Tag: tradisi

  • Alat Musik Angklung: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Jenis-Jenisnya

    Alat Musik Angklung: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Jenis-Jenisnya

    Pengertian Angklung

    Alat musik angklung adalah salah satu instrumen musik tradisional Indonesia yang terbuat dari beberapa tabung bambu dengan ukuran berbeda untuk menciptakan nada yang berbeda pula.

    Jumlah tabung bambunya bervariasi, mulai dari dua bambu hingga lebih. Bahkan, ada beberapa angklung modern saat ini yang jumlah tabungnya lebih dari 10 dengan mengeluarkan bunyi yang lebih bervariasi.

    Sumber bunyi angklung berasal dari goyangan atau getaran, dimana pemainnya menggunakan tangan kiri untuk memegang atau menggantung angklung, sementara tangan kanan digunakan untuk menggoyangkan angklung tersebut.

    Alat musik angklung berasal dari daerah Jawa Barat, dalam bahasa Sunda disebut angkleung-angkleungan yaitu gerakan pemain ketika menggoyangkan angklung hingga mengeluarkan bunyi.

    Hal ini juga dapat dibuktikan dari bukti budaya bahwa penyebaran angklung lebih merata di wilayah Tatar Pasundan.

    Sejarah Angklung

    Menurut sejarah, angklung sendiri sudah dikenal sejak abad 11, meski tidak ada informasi lebih lengkap mengenai itu.

    Namun, jika melihat bentuknya, diduga jika alat musik ini telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sehingga menjadi bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

    Sementara itu, catatan tentang alat musik angklung baru muncul pada abad ke 12 hingga 16, ketika masa Kerajaan Sunda.

    Menurut laman Kemdikbud, angklung berasal dari masyarakat Sunda karena kultur agraris yang kental dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya.

    Hal tersebut kemudian melahirkan kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci yang disimbolkan sebagai Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

    Maka, kegunaan angklung pada saat itu adalah sebagai pengiring serta bagian dari ritual dalam proses penanaman padi.

    Selain untuk memohon keberkahan agar hasil panen melimpah, ritual menggunakan angklung juga sebagai tolak bala agar tidak ada bencana yang melanda.

    Fungsi Angklung

    Awalnya alat musik angklung memiliki fungsi yang sakral, yakni sebagai prosesi ritual dalam persembahan terhadap “Dewi sri” atau “Nyi Pohaci”.

    Namun, kini angklung telah mengalami pergeseran fungsi menjadi alat pertunjukan yang sifatnya hiburan.

    Maka, sekarang angklung dapat dinikmati di berbagai acara, seperti orkestra, teater, acara kampung, hajatan, pernikahan, dan acara-acara lainnya.

    Bahkan, tak jarang juga ada perlombaan angklung, baik yang diadakan oleh lembaga negara maupun swasta sebagai bentuk perhatian terhadap kesenian.

    Jenis-Jenis Angklung

    Ada beragam jenis angklung yang tersebar. Keberagaman tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta kepercayaan dari kultur serta wilayahnya masing-masing. Adapun jenis-jenis angklung sebagai berikut:

    1. Angklung Kanekes

    Angklung Kanekes adalah jenis angklung Buhun orang Kanekes atau suku Baduy yang umumnya digunakan sebagai ritual dalam proses penanaman padi.

    Masyarakat Kanekes mempercayai bahwa ritual dengan menggantung angklung dan kolecer di area persawahan, dapat membuat panen padi melimpah dan terhindar dari musibah.

    2. Angklung Dogdog Lojor

    Angklung Dogdog lojor tergolong sebagai angklung buhun yang berkembang di daerah Ciptarasa Sukabumi.

    Dari bentuknya, angklung Dogdog Lojor terdiri dari 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung.

    Sementara menurut fungsinya, angklung ini biasa digunakan sebagai ritual dalam konteks pertanian untuk menghormati Nyi Pohaci dalam upacara “seren taun”.

    3. Angklung Badeng

    Jenis angklung Badeng berkembang di daerah Desa Sanding, Malangbong Garut yang biasanya dimainkan sebagai seni pertunjukan.

    Biasanya, pertunjukan angklung Badeng ini terdiri dari vokalis, seperangkat angklung, terbang, kecrek, dan dilengkapi dengan dogdog lojor.

    4. Angklung Badud

    Angklung yang sering ditemui di daerah Ciamis ini masih berkaitan fungsinya dengan ritual di bidang pertanian.

    Namun, seiring perkembangan zaman, jenis angklung ini mengalami perubahan fungsional. Semula hanya digunakan sebagai ritual, kini sudah menjadi seni pertunjukan.

    5. Angklung Buncis

    Angklung Buncis dulunya digunakan sebagai ritual, tapi seiring berjalannya waktu, jenis angklung ini difungsikan sebagai seni pertunjukan.

    Pertunjukan angklung Buncis biasanya ditampilkan sebagai pengiring arak-arakan, khitanan, pernikahan dan sering juga ditampilkan saat perayaan kemerdekaan.

    6. Angklung Bungko

    Angklung Bungko sering ditemui di desa Bungko, Cirebon, Jawa Barat, yang fungsinya dimainkan pada upacara nadran, ngunjung ke Gunung Djati dan sedekah bumi.

    Menurut masyarakat setempat, jenis angklung ini sudah berusia 600 tahun dan dipercaya sebagai media dalam penyebaran agama Islam di masa lalu.

    7. Angklung Gubrag

    Angklung Gubrag berkembang di daerah Cipining Bogor. Menurut sejarahnya, penamaan Angklung Gubrag karena musibah gagal panen yang pernah menimpa wilayah setempat.

    Awalnya, Angklung Gubrag digunakan sebagai ritual, tapi seiring berkembangnya zaman, angklung ini juga menjadi media hiburan.

    8. Angklung Padaeng

    Jenis angklung Padaeng adalah angklung tradisional yang dikenalkan pada tahun 1938 oleh Daeng Soetigna, pelopor angklung bernada diatonis.

