Tag: tradisi

  • Lotus Feet, Tradisi Mematahkan Jari Kaki di Tiongkok

    Lotus Feet, Tradisi Mematahkan Jari Kaki di Tiongkok

    Lotus Feet

    Lotus Feet adalah sebuah tradisi di Tiongkok dengan mengikat jari kaki yang tujuannya untuk memperindah bentuk kaki demi mendapat apresiasi dan pengakukan sosial.

    Umumnya, cara ini dilakukan oleh wanita atau gadis yang belum menikah agar tampak lebih cantik dan memikat hati orang lain.

    Sebab, mereka menganggap jika memiliki kaki kecil ramping, bisa menambah daya tarik sehingga tampak lebih cantik.

    Mereka rela melakukannya meski harus menahan rasa sakit yang luar biasa.

    Bagaimana tidak, tradisi ini dilakukan dengan cara mengikat jari kaki dalam waktu lama untuk mendapatkan bentuk yang ramping.

    Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya tradisi ini.

    Namun, mereka rela melakukannya demi menambah daya tarik lawan jenis, terutama orang yang sedang ditaksir.

    Sejarah Lotus Feet

    sejarah lotus feet
    sejarah lotus feet (komoni chemisax)

    Menurut informasi yang beredar, tidak ada yang tahu pasti kapan tradisi ini dimulai.

    Ada yang mengatakan bahwa tradisi lotus feet sudah ada sejak tahun 961 pada masa pemerintahan Kaisar Li Yu, yang mana pada saat itu ada seorang penari cantik bernama Yao Niang memiliki bentuk kaki mungil layaknya bulan sabit sehingga membuat kaisar jatuh hati padanya.

    Karenanya selir-selir lain merasa iri dan sedikit cemburu kepada penari tersebut sehingga mereka pun mencoba menarik perhatian raja dengan membuat bentuk kakinya agar lebih mungil.

    Konon, dari situlah kebiasaan ini menyebar ke masyarakat luas dan menjadi tradisi.

    Setelah kejadian itu, banyak wanita-wanita di kalangan bawah yang mencoba merubah bentuk jari kakinya dengan cara mengikat erat-erat.

    Bahkan, banyak yang melakukannya saat masih usia belia, yaitu sekitar usia 4 sampai 6 tahun karena tulang kaki yang masih lunak sehingga lebih mudah dibentuk.

    Alasan lain yang membuat para gadis rela melakukan hal ini adalah karena adanya pengakuan dan penghormatan.

    Gadis-gadis yang memiliki bentuk kaki seperti bulan sabit benar-benar dianggap istimewa sehingga banyak yang meminangnya dari kalangan bangsawan.

    Cara Mematahkan Jari Kaki

    Dari informasi yang dihimpun, membengkokkan jari kaki bukanlah sebuah hal yang mudah.

    Sebab tidak hanya diikat begitu saja, tapi juga diberi ramuan yang terbuat dari rempah-rempah langka.

    Sebelum jari ditekuk, bagian telapak sampai mata kaki akan diolesi ramuan tersebut.

    Selanjutnya, proses pembengkokan dilakukan secara bertahap, tidak sekali proses.

    Disebutkan jika proses ini tidak hanya memberikan efek sakit yang luar biasa, tapi juga rasa panas layaknya terbakar.

    Sehingga tidak sedikit dari mereka yang berharap salju datang untuk merendam kaki mereka agar sensasi panas bisa hilang.

    Ukuran Mempengaruhi Kasta

    kaki lotus
    kaki lotus (photo: realitydecoded.blog)

    Saking istimewanya bentuk kaki ini sehingga ukuran memengaruhi kasta.

    Setidaknya ada tiga kasta yang mengelompokkan lotus feet ini, yaitu Lotus Emas (ukuran kurang dari 3 inci), Lotus Perak (ukuran 3-4 inci), dan Lotus Besi (ukuran lebih dari 4 inci).

    Jadi, mereka berlomba-lomba untuk dapat bentuk kaki semungil mungkin agar mendapat kasta tertinggi.

    Hilangnya Tradisi Lotus Feet

    Pada abad ke 19, bangsa barat mulai masuk ke Tiongkok dan memengaruhi budaya serta tradisi setempat.

    Lambat laun, kebiasaan ini mulai ditinggalkan karena mereka merasa jika tradisi mematahkan kaki adalah sebuah hal yang cukup menyiksa.

    Didukung pula dari banyaknya wanita yang gagal mendapatkan bentuk kaki mungil, tapi justru mendapat kecacatan akibat gagalnya proses membengkokkan kaki.

    Semenjak itu, tradisi kaki lotus benar-benar ditinggalkan.

