh Hidayat dalam tulisannya pada tahun 1998 halaman 26, menekankan bahwa tanda hanya bisa dipahami melalui keterkaitannya dengan tanda lain dalam suatu jaringan makna.

    Dengan kerangka inilah semiologi kemudian dipahami sebagai ilmu yang menyingkap aturan, perbedaan, dan kesepakatan sosial yang membuat sebuah tanda bermakna bagi manusia.

  • Jelaskan Pandangan Yusuf Al Qardhawi Tentang Demokrasi Secara Singkat

    Jelaskan pandangan yusuf al qardhawi tentang demokrasi secara singkat.

    Jawaban:

    Pandangan Yusuf al-Qaradhawi tentang demokrasi adalah sarana atau alat yang mudah untuk mewujudkan suatu tujuan hidup bagi seorang muslim.

    Menurut Al-Qardhawi, substansi demokrasi sejalan dengan ajaran Islam.

    Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal, diantaranya:

    • Dalam demokrasi proses pemilihan melibatkan banyak orang untuk mengangkat seorang kandidat yang berhak memimpin dan mengurus keadaan mereka;
    • Usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan dengan Islam;
    • Pemilihan umum termasuk jenis pemberian saksi yang juga sejalan dengan Islam;
    • Penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas juga tidak bertentangan dengan prinsip Islam;
    • Juga kebebasan pers dan kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas pengadilan merupakan sejumlah hal dalam demokrasi yang sejalan dengan Islam.
  • Postmodernisme: Pengertian Menurut Ahli, Ciri dan Tokohnya

    Postmodernisme: Pengertian Menurut Ahli, Ciri dan Tokohnya

    Pengertian Postmodernisme

    Postmodernisme adalah sebuah istilah yang sering digunakan dalam kajian filsafat, seni, sastra, hingga ilmu sosial.

    Konsep ini muncul sebagai bentuk reaksi sekaligus kritik terhadap modernisme yang dianggap gagal memenuhi janji-janjinya, terutama dalam hal membawa kemajuan, kebebasan, dan kesejahteraan manusia.

    Berbeda dengan modernisme yang menekankan rasionalitas, objektivitas, dan kepastian, postmodernisme justru hadir dengan watak yang lebih cair, relatif, dan terbuka terhadap keragaman pandangan.

    Karena alasan inilah postmodernisme sering dipahami sebagai gerakan yang menggugat fondasi berpikir lama sekaligus menawarkan cara pandang baru terhadap dunia.

    Fenomena postmodernisme tidak hanya berhenti pada ranah teori, melainkan juga merambah ke dalam praktik kehidupan sehari-hari.

    Konsep ini terlihat dalam cara manusia berinteraksi, memproduksi budaya, hingga memahami identitas dirinya.

    Pengertian Postmodernisme Menurut Para Ahli

    Oleh karena itu, untuk memahami lebih jauh tentang apa yang dimaksud dengan postmodernisme, diperlukan pandangan dari para ahli yang menelaahnya melalui perspektif berbeda.

    Pendapat-pendapat para ahli inilah yang akan memberi gambaran lebih jelas mengenai pengertian postmodernisme dalam berbagai konteks.

    1. Sarup (2003: 231-232)

    Postmodernisme adalah gerakan kultural yang semula terjadi di masyarakat Barat tetapi telah menyebar ke seluruh dunia, khususnya dalam bidang seni.

    2. Pauline Rosenau (1992)

    Postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya.

    3. Emanuel (2006: 93)

    Postmodernisme adalah keseluruhan usaha yang bermaksud merevisi kembali paradigma modern.

    4. Ghazali & Effendi (2009: 161)

    Postmodernisme mengoreksi modernisme yang tidak terkendali yang telah muncul sebelumnya.

    5. Louis Leahy

    Postmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide ide zaman modern (Leahy, 1985: 271).

