Kategori: Biografi

  • Biografi Robert Wadlow, Orang Tertinggi di Dunia

    Biografi Robert Wadlow, Orang Tertinggi di Dunia

    Pria asal amerika ini dikatakan sebagai pria tertinggi di dunia. Bagaimana tidak, tinggi tubuhnya mencapai 2.72 meter! Alhasil, dia tercatat dalam sejarah melalui Guinness World Records sebagai orang tertinggi di dunia.

    Robert Pershing Wadlow (lahir di Alton, Illinois, 22 Februari 1918 – meninggal di manistee, Michigan, 15 Juli 1940 pada umur 22 tahun) adalah orang tertinngi di dunia yang pernah hidup. Kadang dia dipanggil “Raksasa Alton” yang diambil dari kota kelahirannya di Alton, Illinois.

    Tinggi Wadlow mencapai 2,72 m (8 kaki 11,1 inci) dengan berat 220 kg (490 pon) saat dia meninggal. Tubuhnya yang besar dan terus bertumbuhnya tinggi saat dewasa disebabkan oleh Hipertropi di hipofisis yang berakibat tidak normalnya jumlah hormon pertumbuhan. Sehingga pertumbuhan terus terjadi bahkan saat ia sudah meninggal.

    Masa kanak-kanak

    Wadlow lahir sebagai anak dari Addie dan Harold Wadlow di Alton, Illinois  pada 22 Februari 1918, dari lima anak, Robert adalah yang paling tua. Tahun 1936, setelah lulus dari SMA Alton, dia melanjutkan pembelajarannya di Kampus Shurtleff dalam bidang hukum. Sejak 1937, Wadlow telah memecahkan rekor sebagai orang tertinggi.

    Sepatunya masih berada di beberapa tempat di Amerika Serikat, termasuk Museum sejarah dan seni Alton. Saat berumur 20 tahun ia menandatangani Perusahaan Sepatu Internasional untuk membuatkannya sepatu secara gratis dengan syarat mengikuti tur promosional.

    Tahun-tahun berikutnya

    Tinggi Wadlow menyebabkan dia sering mendapatkan masalah karena kakinya menjadi rapuh karena tubuhnya yang besar menjadikannya sulit berjalan sehingga dia menggunakan penopang kaki dari besi.

    Pada 27 Juni 1940 (delapan belas hari sebelum kematiannya), dia memiliki tinggi 2,72 (8 kaki 11,1 inci) oleh dokter C. M. Charles dan Cyril MacBryde dari Universitas Washington di St. Louis.

    Saat masih hidup, Wadlow merupakan Selebriti Amerika Serikat paling populer dimasanya; dia begitu terkenal saat ia tur penjuru negeri ditahun 1936 sebagai bagian dari Sirkus Ringling Brothers dan tur promosional dari INTERCO ditahun 1938. Saat itu dia selalu mengikuti tur promosional dan kemunculan publik.

    Kematian Robert Wadlow

    Pada 4 juli 1940, ketika ia muncul dalam Festival Hutan Nasional, penopang kaki besi di kaki Wadlow patah, menyebabkan kapalan dan luka sobek yang parah dan menginfeksi kakinya.

    Dokter merawatnya dengan transfusi darah dan operasi darurat, namun kondisinya terus memburuk dan akhirnya meninggal dunia pada 15 Juli 1940 ia meninggal saat tidur. Dalam usia 22 tahun.

    Ada perkiraan 40,000 orang menghadiri pemakaman Wadlow pada 19 Juli . Dia dimasukan ke dalam peti mati dengan berat setengah ton sehingga membutuhkan 12 orang untuk mengangkut peti mati Robert, yang dilapisi beton. Keluarga Wadlow sangat khawatir jika tubuh Robert dicuri, sehingga kuburan Wadlow dijaga dengan sangat ketat.

  • Biografi Singkat Abdoel Moeis, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Singkat Abdoel Moeis, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Abdoel Moeis

    Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – wafat di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia.

    Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad yang didirikan pada tahun 1916 oleh pemerintah penjajahan Belanda.

    Ia dimakamkan di TMP Cikutra – Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).

