Tag: umkm banyuwangi

  • Menteri Perdagangan Apresiasi Selai Osing Naga, Produk Ecosociopreneur Banyuwangi yang Berpeluang Tembus Pasar Global

    Menteri Perdagangan Apresiasi Selai Osing Naga, Produk Ecosociopreneur Banyuwangi yang Berpeluang Tembus Pasar Global

    Inovasi pangan berbasis potensi lokal Banyuwangi mendapat perhatian Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso.

    Saat mengunjungi tenant UMKM dalam kegiatan Talkshow dan Pameran Produk UMKM yang digelar Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) Banyuwangi, Menteri Perdagangan mengapresiasi Selai Osing Naga, produk olahan buah naga yang dikembangkan dengan pendekatan ecosociopreneurship.

    Kegiatan berlangsung di Aula Pelinggihan Tawang Alun, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jumat (28/8/2026).

    Menteri Perdagangan hadir didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, serta sejumlah jajaran Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

    Di hadapan Menteri Perdagangan, Zahrotul Janah, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Banyuwangi, memperkenalkan Selai Osing Naga sekaligus menjelaskan konsep ecosociopreneurship yang menjadi dasar pengembangan produk tersebut.

    Selai Osing Naga menggunakan buah naga sekaligus kulit buah naga sebagai bahan utama.

    Inovasi tidak berhenti pada pemanfaatan bagian buah yang biasa dikonsumsi, tetapi juga mengolah kulit buah naga menjadi bagian penting dalam proses pembuatan selai.

    Salah satu keunikan produk tersebut adalah pemanfaatan kulit buah naga sebagai sumber pengental alami, sehingga dalam proses pengolahannya tidak membutuhkan bahan tambahan pengental seperti pada umumnya.

    Konsep tersebut menjadi bagian dari semangat ecosociopreneurship, yakni mengembangkan usaha yang tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.

    Potensi komoditas lokal diolah menjadi produk bernilai tambah, sementara bagian buah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan kembali.

    “Kalau Selai Begini Kesukaan Orang Luar Negeri”

    Penjelasan mengenai inovasi Selai Osing Naga mendapat respons positif dari Menteri Perdagangan Budi Santoso.

    Setelah mencicipi dan mendengarkan penjelasan mengenai produk tersebut, Menteri Perdagangan bahkan langsung mendorong agar Selai Osing Naga dipersiapkan untuk memasuki pasar ekspor.

    “Wah, kalau selai begini kesukaan orang luar negeri. Ini segera diekspor. Lengkapi perijinannya dan usahakan tahan satu tahun produknya. Kementerian punya berbagai event internasional untuk mencari buyer, nanti langsung hubungi Pak Dirjen dan Bu Dirjen,” ungkap Budi Santoso.

    Pesan tersebut menjadi dorongan tersendiri bagi pengembangan Selai Osing Naga.

    Tidak hanya memberikan apresiasi terhadap inovasi produk, Menteri Perdagangan juga memberikan arahan konkret mengenai langkah yang perlu dipersiapkan agar produk dapat memenuhi kebutuhan pasar global, terutama terkait perizinan, daya tahan produk, dan akses buyer internasional.

    Bagi Zahrotul Janah, perhatian tersebut menjadi momentum penting untuk membawa konsep ecosociopreneurship dari tingkat lokal menuju pasar yang lebih luas.

    “Selai Osing Naga kami kembangkan bukan hanya untuk menghasilkan produk pangan baru, tetapi juga bagaimana potensi buah naga Banyuwangi bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat, sekaligus mengurangi potensi limbah dari kulit buahnya,” jelas Zahrotul.

    Kemendag Siap Buka Akses Buyer Internasional

    Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan menjelaskan bahwa Kementerian Perdagangan memiliki jaringan perwakilan perdagangan di berbagai negara yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM Indonesia untuk membuka akses pasar internasional.

    “Kementerian memiliki Atase lebih dari 46 di berbagai negara yang bertugas untuk mencarikan buyer dan menangani business matching berbagai produk termasuk UMKM. Produk yang ingin diekspor apa dan bisa memilih mau ke negara mana, nantinya akan kami proses sampai menemukan buyer,” jelas Busan, sapaan akrab Budi Santoso.

    Selain akses buyer, Budi Santoso juga memperkenalkan “Pojok Product Placement Pilihan Busan”, yang dapat menjadi salah satu peluang bagi produk-produk UMKM untuk memperluas akses pasar.

    “Tiga bulan sekali produk APUNA dan bapak ibu sekalian bisa didaftarkan ke Pilihan Busan. Kalau lolos sudah pasti bisa masuk ke seluruh jaringan ritel modern,” ujarnya.

    Peluang tersebut membuka ruang bagi Selai Osing Naga dan berbagai produk UMKM Banyuwangi lainnya untuk tidak berhenti sebagai produk lokal, tetapi dipersiapkan agar memiliki daya saing dan memenuhi standar pasar yang lebih luas.

    Wakil Bupati: “Ini Masuk Ekonomi Hijau”

    Apresiasi terhadap Selai Osing Naga juga datang dari Mujiono, Wakil Bupati Banyuwangi, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

    Saat mengunjungi tenant, Mujiono melihat langsung produk Selai Osing Naga dan memberikan dorongan agar inovasi berbasis potensi lokal tersebut terus dikembangkan.

    “Selai buah naga ya, wah masuk ini tentang ekonomi hijau. Terus semangat, ayo foto,” ungkap Mujiono.

    Menurutnya, peluang dan arahan yang disampaikan Menteri Perdagangan perlu ditindaklanjuti secara serius oleh para pelaku UMKM. Jejaring yang telah terbentuk perlu dioptimalkan agar peluang yang terbuka tidak berhenti pada kegiatan pameran dan talkshow.

    Mujiono juga mendorong agar pelaku UMKM Banyuwangi memanfaatkan berbagai akses yang telah disampaikan Kementerian Perdagangan sehingga cita-cita UMKM Banyuwangi go global dapat benar-benar diwujudkan.

