Kategori: Pendidikan

  • Jelaskan Mengapa Arsip Menjadi Sumber Sejarah Primer?

    Jelaskan Mengapa Arsip Menjadi Sumber Sejarah Primer?

    Arsip adalah rekaman tertulis, bergambar, atau bahkan lisan yang dibuat pada masa terjadinya suatu peristiwa.

    Karena sifatnya yang langsung berhubungan dengan peristiwa yang dicatat, arsip menjadi sumber informasi pertama atau primer yang sangat berharga dalam penelitian sejarah.

    Dokumen-dokumen ini memiliki nilai autentik karena dibuat oleh pelaku atau saksi langsung dari kejadian, sehingga informasi yang diberikan dianggap lebih akurat dan terpercaya.

    Arsip diciptakan secara bersamaan dengan peristiwa yang terjadi, sehingga memberikan informasi yang paling dekat dengan sumbernya.

    Arsip juga mencakup berbagai jenis dokumen, seperti surat, laporan, catatan pemerintah, foto, dan peta yang memberi gambaran detail tentang kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan politik pada masa itu.

    Sifatnya yang orisinal menjadikan arsip sebagai dasar yang kuat dalam memahami, meneliti, dan merekonstruksi sejarah dengan cara yang lebih objektif dan mendalam.

    Contoh arsip:

    • Dokumen pemerintah: Surat-menyurat, laporan, undang-undang, dan catatan rapat.
    • Dokumen pribadi: Surat, diary, foto, dan benda-benda pribadi.
    • Rekaman audio-visual: Rekaman suara, film, dan video.
    • Artefak: Benda-benda fisik seperti alat, pakaian, dan bangunan.

    Selain memberikan informasi yang akurat, arsip juga membantu sejarawan dalam menghubungkan peristiwa-peristiwa masa lalu dengan konteks yang lebih luas.

    Misalnya, dengan menganalisis arsip seperti surat menyurat antar tokoh atau catatan pemerintah, sejarawan dapat memahami motif, perspektif, dan keputusan yang diambil oleh individu atau kelompok pada masa itu.

  • D. Zawawi Imron Hadir di Olimpiade Literasi KOPIWANGI, Menyemai Inspirasi bagi Generasi Muda Banyuwangi

    D. Zawawi Imron Hadir di Olimpiade Literasi KOPIWANGI, Menyemai Inspirasi bagi Generasi Muda Banyuwangi

    Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) menggelar Olimpiade Literasi Baca Puisi dan Bercerita dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia, pada Minggu (27/10/2024).

    Acara ini menjadi lebih istimewa dengan kehadiran maestro sastra nasional, D. Zawawi Imron yang terkenal dengan julukan Celurit Emas.

    Kedatangan Zawawi Imron ke Banyuwangi sendiri adalah bagian dari rangkaian acara Jambore Sastra Asia Tenggara yang berlangsung dari 24 hingga 26 Oktober 2024, dan ia berkesempatan hadir dalam Olimpiade Literasi untuk bertemu langsung dengan para peserta.

    Kehadirannya di tengah para peserta dan guru pendamping memberikan nuansa khidmat sekaligus mendalam bagi seluruh hadirin.

    Duduk bersama peserta, Zawawi Imron menyempatkan diri untuk berbagi pengalaman dan motivasi dalam dunia sastra.

    Dengan semangat yang tulus, ia memberikan dorongan bagi para pelajar yang mengikuti olimpiade untuk mengembangkan bakat dan kecintaan mereka pada literasi.

    Dalam sesi tersebut, Zawawi menekankan pentingnya kepekaan dalam melihat realitas kehidupan melalui puisi dan cerita yang menurutnya dapat membantu seseorang menyelami makna kehidupan lebih dalam.

    Tak hanya memberi motivasi, Zawawi juga membacakan puisi legendarisnya yang berjudul “Ibu.”

    Puisi ini telah lama dikenal sebagai karya yang penuh emosi dan rasa syukur kepada sosok ibu, yang selalu menjadi inspirasi utama dalam hidupnya.

    Suasana menjadi begitu hening dan khusyuk saat Zawawi melantunkan puisi itu, seakan-akan tiap kata yang diucapkannya menyentuh hati para peserta, yang banyak di antaranya tampak terkesima.

    “Ibu” tidak hanya mengangkat tema kasih sayang dan pengorbanan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai luhur tentang cinta dan penghormatan terhadap orang tua.

    Di akhir sesi, D. Zawawi Imron menutup kehadirannya dengan sebuah nasihat sebagai tanda perpisahan, membuat suasana semakin hangat.

