Kategori: Berita

  • Geopark Ijen Diperkuat sebagai Potensi Pariwisata dan Pembangunan Berkelanjutan Banyuwangi

    Geopark Ijen Diperkuat sebagai Potensi Pariwisata dan Pembangunan Berkelanjutan Banyuwangi

    Pengelolaan Geopark Ijen terus diperkuat Banyuwangi sebagai salah satu potensi unggulan daerah yang mengintegrasikan kekayaan alam, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari asesor UNESCO Global Geopark (UGG) yang melakukan proses revalidasi pada 3–6 Agustus 2026.

    Dua asesor UNESCO, Dr. Andreas Schüller dari Jerman dan Qinling Zhongnanshan dari China, melakukan penilaian untuk memastikan pengelolaan Geopark Ijen tetap memenuhi standar jaringan UNESCO Global Geopark. Revalidasi ini merupakan evaluasi pertama sejak kawasan tersebut memperoleh status UNESCO Global Geopark pada 2023.

    Evaluasi yang dilakukan setiap empat tahun tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan pengelolaan geopark berjalan sesuai standar internasional. Hasilnya akan menentukan keberlanjutan status Geopark Ijen dalam jaringan UGG, melalui Green Card, Yellow Card dengan kewajiban perbaikan, atau Red Card apabila status tersebut dicabut.

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan proses revalidasi menjadi kesempatan bagi daerah untuk menunjukkan perkembangan pengelolaan Geopark Ijen sekaligus memperkuat komitmen terhadap pengembangan kawasan secara berkelanjutan.

    Sejak memperoleh pengakuan UNESCO pada 2023, pengelolaan Geopark Ijen terus dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Pengembangan tersebut bertumpu pada tiga aspek utama, yakni edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.

    “Pengelolaan ekosistem UGG Ijen dilakukan mengintegrasikan alam, budaya, dan masyarakat dalam satu kesatuan yang berkelanjutan,” kata Ipuk, Selasa (4/8/2026).

    Dalam rangkaian revalidasi, para asesor mengunjungi berbagai geosite dan lokasi yang mendukung pengelolaan Geopark Ijen. Peninjauan hari pertama mencakup Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI), Desa Adat Kemiren, serta sejumlah sentra ekonomi kreatif di Banyuwangi, Senin (3/8/2026).

    Pada hari berikutnya, asesmen berlanjut ke kawasan Alas Purwo dan Teluk Pangpang di Grajagan. Kedua kawasan tersebut menjadi bagian dari bentang alam dan ekosistem yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan Geopark Ijen.

    Rangkaian kunjungan diawali welcoming dinner di Pendopo Sabha Swagata pada Minggu malam (2/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid beserta jajaran, perwakilan Bappenas, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

    Dr. Andreas Schüller mengungkapkan kekagumannya terhadap bentang alam Banyuwangi yang dilihatnya dalam perjalanan kereta api dari Surabaya menuju Banyuwangi.

    “Kami mendapatkan gambaran awal tentang wilayah Anda yang sangat luar biasa ini. Pemandangan yang indah, ladang-ladang, tanaman, perkebunan kopi, dan di balik awan, dalam remang-remang kami bisa melihat beberapa gunung besar,” ujarnya.

    Menurut Andreas, pengelolaan Geopark Ijen telah menunjukkan perkembangan positif sejak mendapatkan pengakuan UNESCO Global Geopark. Ia menilai Banyuwangi memahami bahwa geopark tidak hanya berkaitan dengan perlindungan warisan geologi, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk mengembangkan pendidikan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

    “Geopark bukan hanya tentang geologi, tetapi juga tentang masyarakat, di mana masyarakat menjadi aktornya. Saya melihat komitmen yang kuat dari Ibu Bupati dan seluruh pihak dalam hal ini. Itu adalah awal yang sempurna dalam misi evaluasi ini,” katanya. (*)

  • Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, tetap teguh menjaga tradisi leluhur melalui ritual adat Kebo-Keboan.

    Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, ikhtiar, dan doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, serta hasil panen yang melimpah.

    Ketua Lembaga Adat Kebo-Keboan Alas Malang sekaligus Ketua Panitia Kebo-Keboan 2026, Doni Agus Ferdianto, menjelaskan bahwa tradisi tersebut lahir dari sebuah peristiwa pagebluk yang pernah melanda desa pada masa lampau.

    Wabah penyakit saat itu menyebar begitu cepat hingga merenggut banyak nyawa warga.

    “Konon, pada masa itu seseorang yang pagi hari jatuh sakit, sore harinya sudah meninggal. Dalam kondisi tersebut, Buyut Karti melakukan semedi di Watu Loso sebagai ikhtiar memohon kepada Tuhan agar pagebluk segera berakhir,” ujar Doni.

    Dari peristiwa itulah kemudian lahir ritual Kebo-Keboan yang terus dilaksanakan hingga kini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan doa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah, diberi keselamatan, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan dan pertanian.

    Kerbau dipilih sebagai simbol utama dalam ritual ini karena memiliki kedekatan yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris.

    Hewan tersebut dikenal kuat, tangguh, dan menjadi sahabat petani dalam mengolah sawah sejak dahulu.

    Selain itu, dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat, Danyang Watu Loso digambarkan sebagai sosok berbadan manusia berkepala kerbau yang dipercaya menjaga wilayah Alas Malang.

    Rangkaian ritual Kebo-Keboan dimulai sejak malam 1 Suro dengan menggelar selametan di Watu Loso, tempat yang diyakini sebagai lokasi Buyut Karti memperoleh petunjuk untuk mengakhiri pagebluk.

    Memasuki H-7, warga bergotong royong mendirikan Gapura Poro Bungkil yang kemudian dihiasi berbagai hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang diberikan Tuhan.

    Pada H-3, panitia bersama masyarakat mengadakan santunan kepada anak-anak yatim yang diawali dengan pawai obor.

    Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus doa agar seluruh rangkaian ritual berlangsung dengan penuh keberkahan.

    Dua hari menjelang puncak acara, masyarakat kembali bergotong royong menghias gapura menggunakan beragam hasil pertanian, mulai dari padi, jagung, buah-buahan, hingga aneka sayuran yang menjadi hasil unggulan Desa Alas Malang.

    Sehari sebelum prosesi utama, warga mengikuti tasyakuran bersama yang digelar di sepanjang jalan dusun.

    Nuansa kebersamaan semakin terasa ketika malam harinya, seusai salat Isya, masyarakat menanam berbagai jenis pohon di sepanjang jalan kampung sebagai simbol pelestarian alam dan harapan akan kehidupan yang terus tumbuh.

    Menjelang dini hari, para sesepuh adat melaksanakan ritual peletakan sesaji di empat batu yang dianggap sakral, yakni Watu Loso, Watu Nogo atau Watu Tumpeng, Watu Gajah, dan Watu Karangan.