    Dari Kulit Buah Naga, Tumbuh Cerita Ekonomi Hijau

    Selai Osing Naga menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi sederhana dapat membuka cerita yang lebih besar.

    Buah naga yang menjadi salah satu komoditas unggulan Banyuwangi tidak hanya dijual sebagai buah segar, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.

    Lebih jauh, pemanfaatan kulit buah naga memperlihatkan bahwa pendekatan ekonomi hijau dapat dimulai dari hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat: memanfaatkan apa yang ada, mengurangi yang terbuang, menciptakan nilai ekonomi, dan membuka peluang bagi masyarakat untuk berdaya.

    Melalui pendekatan ecosociopreneurship, Selai Osing Naga membawa pesan bahwa produk lokal tidak harus memilih antara ekonomi atau lingkungan. Keduanya dapat tumbuh bersama.

    Dari Banyuwangi, dari buah naga, bahkan dari bagian yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa, lahir sebuah inovasi yang kini mendapatkan dorongan untuk melangkah lebih jauh. (Maydini )

  • Lewat BWX Sky Fest 2.0, Bandara Banyuwangi Perkuat Peran sebagai Etalase Budaya dan Ekonomi Daerah

    Lewat BWX Sky Fest 2.0, Bandara Banyuwangi Perkuat Peran sebagai Etalase Budaya dan Ekonomi Daerah

    Bandara Internasional Banyuwangi kembali menunjukkan perannya tidak hanya sebagai sarana transportasi udara, tetapi juga sebagai pusat promosi budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan produk unggulan daerah.

    Melalui penyelenggaraan BWX Sky Fest Vol. 2 yang berlangsung pada 13–14 Juni 2026 di area Terminal Domestik Bandara Internasional Banyuwangi, masyarakat dan wisatawan diajak menikmati pengalaman yang memadukan dunia penerbangan, kuliner khas Banyuwangi, seni budaya, serta produk UMKM lokal.

    Sejak pagi, suasana bandara tampak lebih semarak dibanding hari-hari biasa. Deretan stan kopi dan produk UMKM berjajar di area festival, sementara aroma kopi yang baru diseduh menyambut pengunjung yang memasuki terminal.

    Alunan musik akustik berpadu dengan aktivitas penumpang yang datang dan berangkat, menciptakan suasana unik yang jarang ditemukan di lingkungan bandara.

    Festival ini menjadi bukti transformasi Bandara Internasional Banyuwangi sebagai ruang publik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat transit, tetapi juga sebagai etalase budaya dan ekonomi daerah yang memperkenalkan kekayaan Banyuwangi kepada masyarakat luas.

    Bandara Internasional Banyuwangi sendiri dikenal sebagai salah satu bandara dengan desain arsitektur ramah lingkungan dan berkonsep hijau yang memadukan unsur budaya lokal.

    Melalui BWX Sky Fest Vol. 2, identitas tersebut semakin diperkuat dengan menghadirkan berbagai kegiatan yang menampilkan karakter khas Banyuwangi.

    Dukung Pelestarian Budaya Melalui Program CSR

    Dalam rangkaian kegiatan festival, PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Banyuwangi juga menyalurkan bantuan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) kepada Sanggar Gandrung Osing Kemiren.

    Bantuan tersebut digunakan untuk pembelian alat musik tradisional, perlengkapan bagi para pemusik, serta dukungan penyelenggaraan pementasan seni budaya.

    Program ini merupakan bagian dari CSR Community Upskilling for Aviation yang bertujuan memberdayakan komunitas lokal agar semakin mandiri dan berdaya saing.

    General Manager Bandara Banyuwangi, Mohamad Holik Muardi, menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan.

    “Bandara tidak hanya berperan sebagai pintu gerbang transportasi udara, tetapi juga sebagai etalase budaya dan potensi daerah. Melalui program CSR ini, kami ingin memberikan dukungan nyata kepada para pelaku seni agar dapat terus berkarya, melestarikan warisan budaya, serta memperkenalkan identitas budaya Banyuwangi kepada masyarakat yang lebih luas. Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi Sanggar Gandrung Osing Kemiren dalam menjaga eksistensi budaya lokal di tengah perkembangan zaman,” ujar Holik.

    Ketua Sanggar Gandrung Osing Kemiren, Mohamad Edi Saputra, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Banyuwangi.

    “Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Dukungan ini sangat berarti bagi kami untuk terus menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan budaya Osing kepada masyarakat luas. Bantuan alat musik dan perlengkapan pementasan akan sangat mendukung aktivitas sanggar dalam melestarikan seni tradisi sekaligus membina generasi muda agar tetap mencintai budaya daerahnya,” ungkap Edi.

    Angkat Potensi Kopi Banyuwangi

    Mengusung tema “Majestic Coffee of Banyuwangi”, BWX Sky Fest 2.0 juga menjadi wadah promosi kopi lokal sekaligus pengembangan ekonomi kreatif daerah.

    Pemilihan kopi sebagai tema utama bukan tanpa alasan. Banyuwangi dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi berkualitas di Indonesia.

    Kawasan Ijen, Kalibaru, Glenmore, hingga Songgon telah lama menghasilkan kopi yang diminati pasar nasional maupun internasional.

    Melalui festival ini, para petani kopi, pelaku usaha, roaster, dan barista lokal mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat dan wisatawan.

    Berbagai jenis kopi khas Banyuwangi disajikan melalui beragam metode penyeduhan, mulai dari manual brew, pour over, french press hingga espresso-based coffee.

    Selain menikmati kopi, pengunjung juga mendapatkan edukasi mengenai proses pengolahan kopi dari kebun hingga menjadi minuman siap saji.

    Para barista berbagi pengetahuan tentang karakteristik kopi Banyuwangi, teknik penyeduhan, hingga cara mengenali kualitas biji kopi terbaik.

    Menurut Emir Yusuf, salah satu owner Gesha Coffee Roastery, kopi telah menjadi salah satu ikon ekspor Banyuwangi.

