Tag: ws rendra

  • Biografi Lengkap WS Rendra dan Karya-karyanya

    Biografi Lengkap WS Rendra dan Karya-karyanya

    Biografi Rendra

    Nama Pena : WS Rendra
    Nama Lengkap : Willibrordus Surendra Broto Rendra
    Lahir : Solo, 7 Nopember 1935
    Agama : Islam
    Istri : Ken Zuraida

    Kehidupan WS Rendra

    Rendra, yang bernama asli Willibrordus Surendra Broto, lahir di Solo pada tanggal 7 November 1935 dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah.

    Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta.

    Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu.

    Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, di kota yang sama.

    Setamat SMA Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup.

    Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada.

    Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya, tidak berarti ia berhenti untuk belajar.

    Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA).

    Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

    Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP.

    Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerpen, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya.

    Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

    Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat.

    Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru.

    Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

    Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an.

    Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

    Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

    Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.

    Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya :

    • The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979)
    • The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985)
    • Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985)
    • The First New York Festival Of the Arts (1988)
    • Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989)
    • World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992)
    • Tokyo Festival (1995)

    Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta.

    Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater.

    Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air.

    Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

    Pendidikan WS Rendra

    • SMA St. Josef, Solo
    • Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
    • American Academy of Dramatical Art, New York, USA (1967)

    Karya-Karya Drama WS Rendra

    • Orang-orang di Tikungan Jalan
    • SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor
    • Oedipus Rex
    • Kasidah Barzanji
    • Perang Troya tidak Akan Meletus

    Sajak/Puisi WS Rendra

    • Jangan Takut Ibu
    • Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
    • Empat Kumpulan Sajak
    • Rick dari Corona
    • Potret Pembangunan Dalam Puisi
    • Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
    • Pesan Pencopet kepada Pacarnya
    • Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
    • Perjuangan Suku Naga
    • Blues untuk Bonnie
    • Pamphleten van een Dichter
    • State of Emergency
    • Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
    • Mencari Bapak
    • Rumpun Alang-alang
    • Surat Cinta

    Penghargaan WS Rendra

    • Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
    • Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969)
    • Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)
  • Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Cinta dan Kehidupan

    Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Cinta dan Kehidupan

    AKU TULIS PAMPLET INI

    Oleh :
    W.S. Rendra

    Aku tulis pamplet ini
    karena lembaga pendapat umum
    ditutupi jaring labah-labah
    Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
    dan ungkapan diri ditekan
    menjadi peng – iya – an
    Apa yang terpegang hari ini
    bisa luput besok pagi
    Ketidakpastian merajalela.
    Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
    menjadi marabahaya
    menjadi isi kebon binatang
    Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
    maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
    Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
    Tidak mengandung perdebatan
    Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
    Aku tulis pamplet ini
    karena pamplet bukan tabu bagi penyair
    Aku inginkan merpati pos.
    Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
    Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
    Aku tidak melihat alasan
    kenapa harus diam tertekan dan termangu.
    Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
    Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
    Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
    Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
    Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.
    Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
    Rembulan memberi mimpi pada dendam.
    Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
    yang teronggok bagai sampah
    Kegamangan. Kecurigaan.
    Ketakutan.
    Kelesuan.
    Aku tulis pamplet ini
    karena kawan dan lawan adalah saudara
    Di dalam alam masih ada cahaya.
    Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
    Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
    Dan di dalam air lumpur kehidupan,
    aku melihat bagai terkaca :
    ternyata kita, toh, manusia !
    Pejambon Jakarta 27 April 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Tuhanku,
    WajahMu membayang di kota terbakar
    dan firmanMu terguris di atas ribuan
    kuburan yang dangkal
    Anak menangis kehilangan bapa
    Tanah sepi kehilangan lelakinya
    Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
    tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
    Apabila malam turun nanti
    sempurnalah sudah warna dosa
    dan mesiu kembali lagi bicara
    Waktu itu, Tuhanku,
    perkenankan aku membunuh
    perkenankan aku menusukkan sangkurku
    Malam dan wajahku
    adalah satu warna
    Dosa dan nafasku
    adalah satu udara.
    Tak ada lagi pilihan
    kecuali menyadari
    -biarpun bersama penyesalan-
    Apa yang bisa diucapkan
    oleh bibirku yang terjajah ?
    Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
    mendekap bumi yang mengkhianatiMu
    Tuhanku
    Erat-erat kugenggam senapanku
    Perkenankan aku membunuh
    Perkenankan aku menusukkan sangkurku
    Mimbar Indonesia
    Th. XIV, No. 25
    18 Juni 1960