    Para peserta, guru, dan panitia tampak antusias mengabadikan momen bersama melalui foto yang nantinya akan menjadi kenang-kenangan berharga.

    Kehadiran Zawawi Imron dalam acara ini tak hanya menambah semangat literasi bagi pelajar Banyuwangi tetapi juga menegaskan bahwa puisi dan sastra tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

    Momen istimewa ini memberi warna tersendiri dalam pelaksanaan Olimpiade Literasi KOPIWANGI, yang sukses menarik minat besar dari berbagai kalangan, terutama generasi muda.

    Diharapkan, semangat yang dibawa Zawawi Imron dapat menjadi sumber inspirasi yang mendorong lebih banyak generasi muda Banyuwangi untuk berkarya dan memperkaya dunia sastra di masa mendatang.

  • Dua Buku Puisi Rissa Churria Resmi Diluncurkan, Jadi Inspirasi Penulis Muda Banyuwangi

    Dua Buku Puisi Rissa Churria Resmi Diluncurkan, Jadi Inspirasi Penulis Muda Banyuwangi

    Rissa Churria, penulis puisi asal Banyuwangi yang kini menetap di Depok resmi meluncurkan dua buku puisi terbarunya berjudul Kitab Puisi Kecup Selalu untuk Rasulullah dan Larung Murung.

    Acara peluncuran berlangsung khidmat di Arjuna Cafe dan Resto, Kemiren, Banyuwangi, pada Minggu (27/10/2024), dihadiri oleh sejumlah tokoh sastra serta komunitas seni Banyuwangi.

    Ketua Jagat Sastra Milenial, Riri Satria memberikan apresiasi atas konsistensi Rissa yang merupakan anggota komunitas tersebut dalam berkarya.

    Dalam sambutannya, Riri menyebutkan bahwa Rissa adalah sosok penulis produktif yang terus berkarya di sela-sela kesibukannya sebagai pengajar.

    “Karya-karya Rissa selalu menyiratkan pesan-pesan mendalam. Dedikasinya menjadi inspirasi bagi banyak penulis muda,” ungkap Riri.

    Syafaat, Ketua Komunitas Lentera Sastra, dan Hasan Basri, Ketua Dewan Kesenian Belambangan (DKB) turut hadir dan memberikan dukungan terhadap perkembangan sastra di Banyuwangi.

    Antariksawan Yusuf dari Media Belambangan.com dan Aekanu Haryono, Ketua Komunitas Killing Osing Banyuwangi juga hadir untuk menunjukkan dukungan mereka.

    Hasan Basri berharap semakin banyak penulis sastra dari Banyuwangi yang dapat dikenal di kancah internasional.

    Dalam momen spesial ini, Riri Satria juga memberikan bingkisan buku kepada dua kepala madrasah yang hadir, yakni Majidatul Himmah dari MI Darunnajah 2 Banyuwangi dan Sugeng Maryono dari MTsN 10 Banyuwangi.

    Keduanya menyampaikan rasa terima kasih atas buku-buku tersebut yang akan menjadi bacaan inspiratif bagi para siswa.

    Peluncuran buku ini menjadi bukti konsistensi Rissa Churria dalam memperkaya dunia sastra Banyuwangi meskipun tinggal di luar kota.

    Acara ini sekaligus menutup rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) yang digelar pada 24-26 Oktober 2024.

    Diskusi hangat yang dipandu oleh Syafaat menambah semarak acara, dan sebagai bentuk apresiasi, Rissa memberikan buku kepada semua yang hadir.

  • 10 Pentingnya Wawasan Nusantara bagi Generasi Muda

    10 Pentingnya Wawasan Nusantara bagi Generasi Muda

    Wawasan Nusantara adalah pandangan kita terhadap kekayaan, keindahan, dan keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

    Dalam konteks kebangsaan, wawasan ini mengacu pada pemahaman dan kesadaran akan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau, suku, budaya, dan bahasa.

    Bagi generasi muda, memiliki wawasan nusantara sangatlah penting.

    Pentingnya Wawasan Nusantara bagi Generasi Muda

    Berikut adalah sepuluh alasan mengapa wawasan nusantara menjadi hal yang krusial bagi kita sebagai generasi penerus bangsa.

    1. Memperkuat Identitas Bangsa

    Wawasan Nusantara membantu kita memahami dan menghargai identitas bangsa Indonesia.

    Dengan mengenali berbagai suku, budaya, dan tradisi yang ada, kita dapat merasakan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa yang kaya akan warisan.

