Kategori: Biografi

  • Biografi Asrul Sani, Sastrawan dan Sutradara Top Indonesia

    Biografi Asrul Sani, Sastrawan dan Sutradara Top Indonesia

    Biografi Asrul Sani

    Asrul Sani adalah seorang Sastrawan yang lahir di Rao, Sumatera Bara pada 10 Juni tahun 1926.  Asrul Sani merupakan anak dari Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Padang Nunang Rao Mapat Tunggul Mapat Cacang, kepala adat Minangkabau di daerahnya.

    Ibunya bernama Nuraini binti Itam Nasution, adalah seorang keturunan Mandailing.

    Lahir : Rao, Pasaman, 10 Juni 1927
    Wafat : Jakarta. 11 Januari 2004, Pukul 22.15 WIB
    Istri : (1) Siti Nurani dan (2) Mutiara Sarumpaet
    Anak : Tiga putra, tiga putri, enam cucu

    Pendidikan:

    • SD di Rao, Sumatera Barat
    • SLTP hingga SLTA di Jakarta
    • Sekolah Seni Drama di Negeri Belanda tahun 1951-1952
    • Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Indonesia (IPB)
    • Dramaturgi dan sinematografi di University of Southern California,Amerika Serikat tahun 1955-1957

    Karier Politik:

    • Anggota DPR GR 1966-1971 mewakili Partai Nahdhatul Ulama
    • Anggota DPR RI 1972-1982 mewakili PPP

    Organisasi

    • Pendiri “Gelanggang Seniman Merdeka”
    • Pendiri Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)

    Kegiatan Pergerakan:

    • Lasjkaer Rakjat Djakarta, Tentara Pelajar di Bogo

    Kegiatan Penerbitan:

    • Menerbitkan “Suara Bogor”
    • Redaktur majalah kebudayaan “Gema Suasana”
    • Anggota redaksi “Gelanggang”
    • Ruang kebudayaan Majalah’ Siasat”
    • Wartawan Majalah “Zenith”

    Penghargaan dan prestasi:

    • Tokoh Angkatan 45
    • Bintang Mahaputra Utama, tahun 2000
    • Enam buah Piala Citra pada Festifal Film Indonesia (FFI)
    • Film Terbaik pada Festival Film Asia tahun 1970

    Karya

    • Puisi “Tiga Menguak Takdir” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin
    • Puisi Surat dari Ibu
    • Anak Laut
    • Tiga Menguak Takdir
    • Film “Titian Serambut Dibelah Tudjuh
    • Film “Apa yang Kau Cari Palupi”
    • Film “Monumen”
    • Film “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”
    • “Naga Bonar”
    • “Pagar Kawat Berduri”
    • “Salah Asuhan”
    • “Para Perintis Kemerdekaan”
    • “Kemelut Hidup”
  • Biografi Bung Tomo, Pembakar Semangat Pejuang Surabaya

    Biografi Bung Tomo, Pembakar Semangat Pejuang Surabaya

    Biografi Bung Tomo

    Bung Tomo adalah pahlawan yang berasal dari kota Surabaya. Jasanya teramat besar terhadap upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia ketika melawan penjajah yang ingin merebut kedaulatan serta kekuasaan di Surabaya.

    Beliau adalah seorang yang pemberani, hingga akhirnya menjadi orator yang membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk melawan penjajah yang dikenal sebagai pertempuran 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

    Biodata Bung Tomo

    Nama Lengkap : Sutomo
    Tempat Lahir : Surabaya, Jawa Timur
    Tanggal Lahir : 03 Oktober 1920
    Kebangsaan : Indonesia
    Dikenal : Sebagai Pahlawan Indonesia

    Kehidupan Bung Tomo

    Bung Tomo lahir pada tanggal 3 Oktober 1920 di Surabaya, Jawa Timur dengan nama Sutomo. Namun, rakyat lebih mengenalnya dengan julukan Bung Tomo.

    Bung Tomo adalah anak dari Kartawan Tjiptowidjojo, seorang pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda.

    Sejak kecil, Bung Tomo terkenal sebagai anak yang penuh semangat. Pada saat usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO.

    Kemudian Bung tomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

    Di usia muda Bung Tomo cukup aktif dalam organisasi kepanduan atau KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda.