  • Mengenal Pring Petuk, Jenis, Kegunaan, dan Harganya

    Mengenal Pring Petuk, Jenis, Kegunaan, dan Harganya

    Indonesia adalah salah satu negara yang kebanyakan masyarakatnya masih mempercayai hal-hal berbau mistis.

    Buktinya, banyak benda pusaka yang masih dipercaya oleh masyarakat Indonesia, salah satunya adalah pring petuk.

    Pring Petuk Asli

    Tahukah kamu apa itu pring petuk?

    Jadi, pring petuk adalah sebuah bambu yang berbeda dari bambu pada umumnya karena terdapat anomali yang unik, yaitu bertemunya dua ruas dalam arah berlawanan.

    Dari segi bahasa, pring adalah bambu, sedangkan petuk adalah bertemu. Sehingga secara sederhana, pring petuk bisa diartikan sebagai bambu yang ruasnya saling bertemu/berhadapan satu sama lain.

    Fenomena pring petuk bukan hal yang baru di Indonesia. Bahkan, kabarnya benda pusaka ini sudah dipercaya sejak ratusan tahun lalu.

    Ini adalah sebuah bukti konsistensi masyarakat Nusantara yang masih memegang tradisi lama hingga sekarang.

    Padahal, untuk mendapatakan pring petuk tidak semudah membalikkan telapak tangan.

    Ada risiko yang harus ditanggung sehingga tidak semua orang bisa mendapatkannya.

    Konon, sebelum mengambil pring petuk, seseorang harus melakukan negosiasi terlebih dahulu dengan makhluk halus yang menjaga bambu itu.

    Proses negosiasi tidak selalu berjalan lancar. Kadang ada sedikit kendala yang menyebabkan penghuni bambu itu murka sehingga harus menyerang orang yang mencoba mengambil pring petuk.

    Sehingga tidak sembarang orang bisa mengambil benda pusaka yang satu ini.

    Khasiat dan Manfaat Pring Petuk

    Apa Fungsi dan Kegunaan Pring Petuk?

    Konon katanya, khasiat pring petuk bisa membuat pemiliknya kaya raya karena benda pusaka ini bisa menjadi pelaris dan penarik rezeki.

    Entah darimana dasarnya, yang jelas teori ini masih dipercaya dan katanya sudah terbukti.

    Oleh karenanya, tak heran jika banyak orang yang mencari pring petuk asli karena bisa digunakan sebagai jimat atau benda pusaka.

    Harga Pring Petuk

    Berapa harga pring pethuk?

    Tidak sedikit pula yang memanfaatkan fenomena ini sebagai sebuah ladang bisnis karena harga pring petuk asli memang cukup tinggi. Harganya bervarian dilihat dari jenisnya.

    Dimulai dari jutaan hingga ratusan juta. Bahkan, ada yang harganya menembus angka miliar! Sangat fantastis.

    Dari tingginya harga tersebut, bermunculan oknum-oknum yang membuat dan menjual pring petuk palsu.

    Diantara ruas bambu petuk asli dihuni oleh makhluk halus. Sedangkan yang palsu, biasanya disambung menggunakan lem dan material lainnya untuk mengelabui.

    Sehingga saat diuji oleh paranormal, pring petuk palsu tidak akan bereaksi karena tidak dihuni oleh makhluk halus.

    Filosofi Pring Petuk

    Apa filosofi pring petuk?

    Di samping menyimpan unsur mistis, pring petuk juga memiliki filosofi yang tinggi.

    Bambu ini merupakan salah satu bambu yang cukup sulit pertumbuhannya, alias sedikit lambat.

    Namun, meskipun tumbuhnya lambat, bambu petuk memiliki akar yang sangat kuat sehingga tidak mudah dirobohkan.

    Ini dijadikan dasar filosofi pring petuk yang dikaitkan dengan rezeki.

    Yang mana, dengan menyimpan pring petuk, maka rezeki seseorang akan kuat layaknya akar pring petuk yang tak goyah meski diterpa angin kencang.

    Memang fenomena pring petuk ini masih dianggap sebagai sebuah mitos. Percaya atau tidak dikembalikan kepada pribadi masing-masing.

    Yang jelas, mereka punya alasan sendiri kenapa percaya dengan pring petuk sampai rela membeli dengan harga yang tinggi.

  • Tradisi Petik Laut, Simbol Rasa Syukur Nelayan Banyuwangi

    Tradisi Petik Laut, Simbol Rasa Syukur Nelayan Banyuwangi

    Setiap daerah atau wilayah pasti mempunyai adat, tradisi, dan budaya masing-masing. Keberagaman itu merupakan salah satu faktor yang mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut.

