Kategori: Pendidikan

  • Pengertian Kritik Sastra Beserta Penerapannya

    Pengertian Kritik Sastra Beserta Penerapannya

    Kritik Sastra

    Kritik sastra adalah salah satu cabang ilmu sastra yang digunakan untuk mengamati serta menghakimi suatu karya sastra. Menghakimi tersebut bukan dalam artian memvonis, tapi sebagai cakupan nilai yang dilakukan secara objektif.

    Dalam penerapannya, kritik sastra merupakan cabang ilmu yang berurusan dengan perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian karya sastra.

    Kegiatan kritik sastra pertama kali di dunia dilakukan dua orang Yunani, yaitu Xenophanes dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM.

    Xenophanes dan Heraclitus mengecam keras seorang pujangga besar bernama Homerus yang sering bercerita tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa-dewi. Namun, seiring berkembangnya peradaban keilmuan sastra, kritik sastra pun hadir di Indonesia.

    Istilah dan pengertian kritik sastra baru muncul ketika para sastrawan Indonesia mendapat pendidikan dengan sistem Eropa pada awal abad ke-20.

    Adapun beberapa pendekatan yang bisa digunakan dalam kritik sastra adalah pendekatan strukturalis, pendekatan poststrukturalis, serta pendekatan feminis. Lantas jika dilihat dari jenis-jenisnya, kritik sastra bisa dibedakan menjadi 4 macam, diantaranya:

    1. Kritik Mimetik

    Kritik ini bertolak pada pandangan bahwa suatu karya sastra adalah gambaran atau rekaan dari dunia dan kehidupan manusia.

    2. Kritik Pragmatik

    Kritik ini melihat kegunaan suatu karya sastra. Kegunaan ini dilihat dari segi hiburan, estetika, pendidikan, dan hal lainnya.

    3. Kritik Ekspresif

    Kritik yang menekankan analisis pada kemampuan pengarang dalam mengekspresikan atau menuangkan idenya dalam wujud sastra.

    4. Kritik Objektif

    Pendekatan ini melihat karya sastra sebagai karya yang berdiri sendiri. Karya sastra adalah objek yang mandiri dan memiliki dunianya sendiri.

    Bila ditarik kesimpulan lebih sederhana, maka dapat dikatakan bahwa gfungsi kritik sastra memiliki perbedaan satu sama lain, namun wajib melewati tiga tahapan seperti interpretasi (penafisran), analisis (penguraian), dan evaluasi (penilaian).

    Secara garis besar, bisa disimpulkan bahwa fungsi kritik sastra yaitu sebagai media yang menghubungkan antara sastrawan dan penikmat sastra untuk memahami lebih dalam tentang karya sastra itu sendiri.

  • Sejarah Budi Utomo dan Tokoh Pendirinya

    Sejarah Budi Utomo dan Tokoh Pendirinya

    Sejarah Budi Utomo

    Dalam sejarah berdirinya Budi Utomo, organisasi ini berdiri dari hasil dana yang di kumpulkan oleh himpunan pelajar atau dikenal dengan sebutan (Studie Fund) di kalangan priyayi di Pulau Jawa.

    Adapun tujuan utama adalah untuk meningkatkan martabat rakyat dan membantu para pelajar yang kekurangan dana. Kala itu langsung diketuai oleh Dr. Sutomo.

    Pendiri Organisasi Budi Utomo

    Organisasi Budi Utomo digagas oleh Wahidin Sudirohusodo (1852-1917).

    Tepat pada tanggal 20 Mei 1908 di Yogyakarta, Budi utomo dengan resmi didirikan dengan bantuan dari Dr. Sutomo beserta pemuda STOVIA seperti Soeraji dan Mangoenkoesoemo.

    Organisas Budi Utomo melakukan kongres pertama di Yogyakarta pada tanggal 3 sampai 5 Oktober 1908.

    Kongres tersebut membuat Budi Utomo mempunyai tujuh cabang di berbagai kota seperti di Ponorogo, Batavia, Magelang, Surabaya, Bogor, Yogyakarta, dan Bandung.