    Bung Tomo juga memiliki minat pada dunia jurnalisme. Beliau pernah bekerja sebagai wartawan lepas pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya pada tahun 1937.

    Setahun kemudian, ia menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat serta menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres, di Surabaya pada tahun 1939.

    Pada masa pendudukan Jepang, Bung Tomo bekerja di kantor berita tentara pendudukan Jepang, Domei, bagian Bahasa Indonesia untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya pada tahun 1942-1945.

    Saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan, beliau memberitakannya dalam bahasa Jawa bersama wartawan senior Romo Bintarti untuk menghindari sensor Jepang.

    Selanjutnya, beliau menjadi Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya.

    Setelah Kemerdekaan

    Pada tahun 1950, Bung Tomo sempat terjun dalam dunia politik. Namun hanya sesaat, hingga akhirnya ia menghilang dari panggung politik karena berbagai alasan.

    Pada awal tahun 1970, ia kembali dan mempunyai pandangan pendapat yang berbeda dengan pemerintahan Orde Baru.

    Ia berbicara dengan keras terhadap program-program yang dijalankan oleh Suharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras tersebut. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto.

    Akhir Hidup Bung Tomo

    Bung Tomo meninggal dunia pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, saat sedang menunaikan ibadah haji.

    Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci yang harus dimakamkan di tanah suci.

    Tapi jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

  • Biografi Achmad Soebardjo Tokoh Nasionalis Indonesia

    Biografi Achmad Soebardjo Tokoh Nasionalis Indonesia

    Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, dan seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

    Beliau juga merupakan Menteri Luar Negeri Indonesia pertama. Achmad Soebardjo lahir di Karawang, Jawa Barat pada 23 Maret 1896 – meninggal 15 Desember 1978 pada umur 82 tahun. Gelarnya Meester in de Rechten, yang diperoleh di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1933.

    Silsilah keluarga

    Achmad Soebardjo adalah anak dari pasangan Teuku Muhammad Yusuf dan Wardinah. Ayahnya masih keturunan bangsawan Aceh dari Pidie. Sedangkan Ibu Achmad Soebardjo adalah keturunan Jawa-Bugis, sekaligus anak dari Camat di Telukagung, Cirebon.

    Teuku Abdul Manaf adalah nama yang di berikan ayahnya, sedangkan ibunya memberinya nama Achmad Soebardjo. Nama Djojoadisoerjo ditambahkannya sendiri setelah dewasa, saat ia ditahan di penjara Ponorogo karena “Peristiwa 3 Juli 1946”.

    Riwayat perjuangan

    Semasa masih menjadi mahasiswa, Soebardjo adalah mahasiswa aktif yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui beberapa organisasi seperti Jong Java dan Persatuan Mahasiswa Indonesia di Belanda.

    Pada bulan Februari 1927, ia pun menjadi wakil Indonesia bersama dengan Mohammad Hatta dan para ahli gerakan-gerakan Indonesia pada persidangan antarbangsa “Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajah” yang pertama di Brussels dan kemudiannya di Jerman.

    Pada persidangan pertama itu juga hadir Jawaharlal Nehru dan pemimpin-pemimpin nasionalis yang terkenal dari Asia dan Afrika.

    Sewaktu kembalinya ke Indonesia, ia aktif menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan kemudian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

    Penyusun Naskah Proklamasi

    Konsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo di rumah Laksamana Muda Maeda. Setelah selesai dan beragumentasi dengan para pemuda, dinihari 17 Agustus 1945, Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi.

    Karir

    Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soebardjo dilantik sebagai Menteri Luar Negeri pada Kabinet Presidensial yaitu kabinet Indonesia yang pertama. Pada tahun 1951 – 1952, Ia kembali menjabat menjadi Menteri Luar Negeri. Selain itu, ia juga menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Switzerland antara tahun 1957-1961.

    Dalam bidang pendidikan, Soebardjo merupakan profesor dalam bidang Sejarah Perlembagaan dan Diplomasi Republik Indonesia di Fakultas Kesusasteraan, Universitas Indonesia.

