Kategori: Biografi

  • Biografi Sapardi Djoko Damono dan Karya-Karyanya yang Tak Lekang oleh Waktu

    Biografi Sapardi Djoko Damono dan Karya-Karyanya yang Tak Lekang oleh Waktu

    Biografi Sapardi Djoko Damono

    Nama Lengkap:
    Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono

    Tempat Lahir:
    Kampung Baturono, Solo

    Tanggal Lahir:
    Rabu, 20 Maret 1940

    Ayah:
    Sadyoko

    Ibu:
    Sapariah

    Biografi Singkat Sapardi Djoko Damono

    Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair Indonesia terkemuka.

    Ia dikenal lewat puisi-puisi nya yang menggunakan kata-kata sederhana dan menyentuh hati.

    Sapardi mulai suka menulis sekak kecil.

    Bahkan, saat masih duduk di sekolah menengah, karya-karya Sapardi Djoko Damono sudah sering dimuat di majalah.

    Ketertarikannya pada dunia sastra semakin tinggi sehingga ia mengambil kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.

    Tidak hanya mahir menulis, Sapardi juga punya kemampuannya di bidang seni, mulai dari menari, bermain gitar, bahkan bermain drama.

    Sapardi juga pernah menerjemahkan berbagai karya penulis asing, esai, dan sejumlah artikel di surat kabar.

    Di dunia akademisi, Sapardi adalah seorang guru besar ilmu sastra yang beberapa periode menjabat Pembantu Dekan I, Dekan, serta Ketua Program Pascasarjana yang semuanya dalam lingkup Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

    Dengan profesinya tersebut, Sapardi sering memberi ilmu dan pengarahan kepada mahasiswa tentang bagaimana cara menulis dan membaca puisi yang baik.

    Pendidikan Sapardi Djoko Damono

    • Sekolah Dasar Kasatrian
    • SMP II Mangkunagaran
    • SMA II di Margoyudan
    • Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM

    Karir Sapardi Djoko Damono

    • Guru Besar Ilmu Sastra
    • Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Ketua Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Pendiri Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI)
    • Dosen Universitas Diponegoro
    • Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia
    • Dosen tetap di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Anggota Dewan Kesenian Jakarta
    • Pelaksana harian Pusat Dokumentasi HB Jassin
    • Anggota redaksi majalah kebudayaan Basis
    • Country editor untuk majalah Tenggara
    • Koresponden untuk Indonesian Circle
    • Pendiri Yayasan Puisi dan menerbitkan Jurnal Puisi

    Karya-Karya Sapardi Djoko Damono

    • Duka-Mu Abadi, Bandung (1969)
    • Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
    • Mata Pisau (1974)
    • Sepilihan Sajak George Seferis (1975; terjemahan karya George Seferis)
    • Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan)
    • Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan)
    • Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya)
    • Perahu Kertas (1983)
    • Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
    • Water Color Poems (1986; translated by J.H. McGlynn)
    • Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono (1988; translated by J.H. McGlynn)
    • Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
    • Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
    • Hujan Bulan Juni (1994)
    • Black Magic Rain (translated by Harry G Aveling)
    • Arloji (1998)
    • Ayat-ayat Api (2000)
    • Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen)
    • Mata Jendela (2002)
    • Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002)
    • Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen)
    • Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an – 1910an) (2005; salah seorang penyusun)
    • Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
    • Kolam (2009; kumpulan puisi)
    • Sastra Lisan Indonesia (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
    • Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan
    • Dimensi Mistik dalam Islam (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel “Mystical Dimension of Islam”, salah seorang penulis.

    Penghargaan Sapardi Djoko Damono

    • Cultural Award dari Australia (1978)
    • Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983)
    • SEA Write Award dari Thailand (1986)
    • Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990)
    • Mataram Award (1985)
    • Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI
    • Penghargaan Achmad Bakrie (2003)
  • Biografi Hilman Hariwijaya, Penulis Cerpen Lupus

    Biografi Hilman Hariwijaya, Penulis Cerpen Lupus

    Biografi Hilman Hariwijaya

    Nama : Hilman Hariwijaya
    TTL    : Jakarta, 25 Agustus 1964
    Istri   : Nessa Sadin

    Biografi Singkat Hilman Hariwijaya

    Hilman Hariwijaya adalah seorang penulis Indonesia yang lahir di Jakarta pada Tanggal 25 Agustus 1964.