    GERILYA
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling di jalan
    Angin tergantung
    terkecap pahitnya tembakau
    bendungan keluh dan bencana
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Dengan tujuh lubang pelor
    diketuk gerbang langit
    dan menyala mentari muda
    melepas kesumatnya
    Gadis berjalan di subuh merah
    dengan sayur-mayur di punggung
    melihatnya pertama
    Ia beri jeritan manis
    dan duka daun wortel
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Orang-orang kampung mengenalnya
    anak janda berambut ombak
    ditimba air bergantang-gantang
    disiram atas tubuhnya
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Lewat gardu Belanda dengan berani
    berlindung warna malam
    sendiri masuk kota
    ingin ikut ngubur ibunya
    Siasat
    Th IX, No. 42
    1955

    GUGUR
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Tiada kuasa lagi menegak
    Telah ia lepaskan dengan gemilang
    pelor terakhir dari bedilnya
    Ke dada musuh yang merebut kotanya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Ia sudah tua
    luka-luka di badannya
    Bagai harimau tua
    susah payah maut menjeratnya
    Matanya bagai saga
    menatap musuh pergi dari kotanya
    Sesudah pertempuran yang gemilang itu
    lima pemuda mengangkatnya
    di antaranya anaknya
    Ia menolak
    dan tetap merangkak
    menuju kota kesayangannya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Belumlagi selusin tindak
    mautpun menghadangnya.
    Ketika anaknya memegang tangannya
    ia berkata :
    ” Yang berasal dari tanah
    kembali rebah pada tanah.
    Dan aku pun berasal dari tanah
    tanah Ambarawa yang kucinta
    Kita bukanlah anak jadah
    Kerna kita punya bumi kecintaan.
    Bumi yang menyusui kita
    dengan mata airnya.
    Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
    Bumi kita adalah kehormatan.
    Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
    Ia adalah bumi nenek moyang.
    Ia adalah bumi waris yang sekarang.
    Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
    Hari pun berangkat malam
    Bumi berpeluh dan terbakar
    Kerna api menyala di kota Ambarawa
    Orang tua itu kembali berkata :
    “Lihatlah, hari telah fajar !
    Wahai bumi yang indah,
    kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
    Nanti sekali waktu
    seorang cucuku
    akan menacapkan bajak
    di bumi tempatku berkubur
    kemudian akan ditanamnya benih
    dan tumbuh dengan subur
    Maka ia pun berkata :
    -Alangkah gemburnya tanah di sini!”
    Hari pun lengkap malam
    ketika menutup matanya

    HAI, KAMU !
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Luka-luka di dalam lembaga,
    intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
    noda di dalam pergaulan antar manusia,
    duduk di dalam kemacetan angan-angan.
    Aku berontak dengan memandang cakrawala.
    Jari-jari waktu menggamitku.
    Aku menyimak kepada arus kali.
    Lagu margasatwa agak mereda.
    Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
    Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.
    Jakarta, 29 Pebruari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    LAGU SEORANG GERILYA
    (Untuk puteraku Isaias Sadewa)
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Engkau melayang jauh, kekasihku.
    Engkau mandi cahaya matahari.
    Aku di sini memandangmu,
    menyandang senapan, berbendera pusaka.
    Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
    engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
    Engkau menjadi suatu keindahan,
    sementara dari jauh
    resimen tank penindas terdengar menderu.
    Malam bermandi cahaya matahari,
    kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
    Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
    engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu
    Peluruku habis
    dan darah muncrat dari dadaku.
    Maka di saat seperti itu
    kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
    bersama kakek-kakekku yang telah gugur
    di dalam berjuang membela rakyat jelata
    Jakarta, 2 september 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    LAGU SERDADU
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Kami masuk serdadu dan dapat senapang
    ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
    Yoho, darah kami campur arak!
    Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak
    Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
    Wahai, tanah yang baik untuk mati
    Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
    cukilah ia bagi puteraku di rumah
    Siasat
    No. 630, th. 13
    Nopember 1959