    Ciri Ciri Postmodernisme

    • Timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas.
    • Meledaknya industri media massa.
    • Munculnya radikalisme etnis dan keagamaan akibat reaksi ketika orang semakin meragukan terhadap kebenaran sains, teknologi dan filsafat yang dinilai gagal memenuhi janjinya untuk membebaskan manusia.
    • Munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan rasionalisme dengan masa lalu.
    • Semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban) sebagai pusat kebudayaan dan wilayah pedesaan sebagai daerah pinggiran.
    • Semakin terbukanya peluang bagi klas-klas sosial atau kelompok untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas.
    • Era postmodernisme juga ditandai dengan munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya eklektisisme. (Baca Pengertian Eklektisisme)
    • Bahasa yang digunakan dalam wacana postmodernisme cenderung mengesankan ketidakjelasan makna dan banyak mengandung paradoks.
    • Berwatak relativisme, artinya pemikiran postmodernisme dalam hal realitas budaya (nilai nilai, kepercayaan, dan lainnya) tergambar dalam teori-teori yang
      dikembangkan oleh disiplin ilmu antropologi.

    Tokoh-Tokoh Postmodernisme

    Ada beberapa tokoh yang bisa disebut mewakili era teori Postmodernisme. Diantaranya:

    1. Jean-Francois Lyotard, merupakan salah satu filsuf postmodernisme cukup terkenal diantaranya tokoh-tokoh filsuf postmodernisme lainnya.

    2. Charles Sanders Peirce, ahli semiotika, logika, dan matematika.

    3. Roman Osipocich Jakobson, seorang linguist, ahli sastra, dan semiotikus yang lahir di Rusia (1896-1982)

    4. Jan Mukarovsky, Pengikut strukturalisme Praha yang lahir di Bohemia (1891-1975).

    5. Hans Robert Jauss, Ahli sastra dan kebudayaan abad pertengahan asal Jerman.

    6. Jurij Mikhailovich Lotman, seorang ahli semiotika struktural yang lahir di rusia (1922).

    7. Roland Barthes, seorang ahli semiotika, kritikus sastra, khususnya naratologi yang lahir di Cherbourg, Perancis (1915-1980).

    8. Umberto Eco, semiotikus, kritikus, novelis, dan jurnalis, lahir di Piedmot, Italia (1932).

  • Pengertian Eklektisisme dan Tokoh-Tokohnya

    Pengertian Eklektisisme dan Tokoh-Tokohnya

    Pengertian Eklektisisme

    Eklektisisme merupakan sebuah sikap berfilsafat yang lahir dari upaya untuk tidak terpaku pada satu sistem pemikiran saja, melainkan berusaha mengambil teori-teori yang telah ada sebelumnya, kemudian memilah, mengkaji ulang, serta menggabungkannya agar menghasilkan nilai yang lebih berguna bagi kehidupan manusia.

    Dengan pendekatan ini, eklektisisme menolak sikap dogmatis yang hanya berpaku pada satu aliran, dan sebaliknya lebih mengedepankan keterbukaan dalam memilih gagasan terbaik dari berbagai sumber pemikiran.

    Secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa Yunani eklekticos yang diturunkan dari kata eklegein yang berarti memilih.

    Dalam kamus Webster’s sebagaimana dikutip Qodri Azizy, istilah eclectic diartikan sebagai choosing atau selecting from various systems, doctrines, or sources, yakni tindakan memilih dari beragam sistem, doktrin, atau sumber yang berbeda.

    Dengan kata lain, eklektisisme adalah sebuah cara berpikir yang berupaya menemukan kebenaran dengan menyaring dan menggabungkan berbagai unsur yang dianggap bermanfaat.

    Dalam bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV mendefinisikan kata “eklektik” sebagai sikap yang bersifat memilih yang terbaik dari berbagai sumber.

    Definisi ini menunjukkan bahwa eklektisisme bukanlah sekadar mengumpulkan berbagai teori secara acak, tetapi justru menekankan pada proses seleksi yang kritis sehingga hanya nilai-nilai tertentu yang dianggap relevan dan berguna yang kemudian dipakai.