    Memperkuat identitas ini berguna agar kita dapat menghargai perbedaan dan memperkuat persatuan di antara masyarakat.

    2. Menumbuhkan Rasa Cinta Tanah Air

    Dengan memahami dan mempelajari wawasan nusantara, kita dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air.

    Cinta tanah air adalah pondasi penting bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam membangun bangsa.

    Ketika kita mencintai negara kita, kita akan lebih peduli terhadap isu-isu yang dihadapi, serta berusaha untuk berkontribusi dalam menyelesaikan masalah tersebut.

    3. Meningkatkan Kesadaran Sejarah

    Wawasan Nusantara juga mengajarkan kita tentang sejarah Indonesia yang panjang dan beragam.

    Dari masa prasejarah hingga kemerdekaan, pemahaman tentang sejarah akan membantu kita menghargai perjuangan para pendahulu yang telah berjuang untuk kemerdekaan dan kedaulatan negara.

    Kesadaran sejarah ini penting agar kita tidak melupakan akar dan identitas kita sebagai bangsa.

    4. Menghargai Keberagaman Budaya

    Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi. Dengan wawasan nusantara, kita dapat lebih menghargai keberagaman budaya yang ada di tanah air.

    Kita belajar untuk menghormati dan merayakan perbedaan, serta memahami bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan perpecahan. Hal ini akan membangun rasa saling menghormati antarbudaya.

    5. Mendorong Toleransi dan Kerjasama

    Salah satu aspek penting dari wawasan nusantara adalah mendorong toleransi dan kerjasama di antara berbagai suku dan agama.

    Dengan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kita, kita dapat menciptakan masyarakat yang harmonis dan saling menghormati.

    Toleransi ini akan membantu kita menghindari konflik dan memperkuat kerjasama dalam berbagai aspek kehidupan.

    6. Menyiapkan Generasi Penerus yang Cerdas

    Generasi muda yang memiliki wawasan nusantara cenderung lebih cerdas dan kritis dalam berpikir. Mereka dapat menganalisis berbagai isu yang dihadapi bangsa dan mencari solusi yang tepat.

    Dengan pengetahuan yang luas tentang keadaan sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia, kita dapat berperan aktif dalam memecahkan masalah yang ada di masyarakat.

    7. Memperkuat Kebanggaan sebagai Bangsa

    Dengan memahami wawasan nusantara, kita akan merasa bangga terhadap kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia.

    Kebanggaan ini akan mendorong kita untuk menjaga dan melestarikan kekayaan tersebut, baik itu melalui kegiatan seni, pelestarian lingkungan, maupun partisipasi dalam kegiatan sosial dan budaya.

    8. Mengembangkan Potensi Diri

    Wawasan nusantara juga membantu kita dalam mengembangkan potensi diri.

    Dengan mengenal berbagai aspek budaya dan tradisi, kita dapat menemukan minat dan bakat yang mungkin belum kita sadari sebelumnya.

    Sehingga bisa menjadi langkah awal untuk mengembangkan karier di bidang seni, budaya, atau ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kekayaan lokal.

    9. Mempersiapkan Generasi yang Berdaya Saing

    Dalam era globalisasi, wawasan nusantara menjadi penting untuk mempersiapkan generasi muda yang berdaya saing.

    Kita perlu memahami posisi Indonesia dalam konteks internasional dan bagaimana cara memanfaatkan kekayaan lokal untuk bersaing di pasar global.

    Dengan pengetahuan ini, kita dapat mempromosikan produk-produk lokal dan memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia luar.

    10. Menjadi Agen Perubahan

    Generasi muda adalah agen perubahan yang diharapkan dapat membawa kemajuan bagi bangsa. Dengan wawasan nusantara, kita akan lebih siap untuk menjadi pemimpin di masa depan.

    Kita dapat mengambil peran aktif dalam berbagai kegiatan yang memajukan masyarakat, mulai dari lingkungan hingga sosial budaya.

    Sebagai agen perubahan, kita akan memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang lebih baik.

    Kesimpulan

    Wawasan nusantara adalah fondasi penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman.

    Dengan pemahaman yang baik tentang identitas, budaya, dan sejarah bangsa, kita dapat berkontribusi dalam membangun negara yang lebih baik.

    Mari kita jaga dan kembangkan wawasan nusantara agar dapat mewariskannya kepada generasi berikutnya, demi kemajuan bangsa Indonesia yang lebih berbudaya dan berdaya saing.