    Seperti keberagaman tradisi yang terdapat di kota paling ujung timur pulau Jawa, yaitu Banyuwangi.

    Kota Gandrung ini memang terkenal dengan unsur magisnya, sehingga tak jarang jika tradisi yang ada selalu berkaitan dan berhubungan dengan nilai magis dan sakral. Seperti tradisi Petik Laut.

    Petik Laut adalah sebuah upacara adat atau ritual yang dilangsungkan oleh warga Banyuwangi, khususnya daerah atau pemukiman pesisir (pantai).

    Tujuannya adalah sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah, rezeki, dan keselamatan yang telah diberikan.

    Ritual ini dilakukan oleh para nelayan yang bermukim di daerah Muncar sebab daerah tersebut dihuni oleh mayoritas nelayan.

    Ritual yang digelar setahun sekali ini umumnya dilaksanakan pada bulan Purnama, tepatnya setiap Bulan Muharam atau yang lebih akrab dikenal Bulan Syuro.

    Ritual petik laut dipimpin oleh sesepuh adat yang berasal dari Madura karena asal muasal dari ritual ini berasal dari warga Madura yang menetap di Muncar.

    Hal tersebut ditandai dengan kelengkapan ornamen saat ritual yakni dengan mengenakan pakaian adat Madura, yaitu “Baju Sakera”.

    Dalam pelaksanaannya, para nelayan menyiapkan sesaji yang terdiri dari: kepala kambing kendit, aneka kue sebanyak 44 macam, buah-buahan, pancing emas, candu, tumpeng, ayam jantan, dan berbagai sesaji lainnya.

    Sesajian tersebut disusun serapi mungkin dan diletakkan pada kapal yang telah dihias dengan indah. Kemudian kapal tersebut bergerak ke tengah samudera dengan diiringi oleh puluhan kapal lain yang telah dihias juga.

    Selanjutnya kapal akan berhenti pada arus yang tenang di tengah lautan serta menenggelamkan sesaji yang telah dipersiapkan tersebut.

    Saat itu pula, terdengar teriakan ucap syukur dari para nelayan menggema di hingga ke tepi laut.

    Uniknya, saat sesaji tersebut telah ditenggelamkan, para nelayan malah menceburkan diri untuk merebutkan sesaji tersebut. Hingga akhirnya acara ini ditutup dengan doa.

    Sebenarnya serangkaian acara pada Petik Laut merupakan sebuah simbol rasa syukur para nelayan atas berkah yang diberikan oleh Tuhan.

    Diharapkan dengan meningkatkan rasa syukur, maka penghasilan dan jumlah tangkapan ikan akan bertambah setiap harinya.

    Perlu diketahui juga, tradisi Petik Laut tidak hanya dilangsungkan di Muncar saja tapi banyak daerah lain yang juga melangsungkannya, seperti Grajagan dan Bulusan.

    Bahkan ada beberapa Kabupaten lain yang melangsungkannya juga, seperti Jember, tepatnya di Kecamatan Puger.

    Author : Eva
    Editor  : Maulana Affandi

  • Godong Lemes, Kebudayaan Berorganisasi Asli Banyuwangi

    Godong Lemes, Kebudayaan Berorganisasi Asli Banyuwangi

    Bicara tentang kebudayaan dan adat-istiadat, tentu saja setiap daerah memiliki budaya dan adatnya masing-masing.

    Sebab, kebudayaan itu lahir dari buah pikir, ide, opini, serta kebiasaan masyarakat yang diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

    Ada budaya yang sudah dikenal dan bahkan dilestarikan sampai sekarang. Namun, ada pula kebudayaan yang sudah tak terlihat lagi, alias tak jelas juntrungannya.

    Hal itu adalah hal yang wajar, mengingat begitu banyaknya jumlah kebudayaan yang tercipta, jadi tidak semua bisa dijaga.

    Selain itu, penikmat serta pegiat budaya juga semakin tergerus jumlahnya, banyak generasi penerus yang enggan, bahkan tidak mau meneruskan apa yang sudah dibuat oleh orang terdahulu.

    Padahal, kebudayaan adalah salah satu wujud, bentuk, dan aset Negara yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya.

    Bicara tentang budaya yang mulai luntur tentu saja tidak terhitung jumlahnya, salah satu contoh adalah Godong Lemes yang berasal dari Kota Gandrung, Banyuwangi.

    Ya, mungkin sebagian dari kita, khususnya anak muda tidak mengetahui apa itu Godong Lemes.

    Dikutip dari berbagai sumber, Godong Lemes disebut sebagai kebudayaan masyarakat Banyuwangi zaman dulu dalam berorganisasi.