    Keempat batu tersebut dipercaya telah ada sejak sebelum Desa Alas Malang berdiri dan diyakini menjadi penjaga Dusun Krajan dari berbagai ancaman maupun niat jahat.

    Ritual ini menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan para leluhur agar seluruh rangkaian Kebo-Keboan berjalan dengan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

    Lebih dari sekadar ritual adat, Kebo-Keboan juga menjadi ruang yang memperkuat solidaritas warga. Seluruh masyarakat terlibat aktif dalam setiap tahapan persiapan hingga pelaksanaan, mulai dari membersihkan lingkungan, menghias kampung, menyiapkan perlengkapan ritual, hingga menyambut tamu yang datang dari berbagai daerah.

    Semangat gotong royong tersebut menjadi nilai penting yang terus diwariskan kepada generasi muda.

    Di sisi lain, penyelenggaraan Kebo-Keboan turut memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

    Ribuan wisatawan yang hadir setiap tahun membawa berkah bagi para pedagang kaki lima, pelaku UMKM, penjual hasil pertanian, hingga penyedia jasa parkir dan transportasi lokal.

    Perputaran ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan ritual menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi warga.

    Momentum ini juga menjadi panggung bagi para pelaku seni dan budaya lokal untuk menunjukkan kreativitasnya.

    Kelompok kesenian tradisional, penabuh gamelan, penari, pembuat properti adat, hingga para perajin lokal turut ambil bagian dalam menyukseskan rangkaian acara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.

    Bagi masyarakat Desa Alas Malang, Kebo-Keboan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya yang terus hidup dan berkembang.

    Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritual, gotong royong, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

    Melalui Kebo-Keboan, warisan budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga menjadi kekuatan yang mempersatukan warga sekaligus menggerakkan roda perekonomian desa.

  • Melalui Serambi Sastra #1, Andi Budi Setiawan Ajak Penulis Muda Banyuwangi Gali Puisi dari Keseharian

    Melalui Serambi Sastra #1, Andi Budi Setiawan Ajak Penulis Muda Banyuwangi Gali Puisi dari Keseharian

    Banyuwangi – Gramedia Banyuwangi berkolaborasi dengan Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) dan Indonesia Book Party (IBP) menggelar Serambi Sastra #1, Minggu (13/09/2026).

    Mengangkat tema “Menulis yang Dekat: Merangkai Puisi dalam Keseharian”, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pelajar, pegiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk belajar, berdiskusi, serta mengekspresikan pengalaman melalui puisi.

    Kegiatan berlangsung di Gramedia Banyuwangi N.X Poin Lantai 2, Jalan Kepiting No. 7, Sobo, Banyuwangi. Dari 43 peserta yang melakukan registrasi, sebanyak 21 peserta hadir dan mengikuti kegiatan hingga selesai.

    Peserta berasal dari berbagai kalangan, di antaranya pelajar SMK PGRI Rogojampi, MAN 1 Banyuwangi, dan SMPN 1 Banyuwangi.

    Selain itu, hadir pula anggota KOPIWANGI, Indonesia Book Party, Banyuwangi Book Party, mahasiswa, serta masyarakat umum.

    Serambi Sastra #1 menghadirkan Andi Budi Setiawan sebagai narasumber.

    Selain dikenal sebagai Ketua KOPIWANGI dan penulis buku Algoritma Cinta, Eunoia Sangkakala, dan Rumah Ilalang, Andi juga merupakan guru di SMK PGRI Rogojampi yang aktif menulis.

    Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.20 WIB dan dipandu Putri Nurul Azizah, staf Gramedia Banyuwangi.

    Acara dibuka dengan pantun yang membangun suasana hangat, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan profil narasumber dan sesi berbagi pengalaman tentang perjalanan menulis puisi.

    Dalam sesi tersebut, Andi mengungkapkan bahwa dirinya mulai menulis puisi ketika duduk di kelas X SMA, sekitar tahun 2001.

    Perjalanan panjang itu kemudian melahirkan buku pertamanya, Algoritma Cinta – Biarkan Algoritma Selaras dengan Semesta, yang sebagian besar puisinya ditulis ketika SMA dan baru diterbitkan pada 2021.

    “Hampir 90 persen puisi dalam buku Algoritma Cinta merupakan puisi yang saya tulis sejak SMA. Butuh waktu sekitar 20 tahun sampai akhirnya kumpulan puisi itu menjadi sebuah buku,” ungkap Andi.

    Jauh sebelum aktif menulis, Andi juga telah mengenal puisi sejak masih duduk di taman kanak-kanak.

    Ia pernah dipilih untuk mengikuti seleksi lomba baca puisi, meskipun akhirnya tidak terpilih sebagai wakil sekolah.

    Pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti belajar. Justru dari proses itulah ia semakin dekat dengan dunia puisi, hingga kemudian menjadikan puisi sebagai ruang untuk mengekspresikan pengalaman, perasaan, keresahan, bahkan kritik terhadap berbagai persoalan.

    “Bagi saya, puisi bukan sekadar rangkaian kata. Puisi menjadi ruang untuk mengenali diri, mengolah perasaan, dan menemukan ketenangan,” jelasnya.

    Menurut Andi, menulis puisi yang baik berawal dari kepekaan terhadap apa yang dirasakan, dilihat, dan dialami.

    Penulis tidak perlu memaksakan kata-kata indah, tetapi perlu menemukan kata-kata yang jujur dan mampu mewakili perasaan.

    Ia menyarankan penulis untuk banyak membaca, mengamati, melakukan riset, dan berani menulis.

    Setelah gagasan dituangkan, penulis dapat memperhatikan kembali pilihan diksi, majas, ritme, serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.

    “Puisi yang baik bukan hanya indah dibaca, tetapi juga mampu membuat pembaca ikut merasakan. Karena sesuatu yang lahir dari hati akan sampai ke hati juga,” ujarnya.

    Andi juga membagikan pengalamannya mengenai tantangan dalam menulis puisi.

    Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar mencari kata yang indah, melainkan menemukan kata yang tepat untuk mewakili perasaan tanpa kehilangan makna.

    Karena itu, ia tidak selalu terburu-buru menyelesaikan sebuah puisi. Menurutnya, memberi waktu untuk merenung, membaca kembali, kemudian memperbaiki diksi merupakan bagian penting dari proses kreatif seorang penulis.

    Diskusi semakin hidup ketika peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan.

    Tiga pertanyaan yang muncul antara lain mengenai sosok yang pertama kali mendukungnya dalam membaca puisi, peran media sosial dan teknologi digital bagi sastrawan muda, serta puisi yang paling berkesan baginya.

    Menjawab pertanyaan tersebut, Andi menyebut guru TK sebagai salah satu sosok yang sejak awal memberikan dorongan untuk mengenal puisi.