    Namanya dikenal sejak menulis cerita pendek yang diberi judul Lupus di majalah Hai [ada bulan Desember 1986, yang kemudian dibukukan menjadi sebuah novel.

    Sejak kecil, Hilman Hariwijaya sangat suka menulis. Adapun tulisannya mulai dari cerpen, puisi, maupun cerita-cerita drama.

    Setiap pulang sekolah, ia selalu menghabiskan waktunya ke kantor redaksi majalah Hai. Pada saat itu, ia sedikit demi sedikit ikut terlibat dalam redaksi majalah hingga menjadi wartawan paruh hari.

    Pada tahun 1978, ia mengikuti sayembara mengarang. Karya pertamanya yang berjudul “Bian, Adikku yang Tak Pernah Ada” berhasil memenangkan sayembara itu.

    Dari kemenangan itu, akhirnya Hilman semakin semangat dalam menulis hingga muncul karya-karya selanjutnya.

    Karya tulisnya yang paling terkenal dan fenomenal adalah yang berjudul Olga dan Lupus. Karya tersebut sangat laris dan akhirnya diangkat ke layar lebar.

    Kemudian, seiring berjalannya waktu, Hilman tetap menjadi seorang penulis. Hanya saja ia fokus ke penulis skenario dalam dunia perfilman dan sinetron.

    Salah satu karyanya dalam menulis skenario adalah pada sinetron Cinta Fitri yang diperankan oleh Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar.

    Karya-Karya Hilman Hariwijaya

    1. Lupus
    2. Lupus ABG
    3. Lupus Milenia
    4. Lupus Kecil
    5. Olga
    6. Lulu
    7. Vanya
    8. Vladd
  • Biografi Singkat Soeharto, Bapak Pembangunan Nasional

    Biografi Singkat Soeharto, Bapak Pembangunan Nasional

    Nama    : Soeharto
    TTL        : Yogyakarta, Rabu, 8 Juni 1921
    Agama  : Islam
    Istri       : Fatimah Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien)

    Biografi Soeharto Singkat

    Jenderal Besar TNI Purnawiran Haji Muhammad Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Lahir di Kemusuk, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921.

    Ayah Soeharto bernama Kertosudiro, seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam mengairi sawah Desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.

    Pada tahun 1941 Soeharto muda terpilih menjadi prajurit teladan di sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah. Kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945, Soeharto resmi menjadi anggota TNI.

    Genap di usia 26 tahun, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah atau yang akrab dengan sapaan Ibu Tien yang kala itu berusia 24 tahun, seorang anak pegawai Mangkunegaraan.

    Pernikahan Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo.

    Mereka dikaruniai enam putra dan putri, diantaranya: Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

    Selama masa jabatannya, Soeharto berjuang dalam pembangunan dengan strategi Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan).

    Bahkan Soeharto sempat mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada pangan pada 1985. Sehingga Soeharto dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan Nasional.

    Soeharto meninggal pada tanggal 27 Januari 2008, diusianya yang ke 87 tahun. Berita wafatnya Soeharto pertama kali diinformasikan oleh Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta.

    Setelah itu, secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto.

    Pendidikan:

    SD Pedes Yogyakarta
    SMP Muhammadiyah di Yogyakarta
    Sekolah militer di Gombong

    Karir:

    Anggota TNI
    Komandan Brigade Garuda Mataram
    Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan kolonel
    Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD)
    Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat
    Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
    Panglima Kopkamtib
    Mayor Jendral
    1966 – 1998 Presiden Kedua RI

    Penghargaan:

    Bapak Pembangunan Nasional
    Bintang Mahakarya Gotong Royong dari Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong

  • Biografi Marah Roesli, Penulis Novel Siti Nurbaya

    Biografi Marah Roesli, Penulis Novel Siti Nurbaya

    Nama : Marah Rusli bin Abu Bakar
    TTL : Padang, 07 Agustus 1889
    Meninggal : 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.
    Ayah : Abu Bakar, seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran

    Biografi Marah Roesli

    Marah Roesli lahir di keluarga yang terpandang. Ayahnya bekerja sebagai Demang.

    Sedangkan ibunya berasal dari Jawa dan keturunan Sentot Alibasyah, salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro.

    Marah Rusli sekolah di Padang yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar pada saat itu.

    Setelah lulus dari bangku Sekolah Dasar, ia melanjutkan ke sekolah Raja (Kweek School) di Bukit Tinggi dan lulus tahun 1910.

