Kategori: Berita

  • Rektor UI Cordoba Banyuwangi Kenalkan Konsep Food Mobility di Forum Internasional Malaysia MALAYSIA

    Rektor UI Cordoba Banyuwangi Kenalkan Konsep Food Mobility di Forum Internasional Malaysia MALAYSIA

    Rektor Universitas Islam (UI) Cordoba Banyuwangi, Prof. Dr. Agus Trihartono, memperkenalkan konsep Food Mobility dalam forum akademik internasional bertajuk Global Classroom on Human Migration yang digelar oleh Faculty of Humanities and Social Sciences (FUHA), Universiti Sultan Zainal Abidin (UNISZA), Malaysia, Rabu (24/6).

    Dalam kuliah umum berjudul Beyond Migration: Food Mobility, Colonial Legacies, and Gastrodiplomacy in Asia, Agus mengajak peserta melihat isu migrasi dari sudut pandang yang berbeda.

    Menurutnya, pembahasan migrasi selama ini lebih banyak berfokus pada perpindahan manusia, sementara makanan juga memiliki perjalanan lintas negara yang sarat makna sejarah dan budaya.

    “Ketika mempelajari migrasi, kita mengikuti manusia. Ketika mempelajari kolonialisme, kita mengikuti kekuasaan. Ketika mempelajari diplomasi, kita mengikuti negara. Namun untuk memahami Asia, kita juga perlu mengikuti makanan,” kata Agus dalam paparannya.

    Agus menjelaskan, mobilitas makanan tidak dapat dipisahkan dari sejarah migrasi manusia. Ia mencontohkan bagaimana diaspora India di Inggris turut menjadikan kari sebagai salah satu hidangan populer di negara tersebut.

    Menurutnya, Malaysia juga menjadi contoh menarik karena kekayaan kulinernya terbentuk dari pertemuan berbagai budaya, mulai Melayu, Tionghoa, India hingga Arab.

    “Makanan sesungguhnya adalah arsip sejarah yang merekam perjalanan manusia dan pertemuan antarperadaban,” ujarnya.

    Selain migrasi, Agus juga menyoroti pengaruh kolonialisme terhadap perkembangan kuliner di berbagai negara.

    Salah satu contoh yang diangkat adalah Rijsttafel, tradisi jamuan makan yang berkembang pada masa kolonial Belanda di Hindia Belanda.

    Melalui contoh tersebut, ia menjelaskan bahwa makanan tidak hanya bergerak bersama migran, tetapi juga menyebar melalui relasi kekuasaan dan sejarah kolonial.

    “Belanda telah meninggalkan Indonesia, tetapi makanan Indonesia tidak pernah meninggalkan Belanda,” katanya.

    Dalam forum yang diikuti ratusan mahasiswa hubungan internasional dari Indonesia dan Malaysia itu, Agus juga memaparkan peran makanan sebagai instrumen diplomasi publik atau gastrodiplomacy.

    Ia mencontohkan keberhasilan Jepang, Korea Selatan, dan Thailand memanfaatkan kuliner untuk membangun citra positif negara, menarik wisatawan, memperluas pertukaran budaya, hingga mendorong mobilitas pendidikan dan migrasi.

    Pada kesempatan tersebut, Agus memperkenalkan Food Mobility Model, sebuah konsep yang menjelaskan keterkaitan antara migrasi manusia, mobilitas makanan, warisan kolonial, dan diplomasi kuliner dalam membentuk hubungan antarbangsa.

    Program Global Classroom on Human Migration menghadirkan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia, di antaranya Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Andalas, Universitas Jember, serta Universiti Sultan Zainal Abidin.

    Agus berharap konsep Food Mobility dapat memperkaya kajian migrasi internasional yang selama ini cenderung berpusat pada perpindahan manusia.

    “Makanan bukan hanya mengikuti sejarah. Dalam banyak kasus, makanan juga menciptakan sejarah baru,” pungkasnya. (*)

  • Ribuan Warga Padati Tradisi Keboan Aliyan, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Banyuwangi

    Ribuan Warga Padati Tradisi Keboan Aliyan, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Banyuwangi

    Ribuan warga dari berbagai daerah memadati Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi pada Minggu (21/6).

    Mereka hadir untuk menyaksikan puncak ritual adat Keboan Aliyan, sebuah tradisi tahunan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus ruang silaturahmi bagi masyarakat setempat.

    Sejak pukul 05.00 WIB, suasana desa sudah disibukkan dengan gotong royong warga yang menyiapkan perlengkapan ritual, mulai dari pemasangan umbul-umbul, janur kuning, hingga hiasan daun kolang-kaling.

    Bagi masyarakat Aliyan, kelengkapan prosesi ini bersifat sakral dan tidak boleh ada yang terlewat.

    Tokoh adat Sukodono, Sugiono, menjelaskan bahwa tradisi ini diperkirakan sudah mengakar sejak era 1960-an berdasarkan cerita para sesepuh.

    “Tradisi ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah tanah subur dan hasil panen yang melimpah. Karena itu, sampai sekarang tetap kami jaga,” ujar Sugiono.

    Ketua Panitia Keboan Aliyan 2026, Rony Sanjaya, memaparkan bahwa ritual ini melibatkan dua kelompok besar yang secara historis tidak pernah digabungkan dalam satu prosesi karena perbedaan jalur silsilah leluhur:

    • Keboan Aliyan Timur: Meliputi Dusun Cempokosari, Krajan, Bolot, dan Timurrejo.
    • Keboan Aliyan Barat: Meliputi Dusun Sukodono, Kedawung, dan Damrejo.

    Rony menambahkan, antusiasme tahun ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.

    “Jumlah peserta yang memerankan keboan (kerbau manusia) melonjak hingga ratusan orang. Ini indikator kuat bahwa kecintaan generasi saat ini terhadap tradisi leluhur masih sangat tinggi,” kata Rony.

    Rangkaian acara sejatinya telah bergulir sejak Jumat (19/6) yang dibuka dengan sterilisasi lapangan dan pertunjukan musik etnik WEC.