    Menurutnya, kopi Banyuwangi memiliki cita rasa yang berbeda dibanding kopi dari daerah lain. Selain itu, kopi juga mampu menyatukan para penikmatnya dalam ruang silaturahmi yang tidak dibatasi wilayah.

    Emir berharap kegiatan serupa dapat terus digelar agar kopi Banyuwangi semakin dikenal hingga mancanegara.

    Festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan kompetitif, seperti talkshow mengenai industri kopi dan peluang usaha kreatif, kompetisi Battle Coffee kategori Latte Art dan Manual Brew, serta pameran dan bazar UMKM yang menampilkan beragam produk unggulan Banyuwangi.

    “BWX Sky Fest 2.0 merupakan bentuk dukungan kami terhadap pengembangan ekosistem ekonomi kreatif daerah. Melalui tema Majestic Coffee of Banyuwangi, kami ingin mengangkat potensi kopi lokal sebagai kebanggaan daerah sekaligus mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu wadah kolaborasi yang produktif. Kami berharap kegiatan ini dapat memperluas promosi kopi Banyuwangi dan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” tambah Holik.

    UMKM dan Seni Budaya Jadi Daya Tarik

    Selain kopi, puluhan pelaku UMKM turut meramaikan festival dengan menghadirkan berbagai produk unggulan daerah, mulai dari kerajinan tangan, batik khas Banyuwangi, makanan tradisional, hingga produk kreatif hasil karya generasi muda.

    Antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya setiap stan yang dikunjungi. Banyak wisatawan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membeli oleh-oleh sebelum melanjutkan perjalanan.

    Salah satu pelaku UMKM, Azzahra dari DapurQu, mengaku bersyukur atas penyelenggaraan kegiatan tersebut karena produk kuliner tradisional yang dibawanya habis terjual bahkan sebelum acara berakhir.

    Sebagai bagian dari pembukaan festival, Sanggar Gandrung Osing Kemiren menampilkan Tari Gandrung dan berbagai tari kreasi khas Banyuwangi yang memukau para pengunjung.

    Pertunjukan tersebut menjadi simbol harmonisasi antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif yang menjadi semangat utama BWX Sky Fest 2.0.

    Gerakan tarian yang dinamis, kostum berwarna-warni, serta iringan musik tradisional berhasil menciptakan suasana meriah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang hadir.

    Perkuat Posisi Bandara sebagai Gerbang Pariwisata

    Keunikan BWX Sky Fest Vol. 2 terletak pada lokasinya yang berada di lingkungan bandara. Konsep ini memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang dapat menikmati kopi, menyaksikan pertunjukan budaya, berbelanja produk UMKM, sekaligus melihat aktivitas penerbangan dalam satu kawasan.

    Banyak pengunjung memanfaatkan area festival sebagai lokasi berfoto dengan latar pesawat yang sedang parkir maupun beraktivitas di apron bandara.

    Penyelenggaraan festival ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Bandara Internasional Banyuwangi dalam memperkuat posisinya sebagai pintu gerbang utama pariwisata Banyuwangi.

    Sebagai daerah yang memiliki beragam destinasi unggulan seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Alas Purwo, Teluk Hijau, De Djawatan, dan berbagai destinasi lainnya, Banyuwangi membutuhkan sarana transportasi yang mampu memberikan kesan positif sejak wisatawan pertama kali tiba.

    Melalui BWX Sky Fest Vol. 2, Bandara Internasional Banyuwangi tidak hanya menghadirkan layanan transportasi udara, tetapi juga memperkenalkan wajah Banyuwangi yang kreatif, ramah, dan kaya budaya.

    Lebih dari sekadar festival kopi, BWX Sky Fest Vol. 2 menjadi simbol kolaborasi antara sektor transportasi, pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.

    Setiap cangkir kopi yang disajikan, setiap tarian yang ditampilkan, serta setiap produk UMKM yang dipamerkan membawa pesan yang sama: Banyuwangi adalah daerah yang kaya potensi dan siap menyambut dunia.

    Dengan semangat kolaborasi dan inovasi yang terus dikembangkan, Bandara Internasional Banyuwangi diharapkan dapat menjadi contoh bagi bandara-bandara lain di Indonesia dalam menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna bagi masyarakat dan wisatawan.

  • APUNA Banyuwangi Hadirkan Menteri Perdagangan, UMKM Dapat Akses Perluas Pasar Global

    APUNA Banyuwangi Hadirkan Menteri Perdagangan, UMKM Dapat Akses Perluas Pasar Global

    Peluang produk lokal Banyuwangi untuk menembus pasar global semakin terbuka.

    Hal tersebut mengemuka dalam talkshow bertajuk “Membangun Akses Produk Lokal Menjadi Incaran Pasar Global” yang menghadirkan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso di Aula Pelinggihan Tawang Alun, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jumat (28/8).

    Kegiatan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) Banyuwangi ini mempertemukan Menteri Perdagangan dengan pelaku usaha, komunitas pengusaha, UMKM, serta berbagai penggerak ekonomi kreatif di Banyuwangi.

    Turut mendampingi Menteri Perdagangan, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, serta sejumlah jajaran Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 150 peserta.

    Talkshow berlangsung interaktif. Para pelaku usaha tidak hanya mendapatkan paparan kebijakan, tetapi dapat menyampaikan langsung persoalan yang mereka hadapi dalam mengembangkan dan memasarkan produknya.

    Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari kelayakan produk untuk ekspor, langkah awal memasuki pasar internasional, perizinan, strategi menemukan buyer, hingga pengalaman pelaku usaha yang telah melakukan ekspor tetapi mengalami persoalan karena tertipu agregator.

    Bahkan, peluang produk hasil karya siswa SMK untuk menembus pasar ekspor juga menjadi salah satu pertanyaan yang disampaikan kepada Menteri Perdagangan.

    Seluruh pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh Budi Santoso.