    Karier Abdoel Moeis

    Dia pernah bekerja sebagai klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada surat kabar Belanda, Preanger Bode, harian Kaum Muda dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim.

    Selain itu ia juga pernah aktif dalam Syarikat Islam dan pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama (1920-1923). Setelah kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan.

    Riwayat Perjuangan

    • Mengecam tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di harian berbahasa Belanda, De Express.
    • Pada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar Dewantara.
    • Pada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat.
    • Mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School – Institute Teknologi Bandung (ITB)

    Karya Sastra Abdoel Moeis

    • Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972)
    • Pertemuan Jodoh (novel, 1933)
    • Surapati (novel, 1950)
    • Robert Anak Surapati(novel, 1953)

    Karya Terjemahan Abdoel Moeis

    • Don Kisot (karya Cerpantes, 1923)
    • Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928)
    • Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932)
    • Tanah Airku (karya C. Swaan Koopman, 1950)
  • Biografi Joko Pinurbo, Sang Penyair Indonesia

    Biografi Joko Pinurbo, Sang Penyair Indonesia

    Biografi Joko Pinurbo
    • Nama : Joko Pinurbo
    • TTL    : Sukabumi, 11 Mei 1962
    • Istri    : Nurnaeni Amperawati Firmina
    • Anak  : Paskasius Wahyu Wibisono, Maria Azalea Anggraeni

    Biografi Singkat Joko Pinurbo

    Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Ia menyelesaikan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Sanata Darma Yogyakarta pada tahun 1987 dan kemudian menjadi staf pengajar di almamaternya.

    Sejak tahun 1979 Joko Pinurbo sudah tertarik dengan puisi dan atau sajak-sajak yang dibuat oleh para sastrawan terkenal Indonesia. Namun uniknya, selama 20 tahun ia mengamati puisi/sajak, selama itu pula ia belum membuat satu puisi pun.

    Hingga akhirnya pada tahun 1999 barulah ia menghasilkan puisi dan membukukan dalam suatu tema Celana, yang menurut pengakuannya belum pernah ada penyair sebelumnya memakai kata tersebut dalam karya puisi.

    Sejak tahun 1999, sudah 10 buku kumpulan puisi diluncurkan, diantaranya Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005).

    Beberapa buku kumpulan puisinya memperoleh hadiah Sastra Lontar 2001, Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi) 2001, penghargaan Sastra Pusat Bahasa Depdiknas 2002, Tokoh Sastra PIlihan Tempo 2001, Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005.

    Dan yang lebih fenomenal lagi, bukunya sangat laris. Buku kumpulan puisi Kepada Cium (terbit tahun 2007), hanya dalam jangka waktu satu bulan sudah terjual 1000 buku. Suatu jumlah yang luar biasa untuk buku puisi.

    Pendidikan Joko Pinurbo

    • SD Mardi Yuana Warung Kiara, Sukabumi (1973)
    • SMP Sanjaya Babadan, Sleman (1976)
    • Seminari St Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang (1981)
    • IKIP Sanata Darma (sekarang Universitas Sanata Dharma) Yogyakarta (1987)

    Karya Joko Pinurbo

    • Celana (1999)
    • Di Bawah Kibaran Sarung (2001)
    • Pacarkecilku (2002)
    • Trouser Doll merupakan terjemahan karyanya berjudul Celana ke dalam bahasa Inggris (2002)
    • Telepon Genggam (2003)
    • Kekasihku (2004)
    • Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005)
    • Kepada Cium (2007)
    • Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007)
    • Haduh, aku di-follow (2013)
    • Surat Kopi (2014)
    • Malam ini aku akan tidur di matamu (2016)
    • Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016)

    Penghargaan Joko Pinurbo

    • Hadiah Sastra Lontar, 2001,
    • Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi), 2001,
    • Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Depdiknas, 2002,
    • Tokoh Sastra PIlihan Tempo, 2001,
    • Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005
  • Biografi Benjamin Franklin Lengkap dengan Karyanya

    Biografi Benjamin Franklin Lengkap dengan Karyanya

    Biografi Benjamin Franklin

    Benjamin Franklin adalah seorang tokoh penemu yang lahir di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, 17 Januari 1706.

    Ia meninggal di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, 17 April 1790 pada umur 84 tahun.