    Pada Sabtu (20/6), warga menggelar tradisi Sonjo Bareng melalui ritual Songo Pangrekso Sengkolo, di mana warga menyalakan obor (oncor) di sepanjang jalan desa dan menggelar doa bersama.

    Adapun pada puncak acara yang berlangsung Minggu (21/6), lapangan desa dimeriahkan oleh berbagai atraksi seni, antara lain:

    • Tari Puja Santri & Tari Barong Jodog
    • Penampilan Keboan Aliyan Timur & Barat
    • Pertunjukan Barong Kumbo
    • Ritual Kebo-bider Bumi (arak-arak keliling desa)
    • Doa Penutup

    Acara ini turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pariwisata, Forkopimka, serta para pegiat budaya dan duta wisata.

    Kepala Desa Aliyan, Agus Nurbani Yusuf, mengapresiasi kerja keras seluruh pihak dan berharap ritual ini tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan tuntunan untuk menjaga nilai gotong royong dan kelestarian alam.

    Harapan senada disampaikan oleh Mbah Adim, salah satu peserta keboan tertua dari Sukodono. Ia berharap generasi muda terus merawat warisan budaya ini agar tidak punah ditelan zaman.

    Di sisi lain, tingginya animo penonton membawa dampak positif bagi sektor ekonomi mikro. Para pedagang kaki lima dan asongan meraup berkah dari gelaran ini.

    “Alhamdulillah, setiap tahun selalu ramai. Warga Aliyan juga sangat ramah dan terbuka kepada kami para pedagang,” ungkap Cak Sodik, seorang pedagang es keliling asal Pakis yang mengaku sudah bersiap di lokasi sejak usai salat Subuh.

    Bagi pengunjung seperti Heny (warga Pakistaji) dan Suparto (warga Tegalwero), Keboan Aliyan telah bertransformasi menjadi momentum pengikat sosial.

    Selain menjadi destinasi wisata budaya yang menjanjikan di Banyuwangi, tradisi ini terbukti ampuh menyatukan masyarakat di tengah modernisasi.

  • Tingkatkan Kualitas Peserta Didik, SMK 4 Pancasila Ambulu Jalin Kerja Sama dengan RSUD dr. Soebandi

    Tingkatkan Kualitas Peserta Didik, SMK 4 Pancasila Ambulu Jalin Kerja Sama dengan RSUD dr. Soebandi

    Komitmen SMK 4 Pancasila Ambulu dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi kesehatan terus diwujudkan melalui berbagai langkah strategis.

    Salah satunya dengan menjalin kerja sama bersama RSUD dr. Soebandi Jember yang ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Kamis, (5/6).

    Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan dunia kerja, khususnya bagi siswa program keahlian di bidang kesehatan.

    Dengan dukungan rumah sakit pendidikan, peserta didik diharapkan memperoleh kesempatan belajar yang lebih luas melalui praktik dan pembelajaran klinik secara langsung.

    Dalam kegiatan yang berlangsung di RSUD dr. Soebandi Jember itu, SMK 4 Pancasila Ambulu diwakili oleh Ketua Program Keahlian Layanan Penunjang Keperawatan dan Caregiving, Ns. Nurul Hidayatus Sholihah, S.Kep., Gr., Ketua Program Keahlian Layanan Penunjang Kefarmasian Klinis dan Komunitas, apt. Iin Indrawati, S.Farm., serta perwakilan Bidang Kesiswaan, Ns. Kartika Yulis, S.Kep., Gr., mewakili Kepala Sekolah Johan Budi Respati, S.Pd.

    Kepala SMK 4 Pancasila Ambulu, Johan Budi Respati, S.Pd., menyampaikan bahwa dunia pendidikan vokasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan industri dan layanan kesehatan.

    Karena itu, kolaborasi dengan fasilitas kesehatan yang memiliki standar pelayanan tinggi menjadi langkah penting dalam mempersiapkan lulusan yang kompeten dan siap bersaing.

    “Kami bangga SMK 4 Pancasila Ambulu menjadi SMK pertama yang dipercaya menandatangani MOU dengan RSUD dr. Soebandi. Ini komitmen kami mencetak lulusan yang tidak hanya paham teori, tapi terampil dan siap kerja. Dengan fasilitas RS Kelas B Pendidikan, siswa kami akan belajar langsung dari sumber terbaik,” terangnya.

    Menurutnya, kerja sama dengan RSUD dr. Soebandi membuka peluang bagi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata.

    Tidak hanya memahami teori di ruang kelas, siswa juga dapat melihat secara langsung penerapan pelayanan kesehatan di lingkungan rumah sakit.

    Melalui kesepakatan tersebut, SMK 4 Pancasila Ambulu akan memperkuat penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja, memperluas akses praktik klinik, serta meningkatkan kompetensi peserta didik melalui berbagai program pendampingan dan pengembangan keterampilan.

    Selain itu, kerja sama ini juga menjadi sarana bagi sekolah untuk memperluas jejaring dengan institusi kesehatan dan memperkuat peran pendidikan vokasi dalam menyiapkan sumber daya manusia di bidang kesehatan yang profesional dan berdaya saing.

    Dengan terjalinnya kemitraan ini, SMK 4 Pancasila Ambulu optimistis dapat terus meningkatkan mutu pembelajaran serta menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan saat ini.

    Sumber: SMK 4 Pancasila Ambulu (Imron Rosadi)

  • LP Ma’arif NU Banyuwangi Siap Cetak Generasi Berilmu dan Berakhlak Lewat Kepengurusan Baru

    LP Ma’arif NU Banyuwangi Siap Cetak Generasi Berilmu dan Berakhlak Lewat Kepengurusan Baru

    Pengurus Cabang (PC) LP Ma’arif NU Banyuwangi resmi dikukuhkan dalam sebuah acara yang berlangsung di Kantor LP Ma’arif Cabang Banyuwangi, Kecamatan Srono, Kamis (21/5).

    Momentum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki fondasi spiritual yang kuat.