    Pada saat pengadaan kongres di Yogyakarta Raden Adipati Tirtokoesoemo selaku mantan bupati Karanganyar diangkat sebagai presiden pertama Budi Utomo.

    Pada saat kepemimpinan beliau, banyak sekali pejabat kolonial dan kalangan bangsawan yang bergabung.

    Dalam sejarah Budi Utomo, terjadi beberapa pergantian pemimpin dalam kurun waktu sepuluh tahun pertama.

    Pemimpin Budi Utomo kebanyakan berasal dari kalangan bangsawan keraton maupun kalangan priayi.

    Contohnya mantan Bupati Karanganyar sebagai presiden pertama Budi Utomo, Pangeran Ario Noto Dirodjo (Keraton Pakualaman), dan Raden Adipati Tirtokoesoemo.

    Latar Belakang Budi Utomo

    Sebelum membentuk Budi Utomo, dokter Wahidin Sudirohusodo awalnya melakukan kampanye pada tahun 1906-1907 di kalangan priayi Jawa.

    Kampanye itu bertujuan untuk meningkatkan martabat bangsa beserta rakyatnya.

    Dia membentuk Dana Pelajar (Studiefonds) untuk para pemuda yang cerdas namun tidak mempunyai biaya sekolah.

    Lembaga ini dibentuk demi meningkatkan kualitas pendidikan bagi rakyatnya. Kemudian pada tahun 1907 akhir, Dr. Sutomo bertemu dengan dr. Wahidin.

    Setelah pertemuan itu Sutomo menceritakan maksud dan tujuan dari dr. Wahidin kepada teman teman STOVIA.

    Dalam sejarah organisasi Budi Utomo, organisasi ini dibentuk dengan tujuan awal untuk membentuk dana pelajar.

    Namun setelah itu organisasi Budi Utomo diperluas jangkauannya.

    Nama Budi Utomo terdiri dari kata "Budi" yang artinya tabiat/perangai dan kata "Utomo" yang artinya luhur/baik.

    Dengan begitu istilah Budi Utomo berarti kelompok yang ingin mencapai sesuatu hal dengan berdasar pada kebaikan, tabiat/perangai, dan keluhuran budi.

    Nah, itulah sejarah singkat Budi Utomo. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel sejarah lainnya di sastrawacana.id/

  • Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi dan Asal Usulnya

    Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi dan Asal Usulnya

    Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi

    Membahas tentang keindahan kota Banyuwangi memang tidak akan pernah ada habisnya.

    Banyuwangi merupakan kota yang sarat akan keindahan wisata, budaya, tradisi, dan kesenian.

    Salah satu kesenian yang telah menjadi ciri khas dari kota tersebut adalah Tari Gandrung.

    Kata “Gandrung” sendiri memiliki arti yaitu terpesonanya masyarakat Blambangan kepada Dewi Sri yang mereka percaya sebagai Dewi padi yang telah membawa kesejahteraan untuk pertanian mereka.

    Tujuan dari tari Gandrung adalah sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat akan hasil panen yang melimpah.

    Tari gandrung sendiri memiliki histori dan filosofi yang sangat menarik.

    Menurut sejarah, kesenian Gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirtagondo” untuk membangun ibukota Blambangan atas perintah dari Mas Alit yang telah dilantik sebagai Bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang.

    Pada awal kemunculannya, tari gandrung dibawakan oleh para lelaki yang berdandan seperti perempuan.

    Namun, pada tahun 1980an, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dan benar benar berakhir pada tahun 1914 setelah kematian penari terakhirnya yakni Karsan.

    Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi.

    Semi merupakan seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang menderita penyakit cukup parah pada tahun 1895.

    Segala macam cara sudah dilakukan demi kesembuhannya, namun Semi tak kunjung sembuh.

    Akhirnya Ibu Semi bernazar “kadhung sira waras, sun dhadekaken seblang, kadhung sing yo sing” yang berarti (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu seblang, kalau tidak ya tidak jadi).

    Lambat laun kesehatan Semi mulai berangsur membaik dan dijadikanlah dia seblang serta dimulainya babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh perempuan.