    Selain berlaras diatonis, juga terdapat angklung berlaras pelog, salendro, dan madenda seperti angklung pada umumnya.

    Author: Maulana Affandi
    Sumber: Kemdikbud.go.id, digilib.uinsgd.ac.id

  • Mengenal 7 Warisan Budaya dari Kerajaan-Kerajaan Islam yang Pernah Berjaya di Indonesia

    Mengenal 7 Warisan Budaya dari Kerajaan-Kerajaan Islam yang Pernah Berjaya di Indonesia

    Indonesia adalah negara yang kaya akan warisan budaya, mulai dari zaman kerajaan. Sebagian warisan budaya tersebut datang dari kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berjaya pada masanya.

    Hal tersebut membuktikan jika kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia memberi pengaruh yang begitu kuat pada masyarakat sehingga banyak warisan budaya yang ditinggalkan hingga saat ini.

    Warisan Budaya Kerajaan Islam Indonesia

    Apa saja warisan budaya dari kerjaan-kerajaan Islam tersebut? Berikut diantaranya.

    1. Senjata Rencong

    Rencong adalah sebuah senjata pusaka khas Aceh yang sudah ada sejak abad ke-16 silam. Rencong tak hanya digunakan sebagai senjata saja, tapi juga simbol keberanian serta kepahlawanan.

    Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, hampir semua masyarakat Aceh membawa rencong dengan dikalungkan di pinggan.

    Rencong juga memiliki tingkatan yang mencerminkan strata masyarakat yang dilihat dari bahan dasar pembuat sarung dan belati.

    Jika terbuat dari gading dan emas, maka itu untuk raja/sultan dan ratu/sultanah. Sementara jika terbuat dari tanduk kerbau, kayu, kuningan, dan besi putih adalah simbol untuk masyarakat biasa.

    Menurut sejarah, ada setidaknya 5 jenis rencong yang dikenal oleh masyarakat Aceh, yaitu Rencong Meucugek, Rencong Pudoi, Rencong Hulu Puntong, Rencong Meukure, dan Rencong Meupucok.

    2. Tenun Songket Siak

    Kain tenun Siak adalah warisan budaya yang pertama kali dikenalkan oleh seorang pengrajin wanita bernama Wan Siti Binti Wan Karim pada masa Kerajaan Siak. Pengrajin tersebut berasal dari Kerajaan Terengganu di Malaysia.

    Pada masa kejayaan Kerajaan Siak, Tenun Songket Siak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan, seperti sultan, kerabat, dan para pembesar Istana Siak.

    Salah satu ciri khas dari tenun Songket Siak adalah tenunan yang halus dan motif songket yang rumit. Hal tersebut melambangkan derajat dan kedudukan tinggi bagi yang mengenakannya.

    3. Kuliner Nasi Ndoreng

    Nasi ndoreng atau Sega ndoreng adalah salah satu kuliner khas dari Kerajaan Demak Bintoro yang sampai saat ini masih populer dan banyak disukai.

    Sekilas, penampilannya memang mirip dengan nasi pecel, tapi cara memasak dan penyajiannya jauh berbeda.

    Pada seporsi Nasi Ndoreng terdapat nasi matang yang ditumpuk dengan berbagai sayuran, seperti petai cina, jenthut (jantung pisang), kembang turi, pucuk daun, daun singkong muda, buah lamtoro mudadan glandir (daun ubi jalar).

    Kemudian, tumpukan nasi dan sayuran tersebut disiram dengan bumbu kacang. Uniknya, bumbu tersebut dimasak menggunakan tungku. Terakhir, ditaburi dengan serundeng di atasnya.

    Sementara untuk menyajikannya, Nasi Ndoreng dibungkus pada pincukan dari daun pisang atau daun jati.

    Urusan rasa jangan khawtir. Kuliner ini memiliki yang menggugah selera, mulai dari gurih, asin, pedas, dan manis.

    4. Alat Musik Kulintang Pring

    Kulintang pring adalah jenis musik tradisional yang berasal dari Lampung. Menurut sejarah, alat musik ini awalnya berkembang di wilayah Kerajaan Sekala Brak, Belalau, Lampung Barat.

    Namun, seiring berjalannya waktu, alat musik tadisional Lampung ini menyebar ke berbagai daerah. Hingga saat ini dapat ditemukan di beberapa wilayah, seperti Kabupaten Way Kanan, Lampung Tengah, dan Lampung Timur.

    Alat musik Kulintang Pring terdiri dari tujuh bilah bambu, disusun dari yang terpanjang hingga yang terpendek.

    Bunyi yang dihasilkan dari masing-masing bambu juga berbeda. Dimana, bambu terpanjang menghasilkan nada paling rendah, sedangkan bambu terpendek menghasilkan nada paling tinggi.

    Adapun cara memainkan alat musik tradisional Kulintang Pring adalah dengan cara dipukul seperti memainkan alat musik gamelan.

    5. Tari Serimpi

    Tari Serimpi adalah warisan budaya yang sudah dikenal sejak zaman kejayaan Kerajaan Mataram Islam ketika masa pemerintahan Sultan Agung.

    Tarian tradisional ini pada awalnya tergolong sebagai tarian sakral karena hanya dipentaskan di lingkungan Keraton.

    Dan tidak sembarang waktu dapat memainkan tarian ini. Sebab, Tari Serimpi hanya digunakan untuk keperluan upacara kenegaraan dan peringatan kenaikan tahta.

    Namun, seiring dengan berjalannya waktu, tarian ini kemudian dapat dinikmati oleh masyarakat umum, terutama pada acara resmi seperti saat penyambutan tamu atau acara lainnya.

    6. Hiasan Kepala Tangkulok

    Tangkulok sendiri merupakan hiasan kepala yang berbentuk seperti lidah yang terbuat dari selembar kain dilipat tanpa sambungan. Hiasan ini digunakan oleh para penari Seudati.

    Hiasan kepala Tangkulok diperkirakan pertama kali muncul pada masa Kesultanan Aceh.