    MAZMUR MAWAR

    Kita muliakan Nama Tuhan
    Kita muliakan dengan segenap mawar
    Kita muliakan Tuhan yang manis,
    indah, dan penuh kasih sayang
    Tuhan adalah serdadu yang tertembak
    Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
    sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
    dengan baju compang-camping
    membelai kepala kanak-kanak yang lapar.
    Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
    Dengan pandangan arif dan bijak
    membelai kepala para pelacur
    Tuhan berada di gang-gang gelap
    Bersama para pencuri, para perampok
    dan para pembunuh
    Tuhan adalah teman sekamar para penjinah
    Raja dari segala raja
    adalah cacing bagi bebek dan babi
    Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian
    yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu
    Dan sekarang saya lihat
    Tuhan sebagai orang tua renta
    tidur melengkung di trotoar
    batuk-batuk karena malam yang dingin
    dan tangannya menekan perutnya yang lapar
    Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
    menangis di tepi jalan.
    Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
    Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
    Para perampok, pembunuh, penjudi,
    pelacur, penganggur, dan peminta-minta
    Marilah kita datang kepada-Nya
    kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.
    Dikutip dari:
    Sajak-sajak Sepatu Tua
    Rendra
    Pustaka Jaya

    NOTA BENE : AKU KANGEN
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih,
    indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
    Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
    dan anak kita akan lahir di cakrawala.
    Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.
    Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
    untukmu hidupku terbuka.
    Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
    Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
    Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
    aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.
    Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    ORANG-ORANG MISKIN
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Orang-orang miskin di jalan,
    yang tinggal di dalam selokan,
    yang kalah di dalam pergulatan,
    yang diledek oleh impian,
    janganlah mereka ditinggalkan.
    Angin membawa bau baju mereka.
    Rambut mereka melekat di bulan purnama.
    Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
    mengandung buah jalan raya.
    Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
    Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
    Tak bisa kamu abaikan.
    Bila kamu remehkan mereka,
    di jalan kamu akan diburu bayangan.
    Tidurmu akan penuh igauan,
    dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
    Jangan kamu bilang negara ini kaya
    karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
    Jangan kamu bilang dirimu kaya
    bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
    Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
    Dan perlu diusulkan
    agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
    Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
    Orang-orang miskin di jalan
    masuk ke dalam tidur malammu.
    Perempuan-perempuan bunga raya
    menyuapi putra-putramu.
    Tangan-tangan kotor dari jalanan
    meraba-raba kaca jendelamu.
    Mereka tak bisa kamu biarkan.
    Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
    Mereka akan menjadi pertanyaan
    yang mencegat ideologimu.
    Gigi mereka yang kuning
    akan meringis di muka agamamu.
    Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
    akan hinggap di gorden presidenan
    dan buku programma gedung kesenian.
    Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
    bagai udara panas yang selalu ada,
    bagai gerimis yang selalu membayang.
    Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
    tertuju ke dada kita,
    atau ke dada mereka sendiri.
    O, kenangkanlah :
    orang-orang miskin
    juga berasal dari kemah Ibrahim
    Yogya, 4 Pebruari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    Sajak Sajak Cinta

    Setiap ruang yang tertutup akan retak
    karena mengandung waktu yang selalu mengimbangi
    Dan akhirnya akan meledak
    bila tenaga waktu terus terhadang

    Cintaku kepadamu Juwitaku
    Ikhlas dan sebenarnya
    Ia terjadi sendiri, aku tak tahu kenapa
    Aku sekedar menyadari bahwa ternyata ia ada

    Cintaku kepadamu Juwitaku
    Kemudian meruang dan mewaktu
    dalam hidupku yang sekedar insan

    Ruang cinta aku berdayakan
    tapi waktunya lepas dari jangkauan
    Sekarang aku menyadari
    usia cinta lebih panjang dari usia percintaan
    Khazanah budaya percintaan­
    pacaran, perpisahan, perkawinan
    tak bisa merumuskan tenaga waktu dari cinta

    Dan kini syairku ini
    Apakah mungkin merumuskan cintaku kepadamu

    Syair bermula dari kata,
    dan kata-kata dalam syair juga meruang dan mewaktu
    lepas dari kamus, lepas dari sejarah,
    lepas dari daya korupsi manusia
    Demikianlah maka syairku ini
    berani mewakili cintaku kepadamu

    Juwitaku

    belum pernah aku puas menciumi kamu
    Kamu bagaikan buku yang tak pernah tamat aku baca
    Kamu adalah lumut di dalam tempurung kepalaku
    Kamu tidak sempurna, gampang sakit perut,
    gampang sakit kepala dan temperamenmu sering tinggi
    Kamu sulit menghadapi diri sendiri
    Dan dibalik keanggunan dan keluwesanmu
    kamu takut kepada dunia

    Juwitaku
    Lepas dari kotak-kotak analisa
    cintaku kepadamu ternyata ada
    Kamu tidak molek, tetapi cantik dan juwita
    Jelas tidak immaculata, tetapi menjadi mitos
    di dalam kalbuku