    Jika ditinjau dari perspektif bahasa Arab, istilah eklektisisme memiliki kedekatan makna dengan konsep talfiq.

    Perbedaannya, bila eklektik dimaknai sebagai memilih sesuatu yang lebih baik di antara berbagai hukum atau pendapat, maka talfiq berarti mengamalkan lebih dari satu pandangan atau mazhab yang sama-sama dianggap baik.

    Hal ini memperlihatkan bahwa esensi eklektisisme adalah fleksibilitas dalam berpikir, tanpa harus menolak kebenaran yang datang dari sumber-sumber berbeda

    Tokoh Tokoh Eklektisisme

    Berdasarkan berbagai sumber yang dihimpun, berikut ini adalah tokoh-tokoh berikut dikenal sebagai perwakilan kecenderungan eklektik dalam berbagai periode sejarah pemikiran

    1. Panaetius dan Posidonius

    Filsuf Stoik dari era Helenistik yang menyerap berbagai ide dari aliran filsafat berbeda dan mengolahnya ke dalam pandangan Stoik yang lebih inklusif.

    2. Carneades dan Philo dari Larissa

    Tokoh-tokoh dari Akademi Baru (New Academy) yang juga dikenal karena pendekatan mereka yang tidak dogmatis, melainkan selektif dan integratif terhadap berbagai sistem pemikiran.

    3. Antiochus dari Askalon

    Suksesor Philo dan guru Cicero memainkan peran kunci dalam transisi Akademi dari skeptisisme menuju eklektisisme, menyelaraskan elemen keketatan Stoik, Aristotelian, dan Akademik menjadi satu sistem kompromi.

    4. Cicero (106–43 SM)

    Orator dan negarawan Romawi yang dikenal karena kemampuan menggabungkan ajaran Peripatetik, Stoik, dan Akademi Baru menjadi suatu pandangan etis dan retoris yang eklektik.

    5. Varro dan Seneca

    Tokoh-tokoh Romawi lainnya yang juga mengadopsi pendekatan eklektik dalam pemikiran mereka, meskipun kontribusinya kurang banyak dituliskan secara eksplisit dalam literatur modern.

    6. Victor Cousin (1792–1867)

    Filsuf Prancis yang menjadi tokoh utama eklektisisme modern—menyatukan berbagai unsur penting dari tradisi filsafat, khususnya dalam konteks Kebangkitan Pencerahan.

  • Pengertian Teori Konstruktivistik dan Jenisnya

    Pengertian Teori Konstruktivistik dan Jenisnya

    Pengertian Teori Konstruktivistik

    Karli (2003:2) menyatakan bahwa konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif yang hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri dan pada akhir proses belajar, pengetahuan akan dibangun oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya.

    Poedjiadi (2005:70) juga menyampaikan bahwa “konstruktivisme bertitik tolak dari pembentukan pengetahuan dan rekonstruksi pengetahuan, yaitu mengubah pengetahuan yang dimiliki seseorang yang telah dibangun atau dikonstruk sebelumnya dan perubahan itu sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungannya”.

    Konstruktivisme adalah aliran filsafat pengetahuan yang berpendapat bahwa pengetahuan (knowledge) merupakan hasil konstruksi (bentukan) dari orang yang sedang belajar.

    Maksudnya setiap orang membentuk pengetahuannya sendiri (Kukla, 2003: 39).

    Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Matthews, dalam Paul Suparno,1997 : 18-17).

    Piaget (http://id.wikipedia.org/wiki/Teori Belajar Piaget) bahwa semua pengetahuan adalah suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan atau tindakan seseorang.

    Pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman atau dunia sejauh dialaminya.

    Proses pengetahuan berjalan terus menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru.