    Konon, hiasan kepala Tangkulok terinspirasi dari bentuk ekor burung balam sehingga sangat cocok dikenakan pria agar terlihat lebih tangguh dan bijaksana.

    Pada masa kerajaan, Tangkulok dijahit manual dengan tangan tanpa menggunakan pola khusus. Sementara untuk mengikat bagian ujungnya, cukup dengan menggunakan jahitan tangan saja.

    7. Upacara Sekaten

    Upacara Sekaten adalah sebuah tradisi yang sudah dikenal sejak zaman kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Kerajaan Demak.

    Menurut sumber dari Kesultanan Yogyakarta, upacara atau ritual Sekaten diselenggarakan untuk memeringati kelahiran Nabi Muhammad.

    Kemudian, nama “Sekaten” juga punya sejarah sendiri. Beberapa berpendapat menyebut bahwa Sekaten berasal dari kata sekati, yaitu seperangkat gamelan dari zaman Majapahit.

    Dalam versi lain ada pendapat yang menyatakan bahwa istilah Sekaten berasal dari bahasa Arab, syahadatain, yaitu kalimat untuk menyatakan seseorang telah memeluk agama Islam, dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “Syahadat”.

    Sampai saat ini, ada empat keraton yang masih melaksanakan upacara Sekaten, yaitu Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kesultanan Kasepuhan, dan Kanoman Cirebon.

    Nah, itulah beberapa warisan budaya dari kerajaan-kerajaan Islam Indonesia. Keberadaan warisan budaya sangat penting untuk membuktikan eksistensi kerajaan yang pernah berjaya di masa lalu.

  • Mengenal Tedak Siten dan Ide Dekorasi Simple yang Bisa Ditiru

    Mengenal Tedak Siten dan Ide Dekorasi Simple yang Bisa Ditiru

    Mengenal Tedak Siten

    Tedak Siten adalah sebuah upacara adat yang berasal dari budaya Jawa, dimana seorang bayi menurunkan kakinya ke tanah. Di daerah lain, tedak siten dikenal juga dengan istilah mudun lemah.

    Jika dilihat dari bahasa, tedak siten berasal dari kata Tedhak yang berarti turun (menapakkan kaki) dan Siten atau Siti yang artinya tanah.

    Maka, dari segi bahasa Tedhak Siten adalah tradisi menginjakkan atau menapakkan kaki ke tanah bagi seorang anak.

    Tradisi ini adalah sebuah simbolis masyarakat Jawa sebagai bentuk penghormatan terhadap bumi, dimana bumi adalah tempat manusia berpijak.

    Selain itu, mudun lemah juga digunakan sebagai bentuk syukuran ketika bayi sudah bisa melakukan hal-hal baru, seperti berdiri maupun tetak (berjalan dengan dibantu).

    Biasanya, tedak siten atau mudun lemah dilakukan ketika bayi berusia 7 bulan, kadang ada perbedaan di beberapa daerah.

    Kemudian, sebagian masyarakat juga mempercayai jika ritual ini memiliki unsur gaib yang mempengaruhi perjalanan hidup anak nantinya.

    Persiapan Tedak Siten

    Dalam tedak siten, ada beberapa hal yang perlu disiapkan oleh orang tua, seperti kurungan, tangga, kayu, bunga, air, alat tulis, mainan, iqro, sisir, uang, jajanan pasar, buah-buahan, dan nasi kuning.

    Persiapan ini tentu berbeda di setiap daerah. Tapi secara umum hampir sama dan membutuhkan beberapa persiapan tersebut.

    Jadi, nanti anak dikurung di dalam sebuah kurungan yang sudah disiapkan.

    Di dalam kurungan tersebut, anak akan diberi satu wadah besar yang isinya: iqro, mainan, sisir, uang, alat tulis, cermin. Kemudian, si anak bebas memilih barang yang ada di hadapannya.

    Konon, barang pertama yang diambil anak akan memengaruhi kehidupannya di masa depan.

    Misalnya ketika anak mengambil iqro, maka suatu hari nanti ia akan menjadi anak yang soleh dan rajin mengaji.

    Ide Dekorasi Tedak Siten Simple

    Bagi kalian yang ingin mengadakan upacara tedak siten dan bingung untuk dekorasinya, kali ini sastrawacana.id/ akan memberikan beberapa rekomendasi dekorasi tedak siten simple.

    1. Dekorasi ini cocok buat anak cowok, tampilan keren dan elegan.

    dekorasi tedak siten
    INSTAGRAM/@leonarphotography

     

    2. Dekorasi ini sifatnya formal, cocok untuk pejabat dan tokoh masyarakat

    Tedak siten (flickr.com/ditabagas)

     

    3. Ide dekorasi tedak siten yang satu ini simple tapi elegan

     

    Tedak siten (flickr.com/fariz hilman perdana)

     

    4. Dekorasinya cocok buat kalian yang suka nuansa tanaman dan bunga-bunga

    dekorasi tedak siten simple
    Instagram/cassiadecoration

     

    5. Konsepnya lucu dan ramai dipenuhi dengan balon-balon, seperti acara ulang tahun

    dekorasi tedak siten simple
    Instagram/yutwo_decoration

    6. Konsepnya memukau, tetap ada nilai budaya dan tradisinya

    ide dekorasi tedak siten
    Instagram/yutwo_decoration

     

    7. Ide dekorasi tedak siten yang lucu untuk anak perempuan

    dekorasi tedak siten simpel
    Instagram/icdecoration

    8. Dekorasi tedak siten sederhana tapi enak dipandang mata

    dekorasi tedak siten sederhana
    instagram/yutwo_decoration

    9. Konsepnya minimalis yang membuat dekorasi menjadi lebih simple

    dekorasi tedak siten simple
    Instagram/icdecoration

    10. Dekorasi tedak siten simpel dan elegan dengan nuansa lokal

    tedak siten dekorasi
    Instagram/rumahparatu

    Itulah pengertian tedak siten dan ide dekorasi tedak siten simple yang bisa kalian gunakan sebagai ereferensi. Semoga bermanfaat!