    Bagi Nahdlatul Ulama, pendidikan tidak semata-mata dimaknai sebagai proses transfer pengetahuan. Lebih dari itu, pendidikan merupakan ikhtiar menanamkan nilai-nilai keislaman sekaligus membangun peradaban melalui pembinaan generasi penerus bangsa.

    Kepengurusan baru LP Ma’arif NU Banyuwangi periode ini dipimpin oleh Saeroji. Selain dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Bangorejo, ia juga menjabat sebagai Kepala MAN 2 Banyuwangi.

    Prosesi pengukuhan dihadiri oleh jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, pengurus LP Ma’arif, tokoh pendidikan, serta perwakilan MWC LP Ma’arif dari berbagai kecamatan di Banyuwangi.

    Kehadiran berbagai elemen tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan semangat pengabdian kepada umat.

    Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, Ahmad Turmudzi, menegaskan bahwa lembaga pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama memikul tanggung jawab besar dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang keilmuan, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat.

    Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, profesionalisme dalam tata kelola lembaga, serta peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.

    “LP Ma’arif harus mampu menjadi bagian dari solusi pendidikan masyarakat melalui penguatan kualitas guru, peningkatan kapasitas kelembagaan, dan pelayanan pendidikan yang berorientasi pada kemaslahatan,” ujarnya.

    Ia juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari prestasi akademik semata.

    Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu membentuk pribadi berkarakter, memiliki kepedulian sosial, dan menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

    Pada kesempatan yang sama, Rois Syuriyah PCNU Banyuwangi, KH Fahrudin Manan, mengingatkan bahwa pengabdian di dunia pendidikan merupakan bagian dari perjuangan yang bernilai ibadah.

    Menurutnya, pendidikan memiliki peran strategis sebagai ruang penanaman nilai-nilai keislaman, pembentukan akhlak generasi muda, serta sarana menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan spiritual.

    “Pelayanan pendidikan merupakan bagian dari pengabdian dalam memuliakan umat serta menghadirkan kemanfaatan yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat,” tuturnya.

    Pengukuhan kepengurusan baru LP Ma’arif NU Banyuwangi ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sinergi antarlembaga pendidikan di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

    Dengan semangat khidmah dan pengabdian, serta komitmen menghadirkan pendidikan yang bermutu, lembaga pendidikan NU di Banyuwangi diharapkan mampu melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, kokoh dalam akhlak, dan siap menghadapi berbagai tanggung jawab kehidupan di masa mendatang.

  • SMPN 3 Rogojampi Lepas 167 Lulusan, Kepala Sekolah Sampaikan Pesan Menyentuh Jelang Purna Bhakti

    SMPN 3 Rogojampi Lepas 167 Lulusan, Kepala Sekolah Sampaikan Pesan Menyentuh Jelang Purna Bhakti

    Suasana khidmat sekaligus penuh haru menyelimuti acara purnawiyata SMP Negeri 3 Rogojampi yang digelar pada Kamis (21/5).

    Sebanyak 167 peserta didik secara resmi dinyatakan lulus dalam prosesi tasyakur yang berlangsung sarat makna.

    Momentum sakral tersebut diawali dengan pembacaan Ikrar Alumni yang dipimpin mantan Ketua OSIS, Diesma Putra Sarfaras Alta, dan diikuti secara lantang oleh seluruh lulusan dengan iringan lagu kebangsaan Padamu Negeri.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara kelulusan oleh Kepala Sekolah bersama Ketua Komite di atas panggung.

    Purnawiyata tahun ini mengusung tema puitis penuh optimisme, “Menyambut Putih Abu-Abu dari Putih Biru: Satu Titik Awal Merah Seribu Impian.”

    Dalam ikrar yang dibacakan, para alumni menegaskan komitmen untuk setia kepada Pancasila dan UUD 1945, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung nilai-nilai adab, serta menjaga silaturahmi dan nama baik almamater di mana pun mereka melanjutkan pendidikan.

    Tak sekadar seremoni kelulusan, SMPN 3 Rogojampi juga memberikan penghargaan kepada para siswa berprestasi.

    Penghargaan akademik diberikan berdasarkan akumulasi nilai rapor, hasil asesmen, serta capaian juara lomba sains tingkat Provinsi Jawa Timur.

    Penghargaan non-akademik juga menjadi sorotan. Sekolah memberikan apresiasi kepada siswa yang berhasil menembus kompetisi sepak bola Baretti tingkat internasional, penampil berbakat dalam kolosal Gandrung Sewu, juara Festival Puisi Using kategori Ibu, hingga pemenang lomba adzan.

    Diesma Putra Sarfaras Alta yang memimpin pembacaan ikrar alumni turut menerima penghargaan khusus berupa sertifikat, plakat, dan buket bunga atas dedikasinya selama menjabat sebagai Ketua OSIS.

    Menariknya, meskipun secara administratif tidak berstatus sebagai sekolah inklusi, SMPN 3 Rogojampi menunjukkan kepedulian besar terhadap peserta didik berkebutuhan khusus, termasuk penyandang difabel intelektual.

    Melalui pendampingan Guru Bimbingan Konseling (BK) dan Guru Pendamping Khusus (GPK), para siswa tersebut berhasil dibimbing hingga siap melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

    kepala sekolah smp 3 rogojampi

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 3 Rogojampi, Dra. Hj. Sri Utami, mengaku bangga atas perjalanan panjang sekolah dalam mencetak generasi unggul di bidang akademik, non-akademik, kepemimpinan, maupun keteladanan.

    “Dalam kebahagiaan hari ini, ada rasa haru yang mendalam saat harus berpisah. Teruslah belajar tanpa lelah sampai semua cita-cita kalian teraih,” ujar Sri Utami dengan mata berkaca-kaca.

    Suasana emosional semakin terasa mengingat Sri Utami juga akan memasuki masa purna bhakti pada 1 September mendatang.

    Pada kesempatan itu, ia turut menyampaikan pantun untuk para lulusan:

    Bunga melati berbau harum,
    Tumbuh subur di taman sekolah.
    Doa kami selalu menyertai,
    Semoga sukses anak-anakku semua.