    Konstruktivistik merupakan perkembangan teori belajar Kognitif. Kostruktivisme berangkat dari keyakinan bahwa pengetahuan adalah suatu proses pembentukan yang terus menerus berkembang dan berubah. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang.

    Pengetahuan bukan merupakan sesuatu yang tertentu atau tetap, melainkan suatu proses untuk menjadi tahu.

    Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

    Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan.

    Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektifitas, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran.

    Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.

    Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut, dengan:

    • Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
    • Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri
    • Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar

    Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme adalah suatu pandangan yang mendasarkan bahwa perolehan pengetahuan atau konstruksi (bentukan) dari orang yang sedang belajar yang diawali dengan terjadinya konflik kognitif yang pada akhir proses belajar pengetahuan akan dibangun oleh melalui pengalamannya dari hasil interkasi dengan lingkungannya.

    Konstruktivistik dapat dilakukan dengan memberikan masalah pada siswa.

    Pemberian masalah dimaksudkan untuk merangsang siswa agar berpendapat dan berpikir kritis ketika mereka dihadapkan pada fakta-fakta baru.

    Siswa diperlakukan sebagai pemikir-pemikir, atau dilatih untuk menjadi pemikir, bukan hanya sebagai penerima pasif pengetahuan.

    Pembelajaran konstruktivistik lebih menekankan kepada peningkatan keterampilan proses belajar, tidak semata-mata pada hasil belajar.

    Untuk mencapai tujuan belajar, strategi yang dijalankan guru adalah menciptakan belajar kolaboratif, yang memungkinkan pembahasan suatu masalah dari berbagai sudut pandang.

    Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivistik

    Yuleilawati (2004:54) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran konstruktivis menurut beberapa literatur yaitu sebagai berikut:

    • Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya
    • Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia
    • Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman
    • Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
    • Belajar harus disituasikan dalam latar (setting) yang realistik, penilaian harus terintegrasi dengan tugas dan bukan merupakan kegiatan yang terpisah.

    Sedangkan menurut Siroj (http://www.depdiknas.go.id/ Jurnal/43/rusdy-a-siroj.htm) ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis adalah:

    • Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
    • Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
    • Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
    • Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.
    • Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
    • Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga menjadi menarik dan siswa mau belajar.

    Pembelajaran konstruktivistik dapat dikenali melalui ciri-cirinya yang antara lain sebagai berikut:

    • Adanya kerjasama;
    • Saling menunjang;
    • Menyenangkan, tidak membosankan;
    • Belajar dengan bergairah;
    • Pembelajaran terintegrasi;
    • Menggunakan bebagai sumber;
    • Siswa aktif, sharing dengan teman;
    • Siswa kritis, guru kreatif;
    • Laporan kepada orang tua berwujud, rapor, hasil karya siswa, laporan praktikum, dan karangan siswa, dsb.

    Menurut Suparno (1997:49) secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara sosial; (2) pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar; (3) siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah; (4) guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.

    Dalam proses itu, menurut Glasersfeld (Suparno, 1997: 20), diperlukan beberapa kemampuan sebagai berikut: (1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (2) kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan, dan (3) kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu daripada yang lain.

  • Pengertian Teori Strukturalisme Menurut Para Ahli

    Pengertian Teori Strukturalisme Menurut Para Ahli

    Pengertian Teori Strukturalisme

    Teori strukturalisme sastra merupakan sebuah teori pendekatan terhadap teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks. Unsur-unsur teks secara berdiri sendiri tidaklah penting.

    Unsur-unsur itu hanya memperoleh artinya di dalam relasi, baik relasi asosiasi ataupun relasi oposisi.

    Relasi-relasi yang dipelajari dapat berkaitan dengan mikroteks (kata, kalimat), keseluruhan yang lebih luas (bait, bab), maupun intertekstual (karya-karya lain dalam periode tertentu).

    Relasi tersebut dapat berwujud ulangan, gradasi, ataupun kontras dan parodi (Hartoko, 1986: 135-136).