  • 7 Alat Musik Khas Betawi dan Cara Memainkannya

    7 Alat Musik Khas Betawi dan Cara Memainkannya

    Betawi, yang dikenal sebagai kelompok etnis asli Jakarta, memiliki kekayaan budaya yang melimpah. Salah satu hal yang menonjol dari budaya Betawi adalah musik tradisional.

    Alat musik khas Betawi adalah kelompok alat musik yang berasal dari daerah Betawi, Jakarta.

    Dalam sejarahnya, alat musik ini terbentuk dari pengaruh budaya Melayu, Arab, Cina, dan Belanda yang mendiami wilayah Jakarta pada masa lalu.

    Alat Musik Khas Betawi

    Alat musik khas Betawi memiliki ciri khas yang unik dan kaya akan budaya, sehingga menjadi bagian penting dari warisan musik Indonesia.

    Berikut ini adalah beberapa alat musik khas Betawi yang unik dan menarik.

    1. Gambang Kromong

    Gambang Kromong adalah ansambel musik tradisional Betawi yang terdiri dari berbagai alat musik seperti rebana, gong, saron, kromong, dan lain-lain.

    Gambang Kromong biasanya dimainkan dalam acara pernikahan atau perayaan lainnya.

    Dalam Gambang Kromong, alat musik yang dominan adalah kromong, sehingga ansambel ini dinamai sesuai dengan alat musik tersebut.

    2. Tanjidor

    Tanjidor adalah sejenis orkes musik tradisional Betawi yang terdiri dari seruling, trompet, dan drum.

    Musik Tanjidor biasanya dimainkan saat prosesi pernikahan. Beberapa lagu Tanjidor yang sering dimainkan seperti Jali-Jali, Lenggang Kangkung, Sirih Kuning, dan lainnya.

    3. Angklung

    Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari daerah Jawa Barat, tetapi juga banyak dimainkan di Jakarta.

    Angklung terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyangkan. Angklung biasanya dimainkan dalam ansambel, dan dapat menghasilkan nada-nada yang indah.

    4. Marawis

    Marawis adalah ansambel musik tradisional Betawi yang dimainkan dengan menggunakan tamburin dan rebana.

    Marawis biasanya dimainkan dalam acara pernikahan atau perayaan. Musik Marawis memiliki irama yang cepat dan menarik.

    5. Rebana

    Rebana adalah alat musik tradisional Betawi yang terbuat dari kayu dan kulit kambing.

    Rebana dimainkan dengan cara dipukul, dan sering digunakan dalam ansambel musik tradisional seperti Gambang Kromong atau Marawis.

    6. Kendang

    Kendang adalah alat musik perkusi tradisional Indonesia yang terbuat dari kayu dan kulit binatang.

    Kendang dimainkan dengan cara dipukul, dan biasanya digunakan dalam ansambel musik tradisional seperti Tanjidor.

    7. Seruling

    Seruling adalah alat musik tiup yang terbuat dari bambu atau kayu.

    Seruling sering digunakan dalam ansambel musik tradisional seperti Tanjidor, dan dapat menghasilkan nada-nada yang lembut dan merdu.

    Itulah beberapa alat musik khas Betawi dan cara memainkannya. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa membaca artikel lainnnya di sastrawacana.id/

  • 10 Alat Musik yang Berasal dari Sumatera Barat

    10 Alat Musik yang Berasal dari Sumatera Barat

    Alat musik tradisional Sumatera Barat adalah alat musik yang berasal dari daerah Sumatera Barat dan telah turun temurun dimainkan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari budaya dan tradisi.

    Alat musik tradisional ini memiliki beragam jenis dan bentuk, seperti alat musik gesek, alat musik tiup, alat musik pukul, dan alat musik petik.

    Alat musik Sumatera Barat biasanya dimainkan dalam kelompok atau ansambel sebagai pengiring tarian tradisional atau dalam acara adat, upacara keagamaan, serta perayaan budaya lainnya.

    Alat musik tradisional Sumatera Barat juga memiliki keunikan dan ciri khas yang membedakannya dengan alat musik tradisional dari daerah lain di Indonesia.

    Alat Musik yang Berasal dari Sumatera Barat

    Sumatera Barat memiliki berbagai macam alat musik tradisional yang kaya akan keunikan dan keindahannya. Berikut adalah 10 alat musik yang berasal dari Sumatera Barat:

    1. Saluang – alat musik tiup bambu

    Saluang adalah alat musik tiup yang terbuat dari bambu yang memiliki bunyi yang khas dan sering dimainkan dalam kesenian tradisional Minangkabau.

    Alat musik ini biasanya dimainkan bersama dengan Talempong, Gong, atau Gendang untuk mengiringi tarian atau lagu tradisional Minangkabau.

    2. Talempong – ansambel gong dari logam

    Alat musik Talempong terbuat dari logam dan biasanya dimainkan secara berkelompok atau ansambel.

    Ansambel talempong terdiri dari beberapa alat musik talempong yang ukurannya bervariasi dan diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan irama yang indah dan khas.

    Talempong sering dimainkan dalam upacara keagamaan dan acara hiburan di Sumatera Barat.

    3. Serunai – alat musik tiup kayu

    Alat musik ini merupakan jenis seruling bambu yang terbuat dari sebatang bambu dengan beberapa lubang pada bagian atasnya.

    Serunai biasanya dimainkan dalam ansambel dengan alat musik lain seperti talempong, rabab, dan gendang.

    Suara yang dihasilkan dari serunai memiliki kekuatan dan ketajaman yang khas, sehingga sering digunakan dalam acara adat di Sumatera Barat.

    4. Rabab – alat musik petik bersenar

    Rabab adalah alat musik petik tradisional yang berasal dari Sumatera Barat.

    Alat musik ini terdiri dari sebuah badan yang terbuat dari kayu dan mempunyai senar yang terbuat dari bulu kambing atau daging ikan yang dijepit pada bagian atasnya.

