Tari Jaipong adalah salah satu tarian tradisional khas Jawa Barat yang lahir pada tahun 1975.
Pencipta tari ini adalah Gugum Gumbira dan H. Suanda yang pada saat itu terinspirasi dari kesenian rakyat yang hidup di tengah masyarakat Sunda, seperti ketuk tilu dan pencak silat.
Jaipong kemudian berkembang menjadi tarian yang energik, penuh ekspresi, dan memiliki ciri khas pada gerakan tubuh yang lincah serta iringan musik gamelan Sunda yang rancak.
Dalam pertunjukan tari Jaipong, penari tidak hanya menampilkan gerakan, tetapi juga membawa properti tertentu yang menjadi bagian dari keindahan tari. Properti utama yang digunakan yaitu apok, sampur, dan sinjang.
Apok adalah baju atasan penari yang biasanya dihiasi dengan sulaman bunga atau daun pada bagian sudut pakaian.
Busana ini tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga menambah estetika visual karena warna-warnanya yang cerah dan motif hiasannya yang khas.
Sampur adalah selendang yang kerap digunakan dalam berbagai tarian tradisional Jawa dan Sunda, termasuk dalam tari Jaipong.
Sampur biasanya dikenakan di pinggang atau digantung di leher penari. Fungsinya tidak hanya sebagai hiasan, tetapi juga bagian dari gerakan tari. Penari kerap memainkan sampur dengan cara diayun, dipegang, atau digerakkan seirama musik.
Hal ini memberi kesan lebih hidup pada pertunjukan Jaipong dan menegaskan bahwa sampur memang menjadi properti penting dalam tarian ini.
Sinjang adalah kain bawahan yang digunakan oleh penari Jaipong. Biasanya berupa kain batik atau kain bermotif tradisional yang dililitkan di pinggang hingga menjuntai ke bawah.
Sinjang menjadi pelengkap busana yang memberikan kesan anggun sekaligus menjaga kekhasan budaya Sunda.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tari Jaipong memang menggunakan sampur sebagai salah satu properti utama selain apok dan sinjang.
Kehadiran sampur bukan sekadar aksesori, melainkan bagian penting dari tarian yang menambah makna, keindahan, dan daya tarik tari Jaipong yang hingga kini tetap digemari masyarakat.