    Penjelasan yang praktis dan membuka peluang tersebut membuat para pelaku usaha semakin antusias untuk mengembangkan produknya.

    Budi Santoso yang akrab disapa Busan menjelaskan bahwa Kementerian Perdagangan memiliki jaringan perwakilan perdagangan di berbagai negara yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha Indonesia untuk membuka akses pasar.

    “Kementerian memiliki Atase lebih dari 46 di berbagai negara yang bertugas untuk mencarikan buyer dan menangani business matching berbagai produk termasuk UMKM. Produk yang ingin diekspor apa dan bisa memilih mau ke negara mana, nantinya akan kami proses sampai menemukan buyer,” ungkap Busan.

    Menurutnya, pelaku usaha tidak perlu hanya berfokus pada bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga perlu memahami pasar yang dituju, meningkatkan kualitas, memenuhi persyaratan dan perizinan, serta membangun strategi pemasaran yang tepat.

    Dari Produk Lokal, Menuju Pasar Global

    Talkshow tersebut semakin menarik karena di lokasi kegiatan juga digelar pameran produk dari berbagai komunitas pengusaha Banyuwangi.

    Beragam produk yang ditampilkan menunjukkan bahwa potensi ekonomi lokal Banyuwangi tidak hanya bertumpu pada komoditas pertanian, tetapi juga berkembang pada sektor pangan olahan, kopi, kerajinan, fesyen, kriya, hingga produk kreatif.

    Sebanyak 22 peserta pameran turut menampilkan produknya, di antaranya Cigaraya Indonesia dengan cerutu daun talas, Alpukat Sofyan, Al-Balad Beans, Sambal Tempong Kemasan, LPNU Banyuwangi, APUNA, Pancoran Craft, Pakarwangi, Kejaya Handicraft, Pawoenkoe (Sinema Indonesia), Pawoenkoe Mevraiw, Kriya Bambu Papring, Iswara, Asosiasi UMAMI, Kopitalisasi, Bakpia Pewe, Karya Tangi, kerajinan bambu, Studer Pucuk Wetan (IWAPI), PT Rayan Smart Kreatif, serta Batik Papring.

    Keberagaman produk tersebut menjadi gambaran bahwa Banyuwangi memiliki banyak produk lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.

    Dalam kesempatan tersebut, Menteri Perdagangan juga memperkenalkan program “Pojok Product Placement Pilihan Busan” sebagai salah satu peluang bagi produk pelaku usaha untuk masuk ke jaringan ritel modern.

    “Tiga bulan sekali produk APUNA dan bapak ibu sekalian bisa didaftarkan ke Pilihan Busan. Kalau lolos, sudah pasti bisa masuk ke seluruh jaringan ritel modern,” jelas Busan.

    Program tersebut disambut antusias oleh para pelaku usaha karena memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai jalur pengembangan pasar produk lokal, tidak hanya menuju konsumen domestik tetapi juga menuju jaringan perdagangan yang lebih luas.

    APUNA Jadi Ruang Kolaborasi Perempuan Muda dalam Ekonomi

    Sambutan Ketua PDNA Banyuwangi (Dok. Sastrawacana/Cici)

    Ketua PDNA Banyuwangi, Roudhotul Jannah, mengatakan bahwa talkshow tersebut tidak hanya menjadi ruang bertemunya pemerintah dengan pelaku usaha, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi antarpelaku UMKM di Banyuwangi.

    Menurut Nana, sapaan akrab Roudhotul Jannah, APUNA hadir sebagai wadah bagi perempuan muda Nasyiatul Aisyiyah untuk berdaya dalam bidang ekonomi sekaligus membangun jejaring usaha yang lebih luas.

    “Talkshow ini sekaligus menjadi ajang sinergi dan kolaborasi UMKM untuk bersama-sama meluaskan jejaring usahanya. APUNA adalah wadah perempuan muda Nasyiah untuk berdaya dalam ekonomi,” ungkap Nana.

    Ia menambahkan, berbagai peluang yang disampaikan Menteri Perdagangan akan menjadi bahan tindak lanjut bagi APUNA Banyuwangi, termasuk dengan menghubungkannya melalui Koordinator Wilayah APUNA Jawa Timur.

    “Peluang-peluang ekspor yang disampaikan oleh Menteri Perdagangan ini bisa difollow up ke Koordinator Wilayah APUNA Jawa Timur,” tambahnya.

    Dari Silaturahmi Menjadi Jejaring Usaha

    Semangat kolaborasi juga terasa dari para peserta. Salah satunya disampaikan oleh PC LPNU Banyuwangi melalui pesan di grup WhatsApp peserta kegiatan.

    “Kami atas nama PC LPNU Banyuwangi juga terima kasih sudah diundang, mudah-mudahan nanti APUNA bisa bersinergi dan kolaborasi dengan kami, matur nuwun.”

    Pesan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pertemuan tersebut tidak berhenti pada forum sehari.

    Lebih dari itu, talkshow menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai komunitas dan membuka kemungkinan kerja sama baru.

    Bagi APUNA Banyuwangi, mempertemukan pelaku usaha dengan pemerintah sekaligus mempertemukan pelaku usaha satu dengan lainnya merupakan bagian penting dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang lebih kuat.

    Produk lokal tidak cukup hanya dikenal di daerah asalnya. Ia perlu diberi jalan untuk tumbuh, menemukan pasar, membangun jejaring, dan memiliki kesempatan untuk bersaing di tingkat global.

    Melalui talkshow bersama Menteri Perdagangan RI ini, APUNA Banyuwangi membawa satu pesan penting: Banyuwangi tidak hanya memiliki produk lokal yang layak dibanggakan, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi bagian dari pasar global. (Zahrotul Janah)

  • Pecel Mbak Tutik, Legenda Kuliner Rogojampi yang Tetap Eksis Tanpa Promosi Digital

    Pecel Mbak Tutik, Legenda Kuliner Rogojampi yang Tetap Eksis Tanpa Promosi Digital

    Bagi warga Rogojampi dan sekitarnya, siapa yang tak kenal dengan warung Pecel Mbak Tutik yang melegenda?