    Franklin adalah orang dengan banyak jenis profesi dan keahlian.

    Ia adalah seorang wartawan, penulis, sastrawan, pengarang, filantrofis, abolisionis, pelayan masyarakat (pejabat), ilmuan, diplomat, dan penemu.

    Lebih dari itu, Benjamin Franklin adalah seorang pengusaha dalam bidang penerbitan dan percetakan.

    Oleh karenanya, banyak karya tulis yang telah diciptakan dan dibaca oleh masyarakat luas.

    Dari sekian banyak keahliannya tersebut, ia telah menemukan berbagai karya yang sampai saat ini masih digunakan. Salah satunya adalah penangkal petir.

    Pada tahun 1740, listrik adalah hal baru bagi dunia. Benjamin Franklin dan kerabatnya mulai menyelidiki fenomena listrik itu.

    Pada tahun 1750 ia menerbitkan sebuah proposal untuk sebuah percobaan untuk membuktikan bahwa petir adalah listrik.

    Lalu ia menggunakan layang-layang untuk mengumpulkan beberapa muatan listrik dari awan badai.

    Dalam percobaannya terhadap listrik, Franklin menemukan temuan untuk penangkal petir, yang menjadi alasan mengapa bangunan tidak tersambar petir setiap kali ada badai yang menakutkan.

    Ia menulis bahwa konduktor (penghantar listrik) dengan ujung yang tajam memiliki kemampuan untuk menarik muatan listrik dan memiliki jangkauan penarikan yang lebih jauh dibandingkan dengan konduktor dengan ujung yang tumpul.

    Karya Benjamin Franklin

    Selain itu, masih banyak lagi karya-karya yang telah ditemukannya. Adapun karya atau temuan dari Benjamin Franklin adalah sebagai berikut:

    1. Glass Armonika

    Pada tahun 1761, Franklin menciptakan alat musik armonika menggunakan kaca yang ditiup untuk menciptakan nada yang tepat.

    Armonika cukup populer di Inggris dengan komposer besar seperti Beethoven dan Mozart menggubah musik menggunakan alat musik tersebut.

    2. Kompor Franklin

    Kompor ini ditemukan pada tahun 1742. Alat memasak ini dinilai lebih aman dan menghasilkan panas dua kali lipat dari kompor kayu biasa.

    Kompor Franklin memiliki seperti cerobong di puncaknya dan kotak udara di bagian belakang.

    3. Penangkal Petir

    Eksperimen penangkal petir dilakukan oleh Franklin pada tahun 1752 dengan bantuan layang-layang yang diterbangkan pada awan berhalilintar.

    Penangkal petir buatan Franklin mampu membantu mengendalikan kebakaran yang sering terjadi akibat sambaran petir.

    4. Lensa Bifokal

    Terganggu karena sering mengganti kacamata untuk membaca dan meilhat benda jauh, Benjamin Franklin menciptakan lensa dengan dua titik fokus pada tahun 1784.

    Lensa bifocal memuat dua lensa untuk membaca sekaligus melihat jauh yang dipasang pada satu frame kacamata.

    Lensa untuk melihat jauh ditempatkan di bagian atas, sedangkan lensa untuk membaca ditempatkan di bagian bawah.

    5. Odometer

    Saat menjabat sebagai Postmaster General, dia berpikir tentang menemukan rute terbaik untuk mengirimkan surat.

    Odometer (alat untuk mengukur jarak) diciptakan oleh Franklin pada tahun 1775. Odometer membantu dalam mengukur jarak tempuh kereta kuda yang membawa surat.

    6. Kateter untuk Berkemih

    Ketika kakaknya menderita batu ginjal, Franklin mengembangkan kateter urin untuknya. Kateter ini adalah yang pertama diproduksi di Amerika.

    Beberapa penemuan lain Benjamin Franklin termasuk sirip berenang, lengan panjang untuk meraih buku yang ditempatkan pada ketinggian, dan pemetaan Teluk Meksiko.

    7. Poor Richard’s Almanack

    Poor Richard’s Almanack adalah almanak tahunan yang diterbitkan oleh Benjamin Franklin, yang mengadopsi nama samaran “Poor Richard” atau “Richard Saunders” untuk tujuan ini. Publikasi ini muncul terus-menerus dari tahun 1732 hingga 1758.