    Rabab dimainkan dengan cara dipetik seperti alat musik biola dan umumnya dimainkan dalam ansambel dengan alat musik lain seperti serunai, talempong, dan gendang.

    5. Gordang Sambilan – ansambel gendang besar dan kecil

    Gordang Sambilan adalah ansambel musik tradisional yang berasal dari Sumatera Barat.

    Ansambel ini terdiri dari dua buah gendang, yaitu gendang besar yang disebut “gendang gadang” dan gendang kecil yang disebut “gendang anak”.

    Selain itu, dalam ansambel ini juga terdapat alat musik petik seperti rabab dan alat musik tiup seperti serunai atau saluang.

    6. Gendang Tabuik – gendang yang digunakan dalam perayaan Tabuik

    Gendang Tabuik adalah jenis gendang yang digunakan dalam upacara Tabuik, sebuah perayaan keagamaan yang dilaksanakan di daerah pesisir Sumatera Barat, terutama di kota Padang.

    Gendang Tabuik merupakan salah satu alat musik tradisional yang sangat penting dalam perayaan ini.

    Alat musik ini dimainkan secara berkelompok oleh sejumlah pemain yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

    Suara gendang Tabuik sangat khas dan menggema, dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana perayaan Tabuik.

    7. Palendang – alat musik pukul dari kayu atau bambu

    Palendang adalah alat musik tradisional yang berasal dari daerah Minangkabau, Sumatera Barat.

    Alat musik ini terbuat dari sebatang kayu yang dibentuk seperti mangkuk dengan kulit binatang atau kambing yang tertarik di atasnya.

    Palendang dimainkan dengan cara dipukul dengan kedua tangan, dan menghasilkan suara yang khas dan ritmis.

    8. Rebab Piaman – alat musik gesek tradisional

    Rebab Piaman adalah alat musik tradisional khas dari daerah Piaman, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

    Alat musik ini termasuk ke dalam kelompok alat musik gesek, yang dimainkan dengan cara digesek menggunakan busur.

    Rebab Piaman terbuat dari kayu dan memiliki dua atau tiga senar yang terbuat dari bahan bulu kambing atau daging ikan.

    Alat musik ini biasanya dimainkan dalam ansambel dengan alat musik lain seperti serunai, talempong, dan gendang dalam berbagai acara adat atau upacara keagamaan di daerah Piaman.

    9. Bansi – alat musik tiup dari bambu

    Bansi adalah alat musik tiup tradisional yang berasal dari daerah Minangkabau, Sumatera Barat.

    Alat musik ini terbuat dari bambu dengan beberapa lubang kecil pada bagian sampingnya.

    Bansi dimainkan dengan cara meniup bagian atas lubang-lubang kecil yang ada pada alat musik ini, sehingga menghasilkan bunyi yang khas.

    10. Bungkau – alat musik tiup tradisional dari daun lontar

    Bungkau atau disebut juga dengan sebutan Bunkau atau Bunko adalah alat musik tradisional khas dari daerah Minangkabau, Sumatera Barat.

    Alat musik ini terbuat dari kayu atau bambu dengan bentuk yang pipih dan melengkung pada salah satu ujungnya.

    Bungkau dimainkan dengan cara dipukul atau dipetik pada bagian tengahnya dengan jari atau menggunakan alat khusus, sehingga menghasilkan bunyi yang khas dan bergetar.

    Alat musik ini umumnya dimainkan sebagai pengiring tari-tarian atau dalam kelompok musik tradisional Minangkabau lainnya, seperti dalam ansambel talempong.

  • 6 Pakaian Adat Sumatera Barat dan Karakteristiknya

    6 Pakaian Adat Sumatera Barat dan Karakteristiknya

    Sumatera Barat sangat kaya akan warisan budaya dan tradisi dalam berbagai hal, salah satunya adalah pakaian adat.

    Daerah yang juga disebut Tanah Minang ini memiliki beragam pakaian adat yang memukau yang biasanya dikenakan pada acara-acara tertentu.

    Berikut ini beberapa jenis pakaian adat Sumatera Barat yang terkenal, antara lain:

    1.  Baju Batusangkar

    Baju Batusangkar namanya diambil dari salah satu daerah di Sumatera Barat. Untuk pria, mengenakan celana panjang dan kain songket tenun yang dilingkarkan di badan.

    Kemudian, pakaian yang dikenakan bersulam emas pada bagian tangan dan kerah. Pada bagian kepala, memakai penutup yang bernama saluak.

    Sementara untuk wanita, mengenakan baju karung, penutup dada dan kain songket. Baju bersulam emas pada bagian tangan dan leher, serta terpasang tutup kepala.

    2. Baju Batabue

    Baju bertabur maksudnya baju yang ditaburi dengan benang emas. Tabur emas ini maksudnya kekayaan alam Minangkabau.

    3. Baju Bundo Kanduang

    Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang dikenakan oleh wanita yang sudah menikah, sehingga pakaian adat ini sebagai simbol betapa pentingnya peran seorang ibu di dalam keluarga.

    4. Pakaian Adat Penghulu

    Pakaian adat penghulu khusus pria yang tidak boleh dipakai oleh sembarang orang. Menurut sejarah, baju ini pada zaman dulu dikenakan oleh kepala suku. Baju ini juga menyimbolkan ketegasan serta kepemimpinan.

    5. Baju Kuruang Basiba

    Baju kuruang basiba adalah baju perempuan Minangkabau dengan ciri khas pada bagian samping terdapat siba dengan panjang baju sebatas lutut. Bagian leher bulat tanpa kerah dan sedikit diberi belahan sebatas dada.

    6. Pakaian Adat Pengantin

    Pakaian adat ini hanya dipakai untuk upacara pernikahan adat Sumatera Barat. Umumnya, warna yang dipilih adalah merah dengan aksesori dan tutup kepala.

    Itulah beberapa contoh pakaian adat Sumatera Barat yang sudah diwariskan sejak zaman dahulu oleh masyarakat Tanah Minang.