    Apresiasi serupa disampaikan Ketua Komite Sekolah, Ir. Isnain. Ia menyampaikan terima kasih kepada para orang tua siswa atas keikhlasan dan dukungan penuh terhadap berbagai program sekolah sehingga mampu melahirkan generasi yang berprestasi dan berkarakter.

    Mantan guru MTsN 10 yang memiliki hobi bermain catur, bulutangkis, memelihara burung berkicau, dan ikan koi itu juga membagikan pesan kepada para lulusan dalam menentukan sekolah lanjutan.

    “Sadari potensi diri masing-masing, ukur kemampuan orang tua, disiplin, dan tetap fokus meraih cita-cita. Yang paling utama, terus mohon doa restu orang tua, serta jangan pernah meninggalkan salat dan sedekah,” pesannya.

    Kemeriahan purnawiyata turut diwarnai berbagai penampilan siswa, mulai dari Tari Gandrung Maesan, pertunjukan band, hingga musik tradisional.

    Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah pembacaan Nadhom Syifaul Jinan tentang ilmu tajwid oleh para santri program inovasi Madrasah Diniyah (Madin) SMPN 3 Rogojampi.

    Program keagamaan tersebut sebelumnya telah memperoleh apresiasi resmi dari Kementerian Agama (Kemenag).

    Di penghujung acara, seluruh alumni, pendukung kegiatan, guru, dan tenaga kependidikan tampak menikmati sajian Makan Bergizi Gratis (MBG) secara bersama-sama.

    Sementara itu, jajaran komite sekolah dan perwakilan orang tua mendapatkan konsumsi dalam bentuk paket kotak.

    Ketua Panitia, Hj. Nurul Aini, S.Pd., menyampaikan terima kasih kepada seluruh wali kelas, pembina, pelatih ekstrakurikuler, pembina OSIS, serta jajaran komite sekolah yang telah bersinergi dengan wali murid dalam menyukseskan berbagai program sekolah, termasuk pelaksanaan purnawiyata tahun ini.

    Acara yang dipandu duet MC Iqbal Fahrezi dan Calista Sabrina tersebut ditutup dengan sesi bersalaman massal yang hangat.

    Momen itu menghadirkan suasana penuh kekeluargaan, layaknya tradisi halalbihalal yang sarat kebersamaan dan keakraban.

  • Tasyakur Kelulusan Angkatan ke-21, SMP Bustanul Makmur II Siapkan Generasi Bermartabat

    Tasyakur Kelulusan Angkatan ke-21, SMP Bustanul Makmur II Siapkan Generasi Bermartabat

    Tasyakur kelulusan siswa angkatan ke-21 Tahun Ajaran 2025-2026 SMP Bustanul Makmur II Banyuwangi berlangsung khidmat di Hall Hotel Mahkota Genteng, Sabtu (16/05).

    Kegiatan tersebut ditandai dengan penyerahan Surat Keterangan Lulus serta prosesi pengalungan gordon oleh kepala sekolah kepada para siswa.

    Turut hadir dalam acara itu wali murid, Pengasuh Buma Pusat Kebunrejo KH Muafik Amir, keluarga ndalem Buma II bu Nyai Siti Munawaroh, Ketua Yayasan KH Robiathul Haq, S.Hub.Int beserta istri, Pengawas SMP Phujianto, M.Pd, hingga jajaran Muspindes.

    Kepala SMP Bustanul Makmur Imammudin, M.Pd.I mengatakan para siswa telah melewati proses pendidikan dan pembinaan selama tiga tahun, termasuk pembiasaan bangun pukul 03.00 dini hari untuk tahajud dan berjamaah Subuh.

    “Teruslah menuntut ilmu dengan jalan yang mulia untuk masa depan gemilang!” tutur alumni Ponpes Nurul Jadid Paiton ini.

    Ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak hanya mengejar kepintaran maupun popularitas semata.

    Menurutnya, siswa harus mampu menjadi pribadi yang benar dan bermartabat. Selain itu, ia berpesan agar para siswa menjaga diri dari godaan perkembangan zaman, terutama penggunaan handphone.

    Pihak sekolah, lanjut Imammudin, akan tetap mengawal para siswa hingga memperoleh sekolah lanjutan.

    Dari 160 siswa yang dinyatakan lulus, sebanyak 78 siswa telah diterima di MAN, baik di dalam maupun luar kota.

    Tasyakur Kelulusan SMP Bustanul Makmur

    Selain itu terdapat tujuh siswa yang melanjutkan pendidikan ke SMK, sementara sebagian lainnya mendaftar SMA berbasis pondok pesantren.

    Adapun sisanya masih menunggu hasil SPMB SMA/SMK negeri di dalam kota.

    Sementara itu, Pengasuh KH Robitul Haq, S.Hub.Int, M.Si berharap para santri mampu menjadi generasi Qurani yang berbekal ketakwaan dan akhlakul karimah sesuai tema tasyakur tahun ini.

    Ia juga mengenang masa awal para santri masuk pondok tiga tahun lalu. Saat itu masih banyak siswa yang menangis dan dijenguk orang tua setiap hari.

    Kini, menurutnya, para siswa dan wali murid sudah semakin tertata, bahkan banyak santri yang melanjutkan mondok di luar kota.

    “Ingat Allah, jaga iman dan ilmu kitab serta tetab beradab ke guru dan orang tua!” pesan kyai Robert seraya mengajak hadirin mengirim Al Fatihah untuk para pendiri pondok.

    Prosesi kelulusan berlangsung khidmat dengan penampilan paduan suara adik kelas yang membawakan lagu hymne, mars, lagu nasional hingga sejumlah lagu populer yang membuat suasana haru bercampur bahagia.

    Pembacaan puisi juga turut mewarnai jalannya acara.

    Siswa lulusan angkatan ke-21 tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Banyuwangi, tetapi juga dari Madura, Bali, hingga Kalimantan.