  • Biografi Armijn Pane Beserta Karya-Karyanya

    Biografi Armijn Pane Beserta Karya-Karyanya

    Armijn Pane lahir di Muara Sipongi, Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada tanggal 18 Agustus 1908. Ia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara.

    Ayahnya Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang seniman daerah yang telah berhasil membukukan sebuah cerita daerah berjudul Tolbok Haleoan.

    Armijn Pane adalah salah satu Sastrawan Senior di Indonesia dengan salah karya sastranya yang paling terkenal ialah novel Belenggu.

    Pada tahun 1933 bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru.

    Misinya adalah mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra.

    Sebagai pelajar di Solo, ia bergabung dengan organisasi pemuda nasional yakni Indonesia Muda, namun politik tampaknya kurang menarik minatnya daripada kesusasteraan.

    Saat itu ia memulai karirnya sebagai penulis dengan menerbitkan beberapa puisi nasionalis, dan dua tahun kemudian menjadi salah seorang pendiri majalah Pujangga Baru.

    Armijn Pane pernah menjadi wartawan surat kabar Soeara Oemoem di Surabaya (1932), mingguan Penindjauan (1934), surat kabar Bintang Timoer (1953), dan menjadi wartawan lepas.

    Ia pun pernah menjadi guru di Taman Siswa di berbagai kota di Jawa Timur. Menjelang kedatangan tentara Jepang, ia duduk sebagai redaktur Balai Pustaka.

    Pada zaman Jepang, Armijn bersama kakaknya Sanusi Pane, bekerja di Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) dan menjadi kepala bagian Kesusasteraan Indonesia Modern.

    Sesudah kemerdekaan, ia aktif dalam bidang organisasi kebudayaan.

    Ia pun aktif dalam kongres-kongres kebudayaan dan pernah menjadi anggota pengurus harian Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) (1950-1955).

    Tahun 1969 Armijn Pane menerima Anugerah Seni dari pemerintah RI karena karya dan jasanya dalam bidang sastra. Pada awal Fevruari 1970, Tepatnya pada tanggal 16 Februari 1970, beliau meninggal.

    Karya Armijn Pane

    • Puisi Gamelan Djiwa. Jakarta: Bagian Bahasa Djawa. Kebudayaan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. 1960
    • Djiwa Berdjiwa, Jakarta: Balai Pustaka. 1939.
    • Kisah Antara Manusia. 1952
    • Belenggu, Jakarta: Dian Rakyat. Cet. I 1940, IV 1954, Cet. IX 1977, Cet. XIV 1991
    • Djinak-Djinak Merpati. Jakarta: Balai Pustaka, Cet. I 1940
    • Kisah Antara Manusia. Jakarta; Balai Pustaka, Cet I 1953, II 1979
    • Ratna. 1943 (menyadur naskah Hendrik Ibsen, Nora)
    • Antara Bumi dan Langit”. 1951. Dalam Pedoman, 27 Februari 1951.
    • (Belanda) ort Oversicht van de Moderne Indonesische Literatuur (1949). Sebuah tinjauan tentang sastra Indonesia modern
    • Sandjak-sandjak Muda Mr Muhammad Yamin. 1954. sebuah bahasan tentang sajak-sajak Muhammad Yamin
    • Mencari Sendi Baru Tatabahasa Indonesia. 1950. Studinya tentang gramatika bahasa Indonesia
    • Jalan Sejarah Dunia. 1952
    • Tiongkok Jaman Baru, Sejarahnya: Abad ke-19 – sekarang. 1953. sebuah terjemahan
    • Membangun Hari Kedua. 1956. Terjemahan novel Ilya Ehrenburg.
    • Habis Gelap Terbitlah Terang. 1968. Menerjemahkan surat-surat Raden Ajeng Kartini
  • Biografi Merari Siregar Sastrawan Indonesia

    Biografi Merari Siregar Sastrawan Indonesia

    Biografi Merari Siregar

    Merari Siregar lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada 13 Juli 1896. Semasa kecil, Merari Siregar berada di Sipirok.

    OIeh karena itu, sikap, perbuatan, dan jiwa Merari Siregar sangat dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat Sipirok.