    Wafat

    Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo meninggal dunia pada 15 Desember 1978 dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, akibat flu yang menimbulkan komplikasi. Ia dimakamkan di rumah peristirahatnya di Cipayung, Bogor. Pemerintah mengangkat almarhum sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009 melalui Keppres No. 58/TK/2009. (Wikipedia)

  • Biografi NH Dini, Penulis Serta Tokoh Feminis Indonesia

    Biografi NH Dini, Penulis Serta Tokoh Feminis Indonesia

    Biografi NH Dini

    Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang lebih sering dipanggil NH Dini lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936.

    NH Dini adalah sastrawan, novelis, dan feminis Indonesia.

    NH Dini merupakan anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah.

    Masa kecilnya, dia merupakan gadis cilik yang sangat gemar menulis.

    Bahkan, sejak kelas 3 SD dia sudah mulai menulis pengalaman pribadi serta ungkapan rasa di buku-buku pelajarannya.

    Walaupun dia memiliki minat dan bakat menulis sejak kecil, ternyata Dini tidak ingin jadi tukang cerita atau penulis.

    Dikabarkan kalua NH Dini memiliki cita-cita sebagai seorang sopir lokomotif atau masinis.

    Ayahnya wafat ketika NH Dini masihduduk di bangku SMP, sedangkan ibunya hidup tanpa penghasilan tetap.

    Namun hidup dengan ketidakpastian ekonomi tidak membuatnya lemah.

    Justru dia semakin sering menulis akan pengalaman hidup yang dialami.

    Bakatnya menulis semakin terasah di sekolah menengah.

    Kala itu, NH Dini sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek.

    Dini menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika usianya masih 15 tahun.

    Dalam perjalanan karirnya, NH Dini pernah meraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand.

    Beberapa karya NH Dini yang terkenal, diantaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), belum termasuk karya-karyanya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan.

    Dalam karyanya yang terbaru berjudul Dari Parangakik ke Kamboja (2003), dia mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap istri.

    Sampai saat ini, dia telah menulis lebih dari 20 buku.

    Kebanyakan di antara novel-novelnya itu bercerita tentang wanita karena dia fokus terhadap feminisme.

    Namun banyak orang berpendapat, wanita yang dilukiskan Dini terasa “aneh”.

    Ada pula yang berpendapat bahwa NH Dini menceritakan dirinya sendiri.

    Pada 1956, NH Dini  bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) di Bandara Kemayoran.

    Kemudian dia menerbitkan buku yang berjudul Dua Dunia.

    Sejumlah bukunya bahkan mengalami cetak ulang sampai beberapa kali.

    Dini dikenal memiliki teknik penulisan yang konvensional.

    Namun menurutnya teknik bukanlah sebuah tujuan, melainkan sekadar alat. Tujuan menulis menurutnya adalah tema dan ide.

    Sebagai konsekuensi menikah dengan seorang diplomat, Dini harus mengikuti ke mana suaminya ditugaskan.

    Ia diboyong ke Jepang, dan tiga tahun kemudian pindah ke Pnom Penh, Kamboja.

    Pada 1976, ia pindah ke Detroit, AS, mengikuti suaminya yang menjabat Konsul Jenderal Prancis.

    Dini berpisah dengan suaminya, Yves Coffin pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta.

    Menjadi pengarang selama hampir 60 tahun tentu saja bukan sesuatu yang biasa.

    Baru dua tahun terakhir ini, ia menerima royalti honorarium yang bisa menutupi biaya hidup sehari-hari.

    Tahun-tahun sebelumnya ia mengaku masih menjadi parasit.

    Ia banyak dibantu oleh teman-temannya untuk menutupi biaya makan dan pengobatan.

    Tahun 1996-2000, ia sempat menjual-jual barang. Dulu, sewaktu masih di Prancis, ia sering dititipi tanaman, kucing, hamster, kalau pemiliknya pergi liburan.

    Ketika mereka pulang, ia mendapat jam tangan dan giwang emas sebagai upah menjaga hewan peliharaan mereka.

    Barang-barang inilah yang ia jual untuk hidup sampai tahun 2000.