    Tradisi gandrung yang dilakukan oleh semi kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya.

    Pada mulanya tari gandrung hanya boleh ditarikan oleh keturunan penari gandrung saja.

    Namun di tahun 1970an, mulai banyak anak perempuan muda yang belajar tari gandrung sehingga tarian ini dikenal oleh seluruh masyarakat Banyuwangi.

    Pada perkembangan jaman, kesenian gandrung banyuwangi melibatkan seorang penari wanita profesional bersama para tamu pria yang menari dengan iringan musik khas Jawa dan Bali.

    Seperti gong, kluncing, biola, kendhang, kethuk dan panjak sebagai pelengkapnya.

    Selain itu di selingin dengan Saron Bali, angklung atau rebana sebagai bentuk kreasi.

    Tari gandrung di bagi menjadi 3 bagian yaitu:

    1. Jejer

    Merupakan bagian pembuka pertunjukan dengan dinyanyikannya beberapa lagu oleh penari secara solo.

    2. Maju

    Setelah jejer selesai, sang penari Gandrung memainkan dan memberikan selendangnya kepada tamu pria.

    Umumnya tamu-tamu pentingkah yang berkesempatan untuk menari terlebih dahulu.

    Penari Gandrung mendatangi tamu yang menari dengannya denga gerakan-gerakan menggoda. Itulah esensi dari tari Gandrung yakni tergila-gila dan hawa nafsu.

    3. Seblang Subuh

    Merupakan bagian penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan Gandrung.

    Pada bagian ini, penari Gandrung akan melakukan gerakan perlahan dan penuh penghayatan sambil membawa kipas yang dikibaskan sesuai dengan irama.

    Suasana mistis akan sangat terasa pada treatment ini karena terhubung erat dengan ritual seblang yang diartikan sebagai ritual penyembuhan atau penyucian.

    Busana yang dikenakan oleh penari Gandrung sangat khas dan berbeda dari kesenian tari Jawa lainnya.

    Karena terdapat pengaruh kerajaan Blambangan dan Bali di dalamnya. Hal itu dapat kita lihat dari busana penari Gandrung yang terbuat dari kain Beludru berwarna hitam yang dihiasi dengan ornamen berwarna emas.

    Sedangkan pada bagian bawah penari Gandrung mengenakan kain batik panjang khas Banyuwangi.

    Dan pada bagian kepala, penari gandrung memakai “Omprok” yakni mahkota dengan berbagai macam hiasan berwarna merah dan emas.

    Berbagai aksesoris seperti kelat pada tangan, ikat pinggang, selendang, dam simbong yang dihiasi warna emas juga digunakan.

    Tidak lupa juga tata rias khusus yang dipoleskan agar penari gandrung tampak semakin cantik.

    Pada era globalisasi ini, kesenian Gandrung Banyuwangi masih tetap kokoh dan telah menjadi maskot pariwisata Banyuwangi dengan disusulnya pembuatan patung Gandrung yang diletakkan di berbagai sudut kota dan desa.

    Bahkan pemerintah Banyuwangi mempromosikan gandrung untuk dipentaskan di beberapa kota bahkan luar negeri.

    Penulis : Eva

  • Pengertian Leksikografi Menurut Para Ahli

    Pengertian Leksikografi Menurut Para Ahli

    Leksikografi adalah bidang ilmu bahasa yang mengkaji cara pembuatan kamus. Sebagian besar (atau bahkan semua) sarjana memiliki kamus, namun mereka belum tentu tahu bahwa penulisan kamus yang baik harus melalui berbagai proses.

    Dua nama besar yang mengawali penyusunan kamus adalah Samuel Johnson (1709-1784) dan Noah Webster (1758-1843).

    Johnson, ahli bahasa dari Inggris, membuat Dictionary of the English Language pada tahun 1755, yang terdiri atas dua volume.

    Di Amerika, Webster pertama kali membuat kamus An American Dictionary of the English Language pada tahun 1828, yang juga terdiri atas dua volume. Selanjutnya, pada tahun 1884 diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume.