  • Apa Itu Enkulturasi? Ini Pengertian Menurut Ahli dan Contohnya

    Apa Itu Enkulturasi? Ini Pengertian Menurut Ahli dan Contohnya

    Pengertian Enkulturasi

    Enkulturasi adalah proses sosialisasi dalam mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.

    Proses enkulturasi terjadi sepanjang hidup individu dan melibatkan pembelajaran nilai-nilai, norma, bahasa, kepercayaan, dan praktik-praktik yang dianut oleh masyarakat tersebut.

    Sebagai suatu konsep kebudayaan, enkulturasi mengacu pada proses transmisi kultur dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kultur tersebut ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen.

    Enkulturasi adalah suatu proses sosial, dimana manusia sebagai makhluk yang bernalar, punya daya refleksi, belajar memahami dan mengadaptasi pola pikir, pengetahuan, dan kebudayaan sekelompok manusia lain.

    Sederhananya, enkulturasi adalah pewarisan budaya, dimana terjadinya proses sosial yang harus dialami oleh setiap individu dalam masyarakat, baik secara sadar ataupun tidak.

    Jadi, enkulturasi bisa dikatakan sebagai proses pembudayaan, baik melalui media formal seperti sekolah maupun informal seperti di lingkungan sosial secara tidak sengaja dan berjalan wajar.

    Kemudian, enkulturasi juga dapat disimpulkan sebagai proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mengenal hasil kebudayaan dengan cara terus-menerus.

    Pengertian Enkulturasi Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa definisi enkulturasi menurut para ahli.

    1. Havilland (1988)

    Pengertian enkulturasi adalah praktik pendidikan dilakukan seseorang yang biasanya bersumber dalam adat kebiasaan pokok masyarakat yang berhubungan dengan pangan, tempat berteduh dan perlindungan, dan bahwa praktik pendidikan anak pada gilirannya menghasilkan kepribadian tertentu pada masa dewasa.

    2. Adamson Hoebel

    Definisi enkulturasi adalah suatu keadaan yang terjadi pada seseorang untuk mengakuturasikan budayanya sekaligus menginternalisasi hasil kebudayanya dalam kehidupan bermasyarakat.

    3. Koentjaraningrat: 1997

    Dalam proses “pembudayaan” seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-adat, sistem norma dan peraturan-peratutan yang hidup dalam kebudayaanya yang disebut enkulturasi.

    4. Adamson Hoebel

    Enkulturasi iyalah situasi dimana individu dengan sadar maupun tanpa sadar dapat mengakulturasikan budaya dan memasukkan nilai budaya tersebut dalam kehidupan masyarakat.

    5. Peter Poole (2002)

    Enkulturasi mengacu pada proses belajar suatu budaya yang terdiri dari pengetahuan yang didistribusikan secara sosial dan dibagikan yang diwujudkan dalam persepsi, pemahaman, perasaan, niat, dan orientasi yang menginformasikan dan membentuk imajinasi dan pragmatik kehidupan sosial.

    6. M.J.Herskovits

    Definisi enkulturasi ialah sebuah proses dimana seseorang dengan sadar ataupun tak sadar, mengekplorasi semua kultur masyarakat.

    Contoh Enkulturasi

    Contoh Enkulturasi dalam Kepercayaan

    Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut agama tertentu akan mengalami proses enkulturasi, dimana mereka akan belajar dan mempraktikkan nilai-nilai yang diwariskan oleh agama tersebut.

    Contoh Enkulturasi dalam Kehidupan Sehari-hari

    Anak kecil diajarkan tidur siang oleh orang tuanya, maka ia sedang mengalami proses enkulturasi. Dimana, kebiasaan tersebut akan dibawa sampai dewasa dan diajarkan pula kepada anaknya kelak.

    Contoh Enkulturasi dalam Budaya

    Ketika seseorang hidup dalam wilayah dengan budaya yang menganggap teknologi tidak bermanfaat, ia akan meneruskan budaya tersebut kepada generasi selanjutnya sehingga di wilayah tersebut tidak menerima perkembangan teknologi.

    Contoh Enkulturasi dalam Pendidikan

    Seseorang sejak kecil sudah dikenalkan dan ditanamkan tentang nilai-nilai luhur Pancasila. Pengenalan tersebut akan dibawa terus sampai ia dewasa dan meneruskan ideologi Pancasila kepada generasi selanjutnya.

    Itulah pengertian dan contoh enkulturasi. Enkulturasi dapat memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak dalam masyarakat.

    Oleh karena itu, proses enkulturasi menjadi penting dalam membentuk identitas sosial individu dan mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

  • Pengertian Folklore, Ciri-Ciri dan Fungsinya

    Pengertian Folklore, Ciri-Ciri dan Fungsinya

    Pengertian Folklore

    Folklore merupakan gabungan dari dua kata Folk dan Lore, kata Folklore berasal dari bahasa Inggris yang masing-masing memiliki arti sebagai berikut:

    Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri khas tertentu seperti kebudayaan, fisik yang membedakan dengan kelompok lainnya.

    Lore adalah kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan maupun Isyarat.

    Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan.

    Adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian folklore adalah suatu kebudayaan manusia (kolektif) yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, baik itu dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk isyarat.

    Oleh karenanya Folklor identik dengan tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah yang telah menyatu di dalam kehidupan masyarakat.

    Di indonesia sendiri, setiap daerah, etnis, kelompok, suku, dan golongan agama masing-masing masyarakatnya telah mengembangakan folklorenya sendiri sehingga terdapat beranekaragam folklor yang ada di Indonesia.

    Ciri-Ciri Folklore

    Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri folklore:

    • Folklore merupakan milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini dikarenakan pencipta yang pertama sudah tidak diketahui lagi sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya, bahkan mengaku menciptakannya.
    • Pewarisan dan penyebaran dilakukan secara lisan, yakni melalui tutur kata maupun gerak isyarat atau alat pembantu pengikat lainnya. Folklore bersifat anonim, maksudnya penciptanya tidak diketahui.
    • Folklore hadir dalam versi-versi maupun variasi-variasi yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan oleh cara penyebarannya dilakukan secara lisan sehingga sangat mudah mengalami perubahan.
    • Folklore bersifat tradisional, maksudnya adalah folklore disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar.