    Panitia turut memberikan penghargaan bagi siswa berprestasi di bidang akademik, seperti juara Olimpiade IPA dan OSN Matematika tingkat nasional Daffa Shobirul Haq.

    Penghargaan non-akademik juga diberikan kepada siswa berprestasi di bidang silat, jebeng thulik, puisi, dan bercerita.

    Penghargaan khusus diberikan kepada Istiqlal Syukri Ahmad yang berhasil menjadi jawara aksara dan geguritan basa Using dalam Festival Bahasa Ibu yang digelar Balai Bahasa Jawa Timur.

    Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada Ketua OSIS dan siswa terbaik homestay.

    Santri Madin terbaik turut menerima sertifikat penghargaan dan berfoto bersama orang tua serta pengasuh pondok.

    Acara yang dipenuhi buket bunga dan kenangan tersebut juga diisi dengan ikrar alumni.

    Para santri menyatakan kesiapan menjadi kader agama sekaligus kader bangsa serta menjaga nama baik almamater.

    Pesan dan kesan dalam kegiatan itu turut disampaikan Sekretaris OSIS Claresta Azzarin Natania, perwakilan wali murid Bambang Harnowo, M.Pd, serta alumni angkatan ke-7 Dr. Rifki Firdaus, M.Pd.I.

    Dalam testimoninya, Rifki menyebut para guru di Buma tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing, melatih, serta membentuk pembiasaan yang akhirnya menjadi karakter siswa melalui program di dalam kelas maupun luar sekolah.

    “Dan dari dulu hingga sekarang SMP BustanuI Makmur menjadi salah satu yang terbaik dan unggul di Kabupaten Banyuwangi!” ujar dosen UIIB ini.

  • Cetak Generasi Qurani, Darun Najah Banyuwangi Wisuda 234 Penghafal Al-Qur’an

    Cetak Generasi Qurani, Darun Najah Banyuwangi Wisuda 234 Penghafal Al-Qur’an

    Yayasan Pendidikan dan Sosial (YPS) Darun Najah Banyuwangi menyelenggarakan Wisuda Tahfidz Al-Qur’an Tahun 2026 di El Royal Hotel Banyuwangi pada Kamis (14/05).

    Acara berlangsung khidmat dan penuh haru dengan dihadiri wali murid, komite sekolah, tokoh pendidikan, serta jajaran Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, di antaranya Pengawas MI Bambang Hartono, S.Pd., M.Pd., Pengawas MTs Hj. Sulaikah, M.Pd., dan bagian urusan literasi H. Syafaat, SH., M.HI.

    Kegiatan wisuda tahfidz ini merupakan agenda rutin yayasan yang didirikan oleh almarhum KH. Harun Abdullah.

    Program tahfidzul Qur’an diwajibkan bagi seluruh siswa di lingkungan Yayasan Darun Najah sebagai bagian dari pembentukan karakter sekaligus penguatan pendidikan keagamaan.

    Pada tahun 2026, jumlah wisudawan mencapai 234 siswa yang terdiri atas MI Darun Najah 1 (putra) sebanyak 37 siswa, MI Darun Najah 2 (putri) sebanyak 159 siswa, serta MTs Darun Najah sebanyak 40 siswa.

    Capaian hafalan para peserta wisuda meliputi Juz 30 sebanyak 97 siswa, Juz 1 sebanyak 90 siswa, Juz 2 sebanyak 37 siswa, Juz 3 sebanyak 3 siswa, Juz 4 sebanyak 4 siswa, dan Juz 6 sebanyak 1 siswa putri pegawai Kemenag, Imam Iskandar.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., MM., turut memberikan apresiasi khusus terhadap pelaksanaan wisuda tahfidz tersebut melalui tayangan video yang diputar selama acara berlangsung.

    Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa menghafal Al-Qur’an akan memudahkan seseorang dalam mempelajari berbagai ilmu lainnya.

    Chaironi yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton itu memberikan dukungan kepada Pesantren Darun Najah yang dinilai telah berkontribusi besar dalam perkembangan pendidikan, pembinaan kader bangsa, serta melahirkan generasi pecinta mukjizat Rasulullah di Kabupaten Banyuwangi.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Banyuwangi, para pengawas madrasah, Lurah Tukangkayu, dewan guru, serta seluruh orang tua wisudawan.

    Pengasuh Pesantren Darun Najah, KH. Latif Harun, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang tidak dapat membaca, namun mampu menghafalkannya dengan sempurna.

    Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa Al-Qur’an memang kitab terbaik untuk dihafalkan.

    “Semoga para santri ke depan mampu menghafal 30 juz sekaligus memahami isi kandungannya. Ilmu itu berada di hati, bukan hanya di kepala,” ujarnya, sambil mengutip hadis tentang orang tua penghafal Al-Qur’an yang kelak akan mendapatkan mahkota di surga.

    Ia juga menegaskan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak akan menghambat kemampuan mempelajari ilmu umum, justru akan mempermudah seseorang memahami berbagai disiplin ilmu lainnya.

    Sementara itu, Plt Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Banyuwangi, Fakhrurazi, S.Ag., M.Pd., yang putrinya juga menjadi salah satu wisudawati, menyampaikan bahwa seluruh anaknya merupakan santri sekaligus alumni Darun Najah.

    Bahkan istrinya juga tercatat sebagai alumni dan pernah menjadi pengajar di lembaga tersebut.

    “Hendaknya kita takdim kepada guru dan anak-anak kita memiliki adab yang mulia,” tambah Plt Pendidikan Madrasah tersebut.

    Dalam prosesi wisuda juga ditampilkan sesi iktibar makro berupa sambung ayat Al-Qur’an yang dilakukan para wisudawan.

    Penampilan itu mendapat apresiasi dan tepuk tangan dari para tamu undangan karena menunjukkan kemampuan hafalan para santri secara langsung di hadapan peserta wisuda.

    Setelah menjalani munaqasyah dan dinyatakan berhak menerima syahadah atau ijazah, sebanyak 234 hafidz yang Surat Keputusan yayasannya dibacakan oleh Majidatul Himmah, S.Ag., secara spontan mendapatkan bonus amplop dari H. Haris Rusdi.