    Setiap pagi mulai pukul 05.30 WIB, warung sederhana di barat pertigaan Pasar Rogojampi ini selalu ramai dipadati pelanggan yang ingin menikmati sarapan nasi pecel khas racikan Mbak Tutik.

    Selama lebih dari 40 tahun, nasi pecel ini menjadi menu favorit masyarakat sekitar.

    Setiap harinya, tak kurang dari 20 kilogram beras dimasak untuk memenuhi permintaan pelanggan yang datang silih berganti, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja kantoran, hingga pedagang yang tak pernah absen sarapan di sana.

    Warung Pecel Mbok Tutik Rogojampi

    Cita rasa pecelnya yang khas menjadi daya tarik utama. Nasi hangat disajikan dengan sambal pecel yang gurih pedas, kuah sayur segar, rempeyek renyah, serta lauk pendamping seperti telur ceplok, telur asin, dendeng ikan, dan kerupuk.

    Hidangan ini semakin nikmat ditemani segelas teh hangat atau temulawak yang menambah suasana hangat di pagi hari.

    Rudi, seorang pedagang yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi pelanggan setia, mengaku banyak warung pecel di sekitar Rogojampi, namun tak ada yang mampu menandingi cita rasa nasi pecel Mbak Tutik. Ia bahkan menyebut, “sudah terlanjur jatuh hati dan tidak ingin pindah ke lain hati.”

    Selain nasi pecel, warung ini juga menawarkan aneka jajanan tradisional seperti lumpia, risoles, pisang goreng, donat salju, kue lapis, dan berbagai kue lain yang menggugah selera.

    Suasana hangat dan pelayanan ramah khas Mbak Tutik membuat pelanggan merasa seperti sedang sarapan di rumah sendiri.

    Menariknya, warung Pecel Mbak Tutik tetap eksis meski tanpa promosi digital. Semua pelanggan datang berkat rekomendasi dari mulut ke mulut atau tutur tinular.

    Mbak Tutik meyakini, kunci keberhasilan usahanya terletak pada ketulusan melayani dan menjaga keaslian rasa.

    Prinsip inilah yang membuat warungnya bertahan puluhan tahun dan tetap menjadi salah satu UMKM kebanggaan Rogojampi, sederhana, hangat, dan selalu dirindukan.

  • Program Go Pro Wangi Libatkan Difabelpreneur, Perkuat UMKM Banyuwangi

    Program Go Pro Wangi Libatkan Difabelpreneur, Perkuat UMKM Banyuwangi

    Kehidupan inklusif di Banyuwangi semakin terasa dalam berbagai bidang, termasuk UMKM.

    Selaras dengan program Bupati Banyuwangi, UMKM Naik Kelas sejak tahun 2021, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskompumdag) Kabupaten Banyuwangi telah meluncurkan program Go Pro Wangi (Gerobak Promosi Banyuwangi) sebagai salah satu inovasi dalam memperluas akses pemasaran produk pelaku UMKM, termasuk pelaku usaha difabel yang mereka sebut difabelpreneur.

    Kepala Diskompumdag Banyuwangi, Hj. RR. Nanin Oktaviantie, menjelaskan bahwa Go Pro Wangi memberi kesempatan UMKM tampil di berbagai ajang besar daerah seperti Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Pasar Rakyat, hingga Car Free Day.

    “Setiap pelaku UMKM mendapat jatah tampil dua hingga tiga kali dalam satu siklus kegiatan, sehingga semua memiliki kesempatan yang seimbang untuk memperkenalkan produk mereka,” ujar Nanin.

    Diskompumdag Banyuwangi juga menyediakan gerobak dan stan dengan desain menarik serta ramah akses, sementara pelaku UMKM bertanggung jawab membawa produk dan memastikan kemasan yang layak jual.

    Menurut Nanin, keterlibatan pelaku usaha difabel mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam membangun ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

    Selain ruang promosi, pelaku UMKM difabel juga mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas promosi, penguatan branding, serta perluasan jejaring usaha.

    Apresiasi terhadap program ini datang dari Nurhadi Windoyo, Ketua Aura Lentera sekaligus pembina komunitas UMKM Sahabat.

    Windoyo Ketua Aura Lentera
    Windoyo Ketua Aura Lentera (Dok. sastrawacana.id/)

    Ia menilai Go Pro Wangi menjadi wadah penting bagi pelaku usaha difabel untuk belajar menghadapi pasar nyata.

    "Program ini sangat bermanfaat untuk sahabat-sahabat kami Diffabel pelaku UMKM. Selain memberikan peluang pasar juga menjadi wahana belajar bagi kami menghadapi pasar yang nyata. Selain itu, kesempatan bagi kami untuk sosialisasi dan promosi bahwa kami juga mampu menjalankan usaha, ada produk yang kami hasilkan," kata Windoyo saat ditemui di ajang Kejurprov Voli Jawa Timur 2025 di GOR Tawangalun.

    Saat ini banyak penyandang disabilitas tergabung dalam kelompok UMKM seperti Sahabat dan Mekarwangi.

    Meski begitu, tantangan mobilitas dan pemasaran masih menjadi kendala utama.

    Windoyo berharap pemerintah terus memberikan pendampingan dan pembinaan terpadu agar pelaku difabel bisa tumbuh menjadi difabelpreneur yang unggul.

    Go Pro Wangi

    Dalam ajang Kejurprov Voli Jatim 2025, UMKM Sahabat menampilkan beragam produk, antara lain telur asin hasil karya siswa SLBN Banyuwangi, kue Klemben produksi Mahmud Hasyim (Ketua INAF Persawangi), serta kopi As Syifa milik Nurul Imam (Ketua UMKM Sahabat).

