Bandara Internasional Banyuwangi kembali menunjukkan perannya tidak hanya sebagai sarana transportasi udara, tetapi juga sebagai pusat promosi budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan produk unggulan daerah.
Melalui penyelenggaraan BWX Sky Fest Vol. 2 yang berlangsung pada 13–14 Juni 2026 di area Terminal Domestik Bandara Internasional Banyuwangi, masyarakat dan wisatawan diajak menikmati pengalaman yang memadukan dunia penerbangan, kuliner khas Banyuwangi, seni budaya, serta produk UMKM lokal.
Sejak pagi, suasana bandara tampak lebih semarak dibanding hari-hari biasa. Deretan stan kopi dan produk UMKM berjajar di area festival, sementara aroma kopi yang baru diseduh menyambut pengunjung yang memasuki terminal.
Alunan musik akustik berpadu dengan aktivitas penumpang yang datang dan berangkat, menciptakan suasana unik yang jarang ditemukan di lingkungan bandara.
Festival ini menjadi bukti transformasi Bandara Internasional Banyuwangi sebagai ruang publik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat transit, tetapi juga sebagai etalase budaya dan ekonomi daerah yang memperkenalkan kekayaan Banyuwangi kepada masyarakat luas.
Bandara Internasional Banyuwangi sendiri dikenal sebagai salah satu bandara dengan desain arsitektur ramah lingkungan dan berkonsep hijau yang memadukan unsur budaya lokal.
Melalui BWX Sky Fest Vol. 2, identitas tersebut semakin diperkuat dengan menghadirkan berbagai kegiatan yang menampilkan karakter khas Banyuwangi.

Dukung Pelestarian Budaya Melalui Program CSR
Dalam rangkaian kegiatan festival, PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Banyuwangi juga menyalurkan bantuan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) kepada Sanggar Gandrung Osing Kemiren.
Bantuan tersebut digunakan untuk pembelian alat musik tradisional, perlengkapan bagi para pemusik, serta dukungan penyelenggaraan pementasan seni budaya.
Program ini merupakan bagian dari CSR Community Upskilling for Aviation yang bertujuan memberdayakan komunitas lokal agar semakin mandiri dan berdaya saing.
General Manager Bandara Banyuwangi, Mohamad Holik Muardi, menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan.
“Bandara tidak hanya berperan sebagai pintu gerbang transportasi udara, tetapi juga sebagai etalase budaya dan potensi daerah. Melalui program CSR ini, kami ingin memberikan dukungan nyata kepada para pelaku seni agar dapat terus berkarya, melestarikan warisan budaya, serta memperkenalkan identitas budaya Banyuwangi kepada masyarakat yang lebih luas. Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi Sanggar Gandrung Osing Kemiren dalam menjaga eksistensi budaya lokal di tengah perkembangan zaman,” ujar Holik.
Ketua Sanggar Gandrung Osing Kemiren, Mohamad Edi Saputra, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Banyuwangi.
“Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Dukungan ini sangat berarti bagi kami untuk terus menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan budaya Osing kepada masyarakat luas. Bantuan alat musik dan perlengkapan pementasan akan sangat mendukung aktivitas sanggar dalam melestarikan seni tradisi sekaligus membina generasi muda agar tetap mencintai budaya daerahnya,” ungkap Edi.