    Istilah kritik strukturalisme secara khusus mengacu kepada praktik kritik sastra yang mendasarkan model analisisnya pada teori linguistik modern.

    Tetapi umumnya strukturalisme mengacu kepada sekelompok penulis di Paris yang menerapkan metode dan istilah-istilah analisis yang dikembangkan oleh Ferdinan de Saussure (Abrams, 1981: 188-190).

    Strukturalisme menentang teori mimetik, yang berpandangan bahwa karya sastra adalah (tiruan kenyataan), teori ekspresif, yang menganggap sastra pertama-tama sebagai ungkapan perasaan dan watak pengarang, dan menentang teori-teori yang menganggap sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembacanya.

    Pengertian Teori Strukturalisme Menurut Para Ahli:

    1). Ferdinand de Saussure

    Meletakkan dasar bagi linguistik modem melalui mazhab yang didirikannya, yaitu mazhab Jenewa.

    Menurut Saussure prinsip dasar linguistik adalah adanya perbedaan yang jelas antara signifiant (bentuk, tanda, lambang) dan signifie (yang ditandakan), antara parole (tuturan) dan langue (bahasa), dan antara sinkronis dan diakronis.

    Dengan klasifikasi yang tegas dan jelas ini ilmu bahasa dimungkinkan berkembang menjadi ilmu yang otonom, di mana fenomena bahasa dapat dijelaskan dan dianalisis tanpa mendasarkan dirt atas apa pun yang letaknya di luar bahasa.

    Saussure membawa perputaran perspektif yang radikal dart pendekatan diakronik ke pendekatan sinkronik.

    Sistem dan metode linguistik mulai berkembang secara ilmiah dan menghasilkan teori-teori yang segera dapat diterima secara luas.

    Keberhasilan studi linguistik kemudian diikuti oleh berbagai cabang ilmu lain seperti antropologi, filsafat, psikoanalisis, puisi, dan analisis cerita.

    2). Jan Mukarovsky

    Memperkenalkan konsep kembar artefakta-objek-estetik. Sastra dianggap sebagai sebuah fakta semiotik yang tetap. Teks-teks sastra dianggap sebagai suatu tanda majemuk dalam konteks luas yang meliputi sistem-sistem sastra dan sosial.

    3). Sklovsky

    Mengembangkan konsep otomatisasi dan deotomatisasi, yang serupa dengan konsep Roman Jakobson tentang familiarisasi dan defamiliarisasi.

    Dasar anggapan mereka adalah bahwa bahasa sastra sering kali memunculkan gaya yang berbeda dari gaya bahasa sehari-hari maupun gaya bahasa ilmiah.

    Struktur bahasa ini pun sering kali menghadirkan berbagai pola yang menyimpang dan tidak biasa.

    4). Roland Barthes dan Julia Kristeva (Strukturalisme Perancis)

    Mengambangkan seni penafsiran struktural berdasarkan kode-kode bahasa teks sastra.

    Melalui kode bahasa itu, diungkapkan kode-kode retorika, psikoanalitis, sosiokultural.

    Mereka menekankan bahwa sebuah karya sastra haruslah dipandang secara otonom.

    Puisi khususnya dan sastra umumnya harus diteliti secara objektif (yakni aspek intrinsiknya).

    Keindahan sastra terletak pada penggunaan bahasanya yang khas yang mengandung efek-efek estetik.

    Aspek-aspek ekstrinsik seperti ideologi, moral, sosiokultural, psikologi, dan agama tidaklah indah pada dirinya sendiri melainkan karena dituangkan dalam cara tertentu melalui sarana bahasa puitik.

    5). Yoseph (1997:38)

    Menjelaskan bahwa teori strukturalisme sastra merupakan sebuh teori pendekatan terhadap teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks.

  • 19 Pengertian Teori Menurut Para Ahli

    19 Pengertian Teori Menurut Para Ahli

    Pengertian Teori

    Pengertian teori adalah pendapat atau konsep yang disandarkan pada hasil penelitian dan didukung oleh data serta argumentasi.