    Sementara para peserta terbaik dari masing-masing lembaga melalui Hi Annisa Harun juga memperoleh tambahan amplop serta voucher menginap di hotel berbintang bersama orang tua mereka.

    Sebagai penutup acara, penampilan nasyid dan puisi yang dibawakan para juara Porseni MI turut memeriahkan suasana.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan momen para hafidz mendatangi orang tua mereka yang menyambut dengan pelukan dan cium penuh rasa syukur atas keberhasilan putra-putri mereka menjadi anak yang saleh dan salehah.

  • KOPIWANGI Dampingi Penulis Lokal Banyuwangi Terbitkan Buku hingga Pengajuan ISBN

    KOPIWANGI Dampingi Penulis Lokal Banyuwangi Terbitkan Buku hingga Pengajuan ISBN

    Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) terus menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem literasi di Banyuwangi.

    Melalui program pelatihan, pendampingan, hingga penerbitan karya, komunitas ini aktif menjadi jembatan literasi bagi para penulis lokal agar karya mereka dapat diterbitkan dan dikenal lebih luas.

    Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut terlihat dalam pendampingan penerbitan buku berjudul Seribu Cahaya Dari Satu Harapan.

    Proses penerbitan buku tersebut dilakukan bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Banyuwangi sebagai mitra pengembangan literasi daerah.

    KOPIWANGI tidak hanya fokus pada kegiatan menulis, tetapi juga mendampingi penulis sejak tahap awal penyusunan naskah hingga proses pengajuan ISBN.

    Program tersebut selaras dengan visi komunitas untuk bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi melalui penerbitan buku fisik maupun digital.

    Ketua KOPIWANGI, Andi Budi Setiawan, mengatakan bahwa banyak penulis lokal memiliki karya yang layak diterbitkan, tetapi terkendala akses ke penerbit komersial. Karena itu, komunitas hadir untuk memberikan alternatif agar karya tetap bisa diterbitkan menjadi buku.
    “Tidak semua penulis memiliki kesempatan menerbitkan karya di penerbit komersial. Karena itu,

    KOPIWANGI hadir memberikan pendampingan dan membuka jalan agar karya-karya lokal tetap bisa diterbitkan serta dibaca masyarakat luas,” ujarnya.

    Penulis dengan nama pena Bintang Senja menjadi salah satu anggota KOPIWANGI yang mendapatkan pendampingan intensif dalam penyelesaian buku pertamanya.

    Pendampingan dilakukan mulai dari penyusunan struktur buku, penulisan kata pengantar, daftar isi, hingga profil penulis.

    Menurut Bintang Senja, proses pendampingan tersebut sangat membantu dirinya dalam memahami tahapan penerbitan buku. Ia mengaku lebih percaya diri untuk menyelesaikan naskah karena mendapat arahan yang jelas dari komunitas.

    “Terima kasih KOPIWANGI yang telah mendampingi dalam penulisan buku. Mulai dari pembuatan kata pengantar, daftar isi, sampai penulisan profil penulis. Ini sangat membantu agar tulisan saya bisa segera diterbitkan,” jelasnya.

    Selain pendampingan penulisan, KOPIWANGI juga memberikan pelatihan layout buku bagi anggota yang ingin belajar secara mandiri. Pelatihan tersebut menjadi bekal penting agar penulis memahami tata letak buku sesuai kaidah penerbitan.

    Bintang Senja menilai pelatihan layout buku memberi manfaat besar bagi penulis pemula. Dengan kemampuan tersebut, penulis tidak hanya mampu menyusun naskah, tetapi juga mendesain buku sesuai kebutuhan.

    “Pelatihan layout buku ini sangat bermanfaat. Sebagai penulis, saya bisa mendesain layout buku sendiri sesuai keinginan, namun tetap mengikuti aturan yang ada. Harapannya, saya juga bisa membantu teman-teman penulis lain di KOPIWANGI,” tambahnya.

    Setelah proses layout selesai, naskah Seribu Cahaya Dari Satu Harapan kemudian dikirim ke Dispusip Banyuwangi untuk tahap verifikasi.

    Jika dinyatakan lengkap dan sesuai ketentuan, naskah dilanjutkan dengan penandatanganan surat keaslian karya sebelum diajukan ke Perpustakaan Nasional untuk memperoleh ISBN.

    Dalam proses tersebut, KOPIWANGI juga mendampingi penulis saat melakukan penandatanganan dokumen administrasi di Dispusip Banyuwangi.

    Selain itu, komunitas turut berdiskusi mengenai berbagai jenis karya tulis yang dapat diajukan ISBN.

    Pustakawan Ahli Madya Dispusip Banyuwangi, Yusup Choiri, menjelaskan bahwa peluang penerbitan ISBN terbuka untuk berbagai jenis karya tulis.

    Menurutnya, Dispusip Banyuwangi berkomitmen mendukung para penulis lokal agar karya mereka dapat dipublikasikan secara lebih luas.

    “Selain puisi, karya seperti cerpen, novel, esai, opini, dan artikel juga bisa diajukan ISBN. Kami terus berupaya memberikan fasilitasi dan pendampingan bagi penulis lokal agar karya yang dihasilkan bisa dikenal masyarakat lebih luas,” jelas Yusup Choiri.

    Kehadiran para penulis lokal dinilai menjadi tanda meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendokumentasian ide dan karya sastra dalam bentuk buku.

    Hal tersebut juga sejalan dengan semangat KOPIWANGI yang konsisten membangun jembatan literasi di lingkungan sekolah, komunitas, maupun masyarakat umum.

    Menutup kegiatan tersebut, Andi Budi Setiawan menegaskan bahwa KOPIWANGI hadir bukan untuk bersaing dengan pihak lain, melainkan menjadi pelengkap dalam membangun budaya literasi di Banyuwangi.

    “KOPIWANGI hadir dengan memberikan warna yang berbeda. Bukan sebagai kompetitor, tetapi pelengkap dalam membangun ekosistem literasi di Banyuwangi,” tutupnya.