    Meski tidak lolos dalam seleksi lomba baca puisi saat itu, dukungan tersebut menjadi pengalaman yang terus diingat dan menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai penulis.

    Terkait perkembangan teknologi, Andi mengajak para penulis muda untuk tidak alergi terhadap perubahan. Menurutnya, perkembangan sastra kini tidak hanya berlangsung melalui buku cetak, tetapi juga berkembang melalui ebook, media sosial, dan berbagai platform digital.

    Sementara itu, ketika ditanya mengenai puisi yang paling berkesan, Andi menyebut Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono.

    Ia menilai kekuatan puisi tersebut terletak pada penggunaan diksi yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam dan tetap relevan sepanjang waktu.

    Setelah sesi diskusi, peserta diajak mempraktikkan langsung materi yang telah dibahas.

    Gramedia memberikan waktu 15 menit kepada peserta untuk menulis puisi yang mewakili perasaan atau pengalaman mereka.

    Kesempatan tersebut dimanfaatkan peserta untuk menuangkan pengalaman masing-masing.

    Salah seorang peserta, Vivi, kemudian membacakan puisinya dengan penuh penghayatan dan mendapatkan apresiasi dari narasumber serta peserta lainnya.

    Kegiatan semakin semarak dengan kuis yang dipandu Putri Nurul Azizah. Peserta diminta menebak judul atau penulis buku berdasarkan sampul yang ditampilkan, sebelum acara ditutup dengan pemberian apresiasi.

    Gramedia Banyuwangi memberikan Blind Book kepada tiga peserta teraktif dan dua doorprize bagi pemenang kuis.

    Andi Budi Setiawan juga memberikan tiga buku karyanya kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dan berkesempatan membacakan puisinya.

    Serambi Sastra #1 kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta.

    Lebih dari sekadar pertemuan sastra, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa puisi dapat lahir dari sesuatu yang sangat dekat: pengalaman, perasaan, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.

    Serambi Sastra yang diselenggarakan Gramedia Banyuwangi diharapkan dapat menjadi ruang yang terus tumbuh bagi masyarakat Banyuwangi untuk membaca, menulis, dan berbagi gagasan.

    Sebab, terkadang sebuah karya besar tidak dimulai dari kata-kata yang sempurna, tetapi dari keberanian seseorang untuk menuliskan satu kata pertamanya.

    Jurnalis: Andi Budi Setiawan

  • Sambut Musywil Ke-13 NA Jatim, Jurnalis Muda SMK Models Pertajam Ekoliterasi Lewat Jelajah Visual

    Sambut Musywil Ke-13 NA Jatim, Jurnalis Muda SMK Models Pertajam Ekoliterasi Lewat Jelajah Visual

    Suara lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk teriakan. Sebagian hadir dalam sehelai daun, tumbuhan yang perlahan menghilang, hingga kicauan burung yang kini tak lagi terdengar setiap pagi.

    Pesan itulah yang menjadi semangat kegiatan “Suara Bumi dalam Lensa: Jelajah Literasi Visual bersama Jurnalis Muda Lintas Iman” yang digelar di SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) Bayuwangi, Jawa Timur Sabtu (12/9/2026), pukul 08.00 WIB.

    Kegiatan yang diikuti oleh 16 jurnalis muda tersebut menjadi bagian dari rangkaian Gema Literasi Nasyiatul Aisyiyah Banyuwangi dalam rangka Semarak Musyawarah Wilayah (Musywil) Ke-13 Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur.

    Para peserta yang tergabung dalam Models Jurnalisme, Ekstrakurikuler Jurnalistik SMK Models, diajak untuk mengenal lingkungan melalui pendekatan berbeda: melihat, mengamati, membaca, memotret, dan kemudian menceritakan.

    Aksi Lingkungan Perlu Dikabarkan

    Kegiatan diawali dengan diskusi melingkar bersama Zahrotul Janah, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur Bidang Lingkungan Hidup serta Pustaka, Informasi dan Teknologi Digital.

    Dalam diskusi tersebut, Zahrotul Janah menyampaikan bahwa aksi lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan menanam pohon, membersihkan sampah, maupun mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan.

    Menurutnya, peran jurnalis juga memiliki posisi penting dalam gerakan menjaga bumi.

    “Aksi lingkungan tidak hanya berhenti pada menanam pohon, melakukan clean up sampah, atau menjalankan gaya hidup ramah lingkungan. Ada peran penting jurnalis untuk mengabarkan kepada dunia tentang keadaan lingkungan di sekitar kita,” ujarnya.

    Menurut Zahrotul, tulisan memiliki kekuatan untuk menggerakkan kesadaran. Melalui berbagai gaya penulisan dan cara bercerita, seorang jurnalis dapat menghadirkan persoalan lingkungan menjadi lebih dekat dan menyentuh hati pembacanya.

    “Kalau tidak ada peran serta jurnalis yang menyampaikan dengan tulisan yang mampu menyentuh hati, mungkin tidak semua orang akan tergerak untuk melakukan aksi lingkungan. Padahal menjaga lingkungan merupakan kewajiban bersama dan menjadi nilai yang diajarkan oleh semua agama,” katanya.

    Zahrotul yang juga inisiator Merdeka Sampah ini kemudian memantik diskusi dengan pertanyaan sederhana kepada para jurnalis muda.

    “Apa saja isu lingkungan yang kalian ketahui?”

    Pertanyaan tersebut membuka percakapan tentang berbagai persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Diskusi kemudian berlanjut pada persoalan kehilangan keanekaragaman hayati.

    Para peserta diajak mengingat kembali berbagai jenis tumbuhan maupun hewan yang dahulu mudah ditemukan, tetapi kini mulai sulit dijumpai atau bahkan tidak lagi terlihat.

    mendokumentasikan biodiversitas

    Menanam Sambil Mengenal Tumbuhan

    Usai diskusi, para peserta melanjutkan kegiatan dengan aksi penanaman.

    Sebanyak 25 bibit loofah atau blustru dan 5 bibit markisa ditanam di area SMK Models.

    Namun, kegiatan tidak berhenti pada proses menanam. Para jurnalis muda juga diajak mengobservasi berbagai tumbuhan yang ada di lingkungan sekolah.

    Tumbuhan yang belum mereka kenal menjadi pintu masuk untuk melakukan pencarian literatur. Peserta diajak mencari nama, karakteristik, manfaat, hingga informasi lain yang dapat memperkaya pemahaman mereka terhadap keanekaragaman hayati di sekitar sekolah.

    Founder Models Jurnalisme sekaligus Sekretaris PCNA Siliragung, Cici Arista Devi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki output berupa karya literasi visual dari masing-masing peserta.