    Karya NH Dini

    Pada Sebuah Kapal
    Hati yang Damai
    Padang Ilalang di Belakang Rumah
    Sekayu
    Pertemuan Dua Hati
    Keberangkatan
    La Barka
    Monumen
    Istri Konsul
    Sebuah Lorong di Kotaku
    Kemayoran
    Tirai Menurun
    Langit dan Bumi Sahabat Kami
    Namaku Hiroko
    Argenteuil
    Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang
    Dua Dunia, buku kumpulan cerita pendek

    Pendidikan NH Dini

    SD di Semarang, 1950
    SMP di Semarang. 1953 -SMA di Semarang, 1956
    Kursus Pramugari GIA di Jakarta, 1956
    Kursus B 1, Sejarah, 1957-1959

    Karir NH Dini

    Pramugari GIA (Garuda Indonesia Airways) (1950-1960)
    Anggota Wahana Lingkungan Hidup
    Anggota Forum Komunikasi Generasi Muda Keluarga Berencana

    Penghargaan NH Dini

    Penghargaan Sastra Terbaik dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)
    SEA Write Award bidang sastra dari Pemerintah Thailand

  • Biografi Sutardji Calzoum Bachri, Sang Sastrawan Kontemporer

    Biografi Sutardji Calzoum Bachri, Sang Sastrawan Kontemporer

    Sutardji Calzoum Bachri atau yang lebih akrab disapa Bung Tardji lahir di Rengat, Indragiri Hulu, pada tanggal 24 Juni 1941. Dia adalah seorang pujangga terkemuka di Indonesia yang telah menciptakan banyak karya sastra.

    Bung Tardji merupakan putra dari pasangan Mohammad Bachri dan May Calzum. Mohammad Bachri sendiri berasal dari Kutoarjo, Jawa Tengah. Sedangkan May Calzum berasal dari Tanbelan, Riau.

    Bung Tardji kecil tumbuh kembang dengan hobinya, yaitu menulis. Hingga akhirnya setelah lulus SMA, Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung.

    Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknya mulai dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

    Sutardji Calzoum Bachri juga sering disebut sebagai sastrawacan pelopor puisi kontemporer. Dia mencoba memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia.

    Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.

    Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam.

    Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975.

    Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.

    Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.

    “O Amuk Kapak” merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979.

    Tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.

    Karya puisi yang telah dimuat dalam buku antologi:

    Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976),
    Writing from The Word (USA),
    Westerly Review (Australia),
    Dchters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975),
    Ik Wil Nogdulzendjaar Leven, Negh Moderne Indonesische Dichter (1979),
    Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977),
    Parade Puisi Indonesia (1990),
    Majalah Tenggara,
    Journal of Southeast Asean Lietrature 36 dan 37 (1997), dan
    Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002).
    Kumpulan Sajak Sutardji Calzoum Bachri
    O, diterbitkan oleh Yayasan Indonesia (tahun  1971)
    Kucing, diterbitkan oleh Sinar  Harapan (tahun 1973)
    Amuk (tahun 1977)
    O, Amuk, Kapak, antologi, diterbitkan  oleh Sinar Harapan (tahun 1981)
    Aku Datang Padamu
    Perjalanan Kubur David  Copperfield.
    Realites’90 Tanah Air  Mata.

    Penghargaan yang pernah diraihnya adalah:

    Hadiah Sastra Asean (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand (1979);
    Menerima penghargaan Sastra Kabupaten Kepulauan Riau oleh Bupati Kepulauan Riau (1979);Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993);
    Menerima Anugrah Sastra Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jakarta. (1990an);
    Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), dan
    Dianugrahi gelar Sastrawan Perdana oleh Pemerintah Daerah Riau (2001).

  • Biografi Danarto, Sastrawan dan Penulis Senior di Indonesia

    Biografi Danarto, Sastrawan dan Penulis Senior di Indonesia

    Biografi Singkat Danarto

    Danarto adalah seorang penulis dan sastrawan Indonesia yang terbilang cukup senior. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kumpulan cerpen, Godlob.

    Kumpulan cerpennya yang lain seperti Adam Ma’rifat yang memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta. Tahun 2009 Danarto menerima Ahmad Bakrie Award untuk bidang kesusasteraan.

    Danarto sendiri lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 27 Juni 1941.

    Ayahnya, Djakio Hardjosoewarno berprofesi sebagai buruh pabrik gula Modjo menikah dengan Siti Aminah, seorang pedagang eceran batik.