    Ia menjumpai kepincangan-kepincangan khususnya mengenai adat, misalnya, kawin paksa yang terdapat dalam masyarakat lingkungannya.

    Setelah dewasa dan menjadi orang terpelajar, Merari Siregar melihat keadaan suku bangsanya yang mempunyai pola berpikir yang tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

    Hati kecilnya ingin mengubah sikap orang-orang yang berpandangan kurang baik khususnya orang-orang di daerah Sipirok.

    Pada tahun 1923, ia menenyam bangku pendidikan di sekolah swasta yang didirikan oleh vereeniging tot van Oost en West, yang pada masa itu merupakan organisasi yang aktif memperakiekkan politik etis Belanda.

    Karyanya yang paling populer adalah Azab dan sengsara diterbitkan pada tahun 1920.

    Prosa berbentuk roman itu muncul saat pemerintah kolonial Belanda sedang gencar-gencarnya melaksanakan politik etis yang ditandai dengan berdirinya Conunissie Voor Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat).

    Karya Karya Merari Siregar

    Novel

    Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet. 1 tahun 1920,Cet.4 1965.
    Binasa Karena Gadis Priangan. Jakarta: Balai Pustaka 1931.
    Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi. Jakarta: Balai Pustaka 1924.
    Cinta dan Hawa Nafsu. Jakarta: t.th.

    Saduran

    Si Jamin dan si Johan. Jakarta: Balai Pustaka 1918.

  • Biografi Andrea Hirata, Penulis Novel Laskar Pelangi

    Biografi Andrea Hirata, Penulis Novel Laskar Pelangi

    Nama Lengkap : Andrea Hirata
    Alias : Andrea Hirata Seman Said Harun
    Lahir : Gantung, Belitung Timur, Bangka Belitung, 24 Oktober 1967
    Profesi : Sastrawan
    Agama : Islam
    Ayah : Seman Said Harunayah
    Ibu : NA Masturah

    Biografi Andrea Hirata

    Andrea Hirata adalah penulis Novel Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang novelis yang telah merevolusi sastra Indonesia dan karyanya diangkat ke layar lebar teater musikal.

    Salah satu buku karya Andrea Hirata adalah buku Laskar Pelangi yang sangat populer dan menjadi best seller di beberapa toko buku.

    Andrea Hirata terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun di Gantung, Belitung Timur, Bangka Belitung, 24 Oktober 1982.

    Ia berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.

    Saat masih kecil, orang tuanya mengubah namanya sebanyak tujuh kali. Nama ketujuhnya adalah Andrea, nama Hirata diberikan oleh ibunya.

    Hirata memulai pendidikan tinggi dengan gelar di bidang ekonomi dari Universitas Indonesia. Meskipun studi mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains-fisika, kimia, biologi, astronomi dan sastra.

    Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa di Himalaya.

    Setelah menerima beasiswa dari Uni Eropa, dia mengambil program master di Eropa, pertama di Universitas Paris, lalu di Universitas Sheffield Hallam di Inggris; tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari universitas tersebut dan ia lulus cum laude.

    Tesis itu telah diadaptasikan ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah.

    Hirata merilis buku Laskar Pelangi pada tahun 2005. Novel ini ditulis dalam waktu enam bulan berdasarkan pengalaman masa kecilnya di Belitung.

    Ia kemudian menggambarkannya sebagai “sebuah ironi tentang kurangnya akses pendidikan bagi anak-anak di salah satu pulau terkaya di dunia.”

    Novel ini terjual lima juta eksemplar, dengan edisi bajakan terjual 15 juta lebih. Novel ini menghasilkan tetralogi Laskar Pelangi, yakni Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.

    Di tahun 2022 kemarin, ada satu buku terbaru Andrea Hirata yang berjudul Ayah dan Sirkus Pohon.

    Pendidikan Andrea Hirata

    • S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
    • S2 Universite de Paris Sorbonne (Perancis)
    • Sheffield Hallam University (Inggris).