    Sebagai generasi muda, sudah saatnya kita mengambil peran aktif dalam menjaga kekayaan dan keindahan yang dimiliki oleh negara kita tercinta.

  • Empat Unsur Klasik Rechstaat Menurut Stahl

    Menurut Julius Stahl, konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat unsur klasik, yaitu:

    1. Perlindungan hak asasi manusia.

    2. Pembagian kekuasaan.

    3. Pemerintahan berdasarkan undang-undang.

    4. Peradilan tata usaha Negara.

    Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl pada dasarnya dapat digabungkan dengan tiga prinsip ‘Rule of Law’ dari A.V. Dicey untuk mencirikan Negara Hukum modern saat ini.

    Konsep negara hukum ini diadopsi oleh sebagian besar negara-negara Eropa (terutama di luar Inggris), sehingga penganut aliran ini dikenal sebagai aliran Eropa Kontinental, Benua Eropa, atau Eropa Daratan.

    Bahkan, “The International Commission of Jurist” menambahkan prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) sebagai elemen yang semakin dianggap mutlak bagi negara demokrasi masa kini.

    Prinsip-prinsip yang dianggap sebagai ciri penting dari Negara Hukum menurut “The International Commission of Jurists” meliputi:

    • Negara harus patuh pada hukum.
    • Pemerintah wajib menghormati hak-hak individu.
    • Peradilan harus bebas dan tidak memihak
  • MTsN 6 Banyuwangi Sambut Kehadiran Sastrawan Malaysia dalam Rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara

    MTsN 6 Banyuwangi Sambut Kehadiran Sastrawan Malaysia dalam Rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara

    Sebagai bagian dari rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara dalam Festival Sastra dan Gandrung Sewu, sebanyak 200 penyair mengunjungi 33 sekolah tingkat SMP, MTs, MA, dan SMA di Kabupaten Banyuwangi.

    MTs Negeri 6 Banyuwangi yang terletak tak jauh dari Pasar Sapi Karangharjo Glenmore, termasuk dalam program “Sastrawan Goes to School”.

    Sastrawan yang ditugaskan meliputi Norasmah Binti Mohd Noor asal Malaysia, Tri Wulaning Purnami, guru SMKN 1 Surabaya, Yeti Chotimah, guru SMPN 3 Rogojampi dengan prestasi di bidang seni budaya dan literasi, serta Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang dikenal kerap membimbing pembacaan puisi, pidato, pantomim, dan bercerita.

    Acara yang berlangsung pada Jumat (25/10/24) diawali dengan hadrah bersholawat dan Mars MTsN 6 Banyuwangi, serta pantun sebagai sambutan bagi para penyair.

    Kepala MTsN 6 Banyuwangi, Kholiq Masduki, S.Pd., M.Si., menyambut hangat kedatangan para sastrawan.

    “Kesempatan langka bagi murid-murid kami untuk mendapatkan ilmu dari para penyair. Semoga murid kami dapat memanfaatkan anugerah ini sebaik-baiknya. Dengan menulis, adab dan akhlak akan semakin halus,” ungkap alumni Universitas Jember dan ITS ini.

    Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, yang merupakan anggota Komunitas Lentera Sastra dan pencipta Mars MTsN 6, H. Nur Saewan, M.Pd., juga menyampaikan selayang pandang tentang wisata dan sejarah Glenmore.

    Di antaranya terdapat perkebunan kopi, coklat, karet, dan tebu, serta 13 destinasi wisata yang menjadikan Glenmore dikenal sebagai “Secuil Eropa di Pulau Jawa.”

    Dalam acara tersebut, dua siswi, Fitri dan Nazifa El Hadi, turut tampil membacakan puisi.

    Fitri membawakan karya bertema Hari Santri, sementara Nazifa dengan penuh semangat membacakan puisi karya Bung Karno.

    Dipandu oleh Ibu Setyorini, acara ini diikuti oleh 101 murid dari kelas 7, 8, dan 9 A.

    Materi pertama disampaikan oleh Cikgu Norasmah yang menjelaskan cara menggali ide cerita dari pengalaman pribadi, curhatan teman, atau lingkungan sekitar.

    “Cakap sekali, dalam 5 menit ada 8 anak yang berhasil membuat cerita anekdot!” ujar dosen asal Melaka Selangor ini, yang meski sering ke Indonesia, baru pertama kali mengunjungi Banyuwangi.

    “Ayo terus berkarya, nanti kalian bisa diundang ke Malaysia!” ucapnya, yang disambut tepuk tangan meriah.