    Kemudian, Roesli kembali melanjutkan pendidikannya ke Vee Arstsen School (sekolah dokter hewan) di Bogor dan lulus tahun 1915.

    Setelah tamat, ia ditempatkan di Sumbawa Besar sebagai Ajung Dokter Hewan. Hingga akhirnya pada tahun 1916 ia menjadi Kepala Peternakan.

    Marah Rusli menikah dengan gadis keturunan sunda kelahiran Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1911 dan mempunyai 3 orang anak, dua laki-laki, satu perempuan.

    Sebenarnya hubungan Roesli dengan istrinya tidak mendapat restu orang tua, namun kegigihannya atas dasar cinta dapat meyakinkan keluarga bahwa pilihannya adalah yang terbaik.

    Roesli mencintai dunia sastra sejak kecil. Ia amat suka mendengarkan cerita-cerita sastra dari tukang kaba (Pencerita yang keliling di Sumatera Barat untuk menjual ceritanya).

    Dan hobinya membaca buku sastra menjadikan Roesli semakin tertarik pada dunia sastra.

    Hingga akhirnya Marah Roesli berhasil menulis roman yang berjudul ‘Siti Nurbaya’.

    Dalam karyanya ini, ia ingin mengutarakan landasan pemikirannya terhadap perjuangan rakyat dan emansipasi wanita.

    Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Roesli dinobatkan sebagai Bapak Roman Modern Indonesia oleh H.B Jasmin.

    Sebab, sebelum roman menjadi populer, kebanyakan karya sastra pada saat itu berbentuk hikayat.

    Setelah cukup banyak berkiprah di dunia sastra, Marah Roesli meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.

    Karya-Karya Marah Roesli

    • Siti Nurbaya (1922)
    • La Hami (1924)
    • Anak dan Kemenakan (1956)
    • Memang Jodoh (otobiografi)
    • Gadis Yang Malang terjemahan novel karya Charles Dickens (1922)

  • Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Indonesia Angkatan 45

    Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Indonesia Angkatan 45

    Nama : Abdullah Idrus
    TTL    : Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921
    Meninggal di Padang, Sumatera Barat, 18 Mei 1979 pada umur 57 tahun)
    Istri   : Ratna Suri (menikah pada tahun 1946
    Anak : Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riyadi Idrus, Rizal Idrus, Damayanti Idrus, Lanita Idrus, dan Taufik Idrus.

    Biografi Abdullah Idrus

    Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Ia rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa di perpustakaan sekolah.

    Dengan banyaknya buku bacaan yang dibaca, Ia pun menghasilkan cerpen kala itu.

    Karena minat yang ama tinggi pada dunia sastra, akhirnya ia memilih Balai Pustaka sebagai tempat bekerja.

    Idrus berharap dapat menyalurkan minat sastranya di tempat tersebut.

    Hingga pada akhirnya ia bisa membaca dan mendalami karya-karya sastra, bahkan berkenalan dengan para sastrawan terkenal seperti H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Noer Sutan Iskandar, Anas Makruf, dan lain-lain.

    Tidak hanya mencintai dunia sastra, Idrus juga suka membaca buku-buku ilmiah sampai akhirnya ia berhasil menulis buku Teknik Mengarang Cerpen dan International Understanding Through the Study of Foreign Literature.

    Idrus memiliki kemampuan 3 bahasa Asing, yaitu Belanda, Inggris, dan Jerman.

    Hal itulah yang membuatnya semakin mahir untuk menerjemahkan buku-buku asing dan menulisnya kembali dalam Bahasa Indonesia.

    Karya-Karya Abdullah Idrus

    • Aki
    • Corat-Coret di Bawah Tanah
    • Dengan Mata Terbuka
    • Hati Nurani Manusia
    • Hikayat Petualang Lima
    • Hikayat Putri Penelope
    • Perempuan dan Kebangsaan
      Surabaya
    • Ana
    • Buta
    • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
    • Dokter Bisma
    • Jibaku Aceh
    • Kejahatan Membalas Dendam
    • Keluarga Surono
    • Acoka
    • Cerita Wanita Termulia
    • Dari Penciptaan Kedua
    • Dua Episode Masa Kecil
    • Ibu yang Kukenang
    • Keju
    • Kereta Api Baja
    • Perkenalan dengan Anton Chekov
    • Perkenalan dengan Guy de Maupassant
    • Perkenalan dengan Jaroslov Hask
    • Perkenalan dengan Luigi Pirandello
    • Roti Kita Sehari-hari
  • Biografi Jendral Sudirman, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Jendral Sudirman, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Jendral Sudirman

    • Nama : Raden Soedirman
    • Dikenal : Jenderal Besar Sudirman
    • Lahir : Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916
    • Wafat : Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950
    • Orang Tua : Karsid Kartawiraji (ayah), Siyem (ibu)
    • Saudara : Muhammad Samingan
    • Istri : Alfiah
    • Anak : Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, Taufik Effendi, Titi Wahjuti Satyaningrum, Didi Praptiastuti, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, Ahmad Tidarwono.