    Penghargaan Andrea Hirata

    Berikut ini adalah beberapa penghargaan yang telah diraih oleh Andrea Hirata:

    • Khatulistiwa Literaly Award (KLA), 2007
    • Aisyiyah Award,
    • Paramadina Award
    • Netpac Critics Award
    • Pemenang BuchAwards Jerman 2013
    • Pemenang Festival Buku New York 2013 (general fiction category)
    • Honorary Doctor of Letters (Hon DLitt) dari Universitas Warwick 2015

    Novel Andrea Hirata

    Berikut ini adalah beberapa novel karya Andrea Hirata:

    • Buku Novel Laskar Pelangi (2005)
    • Buku Novel Sang Pemimpi (2006)
    • Novel Edensor (2007)
    • Novel Maryamah Karpov
    • Novel Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (2010)
    • Novel Sebelas Patriot (2011)
    • Novel Laskar Pelangi Song Book (2012)
    • Novel Ayah (2015)
    • Novel Guru Aini (2020)
    • Novel Ayah dan Sirkus Pohon (2022)
  • Biografi Ayu Utami, Aktivis Jurnalis dan Sastrawan Indonesia

    Biografi Ayu Utami, Aktivis Jurnalis dan Sastrawan Indonesia

    Biodata Ayu Utami

    Nama: Ayu Utami
    Lahir: 21 November 1968, Bogor, Jawa Barat
    Kewarganegaraan: Indonesia
    Aliran sastra: roman
    Penghargaan: Sayembara roman Dewan Kesenian Jakarta, Kusala Sastra Khatulistiwa, Prince Claus Award

    Biografi Ayu Utami

    Ayu Utami memiliki nama lengkap Justina Ayu Utami.

    Ia adalah aktivis jurnalis dan sastrawan berkebangsaan Indonesia yang besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

    Ayu Utami pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R.

    Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan.

    Bakat menulisnya sudah tertanam sejak kecil. Ia suka menulis segala hal yang dialami hingga akhirnya ia berhasil menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Saman.

    Novel tersebut mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.

    Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual sekitar 50 ribuan eksemplar.

    Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, Belanda yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Pada akhir tahun 2001, ia meluncurkan novel Larung.

    Karir Ayu Utami

    Wartawan lepas Matra
    Wartawan Forum Keadilan
    Wartawan D&R
    Anggota Sidang Redaksi Kalam
    Kurator Teater Utan Kayu
    Pendiri dan Anggota Aliansi Jurnalis Independen
    Peneliti di Institut Studi Arus Informasi

    Karya Ayu Utami

    Novel Saman, KPG, Jakarta, 1998
    Novel Larung, KPG, Jakarta, 2001
    Kumpulan Esai “Si Parasit Lajang”, GagasMedia, Jakarta, 2003
    Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta, 2008
    Novel Manjali Dan Cakrabirawa (Seri Bilangan Fu), KPG, Jakarta, 2010
    Novel Cerita Cinta Enrico, KPG, Jakarta, 2012
    Novel Soegija: 100% Indonesia, KPG, Jakarta, 2012
    Novel Lalita (Seri Bilangan Fu), KPG, Jakarta, 2012
    Novel Si Parasit Lajang: , KPG, Jakarta, 2013
    Novel Pengakuan: Eks Parasit Lajang, KPG, Jakarta, 2013
    Novel Maya

    Penghargaan

    Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998
    Prince Claus Award 2000
    Khatulistiwa Literary Awards, kategori prosa (2008)

  • Biografi Silas Papare, Pahlawan dari Papua

    Biografi Silas Papare, Pahlawan dari Papua

    Biografi Silas Papare

    Nama : Silas Ayari Donari Papare
    Lahir : Serui, Papua, 18 Desember 1918
    Meninggal : Serui, Papua, 7 Maret 1973 (umur 54 tahun)
    Agama : Kristen Protestan
    Keluarga : Isteri (Ny. Regina Aibui), Anak (9 orang)

    Pendidikan

    Volschool
    Sekolah Juru Rawat (lulus tahun 1935)

    Organisasi

    Komite Indonesia Merdeka (KIM)
    Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII)
    Badan Perjuangan Irian
    Kompi Irian 17
    Biro Irian

    Jabatan

    Pendiri Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII)
    Pendiri Badan Perjuangan Irian
    Delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York (15 Agustus 1962)
    Pembentuk Komite Indonesia Merdeka (KIM)