    Saat ditanya oleh Arina, seorang murid, tentang perbandingan literasi antara Malaysia dan Indonesia, Cikgu Norasmah memuji etos kerja orang Madura dan Minang yang ditemuinya di Malaysia.

    Pemateri berikutnya, Bu Wulan yang telah menerbitkan lebih dari 100 karya sastra dan dinobatkan sebagai salah satu dari 10 penulis fiksi terbaik di Jawa Timur, menjelaskan bahwa puisi memiliki teori dan rumus tersendiri.

    “Puisi itu lebih berat dari novel dan cerpen karena lebih padat,” katanya. Ia juga memberi tugas kepada murid untuk membuat puisi minimal 3 baris dan maksimal 3 bait, dan akan memilih 3 karya terbaik.

    Bung Aguk kemudian memberikan tips memenangkan lomba baca puisi, serta mempraktikkan teknik pernapasan, artikulasi vokal, dan penggunaan suara perut.

    “Pembimbing sebaiknya tidak langsung menyuruh anak membaca, tetapi lebih dulu membedah puisi untuk menangkap esensinya,” ujar pembina Sanggar Merah Putih ’45 yang banyak anak didiknya sukses meraih trofi lomba.

    Ia juga tampil membacakan puisi karyanya yang dikurasi dalam Banyu 7 Sumber.

    Mbok Yeti Chotimah, Ketua MGMP Bahasa Using dan Guru Penggerak SMPN 3 Rogojampi, turut membacakan puisi dari buku Ijen Purba: Tanah Air Batu, sambil mengapresiasi kreativitas peserta didik.

    Kunjungan ini diakhiri dengan nuansa sastra dalam kehidupan di MTsN 6, dimulai dengan menikmati kopi robusta Kalibaru di lounge transit, lalu diakhiri dengan acara makan siang di Doesoen Kakao dengan aneka kuliner berbahan coklat, dipandu oleh Budiyati, seorang pendidik yang bersuamikan seorang sinder. (AWN/YC)

  • Antologi Ijen Purba Satukan 200 Penyair se-Asia Tenggara dalam Pesta Sastra Banyuwangi

    Antologi Ijen Purba Satukan 200 Penyair se-Asia Tenggara dalam Pesta Sastra Banyuwangi

    Pendopo Sabha Swagata Banyuwangi menjadi saksi peluncuran antologi puisi bertajuk Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu yang meloloskan 200 penyair se-Asia Tenggara, pada Kamis (24/10/24).

    Acara ini dibuka dengan suara Gending Jagakaryo yang harmonis berpadu dengan sholawat jamaah Masjid Agung Baiturahman yang melaksanakan sholat hajat setiap malam Jumat.

    Acara tersebut dihadiri oleh para penyair terkemuka dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yang merayakan persaudaraan sastra lintas negara dalam Festival Sastra.

    Festival ini juga diisi dengan seminar, pertunjukan wayang, dan Gandrung Sewu di Pantai Marina Boom.

    Pembukaan acara dilakukan oleh PJ. Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Dr. Guntur Priambodo yang juga membacakan puisi karya Elvin Hendarta.

    Guntur Priambodo yang juga seorang ahli musik dan perbankan, membawakan puisi tersebut dengan penuh penghayatan, menciptakan suasana khidmat yang mencerminkan keindahan serta keunikan alam dan budaya Banyuwangi.

    Dr. Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi memimpin doa di hadapan para peserta yang memenuhi acara yang dihadiri oleh banyak seniman dan budayawan.

    Doa ini menjadi simbol harapan untuk kebaikan, kesuksesan, dan keharmonisan dalam kehidupan yang dipenuhi nilai-nilai spiritual dan seni.

    Ketua panitia penyelenggara, M. Iqbal Baraas, SH, M.Hum yang akrab disapa Mawar Merah, mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terhadap kesuksesan acara ini.

    Kehadiran KH. D. Zawawi Imron, penyair legendaris asal Madura yang dikenal dengan karya terkenalnya Sang Celurit Emas, semakin menambah aura kebangsawanan sastra malam itu.

    Penyair asal Batang-Batang Sumenep ini, setelah membacakan puisi legendaris IBU yang diciptakan di Prejengan Rogojampi tahun 1966, beranjak ke Masjid Agung untuk mengikuti siraman rohani.

    Antologi Ijen Purba merupakan persembahan yang menghormati alam Banyuwangi, memaknai kedalaman elemen tanah, air, dan batu, serta menyuarakan kekuatan alam sebagai bagian dari perjalanan manusia.

    Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, mengungkapkan bahwa beberapa anggotanya berhasil lolos kurasi JSAT, termasuk tujuh anggota lainnya, serta banyak penyair dari Sanggar Merah Putih’45, Sengker Kuwung Belambangan, dan Dewan Kesenian Blambangan yang juga berhasil.

    Pada acara pembukaan, KH. D. Zawawi Imron membacakan puisi yang berhubungan dengan Banyuwangi, khususnya Rogojampi.

    Penyerahan buku kepada madrasah diterima oleh Dr. Chaironi Hidayat, sementara untuk sekolah diterima oleh Suratno, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

    Dari ratusan puisi yang masuk, hanya 200 yang berhasil lolos di tangan kurator Wayan Jengki Sunarta (Bali), Mutia Sukma (Yogyakarta), dan Mahwi Air Tawar (Bandung).

    Selain dihadiri oleh Forkopimda Kabupaten Banyuwangi, acara ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh sastra, seperti Tengsoe Tjahyono, Riri Satria (Universitas Indonesia), dan Dr. Dewi Motik Pramono dari DPP IWAPI.

    Rohani Din asal Singapura juga mengungkapkan kesan mendalam terhadap Jambore Sastra di Banyuwangi,

    “Saya lebih awal datang ke Banyuwangi agar lebih lama menikmati indahnya alam,” ungkap Bunda Anie, sapaan akrabnya.

    Pada hari kedua Jambore Sastra, Jumat (25/10/24), para penyair akan menyebar ke beberapa sekolah dan madrasah di Kabupaten Banyuwangi untuk berbagi pengalaman di bidang sastra.

    Diharapkan, para pelajar di Banyuwangi dapat menjadi sastrawan internasional. (Syaf/Aguk)

  • Bagaimana nilai-nilai atau prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

    Nilai-nilai dan prinsip yang kita anut dalam pengambilan keputusan dapat memberikan dampak signifikan pada lingkungan sosial, ekonomi, dan fisik di sekitar kita.

    Berikut adalah beberapa cara bagaimana nilai-nilai yang dianut seseorang dapat mempengaruhi lingkungan:

    1. Dampak Sosial

    Nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, empati, dan tanggung jawab sosial memengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Ketika kita mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip ini:

    • Meningkatkan hubungan interpersonal: Keputusan yang mencerminkan kejujuran dan keadilan membantu membangun kepercayaan dalam hubungan pribadi maupun profesional. Ini mendorong iklim sosial yang lebih positif dan penuh rasa hormat.
    • Menciptakan lingkungan kolaboratif: Jika seseorang menganut prinsip kerjasama dan saling mendukung, mereka cenderung mengambil keputusan yang mendorong kerjasama dalam kelompok atau organisasi, menghasilkan produktivitas dan harmoni sosial yang lebih baik.

    2. Dampak pada Komunitas

    Nilai-nilai yang mengedepankan tanggung jawab terhadap sesama, seperti kepedulian sosial atau pengabdian kepada masyarakat, mendorong keputusan yang menguntungkan komunitas. Contohnya:

    • Kepedulian terhadap kaum marginal: Keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan kesejahteraan kelompok rentan, seperti anak yatim atau kaum miskin, dapat menciptakan dampak positif bagi keberlangsungan hidup mereka, meningkatkan solidaritas sosial.
    • Pembentukan nilai bersama: Prinsip inklusivitas dan kesetaraan dalam keputusan akan memperkuat komunitas yang adil dan toleran. Hal ini membuat lingkungan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk semua orang.

    3. Dampak Ekonomi

    Nilai-nilai seperti keadilan ekonomi, efisiensi, dan integritas mempengaruhi bagaimana seseorang mengelola sumber daya dan finansial:

    • Keadilan dalam distribusi sumber daya: Pengambilan keputusan yang didasarkan pada prinsip keadilan ekonomi dapat membantu mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi. Misalnya, dalam bisnis, keputusan untuk memberikan upah yang adil dan tunjangan yang layak bagi karyawan berkontribusi pada kesejahteraan mereka.
    • Penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab: Nilai efisiensi mendorong pengambilan keputusan yang lebih bijaksana dalam menggunakan sumber daya alam maupun keuangan, mencegah pemborosan dan kerugian.