    Kabarnya, kebudayaan berorganisasi ini sudah ada sejak tahun 1963-an silam, yang berlangsung di Sawahan, Kelurahan Pengantigan Banyuwangi.

    Jadi, secara garis besar, Godong Lemes adalah sebuah perkumpulan sosial yang beranggotakan kepala keluarga lelaki atau lelaki dewasa di wilayah Sawahan dan merembet ke sekitarnya.

    Mereka berkumpul secara insidentil bila ada anggotanya yang akan mempunyai hajat: mengawinkan atau menyunatkan anak serta sanak saudara.

    Perkumpulan ini bisa dilakukan pada tempat tertentu, namun umumnya para lelaki dewasa tersebut akan melakukan musyawarah di kediaman yang punya hajat.

    Adapun pembahasan ketika mereka berkumpul adalah tiada lain hanya untuk urusan bersama yang meliputi toleransi, tenggang rasa, gotong royong, seperti sifat-sifat dasar yang diajarkan oleh nenek moyang kita.

    Tak kalah penting pula, para warga yang berkumpul tersebut juga akan memberikan sedikit materi yang dimiliki, alias iuran.

    Jumlahnya tidak ditentukan, tapi seikhlas dan semampunya. Tentu saja ini merupakan bentuk toleransi dan kepedulian sosial yang teramat baik, bukan?

    Tidak sampai di situ saja, saat berkumpul ada kelakar dan candaan yang dilontarkan kepada tuan rumah yang akan segera melakukan hajat.

    Namun, lebih menarget kepada sosok atau seseorang yang akan dihajatkan. Guyonan khas Banyuwangi akan keluar dari lisan mereka, tujuannya tidak lain hanya untuk melatih mental serta menambah keakraban.

    Kabar terkini mengatakan jika kebudayaan berorganisasi Godong Lemes dibentuk oleh Almarhum Bapak Bacar Am dan Buang Asmono pada tahun 1963-an.

    Walau sudah tidak seramai dulu, tapi budaya ini masih bertahan hingga sekarang, meskipun hanya segelintir orang yang melakukannya dan tanpa pernah dipublikasikan.

    Kebudayaan berorganisasi ini juga terbilang cukup unik dan memiliki karakteristik, misalnya bila ada anggota Godong Lemes yang mempunyai anak 9 (Sembilan), maka dia berhak untuk didatangi anggota sebanyak 9 (sembilan) kali bila mempunyai hajat.

    Jadi, tidak ada istilah hitung-hitungan, berapapun anaknya, warga tetap akan membantu sebagai wujud toleransi yang luhur.

    Disadur dari tulisan Elvin Hendratha

  • Festival Ogoh-Ogoh: Bentuk Kekompakan Umat Hindu di Bali

    Festival Ogoh-Ogoh: Bentuk Kekompakan Umat Hindu di Bali

    Setiap Agama memiliki hari rayanya masing-masing, begitu pula dengan Agama Hindu. Pada ajaran Agama Hindu, hari raya terbesarnya adalah Hari Raya Nyepi yang dilangsungkan setiap tahun baru menurut kalender Saka.

    Dipercayai oleh umat Hindu, bahwasanya Nyepi merupakan hari penyucian. Yang mana, setiap umat Hindu memohon kepada Tuhan YME untuk menyucikan alam semesta beserta isinya.

    Ada yang menarik saat umat Hindu memperingati Hari Raya Nyepi di Pulau Seribu Pura, Bali, yaitu festival ogoh-ogoh.

    Perlu diketahui terlebih dahulu, ogoh-ogoh merupakan sebuah seni patung dalam kebudayaan dan tradisi Bali. Bentuk dan ide cerita ogoh-ogoh umumnya berpegang pada cerita pewayangan. Namun, seiring perkembangan dunia seni, konsep dari ogoh-ogoh pun semakin bervarian pula.

    Tidak hanya menjadikan cerita pewayangan sebagai konsep, kini ogoh-ogoh yang diciptakan juga turut mengambil konsep lain, salah satunya adalah politik.

    Penampilan festival ogoh-ogoh di Bali dilakukan pada malam sebelum Hari Raya Nyepi yang biasa disebut Ngrupuk.

    Dihimpun dari berbagai sumber, bahwasanya aktivitas Ngrupuk ini bertujuan untuk mengusir Buta Kala dan energi negative di daerah setempat.

    Saat Buta Kala dan energi negative tersebut telah diusir, maka keesokan harinya umat Hindu di Seluruh Pulau Dewata akan tenang dan khitmad dalam menjalankan ibadah pada Hari Raya Nyepi.