    Biografi Singkat Jendral Sudirman

    Jenderal Besar Sudirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Dia merupakan anak dari pasangan Karsid Kartawiuraji dan Siyem. Namun, sejak kecil Jendral Sudirman iku dengan pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo.

    Paman Jendral Sudirman memiliki kondisi keuangan yang lebih baik daripada kedua orang tuanya sehingga kedua orang tuanya merelakan Jendral Sudirman ikut bersama pamannya agar bisa melanjutkan pendidikan.

    Sudirman kecil belajar di HIS (hollandsch inlandsche school). Kemudian pindah ke sekolah milik Taman Siswa pada tahun ketujuh.

    Selanjutnya, ia pindah lagi ke Sekolah Wirotomo karena sekolah milik Taman Siswa tidak dianggap oleh pemerintah Belanda.

    Sedari kecil, Sudirman sudah memiliki jiwa religius yang dibuktikan dengan keteguhan serta ketaatannya dalam beribadah. Bahkan dia juga aktif dalam organisasi-organisasi Islam, salah satunya adalah Hizbul Wathan, milik Muhammadiyah.

    Beranjak dewasa, Sudirman mengikuti pelatihan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Karirnya menjulang tinggi sehingga tak butuh waktu lama akhirnya Sudirman langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya.

    Selanjutnya, ia menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk. Kemudian, Sudirman terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).

    Dalam sejarah, Sudirman adalah Jendral pertama dan termuda di Indonesia. Keberaniannya dalam mengusir penjajah tidak perlu diragukan lagi. Bahkan dia mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk bangsa.

    Dalam biografi Jendral Sudirman, diketahui bahwa ia mengidap penyakit yang cukup parah hingga akhirnya pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar Sudirman wafat di Magelang. Pemakamannya ke Yogyakarta diiringi oleh konvoi empat tank serta 80 kendaraan bermotor.

    Pendidikan Jendral Sudirman

    • Sekolah Taman Siswa
    • HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo
    • Pendidikan Militer PETA, Bpgor

    Karir Jendral Sudirman

    • Guru di His Muhammadiyah, Cilacap
    • Komandan Batalyon, Kroya
    • Panglima Divisi V Banyumas, dengan pangkat Kolonel
    • Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal

    Penghargaan Jendral Sudirman

    • Jendral Besar Anumerta Bintang Lima (1997)
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Sakti
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Gerilya
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Mahaputra Adipurna
    • Jenderal Besar Anumerta Mahaputra Pratama
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Republik Indonesia Adipradana
    • Pahlawan Nasional Indonesia
  • Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

    Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

    Biodata Ki Hajar Dewantara

    Nama Lengkap : Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
    Nama Panggilan : Ki Hadjar Dewantara
    Lahir : Yogyakarta, 2 Mei 1889
    Wafat : Yogyakarta, 26 April 1959
    Agama : Islam
    Orang Tua : Pangeran Soerjaningrat (Ayah), Raden Ayu Sandiah (ibu)
    Saudara : Soerjopranoto
    Istri : Nyi Sutartinah
    Anak : Ratih Tarbiyah, Syailendra Wijaya, Bambang Sokawati Dewantara, Asti Wandansari, Subroto Aria Mataram. Sudiro Alimurtolo.

    Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara

    Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1889 yang kini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara terlahir dari keluarga Bangsawan, yang mana ia merupakan anak dari GPH Soerjaningrat, cucu dari Pakualam III.

    Sejak muda, beliau memiliki semangat yang besar untuk menyebarkan pendidikan ke seluruh rakyat Indonesia.

    Meski berasal dari kalangan bangsawan, Ki Hajar Dewantara tidak membatasi dirinya dalam cakupan pendidikan elit. Ia ingin agar setiap anak Indonesia mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan.