    Setiap jurnalis muda diminta memotret tumbuhan yang mereka temukan di area sekolah dan kemudian membuat deskripsi berdasarkan hasil observasi serta penelusuran literatur.

    “Para jurnalis muda ini akan mengenal keanekaragaman hayati, khususnya tumbuhan yang ada di sekolah. Mereka tidak hanya mengambil gambar, tetapi juga belajar melihat lebih dekat, mengenali, mencari informasi, kemudian menceritakannya kepada orang lain,” ujarnya.

    Menurutnya, jurnalis muda memiliki ruang yang besar untuk menyuarakan ekoliterasi, terutama melalui karya visual dan tulisan yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

    Cici pun mengajak peserta untuk melihat lingkungan dengan cara yang lebih peka.

    “Tidak semua suara dapat didengar. Sebagian harus ditemukan, dilihat, lalu diceritakan,” katanya.

    Setelah mendapatkan arahan, para peserta kemudian dilepas untuk mengeksplorasi berbagai sudut sekolah.

    Kamera dan telepon genggam menjadi alat untuk menangkap cerita-cerita kecil tentang tumbuhan yang selama ini tumbuh di sekitar mereka.

    Ketika Suara Burung Mulai Hilang

    Kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman baru bagi para peserta. Salah satunya dirasakan Aurelia Clarista Putri.

    Ia mengaku sebelumnya belum banyak mengikuti isu lingkungan. Namun, diskusi tentang kehilangan keanekaragaman hayati membuatnya mulai melihat perubahan yang terjadi di sekitarnya.

    “Awalnya saya tidak mengikuti terkait isu lingkungan. Ternyata setelah mengikuti kegiatan ini kami membahas tentang kehilangan keanekaragaman hayati dan saya juga mengalami hal itu, yaitu sudah hilangnya suara burung setiap pagi,” katanya.

    Sementara itu, Rico Adi Prasetyo menilai kegiatan tersebut menjadi bentuk edukasi yang penting bagi jurnalis muda.

    Menurutnya, pemahaman terhadap isu lingkungan akan membuat generasi muda lebih sensitif terhadap berbagai perubahan yang terjadi.

    “Kegiatan ini adalah edukasi yang baik untuk jurnalis muda dan kami jadi lebih sensitif terhadap isu seperti El Nino. Dari kegiatan ini bisa menjadi langkah awal para jurnalis muda lebih dekat dengan bumi dan menyuarakan isu lingkungan,” ujarnya.

    Melalui Suara Bumi dalam Lensa, para jurnalis muda tidak hanya belajar membuat berita. Mereka juga belajar membaca lingkungan sebagai sebuah teks. Setiap daun, batang, bunga, dan tumbuhan memiliki cerita.

    Sebagian tumbuh dan tetap bertahan. Sebagian lainnya perlahan menghilang tanpa sempat terdokumentasikan.

    Karena itu, literasi tidak hanya berlangsung di depan buku atau layar. Literasi juga dapat dimulai dari langkah kaki yang menyusuri halaman sekolah, mata yang memperhatikan tumbuhan, kamera yang menangkap gambar, serta tulisan yang menyampaikan suara bumi kepada lebih banyak orang.

    SMK Muhammadiyah 8 Siliragung sendiri merupakan sekolah dampingan Eco Bhinneka Muhammadiyah yang aktif mengembangkan berbagai aksi lingkungan secara inklusif.

    Melalui keterlibatan jurnalis muda dalam kegiatan ini, aksi lingkungan diharapkan tidak hanya menjadi gerakan yang dilakukan, tetapi juga menjadi cerita yang terus disuarakan.

    Sebab bumi juga memiliki suara. Dan terkadang, suara itu membutuhkan jurnalis muda untuk menemukan, melihat, lalu menceritakannya kepada dunia.

  • MGMP Bahasa Using dan Dinas Pendidikan Banyuwangi Siapkan Wikipedia Bahasa Using, Penulis dan Pegiat Literasi Ikut Ambil Bagian

    MGMP Bahasa Using dan Dinas Pendidikan Banyuwangi Siapkan Wikipedia Bahasa Using, Penulis dan Pegiat Literasi Ikut Ambil Bagian

    Sebagai upaya menghadirkan Bahasa Using di ruang digital, MGMP Bahasa Using SMP bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi menggelar Wikilatih Wikipedia Bahasa Using di Lab IPA SMP Negeri 3 Rogojampi, Selasa dan Rabu, 8–9 September 2026.

    Wikilatih ini menjadi wadah inkubasi bagi calon relawan dan kontributor Wikipedia sekaligus mendorong semakin banyak penulis untuk mendokumentasikan Bahasa Using beserta kekayaan budaya dan sejarah Banyuwangi.

    Kegiatan resmi dibuka Kepala SMPN 3 Rogojampi, Kukung Joko Kurniawan, S.Pd., tepat pukul 08.17 WIB.

    Dalam sambutannya, ia berharap peserta tidak hanya mampu menulis menggunakan bahasa daerah, tetapi juga memahami berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan Bahasa Using dan Banyuwangi, mulai dari adat, tradisi, toponimi, legenda, hingga sejarah Blambangan dan Banyuwangi.

    Sesi berikutnya diisi motivasi oleh Ketua Komunitas Gotong Royong ’45, Aguk Darsono yang lebih akrab disapa Bung Aguk. Ia telah aktif dalam kegiatan seni teater sejak duduk di sekolah dasar.

    Saat SMA, Bung Aguk juga berhasil menjadi juara karya tulis tingkat nasional dan mendapat undangan untuk mengikuti Upacara 17 Agustus di Istana Negara.

    Hingga kini, Bung Aguk tetap aktif berbagi ilmu di bidang teater dan literasi. Ia juga berkegiatan sebagai wartawan di media lokal maupun nasional.

    “Harapannya kegiatan wikilatih ini menjadi pemicu pemegang kebijakan bahwasanya Basa Using adalah Bahasa bukan sekedar dialek atau logat Jawa!” ungkap aktivis pendidikan, kesehatan, dan disabilitas tersebut.

    Wikilatih juga menghadirkan mentor asal Madura, Alfian Rizzi Afdiquni, yang telah mendapatkan bonus sebagai kontributor aktif ke Afrika.

    Ia didampingi kontributor Bahasa Indonesia asal Sumbersari, Srono, Mbok Ulum Arifah.

    Ulum mengatakan, upaya merintis Wikipedia Bahasa Using sebenarnya bukan hal baru.

    Perintisannya telah dimulai sejak 2018, sementara pada tahun lalu juga terdapat proyek penyusunan kamus 2.000 kata Using.

    Saat ini, sudah terdapat sekitar 450 artikel mengenai Banyuwangi dan Bahasa Using. Namun, aktivitas menulis secara rutin masih menjadi tantangan.