    Pada kehidupan bermasyarakat di Bali, dikenal adanya “Banjar”. Banjar sendiri memiliki arti sebuah kesatuan masyarakat yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.

    Banjar diakui oleh hukum dan sangat dihormati dalam kehidupan bermasyarakat rakyat Bali. Banjar memiliki struktur organisasi yang kompleks, anggotanya pun terdiri dari pemuda serta orang tua.

    Dalam proses penciptaan karya yang sudah turun-menurun ini, seluruh masyarakat sekitar atau Banjar sangat kompak dan saling berkolaborasi guna menyelesaikannya.

    Lebih indahnya lagi, setiap Banjar memiliki karya masing-masing. Bahkan, beberapa Banjar menciptakan karya ogoh-ogoh lebih dari satu.

    Tidak ada sifat bersaing, justru setiap Banjar menunjukkan sifat dewasanya yaitu kekompakan dan toleransi bermasyarakat.

    Mmereka saling berbagi dan saling memberi saran guna menciptakan sebuah karya yang indah dan sedap untuk dinikmati oleh setiap penghuni Pulau Bali.

    Festival ogoh-ogoh merupakan salah satu dari sekian banyaknya budaya yang ada di Bali yang dapat menarik minat turis lokal maupun international.

    Bagaimana tidak, saat Ngrupuk sudah dimulai, terlihat ribuan ogoh-ogoh dengan bentuk yang berbeda di arak keliling oleh pemuda-pemudi Bali. Hal tersebut tentunya memanjakan mata setiap yang melihatnya.

    Inilah suatu bentuk kekompakan Umat Hindu di Bali yang patut dijadikan contoh oleh setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat. Saling membantu, saling berbagi, dan saling memotivasi.

    Author : Maulana Affandi

  • Sejarah Wayang Kulit dan Proses Perkembangannya

    Sejarah Wayang Kulit dan Proses Perkembangannya

    Sejarah Wayang Kulit dan Perkembangannya

    Wayang merupakan salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya.

    Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang.

    Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

    Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

    Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa.

    Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata.

    Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

    Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan.

    Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf.

    Hadirnya tokoh panakawan dalam pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik dan yang benar-benar jahat.

    Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.

    Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa.

    Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir.

    Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.

    Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur.

    Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat.

    Diantara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Alasan mereka cukup kuat.

    Diantaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa.

    Punakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain.

    Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna) dan bukan bahasa lain.

    Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia.

    Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.

    Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe­wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.

    Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976-1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur­nya.

    Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X.

    Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia, Walmiki.

    Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya.

    Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata.

    Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In­dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh.

    Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).

    Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga.

    Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa­yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per­tunjukan wayang.

    Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi.

    Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis­toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone­sia halaman 987.

    Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa­yangan’, yang artinya bayangan.

    Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu.

    Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir.

    Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak.

    Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada.

    Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata.

    Sejak saat itulah cerita­cerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain.

    Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber.

    Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga.

    Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.

    Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu.

    Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.

    Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya.

    Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam.

    Silsilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa.

    Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar.

    Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.

    Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah.

    Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.

    Dan di wilayah Kulonprogo sendiri wayang masih sangatlah diminati oleh semua kalangan.

    Bukan hanya oleh orang tua saja, tapi juga anak remaja bahkan anak kecil juga telah biasa melihat pertunjukan wayang.

    Disamping itu, wayang juga biasa di gunakan dalam acara-acara tertentu di daerah kulonprogo ini, baik di wilayah kota Wates ataupun di daerah pelosok di Kulonprogo.

  • Tradisi Petik Laut, Simbol Rasa Syukur Para Nelayan

    Tradisi Petik Laut, Simbol Rasa Syukur Para Nelayan

    Setiap daerah atau wilayah pasti mempunyai adat, tradisi, dan budaya masing-masing. Keberagaman tersebut merupakan salah satu faktor yang mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut.

    Seperti keberagaman tradisi yang terdapat di kota paling ujung timur pulau Jawa, yaitu Banyuwangi.

    Kota Gandrung ini memang terkenal dengan unsur magisnya, sehingga tak jarang jika tradisi yang ada selalu berkaitan dan berhubungan dengan nilai magis dan sakral, seperti tradisi “Petik Laut”.

    Petik Laut adalah sebuah upacara adat atau ritual yang dilangsungkan oleh warga Banyuwangi, khususnya daerah atau pemukiman pesisir (pantai).

    Tujuannya adalah sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah, rezeki, dan keselamatan yang telah diberikan.

    Ritual ini dilakukan oleh para nelayan yang bermukim di daerah Muncar sebab daerah tersebut dihuni oleh mayoritas nelayan.

