Setelah Perang Jawa berakhir, Belanda memiliki kesempatan untuk memusatkan kekuatan penuh menghadapi perlawanan di Sumatera Barat.
Pasukan Tuanku Imam Bonjol yang sebelumnya bertahan dengan semangat jihad dan dukungan rakyat akhirnya kewalahan menghadapi tekanan besar dari militer kolonial.
1. Peningkatan Kekuatan Militer Belanda
Setelah Perang Jawa selesai (sekitar 1830), Belanda bisa memfokuskan sumber daya militer, seperti pasukan, persenjataan, dan logistik ke Sumatera Barat untuk menghadapi Tuanku Imam Bonjol dan kaum Padri. Karena Belanda tidak lagi terbagi perhatian ke konflik lain, mereka bisa mengirim pasukan tambahan dan memperkuat operasi militer mereka di wilayah Padri.
2. Pengepungan dan Pemutusan Jalur Komunikasi serta Logistik
Belanda secara sistematis memutus jalur-jalur penghubung antara Bonjol dan pantai, memblokade daerah-daerah pengiriman logistik dan suplai ke pertahanan Padri. Hal ini sangat melemahkan pertahanan Imam Bonjol karena pasukannya kesulitan mendapatkan persediaan, bahan makanan, senjata, dan dukungan lain dari luar.
3. Taktik “Benteng (Fortification)” dan Penyerangan Terkoordinasi
Belanda mulai membangun benteng-benteng dan kubu di daerah strategis untuk menahan pergerakan pasukan Padri dan mengontrol daerah sekitarnya. Mereka melancarkan serangan meriam, bombardemen terhadap benteng, dan tekanan militer secara terus-menerus terhadap pertahanan Bonjol. Perlawanan yang sporadis dari Padri walau gigih akhirnya tidak mampu menahan serangan besar dan berkepanjangan.
4. Kemunduran Pemimpin dan Tokoh Pendukung serta Penangkapan
Seiring waktu, beberapa pemimpin Padri dan figur-figur penting berhasil ditangkap atau dipengaruhi oleh Belanda, menyebabkan melemahnya struktur komando dan koordinasi perlawanan. Ketika pemimpin inti tertangkap atau kehilangan moral dukungan, efektivitas pertahanan menjadi terkikis.
5. Penggunaan Diplomasi dan Tipu Muslihat oleh Belanda
Belanda juga memakai cara-cara non-militer seperti perundingan, janji damai, gencatan senjata, yang pada akhirnya digunakan sebagai kesempatan untuk menjebak Imam Bonjol dan melemahkan perlawanan. Perundingan-perundingan seperti itu membuat Padri kadang mempercayai tawaran damai, yang kemudian dibohongi atau dikhianati.
7. Keletihan Perang Berkepanjangan dan Keterbatasan Sumber Daya
Perang lama membuat pasukan Padri kelelahan, kehilangan sumber daya (manusia, bahan logistik, dan persenjataan). Sementara kemampuan Belanda dalam memasang suplai terus menerus dan menggantikan kehilangan mereka jauh lebih besar. Keterbatasan seperti ini mengakibatkan pertahanan Imam Bonjol tidak bisa bertahan menghadapi serangan terus menerus.