    Menurut Ulum, belum lebih dari tiga penulis yang istiqomah menghasilkan tulisan setiap minggu.

    Kondisi tersebut membuat Wikipedia atau web berbahasa Using belum muncul sebagaimana bahasa daerah lain yang telah memiliki Wikipedia, seperti Betawi, Bali, Madura, Jawa, Minang, dan 19 bahasa ibu lainnya.

    “Sesungguhnya sudah dirintis sejak 2018 dan tahun lalu ada proyek kamus 2000 kata Using. Sudah ada sekitar 450 artikel tentang Banyuwangi dan bahasa Using. Tapi tidak istiqomah mingguan menulis buat lebih dari 3 penulis. Maka belum muncul web bassa Using seperti Betawi, Bali, Madura, Jawa, Minang dan 19 bahasa ibu lainnya. Harapannya 4-5 bulan ke depan sudah lahir Wikipedia Using menambah kekayaan bahasa nusantara yang juga diakui internasional!” harap Ulum yang kini tinggal di Surabaya.

    Sementara itu, Alfian Rizzi Afdiquni memberikan paparan mengenai Wikipedia secara umum maupun secara khusus.

    Setelah menyampaikan materi melalui PPT, ia kemudian membimbing peserta membuat akun dan mempraktikkan langsung penulisan artikel.

    Peserta diperkenalkan dengan berbagai SOP dalam penulisan Wikipedia sekaligus visi dan misi yang harus dipahami oleh seorang kontributor.

    “Kami yakin dengan semangat peserta inkubator ini maka segera terwujud Bahasa Using jadi web di Wikimedia!” ungkap Putri Koneng, yang juga berharap Bahasa Kangean dapat mendunia.

    Alfian juga berpesan agar setiap tulisan yang dibuat bersumber dari data dan referensi yang terpercaya. Ia menegaskan bahwa tulisan untuk Wikipedia tidak boleh menggunakan AI.

    Salah seorang peserta, Nani Asiany Ms (64), mengaku semangatnya langsung meningkat ketika mendengar kata Using.

    “Isun langsung jenggirat, mugo perjuangan Hasan Ali lan budayawan lain terus dadi amal lan dilanjutkan generasi alfa z saiki!” ungkapnya.

    Nani merupakan penulis bahan ajar muatan lokal Bahasa Using di SD. Ia juga tercatat sebagai kontributor Belambangan.com dan kamus kata Wiki.

    Kegiatan Wikilatih diikuti 70 peserta yang dibagi dalam dua hari. Peserta berasal dari berbagai unsur, yakni guru, pegiat literasi, komunitas penulis, serta jurnalis warga.

    Ketua MGMP Bahasa Using, Yeti Chotimah, M.Pd., berharap Wikipedia Bahasa Using dapat segera terwujud. Yeti sendiri telah banyak menerbitkan buku dan dikenal sebagai Google Master.

    “Semoga web Using Wikipedia jadi kado terindah buat hari jadi Banyuwangi ke 255 tanggal 18 Desember 2026 momentum Perang Puputan Bayu!” tutur Yeti. (Aguk Wahyu Nuryadi)

  • Dari Warisan Sultan Agung, Dosen FISIP UNNES Temukan Nilai Kolaborasi dalam Sastra Gendhing

    Dari Warisan Sultan Agung, Dosen FISIP UNNES Temukan Nilai Kolaborasi dalam Sastra Gendhing

    Di tengah perubahan kehidupan sosial yang semakin dinamis pada abad ke-21, kemampuan masyarakat untuk bekerja sama, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan menjadi semakin penting.

    Kemajuan teknologi memang memudahkan komunikasi dan aktivitas sehari-hari, namun perubahan tersebut juga memunculkan tantangan baru dalam membangun relasi sosial yang sehat.

    Dalam situasi itu, warisan pemikiran Nusantara dapat menjadi sumber pembelajaran untuk menemukan kembali nilai-nilai kehidupan bersama yang relevan dengan kondisi saat ini.

    Salah satu warisan tersebut adalah Sastra Gendhing, karya yang dikaitkan dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma.

    Nilai-nilai di dalamnya dikaji oleh Khoirul Anwar, S.Pd., M.Pd., Dosen FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES), untuk melihat relevansinya dengan kehidupan sosial masyarakat kontemporer.

    Dalam proses kajiannya, Khoirul melibatkan KGPH Puger, putra PB XII sekaligus budayawan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

    Keterlibatan budayawan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif dalam membaca Sastra Gendhing, tidak hanya berdasarkan teks, tetapi juga dengan mempertimbangkan latar belakang kebudayaan Jawa yang melingkupinya.

    Kajian dari sudut pandang sosial-humaniora itu menemukan bahwa Sastra Gendhing tidak hanya berbicara mengenai persoalan filosofis dan spiritual.

    Karya tersebut juga memuat gagasan tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan bersama, membangun hubungan dengan sesama, serta menjaga keseimbangan dalam lingkungan sosial.

    Dari pembacaan tersebut, muncul pemahaman bahwa ajaran dalam Sastra Gendhing memiliki keterkaitan dengan etika kehidupan bersama, khususnya mengenai semangat gotong royong.

    Nilai ini menempatkan kepentingan bersama, tanggung jawab, dan keharmonisan sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan sosial.

    Perspektif tersebut dinilai masih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

    Kehidupan abad ke-21 menuntut setiap individu tidak hanya memiliki kemampuan personal, tetapi juga kecakapan untuk berkomunikasi, bernegosiasi, bekerja dalam tim, menghormati perbedaan, serta mengambil tanggung jawab dalam lingkungan sosial.

    Semangat yang tercermin dalam Sastra Gendhing menunjukkan bahwa terciptanya kehidupan yang harmonis membutuhkan kemauan untuk saling memahami dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

    Nilai tersebut dapat menjadi salah satu pijakan dalam membangun karakter masyarakat yang mampu berkolaborasi di tengah perubahan zaman.

    Khoirul Anwar menilai, mempelajari Sastra Gendhing tidak cukup hanya dengan menempatkannya sebagai peninggalan masa lalu yang perlu dilestarikan.

    Kandungan nilai di dalamnya perlu terus dibaca dan dikaitkan dengan persoalan kehidupan masyarakat masa kini.

    Menurutnya, semangat kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan upaya menjaga harmoni merupakan nilai yang tidak kehilangan relevansinya meskipun pola kehidupan masyarakat terus berubah.

    Karena itu, karya-karya intelektual Nusantara dapat diperlakukan sebagai sumber pengetahuan yang masih dapat diajak berdialog dengan persoalan sosial di era modern.

    Kajian tersebut sekaligus membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut terhadap berbagai karya pemikiran Nusantara dengan menggunakan pendekatan lintas disiplin.