    Prestasi

    • Salah satu kapal perang milik TNI AL mendapat kehormatan menggunakan nama KRI Silas Papare yaitu sebuah korvet kelas Parchim, yang dibuat untuk Volksmarine/AL Jerman Timur pada akhir 70-an. Penamaan menurut Pakta Warsawa adalah Project 133
    • Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993.
    • Pada 5 April 1945, Silas mendapat penghargaan dari pemerintah kolonial Belanda berupa Bintang Perunggu, yang diberikan oleh Koningin Wilhelmina
    • Berkat pertolongannya kepada tentara Sekutu melawan Jepang di Irian Jaya, ia kembali memperoleh penghargaan dari bagian OPS Perang Pasifik dari Biro Intelijen tentara Sekutu yang ditandatangani oleh GA Willongbym Mayor Jenderal USA (US ARMY) pada 31 Oktober 1945
    • Nama Beliau juga diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yang berada di Jalan Diponegoro. Sedangkan di kota Nabire, nama Silas Papare dikenang dalam wujud nama jalan.

    Peran

    • Mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Akibatnya, Silas kembali ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun, Silas berhasil melarikan diri menuju Yogyakarta.
    • Pada Oktober 1949 di Yogyakarta, Silas Papare membentuk Badan Perjuangan Irian
      Ditunjuk menjadi salah seorang delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York pada tanggal 15
    • Agustus 1962 yang mengakhiri perseteruan antara Indonesia dan Belanda perihal Irian Barat
    • Pada 29 September 1945, Silas Papare dengan bimbingan ex Digulis Harjono dan Suprapto membentuk Komite Indonesia Merdeka ( KIM )
    • Membentuk Kompi Irian 17 di Markas Besar Angkatan Darat untuk mendukung politik Pemerintah di forum Internasional dalam usaha pengembalian Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia pada tahun 1951.
    • Membentuk Biro Irian di Jakarta pada tahun 1945 dan Silas Papare ditetapkan sebagai Komisaris I (Keppres RI No. 53 tahun 1945 tanggal 17 Pebruari 1954). Membentuk Propinsi Irian Barat di Jakarta sebagai pemerintah tandingan Pemerintah Belanda di Irian Barat.
    • Merupakan pelopor/penganjur/teladan atas anjurannya “I Love Indonesia”, cinta tanah air Indonesia nasionalisme yang mulia dikembangkan di Bumi Irian.
    • Pada 25 Desember 1945, Silas dan beberapa kawannya berupaya mengajak pemuda-pemuda Irian yang tergabung dalam Batalyon Papua untuk bergabung dan memberontak terhadap Belanda. Meski sayangnya, rencana tersebut bocor ke telinga Belanda, sehingga Silas Papare ditangkap dan dipenjarakan di Serui, Jayapura.
  • Biografi Kahlil Gibran: Kisah Hidup Sang Penyair dan Filsuf Dunia

    Biografi Kahlil Gibran: Kisah Hidup Sang Penyair dan Filsuf Dunia

    Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir.

    Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.

    Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat.

    Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.

    Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika.

    Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.

    Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk.

    Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

    Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya.

    Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

    Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun.

    Karya pertamanya, “Spirits Rebellious” ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya.

    Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

    Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

    Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC.

    Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya.

    Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

    Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan’s Gowns.

    Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.

    Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston.

    Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

    Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

    Sebelum tahun 1912 “Broken Wings” telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya.

    Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.

    Pengaruh “Broken Wings” terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama “Broken Wings” ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

    Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya.

    Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.

    Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

    Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”. Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam “The Madman”.

    Setelah “The Madman”, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah “Twenty Drawing”, 1919; “The Forerunne”, 1920; dan “Sang Nabi” pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

    Sebelum terbitnya “Sang Nabi”, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia.

    Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya.

    Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran.

    Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

    Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis).

    Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum.

    Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca “Sang Nabi”.

    Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.

    Gibran menyelesaikan “Sand and Foam” tahun 1926, dan “Jesus the Son of Man” pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, “Lazarus” pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan “The Earth Gods” pada tahun 1931.

    Karyanya yang lain “The Wanderer”, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain “The Garden of the Propeth”.

    Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village.

    Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

    Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

    Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku.”