    Mereka dikaruniai lima orang anak, Danarto adalah nomor empat. Kemudian, Danarto menikah dengan seorang psikolog, Siti Zainab Luxfiati pada 1 Januari 1986.

    Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar (SD), ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) bagian Sastra di Solo, Jawa Tengah.

    Lalu, pada tahun 1958–1961 Danarto belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis.

    Di kampus itulah Danarto aktif dalam Sanggar Bambu pimpinan pelukis Sunarto Pr dan ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta.

    Awal mula karirnya, pada tahun 1979-1985 Danarto bekerja di majalah Zaman.

    Kemudian, tahun 1976 Danarto mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat di usianya yang masih muda.

    Tidak berhenti sampai situ, pada tahun 1983 Danarto menghadiri Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.

    Danarto juga pernah bergabung dalam Teater Sardono, yang tersohor sampai ke Eropa Barat dan Asia, pada tahun 1974.

    Dia memiliki pengalaman segudang, selain dalam pameran Kanvas Kosong (1973) ia juga berpameran puisi konkret (1978).

    Namun sayangnya segudang prestasi itu tidak sebanding dengan kisah rumah tangganya. Rumah tangga Danarto berlangsung lebih kurang 15 tahun saja dengan psikolog cantik itu.

    Hidup Danarto dipenuhi dengan pengalaman memukau, baik di dalam negeri dan di luar negeri.

    Selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai pelukis yang telah melahirkan beberapa karya. Sebagai pelukis, ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota dengan dibantu oleh rekan sejawat.

    Karya Danarto

    Asmaraloka (1999)
    Kumpulan Cerpen
    Godlob (1975)
    Adam Ma’rifat (1982)
    Berhala (1987)
    Orang Jawa Naik Haji, catatan perjalanan ibadah haji (1984)
    Gergasi (1993)
    Setangkai Melati di Sayap Jibril, kumpulan cerpen, (2000)
    Setangkai Melati di Sayap Zibril (2001)
    Kacapiring, (2008)

    Drama

    Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek (1976)
    Bel Geduwel Beh (1976)
    Kumpulan Esai
    Gerak-Gerak Allah (1996)

  • Biografi Dewi Lestari dan Karya-Karyanya

    Biografi Dewi Lestari dan Karya-Karyanya

    Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee adalah seorang penulis dan penyanyi yang lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976.

    Dee adalah lulusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan. Awalnya dia dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi.

    Namun, semenjak menerbitkan novel Supernova pada tahun 2001 silam, Dee juga dikenal sebagai novelis.

    Sejak kecil Dee telah memang cukup akrab dengan seni musik. Padahal, ayahnya adalah seorang anggota TNI, tapi jago main piano secara otodidak.

    Sebelum tergabung dengan Rida Sita Dewi (RSD), Dee juga pernah menjadi backing vocal untuk penyanyi kawakan sekelas Iwa K dan Chrisye.

    Sebelum Supernova lahir, nama Dee sangat terkenal sebagai vokalis, bukan novelis. Padahal dia berbakat, buktinya beberapa tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media.

    Salah satu cerpennya berjudul “Sikat Gigi” pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil.

    Kemudian, pada tahun 1993, Dee mengirim tulisan berjudul “Ekspresi” ke majalah Gadis yang saat itu tengah mengadakan lomba menulis.

    Alhasil, Dee berhasil menyabet juara pertama. Beberapa tahun berikutnya, Dee menulis cerita bersambung berjudul “Rico the Coro” yang juga dimuat di majalah Mode.

    Novel pertamanya yang cukup fenomenal, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001 laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari saja!

    Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan kembali “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan merangkul Harry Aveling (60), yang ahli dalam menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.

    Perlu diketahui, Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books.

    Kala itu, Dee bersaing dengan para sastrawan senior seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.

    Sukses dengan novel pertamanya, Dee kembali meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul “Akar” pada 16 Oktober 2002 lalu.

    Novel ini sempat mengundang kontroversi karena tulisan Dee dianggap melecehkan umat Hindu.

    Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya.

    Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.

    Lalu, pada bulan Januari tahun 2005 Dee merilis kembali novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Dee menulis novl ini masih berhubungan dengan dua novel sebelumnya.