    Pendekatan semacam ini memungkinkan warisan intelektual masa lalu tidak hanya dipahami dari sisi sejarah dan budaya, tetapi juga dikaji berdasarkan relevansinya terhadap kebutuhan masyarakat sekarang.

    Di sisi lain, generasi muda diharapkan tidak semakin jauh dari warisan pemikiran para intelektual Nusantara.

    Berbagai karya tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai nilai kehidupan, sekaligus ruang untuk memahami bagaimana gagasan masa lalu dapat diterapkan dan dimaknai kembali sesuai tantangan zaman.

    Melalui pembacaan kembali terhadap Sastra Gendhing, warisan pemikiran Sultan Agung tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah kebudayaan Jawa.

    Nilai-nilai di dalamnya dapat terus dihidupkan sebagai bahan refleksi untuk membangun masyarakat yang memiliki semangat gotong royong, mampu berkolaborasi, menghargai perbedaan, dan menjaga keharmonisan kehidupan bersama. (Miskawi)

  • Festival Literasi Using 2026 Jadi Ajang Pelajar Banyuwangi Kenali Bahasa dan Budaya Daerah

    Festival Literasi Using 2026 Jadi Ajang Pelajar Banyuwangi Kenali Bahasa dan Budaya Daerah

    BANYUWANGI – Upaya menjaga Bahasa Using sebagai bagian dari identitas budaya Banyuwangi kembali dilakukan melalui Festival Literasi Using 2026.

    Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi ambil bagian dalam ajang tahunan yang digelar Sabtu (5/9) di SDN Kepatihan.

    Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal sekaligus menggunakan bahasa daerah melalui berbagai bentuk perlombaan.

    Festival tahun ini diikuti pelajar jenjang SD dan SMP. Sejumlah cabang yang dilombakan antara lain Geguritan atau baca puisi, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Ketua Panitia Festival Literasi Using 2026, Yeti Chotimah, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan Bahasa Using kepada pelajar melalui kegiatan yang bersifat kreatif.

    “Anak-anak tidak hanya kita ajak untuk belajar Bahasa Using, tetapi juga menggunakannya secara langsung melalui berbagai kegiatan. Harapannya, mereka semakin mengenal dan terbiasa menggunakan bahasa daerahnya,” kata Yeti.

    Menurut Yeti, keberagaman cabang yang dilombakan memberikan pilihan bagi pelajar untuk mengenal Bahasa Using melalui kemampuan yang berbeda-beda.

    Ada yang mengekspresikannya melalui puisi dan tembang, ada pula yang menggunakan bahasa tersebut dalam pidato, cerita, dongeng, maupun tulisan.

    Salah satu yang menarik perhatian adalah cabang Geguritan tingkat SMP. Peserta tidak hanya dituntut mampu membawakan puisi dengan baik, tetapi juga diperkenalkan pada karya-karya yang menggunakan Bahasa Using.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Panitia menyediakan dua buku sebagai pilihan materi yang dapat dibawakan peserta, yakni Antologi Gotong Royong karya Komunitas Gotong Royong 45 dan Sanga Puluh Sanga (99) Basa Using karya Ir. Zaenuri, seorang penyair yang telah menulis beberapa buku berbahasa Using.

    Antusiasme terhadap cabang Geguritan juga cukup tinggi. Jumlah peserta tingkat SMP dibatasi sebanyak 45 orang karena peminatnya pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya cukup banyak.

    Dalam penilaian, juri memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan peserta dalam memahami dan menyampaikan isi puisi.

    Maulana Affandi Juri Festival Literasi Using

    Penilaian cabang Geguritan dilakukan oleh juri dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam.

    Mereka di antaranya Maulana Affandi, mahasiswa Pascasarjana Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Nuhbatul Fakhiroh yang merupakan juara Liga Puisi, Nur Kamilasari yang merupakan praktisi puisi, Ulvatus Soviyah anggota MGMP, serta Ahmad Istiqlal yang menjadi juara Festival Literasi Using pada tahun sebelumnya.

    Tidak hanya Geguritan, cabang lainnya juga memberikan kesempatan kepada pelajar untuk menggunakan Bahasa Using dalam bentuk yang berbeda.

    Ada peserta yang menyampaikan pidato, menembang, menulis, mendongeng, hingga membaca lontar.

    Beragamnya bentuk perlombaan membuat pelajar tidak hanya berhadapan dengan Bahasa Using sebagai materi pembelajaran.

    Mereka mendapat kesempatan untuk menggunakan bahasa tersebut melalui karya sastra, seni, dan penampilan di hadapan publik.

    Bagi budayawan, pertemuan pelajar dengan karya-karya berbahasa Using menjadi bagian yang tidak kalah penting dari kompetisi itu sendiri.

    Sebab, proses mengenalkan bahasa daerah tidak berhenti pada kemampuan berbicara, tetapi juga bagaimana generasi muda mengenal karya yang lahir dari bahasa tersebut.

    Agus Wahyu Nuryadi alias Bung Aguk, budayawan dari Sanggar Merah Putih 45, menilai penggunaan karya sastra berbahasa Using dalam perlombaan menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengenalan bahasa daerah kepada pelajar.

    Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman tampil di hadapan publik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan bahasa dan karya lokal.

    “Yang menarik dari kegiatan seperti ini adalah anak-anak tidak hanya belajar tampil. Mereka juga berhadapan langsung dengan karya dalam Bahasa Using. Dari situ mereka bisa mengenal kosakata, cara pengucapan, sekaligus memahami pesan yang ada dalam karya,” ujar Bung Aguk.

    Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan pelajar dengan bahasa dan karya lokal perlu terus dilakukan agar proses regenerasi tidak berhenti pada pengenalan budaya, tetapi berlanjut pada kemampuan untuk menggunakannya.

    Ia menilai pengalaman menggunakan Bahasa Using secara langsung dapat membantu pelajar lebih akrab dengan bahasa daerah, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan berkesenian.

  • Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    BANYUWANGI – Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi mengikuti Festival Literasi Using 2026 yang digelar di SDN Kepatihan, Banyuwangi, Sabtu (5/9).

    Kegiatan yang dihelat setiap tahun ini menjadi salah satu agenda budaya dan literasi terbesar di Banyuwangi, dengan mempertemukan pelajar dalam berbagai kompetisi yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Using.

    Festival yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

    Bupati Banyuwangi di Festival Literasi Using 2026

    Kehadiran Bupati Banyuwangi menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap antusiasme peserta didik yang mengikuti festival tersebut setiap tahunnya.

    Tahun ini, Festival Literasi Using mempertandingkan sejumlah cabang, yakni Geguritan, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Antusiasme pelajar terlihat salah satunya pada cabang Geguritan (baca puisi) tingkat SMP.

    Jumlah peserta pada cabang ini dibatasi sebanyak 45 orang. Pembatasan tersebut dilakukan karena pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peminat cabang ini sangat tinggi.