    Salah satu kontribusi terbesar Ki Hajar Dewantara adalah pendirian Taman Siswa pada tahun 1922.

    Ini adalah sekolah model yang dirancang untuk menyediakan pendidikan yang terjangkau dan relevan bagi anak-anak Indonesia pada masa itu.

    Taman Siswa mengusung konsep “belajar sambil berbuat” yang menggabungkan pengetahuan akademis dengan keterampilan praktis.

    Melalui pendekatan ini, Ki Hajar Dewantara ingin menciptakan generasi muda yang memiliki kemampuan holistik dan siap menghadapi tantangan dunia nyata.

    Dalam beberapa versi menyebutkan jika Ki Hajar Dewantara sekolah di ELS yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda dan juga kaum bangsawan.

    Selepas dari ELS Ki Hajar Dewantara kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA yaitu sekolah yang untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda.

    Di waktu muda, Ki Hadjar Dewantara bergabung dengan organisasi Budi Utomo.

    Ia berperan sebagai aktivis untuk menyadarkan masyarakat pribumi tentang pentingnya semangat kebersamaan dan pentingnya pendidikan untuk kemajuan bangsa.

    Ia pun juga membuat semboyan yang sampai sekarang dipakai dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu:

    • Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh)
    • Ing madyo mangun karso, (di tengah memberi semangat)
    • Tut Wuri Handayani, (di belakang memberi dorongan)
  • Biografi Singkat Mohammad Hatta, Tokoh Kemerdekaan Indonesia

    Biografi Singkat Mohammad Hatta, Tokoh Kemerdekaan Indonesia

    Biodata Mohammad Hatta

    Nama : Dr. Drs. H. Mohammad Hatta
    Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902
    Wafat : Jakarta, 14 Maret 1980
    Agama : Islam
    Orang Tua : Muhammad Djamil (ayah), Siti Saleha (ibu)
    Istri : Rahmi Rachim
    Anak : Meutia Hatta, Halida Hatta, Des Alwi, Gemala Hatta
    Pendidikan : Universitas Erasmus Rotterdam Belanda

    Biografi Singkat Mohammad Hatta

    Mohammad adalah anak laki-laki satu-satunya dari enam bersaudara.

    Menjadi anak laki-laki satu-satunya menjadikan Mohammad Hatta memiliki rasa tanggung jawab dan jiwa kepemimpinan sejak kecil.

    Ia memulai pendidikan dasarnya di ELS (Europeesche Lagere School).

    Sejak duduk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan.

    Pada tahun 1921 Hatta melanjutkan pendidikan di Handels Hoge School di Rotterdam, Belanda. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging.

    Namun pahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging.

    Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

    Mohammad Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923.

    Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925.

    Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi saat itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif.

    Hatta pun memasuki jurusan itu dengan dorongan minatnya yang besar di bidang politik.

    Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan kemudian pulang ke Indonesia.

    Pada tahun 1932 dan 1933, Hatta rutin menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat.

    Perjalanan hidupnya pun tidak mulus, dia juga merasakan hal yang sama dengan Soekarno, yaitu mendapat tekanan dari berbagai pihak yang tidak sejalan dengannya.

    Namun karena jiwa nasionalisme dan perjuangannya yang tinggi, Hatta tetap semangat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

  • Biografi Singkat R.A Kartini, Tokoh Emansipasi Wanita

    Biografi Singkat R.A Kartini, Tokoh Emansipasi Wanita

    Biodata R.A Kartini

    Nama Lengkap : Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat
    Nama lain : R.A Kartini
    Tempat dan Tanggal Lahir : Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879
    Wafat : Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904
    Agama : Islam
    Orang Tua : Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Ayah), M.A. Ngasirah (Ibu)
    Saudara Kandung : R.M Slamet Sosroningrat, P.A Sosrobusono, R.A Soelastri, Drs. R.M.P Sosrokartono, R.A Roekmini, R.A Kardinah, R.A Kartinah, R.M Muljono, R.A Soematri, R.M Rawito
    Suami : K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
    Anak : Soesalit Djojoadhiningrat

    Biografi Singkat R.A Kartini

    Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya yang bernama Raden mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang bupati Jepara kala itu.

    Dilihat dari silsilah keluarganya, Kartini adalah keturunan ningrat. Ia merupakan putri dari istri pertama ayahnya yang bernama M.A Ngasirah yang merupakan putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Sedangkan dari sisi ayahnya, silsilah Kartini sampai ke Hamengkubuwana VI.