    Sampai disini aku akhiri renungan cintaku kepadamu
    Kalau dituruti toh tak akan ada akhirnya
    Dengan ikhlas aku persembahkan kepadamu :

    Cintaku kepadamu telah mewaktu
    Syair ini juga akan mewaktu
    Yang jelas usianya akan lebih panjang
    dari usiaku dan usiamu

     

     

    Sajak Orang Lapar

     

    kelaparan adalah burung gagak
    yang licik dan hitam
    jutaan burung-burung gagak
    bagai awan yang hitam

    o Allah !
    burung gagak menakutkan
    dan kelaparan adalah burung gagak
    selalu menakutkan
    kelaparan adalah pemberontakan
    adalah penggerak gaib
    dari pisau-pisau pembunuhan
    yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

    kelaparan adalah batu-batu karang
    di bawah wajah laut yang tidur
    adalah mata air penipuan
    adalah pengkhianatan kehormatan

    seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
    melihat bagaimana tangannya sendiri
    meletakkan kehormatannya di tanah
    karena kelaparan
    kelaparan adalah iblis
    kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

    o Allah !
    kelaparan adalah tangan-tangan hitam
    yang memasukkan segenggam tawas
    ke dalam perut para miskin

    o Allah !
    kami berlutut
    mata kami adalah mata Mu
    ini juga mulut Mu
    ini juga hati Mu
    dan ini juga perut Mu
    perut Mu lapar, ya Allah
    perut Mu menggenggam tawas
    dan pecahan-pecahan gelas kaca

    o Allah !
    betapa indahnya sepiring nasi panas
    semangkuk sop dan segelas kopi hitam

    o Allah !
    kelaparan adalah burung gagak
    jutaan burung gagak
    bagai awan yang hitam
    menghalang pandangku
    ke sorga Mu.

     

     

    Surat Cinta

     

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    bagai bunyi tambur yang gaib,
    Dan angin mendesah
    mengeluh dan mendesah,
    Wahai, dik Narti,
    aku cinta kepadamu !

    Kutulis surat ini
    kala langit menangis
    dan dua ekor belibis
    bercintaan dalam kolam
    bagai dua anak nakal
    jenaka dan manis
    mengibaskan ekor
    serta menggetarkan bulu-bulunya,
    Wahai, dik Narti,
    kupinang kau menjadi istriku !

    Kaki-kaki hujan yang runcing
    menyentuhkan ujungnya di bumi,
    Kaki-kaki cinta yang tegas
    bagai logam berat gemerlapan
    menempuh ke muka
    dan tak kan kunjung diundurkan

    Selusin malaikat
    telah turun
    di kala hujan gerimis
    Di muka kaca jendela
    mereka berkaca dan mencuci rambutnya
    untuk ke pesta
    Wahai, dik Narti
    dengan pakaian pengantin yang anggun
    bunga-bunga serta keris keramat
    aku ingin membimbingmu ke altar
    untuk dikawinkan
    Aku melamarmu,
    Kau tahu dari dulu:
    tiada lebih buruk
    dan tiada lebih baik
    dari yang lain­
    penyair dari kehidupan sehari-hari,
    orang yang bermula dari kata
    kata yang bermula dari
    kehidupan, pikir dan rasa

    Semangat kehidupan yang kuat
    bagai berjuta-juta jarum alit
    menusuki kulit langit:
    kantong rejeki dan restu wingit
    Lalu tumpahlah gerimis
    Angin dan cinta
    mendesah dalam gerimis.
    Semangat cintaku yang kuta
    batgai seribu tangan gaib
    menyebarkan seribu jaring
    menyergap hatimu
    yang selalu tersenyum padaku

    Engkau adalah putri duyung
    tawananku
    Putri duyung dengan
    suara merdu lembut
    bagai angin laut,
    mendesahlah bagiku !
    Angin mendesah
    selalu mendesah
    dengan ratapnya yang merdu.
    Engkau adalah putri duyung
    tergolek lemas
    mengejap-ngejapkan matanya yang indah
    dalam jaringku
    Wahai, putri duyung,
    aku menjaringmu
    aku melamarmu

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    kerna langit
    gadis manja dan manis
    menangis minta mainan.
    Dua anak lelaki nakal
    bersenda gurau dalam selokan
    dan langit iri melihatnya
    Wahai, Dik Narti
    kuingin dikau
    menjadi ibu anak-anakku !