    Melalui kolaborasi antara komunitas, penulis, dan pemerintah daerah, gerakan literasi di Banyuwangi diharapkan terus berkembang. Dukungan masyarakat untuk membaca, menulis, dan mengapresiasi karya lokal menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan budaya literasi di daerah.

  • Kader ATM, RDS, dan Pokja Desa Sehat se-Blimbingsari Dibekali Penyusunan Program dan Pendampingan Pasien Penyakit Menular

    Kader ATM, RDS, dan Pokja Desa Sehat se-Blimbingsari Dibekali Penyusunan Program dan Pendampingan Pasien Penyakit Menular

    Kader ATM (AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria), Rumah Desa Sehat (RDS) yang menghadirkan Kader Pembangunan Manusia (KPM), serta pengurus Pokja Desa Sehat dari 10 desa se-Kecamatan Blimbingsari mendapatkan pembekalan di Balai Desa Patoman, Rabu (13/05).

    Balai Desa Patoman tampak bersih dan tertata rapi. Meski berada di lahan yang relatif sempit, berbagai ruangan ditata dengan baik, mulai dari ruang BPD, Rumah Desa Sehat yang terintegrasi dengan Pokja Desa Sehat dan PKK, hingga ruang arsip.

    Fasilitas lain seperti musala, dapur bersih, dan ruang lounge juga tersedia.

    Desa Patoman juga dikenal sebagai desa dengan keberagaman yang harmonis. Desa ini ditetapkan sebagai Kampung Pancasila oleh Pangdam V/Brawijaya dan sebagai Desa Kebangsaan oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Bakesbangpol.

    Keharmonisan masyarakat terlihat dari keberagaman suku seperti Bali, Madura, Tionghoa, Osing, dan Jawa, serta sikap welas asih antarumat beragama dan penghayat kepercayaan, mulai dari Islam, Hindu, Buddha, hingga Katolik.

    Camat Blimbingsari Teddy Ardiansyah, S.STP melalui Kasi PMK Abdul Aziz, SH, MH menyampaikan bahwa berdasarkan surat edaran menteri hingga gubernur, serta hasil koordinasi lintas dinas dan badan melalui zoom meeting, diperlukan kegiatan kolaboratif untuk mendukung sinergi isu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

    FKKS Kecamatan Blimbingsari

    Sementara itu, Kepala Puskesmas Badean, Indah Swartiningtyas, SST.Bid., M.MKes menyampaikan data penderita ODHA sebanyak 40 orang, TBC 38 orang, dan malaria nihil.

    Menurutnya, terdapat berbagai faktor pemicu yang menyebabkan seseorang terpapar penyakit tersebut.

    “Semua tertangani dan ada yang sudah sembuh. Karena itu, masyarakat harus mengenali dan memahami gejalanya serta memastikan pasien mendapat pendampingan rutin minum obat. Tetap waspada seperti saat menangani corona, jaga kesehatan, dan gunakan APD,” ujarnya.

    Bidan yang meraih prestasi nasional dalam inovasi zero stunting tersebut juga menekankan pentingnya peran kader dalam pendampingan pasien di tingkat desa.

    Di kesempatan yang sama, Novita Ika Wulandari, S.AP selaku fungsional Penggerak Swadaya Masyarakat dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) menjelaskan bahwa terdapat alokasi dana sebesar Rp2,5 juta dari ADD khusus untuk program ATM.

    “Contoh program dan usulan anggaran sudah kami siapkan dan masih bisa dikreasikan sesuai kebutuhan desa. Dari dinas dan Kementerian Kesehatan juga diupayakan CSR untuk insentif kader,” jelasnya.

    Ia berharap KPM di Rumah Desa Sehat dapat bersinergi bersama bidan desa, kader KB, Pokja IV PKK, kader ATM, dan Pokja Desa Sehat dalam menyusun program beserta anggarannya.

    Pendamping desa juga diharapkan membantu melengkapi kebutuhan dasar kader guna mewujudkan satu data, dokumen, dan arsip terpadu agar pemerintah desa dan negara benar-benar hadir untuk kesehatan serta kesejahteraan masyarakat.

    Sementara itu, aktivis LSM Gotong Royong ’45 yang juga anggota Forum Banyuwangi Sehat berharap Forum Komunikasi Kecamatan Sehat dapat mengawal program, baik dari sisi administrasi maupun pendampingan di lapangan.

    Dokumentasi kegiatan berupa narasi dan foto timeline diunggah ke Google Drive Forum Banyuwangi Sehat dengan koordinator Kasi PMK.

    Ia juga menambahkan, apabila terdapat penyandang disabilitas fisik maupun intelektual yang belum bisa baca tulis, diharapkan segera didata untuk kemudian dilakukan advokasi.

    Aktivis yang juga pengawas Yayasan Aura Lentera Indonesia tersebut saat ini tengah menjalankan program bersama NLR Indonesia terkait mitigasi pemberdayaan disabilitas di wilayah Rogojampi dan Kalipuro.

    Dalam sesi tanya jawab, peserta yang mayoritas perempuan tampak antusias membahas berbagai persoalan teknis, termasuk kekhawatiran risiko penularan saat merawat jenazah penderita AIDS.

    Para kader bahkan disebut sebagai “kaum penghuni surga” karena menjalankan tugas kemanusiaan yang mulia.

    Kepala Desa Patoman, Suwito, yang telah tiga periode memimpin desa dengan potensi panen cabai jamu tersebut berharap para kepala desa mengetahui kondisi warganya secara by name by address dengan tetap menjaga kerahasiaan data untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

    “Kebetulan saya punya pengalaman 17 tahun mendampingi pasien HIV akibat perilaku asusila di lokalisasi Blibis. Mulai dari bedah rumah hingga mengambilkan obat di RSUD maupun puskesmas sampai pasien sembuh. Hendaknya kita tidak berperilaku menyimpang dari hukum adat, agama, maupun negara,” pesannya.