    Bentuk-Bentuk Folklore

    1. Folklore Lisan

    Merupakan folklore yang bentuknya asli secara lisan yang terdiri dari: Puisi rakyat, seperti pantun dan parikan jowo. Contoh: wajik klethik gula Jawa (isih cilik sing prasaja).

    Bahasa rakyat, seperti logat (Batak, dayak, Jawa, Banyumasan, Bugis, Sunda dan lain-lain), julukan (si cungkring, si pendek) dan gelar kebangsawanan (datok,teuku, raden, dan sebagainya). Ungkapan tradisional, seperti peribahasa/pepatah.

    Sebagai Contoh: koyo monyet keno tulup (seperti kera kena sumpit), seperti telur di ujung tanduk (keadaan yang gawat) yakni untuk menggambarkan orang yang bingung. Cerita prosa rakyat, misalnya mite, legenda, dan dongeng.

    2. Folklore Sebagian Lisan

    Merupakan folklore yang bentuknya yang terdiri dari campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan, seperti: Permainan rakyat, kepercayaan rakyat (takhayul), adat istiadat, tarian rakyat , pesta rakyat dan lain-lain.

    3. Folklore Bukan Lisan (Non Verbal Folklore)

    Merupakan folklore yang bentuknya bukan lisan. Contoh adalah arsitektur rakyat (bentuk rumah Joglo, Minangkabau, Limasan, Toraja, dan sebagainya), kerajinan tangan, pakaian, dan perhiasan dan lain-lain. Yang sesuai dengan daerahnya masing-masing.

    Jenis-jenis Folklore

    1. Mitos

    Mitos merupakan suatu hal yang berbau mistis yang di percayai sekelompok orang yang berkembang di suatu daerah.

    2. Legenda

    Legenda adalah Prosa atau cerita rakyat yang berkembang di suatu daerah.

    3. Dongeng

    Dongeng merupakan cerita-cerita yang di buat oleh manusia yang berisikan nilai moral kehidupan biasanya dongeng diceritakan oleh orang tua kepada anaknya sebagai pengantar tidur.

    4. Nyanyian Rakyat

    Nyanyian Rakyat merupakan salah satu bentuk folklore yang terdiri dari teks dan lagu

    5. Upacara

    Upacara merupakan salah satu cara untuk memberikan penghormatan terhadap nenek moyang, tempat, peristiwa tertentu yang telah terjadi di masa lalu yang dihormati dan dilestarikan hingga kini.

    Fungsi Folklore

    Adapun fungsi folklore, yaitu sebagai berikut:

    • Sebagai sistem proyeksi, sebagai sarana untuk mencerminkan imajinasi kolektif.
    • Sebagai sarana untuk meratifikasi lembaga dan institusi budaya.
    • Sebagai alat pendidikan untuk anak-anak.
    • Sebagai instrumen kekuatan dan kontrol, sehingga norma-norma masyarakat selalu dihormati oleh anggota kolektif mereka.

    Nah, itulah pengertian, bentuk, ciri-ciri, jenis, dan fungsi folklor. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/.

  • Kawin Tangkap, Tradisi Sumba yang Kontroversial

    Kawin Tangkap, Tradisi Sumba yang Kontroversial

    Kawin Tangkap

    Beberapa hari belakangan ini, media sosial tengah dihebohkan dengan beredarnya sebuah video perempuan meronta serta berteriak karena digotong oleh sejumlah pria.

    Kemudian dibawa masuk ke sebuah rumah di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur.

    Selain itu, ada juga video lainnya dengan motif yang sama, yaitu digotong oleh sejumlah pria di salah satu terminal di Kota Weetabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

    Usut punya usut, ternyata kedua video tersebut adalah sebuah praktik kawin tangkap yang dianggap sebagai warisan budaya oleh masyarakat setempat, khususnya yang berada di pedalaman.

    Praktik Kawin Tangkap

    Apakah benar demikian? Mari kita cari tahu kebenarannya.

    Banyak yang mengatakan jika kawin tangkap adalah sebuah tradisi yang lazim dilakukan di Pulau Sumba.

    Boleh jadi, hal tersebut memang benar adanya.

    Tapi jika melihat respon dari pihak perempuan yang menangis dan meronta, membuat sebagian orang, juga akademisi ingin mengkaji “warisan budaya” ini lebih dalam.

    Hingga akhirnya ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Janet Alison Hoskin dan Joel C Kuipers di Sumba mengenai kawin tangkap ini, dikutip dari laman Republik.

    Hasilnya cukup mengejutkan karena mereka menyebutkan jika kawin tangkap bukanlah budaya atau tradisi, tapi hanyalah sebuah praktik yang terus-menerus berulang di Pulau Sumba.

    Sementara menurut antropolog dari Universitas Widya Mandira Kupang, Pater Gregorius Neonbasu, SvD, mengatakan bahwa praktik kawin tangkap di Pulau Sumba hanyalah tindakan pragmatis yang terjadi karena kondisi dan iklim kehidupan sesaat.

    “Jadi menurut saya hal tersebut harus segera ditanggapi oleh tokoh masyarakat atau sesepuh masyarakat Sumba sendiri karena memang praktik kawin tangkap itu sendiri hanyalah tindakan yang terjadi karena kondisi dan iklim kehidupan sesaat di daerah itu,” katanya.

    Pater menambahkan bahwa pada umumnya masyarakat Sumba juga sedang mengupayakan untuk menghindari praktik kawin tangkap yang dianggap kontroversial bagi kebanyakan orang.

    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengatakan bahwa praktik kawin tangkap sebagaimana yang terjadi di Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.

    “Budaya atau tradisi tidak statis tetapi dinamis. Kasus kawin tangkap adalah praktik kekerasan dan pelecehan terhadap kaum perempuan dan anak. Jadi jangan sampai alasan tradisi budaya dipakai hanya sebagai kedok untuk melecehkan perempuan dan anak,” ujarnya.