    Melalui Go Pro Wangi, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Banyuwangi berupaya memperluas jangkauan pemasaran produk lokal, memperkuat citra dan daya saing UMKM, serta membuka peluang menuju pasar nasional hingga global.

    “Dengan semangat kolaboratif dan inklusif, Go Pro Wangi menjadi bukti nyata bahwa setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan mengharumkan nama Banyuwangi,” pungkas Nanin.

  • Dari Dapur Rumahan ke Ruang Pelatihan, Kisah Alfina Bakery yang Menularkan Semangat Kuliner di Banyuwangi

    Dari Dapur Rumahan ke Ruang Pelatihan, Kisah Alfina Bakery yang Menularkan Semangat Kuliner di Banyuwangi

    Bicara kuliner di Banyuwangi seolah tak ada habisnya. Setiap sudut kota menawarkan cita rasa khas yang menggugah selera, seiring berkembangnya sektor ekonomi dan pariwisata yang kian menjanjikan.

    Di sektor pariwisata sendiri, kuliner menjadi bagian tak terpisahkan dari daya tarik destinasi. Setiap daerah memiliki makanan khas, mulai dari hidangan berat hingga jajanan tradisional yang menggugah selera wisatawan maupun warga lokal.

    Lebih dari itu, di jantung kota ada sebuah event mingguan yang sudah lama dikenal masyarakat, yaitu Banyuwangi Creative Market (BCM).

    Kegiatan ini digelar di area Gesibu Taman Blambangan dan telah berlangsung sejak sebelum pandemi hingga sekarang.

    Pada pertengahan Agustus 2025 lalu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Koperasi juga meluncurkan event serupa bernama Community & Food Day (CFD).

    Acara ini diadakan setiap hari Minggu di sepanjang Jalan Ahmad Yani, mulai dari depan kantor kecamatan hingga ke depan SMPN 1 Banyuwangi yang diikuti oleh para pelaku UMKM dari berbagai penjuru kota.

    Perkembangan kuliner di Banyuwangi semakin terasa dengan menjamurnya kafe-kafe kekinian, baik berskala kecil maupun besar.

    Hampir di setiap sudut kota, bahkan hingga ke jalan-jalan perkampungan dan kawasan Kecamatan Glagah, kini berdiri kafe yang menawarkan aneka menu pastry dan bakery.

    Dilengkapi dengan minuman kopi modern yang digemari anak muda, banyak kafe menghadirkan konsep berkelas dengan latar pemandangan alam pedesaan, kebun, dan bukit yang memanjakan mata.

    Konsep yang sederhana namun hangat, berpadu dengan aneka roti, cake, dan kudapan manis, membuat kafe-kafe ini semakin diminati.

    Di sisi lain, meski toko roti di Banyuwangi sudah sangat banyak, mulai dari yang besar hingga rumahan, keberadaan tempat kursus atau pelatihan membuat roti masih jarang ditemui di kota yang dikenal dengan sebutan Kota Gandrung ini.

    Pelatihan Alfina Bakery

    Di tengah minimnya tempat pelatihan membuat roti di Banyuwangi, Alfina Bakery Cake & Cookies atau yang akrab disebut Kedai Makmoer hadir menawarkan solusi.

    Gerai yang berlokasi di Jalan Mayor Supono No. 10, Lingkungan Stendo, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi ini dikelola oleh Ulfiatuz Zuhro.

    Selain menjual berbagai produk roti dan kue, Ulfi juga aktif mengadakan pelatihan singkat atau LATBAR (Latihan Bareng) untuk masyarakat umum.

    Ia tak ingin sekadar disebut pemilik toko, melainkan lebih nyaman dikenal sebagai home baker, karena usaha ini berawal dari resep-resep rumahan.

    Lahir di Kecamatan Puger, Jember, Ulfi kerap mengikuti berbagai kelas khusus di kota asalnya bersama mentor berpengalaman.

    Dari situlah ia memperdalam ilmu tata boga, khususnya di bidang bakery dan pastry, hingga kini mampu membagikan pengetahuannya kepada banyak orang dengan penuh semangat.

    Roti Alfina Bakery

    Produk Alfina Bakery sangat beragam, mulai dari roti bluder, roti macan, roti tawar gandum, roti sisir, bolen, hingga sourdough cranberry.

    Setiap Minggu, Ulfi menggelar kegiatan LATBAR yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar dari dasar, mulai dari mengolah adonan hingga menghias hasil akhir.

    Pada Minggu, 19 Oktober 2025, kegiatan LATBAR kembali digelar di Kedai Makmoer dengan tiga materi pelatihan, yaitu Strawberry Shortcake, Salt Bread, dan Pastel Tutup.

    Sebanyak 15 peserta ikut berpartisipasi, berasal dari berbagai wilayah seperti Tegalsari, Genteng, dan daerah sekitar Banyuwangi.

    Salah satu peserta, Srina Lestari dari Kecamatan Tegalsari yang merupakan lulusan SMAN 1 Bangorejo tahun 2024 mengaku antusias mengikuti pelatihan untuk kedua kalinya.

    Ia merasa senang dapat mengajak rekannya ikut serta, sekaligus menambah pengalaman belajar langsung teknik dasar membuat roti dari adonan hingga hasil akhir.

    “Luar biasa senang bisa langsung praktik sesuai materi yang diajarkan Bu Ulfi,” ujarnya.

    Srina juga mengaku pelatihan ini memberinya bekal penting untuk meningkatkan keterampilan baking, baik untuk hobi maupun peluang usaha di bidang kuliner.

    Peserta lainnya, Risgiyowati atau yang akrab disapa Bu Rizgi, warga Jalan Wiji Nongko, Kelurahan Sobo, juga rutin mengikuti kegiatan ini.

    Pelatihan Membuat Roti Alfina Bakery

    Ia menilai LATBAR bukan hanya ajang belajar, tetapi juga sarana menyegarkan pikiran setelah sibuk bekerja.