    Saat ini, kamus umum yang cukup luas digunakan adalah Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Mengapa kamus Oxford?

    Beberapa orang mungkin secara sederhana akan menjawab karena kamus tersebut lengkap dan cukup mudah dimengerti.

    Tidak banyak yang tahu bahwa (setelah tahun 1995) kamus tersebut ditulis berdasarkan hasil analisis British National Corpus yang melibatkan cukup banyak ahli bahasa dan menghabiskan dana universitas dan dana negara yang jumlahnya cukup besar.

    Secara umum, definisi yang diberikan dalam kamus tersebut seharusnya dapat mudah dipahami oleh pelajar karena semua entri dalam kamus tersebut hanya didefinisikan oleh sekelompok kosa kata inti.

    Bagaimana kosa-kata inti tersebut disusun? Tentu hanya ahli bahasa yang dapat menjelaskannya, sedangkan para sarjana dan pelajar dapat langsung saja menikmati dan menggunakan berbagai kamus Oxford yang ada di pasaran.

    Ahli bahasa adalah guru dan/atau pelatih bagi para guru bahasa. Ahli bahasa dapat menentukan secara ilmiah kata-kata apa saja yang perlu diajarkan bagi pelajar bahasa tingkat dasar.

    Para pelajar hanya langsung mempelajari kata-kata tersebut tanpa harus mengetahui bagaimana kata-kata tersebut disusun. Misalnya kata-kata dalam buku-buku Basic English.

    Para pelajar (dan guru bahasa Inggris dasar) tidak harus mengetahui bahwa yang dimaksud Basic adalah B(ritish), A(merican), S(cientific), I(nternational), C(ommercial), yang pada awalnya diolah pada tahun 1930an oleh ahli linguistik C. K. Ogden. Pada masa awal tersebut, Basic English terdiri atas 850 kata utama.

    Selanjutnya, pada tahun 1953, Michael West menyusun General Service List yang berisikan dua kelompok kata utama (masing-masing terdiri atas 1000 kata) yang diperlukan oleh pelajar untuk dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Daftar tersebut terus dikembangkan oleh berbagai universitas ternama yang memiliki jurusan linguistik.

    Pada tahun 1998, Coxhead dari Victoria University or Wellington, berhasil menyelesaikan suatu proyek kosakata akademik yang dilakukan di semua fakultas di universitas tersebut dan menghasilkan Academic Wordlist, yaitu daftar kata-kata yang wajib diketahui oleh mahasiswa dalam membaca buku teks berbahasa Inggris, menulis laporan dalam bahasa Inggris, dan tujuannya lainnya yang bersifat akademik.

    Proses penelitian hingga menjadi materi pelajaran atau buku bahasa Inggris yang bermanfaat hanya diketahui oleh ahli bahasa yang terkait, sedangkan pelajar bahasa dapat langung mempelajari dan memperoleh manfaatnya.

    Sama halnya dalam ilmu kedokteran, proses penelitian hingga menjadi obat yang bermanfaat hanya diketahui oleh dokter, sedangkan pasien dapat langsung menggunakannya dan memperoleh manfaatnya.

  • Pengertian Komunikasi Antar Budaya

    Pengertian Komunikasi Antar Budaya

    Pengertian Komunikasi

    Komunikasi Adalah Proses penyampaian pesan antara komunikator terhadap komunikan melalui saluran-saluran tertentu baik secara verbal maupun non verbal dan menghasilkan efek tertentu.

    Dalam kehidupan sehari-hari, tak peduli dimanapun berada, akan selalu berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tertentu yang berasal dari kelompok, ras, etnik, ataupun negara lain.

    Berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya menjadikan sebuah pengalaman baru yang selalu dihadapi.

    Berkomunikasi adalah kegiatan yang popular dan bahkan selalu dilakukan dalam pergaulan manusia.

    Aksioma Komunikasi:

    “Manusia selalu berkomunikasi, manusia tidak dapat menghindari komunikasi”

    “Manusia tidak bisa dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi dengan cara atau melalui pertukaran informasi, ide-ide, gagasan, maksud serta emosi yg dinyatakan dalam simbol-simbol dengan orang lain”.