    Menyusul laporan aktivis ke kepolisian mengenai praktik kawin tangkap di Sumba, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak meminta Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur untuk segera menangkap para pelaku kawin tangkap.

    Hal senada disampaikan oleh anggota Komisi IX DPR RI dari Daerah Pemilihan Sumba Ratu Ngadu Bonu Wulla yang mengaku prihatin terhadap praktik kawin tangkap yang sampai sekarang masih terjadi di Pulau Sumba.

    “Saya sebagai seorang perempuan dan juga berasal dari Sumba saya tidak setuju dengan budaya ini jika dipertahankan karena memang sangat berdampak buruk pada kaum perempuan di Sumba,” ujarnya.

    Kemudian, salah seorang warga di Sumba Tengah bernama Rambu Prailiang, dikutip dari laman Merdeka, mengaku bahwa praktik kawin tangkap yang terjadi sekarang sangat berbeda sekali dengan tradisi dulu.

    “Tradisi ini sebenarnya sudah menjadi tradisi yang turun temurun. Namun jika dilihat yang terjadi saat ini berbeda sekali dengan yang terjadi pada lalu-lalu,” katanya.

    Menurutnya, di masa lalu, perempuan yang menjalankan tradisi kawin tangkap atau Palaingidi Mawini sangat dihargai, bukan dipaksa.

    Orang yang menjalankan praktik kawin tangkap juga berasal dari keluarga kaya karena belis atau mahar yang harus dibayarkan ke pihak perempuan cukup tinggi.

    Perempuan yang akan “ditangkap”, juga sudah dipersiapkan layaknya pengantin pada umumnya.

    Mempelai perempuan sudah didandani dengan pakaian adat lengkap, gelang gading, dan aneka perhiasan menempel di tubuhnya.

    Sedangkan pria yang akan menikahi perempuan itu pun mengenakan pakaian adat lengkap dan menunggang kuda berhias kain adat.

    Setelah mempelai perempuan “ditangkap”, pihak laki-laki akan mengirim utusan ke keluarga perempuan untuk menyampaikan informasi mengenai kejadian kawin tangkap tersebut.

    Itulah kawin tangkap di zaman dulu, menurutnya.

    Namun, menurut Rambu, praktik kawin tangkap sekarang lebih mengarah pada penculikan dan membuat kaum perempuan Sumba hidup dalam ketakutan.

  • Rampogan Macan, Tradisi Bertarung Melawan Macan di Tanah Jawa

    Rampogan Macan, Tradisi Bertarung Melawan Macan di Tanah Jawa

    Rampogan Macan

    Bicara tentang tradisi, Indonesia adalah rajanya. Bagaimana tidak, negeri kita tercinta ini adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 1.300 suku yang memiliki budaya dan tradisi masing-masing.

    Di tanah Jawa sendiri, ada segudang tradisi yang menjadi bukti kekayaan Indonesia, salah satunya adalah Rampogan Macan.

    Ya, rampogan macan adalah sebuah tradisi membunuh harimau yang dilakukan beramai-ramai menggunakan tombak. Harimau yang diadu merupakan harimau hasil tangkapan dari hutan.

    Banyak versi mengenai awal mula lahirnya tradisi ini. Ada yang mengatakan jika tradisi Rampogan Macan sudah berlangsung sejak abad ke 17 di Mataram saat pemerintahan raja Amangkurat II

    Versi lain mengatakan jika tradisi ini sudah berlangsung sejak jaman Kerajaan Singasari.

    Menurut buku “Bakda Mawi Rampog” ciptaan R Kartawibawa, disebutkan jika tradisi ini memang sudah ada sejak jaman kerajaan.

    Yang mana, macan tersebut dijuluki sebagai “sima” atau kucing besar. Kadang juga istilah ini merujuk pada macan loreng.

    Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1923 oleh Balai Pustaka (Bale-Poestaka) dan dipindai oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada, penulis menceritakan bahwa ketika dia kecil, hal ini memang menjadi suatu hal yang lumrah dilakukan.

    Lebih dari itu, macan memang menjadi hewan buas yang diburu sebab sering menyantap hewan ternak masyarakat sekitar.

    Bahkan, penguasa pada saat itu sampai memberikan upah sebesar 10 hingga 50 Gulden kepada siapapun yang dapat menangkap atau membunuh si loreng.

    Dijelaskan pula bahwa istilah “rampog” yang digunakan tidaklah sama dengan kata rampog dalam Bahasa Betawi yang bermakna perampas karena pertunjukkan ini berlangsung di wilayah Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta, dan kawasan Jawa Timur.

    Rampog di sini berarti beramai-ramai membunuh harimau dengan menggunakan tombak.

    Pada acara inti, masing-masing orang akan menunjukkan keahlian serta keampuhan tombak mereka dalam membunuh harimau.

    Biasanya, harimau dilepaskan di tengah alun-alun. Proses akan mudah ketika harimau sedang berang.

    Namun, ketika harimau sedang dalam kondisi diam, orang-orang akan memancing amarahnya dengan berbagai cara, salah satunya dengan meledakkan mercon besar.

    Saat harimau sudah murka, maka dia akan menerjang kerumunan orang yang jumlahnya ratusan.

    Saat itulah, harimau diserang menggunakan tombak-tombak yang sudah mereka siapkan dengan ritual khusus. Setelah mati, harimau akan dibeli oleh para saudagar kala itu.

    Tradisi ini menyebabkan populasi harimau loreng punah secara perlahan-lahan. Apalagi populasi harimau Jawa cukup langka.

    Hingga pada akhirnya di tahun 1905, negara melarang dan tidak memperbolehkan tradisi ini lagi demi menjaga populasi harimau Jawa.

    Semakin berkembangnya dunia pendidikan, The International Union for Conservation of Nature (IUCN), dalam situs resminya menyebutkan jika harimau Jawa sudah dikatakan punah sejak dekade 1970-an yang faktornya tak lain karena perburuan, kerusakan hutan, dan kehilangan mangsa.