    Ritual yang digelar setahun sekali ini umumnya dilaksanakan pada bulan Purnama, tepatnya setiap Bulan Muharam atau yang lebih akrab dikenal Bulan Syuro.

    Ritual ini dipimpin oleh sesepuh adat yang berasal dari Madura karena asal muasal dari ritual ini berasal dari warga Madura yang menetap di Muncar.

    Hal tersebut ditandai dengan kelengkapan ornamen saat ritual yakni dengan mengenakan pakaian adat Madura, yaitu “Baju Sakera”.

    Dalam pelaksanaannya, para nelayan menyiapkan sesaji yang terdiri dari: kepala kambing kendit, aneka kue sebanyak 44 macam, buah-buahan, pancing emas, candu, tumpeng, ayam jantan, dan berbagai sesaji lainnya.

    Sesajian tersebut disusun serapi mungkin dan diletakkan pada kapal yang telah dihias dengan indah. Kemudian kapal tersebut bergerak ke tengah samudera dengan diiringi oleh puluhan kapal lain yang telah dihias juga.

    Selanjutnya kapal akan berhenti pada arus yang tenang di tengah lautan serta menenggelamkan sesaji yang telah dipersiapkan tersebut.

    Saat itu pula, terdengar teriakan ucap syukur dari para nelayan menggema di hingga ke tepi laut.

    Uniknya, saat sesaji tersebut telah ditenggelamkan, para nelayan malah menceburkan diri untuk merebutkan sesaji tersebut. Hingga akhirnya acara ini ditutup dengan doa.

    Sebenarnya serangkaian acara pada Petik Laut merupakan sebuah simbol rasa syukur para nelayan atas berkah yang diberikan oleh Tuhan.

    Diharapkan dengan meningkatkan rasa syukur, maka penghasilan dan jumlah tangkapan ikan akan bertambah setiap harinya.

    Perlu diketahui, ritual Petik Laut tidak hanya dilangsungkan di Muncar saja tapi banyak daerah lain yang juga melangsungkannya, seperti Grajagan dan Bulusan.

    Penulis : Eva
    Editor : Maulana Affandi

  • Mengenal Tradisi Karapan Sapi Madura

    Mengenal Tradisi Karapan Sapi Madura

    Saat mendengar kata-kata Karapan Sapi, pasti yang terlintas dalam pikiran kita adalah Pulau Madura. Ya, Karapan Sapi adalah tradisi yang sangat menarik berasal dari Madura. Inilah kekayaan dan keunikan budaya yang hanya terdapat di Madura.

    Madura memang kaya akan budaya dan tradisi serta kearifan lokalnya. Karapan sapi adalah salah satu aset bangsa yang harus dijaga. Sebab, Karapan Sapi adalah tradisi asli Madura, jangan sampai ada pihak lain yang mengaku, apalagi mengklaim bahwa ini adalah miliknya.

    Madura memiliki adat budaya yang kental dengan nuansa keagamaan dan memiliki tata krama yang tinggi. Buktinya ada banyak sekali pondok pesantren ternama dan tokoh negeri yang lahir di Madura.

    Suku Madura juga dikenal sebagai pekerja keras yang pantang menyerah. Nilai-nilai luhur dan nilai-nilai budaya dijaga kuat oleh masyarakat Madura.

    Karapan Sapi adalah perlombaan adu cepat di lintasan lurus dengan menggunakan sapi sebagai objek utamanya. Layaknya balap sepeda, Karapan Sapi juga memiliki tim khusus yang mempunyai tugas masing-masing untuk mempersiapkan sapi agar beraksi dengan performa terbaik.

    Jauh sebelum perlombaan, sapi-sapi tersebut diperlakukan secara istimewa, diberi asupan makanan yang baik, diberi jamuecara rutin, bahkan dipijat. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk merawat sapi karapan tersebut.

    Dalam Karapan Sapi, sapi yang dilombakan tidak hanya satu, tapi sepasang. Lalu bagaimana caranya agar kedua sapi tersebut dapat disatukan saat lomba?

    Caranya adalah menggunakan kayu khusus yang digunakan untuk menyatukan kedua sapi kerap tersebut. Nama kayu itu adalah “Kaleles” yang berguna untuk mengikat antar sapi kanan dan sapi. Selain itu Kaleles berguna sebagai tempat untuk mengendarai dan mengendalikan kedua sapi kerap.

    Karapan sendiri berasal dari bahasa Madura yaitu kata “Kerrap” yang berarti berpacu atau berlomba menjadi yang tercepat dan terbaik.