Angkat Potensi Kopi Banyuwangi
Mengusung tema “Majestic Coffee of Banyuwangi”, BWX Sky Fest 2.0 juga menjadi wadah promosi kopi lokal sekaligus pengembangan ekonomi kreatif daerah.
Pemilihan kopi sebagai tema utama bukan tanpa alasan. Banyuwangi dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi berkualitas di Indonesia.
Kawasan Ijen, Kalibaru, Glenmore, hingga Songgon telah lama menghasilkan kopi yang diminati pasar nasional maupun internasional.
Melalui festival ini, para petani kopi, pelaku usaha, roaster, dan barista lokal mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat dan wisatawan.
Berbagai jenis kopi khas Banyuwangi disajikan melalui beragam metode penyeduhan, mulai dari manual brew, pour over, french press hingga espresso-based coffee.
Selain menikmati kopi, pengunjung juga mendapatkan edukasi mengenai proses pengolahan kopi dari kebun hingga menjadi minuman siap saji.
Para barista berbagi pengetahuan tentang karakteristik kopi Banyuwangi, teknik penyeduhan, hingga cara mengenali kualitas biji kopi terbaik.
Menurut Emir Yusuf, salah satu owner Gesha Coffee Roastery, kopi telah menjadi salah satu ikon ekspor Banyuwangi.
Menurutnya, kopi Banyuwangi memiliki cita rasa yang berbeda dibanding kopi dari daerah lain. Selain itu, kopi juga mampu menyatukan para penikmatnya dalam ruang silaturahmi yang tidak dibatasi wilayah.
Emir berharap kegiatan serupa dapat terus digelar agar kopi Banyuwangi semakin dikenal hingga mancanegara.
Festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan kompetitif, seperti talkshow mengenai industri kopi dan peluang usaha kreatif, kompetisi Battle Coffee kategori Latte Art dan Manual Brew, serta pameran dan bazar UMKM yang menampilkan beragam produk unggulan Banyuwangi.
“BWX Sky Fest 2.0 merupakan bentuk dukungan kami terhadap pengembangan ekosistem ekonomi kreatif daerah. Melalui tema Majestic Coffee of Banyuwangi, kami ingin mengangkat potensi kopi lokal sebagai kebanggaan daerah sekaligus mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu wadah kolaborasi yang produktif. Kami berharap kegiatan ini dapat memperluas promosi kopi Banyuwangi dan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” tambah Holik.

UMKM dan Seni Budaya Jadi Daya Tarik
Selain kopi, puluhan pelaku UMKM turut meramaikan festival dengan menghadirkan berbagai produk unggulan daerah, mulai dari kerajinan tangan, batik khas Banyuwangi, makanan tradisional, hingga produk kreatif hasil karya generasi muda.
Antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya setiap stan yang dikunjungi. Banyak wisatawan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membeli oleh-oleh sebelum melanjutkan perjalanan.
Salah satu pelaku UMKM, Azzahra dari DapurQu, mengaku bersyukur atas penyelenggaraan kegiatan tersebut karena produk kuliner tradisional yang dibawanya habis terjual bahkan sebelum acara berakhir.
Sebagai bagian dari pembukaan festival, Sanggar Gandrung Osing Kemiren menampilkan Tari Gandrung dan berbagai tari kreasi khas Banyuwangi yang memukau para pengunjung.
Pertunjukan tersebut menjadi simbol harmonisasi antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif yang menjadi semangat utama BWX Sky Fest 2.0.
Gerakan tarian yang dinamis, kostum berwarna-warni, serta iringan musik tradisional berhasil menciptakan suasana meriah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang hadir.
Perkuat Posisi Bandara sebagai Gerbang Pariwisata
Keunikan BWX Sky Fest Vol. 2 terletak pada lokasinya yang berada di lingkungan bandara. Konsep ini memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang dapat menikmati kopi, menyaksikan pertunjukan budaya, berbelanja produk UMKM, sekaligus melihat aktivitas penerbangan dalam satu kawasan.
Banyak pengunjung memanfaatkan area festival sebagai lokasi berfoto dengan latar pesawat yang sedang parkir maupun beraktivitas di apron bandara.
Penyelenggaraan festival ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Bandara Internasional Banyuwangi dalam memperkuat posisinya sebagai pintu gerbang utama pariwisata Banyuwangi.
Sebagai daerah yang memiliki beragam destinasi unggulan seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Alas Purwo, Teluk Hijau, De Djawatan, dan berbagai destinasi lainnya, Banyuwangi membutuhkan sarana transportasi yang mampu memberikan kesan positif sejak wisatawan pertama kali tiba.
Melalui BWX Sky Fest Vol. 2, Bandara Internasional Banyuwangi tidak hanya menghadirkan layanan transportasi udara, tetapi juga memperkenalkan wajah Banyuwangi yang kreatif, ramah, dan kaya budaya.
Lebih dari sekadar festival kopi, BWX Sky Fest Vol. 2 menjadi simbol kolaborasi antara sektor transportasi, pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.
Setiap cangkir kopi yang disajikan, setiap tarian yang ditampilkan, serta setiap produk UMKM yang dipamerkan membawa pesan yang sama: Banyuwangi adalah daerah yang kaya potensi dan siap menyambut dunia.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi yang terus dikembangkan, Bandara Internasional Banyuwangi diharapkan dapat menjadi contoh bagi bandara-bandara lain di Indonesia dalam menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna bagi masyarakat dan wisatawan.