    Namun, Dee memasukkan 4 tokoh baru dalam novel PETIR, seperti Elektra, tokoh sentral yang jadi pusat perhatian.

    Setelah cukup lama vakum, akhirnya pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya yang berjudul RECTOVERSO.

    Dalam novel ini Dee mengusung tema Sentuh Hati dari Dua Sisi.

    Recto Verso-pengistilahan untuk dua citra yang seakan terpisah, padahal sesungguhnya masih dalam satu kesatuan.

    Buku RECTOVERSO terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang mengusung Tagline Dengar Fiksinya, Baca Musiknya.

    Lalu, pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas yang juga diangkat sebagai sebuah film.

    Biodata Dewi Lestari

    Nama lahir: Dewi Lestari Simangunsong
    Lahir: 20 Januari 1976 Bandung, Jawa Barat, Indonesia
    Jenis musik: pop
    Pekerjaan: penyanyi, penulis
    Tahun aktif: 1995 – sekarang
    Perusahaan rekaman: Bulletin Musik
    Terkait dengan: Sita Nursanti, Rida, Marcell
    Pasangan: Marcell (2003 – 2008), Reza Gunawan (2008 – sekarang)
    Anak: Keenan Avalokita Kirana (5 Agustus 2004), Atisha Prajna Tiara (23 Oktober 2009)
    Orang tua: Yohan Simangunsong, Turlan br Siagian (alm)
    Almamater: Fakultas Hubungan Internasional Universitas Parahyangan (selesai)
    Agama: Buddha

    Karya Dewi Lestari

    Novel Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, 2001
    Novel Supernova 2: Akar, 2002
    Kumpulan Prosa dan Puisi “Filosofi Kopi” 2003
    Novel Supernova 3: Petir, 2004
    Kumpulan Cerita Rectoverso, 2008
    Novel Perahu Kertas, 2009
    Kumpulan Cerita Madre, 2011
    Novel Supernova 4: Partikel, 2012
    Novel Supernova 5: Gelombang, 2014
    Novel Supernova 6: Inteligensi Embun Pagi, 2016

    Diskografi

    Rida, Sita, Dewi: “Antara Kita” – Warna Musik, Indonesia, 1995
    Rida, Sita, Dewi: “Bertiga” – Warna Musik, Indonesia, 1997
    Rida, Sita, Dewi: “Satu” – Sony Music, Indonesia, 1999
    Rida, Sita, Dewi: “The Best of RSD” – Sony Music, Indonesia, 2002
    Dewi Lestari: “Out Of Shell” – Truedee Music, Indonesia, 2006
    Dewi Lestari: “Rectoverso” – Goodfaith Production, 2008

  • Biografi Suwarsih Djojopuspito, Penulis Novel dengan Tiga Bahasa

    Biografi Suwarsih Djojopuspito, Penulis Novel dengan Tiga Bahasa

    Biografi Singkat Suwarsih Djojopuspito

    Nama penulis yang satu ini mungkin masih cukup asing, Suwarsih Djojopuspito adalah penulis kawakan yang berhasil menciptakan karya novel dalam tiga bahasa yakni Sunda, Belanda, dan Indonesia.

    Penulis wanita ini lahir di Cibatok, Bogor, 21 April 1912 dan meninggal di Yogyakarta, 24 Agustus 1977 silam.

    Suwarsih Djojopuspito merupakan salah satu penulis Indonesia yang hidup dan merasakan masa penjajahan di Indonesia pada waktu itu.

    Semasa hidupnya, Suwarsih sudah menghasilkan 9 buku. Karya-karyanya juga diakui di negeri Belanda.

    Salah satu karyanya yang terkenal berjudul Manusia Bebas atau Buiten het Gareel dalam bahasa Belanda.

    Suwarsih Djojopuspito juga terkenal dengan novel Manusia Bebas—novel yang awalnya ditulis dengan bahasa Belanda dan untuk publik intelektual Belanda dan Indonesia— menulis buku Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW yang pertama kali diterbitkan pada 1959, lalu untuk cetakan kedua diterbitkan Pustaka Jaya pada 1976.

    Menilik riwayat pendidikannya yang berbasis kebudayaan Eropa, perjuangan Suwarsih dalam sejarah politik dan pendidikan Indonesia, dan latar sejarah keluarga priyayi Jawa dalam pengalaman hidupnya, buku ini memberikan perspektif yang sangat menarik untuk kita baca saat ini, khususnya dilihat dari perspektif perempuan.