    4. Dampak pada Lingkungan Alam

    Pengambilan keputusan berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan dan tanggung jawab ekologis memiliki dampak langsung terhadap lingkungan fisik:

    • Pengurangan jejak ekologis: Jika seseorang menganut nilai-nilai keberlanjutan dan ramah lingkungan, mereka akan membuat keputusan yang memperhatikan dampak terhadap ekosistem. Contohnya, memilih untuk mengurangi penggunaan plastik, mendukung energi terbarukan, atau melakukan aktivitas ramah lingkungan lainnya.
    • Pelestarian sumber daya alam: Nilai tanggung jawab terhadap generasi mendatang dapat memotivasi seseorang untuk membuat keputusan yang melestarikan sumber daya alam, seperti menggunakan produk yang bisa didaur ulang atau mengurangi limbah.

    5. Dampak Jangka Panjang

    Prinsip-prinsip yang dipegang dalam pengambilan keputusan tidak hanya berdampak langsung pada lingkungan saat ini, tetapi juga berpengaruh jangka panjang.

    Keputusan yang dibuat dengan mempertimbangkan nilai keberlanjutan akan menciptakan dampak positif yang bertahan lebih lama, sementara keputusan yang diambil tanpa prinsip tanggung jawab bisa menimbulkan kerusakan permanen bagi lingkungan fisik dan sosial.

  • Laros Ikut Jambore Cerpen BBJT di Surabaya, Karya Siswa Banyuwangi Menuju Panggung Nasional

    Laros Ikut Jambore Cerpen BBJT di Surabaya, Karya Siswa Banyuwangi Menuju Panggung Nasional

    Sebanyak 20 siswa berbakat dari Banyuwangi dan Madura mengikuti Perkemahan Cerpen Bahasa Ibu yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) di Swiss-Belinn Hotel Surabaya, pada 21-25 Oktober 2024.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menggali potensi siswa dalam menulis cerpen berbahasa daerah serta melestarikan bahasa ibu.

    Karya-karya terbaik para peserta akan dibukukan dan diterbitkan oleh BBJT.

    “Kami berharap kegiatan ini dapat menginspirasi siswa untuk terus berkarya dan mencintai bahasa daerahnya,” ungkap Kepala BBJT Dr. Umi Kulsum, M.Hum.

    Para peserta yang merupakan pemenang Festival Tunas Bahasa Ibu tahun 2023 dan 2024 mengikuti serangkaian pelatihan menulis cerpen di bawah bimbingan para ahli.

    Mereka juga berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

    “Ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan menulis kreatif mereka,” ujar Yeti Chotimah, S.Pd., M.Art., Ketua MGMP Bahasa Using SMP.

    Siswa Banyuwangi yang ikut serta kali ini adalah Mochamad Khoirul Anam (SDN 3 Sraten), Khansa Ramadani Kusuma (SDN 1 Kabat), Kalea Nadhira Fiorenza (SDN Kepatihan), Aqira Fayyola Nadifa (SDN 2 Karangsari), Rizkia Talita Zahra (SDN Olehsari), Gadis Sifatus Soleha (SMPN 2 Srono), Putri Hidayatul Meicha (SMPN 3 Rogojampi), Frisca Dwi Maulida (SMPN 1 Kabat), Jazilah Iga Palsa (SMPN 2 Cluring), dan Nadhiva Rahmadania Putri (SMPN 2 Banyuwangi).

    Setiap siswa didampingi oleh seorang guru. “Tentu ini ilmu berharga kembangkan ilmu sastra fiksi dan melestarikan bahasa ibu sesuai daerahnya!” tambah Yeti Chotimah, S.Pd., M.Art.

    BBJT juga berkomitmen untuk mendukung pelestarian bahasa daerah di Jawa Timur.

    Selain Perkemahan Cerpen, BBJT juga menyelenggarakan kegiatan seperti Festival Teater Jawa dan Revitalisasi Bahasa Daerah di sejumlah kabupaten.

    Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk lebih peduli terhadap pelestarian bahasa daerah.

    “Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga merupakan warisan budaya yang harus kita jaga,” tegas Umi Kulsum.

    BBJT berencana untuk menyelenggarakan Perkemahan Cerpen kembali tahun depan, serta terus mengembangkan program-program yang mendukung pelestarian bahasa dan sastra daerah. (Yechot/Aguk)

  • 8 Kesenian Tradisional Jember yang Masih Dilestarikan Hingga Sekarang

    8 Kesenian Tradisional Jember yang Masih Dilestarikan Hingga Sekarang

    Kota Jember bukan hanya terkenal dengan pemandangannya yang indah, tetapi juga kaya akan seni dan budaya.

    Dari tarian hingga alat musik, Jember memiliki berbagai kesenian tradisional yang masih dilestarikan hingga saat ini.

    Kesenian tradisional di Jember tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga identitas dan warisan budaya.

