Gandrung Sewu, Kembang Dermo, dan Glow in the Dark
Oleh : Syafaat (Ketua Lentera Sastra / Pengurus Komite Bahasa dan sastra DKB Banyuwangi)
Ketika tradisi bertemu gemerlap zaman, siapa yang menjaga makna di balik keindahan?
Bisa jadi ada yang berubah ketika kebudayaan naik ke panggung yang lebih besar. Musik terdengar lebih megah, tata cahaya semakin memikat, dan tubuh-tubuh penari bergerak dalam irama yang dirancang untuk membuat ribuan pasang mata terpukau.
Namun, di antara gemerlap itu, bolehlan jika ada pertanyaan yang diam-diam perlu diajukan: apakah kita masih mengenali makna yang dahulu dititipkan para leluhur pada setiap gerak, bunga, dan tembang?
Gandrung Sewu bukan sekadar perjumpaan ribuan penari di hamparan pesisir Banyuwangi, melainkan pernyataan bahwa kebudayaan Osing memiliki denyut sejarah dan layak dikenal dunia.
Ketika Kembang Dermo diangkat menjadi tema, ingatan kita berkelana menuju Bakungan dan Olehsari, tempat bunga-bunga kecil menyimpan kisah tentang harapan, keselamatan, dan kehidupan.
Di balik rangkaian kenanga, kantil, dan melati, terselip bahasa simbol yang diwariskan leluhur sebagai ungkapan doa dan pengharapan.
Sebab, manusia tidak sedang memohon kepada bunga, melainkan kepada Tuhan Yang Maha Esa; bunga hanyalah perantara simbolik, bahasa budaya yang merangkai ikhtiar dan keyakinan dalam keindahan tradisi.
Di sanalah kebudayaan menemukan maknanya: bukan untuk menggantikan Sang Pencipta, melainkan menjadi jalan bagi manusia untuk mengingat, bersyukur, dan mengetuk pintu rahmat-Nya.
Ketika Kembang Dermo hadir dalam konsep Glow in the Dark, kita patut berhenti sejenak. Bukan untuk menolak cahaya di pangkal malam, melainkan untuk bertanya: cahaya seperti apa yang sedang kita nyalakan, dan makna apa yang jangan sampai kita padamkan?
Dalam ritual Seblang Olehsari maupun Bakungan, Kembang Dermo bukan sekadar rangkaian bunga yang dijajakan kepada penonton.
Bunga kenanga, kantil, dan melati yang diikat pada lidi itu hadir sebagai bagian dari tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Ia menyertai tembang, gerak penari, dan keyakinan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ada syair yang terus dikenang:
“Sopo nduwe kembang dermo, ilang sebele, teko rejekine.”
Siapa yang memiliki Kembang Dermo, hilang kesialannya, datang rezekinya. Di dalam syair itu, masyarakat menyimpan doa dalam harapan.
Kembang menjadi bahasa kebudayaan untuk menyampaikan sesuatu yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan kata-kata biasa.
Ada doa yang dipanjatkan, ada keinginan untuk hidup tenteram, dan ada harapan agar pintu rezeki terbuka. Bagi masyarakat yang merawatnya, Kembang Dermo memiliki tempat tersendiri dalam keseluruhan ritual Seblang.
Maknanya tidak dapat dilepaskan begitu saja dari sejarah, lingkungan sosial, dan keyakinan yang tumbuh di Bakungan maupun Olehsari.
Membawa Kembang Dermo ke panggung Gandrung Sewu bukan sekadar memindahkan bunga menjadi hiasan, melainkan menghadirkan pemahaman tentang akar budayanya.
Glow in the Dark boleh menyuguhkan cahaya dan keindahan, sebab tradisi pun berhak tumbuh bersama zaman.
Namun, ketika simbol adat lebih dikenal karena gemerlapnya daripada maknanya, ada warisan yang perlahan kehilangan suara. Kita tidak perlu mempertentangkan tradisi dengan modernitas, tetapi menjaga keseimbangan di antara keduanya.
Panggung boleh semakin terang, tetapi jangan sampai pemahaman terhadap kebudayaan justru meredup.
Sebab, keberhasilan pertunjukan bukan hanya tentang berapa banyak mata yang terpukau, melainkan berapa banyak hati yang tergerak untuk mengenal, memahami, dan merawat warisan leluhur.
Di balik kemegahan Gandrung Sewu, tersimpan pengorbanan tubuh-tubuh muda yang mencurahkan waktu dan tenaga demi merawat warisan leluhur. Namun, keindahan tetap membutuhkan penjagaan, sebab raga adalah amanah Tuhan yang memiliki batas.
Dalam menghormati dimensi spiritual Seblang, Kembang Dermo dapat dimaknai sebagai rangkaian simbol doa dan mantra yang diwariskan turun-temurun, sebuah ikhtiar budaya yang menghubungkan harapan manusia kepada Sang Pencipta.
Ketika penari mengalami pusing, lemas, atau kehilangan kesadaran, pertolongan harus segera diberikan, baik melalui pendampingan batin maupun penanganan medis.
Sebab, menghormati tradisi bukan berarti mengabaikan kesehatan, sebagaimana menjaga warisan leluhur bukan hanya merawat simbol dan gerak, melainkan juga melindungi jiwa dan raga manusia yang menghidupkannya.
Kebudayaan tak akan lebih luhur jika manusia yang menjaganya harus melampaui batas kemampuannya. Anak-anak penari Gandrung Sewu bukan sekadar bagian dari pertunjukan, melainkan generasi yang sedang belajar mencintai warisan leluhur.
Karena itu, mereka harus pulang membawa kebanggaan, bukan kelelahan yang terabaikan. Banyuwangi adalah taman kebudayaan yang menyimpan sejarah dan makna; Gandrung Sewu semestinya menjadi jendela untuk mengenalkan Seblang dan Kembang Dermo melalui gemerlap panggung sekaligus tutur para tetua.
Glow in the Dark boleh menerangi malam, tetapi pelestarian sejati membutuhkan pemahaman, penghormatan terhadap masyarakat adat, dan kepedulian kepada para penarinya.
Sebab, menjaga kebudayaan bukan hanya merawat gerak dan cahaya, melainkan juga melindungi manusia yang membuat warisan leluhur tetap hidup.
Kita bisa menghadirkan ribuan kostum bercahaya dan panggung megah, tetapi semuanya kehilangan kedalaman jika generasi mendatang hanya mengenal Kembang Dermo sebagai hiasan, tanpa memahami kisah dan makna yang dikandungnya.
Kebudayaan bukan sekadar warisan untuk ditonton, melainkan pengetahuan untuk dipelajari dan identitas yang harus dirawat.
Biarlah Gandrung Sewu berkembang bersama kreativitas zaman, tetapi jangan sampai gemerlap panggung menenggelamkan makna tradisi, melupakan masyarakat penjaganya, dan mengabaikan perjuangan para penarinya.
Sebab, cahaya terbaik bukanlah yang paling terang di hadapan ribuan mata, melainkan yang menerangi pemahaman agar kita mampu melihat, menghormati, dan menjaga warisan leluhur dengan lebih jernih.