    Pada tahun 1903 pada saat R.A Kartini berusia sekitar 24 tahun, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri.

    Meskipun begitu, suami R.A Kartini ykni K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat memahami apa yang menjadi keinginan istrinya saat itu.

    Sehingga akhirnya Kartini diberi kebebasan untuk mendirikan sekolah wanita pertama. Sekolah itu berdiri di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang yang kemudian sekarang dikenal sebagai Gedung Pramuka.

    Sepeninggal R.A Kartini, ada seorang pria belanda bernama J.H. Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda.

    Ia mulai mengumpulkan surat-surat serta berkas yang pernah ditulis oleh R.A Kartini ketika ia aktif melakukan korespondensi dengan teman-temannya yang berada di Eropa ketika itu.

    Berbekal data-data itulah kemudian disusun buku yang awalnya berjudul ‘Door Duisternis tot Licht‘ yang kemudian diterjemahkan dengan judul Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang terbit pada tahun 1911.

  • Biografi Soekarno, Sang Prokalamator Kemerdekaan Indonesia

    Biografi Soekarno, Sang Prokalamator Kemerdekaan Indonesia

    Biografi Soekarno

    • Nama Lengkap : Dr. Ir. H. Soekarno
    • Nama Kecil : Koesno Sosrodihardjo
    • Nama Panggilan : Bung Karno, Soekarno, Pak Karno
    • Lahir : Surabaya, 6 Juni 1901
    • Wafat : Jakarta, 21 Juni 1970
    • Orang Tua : Soekemi Sosrodihardjo (Ayah), Ida Ayu Nyoman Rai (Ibu),
    • Istri : Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manopo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, Heldy Djafar
    • Anak : Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, Taufan Soekarnoputra, Bayu Soekarnoputra, Totok Suryawan Soekarnoputra, Karina Kartika Sari Dewi Soekarno, Ayu Gembirowati.

    Masa Kecil Soekarno

    Sejak kecil, Soekarno tidak hidup bersama orang tuanya di Blitar, Jawa Timur. Ia tinggal bersama kakeknya yang bernama Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.

    Soekarno kecil menjalani kehidupannya dengan sangat baik, ia anak yang penurut, baik, pintar, dan terlihat jiwa kepemimpinannya walau di usia belia.

    Pendidikan Soekarno

    Soekarno pernah sekolah di Eerste Inlandse School yang mana ayahnya juga menjadi guru di sana. Namun pada tahun 1911 Soekarno dipindah ke ELS (Europeesche Lagere School) yang setingkat Sekolah Dasar untuk menyiapkan diri masuk di HBS (Hogere Burger School) di Surabaya.

    Setelah tamat di HBS, Soekarno melanjutnya pendidikannya di Technische Hoogeschool (THS) jurusan teknik sipil. Technische Hoogeschool (THS) sekarang menjadi ITB (Institut Teknologi Bandung). Di situ ia menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar Insinyur.

    Riwayat Organisasi

    Sejak muda, Soekarno cukup aktif mengikuti organisasi, salah satunya adalah Serikat Islam (SI). Di organisasi inilah Soekarno akhirnya mengenal tokoh-tokoh penting lainnya seperti Haji Agus Salim dan Abdul Muis.

    Selain itu, Soekarno juga pernah masuk dalam organisasi yang bernama Tri Koro Darmo yang kemudian berubah nama menjadi Jong Java. Di sini, ia semakin banyak mengenal orang-orang penting yang membangkitkan jiwa Nasionalismenya.

    Kemudian, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) yang menjadi cikal bakal dari Partai Nasional Indonesia.

    Masa Pergerakan Nasional

    Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkan ia ditangkap oleh Belanda pada bulan Desember 1929 dan dipenjara di Penjara Banceuy.

    Pada tahun 1930 dipindahkan ke Sukamiskin dan memunculkan pledoinya yang fenomenal, Indonesia Menggugat (pledoi), hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

    Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI.

    Namun, ia kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933 dan diasingkan ke Flores. Walau diasingkan, tidak membuat semangat Soekarno surut. Semangatnya tetap membara dalam memperjuangkan kedaulatan Bangsa.

    Tidak berhenti sampai di situ saja, Soekarno pun pernah diasingkan pada tahun 1938 hingga tahun 1942 ke Provinsi Bengkulu. Lantas, Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.