    “55% dari komunikasi manusia dinyatakan dalam simbol non verbal, 38% melalui nada suara, dan 7% komunikasi yang efektif dinyatakan dengan kata-kata”, Menurut Mehrabian (1972)

    Sekelompok orang yang mengikuti arisan, atau kelompok organisasi, hanya bisa tumbuh dan berkembang sebagai sebuah komunitas bahkan masyarakat, kalau setiap anggotanya saling bertukar pengalaman, semakin hari semakin mendalam dan terjadi berulang-ulang, sebagaimana yang dikatakan para ahli komunikasi, bahwa komunikasi itu meliputi usaha untuk menciptakan pesan, mengalihkan pesan, memberikan diri kita sebagai sebuah tempat yakni dihati dan di otak orang lain untuk menerima pesan. Hasil dari komunikasi bersama itu adalah pemahaman atas hubungan antar pribadi.

    Jane Pauley (1999), tiga komponen yang harus ada dalam peristiwa komunikasi, sehingga kalau satu komponen kurang maka komunikasi tak akan terjadi. Yaitu :

    (1) Transmisi Informasi,
    (2)Transmisi Pengertian,
    (3) menggunakan simbol-simbol yang sama.

    Pengertian Komunikasi Antar Budaya

    Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan. Hammer (1989) mengutip perumpamaan Wilbur Schramm (1982) menggambarkan bahwa lapangan studi komunikasi itu ibarat sebuah oasis, dan studi komunikasi antarbudaya itu dibentuk oleh ilmu-ilmu tentang kemanusiaan yang seolah nomadik lalu bertemu di sebuah oase.

    Ilmu-ilmu sosial nomadik itu adalah antropologi, sosiologi, psikologi, dan hubungan internasional. Guo-Ming Chen dan William J.Starosta mengatakan bahwa komunikasi antar budaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing prilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.

    Komunikasi antarbudaya itu dilakukan :

    • Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang di pertentangkan.
    • Memalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan di buat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama
    • Sebagai pembimbing prilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap prilaku kita
    • Menunjukan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.

    Sedangkan terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antar budaya. Hambatan komunikasi semacam ini lebih mudah untuk dilihat karena hambatan-hambatan ini banyak yang berbentuk fisik. Hambatan-hambatan tersebut adalah (Chaney & Martin, 2004, p. 11 – 12):

    1. Fisik (Physical)

    Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhandiri, dan juga media fisik.

    2. Budaya (Cultural)

    Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.

    3. Persepsi (Perceptual)

    Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda.

    4. Motivasi (Motivational)

    Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.

    5. Pengalaman (Experiantial)

    Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu.

    6. Emosi (Emotional)

    Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.

    7. Bahasa (Linguistic)

    Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata- kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.

    8. Nonverbal

    Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi.

    9. Kompetisi (Competition)

    Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan.

  • Sejarah Wayang Kulit dan Proses Perkembangannya

    Sejarah Wayang Kulit dan Proses Perkembangannya

    Sejarah Wayang Kulit dan Perkembangannya

    Wayang merupakan salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya.

    Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang.

    Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

    Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

    Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa.

    Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata.

    Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

    Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan.

    Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf.

    Hadirnya tokoh panakawan dalam pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik dan yang benar-benar jahat.

    Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.

    Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa.

    Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir.

    Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.

    Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur.

    Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat.

    Diantara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Alasan mereka cukup kuat.

    Diantaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa.

    Punakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain.

    Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna) dan bukan bahasa lain.

    Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia.

    Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.

    Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe­wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.

    Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976-1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur­nya.

    Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X.

    Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia, Walmiki.

    Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya.

    Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata.

    Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In­dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh.

    Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).

    Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga.

    Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa­yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per­tunjukan wayang.

    Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi.

    Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis­toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone­sia halaman 987.

    Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa­yangan’, yang artinya bayangan.

    Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu.

    Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir.

    Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak.

    Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada.

    Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata.

    Sejak saat itulah cerita­cerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain.

    Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber.

    Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga.

    Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.

    Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu.

    Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.

    Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya.

    Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam.

    Silsilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa.

    Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar.

    Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.

    Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah.

    Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.

    Dan di wilayah Kulonprogo sendiri wayang masih sangatlah diminati oleh semua kalangan.

    Bukan hanya oleh orang tua saja, tapi juga anak remaja bahkan anak kecil juga telah biasa melihat pertunjukan wayang.

    Disamping itu, wayang juga biasa di gunakan dalam acara-acara tertentu di daerah kulonprogo ini, baik di wilayah kota Wates ataupun di daerah pelosok di Kulonprogo.

  • Pengertian Lontar Beserta Proses Pembuatannya

    Pengertian Lontar Beserta Proses Pembuatannya

    Pengertian Lontar dan Proses Membuatnya

    Lontar (dari Bahasa Jawa: ron tal, “daun tal”) adalah daun Siwalan atau tal (Borassus flabellifer atau palmyra) yang dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah dan kerajinan.

    Lontar sendiri dipakai hingga di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, kita akan menjumpai banyak naskah dari lontar di berbagai daerah seperti Jawa, Bali, Madura. Lombok, dan Sulawesi Selatan.

    Proses pembuatan lontar pun cukup sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Pertama-tama dimulai dari pemetikan daun Siwalan yang dilakukan pada bulan Maret/April atau September/Oktober.

    Di bulan tersebut, daun siwalan sudah cukup tua dan siap untuk dipetik. Selanjutnya, daun siwalan di potong kasar lalu dikeringkan dengan menggunakan panas matahari.

    Proses pemanasan tersebut akan membuat warna daun yang semula berwarna hijau berubah menjadi kuning.

    Daun-daun yang sudah dikeringkan tadi kemudian di rendam dengan air mengalir selama beberapa hari dan digosok menggunakan serbet atau serabut kelapa.

    Setelah itu daun-daun di keringkan kembali lalu direbus dengan campuran ramuan selama 8 jam agar kotoran yang menempel pada daun-daun tersebut luntur dan menjaga struktur daun supaya tetap bagus.

    Setelah direbus, daun-daun tersebut dijemur di atas tanah hingga kering dan pada sore hari daun-daun tersebut diangkat.

    Tanah yang digunakan sebagai alas pada saat penjemuran tadi, dibasahi dengan air kemudian daun-daun yang sudah kering diletakkan kembali di atas tanah agar menjadi lembab dan lurus. Selanjutnya, daun-daun tersebut dibersihkan dengan kain lap.

    Proses selanjutnya, daun-daun ditumpuk dan dipres menggunakan sebuah alat penjepit kayu berukuran cukup besar yang disebut dengan pamlagbagan selama kurang lebih enam bulan.

    Namun, daun-daun tersebut tidak dibiarkan begitu saja selama enam bulan melainkan diangkat dan dibersihkan setiap dua minggu sekali.

    Setelah itu daun-daun dipotong lagi sesuai ukuran yang diminta dan diberi tiga lubang: di ujung kiri, tengah, dan ujung kanan.

    Jarak dari lubang tengah ke ujung kiri harus lebih pendek daripada ke ujung kanan. Hal ini dimaksudkan sebagai penanda pada saat penulisan nanti. Tepi-tepi lontar juga dicat, biasanya dengan cat warna merah.

    Lontar sekarang siap ditulisi dan disebut dengan istilah pepesan dan sebuah lembar lontar disebut sebagai lempir.

    Penulisan naskah menggunakan lontar inipun tidak semudah saat kita menulis menggunakan kertas biasa dan pena.

    Sebelum menulis, etiap lempir lontar yang akan ditulisi, diberi garis terlebih dahulu agar saat menulis nanti hasil tulisannya terlihat rapi dan lurus. Hal ini dilakukan dengan menggunakan sebuah alat yang disebut panyipatan.

    Setelah lontar selesai diberi garis dan siap untuk ditulisi, ditulisi menggunakan pisau tulis yang disebut pengropak atau pengutik di setiap lempirnya.