    “Lewat kegiatan ini, saya bisa bertemu peserta lain, berbagi cerita, dan menambah referensi materi pelatihan untuk dipraktikkan di rumah bersama keluarga,” tuturnya.

    Ia menambahkan, ilmu yang diperoleh dari kegiatan ini sangat bermanfaat untuk memperdalam pengetahuan tentang pastry dan bakery.

    Pelatihan singkat seperti LATBAR Alfina Bakery tidak hanya menambah kreativitas dan keterampilan, tetapi juga memperluas jejaring (networking) di antara pelaku kuliner yang memiliki semangat dan minat yang sama.

    Jika Anda tertarik untuk mengikuti LATBAR ini, bisa menghubungi Ulfi di nomor 081333924441 atau datang langsung ke Kedai Makmoer di Jalan Mayor Supono No. 10, Lingkungan Stendo, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi.

  • UMKM Desa Karangrejo Tembus Pasar Luar Negeri Berkat Branding dan Promosi Digital

    UMKM Desa Karangrejo Tembus Pasar Luar Negeri Berkat Branding dan Promosi Digital

    Pemerintah Desa Karangrejo, Kecamatan Blimbingsari, berhasil mengangkat potensi UMKM warganya hingga menembus pasar internasional.

    Upaya ini dilakukan dengan memberikan dukungan branding, kemasan, dan promosi secara gratis yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

    Sejak 2023, berbagai produk UMKM Desa Karangrejo mulai dipasarkan melalui website resmi desa serta platform digital lainnya.

    Produk unggulan yang ditawarkan meliputi keripik, sale pisang, beras kencur, hingga degan jelly. Harga produk pun terjangkau, mulai dari Rp10 ribuan, sehingga mudah diterima pasar.

    Langkah ini sangat membantu para pelaku UMKM, yang kebanyakan sebelumnya kesulitan melakukan pemasaran secara mandiri

    Dengan adanya dukungan dari desa, mereka kini dapat menjangkau konsumen lebih luas hingga ke mancanegara.

    Selain itu, Desa Karangrejo juga pernah berpartisipasi dalam ajang Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) pada tahun 2024.

    Pada kesempatan itu, produk sale pisang asal Karangrejo menjadi salah satu produk dengan penjualan terbanyak.

    Ibu Sriami, istri Kepala Desa Karangrejo, menyampaikan bahwa dukungan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    “Pelayanan ini kami lakukan agar pelaku UMKM di Karangrejo bisa lebih maju. Harapannya, perekonomian desa semakin meningkat dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya,” ungkapnya.

    Dalam pengelolaan promosi, Desa Karangrejo memiliki tim khusus yang terdiri dari Alvin dan Hendra.

    Keduanya berperan penting dalam membantu masyarakat membuat branding produk sekaligus memasarkan hingga berhasil dikenal di luar negeri.

    Dengan kolaborasi antara desa, BUMDes, dan pelaku UMKM, Desa Karangrejo semakin menunjukkan diri sebagai desa yang mampu memanfaatkan potensi digital untuk kemajuan ekonomi warganya.

  • CFD Banyuwangi Hadirkan Harmoni Antara Wisata, UMKM, dan Budaya Lokal

    CFD Banyuwangi Hadirkan Harmoni Antara Wisata, UMKM, dan Budaya Lokal

    Program Car Free Day (CFD) di Banyuwangi mengalami dinamika yang memberi warna baru bagi UMKM.

    Awalnya CFD berlangsung di Jalan Jendral Ahmad Yani, kemudian bergeser ke RTH Blambangan, lalu muncul gagasan Banyuwangi Creative Market (BCM) yang sempat bertahan sebelum pandemi.

    Kini, atas kebijakan revitalisasi RTH Blambangan, CFD dikembalikan ke Jalan Jendral Ahmad Yani meski hanya sepanjang sekitar 345 meter

    Surat dari Asisten Pemerintah Kabupaten mengatur agar BCM menjadi prioritas relokasi, namun hanya sebagian pelaku usaha yang bersedia pindah karena menunggu regulasi yang lebih jelas.

    CFD Banyuwangi

    Sejumlah pedagang mengungkapkan harapan agar pemerintah memberi komitmen jangka panjang.

    Fendi Felani yang berjualan madu, misalnya, berharap regulasi lebih transparan. Meski begitu, ia tetap senang dengan adanya dua lokasi CFD karena bisa memberi kesempatan baru bagi UMKM yang antre di BCM.

    “Belum ada pihak dari manapun yang memberikan informasi secara utuh, jelas regulasi, aspek ekonomi dan berkomitmen jangka panjang kepada saya mengenai masalah ini. Kalau bagi saya pribadi, saya manut pemerintah asal jelas dan bisa berkomitmen,” ungkap Fendi Felani.

    Pedagang lain, Sonhaji yang menjual tahu petis, menekankan pentingnya membuka ruang UMKM di mana pun tanpa ada penggusuran. Perihal rezeki, ia meyakini jika itu urusan Tuhan Yang Maha Esa.

    “Soal rejeki, dimana kita ikhtiar itu urusan Yang Maha Kaya,” paparnya.

    Sementara itu, Ulfiatuzzahroh pemilik Alfina Bakery yang menjajakan roti dan kopi merasa bersyukur bisa berjualan di wilayah tempat tinggalnya sehingga bisa memperluas jaringan pelanggan sekaligus memperkuat solidaritas sesama pelaku UMKM.

    Bagi yang ingin memesan produk kue di Alfina Bakery, bisa langsung menghubungi nomor 081333924441 atau 081249962400.

    “Kami produksi aneka kue premium dengan bahan kualitas. Ada bloeder dan tawar gandum buat yang diet. Yang biasa pesan lewat medsos, bisa ketemu koki dan pembeli,” ungkapnya sembari berdiri ditopang kruk usai kecelakaan kerja saat jadi pemateri untuk konsumen Signora di Genteng.

    Di samping pelaku UMKM, yang digilir Dispendik antara lain ada karate SMPN 1 serta gerakan perpaduan pramuka, PMR, UKS, pecinta lingkungan dan literasi jurnalistik SMPN 3 Banyuwangi.