    Teori sendiri seringkali dianggap sebagai sebuah pemikiran saja, yang tanpa adanya tindakan. Namun, sesungguhnya setiap praktek memerlukan teori agar landasannya lebih terarah.

    Pengertian Teori Menurut Para Ahli

    Adapun pengertian teori menurut para ahli adalah sebagai berikut.

    1. Jonathan H. Turner

    Teori adalah sebuah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi.

    2. Littlejohn & Karen Foss

    Teori merupakan sebuah sistem konsep yang abstrak dan hubungan-hubungan konsep tersebut yang membantu kita untuk memahami sebuah fenomena.

    3. Kerlinger (1973)

    Definisi teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proporsi yang menyajikan gejala-gejala sistematis, merinci hubungan antar variable-variabel, dengan tujuan meramalkan dan menerangkan gejala tersebut,

    4. Nazir

    Teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian.

    5. Stevens

    Teori adalah suatu pernyataan yang isinya menyebabkan atau mengkarakteristikkan beberapa fenomena.

    6. Fawcett

    Definisi teori adalah suatu deskripsi fenomena tertentu, suatu penjelasan tentang hubungan antar fenomena atau ramalan tentang sebab akibat satu fenomena pada fenomena yang lain.

    7. Travers

    Teori terdiri dar generalisasi yang dimaksudkan untuk menjelaskan dan memprediksi sebuah fenomena

    8. Emory-Cooper

    Teori merupakan suatu kumpulan konsep, definisi, proposisi, dan variable yang berkaitan satu sama lain secara sistematis dan telah digeneralisasikan , sehingga dapat menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena (fakta-fakta) tertentu

    9. Calvin S. Hall & Gardner Linzey

    Teori adalah hipotesis (dugaan sementara) yang belum terbukti atau spekulasi tentang kenyataan yang belum diketahui secara pasti

    10. King

    Teori adalah sekumpulan konsep yang ketika dijelaskan memiliki hubungan dan dapat diamati dalam dunia nyata.

    11. Manning

    Teori adalah seperangkat asumsi dan kesimpulan logis yang mengaitkan seperangkat variabel satu sama lain. Teori akan menghasilkan ramalan-ramalan yang dapat dibandingkan dengan pola-pola yang diamati.

    12. Menurut Siswoyo

    Dalam Mardalis, 2003:42, Teori diartikan sebagai seperangkat konsep dan definisi yang saling berhubungan yang mencerminkan suatu pandangan sistematik mengenai fenomena dengan menerangkan hubungan antar variable, dengan tujuan untuk menerangkan dan meramalkan fenomena.

    13. Menurut Hoy Dan Miskel

    Dalam Sugiyono, 2010:55, Teori ialah seperangkat konsep, asumsi dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan perilaku dalam berbagai organisasi.

    14. Menurut Mike Bal (1985)

    Teori merupakan “a theory is a systematic set of generalized statements about a particular segment of reality”.

    15. Menurut Heinan (1985)

    Teori merupakan ” a group of logically organized laws or relationships that constitute explainnation in a discipline”.

    16. Menurut John W Creswell, 1993:120

    Teori merupakan serangkain bagian atau variabel definsi dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variable, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.

    17. Menurut Labovitz & Hagedorn

    Teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variable-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.

    18. Menurut Talcott P dan Robert

    Definisi teori adalah seperangkat penyataan-pernayataan yang secara sistematit berhubungan atau sering disebut teori adalah sekumpulan definisi konsep dan porposisi yang saling berkaitan yang menghadirkan suatu tujuan yang sistematic atau fenomena yang ada dengan menunjukan hubungan yang khas di antara variabel-variabel.

    19. Menurut KBBI

    Menurut KBBI, teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian, azas dan hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan, dan pendapat/cara/aturan untuk melakukan sesuatu.