    Suwarsih sempat meminta cendekiawan kondang H. Abdul Malik Amrullah (Hamka) sebagai salah satu pakar sejarah Islam pada masa itu untuk “meminta pemeriksaan dan bandingan”, tapi tak digubris oleh Hamka.

    Secara umum, masih sangat sedikit sekali penulis perempuan yang menulis seorang nabi yang dalam tradisi agama monoteistik ibrahimi laki-laki.

    Kekurangan ini memang akan sangat terasa sekali jika kita melihat dalam tradisi keilmuan di Indonesia.

    Karya Novel Suwarsih Djojopuspito

    Buiten het gareel, De Haan Uitgevery, Utrecht, 1940.
    Tudjuh tjeritera pendek.
    Empat serangkai. Kumpulan tjerita pendek.
    Riwayat hidup Nabi Muhammad s.a.w.
    Marjanah.
    Siluman Karangkobar.
    Hati Wanita.
    Manusia Bebas.
    Maryati.

  • Biografi Taufik Ismail dan Karya-Karyanya yang Melegenda

    Biografi Taufik Ismail dan Karya-Karyanya yang Melegenda

    Biografi Taufik Ismail

    Nama lengkap : Taufiq Ismail
    Tempat lahir : Fort de Kock (Bukittinggi), Sumatera Barat
    Tanggal lahir : 25 Juni 1935
    Kewarganegaraan : Indonesia
    Pekerjaan : Penulis, penyair

    Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan.

    Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.

    Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963.

    Pada tahun 1971–1972 dan 1991–1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.

    Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.

    Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962).

    Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964).

    Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.

    Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.

    Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968).

    Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968–1978).

    Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990). Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.

    Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.

    Karya-Karyanya:

    1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)
    2. Benteng, Litera ( 1966)
    3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
    4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)
    5. Puisi-puisi Langit, Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)
    6. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)
    7. Ketika Kata Ketika Warna (1995)
    8. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (1998)

    Karya terjemahan:

    Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)
    Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
    Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964).

  • Biografi Ahmad Tohari, Penulis Novel Ronggeng Dukuh Paruk

    Biografi Ahmad Tohari, Penulis Novel Ronggeng Dukuh Paruk

    Biografi Ahmad Tohari

    Ahmad Tohari adalah sastrawan yang terkenal dengan novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada 1981.

    Belum lama ini ia dianugerahi PWI Jateng Award 2012 dari PWI Jawa Tengah karena karya-karya sastranya yang dinilai mampu menggugah dunia.

    Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada 13 Juni 1948, Ahmad Tohari menamatkan SMA nya di Purwokerto.

    Setelah itu ia menimba ilmu di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976).

    Ahmad Tohari sudah banyak menulis novel, cerpen dan secara rutin pernah mengisi kolom Resonansi di harian Republika.

    Karya-karya Ahmad Tohari juga telah diterbitkan dalam berbagai bahasa seperti bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman.

    Novel Ronggeng Dukuh Paruk bahkan pernah ia terbitkan dalam versi bahasa Banyumasan, yang kemudian mendapat penghargaan Rancage dari Yayasan Rancage, Bandung pada tahun 2007.

    Cerpennya yang berjudul “Jasa-jasa buat Sanwirya” pernah mendapat hadiah hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep.

    Sedangkan novelnya Kubah yang terbit pada tahun 1980 berhasil memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama pada tahun 1980.

    Beberapa waktu lalu novel triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi ke layar lebar dengan judul Sang Penari.

    Menurutnya di film ini sang sutradara di beberapa bagian lebih berani menggambarkan apa yang ia sendiri tidak berani menggambarkannya.

    Ia pun ikut larut dalam emosi film ini meski endingnya tidak setragis versi novel.

    Karya-Karya Ahmad Tohari:

    Kubah (novel) (novel, 1980)
    Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
    Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
    Jantera Bianglala (novel, 1986)
    Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
    Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989)
    Bekisar Merah (novel, 1993)
    Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
    Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000)
    Belantik (novel, 2001)
    Orang Orang Proyek (novel, 2002)
    Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
    Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006)