    Dalam penilaian Geguritan, peserta dinilai dari sejumlah aspek kebahasaan, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan menyampaikan makna dari teks yang dibawakan.

    Salah satu juri pada cabang tersebut adalah Maulana Affandi, mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Menurut Maulana, kemampuan peserta dalam membawakan Geguritan tidak hanya dilihat dari penguasaan teks, tetapi juga dari ketepatan penggunaan bahasa saat menyampaikan setiap bait.

    Pengucapan, intonasi, dan tekanan kata menjadi bagian penting agar isi Geguritan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

    “Selain interpretasi, bahasa juga menjadi fondasi utama dalam membaca Geguritan. Peserta harus mampu menjaga ketepatan pengucapan sekaligus memahami bagaimana sebuah kata disampaikan. Selain itu, intonasi dan tekanan juga ikut menentukan apakah pesan dalam teks bisa sampai kepada pendengar,” ujar Maulana.

    Menurut Maulana, kemampuan menggunakan bahasa daerah akan lebih mudah berkembang ketika peserta didik tidak hanya mempelajarinya secara teori, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Festival Literasi Using menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus melestarikannya melalui karya sastra.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa bahasa Using tidak hanya berkaitan dengan kosakata, tetapi juga memiliki sistem, konteks penggunaan, serta keterkaitan dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

    Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang ia dapatkan selama menempuh studi di UMM.

    “Kalau kita berbicara tentang bahasa Using, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai kumpulan kosakata. Ada sistem, ada cara penggunaan, ada konteks, dan ada identitas masyarakat yang melekat di dalamnya. Karena itu, ketika anak-anak menggunakan bahasa Using dalam karya sastra, sebenarnya mereka sedang berinteraksi dengan kekayaan bahasa dan budaya daerahnya,” jelasnya.

    Hadirnya Maulana sebagai juri turut membawa unsur akademik UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini.

    Pengetahuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan bahasa di Pascasarjana UMM diterapkan dalam kegiatan yang secara langsung melibatkan pelajar dan penggunaan bahasa Using.

    Bagi Maulana, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan praktik kebahasaan di tengah masyarakat.

    Ia berharap pelajar tidak memandang bahasa Using hanya sebagai materi yang dipelajari ketika mengikuti perlombaan.

    “Bahasa akan tetap hidup ketika digunakan. Anak-anak harus merasa bahwa bahasa Using bukan hanya bahasa yang dipelajari untuk mengikuti lomba, tetapi bahasa yang memiliki nilai dan bisa digunakan untuk berkarya,” katanya.

    Ia juga menilai rasa bangga terhadap bahasa daerah perlu ditanamkan sejak dini. Keberanian pelajar menggunakan bahasa Using di ruang publik menjadi salah satu bentuk sederhana dalam menjaga keberadaan bahasa daerah.

    “Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan. Ketika anak-anak berani tampil menggunakan bahasa Using di depan orang lain, itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah,” ujarnya.

    Keterlibatan Maulana sebagai mahasiswa Pascasarjana UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini juga menjadi bagian dari keterlibatan akademisi dalam kegiatan kebahasaan dan budaya di masyarakat.

    Hal tersebut sejalan dengan perhatian Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terhadap keberlanjutan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan generasi muda.

    Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Assoc. Prof. Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., menilai pelestarian budaya Using perlu terus diperbarui agar mampu menarik minat generasi Z dan generasi muda untuk mengenal, memahami, menguasai, sekaligus mencintai budaya daerahnya.

    Menurutnya, pembaruan dapat dilakukan dengan mengemas kegiatan seni dan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

    Penggunaan bahasa Using dalam konteks yang lebih kekinian juga dapat menjadi salah satu cara agar bahasa dan budaya daerah tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

    “Penting ada upaya-upaya terbarukan untuk budaya Osing agar bisa menumbuhkan keinginan generasi Z atau generasi muda lainnya untuk lebih mengenal, memahami, menguasai, dan mencintai budaya Osing sebagai upaya pemertahanan dan pelestariannya. Misalnya, bagaimana menata festival seni baca Aljin yang menarik untuk generasi muda Banyuwangi atau penggunaan bahasa Osing yang kekinian,” tuturnya.

    Ia menambahkan, pelestarian budaya juga tidak dapat dilepaskan dari peran pendidik.

    Guru maupun pendidik diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan mengajar, tetapi juga mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan peserta didik dan kebudayaan di sekitarnya.

    “Terus terang, kita sendiri sebagai pendidik kadang hanya suka mengajar, bukan mengajarkan kehidupan,” tutupnya.

  • Era AI Tak Bisa Dihindari, Kepala LAN RI Bekali Mahasiswa UI Cordoba Strategi Jadi Pemimpin Masa Depan

    Era AI Tak Bisa Dihindari, Kepala LAN RI Bekali Mahasiswa UI Cordoba Strategi Jadi Pemimpin Masa Depan

    Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan berpikir kritis.

    Pesan itu disampaikan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Dr. Muhammad Taufiq, DEA, saat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum Nasional di Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba) Banyuwangi, Jumat (3/7).

    Kuliah umum bertema “Menjadi Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat: Kepemimpinan, Pelayanan Publik, dan Masa Depan Indonesia di Era Digital” tersebut diikuti ratusan mahasiswa, dosen, dan tamu undangan.

    Hadir pula Pembina Yayasan UI Cordoba sekaligus Menteri PANRB periode 2022–2024 Abdullah Azwar Anas, Ketua Yayasan UI Cordoba, jajaran pimpinan universitas, Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi, serta perwakilan organisasi perangkat daerah di Banyuwangi.

    Dalam paparannya, Muhammad Taufiq menegaskan bahwa perubahan yang dipicu perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat.

    Karena itu, semangat belajar tidak boleh berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal.

    “Perubahan hari ini bergerak sangat cepat. Karena itu, semangat belajar tidak boleh berhenti ketika seseorang lulus dari bangku kuliah. Justru di situlah proses belajar yang sesungguhnya dimulai. Teruslah memperdalam ilmu, menguatkan daya analisis, dan jangan pernah merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki,” tegas Taufiq.

    Menurutnya, kemampuan analisis dan penguasaan ilmu menjadi pembeda di tengah derasnya arus informasi.

    Ia juga mengingatkan pentingnya menghargai kompetensi setiap profesi sebagai fondasi dalam pengambilan keputusan.

    “Tidak ada yang lebih memahami pendidikan selain guru, sebagaimana tidak ada yang lebih memahami kesehatan selain dokter. Maka, setiap profesi harus terus memperkuat kompetensinya agar mampu memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat,” ungkapnya.

    Dalam kesempatan itu, Taufiq juga menyoroti pesatnya perkembangan AI yang kini telah masuk ke berbagai sektor, mulai pendidikan, pemerintahan hingga pelayanan publik.