  • Cara Melakukan Analisis Instruksional

    Cara Melakukan Analisis Instruksional

    Menurut (Dick and Carey 2005) analisis instruksional adalah sebagai tahapan proses yang merupakan keseluruhan dari pemaparan bagaimana perancang menentukan komponen utama dari tujuan instruksional melalui kegunaan analisis tujuan (goal analysis), dan bagaimana setiap langkah dalam tujuan tersebut dapat dianalisis untuk mengidentifikasi keterampilan subordinate atau keterampilan prasyarat.

    Untuk melakukan analisis intruksional dapat melalui langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Menuliskan kompetensi umum yang telah anda tulis dalam TIU untuk mata pelajaran yang sedang anda kembangkan.

    2. Menulis setiap subkompetensi yang menurut anda menjadi bagian dari kompetensi umum tersebut. Jumlah berkisar antara 5-10 buah.

    3. Menyususn subkompetensi tersebut kedalam suatu daftar dalam urutan yang logis dimulai dari kompetensi umum, subkompetensi yang paling dekat hubungannya dengan kompetensi umum, dan diteruskan mundur sampai subkompetsnsi yang paling jauh dengan subkompetensi umum.

    4. Menambah atau mengurangi subkompetensi tersebut jika diperlukan. Tanamkan dalam pikiran anda bahwa harus berusaha melengkapi subkompetensi tersebut.

    5. Menuliskan setiap subkompetensi tersebut dalam suatu lembar yang berukuran 3 x 5 cm.

    6. Menyusun kartu tersebut diatas meja atau lantai dengan menempatkannya dalam struktur hirarkis, procedural atau pengelompokan menurut kedudukan masing-masing terhadap kartu yang lain.

    7. Letakkan secara horizontal untuk kartu yang memiliki struktur procedural atau pengelompokan, dan secara vertical untuk kartu yang memiliki struktur hirarkis.

    8. Jika perlu, tambahkan subkompetensi yang lain yang dianggap perlu atau kurangi yang dianggap lebih.

    9. Menggambar letak setiap subkompetensi tersebut dalam bentuk kotak-kotak pada lembar kertas sesuai dengan letak kartu yang telah disusun.

    10. Meneliti kemungkinan menghubungkan kompetensi umum yang satu dan yang lain atau berbagai subkompetensi yang berada dibawah kompetensi umum yang berbeda.

    11. Memberi nomor urut pada setiap subkompetensi dimulai dari yang terjauh dari kompetensi umum hingga yang terdekat dengan kompetyensi umum.

    12. Mengonsultasikan atau mendiskusikan bagan yang telah disusun dengan teman sejawat untuk mendapat masukan.

  • Pengertian Analisis Instruksional, Fungsi, dan Contohnya

    Pengertian Analisis Instruksional, Fungsi, dan Contohnya

    Pengertian Analisis Instruksional

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.

    Sedangkan instruksional adalah : instruksional/in·struk·si·o·nal/ a tentang atau bersifat pengajaran; mengandung pelajaran (petunjuk, penerangan)

    Menurut (Dick and Carey 2005) analisis instruksional adalah sebagai tahapan proses yang merupakan keseluruhan dari pemaparan bagaimana perancang menentukan komponen utama dari tujuan instruksional melalui kegunaan analisis tujuan (goal analysis), dan bagaimana setiap langkah dalam tujuan tersebut dapat dianalisis untuk mengidentifikasi keterampilan subordinate atau keterampilan prasyarat

    Jadi, dapat disimpullkan bahwa analisis instruksional adalah proses penjabaran dari perilaku umum ke perilaku khusus di mana kegiatan tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang dapat menggambarkan perilaku umum secara lebih terperinci, logis dan sistematis.

    Maksud tersusun secara logis dan sistematis adalah tahapan apa yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu ditinjau dari berbagai alasan seperti karena kedudukannya sebagai perilaku prasyarat, perilaku yang menurut urutan fisik berlangsung lebih dahulu, perilaku yang menurut proses psikologi muncul lebih dahulu atau kronologis terjadi lebih awal.