    Suasana CFD juga makin meriah dengan kegiatan jalan sehat, lomba anak-anak, pertunjukan seni, hingga layanan publik dari berbagai instansi seperti Dispenduk, Dispora, dan Perpustakaan Daerah.

    Sekolah-sekolah pun turut berpartisipasi, seperti karate SMPN 1 serta gerakan perpaduan pramuka, PMR, UKS, pecinta lingkungan, serta komunitas literasi jurnalistik SMPN 3 Banyuwangi.

    Di sisi lain, pegiat Rumah Kebangsaan dan sejumlah tokoh masyarakat seperti Hakim Sa’id, SH, Syech H Ikrom Hasan, Andi Purnama dan Akademisi Herman juga memanfaatkan CFD sebagai ruang diskusi publik.

    CFD di Banyuwangi

    “Aktivitas dagang dan sosialisasi hal positif nong kene wae!” ungkap Hakim Sa’id

    Sementara itu, Ketua Komunitas Gotongroyong’45, Aguk Wahyu Nuryadi, berharap semua pihak termasuk DPRD yang sudah memfasilitasi RDP bisa menyalurkan aspirasi dengan damai dan penuh kekeluargaan.

    Ia menegaskan pentingnya regulasi CFD yang jelas sesuai arahan pemerintah pusat agar tidak terjadi salah tafsir, sekaligus mengajak semua pihak untuk memanfaatkan kearifan lokal dalam penamaan dan konsep kegiatan.

    “Bupati perlu tegaskan regulasi CFD sesuai arahan pemerintah pusat mendukung tatanan Kabupaten Sehat. Jadi ndak keblinger inovatif hingga muncul istilah community & Food Day ataupun CFD Blambangan yang jadi Banyuwangi Creative Market. Kalau bisa pakai kearifan lokal dengan bahasa daerah seperti Osing atau Jawa seperti yang ada di kampung dan deso,” ungkap aktivis yang tergabung di Forum Banyuwangi Sehat dan Forum Pembauran Kebangsaan ini.

    Harapannya CFD tetap menjadi ruang yang membawa berkah bagi UMKM, mempererat persaudaraan, dan menjaga Banyuwangi tetap harum sebagai daerah yang penuh welas asih dan harmoni.

    Penulis: Bung Aguk/AM

  • DPRD Jatim Berangkatkan Jalan Sehat Puncak HUT RI ke-80 di Yayasan Darunnajah Banyuwangi

    DPRD Jatim Berangkatkan Jalan Sehat Puncak HUT RI ke-80 di Yayasan Darunnajah Banyuwangi

    Puncak tasyakuran Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 oleh Yayasan Pendidikan dan Sosial Darunnajah Banyuwangi berlangsung meriah dengan Family Day bertema “Bersatu Membangun Generasi Berprestasi Menuju Darunnajah Maju dan Islami”.

    Kegiatan ini digelar di halaman depan Masjid Pondok Pesantren Darun Najah pada Sabtu, 23 Agustus 2025.

    Pengurus yayasan, H. Abdul Aziz, menyampaikan rasa syukur atas rahmat Allah berupa kemerdekaan bangsa dan negara.

    Ia juga terharu melihat kekompakan warga madrasah MI 1 dan 2 serta MTs Darun Najah yang beralamat di Jalan KH Harun Tukang Kayu.

    “Semoga kebersamaan penuh kebahagiaan hari ini berlanjut hingga di akhirat kelak,” ungkapnya, yang diamini oleh sekitar seribu peserta.

    Acara panggung diawali dengan senam Anak Indonesia Hebat yang dipandu Ummi Hawa, siswi kelas 6 MI Darunnajah II yang berprestasi.

    Setelah itu ditampilkan beragam ekspresi seni, mulai dari paduan suara yang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hari Merdeka hingga berbagai ekstrakurikuler siswa.

    Tasyakuran Kemedekaan di Darunnajah Banyuwangi

    Suasana semakin khidmat saat Ustadz Nasrudin memimpin doa tahlil untuk para syuhadak bangsa, mujahid pondok, serta para guru yayasan yang telah mendahului.

    Jalan sehat menjadi salah satu agenda utama. Dra. Hj. Ma’mullah Harun, M.Pd.I., anggota DPRD Jawa Timur, berkenan memberangkatkan peserta dengan tiga kali lantunan sholawat.

    Musik rancak marching band Gita Nada MTs Darun Najah memimpin barisan yang menempuh rute sekitar dua kilometer mengitari area yayasan.

    Kreativitas tiap kelas ditampilkan melalui kafilah bernuansa merah putih, yang dinilai oleh tiga kepala madrasah yaitu Andi Nurhidayat, S.Pd., Majidatul Himmah, S.Pd.I., dan Sri Suci Dewi Wulandari, S.Pd.

    Kemeriahan acara semakin terasa berkat panduan Umi Kulsum yang penuh keceriaan.

    Berbagai doorprize dibagikan melalui kupon sedekah, dengan hadiah utama berupa sepeda listrik, mesin cuci, kompor gas, hingga kipas angin.

    Hadiah tersebut merupakan persembahan sponsor dari BPR Jatim, Suzuki, pihak yayasan, alumni, serta dukungan berbagai mitra.

    Selain itu, tersedia layanan pemeriksaan kesehatan gratis dari Puskesmas Sobo yang dipimpin langsung oleh Hj. Yulianingsih, Ketua IBI.

    Di area bazaar, paguyuban kelas turut menghadirkan aneka produk UMKM sehat, murah, dan halal.

    Ketua panitia yang juga Ketua Dewan Komite, Bunda Nurul Karimah, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak.

    “Matur nuwun atas partisipasi semua pihak. Semoga kita senantiasa penuh keimanan, sehat, serta diberkahi rezeki yang halal dan thoyib,” ungkapnya.

    Penulis: Bung Aguk/Misc