    Kemudian tulisan pada lempir lempir tersebut di hitamkan atau diperjelas dengan menggunakan kemiri yang dibakar dan menghasilkan minyak.

    Lalu tumpukan lempir-lempir ini disatukan dengan sebuah tali melalui lubang tengah dan diapit dengan sepasang pengapit yang disebut sebagai cakepan.

    Namun, kadangkala lempir-lempir disimpan dalam sebuah peti kecil yang disebut dengan nama kropak yang artinya adalah naskah lontar.

    Cukup banyak naskah naskah yang ditulis menggunakan lontar diantarasnya naskah yang berisi tentang ajaran Hindu-Budha yang terdapat di Bali, Jawa dan Sulawesi.

    Namun kelemahan dari lontar ini adalah naskah yang ditulis tidak akan bertahan lama seperti naskah yang ditulis pada prasasti. Naskah lontar hanya mampu bertahan hingga 100-150 tahun saja.

    Beberapa Negara yang juga menyimpan koleksi lontar untuk dibaca oleh peneliti aiantaranya adalah Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, Britania Raya, German, dan Perancis.

  • Pengertian Ilmu Budaya Dasar Menurut Para Ahli

    Pengertian Ilmu Budaya Dasar Menurut Para Ahli

    Pengertian Ilmu Budaya Dasar

    Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

    Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”.

    Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin Humanus yang artinya manusia, berbudaya dan halus.

    Dengan mempelajari humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus.

    Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya.

    Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.

    Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan.

    Prof Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu:

    a. Ilmu-ilmu Alamiah (natural scince)

    Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah.

    Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas.

    Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100 5 benar dan 100 5 salah.

    b. Ilmu-ilmu sosial (social scince)

    Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia.

    Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100% benar, hanya mendekati kebenaran.

    Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia initidak dapat berubah dari saat ke saat.

    c. Pengetahuan budaya (the humanities)

    Bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi.

    Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.

    Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disilpin) seni dan filsafat.

    Sedangkan ilmu budaya dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

    Dengan perkataan lain IBD menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan.

    Tujuan Ilmu Budaya Dasar

    Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

    Dengan demikian mata kuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk di dalam pengetahuan budaya.

    Tapi IBD semata-mata sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri.

    Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat:

    1. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya

    Sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.

    Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemansiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.

    2. Mengusahakan agar mahasiswa sebagai calon pemimpin Bangsa dan Negara

    Serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat.

    Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancar dalam berkomunikasi.

  • Filosofi Semar, Tokoh Wayang dalam Kebudayaan Jawa

    Filosofi Semar, Tokoh Wayang dalam Kebudayaan Jawa

    Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya. Bebadra = Membangun sarana dari dasar dan Naya (Nayaka) = Utusan mangrasul. Bila dipadukan maka artinya: Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

    Filosofi Biologis Semar

    Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun).

    Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”.

    Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

    Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang= gersang) dempel= keteguhan jiwa.

    Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

    Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

    Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

    Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

    Ciri sosok semar adalah :

    • Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
    • Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
    • Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
    • Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
    • Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

    Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

    Dikalangan spiritual Jawa, tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan simbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual.

    Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

    Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

    Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :

    Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.

    Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa.

    Manusia Jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya: “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

    Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri

    Dalam Etika Jawa (Sesuno, 1988 : 188) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan Abdi Pamomong yang paling dicintai.

    Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

    Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara (Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25).

    Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa (Brandon dalam Suseno, 1988 : 188). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa.

    Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” (menjadi manusia) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

    Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa (Poedjowijatno, 1975 : 49) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia (Geertz 1969 : 264).

    Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya (Suseno 1988 : 190).

    Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia (Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193)

    Dari segi etimologi, joinboll (dalam Mulyono 1978 : 28) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “.

    Jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa (Mulyono 1978 : 18) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah.

    Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula (Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191).

    Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto (1969 : 31) berpendapat dan menggambarkan (dalam bentuk kaligrafi) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

    Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih (timoer, tt : 13).

    Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ”rasa ingat” (timoer 1994 : 4), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta.

    Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma (Mulyono 1978 : 35)

    Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon “Semar Mbabar Jati Diri”.

    Gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995.

    Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 (Cermomanggolo 1995 : 5).

    Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono (Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10).

    Dikemukan oleh Arum (1995:10) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ”Semar Mbabar Jadi Diri” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi, ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

    Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer (1994:4) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup.

    Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito (dalam Ciptoprawiro 1991:46) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

    Sumber: Alangalangkumitir

  • Asal-Usul dan Sejarah Jaranan

    Asal-Usul dan Sejarah Jaranan

    Sejarah Jaranan

    Tari Jaranan adalah tradisi leluhur dari masyarakat Jawa Timur.

    Dapat dikatakan demikian karena kesenian ini lahir saat kerajaan kuno Jawa Timur berdiri yang memiliki beragam kultur dan sejarah yang cukup panjang.

    Selain kaya akan nilai seni dan budaya, tarian ini juga sangat kental akan kesan magis dan nilai spiritual sehingga di awal kemunculannya, kesenian ini selalu dikaitkan dengan hal gaib.

    Tari Jaranan muncul bersamaan dengan terpecahnya kerajaan Kahuripan menjadi 2 bagian, yaitu bagian timur Kerajaan Jenggala dengan Ibukota Kahuripan dan sebelah Barat Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan Ibukota Dhahapura pada abad ke 10 Hijriah.

    Tepatnya pada tahun 1041 M. Sejarah dari kesenian ini memiliki banyak versi, namun menurut salah satu cerita legenda yang berkembang di masyarakat.

    Tarian ini menceritakan tentang pernikahan Klono Sewandono dengan Dewi SonggoLangit.

    Dalam upacara pernikahannya, Klono Sewandono menginginkan sebuah iring iringan temanten dengan Dewi Songgo Langit ke Wengker.

    Iring iringan tersebut harus berupa jaran-jaran (kuda) dengan melewati bawah tanah dengan diiringi oleh alat musik yang berasal dari bambu dan besi.

    Pada zaman sekarang besi ini menjadi kenong. Dan bambu itu menjadi terompet dalam kesenian Jaranan.

    Dalam pertunjukannya, Tari Jaranan ini diperagakan oleh beberapa penari dengan menunggangi kuda kepang.

    Mereka akan menampilkan tarian dengan gerakan yang bervariatif sehingga tarian tersebut terlihat sangat indah.

    Dalam kesenian Jaranan ini selalu identik dengan hal magis sehingga pada saat pertunjukan, akan banyak yang mengalami kesurupan baik para penari.

    Bahkan tidak jarang penontonpun juga akan mengalami kesurupan karena tarian ini dipercaya sebagai salah satu cara untuk berkomunikasi dengan arwah para leluhur.

    Pada setiap pertunjukan, terdapat seorang pawang yang disebut dengan Gambuh yang akan mendampingi mereka.

    Gambuh disini bertugas untuk membacakan mantra dan menyadarkan penari saat mereka mengalami kesurupan.

    Awal acara, Gambuh akan memanggil roh para leluhur agar masuk ke tubuh para penari.

    Sehingga tanpa sadar si penari Jaranan akan memakan segala sesuatu yang cukup mengerikan seperti kembang, pecahan kaca atau beling, bara api dan sebagainya.

    Dan pada saat mereka memakan benda-benda tersebut, mereka tidak akan merasakan sakit karena tubuh mereka telah dirasuki oleh roh para leluhur.

    Hal inilah yang menjadi keunikan dan daya tarik tersendiri dari Tari Jaranan.

    Dalam perkembangannya, tari Jaranan telah dikembangkan oleh masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di wilayah Jawa Timur.

    Namun tari ini telah menjadi icon kebanggaan di kota Kediri.

    Bahkan masyarakat di sana banyak yang membangun sebuah sanggar Tari Jaranan, dan masing masing dari sanggar tersebut memiliki ciri khas sendiri sehingga Tari Jaranan ini kaya akan nilai seni.

    Tari Jaranan ini juga selalu tampil memeriahkan berbagai acara seperti pernikahan, sunatan, penyambutan tamu besar,hingga festival budaya.