    Fungsi dan Manfaat Analisis Instruksional

    Adapun fungsi dan manfaat analisis instruksional adalah sebagai berikut:

    1. Membantu bantu para guru/pendidik maupun penyusun desain instruksional untuk mengorganisir tugas-tugas pokok dalam hubungannya dengan subtugas yang harus dipelajari siswa.

    2. Membantu para guru di dalam menganalisis tingkah laku (behavior) berkenaan dengan masing-masing tugas pokok maupun subtugas. Dengan cara demikian, semua pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan setiap tugas pokok dapat diidentifikasikan.

    3. Membantu para penyusun desain instruksional dan para guru/pen­didik untuk memperkirakan waktu yang diperlukan untuk belajar, sehingga siswa dapat melaksanakan suatu tugas dengan baik.

    Proses Analisis Instruksional

    Dick dan Carey (2005) mengatakan bahwa proses analisis instruksional dimulai dari melaksanakan analisis tujuan (goal analysis) yang dimulai setelah memperoleh pernyataan yang jelas dari instruksional.

    Analisis Tujuan (Goal Analysis)

    Hal yang harus diperhatikan adalah: Pengklarifikasian pernyataan tujuan berdasarkan domain (jenis) belajar yang akan muncul. Domain belajar dapat dibagi atas empat, yaitu:

    A. Keterampilan intelektual

    Keterampilan yang mensyaratkan melakukan kegiatan kognitif yang unik. Unik yang dimaksud di sini adalah harus mempu memecahkan masalah atau menampilkan satu perilaku dengan contoh atau informasi yang tidak ditemukan sebelumnya.

    B. Informasi Verbal

    Keterampilan yang mensyaratkan siswa memberikan respons yang spesifik terhadap stimuli yang relatif spesifik. Biasanya tujuan keterampilan ini dapat dikenali dari kata kerja yang digunakan. Kata kerja seperti menyebutkan atau menjelaskan sesuatu.

    C. Sikap

    Sikap adalah pernyataaan kompleks manusia terhadap orang, benda dan kejadian. Dick dan Carey (2005) mendefenisikan sebagai kecenderungan membuat pilihan-pilihan tertentu atau keputusan tertentu terhadap keadaan tertentu.

    Sikap mempengaruhi pilihan sikap seseorang dan merupakan tujuan jangka panjang yang sulit diukur dalam waktu singkat. Tujuan instruksional yang berfokus pada sikap dan dianggap sebagai sesuatu yang memengaruhi.

    Sikap memilih dapat menunjukkan kecenderungan positif atau negatif terhadap objek kejadian atau orang tertentu.

    D. Keterampilan psikomotor

    Karakteristik dari keterampilan psikomotor adalah si belajar harus melaksanakan gerakan otot dengan atau tanpa peralatan untuk mencapai hasil yang spesifik. Keterampilan ini melibatkan mental dan fisik. Perilaku dari tampilan ini berupa kecepatan gerakan tubuh, keakraban kekuatan dan kelenturan.

    Contoh Analisis Instruksional

    Misalnya tujuan pembelajaran adalah “siswa mampu membuat mie instan dengan benar”.

    Jika menggunakan analisis instruksional, tujuan besar itu akan diuraikan jadi langkah-langkah kecil yang runtut.

    Pertama, siswa perlu tahu cara membaca instruksi pada kemasan. Setelah itu, siswa belajar bagaimana merebus air dengan takaran yang tepat.

    Kemudian siswa memasukkan mie ke dalam air mendidih, menunggu sampai matang, lalu meniriskan. Terakhir, siswa mencampurkan bumbu dengan mie hingga siap disajikan.

    Dengan cara ini, tujuan umum yang awalnya terasa luas bisa dipahami lebih jelas. Guru tahu bagian mana yang harus diajarkan dulu, dan siswa lebih mudah mengikuti setiap tahapan tanpa bingung.