    Keturunan Sakera tersebut juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan alat cukur di tempat pangkas rambut dengan menggunakan satu silet untuk satu pelanggan.

  • Bupati Ipuk Lepas 1.312 Calon Jemaah Haji Banyuwangi 2026, Mayoritas Lansia dan Jemaah Prioritas Dapat Layanan Khusus

    Bupati Ipuk Lepas 1.312 Calon Jemaah Haji Banyuwangi 2026, Mayoritas Lansia dan Jemaah Prioritas Dapat Layanan Khusus

    Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, melepas keberangkatan Calon Jemaah Haji (CJH) Banyuwangi tahun 2026 di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Selasa (12/5).

    Tahun ini, total jemaah haji asal Banyuwangi mencapai 1.312 orang yang terbagi dalam lima kelompok terbang (kloter).

    Rinciannya, kloter 71 terdiri atas 8 jemaah, kloter 82 dan 83 sebanyak 752 jemaah, serta kloter 84 dan 85 sebanyak 550 jemaah.

    Pemberangkatan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama diikuti 752 jemaah yang tergabung dalam kloter 82 dan 83.

    Sementara kloter 84 dan 85 dijadwalkan berangkat pada Selasa malam. Adapun delapan jemaah yang tergabung dalam kloter 71 telah diberangkatkan lebih awal dari Kecamatan Glenmore.

    Seluruh jemaah diberangkatkan menuju Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci.

    Dalam sambutannya, Ipuk Fiestiandani mendoakan seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar dan kembali ke Banyuwangi sebagai haji yang mabrur.

    “Alhamdulillah Bapak/Ibu akan berangkat beribadah ke Tanah Suci memenuhi panggilan Allah SWT. Kami doakan ibadah yang dijalankan lancar, selamat hingga kembali menjadi haji yang mabrur,” ujar Ipuk.

    Ipuk juga meminta para jemaah turut mendoakan Banyuwangi agar tetap aman, nyaman, dan terhindar dari berbagai bencana.

    “Kami berharap bapak ibu semua berkenan mendoakan kebaikan untuk Banyuwangi, agar Banyuwangi diberikan keamanan, kenyamanan serta dijauhkan dari segala macam bencana dan bahaya,” lanjutnya.

    Menurut Ipuk, para jemaah tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga membawa nama baik daerah dan Indonesia selama berada di Arab Saudi.

    “Karena bapak/ibu bukan hanya menjadi jemaah haji, tetapi juga duta bagi Indonesia dan Banyuwangi khususnya, sehingga setiap sikap dan perilaku kita akan mencerminkan negara dan daerah asal,” katanya.

    Selain itu, Ipuk meminta para petugas haji memberikan pelayanan optimal, terutama kepada jemaah lanjut usia (lansia) dan jemaah dengan kondisi kesehatan khusus.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Banyuwangi, Rif’an Junaidi, menjelaskan bahwa para jemaah yang diberangkatkan pada Selasa pagi langsung menuju embarkasi Sukolilo di Surabaya.

    “Mereka akan beristirahat sekitar 20 jam dan akan diberangkatkan menuju Tanah Suci besok pagi. Prosesi haji akan berlangsung selama 40 hari,” terang Rif’an.

    Dari total 1.312 jemaah, sebanyak 503 orang merupakan jemaah lanjut usia di atas 65 tahun.

    Sementara itu, terdapat 144 jemaah dengan kategori risiko tinggi. Jemaah tertua asal Banyuwangi tercatat berusia 103 tahun, sedangkan yang termuda berusia 18 tahun.

    Rif’an menambahkan, jemaah prioritas seperti lansia, jemaah risiko tinggi, dan penyandang disabilitas telah didata untuk mendapatkan layanan khusus selama pelaksanaan ibadah haji.

    “Untuk jemaah prioritas yakni lansia, risti, dan juga difabel, Banyuwangi sudah mendata seluruhnya. Nantinya akan ada fasilitasi dan layanan lebih dibanding jemaah lainnya, salah satunya mengikuti program Murur,” ujarnya.

    Program Murur merupakan skema pelayanan haji di mana jemaah hanya melewati area Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan saat puncak musim haji

    Dalam skema ini, jemaah bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah dan langsung melanjutkan perjalanan ke Mina tanpa menjalani mabit atau bermalam di Muzdalifah seperti prosesi haji pada umumnya.

    “Dengan demikian jemaah prioritas terhindar dari kepadatan, sehingga bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman dan kesehatannya tetap terjaga,” tambah Rif’an.

    Menjelang keberangkatan, berbagai prosesi pelepasan juga dilakukan oleh keluarga, warga, hingga kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) di sejumlah wilayah Banyuwangi.

    Jemaah asal Wongsorejo misalnya, diberangkatkan dari Masjid Jami Baiturrahim pada Selasa pagi (12/5).

    Sementara jemaah dari Rogojampi, Blimbingsari, Songgon, dan Kabat dilepas melalui Masjid Besar Baiturohiem sebelum menuju depan Kantor Pemkab Banyuwangi.

    Beberapa jemaah juga mendapat pelepasan khusus dari keluarga dan lingkungan sekitar. Suginaryo, imam Musala Ar Rohman Prejengan 1, diawali prosesi pamitan di Radio Komunitas Istana Laros FM Candian.

    Triasari Nur dilepas langsung oleh keluarga besar Mbah Ardiman. Marhen mendapat doa dan dukungan dari rekan guru serta warga Perum Gurit.

    Sementara pasangan Fairuz Abadi dan Rita berjalan kaki diiringi tetangga serta warga SMPN 3 dan SMAN Darushollah dari kediaman tokoh masyarakat H. Choirul Zain.

    Dalam prosesi pelepasan tersebut, Ketua Takmir Dr. H. Lukman turut memberikan pesan kepada para jemaah.

    “Mesti sabar, manut ketua regu dan rombongan serta pembimbing,” pesannya.

    Doa bersama juga dipimpin H. Hayatuddin dengan harapan seluruh jemaah kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat serta memperoleh predikat haji mabrur dan ahli surga.