    Inilah filosofi hidup yang melambangkan bahwa masyarakat Madura adalah pekerja keras yang mudah menyerah serta berlomba lomba untuk menjadi yang terbaik.

    Sebelum perlombaan Karapan sapi dimulai, kita akan disuguhi dengan berbagai macam seni budaya khas Madura yang memang dipersiapkan untuk menghibur penonton.

    Adapun pertunjukan seni budaya tersebut antara lain seperti tarian khas Madura yang diiringi dengan musik tradisional yang disebut dengan saronen.

    Saronen adalah musik gamelan namun tidak seperti gamelan di Jawa pada umumnya. Gamelan yang disebut saronen ini sangat berirama khas Madura.

    Sapi sapi kerap akan dibawa berjalan menjelajahi arena pertandingan sebelum bertanding dengan diiringi musik Saronen dan tarian khas Madura.

    Grup Saronen disewa oleh pemilik sapi kerap untuk menambah semangat tim Karapan Sapi. Jadi jelas tidak hanya ada satu atau dua grup kesenian saja.

    Bisakah Anda membayangkan lapangan stadion yang dipenuhi budaya daerah? Anda akan menemukannya pada pertandingan Karapan Sapi di Madura.

    Pada saat perlombaan, aktor yang bertugas mengendarai Kaleles disebut Joki, tugasnya adalah mengendalikan kecepatan dan arah sapi. Tidaklah mudah mengendalikan dua ekor sapi yang melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.

    Butuh nyali besar dan keahlian khusus agar dapat menjalankan aksi sebagai Joki yang handal. Anggota tim yang lain bekerja sesuai dengan pembagian kerjanya masing-masing.

    Ada yang bertugas menahan tali kekang sapi, menangkap sapi, bahkan ada yang berteriak-teriak layaknya supporter untuk menyemangati.

    Menonton Karapan Sapi adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Madura. Suasana seru dan menegangkan akan Anda rasakan saat melihat perlombaan Karapan Sapi.

    Tak hanya turis lokal saja yang datang berkunjung tetapi juga banyak sekali turis manca negara yang hadir mewarnai arena perlombaan Karapan Sapi.

    Karapan sapi biasanya diadakan setiap tahun di Madura sebagai ungkapan rasa gembira masyarakat Madura saat menjelang musim panen tembakau.

    Masing-masing Kabupaten akan menggelar perlombaan Karapan Sapi lalu kemudian partai final biasanya diselenggarakan di kabupaten Pamekasan. Oleh masyarakat Pamekasan, partai final ini disebut dengan istilah “Gubeng”.

    Penonton akan berdatangan dari berbagai daerah untuk menjadi menyaksikan ajang Karapan Sapi dengan wajah antusias. Semoga dengan artikel ini Anda dapat tertarik untuk mengunjungi Madura dan menyaksikan secara langsung ajang Karapan Sapi.

  • Festival Ogoh – Ogoh: Bentuk Kekompakan Umat Hindu di Bali

    Setiap Agama memiliki hari rayanya masing-masing, begitu pula dengan Agama Hindu. Pada ajaran Agama Hindu, hari raya terbesarnya adalah Hari Raya Nyepi yang dilangsungkan setiap tahun baru menurut kalender Saka.

    Dipercayai oleh umat Hindu, bahwasanya Nyepi merupakan hari penyucian. Yang mana, setiap umat Hindu memohon kepada Tuhan YME untuk menyucikan alam semesta beserta isinya.

    Ada yang menarik saat umat Hindu memperingati Hari Raya Nyepi di Pulau Seribu Pura, Bali, yaitu festival ogoh-ogoh.

    Perlu diketahui terlebih dahulu, ogoh-ogoh merupakan sebuah seni patung dalam kebudayaan dan tradisi Bali.

    Bentuk dan ide cerita ogoh-ogoh umumnya berpegang pada cerita pewayangan. Namun, seiring perkembangan dunia seni, konsep dari ogoh-ogoh pun semakin bervarian pula.

    Tidak hanya menjadikan cerita pewayangan sebagai konsep, kini ogoh-ogoh yang diciptakan juga turut mengambil konsep lain, salah satunya adalah politik.

    Penampilan festival ogoh-ogoh di Bali dilakukan pada malam sebelum Hari Raya Nyepi yang biasa disebut Ngrupuk.

    Dihimpun dari berbagai sumber, bahwasanya aktivitas Ngrupuk ini bertujuan untuk mengusir Buta Kala dan energi negative di daerah setempat.

    Saat Buta Kala dan energi negative tersebut telah diusir, maka keesokan harinya umat Hindu di Seluruh Pulau Dewata akan tenang dan khitmad dalam menjalankan ibadah pada Hari Raya Nyepi.