    Di tengah modernitas yang terus berkembang, berbagai bentuk seni ini tetap dipertahankan oleh komunitas lokal.

    Kesenian Tradisional Jember

    Berikut adalah delapan kesenian tradisional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jember,

    1. Can Macanan Kadhuk

    Can Macanan Kadhuk merupakan seni tradisional yang sangat dihargai di Jember. Uniknya, seni ini menggambarkan harimau besar yang terbuat dari karung goni.

    Meskipun tidak diketahui secara pasti kapan seni ini mulai ada, Can Macanan Kadhuk mencerminkan kehidupan masyarakat perkebunan yang berusaha melindungi kebun dari hewan liar.

    Pertunjukan ini melibatkan setidaknya 45-50 orang dalam satu kelompok, dan sering kali diadakan untuk menghibur dalam berbagai acara seperti pernikahan dan khitanan.

    Salah satu kelompok yang aktif adalah Bintang Timur, yang sudah berdiri sejak tahun 1974 dan tetap berkomitmen untuk melestarikan kesenian ini.

    2. Reog di Pendhalungan

    Reog dikenal sebagai seni pertunjukan yang berasal dari Ponorogo, namun di Jember, reog juga menemukan tempatnya sendiri.

    Sejarahnya bermula ketika pemerintah kolonial Belanda membawa para pekerja dari Mataraman untuk bekerja di Jember.

    Terpisah dari kampung halaman, mereka membentuk kelompok seni reog untuk menjaga identitas budaya mereka.

    Hingga saat ini, ada sekitar 23 kelompok reog di Jember yang dikelola secara mandiri.

    Universitas Jember juga berperan dalam melestarikan seni ini dengan mengadakan pentas kolosal setiap tahun.

    3. Musik Patrol

    Ketika bulan puasa tiba, alunan musik kendang patrol akan terdengar di malam hari.

    Musik ini dimainkan oleh pemuda dan anak-anak yang berkeliling desa untuk membangunkan orang-orang untuk sahur.

    Alat musik ini terbuat dari kayu nangka pilihan dan telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jember.

    Kini, musik kendang patrol tidak hanya dimainkan untuk hiburan, tetapi juga dalam acara resmi dan karnaval.

    4. Jaran Kencak

    Salah satu kesenian yang tak kalah menarik adalah jaran kencak atau kuda menari. Kesenian ini biasanya ditampilkan saat ada acara hajat di desa-desa di Jember selatan.

    Kuda yang digunakan bukan sembarangan; mereka dilatih untuk menari mengikuti irama musik yang dimainkan.

    Penampilan jaran kencak sangat memukau, apalagi dengan hiasan menarik yang disematkan pada kuda-kuda tersebut.

    5. Jember Fashion Carnaval

    Jember Fashion Carnaval (JFC) merupakan salah satu event fesyen terbesar yang menunjukkan kreativitas masyarakat Jember.

    Dilaksanakan pertama kali pada tahun 2003, JFC berkembang menjadi ajang yang diakui secara nasional dan internasional.

    Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pelajar, pegawai, hingga ibu rumah tangga.

    Uniknya, mereka mendesain sendiri kostum dari bahan daur ulang, menjadikan JFC sebagai perayaan fesyen yang ramah lingkungan.

    6. Tari Lahbako

    Jember dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau terbaik di Indonesia dan tradisi petani tembakau di daerah ini menginspirasi lahirnya Tari Lahbako.

    Tarian ini menggambarkan proses pengolahan tembakau, di mana para penari mengenakan kostum khas yang mencerminkan aktivitas pertanian mereka.

    Tari Lahbako menjadi simbol identitas budaya masyarakat Jember yang erat kaitannya dengan hasil pertanian.

    7. Egrang Tanoker

    Di kawasan Tanoker, kegiatan yang melibatkan anak-anak dari berbagai latar belakang dijadikan sebagai wadah untuk menciptakan perdamaian dan keadilan

    Egrang Tanoker menjadi tempat bagi anak-anak untuk bertemu dan belajar dari satu sama lain, memperkuat rasa persaudaraan dalam keberagaman.

    8. Batik Jember

    Batik Jember memiliki ciri khas tersendiri dengan motif daun tembakau, mencerminkan kekayaan alam daerah ini.

    Selain motif tembakau, beberapa pengrajin juga menambahkan elemen lain seperti kopi dan cokelat pada batik mereka.

    Itulah beberapa kesenian tradisional Jember yang sampai saat ini masih dilestarikan.

    Kesenian-kesenian ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan dan makna yang mendalam tentang kehidupan masyarakat Jember.