    Ia menilai teknologi tersebut harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelayanan, bukan dipandang sebagai ancaman.

    “Artificial Intelligence mampu membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi AI tidak dapat menggantikan integritas, kebijaksanaan, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, jangan hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga bangun karakter yang membuat teknologi digunakan untuk kemaslahatan,” pesannya.

    Pemaparan tersebut disambut antusias peserta. Sejumlah mahasiswa memanfaatkan sesi diskusi untuk mengajukan pertanyaan seputar transformasi birokrasi, penerapan AI dalam pelayanan publik, hingga kompetensi yang dibutuhkan agar mampu bersaing di era digital.

    Rektor Universitas Islam Cordoba, Prof. Dr. Agus Trihartono, S.Sos., M.A., Ph.D., mengatakan kuliah umum tersebut merupakan bagian dari upaya kampus menghadirkan wawasan kebangsaan dan kepemimpinan kepada mahasiswa melalui dialog langsung dengan para pemimpin nasional.

    “Kampus harus menjadi ruang lahirnya pemimpin masa depan yang mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Kehadiran para pemimpin nasional di lingkungan kampus merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus menghubungkan dunia akademik dengan realitas kebijakan publik,” dawuh beliau dalam sambutannya.

  • Cetak Santri Literat, PPYD Ladunna Gelar Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

    Cetak Santri Literat, PPYD Ladunna Gelar Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

    Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa (PPYD) Ladunna terus memperkuat budaya literasi di kalangan santri melalui kegiatan Belajar Literasi dan Jurnalistik yang diselenggarakan pada Rabu (24/6).

    Bertempat di Masjid Al-Khoirot, pelatihan ini menghadirkan sastrawan dan penulis nasional Bung Aguk Wahyu Nuryadi serta pegiat literasi Yeti Chotimah sebagai narasumber.

    Kegiatan tersebut diikuti puluhan santri yang tampak antusias sejak awal hingga akhir acara.

    Dengan suasana yang hangat dan interaktif, para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan mengikuti berbagai sesi praktik sederhana mengenai dunia kepenulisan.

    Pelatihan ini menjadi salah satu upaya PPYD Ladunna untuk membangun budaya membaca dan menulis di lingkungan pesantren.

    Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, serta menyampaikan gagasan melalui tulisan dinilai menjadi bekal penting bagi generasi muda, termasuk para santri.

    Dalam sesi pertama, Bung Aguk Wahyu Nuryadi mengajak para santri memahami bahwa setiap karya besar selalu berawal dari kebiasaan membaca.

    Menurutnya, seseorang tidak mungkin menjadi penulis yang baik tanpa terlebih dahulu menjadi pembaca yang tekun.

    “Kalau ingin menjadi penulis, mulailah menjadi pembaca. Jangan menunggu punya banyak waktu. Bacalah sedikit demi sedikit setiap hari, karena dari situlah pengetahuan dan ide akan tumbuh,” ujar Bung Aguk di hadapan para peserta.

    Ia juga mengingatkan bahwa membaca bukan sekadar mengeja tulisan, melainkan proses memahami, mempertanyakan, dan menemukan sudut pandang baru terhadap berbagai persoalan.

    Karena itu, budaya membaca perlu dibiasakan sejak dini agar melahirkan generasi yang memiliki daya pikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.

    Menurut Bung Aguk, literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami realitas kehidupan.

    Seseorang yang memiliki literasi yang baik akan lebih siap menghadapi perubahan zaman karena mampu menganalisis persoalan sebelum mengambil keputusan.

    “Jangan hanya membaca untuk tahu, tetapi membaca untuk memahami. Ketika kita memahami, kita akan mampu menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.

    Pada sesi berikutnya, Ibu Yeti Chotimah membimbing para santri mengenal dasar-dasar jurnalistik.

    Ia menjelaskan bahwa berita harus dibangun di atas fakta, disusun secara runtut, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami pembaca.

    Para santri dikenalkan dengan unsur-unsur penting dalam penulisan berita, mulai dari cara menentukan sudut pandang, menyusun paragraf pembuka yang menarik, hingga menjaga objektivitas dalam menyampaikan informasi.

    Materi tersebut disampaikan secara komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta yang sebagian besar baru pertama kali belajar jurnalistik.

    Selain membahas penulisan berita, Ibu Yeti juga mengajak para santri memasuki dunia sastra melalui puisi.

    Menurutnya, puisi merupakan media untuk mengekspresikan pengalaman, perasaan, dan nilai-nilai kehidupan dengan bahasa yang indah namun tetap bermakna.

    Suasana ruangan seketika menjadi hening ketika Ibu Yeti membacakan puisinya yang berjudul Diam. Penampilan tersebut mendapat perhatian penuh dari para santri.

    Tidak sedikit peserta yang mengaku baru pertama kali menyaksikan pembacaan puisi secara langsung oleh penyair.

    Pelatihan Literasi dan Jurnalistik di PPYD Ladunna

    Selama kegiatan berlangsung, para peserta terlihat aktif merespons pertanyaan yang diberikan narasumber.

    Beberapa santri bahkan mencoba menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka mengenai kebiasaan membaca maupun menulis. Interaksi tersebut membuat suasana pelatihan menjadi lebih hidup dan mendorong peserta untuk lebih percaya diri mengemukakan gagasan.

    Sebagai bentuk apresiasi terhadap keaktifan peserta, panitia memberikan hadiah berupa buku karya Bung Aguk Wahyu Nuryadi dan Yeti Chotimah kepada beberapa santri yang aktif mengikuti kegiatan.

    Penghargaan tersebut diberikan kepada Radit Besan, Mustofa Besan, dan Dzakiroh Qoyyimah Hubbi.

    Salah seorang penerima hadiah, Dzakiroh Qoyyimah Hubbi, mengaku mendapatkan pengalaman baru yang sangat berkesan melalui kegiatan tersebut.

    Ia mengatakan materi yang disampaikan para narasumber membuatnya semakin tertarik untuk membaca dan belajar menulis.

    “Selama ini saya mengira menulis itu sulit. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi tahu bahwa menulis bisa dipelajari asalkan rajin membaca dan terus berlatih. Saya ingin mulai membiasakan diri menulis setiap hari,” tuturnya.

    Hal senada juga dirasakan peserta lain yang berharap kegiatan serupa dapat kembali diselenggarakan dengan materi yang lebih mendalam.

    Mereka menilai pelatihan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka wawasan mengenai pentingnya literasi sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

    Melalui kegiatan Belajar Literasi dan Jurnalistik, PPYD Ladunna berharap budaya membaca dan menulis dapat tumbuh menjadi kebiasaan di lingkungan pesantren. (Zakariya Palopi/Mursit Siden)