    Pada kehidupan bermasyarakat di Bali, dikenal adanya “Banjar”. Banjar sendiri memiliki arti sebuah kesatuan masyarakat yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.

    Banjar diakui oleh hukum dan sangat dihormati dalam kehidupan bermasyarakat rakyat Bali. Banjar memiliki struktur organisasi yang kompleks, anggotanya pun terdiri dari pemuda serta orang tua.

    Dalam proses penciptaan karya yang sudah turun-menurun ini, seluruh masyarakat sekitar atau Banjar sangat kompak dan saling berkolaborasi guna menyelesaikannya. Lebih indahnya lagi, setiap Banjar memiliki karya masing-masing.

    Bahkan, beberapa Banjar menciptakan karya ogoh-ogoh lebih dari satu. Tidak ada sifat bersaing, justru setiap Banjar menunjukkan sifat dewasanya yaitu kekompakan dan toleransi bermasyarakat, mereka saling berbagi dan saling memberi saran guna menciptakan sebuah karya yang indah dan sedap untuk dinikmati oleh setiap penghuni Pulau Bali.

    Festival ogoh-ogoh merupakan salah satu dari sekian banyaknya budaya yang ada di Bali yang dapat menarik minat turis lokal maupun international. Bagaimana tidak, saat Ngrupuk sudah dimulai, terlihat ribuan ogoh-ogoh dengan bentuk yang berbeda di arak keliling oleh pemuda-pemudi Bali.

    Hal tersebut tentunya memanjakan mata setiap yang melihatnya. Inilah suatu bentuk kekompakan Umat Hindu di Bali yang patut dijadikan contoh oleh seluruh manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Saling membantu, saling berbagi, dan saling memotivasi.

     

    Penulis : Maulana Affandi

  • Kebo – Keboan: Tradisi Magis dan Sakral Suku Using Banyuwangi

    Banyuwangi merupakan Kabupaten ujung timur di Pulau Jawa. Kabupaten ini menyimpan banyak fenomena magis dan sakral yang berjalan beriringan dengan budayanya.

    Begitu banyak budaya-budaya bersifat magis di Banyuwangi yang terkenal dengan kota “Gadrung”. Salah satunya adalah Tradisi Kebo-Keboan.

    Kebo-keboan merupakan sebuah ritual khusus yang rutin diselenggarakan oleh masyarakat Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi.

    Ritual sakral ini dilangsungkan setiap bulan Muharram atau yang lebih akrab disapa Bulan Sura oleh masyarakat sekitar.

    Dilangsungkannya ritual Kebo-Keboan tidak lain hanyalah sebagai simbol rasa syukur kepada Sang Pencipta atas limpahan rahmat dan perlindungannya kepada seluruh umat manusia, khususnya di Kabupaten Banyuwangi.

    Ritual yang fenomenal ini sudah menjadi tradisi dan dilaksanakan secara turun menurun oleh nenek moyang Suku Using.

    Ada yang mengatakan jika ritual Kebo-Keboan ini sudah berlangsung sejak abad 18. Konon katanya, jika tidak menyelenggarakan ritual ini, maka akan terjadi bencana dan musibah yang berkepanjangan di desa setempat.

    Karena sebagian besar Suku Using berprofesi sebagai petani, maka keberkahan dan rasa syukur disimbolkan oleh ritual Kebo-Keboan, yang mana masyarakat sekitar berdandan layaknya kerbau lantas berkeliling desa dan diakhiri dengan membajak sawah.

    Diyakini, ritual ini juga memberikan berkah hasil panen yang baik oleh para petani.

    Orang-orang yang berdandan layaknya kerbau ini konon katanya dirasuki oleh roh halus sehari sebelum ritual dilangsungkan.

    Maka dari itu, ada pawang yang menjadi juru kunci dalam terselenggaranya ritual ini hingga berjalan lancar sampai di penghujung acara.

    Pawang tersebut juga berfungsi sebagai penetral bagi orang yang dimasuki roh halus saat acara telah usai.

    Terlebih lagi, pawang yang dipercaya merupakan keturunan dari pawang-pawang sebelumnya (terdahulu). Jadi, tidak sembarang orang bisa menjadi pawang pada ritual ini.

    Antusias masyarakat Banyuwangi untuk melihat ritual yang sudah menjadi festival rutin setiap tahunnya ini sangat besar.

    Tidak hanya orang tua, anak mudah pun menunjukkan antusias yang sangat tinggi akan budayanya. Tak terbendung jumlah pengunjung yang datang ke Desa Alas Malang pada saat festival ini berlangsung.

    Penulis : Maulana Affandi